02 Desember 2018

Bandung yang Kukenang

         Alhamdulillah, hampir 3 bulan lebih meninggalkan Bandung seiring telah berakhirnya proses pendidikan di Magister Keperawatan Unpad. Selesai sesuai dengan target, janji yang pertama kali diucapkan kepada dua dosen Keperawatan Unpad ketika menjadi motivator saat (dulu) melanjutkan pendidikan di Unpad. Dulunya sempat putus asa namun beliau berdua menyemangati untuk terus mencoba. Janji Kedua adalah untuk LPDP dan Kemenristek Dikti yang sudah sangat membantu pendanaan selama proses perkuliahan melalui beasiswa BUDI DN 2016, teringat saat pembekalaan penerima beasiswa, "Anda sekalian telah kami berikan support dana pendidikan, Tugas Anda belajar dengan baik selesai tepat waktu." bagi saya tidak ada alasan untuk menunda pendidikan yang saya jalankan. 
     Untuk meraih dan bisa selesai tepat waktu juga tidak mudah, tulisan sebelumnya (bulan Juni) menggambarkan bagaimana kerasnya untuk bisa mendapatkan jadwal Ujian Naskah Tesis (UNT), demikian juga dengan menentukan jadwal UT, sempat beberapa kali mengalami perubahan namun diluar dugaan, pembimbing dan pembahas yang siang itu lagi bersamaan sedang menguji teman yang lain merembuk dan menutuskan jadwal ujian, alhamdulillah., perjuangan tidak berhenti sampai disitu ketika akan yudisium juga mengalami kendala yang sangat sangat "berat' ketika syarat yudisium dengan harus adanya tanda tangan penguji harus ada dan disaat itu dua penguji saya berada di luar kota Bandung, satu pembahas sudah memberikan pernyataan acc namun 1 pembahas lagi belum memberikan pernyataan acc karena belum bisa ketemu. Namun semua kekhawatiran terjawab menjelang 30 menit berjalannya yudisium, kaprodi memberikan pengesahan untuk saya lakukan Yudisium.
          Seharusnya saat itu menjadi motivasi besar buat saya, namun apa yang saya rasakan menjadi puncak capeh dan "kegalauan" sampai-sampai saya tidak fokus dengan apa yang harus dilengkapi untuk persaratan berkas wisuda,. beberapa kali bolak balik ke pembimbing hanya untuk minta tanda tangan padahal bisa saya lakukan satu kali, namun saya tidak fokus dengan syarat administrasi tersebut,. hingga menjelang gladiresik wisuda saya tersadarkan bahwa inilah puncak segala usaha dan syukur, apa yang saya impikan terwujud dengan menggunakan toga wisuda,. alhamdulillah ya Rob Engkau memberikan apa yang menjadi cita-cita saya selama ini.
           Persiapan kepulanganpun disiapkan, beli ini beli itu, mengikuti kegiatan ini mengikuti kegiatan itu dan saya harus menunaikan janji saya untuk mendampingi teman-teman yang sedang berjuang menyelesaikan Tesis, hingga waktu kepulangan tiba, mengirim lebih dulu barang terutama buku-buku selama kuliah, mengembalikan barang yang pernah dipinjam dan tibalah hari untuk kembali ke kota Tarakan. Alhamdulillah, senin 20 Agustus menjadi titik awal untuk kembali berkumpul bersama keluarga, rasa tidak percaya bahwa hari ini menjadi langkah awal untuk kembali beraktifitas di kota tercinta ini,. namun rasa rindu akan Bandung masih begitu besar, terlebih sebagian besar teman seperjuangan masih ada disana, pas hari yang sama saya sudah berada di kota Tarakan, padahal niat untuk datang langsung di yudisum teman, namun diluar dugaan, 2 teman sepeminatan komunitas sudah duluan yudisium.
            Hampir dua bulan setelah meninggalkan Bandung, saya ada kegiatan di Bandung, tepatnya tanggal 22 Oktober, saya mengikuti kegiatan konferensi internasional sekaligus melakukan publikasi poster,. sekalian mengurus persuratan motor di samsat bandung, walau harus mengalami beberapa kejadian tidak mengenakan, ditilang polisi hingga ketinggalan kereta. tiga hari di bandung kemudian ada 1,5 hari kegiatan di jakarta seolah menghapus rasa kangen di Bandung. Sebulan kemudian saya balik ke bandung untuk mengikuti seminar nasional oleh fakultas keperawatan unpad sekalian temu kangen dengan teman-teman dan juga silaturahmi dengan dosen,. namun kedatangan yang kedua ini tidak seperti kedatangan pertama tiba-tiba rasa ingin meninggalkan Bandung segera hehehe mungkin karena cukup lama 5 hari dan teman-teman kuliah sudah tidak ada lagi di bandung :)
            Inilah sekelumit kisah dari kembali ke Bandung,. Kota bandung bukanlah kota yang asing buat saya, hampir 10 tahun saya mendatangi kota ini, banyak hal menarik dan perlu di kenang. banyak jalan dan  tempat yang menjadi saksi perjuangan selama pendidikan dan saat ini saya sudah kembali beraktifitas di kota Tarakan, saatnya untuk mengabdikan diri dan mengimplementasi apa yang didapatkan selama pendidikan. Pesan moral yang disampaikan oleh dosen akan menjadi pegangan untuk tetap rendah hati dan selalu berpikir inovatif. 
terimakasih untuk semua yang telah menjadi bagian cerita perjalanan selama 2 tahun di Bandung,. insyaAllah kelak saya akan kembali lagi untuk melanjutkan pendidikan jenjang doktoral :)

Tarakan, 2 Desember 2018
Pukul : 18.41 (Bada maghrib)

05 Juni 2018

Diberikan yang Kita Butuhkan Bukan yang Kita Inginkan

Sebulan ini benar-benar disibukkan dengan penyusunan laporan penelitian mulai dari analisa data, bolak-balik bimbingan hingga hari ini ditentukannya jadwal ujian naskah tesis (UNT) yang insyaAllah dilaksanakan senin, 25 Juni 2018. Luar biasa perjuangan selama sebulanan ini. Pernah suatu saat bimbingan pertama, saya melakukan perjalanan ke kampus Jatinangor sampai 2 kali dalam waktu sehari, entah apa saat itu yang membuat saya tidak terlalu berpikir panjang , padahal saya sudah janjian dengan pembimbing untuk ketemu setelah salat zuhur karena melihat coretan pembimbing sebelumnya yang begitu banyak dan membuat saya tidak nyaman untuk bertemu dengan pembimbing yang lain ditambah saat itu saya tidak membawa laptop atau file. Tapi itulah perjuangan akan selalu dikenang
Ketika bimbingan alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar, bersyukur saya diberikan pembimbing yang baik dan selalu memberikan jawaban untuk kepastian bimbingan, beberapa teman kesulitan dengan jadwal bertemu bimbingan, ada yang 1 bulan bahkan ada 2 bulan tidak bisa ketemu pembimbing.Hingga pagi ini saya mengkonfirmasi dengan pembahas / penguji tentang jadwal ujian disepakati setelah lebaran. awalnya ada saya berkeinginan sebelum libur lebaran tapi semua keputusan ada di tangan pembahas karena setiap pembahas punya kesibukan masing-masing. 
Dengan jadwal seperti ini bisa membuat saya lebih mempersiapkan diri dengan baik belum lagi sat ini menjelang mudik perlu persiapan ini dan itu perlu nyari ini dan itu paling tidak dengan kelonggaran ini saya lebih ada waktu untuk mencarinya demikian juga di 10 hari ramadhan ini, subhanallah terasa banget, semoga Allah senantiasi menjaga iman agar tidak merusak ibadah puasa dengan hal-hal yang tidak baik
Hikmah dari semua ini, bahwa Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan atau sesuai keinginan kita. Sejauh ini sudah berusaha maksimal diikuti dengan keinginan besar seperti ini dan itu tapi tidak semua bisa terealisasi apalagi sudah berkaitan dengan orang lain punya kepentingan dan urusan masing-masing. Dengan kelemahan diri, dengan kesadaran diri, dengan ikhtiar kuat yang sudah kita jalankan, dengan niat yang sudah diikrarkan Yakinlah bahwa Allah SWT sudah menyiapkan sesuai sesuai dengan itu semua, tetap berprasangka baik, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini.. Wallahu a'lam  

Bandung, 5 Juni 2018
Jam : 09.45 AM

06 Mei 2018

Hindari Makanan Pedas

Akhirnya saya harus menulis tentang ini, bagaimana tidak kebiasaan yang sudah mendarah daging yaitu suka sambal yang pedas atau makanan pedas lainnya yang tidak bisa dihindari karena kondisi lambung saya yang tidak bisa menahannya. ini cerita 3 hari yang lalu ketika saya harus ke IGD RS Santo Borromeus Bandung, bagaimana tidak, pagi setelah meneguk kopi susu kepala saya serasa berputar tidak seperti biasanya (baca: vertigo) rasanya begitu kuat hingga ketika saya memencamkan mata terasa banget hingga muntah-muntah dan karena sudah tidak bisa menahan, saya meminta tolong sama teman kos untuk di antarkan ke rumah sakit tersebut. setelah mendapat suntikan dan obat minum agak berubah sedikit sehingga harus rawat jalan dan diperbolehkan pulang namun kondisi masih begitu lemas hingga untuk menjalankan shalat jum'at saat itu sudah tak mampu berdiri apalagi untuk berjalan ke mesjid. sore harinya alhamdulillah sudah bertambah perubahan dan sudah bisa untuk berjalan hingga ke toko depan gang kosan. 
Bukan pertama kali saya merasakan seperti ini, 5 tahun yang lalu tepatnya saat rafa lahir saya pernah merasakan seperti ini namun muntahnya tidak separah ini sehingga saya harus membatalkan puasa saya saat itu dan setelah menelpon teman saya dianjurkan meminum obat mual dan obat magh alhamdulillah sehari sudah sembuh dan besoknya saya harus balik lagi ke Tarakan (dari makassar). Obat ini menjadi pegangan saya selama ini terutama obat magh karena saya punya riwayat magh sejak dulu sehingga selalu diwanti-wanti dan selalu menyiapkan obat magh jika terjadi seperti ini terutama bila gejalanya mulai terasa.
Hari-hari belakangan ini memang terbilang sangat sibuk dengan tugas akhir yang harus diselesaikan ditambah lagi dengan kegiatan untuk persiapan ramadhan, nah yang terakhir ini bukan berarti sebuah problem namun ada beberapa rentetan kejadian yang memang kurang pas dan diluar ingatan saya. Yang pertama ketika shaum syahban, seperti biasanya saya membiasakan diri untuk mengkonsumsi obat magh saat sahur namun saya tidak melakukannya karena benar-benar tidak ingat. Kedua bukan menyalahkan kegiatan yang saya lakukan karena begitu buka puasa bertepatan dengan ceramah yang saya ikuti, nah itu juga diluar kontrol saya seharusnya saya menyiapkan buka yang lebih sehat paling tidak menyediakan teh botol (seperti biasanya untuk mengganjal perut) karena ceramahanya selesai jam 9 malam dan untuk sampai ke tempat makan  butuh 30 menitan artinya kurang lebih 3 jam perut saya kosong tanpa nasi (asli orang Indonesia untuk makan). Ketiga begitu tidak berdosanya saya melahap sambal tanpa ingat-ingat kalo lambung saya tidak aman, setelah berpuasa. Keempat karena merasa aman-aman selama 3 hari belakangan, ketika melakukan perjalanan PP Bandung Jakarta untuk bertemu dengan paman, tanpa rasa berdosa bahkan meminta ikan yang dimakan sama paman yang dibuat dengan belimbing mangga dan jeruk plus cabe, pass banget dicampur dengan masakan padang yang sudah pasti pedasnya. kelima sesampainya di bandung tanpa sadar saya mengkonsumsi makanan yang agak dingin dan lupa minum teh panas setelah perjalanan jauh. Keenam tanpa berpikir panjang paginya saya membuat kopi susu dan selang 30 menit gajala pusing mulai terasa dan akhirnya harus masuk IGD
Gejela pusing kepala berputar (baca : vertigo) merupakan keluhan yang berat yang saya rasakan. Jikalau sebelum-sebelumnya ketika makanan pedas saya selalu berurusan dengan diare kalo berat sedikit disertai dengan muntah-muntah (seperti perjalanan ke aceh, 2014 silam) dan kejadian terakhir sebelum ini adalah ketika melakukan perjalanan ke dusun bambu dan pulangnya langsung mencret-mencret dan harus ke puskesmas lagi-lagi masalah utamanya adalah karena makanan pedas. Masih teringat juga ketika bulan-bulan pertama awal perkuliahan saya mengalami sakit yang kurang lebih sama namun efeknya batuk yang tak kunjung sembuh, kata teman karena gas lambung yang mempengaruhi refleks batuk dan hampir 3x bolak balik puskesmas untuk berobat.
Inilah pelajaran penting bagi saya ketika merasa sudah sehat dan melupakan bahkan mengabaikan faktor risiko penyakit salah satunya makanan pedas, sudah sering kali menghindari namun pada momen momen tertentu lupa dan kejadian seperti ini. Saya barus berkata dalam hati "lambung saya tidak sehat, tidak cocok dengan makanan pedas, hindari sebelum sakit kembali" ketika masih sehat terkadang masih diingat namun begitu lagi sibuk-sibuknya dengan sendiri terlupakan". Namanya manusia terkadang khilaf dengan kondisi sendiri. Kalau dalam pendekatan agama, sakit menjadi menggugur dosa, sudah pasti ini jadi pengingat saya untuk lebih berhati-hati, awarness dengan kesehatan makanan dan juga jangan sekali-kali mencoba mengikuti teman yang memang sudah terbiasa dengan makanan pedas. kalo satu kali mencoba tidak ada efek jangan diteruskan lagi karena ketika mencoba untuk yang kedua kali biasanya akan memberikan dampak dan mungkin akan lebih besar. Nauzubillah min zalik.

Bandung, 6 Mei 2018
Pukul : 11.46 am (pas azan zuhur)

29 April 2018

Tak Berhenti Berharap

Ada sebuah ungkapan " selalu ada harapan untuk orang yang berdoa dan selalu ada jalan bagi orang berusaha", mungkin ini yang menjadi pegangan beberapa bulan terakhir ini tat kala menyelesaikan tugas akhir di kampus. Dulu saya menentukan jalan hanya bermodal keyakinan, yakin akan apa yang saya lakukan kelak bermodal data seadanya dan juga reverensi yang cukup kuat. Semangat inilah yang seolah menguatkan saya bahwa jalan (baca: riset) ini tepat untuk saya. Bukan berarti mengabaikan saran dan masukan orang disekitar saya (pembahas dan penguji), entah apa yang menjadi spirit buat saya sehingga rasa yakin ini begitu kuat, apalagi dengan sebuah prinsip "segala sesuatu pasti ada tantangan dan masalah tersendiri"
Beriring jalannya waktu kendala-kendala itu mulai terasa, rasa mundur dan resa begitu kuat menyapa, bertanya dalam diri, apakah saya mampu melewati ini semua, bagaimana kalo harapan saya tidak seperti kenyataan yang saya alami saat ini? lagi-lagi rasa down ini begitu kuat mengampiri. Beruntungnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang memberikan support (seperti dalam tulisan sebelumnya : support system). Namun sebesar apapun support yang dapatkan apabila saya tidak menyemangati diri sendiri maka semua akan sia-sia bagaikan buih di lautan yang akan lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Seperti apa yang akan terjadi kelak kita tidak bisa memprediksinya karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan untuk ditebak. Saat ini hanya bisa berdoa dan berikhtiar apapun hasilnya itulah yang terbaik. Hanya itu yang saat ini menjadi harapan dan harus benar-benar ditumbuhkan dalam diri tentang apa yang terjadi kelak dan berharap masih sesuai dengan harapan walaupun dalam diri berkata " jika memang ini terbaik untukku, semoga saya ikhlas menerima, saya harus menghargai segala jerih payah usaha dan doa saya yang selama ini. Jadi ingat sebuah ungkapan :
"kita tidak bisa merubah arah angin, tetapi kita bisa mengatur posisi layar kita agar tetap pada arah tujuan kita"
 seperti inilah kondisinya, ketika saya tidak bisa memprediksi situasi dan kondisi yang terjadi esok namun saya akan berusaha sekuat mungkin untuk menghadapi situasi dan kondisi itu agar tetap survive dan fight

Bandung, 29 April 2018
Pukul : 17. 47  

23 April 2018

Izinkan Aku Menuruti Hati

Masih seputar hati,. Diri kitalah yang mengetahui seperti apa kita sebenarnya dan berasal dari perenungan yang dalam atas diri kita dan input(saran, ocehan, tanggapan) dari orang-orang disekitar kita. Secara pribadi saya dibiasakan dengan hal-hal yang saya lakukan menurut saya baik namun tidak serta merta saya menuruti semuanya (baca : egois) namun terkadang ada hal yang harus saya ikuti hanya untuk berdamai dengan diri sendiri, saya mau menjadi sahabat bagi diri saya sendiri. Setiap kali kita melangkah, setiap kali kita mengambil keputusan, diri kitalah yang paling paham sejauh mana batas kemampuan dan keadaan real kita saat ini namun untuk bisa mencapai titik ini sebaiknya kita perlu mengenali siapa seperti diri kita, apa keinginannya dan apa yang dia harapkan. Walau tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa, kata kunci adalah "nyaman" ketika kita melakukan sesuatu kita merasa nyaman untuk melakukan dan ada kepuasan disitu dan orang lain tidak akan mudah menilai seperti apa yang kita rasakan. 
Seseringlah bertanya pada diri, "hati" apa yang engkau inginkan dari ku? apa yang engkau harapkan dariku? apakah aku sudah memiliki karakter seperti yang engkau inginkan?? tentunya ini dilakukan disaat kita lg khusuh berdzikir sesaat ketika selesai shalat ditunaikan, sesaat ketika kita lg menjadi bagian yang menyatu dengan sang Khaliq. Disaat2 syahdu seperti ini  kita, diri kita dan bimbingan sang khaliq mengarahkan kemana dan seperti apa yang harus kita putuskan dan lakukan
Sebulan ini, saya baru mau belajar untuk kembali mengingat-ingat apa sebenarnya yang saya inginkan, terlintas berpikir apakah yang saya inginkan merupakan apa yang saya butuhkan. Saya mencoba menyingkirkan butiran debu yang selama ini menutupi diri, menutupi kata hati yang bergejolak, saya mencoba mencari lebih dalam apa yang sebenarnya yang mengarahkan saya pada diri yang sesungguhnya, beberapa hari ini saya menemukan tulisan Tere Liye yang merupakan nasehat yang diajarkan oleh orangtuanya dan saya kira sangat pas, (nasehatnya : Jangan pernah membenci siapapun sejahat apapun orang tersebut kepada kita; Hiduplah bersahaja, sederhana-tidak peduli sebanyak apapun harta yang kita miliki; senantiasa berpikir positif sebesar apapun beban kehidupan yang harus kita lewati; banyak berbagi dan memberi- meskipun kita menerima sedikit sekali dari kehidupan ini; menjaga hubungan- bahkan dengan orang yang melupakan kita; Ringan memaafkan- kepada orang yang khianat sekalipun kepada kita; Terakhir selalu mendoakan yang terbaik bagi orang-orang yang kita sayangi.
Nasehat begitu mengena dan persis dengan yang saya harapkan, walau sesekali penolakan dalam diri juga begitu besar, mungkinkah itu "suara lain" yang sengaja ingin membelokkan diri pada jalan yang lain, jalan yang jauh dari yang diharapkan. Hampir semua point itu mengisyaratkan karakter diri yang tersembunyi selama ini, apakah ini jalan yang harus saya lakukan untuk menemukan dan "memeluk erat2" diri yang selama ini tertutupi dan  "hilang" karena keegoisan. Bukankah itu merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, sebagai mana ungkapan " siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya"

Bandung, 23 April 2018
Pukul : 10.50 AM 

22 April 2018

Belajar dari Pengalaman

Kata orang bijak pengalaman adalah guru yang terbaik. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa apa yang kita alami saat ini adalah sudah dialami lebih dulu oleh orang2 sebelum kita sehingga apa yang mereka alami apa yang mereka telah lakukan bahkan kesalahan mereka perbuat menjadi pelajaran buat kita. Demikian pula dalam agama, dalam kajian yang pernah diikuti beberapa saat yang lalu, ustad menyampaikan ayat tentang bagaimana orang-orang dulu diberikan azab sehingga menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sekarang. 
Sebenarnya uraian di atas hanya sebuah intro dari apa yang hendak saya mau sampaikan (entah nyambung atau kaga :) sayaingin bercerita tentang pengalaman seminggu yang lalu. Ketika saya sudah meniatkan membantu teman untuk mencarikan "barang" yang sebelumnya pernah dia ungkapkan untuk beli dalam beberapa kali pertemuan namun selalu kehabisan dan terakhir 2 minggu yang lalu saat ketemu juga mengatakan akan membelinya dan ketika berada di penjualnya juga kehabisan. terakhir saya menawarkan untuk membelinya dan ternyata juga senasib dengan sebelumnya kehabisan. Hingga tibalah waktu yang kebetulan bersamaan dengan jadwal untuk lari pagi dan mampir dan alhamdulillah barangnya ada, memang penuh perjuangan.. hehe singkat cerita saya memberitahukan ke teman itu kalo ini barangnya sudah ada dan ternyata si teman ini lagi berada diluar kota :(  saya berharap besok dia balik ke Bandung biar barangnya bisa diambil (baca : cake/bolu). Uda bela2in dititipin dikulkas ibu kos, karena teman ini lagi berada di luar Bandung, seharian hanya komunikasi di awal ga ada respon lagi setelah sempat terlintas dalam diri "ini barang memang terlihat biasa2 aja, mungkin bagi dia tidaklah seberapa bahkan dia bisa beli dengan cake lain yang lebih mahal, tapi sudahlah saya berpikir tidak menduga2.. sampailah keesokan harinya, siang tiba2 dia w.a (setelah 1x24 jam) nanyain itu bolu :) saya jawab masih ada, dan dijawab mohon maaf slow respon karena banyak kerjaan dan saya bilang gpp, berarti itu cake saya makan sama teman2 saja. memang benar cake itu dibagikan sama ibu kos, sama tetangga penjual makanan, sama teman kebetulan lagi ketemu siangnya dan sama teman yang membantu penelitian saya :)   panjang juga ceritanya ;D
secara pribadi saya gak permasalahkan kejadian diatas, toh niat baik apalagi untuk teman, namun yang membuat saya berhenti sejenak berpikir, ada apa dengan kejadian ini kenapa begitu terasa... memflashback kebelakang barulah saya tersadarkan, tepat 4 hari yang lalu saya mengikuti ta'lim dari ust. Hanan Attaki di mesjid trans studio mall Bandung dan yang dibahas adalah jenis-jenis ujian kesabaran dan salah satunya yang dibahas adalah ujian zulzilla atau ujian kesabaran. Pas kenah banget... sekedar mengingat-ingat untuk pergi ke ta'lim ini tidaklah mudah hari itu bertepatan dengan jadwal lari sore yang biasanya pulang jelang maghrib, uda ngajak teman tapi ada ada halangan dan pas kesananya lumayan macet. ternyata inilah hikmah terbesarnya saya menghadapi sebuah kenyataan beberapa hari setelah ta'lim ini.
Ini ujian kesabaran yang sesungguhnya kita dihadapkan pada kondisi yang sudah kita dengarkan sebelumnya, mungkin tidak langsung tersadarkan mengingat saat itu masih terbawa perasaan (baper :) mungkin saat itu lagi ga enak-enaknya sama teman karena seolah-olah dia tidak menghargai atau bahkan dia gak mau tahu betapa sulitnya mendapatkan cake yang menurut dia "kampungan" (saking kesalnya dia karena beberapa kali kehabisan) sebenarnya dia bisa beli di jalan dengan harga yang ga terlalu jauh tapi pengalaman dia pernah seperti itu dan rasanya lain  dan memang saya sudah mengalaminya dan rasanya agak beda bila beli langsung (tangan pertama), tapi inilah cobaan sebanar-benarnya ketika kita sudah bersungguh-sungguh membantu tapi belum sepenuhnya mendapat respon positif, apakah saya gak ikhlas?? tunggu dulu, sejak awal sudah tidak mengharapkan apa2 sekedar ingin membantu dengan alasan-alasan tadi. pertanyaannya kenapa mau membantu...?  namanya teman, apalagi sempat dia katakan itu akan dikasih  orangtuanya... ya udah itu saja
inilah manfaat langsung ta'lim yang diikuti, manfaat real, kondisi gadiharapkan, bahwa kita dapat melewatinya tanpa memberikan efek negatif, belajar untuk ikhlas, belajar untuk bagaimana menyadarkan diri akan kondisi atau masalah-masalah yang kita hadapi yang ternyata itu bagian dari menguji iman kita. karena iman dan sabar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan (kata ustad) kita tidak akan dikatakan beriman kalo kita belum berhasil melewati ujian-ujian yang mau mengukur sejauh mana kesabaran kita dalam melewatinya, untungnya setelah kejadian ini saya dan teman ga ada efek negatif yang timbul walau merasa gimana :D tp berlangsung lama karena sudah sadar kalo ini rangkajian ujian keimanan diperhadapkan dengan kondisi yang tak terduga dan tidak kita inginkan tapi kita harus hadapi. sisi positif lain adalah bolunya bisa dinikmati oleh orang-orang disekitar kita dan tidak pupus untuk berbuat baik
Semoga Allah SWT selalu menguatkan diri ini ketika berhadapan dengan kondisi2 seperti itu dan bahkan bisa lebih berat lg... walluhu a'alam bishawab

Bandung, 22 April 2018
Pukul  : 10.20 WIB

13 April 2018

Support Sistem

Beberapa hari belakangan ini saya benar-benar direndung rasa tak menentu campur baur terutama masalah penelitian yang sedang saya jalankan. Bagaimana tidak kondisi dilapangan saat ini di luar dugaan awal. sebenarnya kondisi ini sudah diantisipasi sebelumnya dengan saya mengejar waktu ujian proposal lebih awal dengan harapan agar bisa memiliki waktu yang banyak selain itu saya sudah mengantisiapasi dana penelitian dengan menyisihkan uang buku dari LPDP karena penelitian yang saya akan lakukan kemungkinan akan mendapatkan support dana yang tidak begitu besar. Ternyata memang dua kondisi itu benar-benar saya alami dan seharusnya bukan menjadi hal begitu yang saya pikirkan ternyata kondisi realitanya seperti demikian.lantas apakah saya harus benar2 down dengan kondisi seperti ini? tentunya sebagai manusia biasa perasaan itu lumrah ada, namun jangan berlama-lama dalam kondisi seperti ini, cukup merasakan dan lepaskan.

Alhamdulillah, saya dikelilingi yang mensupport dan memberi semangat, Allah SWT mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat yang memberikan dukungan untuk tetap fight kondisi ini, ketika dalam "kesulitan" ada saja bantuan yang datang, tanpa saya sadari kebaikan orang-orang disekitar saya ini sangat berkontribusi mulai dari keluarga,pembimbing, teman kuliah, teman kosan hingga teman jalan. Mereka mengingatkan bahwa semua akan terlewati, jangan lupa untuk doa dan ikhtiar. mungkin ini akan menjadi "charger" hidup saya untuk melewati masa-masa berjuang menyelesaikan tesis tepat waktu. InsyaALLah.. Amin.. Bismillahi rohman ni rohim.. la haula walla quata illah bi llah 

31 Maret 2018

Ikuti Diri (Kata Hati)

Kata Hati merupakan bisikan Illahi Robbi yang selalu mengarahkan manusia pada jalan yang baik (lurus). Semua manusia sudah dibekali dengan itu namun tinggal bagaimana manusia "peka" merasakan kehadirannya. Dalam pandangan agama, hati kita tergantung seberapa sering kita membersihkannya dengan selalu meminta ampun kepada Sang Khaliq dan sesering mungkin mengingat Nya (Dzikir). Dalam kehidupan kita, terkadang kita lalai dan sibuk dengan rutinitas hingga lupa membersihkan hati kita yang seharian tanpa kita sadari memunculkan noda hitam walau hanya butiran debu dan lama kelamaan menjadi  noda hingga mengeras. 
Seiring berjalannya waktu, salah dan khilaf sudah menyilimuti diri, ketika tersadarkan begitu banyak khilaf dan salah yang sudah tercatat dalam buku perjalanan hidup manusia. Ada keinginan untuk berbena dalam setiap sujud dan doa, keinginan lebih baik untuk kedepannya. Namun ucapan dan harapan tak cukup tanpa kita diperhadapkan dengan kondisi yang menguji keseriusan kita untuk berbenah, sontak tersadarkan dalam diri apakah saya lagi diuji keseriusan untuk berubah, apakah saya akan menyianyiakan kesempatan untuk memperteguh diri ini ataukah saya kembali jatuh pada jurang kesalahan yang sama. Astaghfirullah hal adzim.. 
Setiap manusia menginginkan hidupnya semakin lebih baik dari kondisi sekarang, tak ada yang menginginkan untuk lebih buruk dalam segala hal, namun keinginan saja tak cukup tanpa kesungguhan hati dan kesungguhan ini akan teruji dengan situasi yang menuntut kesungguhan kita. Namun kita sebagai manusia, masih saja lemah dan tidak berdaya tanpa maghfirullah, rahmat dan karunia Allah SWT, kita hanya berusaha sekuat tenaga namun bantuan Nya lah yang membuat kita kuat dan fight  dan bantuan itu datang dari hati yang bersih hati yang selalu mengingat Nya, melibatkan Dia dalam setiap keputusan dan napas yang kita hembuskan.
Ujian itu juga akan datang dengan godaan dan bisikan-bisikan "gaib" yang mengarahkan kita pada kesesatan dan kesalahan, tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita mengantisipasi, berpikir panjang dan menyadari bahwa kita hanya manusia yang lemah tanpa Cahaya bantuan Nya. sesering untuk selalu mengingat dan menyadari mau sampai kapan kita selalu berkutik pada salah dan khilaf yang sama, mau sampai kapan ? hanya keteguhan hati yang bisa menjawabnya. Wallahu'alam. 

Bandung, 31/3/2018
Pukul : 17.50 (Jelang Maghrib)

21 Maret 2018

Berteman

Sebagai manusia sosial, kita tidak akan pernah lepas dari interaksi dengan orang lain. Ada beberapa tahapan yang dilewati; dari belum kenal sama sekali walau berada di tempat yang sama, ada juga hanya tahu tapi belum kenal kemudian sudah kenal tapi hanya sebatas itu saja, lalu sudah kenal dan sudah menjadi (sebatas) teman (saja) karena kondisi yang dipertemukan sama, karena sering ketemu bisa jadi satu kantor, tetangga, hobi yang sama dan lain-lain. 
Satu hal yang perlu diketahui untuk benar-benar menjadi teman itu butuh proses dan yang paling penting ada chemistry. nah ini yang terakhir yang perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan orang yang dikenal sebagai teman. Terkadang  kita bertanya kenapa dekat sama si A bukan sama si B atau mungkin sudah dipertemukan dalam satu rutinitas namun tidak begitu dekat secara personal, nah itu relasinya hanya untuk profesionalitas bukan untuk menjadi teman dekat (tidak ada hubungan khusus). Dalam wikipedia mengartikan teman sama dengan sahabat yaitu orang memiliki perilaku kerjasama dan saling mendukung. Nah, itu sarat teman, kenal saja tidak cukup. Masih dalam tafsiran wikipedia. pertemanan atau persahabatan harus memenuhi persyaratan : menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain, ada sifat simpati dan empati, kejujuran dan saling pengertian.
Seringkali kita melihat qoute dalam status media ataupun aplikasi chatting yang menuliskan " seorang teman yang baik selalu ada ketika kita butuhkan/ jatuh", adapula  qoute "akan ketahuan orang apakah sebagai teman ketika kita lagi down malah dia menghindari / menjauhi tapi ada ketika kita senang". Inilah sifat manusiawi, ada keinginan hanya mau merasakan yang senang-senang saja tetapi begitu ada kesusahan, dia menghilang entah kemana :)
Namun hal yang perlu diperhatikan adalah pertemanan yang benar-benar berkah. Namanyanya dalam kehidupan sosial ada saya permasalahan yang dihadapi. kita tidak secara sepihak menganggap bahwa orang yang disekitar kita adalah teman yang sebenar-benarnya teman, jangan-jangan hanya sebatas kenal, sebatas tahu dan sebatas kebetulan ditempatkan dirutinitas yang sama, di tempat yang sama dan tidak lebih dari itu. Waktu akan menyeleksi dan menunjukkan siapa yang sebenarnya teman kita. ketika kepentingan atau waku yang sama berakhir, ya berakhir juga relasi, kalaupun ada hanya sebatas menegur.
Pengalaman yang sudah berlalu seperti itu, sudah menganggap sebagai saudara tapi rupanya dianya mengganggap kita biasa-biasa saja, bukan maksud mengungkit kebaikan tapi itulah kenyataannya, diluar sepengetahuan kita, ketika kita membutuhkan, dianya entah dimana? sekali? mungkin kita tidak bisa mengambil kesimpulan, tapi kalo sudah beberapa kali, sebaiknya di "delete" dari list sebagai teman :) jangan biarkan ada orang yang menjadi benalu dalam kehidupan kita. 
Sifat Ekstrovert ini begitu melekat dalam diri saya terutama dalam hidup bersosial, sudah sering diajarkan sama orangtua untuk mengenal orang-orang, mengajak ngobrol orang-orang dan agak mudah bergaul. Namun sebatas itu, yang terkadang bikin canggung itu ketika berinteraksi dengan orang yang introvert, agak tertutup tapi bagi saya tidak masalah, ketika dia sudah menjawab sapaan saya pun "alhamdulillah". Begitu banyak yang dikenal, begitu banyak yang diajak ngobrol namun hanya sedikit yang bisa menimbulkan "kedekatan" karena belum memenuhi syarat pertemanan seperti yang disebutkan diatas. why?? karena mereka belum pantas untuk dijadikan teman, :) pertemanan membutuhkan ketulusan dan saling pengertian dan itu tidak mudah muncul dalam sekali dua kali bertemu dan mungkin ada yang berprinsip jangan mudah terkesan dengan pandangan (perkenalan) pertama. 
Dalam pertemanan juga terdapat pasang surut dan waktu akan kembali melakukan penyaringan untuk tahap berikutnya, kedekatan sudah terjalin, namun akankah tetap terbina ketika berada dalam waktu dan tempat yang berbeda? entahlah, lagi-lagi hanya waktu yang bisa menjawab. Dalam pertemanan perlu mengetahui kelebihan dan kelemahan teman, bukan hanya dalam berumah tangga sifat itu muncul karena ketika kita dihadapkan pada kondisi teman lagi tidak mood, lagi down, lagi pikir banyak masalah, lagi tidak bisa diajak berpikir "waras" nah saat itulah waktu terbaik untuk "diam" dan menjadi penyejuk buat dia, ibarat dalam gurung pasir, kehadiran kita menjadi oase dan begitu sebaliknya ketika kita menghadapi suatu masalah dan ketika membutuhkan kehadiran teman, mungkin kita harus mengerti kondisi teman yang waktunya sudah tidak sepenuhnya untuk kita. perlu kedewasaan dalam pertemanan dan point penting dalam pertemanan tidak ada keterpaksaan dan tidak ada karena "kasian", kita butuhkan ketulusan dan memahami kita apa adanya bukan ada apanya itulah teman, akan lebih baik lagi teman yang mengajarkan kita kearah jalan kebaikan, dia akan mengingatkan akan kesalahana-kesalahan yang kita lakukan secara bijak, dia tahu kapan dan bagaimana memposisikan diri dan sebaliknya kita juga melakukan hal tersebut. itu saja !!!!

Bandung, 21/3/2018
Pukul : 09.15 AM

13 Maret 2018

Diri Yang Dulu

Beberapa hari belakangan ini saya mencoba membuka email lawas, ada sekitaran tahun 2005 hingga 2008 dan adapula sekitar tahun 2013. Begitu membaca spontan terlintas "dulu saya bisa tulis seperti ini? hehehe sambil terbesik dalam diri memuji diri yang mungkin untuk saat ini kemampuan menulis itu saya tidak miliki. email demi email dibuka ada rasa takjub dengan beberapa email yang ada karena saat itu posisi saya sebagai mahasiswa yang tidak lama lagi akan selesai dan saat itu saya sedang mendisuksikan buku langsung sama penulisnya. kata perkata saya baca sambil mengingat "konteks" dan situasi saat saya menulisnya dan ada kurang lebih ada 10 email yang dikirim dan mendapat balasan dari beliau. 
Untuk berdiskusi sebenarnya bukan hal yang baru buat saya, namun berbicara langsung dengan penulis buku itu merupakan hal yang pertama saya lakukan dan media yang digunakan adalah email dimana saat jamannya sangat populer dan onlinenya harus ke warung internet. Tema saat itu tentang gerakan kemahasiswaan, in buku tersebut merupakan tesis yang telah diubah menjadi buku. Alhamdulillah sampai saat ini dengan penulis buku tersebut masih terjalin, kontak personnya pun masih ada dan via sosmed khususnya facebook masih terjalin.
Email kedua merupakan email ketika saya berada Tarakan. email ini lebih banyak berisi tentang kegelisahan dan keresahan akan masalah yang dihadapi entah itu di tempat kerja maupun dengan pertemanan. Pasang surut emosi, beban pikiran yang kadang tak mampu diemban, permasalahan dari berbagi macam sudut dan ini lebih menguras tenaga.
Untuk masalah tulis menulis sebenarnya sudah dimulai sejak lama, sejak smapun suka menulis buku harian. ha ha ha walau jarang namun ketika menulis seketika beban pikiran mulai surut karena hanya kertas-kertas itu yang bisa memahami dan kebiasaan itu masih dijalankan ketika memasuki jaman kuliah terutama ketika dihari kelahiran dan menjelang pergantian tahun. ditahun kelahiran sebagai moment untuk merefleksikan diri dan diakhir pergantian tahun merupakan harapan yang ingin dicapai selama setahun, kata orang-orang "resulosi"
Membaca email-email tersebut menjadikan pelajaran buat saya, apakah kondisi saya saat ini sudah lebih baik dengan kondisi saya saat email itu ditulis. semoga lebih baik dan akan berusaha lebih baik. sesuai dengan ajaran agama, apabila kita lebih buruk dari hari kemarin maka kita menjadi orang-orang yang merugi dan kita akan beruntung bila kondisi kita semakin lebih baik. untungnya membaca tulisan2 diemail itu menjadikan bahan refleksi bagi diri saya pribadi dan satu hal yang harus saya pegang bahwa pengalaman yang lalu biarlah menjadi bagian cerita, manusia tidak ada yang sempurna, ada salah ada benar. ada sadar ada khilaf/ insaf. kata ust. Adi Hidayat keburukan diciptakan agar kita sadar ada kebaikan yang harus kita munculkan, kita tidak akan pernah mengetahui pentingnya bersabar kalo kita tidak mengenal sifat marah, kita tidak akan pernah mengenal jujur kalo kita tidak pernah dihadapkan dengan menipu.
inilah hidup, karena setiap orang akan menuliskan cerita dalam setiap hembusan napasnya.

Bandung, 13 Maret 2018
Pukul : 09.28 AM

09 Maret 2018

Spirit yang (sempat) tertunda

Cukup lama tidak memantau blog ini, entah sudah berapa kisah yang berlalu terhitung sejak bulan November 2017 hingga awal Maret 2018 ini. sempat terabaikan dengan rutinitas yang ada.
bulan 11 bulan merupakan padat2nya kegiatan field experience di Kabupaten Sumedang dan tidak jarang harus bolak-balik dengan sekali perjalanan kurang lebih 2 jam, masuk bulan Desember juga masih bagian rangkaian minggu akhir field experience yang menyitah banyak energi dan waktu dan ketika masuk pertengahan bulan Desember juga tak luput dari kesibukan menyelesaikan laporan tugas akhir dan sekaligus mencuri waktu untuk menyelesaikan perbaikan proposal sesuai masukan-masukan pembahas. ini sempat terabaikan selama kurang lebih 1.5 bulan. 

Memasuki Januari 2018, lumayan banyak waktu yang ada, paling tidak kesibukan kegiatan akademik di kampus sudah tidak ada, sisa memanfaatkan waktu untuk penelitian yang diawali dengan mengurus etik sebagai sarat memulai penelitian. Pendaftaran berkaspun dilakukan dan sambil menunggu saya sempat pulang kampung selama kurang lebih 10 hari, ya demi melonggarkan urat-urat saraf yang selama ini sudah dipacu. Sepulang kembali ke Bandung karena mendapat jawaban revisi dari etik dan memulai langkah dengan setuja agenda penelitian yang harus diselesaikan. bulan Januari berakhir berganti Februari. Awal februari merupakan langkah awal dimulainya penelitian setelah dinyatakan diterima revisi penelitian namun belum bisa mengeluarkan surat karena adanya pergantian pimpinan di komite etik fkunpad

Ketika memulai pilot projek (penelitian pendahuluan) kondisi dilapangan sangat berbeda dari kondisi yang sebelumnya pernah didatangi. awalnya menetapkan 2 rumah singgah sebagai lokasi penelitian atas pertimbangan ini dan itu akhirnya diputuskan ada 5 rumah singgah yang harus digunakan. Memang tidak mudah memulai penelitian ini dengan kondisi pasien, banyak hal yang diluar dugaan dan kondisi yang tidak bisa diprediksi. Kondisi mengingatkan saya akan kalimat dari pembimbing dan pembahas bahwasanya penelitian yang saya jalankan ini tergolong rumit namun bukan berarti tidak bisa. Sempat terlintas kok bisa serumit ini namun bukan berarti semangat saya tiba2 melemah dan teman kuliah mengingatkan bahwa saya pernah mengatakan bahwa penelitian saya ini lumayan rumit dan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Saya yang mendengarnya malah terkaget-kaget.. "oya?? saya pernah bilang seperti itu" spontan kalimat itu keluar ketika mendengarkan teman selesai berbicara. Alhamdulillah kalimat menjadi spirit yang sempat tertunda

Ternyata permasalahan yang ada tidak hanya masalah penelitian semata. ramainya group-group w.a, pro dan kontra antara anggota group, permasalahan  pertemanan, persoalan ini dan itu, namun semua itu harus pintar-pintar dihempaskan dan selalu dalam benak mengingatkan "apakah prioritas yang ingin diraih??" tentu jawabannya adalah ingin selesai tepat waktu, masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan studi jangan menjadi beban, ya dihadapi seproporsionalnya lah. 

Harus tetap fokus pada tujuan kenapa berada di Bandung, tetap ikhtiar, selalu berdoa, tingkatkan amalan yang menunjang, pertahankan mood bila telah mulai down, jaga spirit. tugas kita adalah melakukan yang terbaik, sesuai koridor dan sesuai s.o.p, apapun hasilnya itulah yang terbaik
itulah prinsip yang harus dijalani 


Bandung, 9 Maret 2018
Pukul : 10.26 AM