06 April 2011

05 Maret 2011

UdIN SEDUNIA; kreatif penuh kejutan

Akhir2 ini jagat hiburan tanah air, menemukan sosok yang unik dan kreatif,. berawal dari lagu sasak, lagu udin sedunia mencuri perhatian di dunia. Lagu ini terbilang unik, mungkin orang-orang tidak menyangka termasuk saya pribadi, ternyata nama udin hampir melekat pada diri orang indonesia. Awalnya saya sempat berpikir (sebelumnya boomingnya lagu ini apakah nama ini identik dengan orang sulawesi. ibarat nama "syah" pada mayoritas orang melayu. Namun ini tidak berdasar, karena nama udin juga ditemukan disebagian daerah di indonesia di luar sulawesi.

Dialah sualuddin,. yang menghubungkan nama udin dengan kata2 yang menarik,.. misalnya udin yang suka ke kamar namanya kamaruddin, udin yang suka main sms, namanya hapenuddin, udin yang suka shalat namanya alimudin. dan masih banyak lagi yang muncul dalam sair lagu udin sedunia, bahkan ada syair : udin yang suka jual bola namanya chalidudin.. apa masuknya nama ini ada kaitannya dengan kisruh persebakbolaan indonesia akhir-akhir ini, hanya penciptanya yang bisa menjawab.

Bagaimanapun orang menilai,.. bagi saya pencipta lagu ini harus diapresiasi, membuat sesuatu yang sangat unik, menarik dan tentunya kejutan-kejutan, apalagi bagi anda yang baru mendengar dan ternyata ada nama anda, saudara ataupun teman anda tiba-tiba disebutkan dalam lagu tersebut, pasti akan tersenyum bahkan tertawa kegirangan...

salut buat udin,.. anda sangat kreatif dan tentunya ditunggu kejutan lain pada karya anda berikutnya Selengkapnya...

08 November 2009

Cerpen Laila

di muat di kompas, Minggu, 8 November 2009 | 02:52 WIB

karangan : Putu Wijaya

Menangis tidak selamanya tanda kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur air mata Laila.

”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis seperti sinetron, kapan habisnya?”

Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.

”Laila itu bukan jenis pembantu murahan yang mata duitan. Dia orang Jawa yang tahu diri, memangnya kamu!” bentak istri saya, sambil menarik Laila bicara empat mata.

”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!”

”Terlalu!”

”Sekarang si Romeo nyuruh Laila berhenti lagi!”

”Berhenti?”

”Ya! Apa nggak gila?! Kalau Laila tidak kerja mau ngasih makan apa si Arjuna?”

”Kali Laila dapat kerjaan baru.”

”Mana ada orang mau menerima pembantu yang tiap sebentar pulang, karena anaknya nangis!”

”Jadi Laila akan berhenti?”

”Tidak! Biar Laila bawa Arjuna kemari, jadi kerjanya tenang.”

”Boleh sama si Romeo?”

”Memang itu yang dia mau!”

Saya menarik nafas. Sejak itu, Arjuna yang baru lima tahun itu jadi bagian dari rumah kami. Kalau dia nangis, sementara ibunya memasak, sedangkan istri saya sibuk, itu tanggung jawab saya.

Mula-mula berat. Tapi kemudian terjalin persahabatan indah antara saya dan Arjuna. Saya bahkan merasa tersanjung ketika Arjuna memanggil saya Pakde.

Sudah 11 tahun saya dan istri merindukan anak. Kami sudah capek menjalani nasehat dokter. Akhirnya kami ambil kesimpulan, tugas manusia memang beda-beda. Kami mungkin bukan mesin reproduksi manusia.

Kehadiran Arjuna membuat rumah berubah. Kelucuan bahkan kebandelan Arjuna menyulap tiap hari jadi beda. Sampai-sampai istri saya memanggilnya si Buah Hati.

Tapi pulang dari mudik, saya terkejut. Di dapur terdengar suara ketawa beberapa orang anak. Ternyata di situ ada lima bocah hampir seusia Arjuna sedang main petak umpet. Mereka sama sekali tidak takut oleh kehadiran saya.

”Itu anak-anak pembantu-pembantu sebelah.”

”O ya?”

”Ya, orangtuanya juga sibuk kerja, jadi anaknya tidak ada yang ngurus. Daripada mereka jadi gelandangan atau korban narkoba, aku suruh saja main di sini nemani si Buah Hati,” kata istri saya.

Mula-mula saya keberatan. Satu anak tertawa dalam rumah, memang lucu. Tapi enam orang, saya akan kehilangan privasi.

Ketika saya sedang bekerja di meja, semuanya seliwar-seliwer di depan pintu. Kalau saya menoleh mereka mencelup. Punggung saya terasa gatal ditancapi tatapan. Saya kira mereka mulai kurang-ajar.

”Kamu frustrasi!” komentar istri saya sambil tertawa,

”Persis!”

”Karena kamu kurang peka!”

Saya berpikir. Istri saya terus ketawa.

”Kamu tidak peka. Anak-anak itu tahu kamu baru kembali dari mudik. Mereka menunggu.”

”Menunggu apa?”

”Biasanya kalau pulang mudik orang bawa oleh-oleh.”

”Aku bawa untuk Arjuna, bukan untuk mereka!”

”Mereka semua anak-anak. Kamu harus berikan sesuatu kepada semuanya.”

Istri saya mengulurkan sebuah kantung plastik yang penuh coklat.

”Bagikan ini pada mereka!”

Saya takjub, tapi tak bisa menolak.

Sejak peristiwa itu, rumah saya seperti penitipan anak. Kerap ibu-ibu tetangga karena keperluan yang mendesak menitipkan anak di rumah kami. Anaknya pun senang bahkan mereka menganjurkan agar dirinya dititipkan.

Untung saya cepat membiasakan diri. Apalagi keadaan itu membuat gengsi kami naik. Istri saya menjadi popular. Saya sering dipuji sebagai lelaki sejati.

Tetapi kemudian Laila kembali menangis.

”Si Romeo bertingkah lagi!” umpat istri saya setelah mengusut Laila, ”bayangkan, masak dia minta dibelikan motor!”

”Motor? Emang mau ngojek.”

”Boro-boro ngojek, naik motor juga nabrak melulu!”

”Terus untuk apa?”

”Menurut Laila itu mau disewakan Romeo pada tukang ojek. Laila minta gajinya setengah tahun di bayar di muka.”

”Kamu tolak kan?!”

”Gimana ditolak? Laila diancam akan digebukin kalau tidak berhasil.”

Saya jadi penasaran. Lalu saya mencecer Laila.

”Laila, cinta itu tidak buta. Kalau suami kamu terus dituruti, kepala kamu bisa diinjaknya. Suami pengangguran yang mengancam dibelikan motor oleh istri itu bukan saja menginjak, tapi itu sudah explotation de l’home par l’home tahu?!”

”Ya Pak.”

”Kamu mengerti?”

”Mengerti, Pak.”

”Suami yang baik boleh dihormati, tapi yang jahat tendang!”

Laila tunduk dan mulai menangis.

”Kamu kok cinta mati sama si Romeo, kenapa? Jangan-jangan kamu sudah kena pelet!”

”Saya hanya mau berbakti kepada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi sudah bunuh diri!”

”Orangtua saya selalu berpesan, suami itu guru, Pak. Kata Ibu saya, tidak boleh membantah kata suami, nanti tidak bisa masuk surga!”

”Tapi kelakuan si Romeo kamu itu sudah melanggar HAM!”

Laila menunduk dan meneruskan menangis. Hanya motor yang bisa menyetop air matanya. Terpaksa saya mondar-mandir ke sana ke mari untuk mencari info motor bekas. Beruntunglah salah satu satpam bangkrut karena kalah berjudi. Dia jual murah motornya. Langsung saya bayar, daripada kehilangan Laila.

”Ah?! Ngapain mesti peduli semua permintaan Laila,” kata istri saya marah-marah, ”Kalau kamu manjakan dia begitu, sebentar lagi dia akan menginjak kepala kita! Pembantu itu jangan dikasih hati. Kalau dia mau berhenti, biarin. Kita cari yang lain!”

Tapi kemudian istri saya sendiri yang menyerahkan kunci motor bekas itu kepada Laila.

”Ini motornya, Laila. Cicil berapa saja tiap bulan, asal kamu jangan keluar!”

Laila mencium tangan istri saya dengan terharu. Saya juga mendapat perlakuan manis. Laila kelihatan sangat bahagia. Sambil nyuci ia menyenandungkan lagu Nike Ardila.

Tapi itu hanya berlangsung sebulan.

”Si Romeo itu memang kurang ajar!” teriak istri saya kemudian, ”Motor sudah digadaikan lagi, katanya nggak ada yang doyan nyewa motor bekas!”

Saya bengong. Dengan mata berkaca-kaca Laila minta maaf. Katanya, suaminya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi hutangnya setelah kalah taruhan bola.

Istri saya mencak-mencak. Tapi kemudian ia mendesak saya menebus motor itu dengan janji, Romeo dilarang menyentuhnya.

”Kamu saja yang boleh naik motor itu Laila! Yang lain-lain, haram!”

Sejak itu Laila masuk kerja menunggang motor. Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu datang tepat waktu. Anaknya bangga sekali duduk di boncengan. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting, Laila tetap setia di posnya.

”PRT seperti Laila memang perlu punya motor, supaya tenaganya tidak terkuras di jalanan. Motor itu bukan untuk dia, tetapi untuk kepentingan kami juga,” kata istri saya kepada ibu-ibu tetangga.

Tak terduga argumen itu patah, ketika pada suatu hari Laila muncul tanpa motor. Hari pertama saya diam saja. Pada hari ketiga saya tidak kuat melihat dia pulang menggendong Arjuna sambil menenteng tas besar.

”Motor kamu mana, Laila?”

”Dipakai saudara misan saya, si Neli, Pak.”

”Kenapa?”

”Kerjanya lebih jauh, Pak.”

”Kenapa dia tidak naik angkot saja?”

”Nggak boleh sama suami saya, Pak.”

Saya bingung. Kemudian saya baru tahu, Neli saudara misan Laila sekarang tinggal bersama Laila satu rumah.

”Itu motor kamu Laila, tidak boleh dipakai orang lain!”

”Tapi suami saya bilang begitu, Pak. Saya harus mengalah sebab di pabrik tempat Neli kerja aturannya keras. Kalau datang telat bisa dipecat.”

”Kamu juga harus tepat waktu sampai di sini, Laila!”

”Betul, Pak.”

”Ambil motor itu kembali!!!!!!”

Besoknya Laila masuk kerja tepat waktu. Tapi dia naik ojek. Saya marah.

”Maksudku kamu tidak hanya datang tepat waktu, tapi harus pakai motor kamu! Kalau kamu datang ke mari naik ojek, lebih baik jangan kerja!”

Laila bingung. Dia tidak mengerti apa maksud saya. Istri saya mencoba menjelaskan. Tapi bukan menjelaskan kepada Laila, dia justru menerangkan kepada saya.

”Laila tidak berani minta motor itu karena takut digampar si Romeo.”

Saya bingung.

”Kenapa bangsat itu malah ngurus misannya, bukan istrinya?”

”Sebab misan Laila itu perempuan !”

”Gila! Istrinya juga perempuan!”

”Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau menikahi si Neli!”

Saya megap-megap.

”Ya Tuhan! Kenapa Laila nerima saja dikadalin begitu?

Istri saya hanya mengangguk.

”Sekarang memang banyak orang gila!”

Langsung saya interogasi Laila di dapur.

”Kenapa kamu terus mengalah Laila? Suami kamu sudah kurang ajar. Jangankan mau menikahi misanmu, mengancam kamu membelikan pacarnya motor saja, sudah zolim! Kenapa?”

Laila tak menjawab.

”Kamu takut? Kalau perlu aku bantu kamu mengadu kepada LBH. Orang macam Romeo itu, maaf, bajingan. Dia harus dihajar supaya menghormati perempuan!”

Laila diam saja.

”Itu namanya kamu sudah kena pelet! Kamu yang cantik begini pantasnya sudah lama menendang Romeo. Apa kamu tidak sadar?!”

”Ya, Pak.”

”Kalau sadar kenapa tidak bertindak?”

”Saya ingin berbakti pada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi menghamba! Diperbudak! Dijadikan kambing congek si Romeo asu itu, tahu!?”

”Ya, Pak!”

”Ya apa?”

”Kata orangtua saya, sebagai istri saya mesti menghormati suami, saya tidak boleh membantah kata suami. Hanya orang yang baik dan sabar yang akan bisa masuk surga.”

”Kalau orangtua kamu masih hidup, dia tidak akan rela kamu disiksa begini?! Kamu ini cantik Laila!”

Mendengar dua kali menyebut kata cantik, istri saya muncul. Saya diberi isyarat supaya minggir. Lalu dia bicara dari hati ke hati dengan Laila. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian saya lihat dari jauh, Laila menghapus air matanya.

”Kita tidak bisa kehilangan Laila,” kata istri saya kemudian.

”Lho, memangnya dia minta berhenti?”

”Dia tidak bisa merebut motor itu dari si Neli.”

”Tapi itu kan haknya!”

”Kita tidak bisa memaksakan jalan pikiran kita ke otaknya. Tidak. Pokoknya tidak bisa.”

”Harus! Kita berkewajibkan mengajarkan dia berpikir logis!”

”Kalau terlalu didesak, bisa-bisa dia minta berhenti.”

”O ya, Laila bilang begitu?”

”Dia tidak bilang begitu, tapi pasti akan begitu.”

”Kenapa dia begitu ketakutan?”

”Sebab Neli sudah dikawini Romeo!”

Saya terpesona. Lama saya mencoba menghayati bagaimana perempuan yang secantik Laila bisa dikuasai Romeo tak beradab itu. Saya tak akan pernah bisa mengerti.

Sementara terus-terang, kami sangat bergantung pada Laila. Kalau dia tidak ada, rumah akan berantakan.

”Kita tidak mungkin kehilangan Laila,” kata istri saya.

”Tapi dia tidak boleh dibiarkan masuk kerja terlambat terus.”

”Karena itu dia harus punya motor!”

Saya tak menjawab. Istri saya yang harus menjawab. Jawabannya agak tidak masuk akal. Laila dibelikan motor baru. Laila tersenyum sambil meneteskan air mata haru mendengar keputusan itu. Arjuna juga tertawa.

Motor kedua Laila langsung dari dealer. Bodinya mulus, suaranya halus dan tarikannya kuat. Laila dan Arjuna selalu datang tepat waktu. Saya dan istri puas, merasa keputusan kami tepat.

Tapi tak sampai satu bulan, tiba-tiba Laila muncul kembali dengan motor bututnya yang lama. Waktu kedatangannya memang tepat. Wajahnya juga tidak berubah. Ia tetap cantik dan ceria. Hanya Arjuna yang kelihatan rewel. Dan istri saya ngamuk.

Tidak pakai pendahuluan lagi, Laila langsung digebrak.

”Laila, Ibu sudah bosan bicara! Kalau kamu masih saja datang pakai motor busuk ini, tidak usah kembali! Pulang! Ibu beli motor baru untuk kamu dan Arjuna bukan untuk lelaki hidung belang itu! Kalau motor itu dipakai oleh orang lain, kamu berhenti saja kerja sekarang! Kembalikan motor kamu!”

Laila gemetar. Saya pun tersirap. Belum pernah istri saya marah seperti itu. Tanpa berani membantah lagi. Laila menaikkan lagi Arjuna yang sudah turun dari motor, lalu segera pergi. Saya lihat mukanya pucat pasi.

Saya kira perempuan itu tidak akan pernah kembali lagi. Tapi saya keliru. Besoknya, terdengar suara motor yang halus masuk ke halaman. Saya cepat keluar dan kaget melihat Laila dengan motor barunya. Arjuna tertawa senang. Laila mengangguk dan menyapa saya dengan sopan.

”Laila kembali, tapi mungkin untuk pamit pergi,” bisik saya.

Istri saya menjawab acuh tak acuh.

”Sudah waktunya dia menghargai dirinya sendiri!”

Hari berikutnya, seminggu, sebulan dan seterusnya, Laila tetap bekerja. Ia selalu datang tepat waktu. Lewat dengan anak dan motor baru, memasuki halaman rumah kami ia kelihatan tegar. Tidak pernah menangis lagi. Rupanya terapi kejut dari istri saya sudah membuatnya menjadi orang lain.

Tapi kalau diperhatikan ada sesuatu yang hilang. Laila tidak pernah lagi menggumamkan lagu Nike Ardila. Kadang-kadang dia termenung dan kelihatan hampa.

Ketika gajinya dinaikkan, Laila tersenyum, mencium tangan istri saya, tapi tidak lagi meneteskan air mata. Saya jadi penasaran.

”Laila, kenapa kamu kelihatan tidak terlalu gembira?”

”Saya gembira gaji saya dinaikkan Ibu, terima kasih, Pak.”

”Kamu naik motor mulus yang membuat iri orang-orang lain. Anak kamu senang dan sehat. Saya dengar saudara misan kamu sudah tidak di rumah kamu lagi. Suami kamu juga sudah tidak berani lagi memukul dan berbuat semena-mena. Betul?”

”Betuk, Pak.”

”Tapi kenapa kamu kelihatan susah?”

Laila menunduk.

”Kenapa kamu sedih?”

”Ya, Pak, karena sekarang saya tidak akan bisa masuk surga.”



Jakarta, 12 Oktober 09 Selengkapnya...

08 Juli 2009

Pendidikan Nasional Tidak Berkonsep!

Selasa, 7 Juli 2009 | 13:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan nasional saat ini. Pendidikan nasional tidak berkonsep, dan tak ada figur pemimpin yang bisa membawa arah pendidikan dengan jelas.

Hal tersebut dikemukakan oleh Daoed Joesoef saat membuka diskusi 'Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional' yang digelar oleh Education Forum di Jakarta, Selasa (7/7). Daoed Joesoef mengatakan, setiap akan dilaksanakannya Pemilu selalu banyak tokoh muncul sambil mengumandangkan UUD '45, khususnya terkait kalimat 'mencerdaskan kehidupan bangsa'.

"Tapi yang diucapkannya berbeda yaitu mencerdaskan bangsa, ini sudah salah kaprah, sebab muara kecerdasan bangsa itu ada pada peri kehidupannya," ujarnya.

Akibatnya, lanjut Daoed, muncul persepsi yang mengidentik antara sekolah (schooling) dan pendidikan (education). Keduanya begitu timpang, karena fokus pemerintah lebih mengarah pada schooling.

Schooling, kata Daoed, adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada materi pelajaran yang diberikan. Untuk itu, kemudian disiapkan berbagai macam ujian di tiap jenjang dan diberi gelar sebagai hasil akhir ujian.

"Celakanya, mata pelajaran yang sudah dikuasai dengan label gelar itu disebut dengan pengetahuan dan lebih celaka lagi semua orang menganggap pengetahuan adalah kekuasaan, karena yang punya pengetahuan adalah mereka yang punya gelar," ujar Daoed.

Tidak heran, tambah Daoed, tanpa pembagian usia, anak-anak saat ini sudah dijejali begitu banyak pelajaran. Daoed geleng kepala ketika melihat siswa SMA sudah diberikan mata pelajaran yang semestinya merupakan materi mata kuliah tingkat II di perguruan tinggi. Tujuannya, anak-anak itu diharapkan semakin cerdas, punya gelar, dan bisa berkuasa karena gelarnya.

"Mereka, anak-anak itu yang rata-rata sudah menguasai teknologi dan informasi pun disebut telah menguasai pengetahuan, padahal mereka cuma menguasai informasi, bukan pengetahuan. Mereka hanyut oleh informasi, bukan menguasai pengetahuannya," ujar Daoed.

Sementara itu, Daoed mengatakan bahwa pendidikan adalah pelajaran yang memberikan nilai-nilai. Karena berurusan dengan nilai, pendidikan itu merupakan bagian dari kebudayaan sebagai sistem nilai yang dihayati.

"Sehingga belajar Matematika itu bukan semata sebagai subject matter, melainkan juga nilai-nilai di dalam Matematika yang harus dihayati," ujarnya.

Alhasil, tambah Daoed, dengan prinsip mendidik dan bukan menyekolahkan, anak-anak jadi memahami nilai-nilai yang kemudian akan mendorong mereka untuk punya sikap peduli pada subyek dan lingkungan di sekitarnya.

"Maka kepedulian terhadap pendidikan itu muncul karena kita sudah memahami pendidikan itu sendiri seperti apa, sehingga saat berbicara soal mencerdaskan kehidupan bangsa kita semua sadar, bahwa mulai dari para pencetus kebijakan pendidikan, yang mendidik, sampai yang dididik pun memahami nilai-nilai itu sebagai bekal masa depannya. Bicara pendidikan itu bicara masa depan," ujarnya
Selengkapnya...

06 Juli 2009

Berprasangkah Baik....


Mungkin setiap orang pernah mengalami namanya negatif tinkhing.. ya.. maklumlah.. perasaan itu merupakan naluri setiap manusia. Negatif thinking diawali oleh persepsi kita tentang sesuatu, kemudian dikelolah lalu dihubungkan dengan pengalaman-pengamalan masa lalu kita. Ini juga dipengaruhi oleh struktur budaya dimana selama ini kita dibesarkan. Penilaian itu akan menghasilkan sebuah keputusan, apakah kita sepakat dengan objek itu ataukah mala berkontradiksi dengan pemahaman kita. Makanya kemudian, negathif thinking bisa muncul apabila objek dihadapan kita tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

saya teringat dengan pernyataan Jalaluddin Rahmat, pakar komunikasi, manusia ketika berinteraksi akan saling menukar kepentingan, ketika keduanya memiliki kesamaan maka komunikasi tersebut akan berlanjut menjadi relasi. Hubungannya dengan negatif thinking, tidak lain, ketika sesuatu yang dinilai tidak sesuai dengan konsep dasar yang ada pada diri kita, maka terkadang kita salah mengartikannya.. Misalnya saya punya pengalaman ketika berinteraksi dengan orang yang memiliki budaya yang berbeda dengan kita,. mungkin dalam pandangan kita, orang tersebut "kurang sopan", padahal dalam pandangan dia seperti itulah cara menunjukkan penghormatan kepada kita.

Nah, menyadari kondisi dan permasalahannya, Kita bisa saja mengontrol atau menunda sejenak penilaian kita terhadap objek yang mungkin asing bagi kita, sambil mencari lebih jauh tentang latarbelakang dan konteks dimana objek itu berada. Penundaan penilaian ini akan membantu kita, untuk menghindari negatif thinking. Setelah data yang dibutuhkan lengkap, barulah kita memutuskan. karena bukan hal yang mustahil lagi, terkadang penilaian awal kita biasany berbanding terbalik dengan kondisi sebenarnya, bisa jadi lebih baik atau sebaliknya lebih buruk.

Berprasangka baik, sangatlah penting untuk menghindari miskomunikasi yang berlebihan, sebaliknya selalu bernegatif thinking justru akan memperpendek relasi. Padahal tanpa orang lain, mana mungkin kita bisa hidup di dunia ini..
Selengkapnya...

17 Juni 2009

Memaknai Kampanye Negatif

KOMPAS
Selasa, 16 Juni 2009 | 05:51 WIB
Sunny Tanuwidjaja
Kampanye terbuka untuk pemilu presiden baru dimulai 12 Juni 2009. Namun, perang kata-kata dan wacana di antara para kandidat dengan tim kampanyenya sudah dimulai berminggu- minggu lalu. Kampanye damai, etis, santun, dan tidak saling menyerang cuma ilusi?
Nyatanya, ajakan untuk beretika dalam berpolitik selalu saja dibarengi dengan serangan-serangan terhadap para pesaing. Bahkan, ajakan tersebut merupakan bentuk serangan juga karena ada pesan implisit di baliknya yang ingin menunjukkan bahwa lawan politik tidak mengenal etika dan kesantunan dalam berpolitik. Ajakan ini sudah menjadi semacam mekanisme defensif dari para kandidat yang ”diserang”.
Di satu sisi, memang rakyat menginginkan kampanye damai dan bebas dari kekerasan. Di sisi lain, rakyat juga membutuhkan dan menginginkan kampanye yang mendidik sehingga mereka dapat menentukan pilihannya secara bijak pada hari pencontrengan.
Kampanye yang sekadar damai adalah kampanye yang jauh dari memuaskan. Kampanye perlu disertai dengan keterbukaan dan kejujuran sehingga kampanye dapat menjadi bentuk pendidikan politik untuk rakyat.

Pembodohan publik
Kritik terbuka terhadap pesaing sering kali divonis sebagai bentuk kampanye negatif dan kampanye negatif sering kali diidentikkan dengan sesuatu yang buruk.
Sulit dilupakan ketika salah seorang calon presiden setelah ”diserang” oleh pesaingnya mengatakan bahwa tidaklah elok menjelek-jelekkan, tidaklah baik dan santun di mata rakyat. Tunggu dulu. Justru kampanye yang melulu serba positif dapat menyebabkan pembodohan publik karena memberikan gambaran realitas yang tidak lengkap.
Kenyataannya, kampanye negatif tidaklah selalu buruk. Bahkan kampanye negatif justru bisa dilihat sebagai bentuk pendidikan politik. Sangat salah kaprah jika kita menolak habis kampanye negatif, padahal lewat kampanye negatif rakyat bisa mengenal lebih jauh para kandidat yang berkompetisi.
Kita semua ingin rakyat menentukan pilihannya pada hari pemilu bukan berdasarkan janji dan klaim sepihak. Tapi kita ingin rakyat memilih pemimpinnya untuk lima tahun mendatang dengan pengetahuan dan informasi yang selengkap-lengkapnya.
Sayangnya, memang dalam demokrasi, meski ada kebebasan media yang relatif cukup baik, informasi masih relatif mahal dan tidak mudah diakses oleh kebanyakan rakyat jelata. Informasi yang tersedia, apalagi dalam musim kampanye, kebanyakan datang dari para elite politik yang bertarung.
Jika kampanye serba normatif dan serba positif, akan sangat sulit bagi rakyat untuk mengenal para kandidatnya secara lengkap, mengingat informasi yang tersedia hanya yang baik-baik. Kampanye negatif memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memperoleh informasi tentang para kandidat yang lebih lengkap. Paling tidak, ada penyeimbang terhadap wacana maupun informasi sepihak yang serba baik dan positif seorang calon.
Inilah indahnya demokrasi. Dalam demokrasi ada persaingan antarelite dan dalam persaingan antarelite inilah rakyat dapat meraup keuntungan yang optimal. Ketika ada kampanye negatif yang dilakukan para elite terhadap pesaingnya, rakyat sebagai pemilih dapat melihat sisi negatif para kandidat. Dengan kata lain, adanya kampanye negatif merupakan kesempatan bagi rakyat sebagai pemilih untuk bukan hanya tahu keunggulan dan keberhasilan para kandidat, tetapi juga kelemahan dan kegagalan mereka.
Redefinisi
Tulisan ini tidak bermaksud mengajak para kandidat untuk memfitnah. Fitnah penuh dengan ketidakjujuran. Justru tulisan ini mengajak para kandidat untuk berkampanye secara jujur dan terbuka agar kampanye tidak hanya menjadi kesempatan tebar pesona, tapi juga kesempatan untuk mendidik rakyat.
Sepertinya perlu ada redefinisi kampanye negatif. Kampanye negatif janganlah diartikan sempit sebagai black campaign atau fitnah, melainkan kampanye yang semata menunjukkan kelemahan lawan politik. Tentu ini sah-sah saja dalam berdemokrasi dan berkompetisi.
Para kandidat dan tim kampanyenya hendaknya memaknai etika dan kesantunan politik secara lebih substansial dan mendalam, bukan sekadar wacana indah yang semu. Memang ada yang aneh dengan standar kesantunan dan etika kita. Sebenarnya kesantunan dan etika yang sejati adalah kejujuran dan keterbukaan, terhadap lawan maupun terhadap rakyat.
Kesantunan dan etika politik yang sejati adalah ketika para elite politik yang bersaing dapat berjabat tangan serta bekerja sama membangun bangsa setelah bersaing dalam pemilu dan saling mengkritik secara jujur dan terbuka.
Sunny Tanuwidjaja Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS; Kandidat Doktor Ilmu Politik di Northern Illinois University
Selengkapnya...

08 Maret 2009

PARTAI ISLAM Andalkan Identitas Islam, Peluang Kecil

Kompas,Minggu, 8 Maret 2009
Bandar Lampung, Kompas - Setiap partai politik yang mengusung asas Islam harus mengubah orientasi dan kinerjanya menjelang pemilu legislatif 2009 agar memperoleh suara. Jika tetap bekerja dengan cara-cara sekarang, peluang partai politik yang mengusung asas Islam sebagai identitas akan sangat kecil untuk memperoleh suara.
Demikian diungkapkan Yudi Latif, Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Sabtu (7/3), seusai menjadi pembicara pada Sidang Tanwir Muhammadiyah 2009 di Bandar Lampung.
Yudi mengatakan, saat ini masyarakat tidak ideologis. ”Keberislaman” tidak selalu paralel dengan ”keberpartai-Islaman”. ”Orang boleh mengapresiasi Islam dan menjadi religius, tetapi tidak berarti harus memilih partai Islam,” ujar Yudi.
Oleh karena itu, partai-partai yang mengusung asas Islam kini tidak bisa lagi menangkap pendukung hanya dengan memberikan janji simbolik dengan mengandalkan identitas keagamaan

Bagi masyarakat saat ini, identitas keagamaan itu tidak cukup memberi jaminan efektif bahwa partai-partai yang mengusung asas Islam sudah mengembangkan politik yang lebih bersih dan lebih baik. ”Dan itu sudah terbukti,” ujar Yudi.
Faktor lain yang memecah perolehan suara adalah saat ini partai politik yang mengatasnamakan syariat Islam di Indonesia cukup banyak. Tidak bisa satu partai Islam mengklaim sebagai satu-satunya juru bicara Islam dengan pendukung terbesar.
”Suara pendukung syariat Islam itu terdistribusi ke banyak partai politik yang mengusung asas Islam, seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PPP, atau Bulan Bintang, sehingga perolehan suara partai Islam itu tidak begitu tinggi,” ujar Yudi.
Faktor suara yang terbagi-bagi dengan kondisi rakyat yang tidak terlalu ideologis berpengaruh terhadap menyusutnya jumlah pemilih tradisional partai Islam dan mendukung meningkatnya jumlah swing voters atau pemilih yang masih meraba-raba partai yang akan dipilih. Partai Islam harus berpandangan, swing voters merupakan potensi.
Namun, saat ini kemampuan partai-partai Islam merangkul swing voters sangat rendah. Itu karena partai Islam tidak pernah melakukan pelayanan publik. Partai Islam cenderung mengandalkan pemilih tradisional.
Menurut pandangan Yudi, partai Islam yang saat ini sudah cukup baik melakukan pelayanan publik adalah PKS. PKS banyak melakukan pelayanan di daerah bencana untuk menarik simpati masyarakat. Sementara partai Islam lainnya hanya sebatas mengibarkan bendera tanpa pelayanan. (HLN)
Selengkapnya...