31 Maret 2018

Ikuti Diri (Kata Hati)

Kata Hati merupakan bisikan Illahi Robbi yang selalu mengarahkan manusia pada jalan yang baik (lurus). Semua manusia sudah dibekali dengan itu namun tinggal bagaimana manusia "peka" merasakan kehadirannya. Dalam pandangan agama, hati kita tergantung seberapa sering kita membersihkannya dengan selalu meminta ampun kepada Sang Khaliq dan sesering mungkin mengingat Nya (Dzikir). Dalam kehidupan kita, terkadang kita lalai dan sibuk dengan rutinitas hingga lupa membersihkan hati kita yang seharian tanpa kita sadari memunculkan noda hitam walau hanya butiran debu dan lama kelamaan menjadi  noda hingga mengeras. 
Seiring berjalannya waktu, salah dan khilaf sudah menyilimuti diri, ketika tersadarkan begitu banyak khilaf dan salah yang sudah tercatat dalam buku perjalanan hidup manusia. Ada keinginan untuk berbena dalam setiap sujud dan doa, keinginan lebih baik untuk kedepannya. Namun ucapan dan harapan tak cukup tanpa kita diperhadapkan dengan kondisi yang menguji keseriusan kita untuk berbenah, sontak tersadarkan dalam diri apakah saya lagi diuji keseriusan untuk berubah, apakah saya akan menyianyiakan kesempatan untuk memperteguh diri ini ataukah saya kembali jatuh pada jurang kesalahan yang sama. Astaghfirullah hal adzim.. 
Setiap manusia menginginkan hidupnya semakin lebih baik dari kondisi sekarang, tak ada yang menginginkan untuk lebih buruk dalam segala hal, namun keinginan saja tak cukup tanpa kesungguhan hati dan kesungguhan ini akan teruji dengan situasi yang menuntut kesungguhan kita. Namun kita sebagai manusia, masih saja lemah dan tidak berdaya tanpa maghfirullah, rahmat dan karunia Allah SWT, kita hanya berusaha sekuat tenaga namun bantuan Nya lah yang membuat kita kuat dan fight  dan bantuan itu datang dari hati yang bersih hati yang selalu mengingat Nya, melibatkan Dia dalam setiap keputusan dan napas yang kita hembuskan.
Ujian itu juga akan datang dengan godaan dan bisikan-bisikan "gaib" yang mengarahkan kita pada kesesatan dan kesalahan, tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita mengantisipasi, berpikir panjang dan menyadari bahwa kita hanya manusia yang lemah tanpa Cahaya bantuan Nya. sesering untuk selalu mengingat dan menyadari mau sampai kapan kita selalu berkutik pada salah dan khilaf yang sama, mau sampai kapan ? hanya keteguhan hati yang bisa menjawabnya. Wallahu'alam. 

Bandung, 31/3/2018
Pukul : 17.50 (Jelang Maghrib)

21 Maret 2018

Berteman

Sebagai manusia sosial, kita tidak akan pernah lepas dari interaksi dengan orang lain. Ada beberapa tahapan yang dilewati; dari belum kenal sama sekali walau berada di tempat yang sama, ada juga hanya tahu tapi belum kenal kemudian sudah kenal tapi hanya sebatas itu saja, lalu sudah kenal dan sudah menjadi (sebatas) teman (saja) karena kondisi yang dipertemukan sama, karena sering ketemu bisa jadi satu kantor, tetangga, hobi yang sama dan lain-lain. 
Satu hal yang perlu diketahui untuk benar-benar menjadi teman itu butuh proses dan yang paling penting ada chemistry. nah ini yang terakhir yang perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan orang yang dikenal sebagai teman. Terkadang  kita bertanya kenapa dekat sama si A bukan sama si B atau mungkin sudah dipertemukan dalam satu rutinitas namun tidak begitu dekat secara personal, nah itu relasinya hanya untuk profesionalitas bukan untuk menjadi teman dekat (tidak ada hubungan khusus). Dalam wikipedia mengartikan teman sama dengan sahabat yaitu orang memiliki perilaku kerjasama dan saling mendukung. Nah, itu sarat teman, kenal saja tidak cukup. Masih dalam tafsiran wikipedia. pertemanan atau persahabatan harus memenuhi persyaratan : menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain, ada sifat simpati dan empati, kejujuran dan saling pengertian.
Seringkali kita melihat qoute dalam status media ataupun aplikasi chatting yang menuliskan " seorang teman yang baik selalu ada ketika kita butuhkan/ jatuh", adapula  qoute "akan ketahuan orang apakah sebagai teman ketika kita lagi down malah dia menghindari / menjauhi tapi ada ketika kita senang". Inilah sifat manusiawi, ada keinginan hanya mau merasakan yang senang-senang saja tetapi begitu ada kesusahan, dia menghilang entah kemana :)
Namun hal yang perlu diperhatikan adalah pertemanan yang benar-benar berkah. Namanyanya dalam kehidupan sosial ada saya permasalahan yang dihadapi. kita tidak secara sepihak menganggap bahwa orang yang disekitar kita adalah teman yang sebenar-benarnya teman, jangan-jangan hanya sebatas kenal, sebatas tahu dan sebatas kebetulan ditempatkan dirutinitas yang sama, di tempat yang sama dan tidak lebih dari itu. Waktu akan menyeleksi dan menunjukkan siapa yang sebenarnya teman kita. ketika kepentingan atau waku yang sama berakhir, ya berakhir juga relasi, kalaupun ada hanya sebatas menegur.
Pengalaman yang sudah berlalu seperti itu, sudah menganggap sebagai saudara tapi rupanya dianya mengganggap kita biasa-biasa saja, bukan maksud mengungkit kebaikan tapi itulah kenyataannya, diluar sepengetahuan kita, ketika kita membutuhkan, dianya entah dimana? sekali? mungkin kita tidak bisa mengambil kesimpulan, tapi kalo sudah beberapa kali, sebaiknya di "delete" dari list sebagai teman :) jangan biarkan ada orang yang menjadi benalu dalam kehidupan kita. 
Sifat Ekstrovert ini begitu melekat dalam diri saya terutama dalam hidup bersosial, sudah sering diajarkan sama orangtua untuk mengenal orang-orang, mengajak ngobrol orang-orang dan agak mudah bergaul. Namun sebatas itu, yang terkadang bikin canggung itu ketika berinteraksi dengan orang yang introvert, agak tertutup tapi bagi saya tidak masalah, ketika dia sudah menjawab sapaan saya pun "alhamdulillah". Begitu banyak yang dikenal, begitu banyak yang diajak ngobrol namun hanya sedikit yang bisa menimbulkan "kedekatan" karena belum memenuhi syarat pertemanan seperti yang disebutkan diatas. why?? karena mereka belum pantas untuk dijadikan teman, :) pertemanan membutuhkan ketulusan dan saling pengertian dan itu tidak mudah muncul dalam sekali dua kali bertemu dan mungkin ada yang berprinsip jangan mudah terkesan dengan pandangan (perkenalan) pertama. 
Dalam pertemanan juga terdapat pasang surut dan waktu akan kembali melakukan penyaringan untuk tahap berikutnya, kedekatan sudah terjalin, namun akankah tetap terbina ketika berada dalam waktu dan tempat yang berbeda? entahlah, lagi-lagi hanya waktu yang bisa menjawab. Dalam pertemanan perlu mengetahui kelebihan dan kelemahan teman, bukan hanya dalam berumah tangga sifat itu muncul karena ketika kita dihadapkan pada kondisi teman lagi tidak mood, lagi down, lagi pikir banyak masalah, lagi tidak bisa diajak berpikir "waras" nah saat itulah waktu terbaik untuk "diam" dan menjadi penyejuk buat dia, ibarat dalam gurung pasir, kehadiran kita menjadi oase dan begitu sebaliknya ketika kita menghadapi suatu masalah dan ketika membutuhkan kehadiran teman, mungkin kita harus mengerti kondisi teman yang waktunya sudah tidak sepenuhnya untuk kita. perlu kedewasaan dalam pertemanan dan point penting dalam pertemanan tidak ada keterpaksaan dan tidak ada karena "kasian", kita butuhkan ketulusan dan memahami kita apa adanya bukan ada apanya itulah teman, akan lebih baik lagi teman yang mengajarkan kita kearah jalan kebaikan, dia akan mengingatkan akan kesalahana-kesalahan yang kita lakukan secara bijak, dia tahu kapan dan bagaimana memposisikan diri dan sebaliknya kita juga melakukan hal tersebut. itu saja !!!!

Bandung, 21/3/2018
Pukul : 09.15 AM

13 Maret 2018

Diri Yang Dulu

Beberapa hari belakangan ini saya mencoba membuka email lawas, ada sekitaran tahun 2005 hingga 2008 dan adapula sekitar tahun 2013. Begitu membaca spontan terlintas "dulu saya bisa tulis seperti ini? hehehe sambil terbesik dalam diri memuji diri yang mungkin untuk saat ini kemampuan menulis itu saya tidak miliki. email demi email dibuka ada rasa takjub dengan beberapa email yang ada karena saat itu posisi saya sebagai mahasiswa yang tidak lama lagi akan selesai dan saat itu saya sedang mendisuksikan buku langsung sama penulisnya. kata perkata saya baca sambil mengingat "konteks" dan situasi saat saya menulisnya dan ada kurang lebih ada 10 email yang dikirim dan mendapat balasan dari beliau. 
Untuk berdiskusi sebenarnya bukan hal yang baru buat saya, namun berbicara langsung dengan penulis buku itu merupakan hal yang pertama saya lakukan dan media yang digunakan adalah email dimana saat jamannya sangat populer dan onlinenya harus ke warung internet. Tema saat itu tentang gerakan kemahasiswaan, in buku tersebut merupakan tesis yang telah diubah menjadi buku. Alhamdulillah sampai saat ini dengan penulis buku tersebut masih terjalin, kontak personnya pun masih ada dan via sosmed khususnya facebook masih terjalin.
Email kedua merupakan email ketika saya berada Tarakan. email ini lebih banyak berisi tentang kegelisahan dan keresahan akan masalah yang dihadapi entah itu di tempat kerja maupun dengan pertemanan. Pasang surut emosi, beban pikiran yang kadang tak mampu diemban, permasalahan dari berbagi macam sudut dan ini lebih menguras tenaga.
Untuk masalah tulis menulis sebenarnya sudah dimulai sejak lama, sejak smapun suka menulis buku harian. ha ha ha walau jarang namun ketika menulis seketika beban pikiran mulai surut karena hanya kertas-kertas itu yang bisa memahami dan kebiasaan itu masih dijalankan ketika memasuki jaman kuliah terutama ketika dihari kelahiran dan menjelang pergantian tahun. ditahun kelahiran sebagai moment untuk merefleksikan diri dan diakhir pergantian tahun merupakan harapan yang ingin dicapai selama setahun, kata orang-orang "resulosi"
Membaca email-email tersebut menjadikan pelajaran buat saya, apakah kondisi saya saat ini sudah lebih baik dengan kondisi saya saat email itu ditulis. semoga lebih baik dan akan berusaha lebih baik. sesuai dengan ajaran agama, apabila kita lebih buruk dari hari kemarin maka kita menjadi orang-orang yang merugi dan kita akan beruntung bila kondisi kita semakin lebih baik. untungnya membaca tulisan2 diemail itu menjadikan bahan refleksi bagi diri saya pribadi dan satu hal yang harus saya pegang bahwa pengalaman yang lalu biarlah menjadi bagian cerita, manusia tidak ada yang sempurna, ada salah ada benar. ada sadar ada khilaf/ insaf. kata ust. Adi Hidayat keburukan diciptakan agar kita sadar ada kebaikan yang harus kita munculkan, kita tidak akan pernah mengetahui pentingnya bersabar kalo kita tidak mengenal sifat marah, kita tidak akan pernah mengenal jujur kalo kita tidak pernah dihadapkan dengan menipu.
inilah hidup, karena setiap orang akan menuliskan cerita dalam setiap hembusan napasnya.

Bandung, 13 Maret 2018
Pukul : 09.28 AM

09 Maret 2018

Spirit yang (sempat) tertunda

Cukup lama tidak memantau blog ini, entah sudah berapa kisah yang berlalu terhitung sejak bulan November 2017 hingga awal Maret 2018 ini. sempat terabaikan dengan rutinitas yang ada.
bulan 11 bulan merupakan padat2nya kegiatan field experience di Kabupaten Sumedang dan tidak jarang harus bolak-balik dengan sekali perjalanan kurang lebih 2 jam, masuk bulan Desember juga masih bagian rangkaian minggu akhir field experience yang menyitah banyak energi dan waktu dan ketika masuk pertengahan bulan Desember juga tak luput dari kesibukan menyelesaikan laporan tugas akhir dan sekaligus mencuri waktu untuk menyelesaikan perbaikan proposal sesuai masukan-masukan pembahas. ini sempat terabaikan selama kurang lebih 1.5 bulan. 

Memasuki Januari 2018, lumayan banyak waktu yang ada, paling tidak kesibukan kegiatan akademik di kampus sudah tidak ada, sisa memanfaatkan waktu untuk penelitian yang diawali dengan mengurus etik sebagai sarat memulai penelitian. Pendaftaran berkaspun dilakukan dan sambil menunggu saya sempat pulang kampung selama kurang lebih 10 hari, ya demi melonggarkan urat-urat saraf yang selama ini sudah dipacu. Sepulang kembali ke Bandung karena mendapat jawaban revisi dari etik dan memulai langkah dengan setuja agenda penelitian yang harus diselesaikan. bulan Januari berakhir berganti Februari. Awal februari merupakan langkah awal dimulainya penelitian setelah dinyatakan diterima revisi penelitian namun belum bisa mengeluarkan surat karena adanya pergantian pimpinan di komite etik fkunpad

Ketika memulai pilot projek (penelitian pendahuluan) kondisi dilapangan sangat berbeda dari kondisi yang sebelumnya pernah didatangi. awalnya menetapkan 2 rumah singgah sebagai lokasi penelitian atas pertimbangan ini dan itu akhirnya diputuskan ada 5 rumah singgah yang harus digunakan. Memang tidak mudah memulai penelitian ini dengan kondisi pasien, banyak hal yang diluar dugaan dan kondisi yang tidak bisa diprediksi. Kondisi mengingatkan saya akan kalimat dari pembimbing dan pembahas bahwasanya penelitian yang saya jalankan ini tergolong rumit namun bukan berarti tidak bisa. Sempat terlintas kok bisa serumit ini namun bukan berarti semangat saya tiba2 melemah dan teman kuliah mengingatkan bahwa saya pernah mengatakan bahwa penelitian saya ini lumayan rumit dan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Saya yang mendengarnya malah terkaget-kaget.. "oya?? saya pernah bilang seperti itu" spontan kalimat itu keluar ketika mendengarkan teman selesai berbicara. Alhamdulillah kalimat menjadi spirit yang sempat tertunda

Ternyata permasalahan yang ada tidak hanya masalah penelitian semata. ramainya group-group w.a, pro dan kontra antara anggota group, permasalahan  pertemanan, persoalan ini dan itu, namun semua itu harus pintar-pintar dihempaskan dan selalu dalam benak mengingatkan "apakah prioritas yang ingin diraih??" tentu jawabannya adalah ingin selesai tepat waktu, masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan studi jangan menjadi beban, ya dihadapi seproporsionalnya lah. 

Harus tetap fokus pada tujuan kenapa berada di Bandung, tetap ikhtiar, selalu berdoa, tingkatkan amalan yang menunjang, pertahankan mood bila telah mulai down, jaga spirit. tugas kita adalah melakukan yang terbaik, sesuai koridor dan sesuai s.o.p, apapun hasilnya itulah yang terbaik
itulah prinsip yang harus dijalani 


Bandung, 9 Maret 2018
Pukul : 10.26 AM