Judul ini sangat pas dengan apa yang saya pahami selama ini. Selama ini dalam mindset saya, bahwa jika beribadah jangan mengharapkan pahala, karena seolah-olah kita seperti melakukan transaksi dalam beribadah, kita melakukan hitung-hitungan, seolah-olah kita melakukan hitung-hitungan atau kalkulasi dalam beribadah, kita melakukan sudah berapa banyak pahala yang sudah kita dapatkan saat melakukan ibadah tertentu. mindset ini cukup bertahan dalam diri saya, sehingga ini juga yang menjadi "penghalang" untuk lebih fight lagi dalam beribadah. Belum lagi dengan lagu yang cukup populer dari ahmad dani yang syairnya kurang lebih seperti ini : apakah kita hanya takut karena masuk neraka, jika surga dan neraka tidak ada, masih kah kita bersujud kepada Nya. Memang tidak mudah keluar dari pemahaman seperti ini, terlebih saya cukup lama bergelut di dunia aktifis mahasiswa islam, yang banyak membincang secara nalar tentang keagamaan, namun lebihpada peningkatan kesadaran keagamaan, mencari lebih jauh logika dibalik sebuah dalil, bukan berarti tidak mau menjalani akan tetapi lebih pada penanaman kesadaran kenapa harus dijalankan walau saat itu sebenarnya secara ritual keagamaan tetap saja dijalankan karena bukan berarti kita mempertanyakan dalil bukan berarti kita meninggalkan dalil tersebut, misalnya shalat, kita mencari landasan filosofis dari shalat bahkan shalat yang berimplikasi secara sosial, bukan bagian dari golongan-golongan yang hanya dengan serta merta menerima tanpa mau mencari tahu apa mempertanyakan lebih dalam dan apa kandungan di balik dalil tersebut.
Pemahaman ini mulai berkikis, setelah beberapa kali mendengarkan ceramah online UKB, yang pertama pemahamana siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya. Karena UKB lebih kepada pemahaman tekstual apa yang tertulis dalam kitab dan dalil dengan kajian yang lebih mendalam bahkan ada kecenderungan lebih rasional sehingga kita tidak punya alasan untuk menolak dalil karena adanya faedah dari dalil tersebut. seperti makna yang terkandung dalam syahadat, bahwa kita menolah Illah-illah (tuhan-tuhan) yang lain kecuali Allah subhannah wata'alah. kekuasaan Allah, tidak akan pernah berkurang sekalipun kita tidak menyembah Nya. karena sebenarnya yang membutuhkan Allah itu adalah manusia dengan segala keterbatasannya dan manusia memiliki misi sebagai khalifah di muka bumi sehingga membutuhkan bimbingan dan tuntutan dari yang diperintahkan Allah subhannah wata'alah. Jika UAH, lebih banyak mengkaji secara makna kata perkata, bahwa ada makna yang terkandung dalam penyebutan manusia (nas) dalam alqu'an sehingga membutuhkan pedoman dan tuntutan dalam menjalankan misi kemanusiaan di muka bumi ini.
kembali ke judul tulisan ini, lebih banyak di bahas oleh UKB, bahwa tidak ada yang salah dengan kita beribadah dengan ikhlas dan mengharapkan ridho dan pahala dari Allah subhannah wata'alah, karena Allah lah yang memerintahkan semua apa yang harus dijalankan dan apa yang harus dihindari, dan bonus dari ap yang dilakukan itu adalah pahala. bahkan lanjut UKB bahwa kita harus yakin jika ibadah yang kita lakukan memenuhi syarat maka kita harus yakin dengan pahala yang kita dapatkan. Bahkna jika seseorang beribadah saja tanpa mengharapkan pahala maka sebenarnya dia telah menghapus pahala dari ibadah itu, jika pemahaman itu karena kurangnya berilmu maka segeralah bertaubat karena sikap tersebut sangat pekah dan bisa masuk dalam pembatalan keislaman seseorang jika dia yakin bahwa ibadah yang dijalankan itu tidak ada pahalanya. Pahala yang kita dapatkan adalah balasan dari ibadah yang kita lakukan dan itu merupakan janji Allah subhannah wata'alah. Logikanya, ketika kita sekolah kemudian kita ujian dan mendapatkan nilai dan nilai itu menunjukkan kualitas kita. Allah subhannah wata'alah yang menjajikan pahala dan itu dijalankan oleh baginda Nabiullah Muhammad shalaullahu alaih wassalam, sebagai panutan kita. misalnya semacam berpuasa 6 hari di bulan syawal, pahalanya seperti berpuasa setahun, itu janji Allah subhannah wata'alah dan kita harus yakin itu. jadi tidak ada yang salah jika kita beribadah mengharapkan ridho dan pahala dari Allah subhannah wata'alah
Tarakan, 23/06/2020
Pukul : 7.45 malam, setelah azan isya
Tara