30 Januari 2020

Mempertanyakan keikhlasan(ku)

Sehari-hari dalam urusan habluminnannas atau hubungan antar manusia kita dituntut untuk melakukan dengan keikhlasan dengan sepenuh hati. Sudah seharusnya keikhlasan itu tertanam dan menjadi habit buat kita, kita tidak perlu mengharapkan  timbal balik dari apa yang telah kita lakukan, kita hanya mengharap ridho Allah SWT.  Membahas tentang konsep "ikhlas" ada beberapa ulasan singkat dalam tulisan ini, secara etimologi : ikhlas berarti : setulus hati. menurut alqur'an : niat perbuatan amal saleh tanpa pamrih manusia, melainkan hanya mengharapkan ridho Allah SWT.  Menurut Buya Hamka, iklas merupakan bersih tanpa campur tangan siapapun. Menurut Ust. Adi Hidayat dengan membuka dengan kalimat "kadang-kadang mengatakan ikhlas namun sebenarnya kita tidak ikhlas, karen masih suka mengeluhkan. Secara akar kata, ikhlas berasal dari kata kholasho. (kholash : sesuatu yang bening tidak bercampur apapun, misalnya orang bekerja dan sudah selesai, maka disebut kholash) , bendanya namanya kholish (benda yang tidak bercampur dengan apapun, bersih, murni), usahanya disebut akhlosa (menghilangkan sesuatu yang bening dari sesuatu yang mengotori, misalnya air bersih yang ada pasirnya). sifatnya menjadi ikhlash yang memiliki arti sebagai usaha untuk menghilangkan segala campuran atau hal-hal kotor yang tidak terkait dengan essensi atau aktifitas yang sedang dijalani. dalam kata lain adalah usaha untuk menghilangkan gangguan-gangguan/ kotoran-kotoran. orang yang berusaha untuk ikhlas disebut mukhlis (laki-laki). Usaha untuk menepihkan yang tidak penting juga bagian dari ikhlas. Bila makna ikhlas diangkat dalam syariat maka ikhlas diartikan puncak keimanan dan sifat tawakal dalam menerima dan menjalankan seluruh ketetapan Allah SWT. ukuran ikhlas tidak hanya menerima tapi menjalankan ketetapan Allah SWT.  Jadi belum dikatakan ikhlas jika hanya secara verbal mengucapkan ikhlas tapi masih suka mengobrolkannya (misalnya melalui sosial media, story). Berdasrkan uraian UAH ini akhirnya menjawab  kata kunci ikhlas yang selama ini saya cari... (ini tulisan saat jam  8.16 pagi, karena ada kesibukan sore harinya baru bisa menyelesaikan)

Dalam sehari-haripun tantangan agar kita benar-benar ikhlas sering kali muncul. misalnya dalam pekerjaan, sejak balik dari pendidikan saya diamankan untuk membantu di bagian penjaminan mutu berhubungan dengan pekerjaan sebenarnya tidak ada masalah, yang mengusik saya hingga saat ini adalah slip gaji saya belum berubah sejak saya melanjutkan pendidikan, artinya sampai hari ini dan sejak September 2016 belum berubah sama sekali. Sempat terlintas dalam diri, apa bedanya saya ditugaskan untuk melanjutkan pendidikan yang tugas saya untuk menyelesaikan pendidikan dan tidak bersentuhan dengan tugas kantor sudah mendapatkan imbalan gaji sebesar itu dan ketika saat ini saya kembali aktif (3 semester) belum berubah sama sekali. Semoga ini bukan berarti mempetanyakan keikhlasan saya namun lebih kepada meminta hak saya yang harus didapatkan, walaupun penjelesannya bahwa kondisi keuangan kantor sedang tidak stabil.saya bisa memahami itu semoga tidak mempengaruhi "girah" saya untuk bekerja. Apalagi kondisi perekonomian keluarga belum stabil, pendapatan hari ini habis untuk bulan ini, bahkan harus memutar cara agar masih bisa menabung agar rekening masih bisa terisi terlebih lagi masih ada autodebit yang rutin dan harus dilunasi. Walaupun kondisinya demikian  saya masih berprinsip dan yakin InsyaAllah rejeki sudah ada yang diatur oleh sang pemilik alam semesta, tidak ada yang bisa menghalanginya namun bukan alasan untuk kita tidak berusaha karena apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita tunaikan.  Masih ada cara lain untuk mendapatkan pendapatan di luar pendapatan rutin dari pekerjaan. Walaupun beberapa kran rejeki saat ini tidak seperti kondisi yang dulu, bukan berarti menyurutkan semangat untuk bekarya dan berinovasi masih banyak yang bisa dikerjakan masih banyak cara yang bisa dilakukan, sedikiti semi sedikit yang penting bisa menutupi dan yang utama adalah berkah.

Kondisi kedua adalah kondisi di rumah, ikhlas menerima kondisi yang ada, mungkin karakter saya masih berbeda jauh dan bahkan ada kecenderungan bertolak belakang. walaupun ada ungkapan bahwa jodoh adalah cerminan diri kita, saya masih berusaha untuk memahami ungkapan ini, mungkin bisa jadi saat ini belum menemukan kebenaran ungkapan tersebut, namun dengan menerima segala kondisi, memahami segala kelemahan dan kelebihan pasangan akan menjadi upaya kita untuk mempertahankan kualitas keikhlasan kita di rumah. misalnya kita sudah melakukan sebuah pekerjaan rutin namun belum mendapatkan respect yang positif bahkan ada kecenderungan tidak dipedulikan dan tidak menjadi bahan pertimbangan untuk bertindak, lagi-lagi kadar keikhlasan kita dipertanyakan apakah kondisi ini atau lebih tepatnya takdir yang sedang kita jalani saat ini benar-benar kita ikhlas menerimanya. Kata kunci ikhlas "mengharapkan ridho Allah SWT" sehingga ini menjadi pegangan kuat bahwa kita tidak boleh mengharap pada manusia, sekalipun itu pasangan hidup kita (mengingat ada kelebihan dan kelemahan manusia), karena namanya manusia pasti ada sisi menunjukkan tidak sesuai harapan kita, kita kita sudah (merasa) melakukan banyak hal tapi tidak disikapi atau direspon dengan ungkapan apa yang bisa dilakukan untuk mengimbangi bahkan cenderung menikmati keadaan yang sudah ada tanpa ada rasa "berdosa" atau "peka" dengan kondisi yang sudah ada bahkan cenderung menampakkan hal-hal yang malah bisa memancing emosi. Hanya kepada Allah SWT tempat bersandar dan mengharap, semoga apa yang kita lakukan semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Iklas berarti menjauhkan hal-hal yang dapat mengotori atau merusak apa yang sudah kita lakukan. ikhlas berarti ketika kita melakukan sesuatu karena mengharapkan imbal balik manusia maka yang ada kita akan selalu kecewa. Kedepanya saya akan berusaha ketika melakukan sesuatu tidak mengharap hal yang lain, benar-benar ini untuk kebaikan diri kita tanpa harus menunggu orang lain  untuk mengarti apa yang sudah kita lakukan. Semoga Allah SWT memberikan cahayanya agar keikhlasan ini tetap terpancarkan. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Tarakan, 30 Januari 2020
Pukul : 4.54sore

29 Januari 2020

Masa Lalu dan Karakter Saat Ini

Ada sebuah ungkapan bahwa masa saat kita saat ini tidak terlepas dari masa lalu kita. Gambaran kita hari ini tidak terlepas apa yang sudah kita lalui di masa lalu. Karakterik kita dibentuk dari pengalaman masa lalu, manis, pahit kehidupan yang sudah kita jalani tanpa kita sadari menjadi memori yang tersimpan rapi dalam otak bahkan menjadi warning bagi kita. Terkadang masa lalu yang menyakitkan menjadikan kita trauma dengan situasi yang tertentu hingga terbawa-bawa hingga saat ini. Sebelumnya saya menuliskan perjalanan saya saat remaja, dan tidak sedikit membentuk karakter saat ini, misalnya ketika itu kami sudah diajarkan untuk mengurusi diri sendiri, menyiapkan segala keperluan sekolah, mencucui bacu sendiri, mencuci piring, menanak nasi bahkan sampai bersih-bersih rumah begitu kuat tertanam dalam diri sehingga ini menjadikan bekal ketika merantau di makassar dan di kalimantan.

Saat dulu, juga sudah mulai mengenal namanya cinta monyet dan cinta remaja, bahkan sempat kaget ketika mendapatkan sepucut surat spesial dari tetangga ha ha ha bikin syock, menjalani jalinan khusus dengan orang yang disuka hingga berakhir juga di tengah jalan, sudah berupaya keras tapi tidak bisa dipertahankan hehehe namanya masih remaja dan saat itu saya hanya ingat karena akan memasuki ujian akhir SMA/SPK takut terganggu dengan segala persiapannya sehingga berbicara dengan baik dan mengakhiri hubungan spesial itu. He he he, apa yang sebenarnya yang menjadi pelajaran, bahwa saya memiliki karakter yang kuat, pendirian yang keras tapi bukan berarti tidak bisa fleksibel, suka menjaga persahabatan dengan teman-teman bahkan mengutamakan persahabatan itu, mulai belajar bersama, punya gang bersama hingga saya dikenal dengan orang yang idealis dan kaku sama teman-teman. karakter yang terbentuk hingga saat ini, agak idealis memandang sesuatu, sedikit kaku, menjaga pertemanan (tetap terjalin) dan memegang prinsip. Satu lagi pergaulan yang saya jalani ketika bergaul dengan tetangga-tetangga (kami 4 berteman sejak kecil :) maklumlah tetangga, suka pergi ke mesjid bareng bahkan sampai harus mengikuti shalat tengah malam saat bulan puasa, persahabatan dengan tetangga ini begitu terasa ketika bulan ramadhan tiba. karakter yang membentuk dan terasa hingga sekarang adalah "mesjid" maksudnya sebisanya mungkin kalau shalat fardu di mesjid dimanapun berada.

Saat kuliah belum banyak yang berubah, saya memiliki teman yang cukup dekat, teman berbagi dan saling menyemangati, bahkan sampai sekarang masih terjalani, namun satu hal yang begitu tersimpan dan menjadi pelajaran adalah ketika diorganisasi ekstra kampus mendapatkan konflik besar di kalangan mahasiswa unhas dengan mahasiswa yang lainnya. Konflik disini bukan perkelahian, lebih kepada pertarungan gagasan dan ide serta keputusan yang diambil, Nah ini begitu besar dampaknya hingga beberapa tahun, untungnya saat ini sudah ada lagi efeknya, masing-masing punya kesibukan dan sudah saling memahami. komunikasi masih terjalan melalui media sosial walau tidak seintens dulu. sebisa mungkin ketika bertemu atau ngobrol sebisa mungkin tidak mengungkit masalah-masalah ini. Karakter yang terbentuk saat itu yang cukup memberikan kesan hingga sekarang adalah saya bukan tipekan orang yang mudah mengikuti arus hanya karena kesamaan latar belakang. disini saya merasakan betul-betul kemerdekaan dalam berpikir, dilatih sifat kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, berpikir kritis dan hidup sederhana. Kenapa hidup sederhana? karena selama bergabung diorganisasi tersebut diajarkan kebersamaan, kesederhanaan dalam hidup dan sikap pantang menyerah.

Alhamdulillah, masa dulu masih dijalani dengan baik walau tidak sepenuhnya berjalan lancar, masih ada saja masalah, konflik dengan teman, dengan saudara, mengkahwatirkan kondisi orang tua, bahkan  mungkin kita salah dalam bergaul pasti ada. Untungnya tidak sampaik memberikan dampak negatif yang begitu besar. Perjalanan masa lalu itu mengajarkan bagaimana harus bersikap dan bertindak, apa yang harus kita lakukan, bertemu  dengan banyak karakter bertemu dengan berbagi ragam asal daerah, mencoba memahami satu dengan yang lain. Selisi pandangan itu biasa aja, bahkan ada sampai tonjok-tonjokan banting kursi, pukul meja itu biasa namun tidak sampai melakukan kekerasan fisik. Pengalaman masa lalu itu menjadi memory yang indah untuk dikenang, menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik lagi, berproses kearah lebih baik lagi dan menjadi pelajaran dalam bersikp bila ada hal-hal yang tidak sesuai atau bahkan kurang bagus untuk kita jalani saat ini. Masa lalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saat ini, tidak perlu disesali, hanya perlu dikenang dan menjadi alarm saat ini untuk bersikap lebih baik lagi

Tarakan. 29 Januari 2020
Pukul : 8.00pagi

28 Januari 2020

non aktifkan notifikasi

Bermain chat di w.a itu menjadi kesenangan tersendiri, tanpa melihat waktu, asal ada chat langsung disambar. Saya memiliki dua nomor w.a, yang satu hanya fokuskan keluarga dan kerjaan dan satunya ditujukan beberapa sahabat dan teman-teman alumni smp. Untuk w.a pertama hampir terdapat 700-800 kontak bahkan lebih, sementara w.a yang tidak lebih dari 100 kontak.  Kalau nomor yang pertama cenderung obrolan di chat formal, dan ada batasan dalam mengaktifkan. karena ini merupakan nomor go public jadi diperuntukkan untuk kepentingan umum, tidak ada batasan namun saya sengaja untuk tidak membuka w.a di atas jam 10 malam. kalo masuk chat kalo memang tidak penting-penting amat  ketika melihat di notifikasi layar hp, bisanya saya gubrisnya esokan harinya, karena last seen atau terakhir terlihatnya aktif maka saya sengaja mengatur batas mengaktifkan w.a sekalian menjadi pemberitahuan kepada yang melihat atau sering memantau apalagi mahasiswa bahwa w.a ini biasanya terakhir aktif di jam 10 malam. Obrolan di group juga lewat, kalo itu bukan obrolan yang penting-penting amat dan tidak berkaitan langsung dengan tugas dan pekerjaan saya maka saya akan abaikan. Kontak yang tersimpan disini mulai nomor keluarga, teman satu kerja, teman kuliah S1,S2,SPK (minus SMP karena ada nomor yang berbeda), dosen saat S1, S2, guru SPK, keluarga di kampung halaman, keluarga istri, kenalan yang berkaitan dengan kerjaan, alumni kampus unhas, teman saat kecil, kolega dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan nomor yang satunya? seolah-olah kontras dan berbeda jauh dengan nomor sebelumnya, nomor yang satunya lagi benar-benar tanpa batas, bahkan obrolan di chat menjadi "pelarian" dari keformalan, komunikasi yang cenderung kaku dan terstruktur, justru disini saya bisa mengekspresikan diri, sarana "memberontak" hehe, membuat story bebas tanpa beban karena hampir semua nomor kontak yang tersimpan orang yang tidak berkaitan dengan pekerjaan saya, bahkan lebih ke teman ngobrol santai. Dinomor ini saya memiliki dua sahabat yang sudah begitu dekat dan sering ngobrol. dua sahabat itu berbeda karakter, satunya apapun dan sesibuk apapun pasti akan membalas chat, dan biasanya suka memberikan feedback,, namun yang satunya lebih cuek, semaunya untuk membalas, kalau sempat aja hehehe kadang bikin penasaran sesibuk apapun dia hingga saya sulit untuk membalas w.a. Saking penasarannya saya mencoba menggunakan nomor yang pertama untuk memantau keaktifan mereka dengan memantau lastseen, hasil survey membuktikan seperti dugaan saya, sesuai dengan penjelasan di atas, itulah namanya pertemanan ketik kita tidak mengharapkan balasan chat, malah di balas tapi lebih banyak sebaliknya ketika diharapkan malah ga balas dan yang paling bikin kaget bila sudah obrolannya yang aneh-aneh kadang sulit untuk dihindari namun menjadi mengalaman mending tidak memulai obrolan :) ini khusus teman yang kedua

Obrolan lain di nomor yang kedua ini, adalah persahabatan dengan teman-teman SMP, ada salah satu groupnya adalah perantau kece yang mengumpulkan teman-teman asal buton/bau-bau yang sedang merantau di negeri orang awalau hanya terbatas teman smp anggota tapi ini group tidak kalah heboh dengan group yang lain, apalagi salah satu anggotanya sering keluar masuk group hehehe, obrolan sesama perantau bagaimana berbagi cerita dan pengalaman menjalani hidup di tanah rantau dan kadang-kadang bila memungkin bertemu di daerah jakarta kalo lagi ada keperluan / tugas di jakarta. Dulu, alasan saya mengaktifkan nomor kedua ini juga untuk menghindari obrolan yang sangat banyak di group SMP, awal-awalnya group terbentuk sampai 1000 obrolan perhari, bahkan lebih, apalagi saat itu masih menggunakan hp samsung mega seri pertama dan sudah uzur, suka hang, jadi biar tidak terganggu dengan obrolan lain yang lebih penting dan sangat berkaitan dengan kerjaan saya.  Makin kesininya obrolan di group smp tersebut menjadi sepi, seperti siklus obrolan di semua group di awal-awal, ramai, sepi, mulai tidak ada obrolan, tiba-tiba rame lagi dan kembali sepi. Namun akhir-akhir ini keaktifan di nomor kedua ini mulai memasuki tahap jenuh, notofkasi yang selalu saya nantikan dan menjadi kesenangan kesendiri mulai kehilangan "girah'nya, tiba-tiba merasa kenapa saya terlalu aktif seperti ini, walau kadang menjadi media untuk melarikan diri dari rutinitas dan kekakuan serta media untuk mengeksresikan diri dalam story-story, menampilkan sisi saya yang lain dan tersembunyi dan mungkin hanya sebagian orang yang tahu dan hampir tidak ada teman sekitar yang berkaitan dengan keluarga dan teman kerja yang tahu, apakah saya memunculkan sisi saya yang berbeda? apakah saya tidak puas dengan kondisi yang ada hingga membutuhkan media untuk mengekspresikan diri? 

Perlahanpun saya mulai berpikir untuk menonaktifkan nomor w.a yang kedua ini, jujur saya begitu sibuk dengan obrolan di w.a, banyak obrolan yang sebenarnya tidak berfaedah, bahkan ketika melihat story teman-temanpun kadang-kadang menjadi ilfil walau hanya sebagian kecil saja. Bukannya saya mulai bosan dengan obrolan, yang terkadang obrolan dimulai ketika hanya karena mengkomentari story tidak ada yang harus disesali bahkan harus ditangisi hehehe, apa yang sudah saya lakukan adalah atas inisiatif saya untuk menyapa dan membuka obrolan apalagi sama teman-teman yang sudah lama tidak menyapa walaupun itu hanya sekedar mengucapkan salam dan selamat beraktifitas. Pada akhirnya melalui media chatting ini semakin memperjelas mana teman yang memang suka ngobrol mana teman yang tidak suka sering-sering disapa dan mana teman yang tidak memberikan respon sama sekali kecuali sangat penting dan memang infonya sangat dibutuhkan, itu saja, saya menikmati semau obrolan itu. Namanya manusia, ada siklus yang berputar, awalnya semangat dan perlahan-lahan menjadi bosan jenuh, hingga pada sepertiga malam tadi, saya mencoba untuk berniat mengonaktifkan w.a untuk yang kedua kalinya, yang pertama saat bulan ramadhan tahun lalu, lumayan sampai 3 bulan hehehe.

Alasan tidak mengaktifkan w.a untuk kedua kalinya ini (nomor yang kedua) tidak lain adalah saya mau mencoba untuk kembali menikmati me_time.lebih mau mengenali diri lebih dalam lagi, apa sebenarnya yang saya cari? saya mau belajar untuk tidak terjebak dengan notifikasi dan story dari teman-teman dekat, atau saya tidak ingin membuat story hanya ingin mengetahui apakah sabahat kita ini memantau ada tidak, menjadikan list siapa saja teman begitu rajin menjadi viewer kita hehehe demi apa? kepuasan semu? kepuasan bersosmed memang terukur jika kita banyak mendapatkan like, komen bahkan viewer walau tidak bisa dipungkiri story dari teman-teman ada juga menjadi doa, inspirasi buat kita tapi bukan itu yang menjadikan kita sampai kecanduan bersosmed dengan kesenangan semu. Apalagi ada alasan kalau selama masa nonaktif ini mau melihat siapa saja teman  yang nanti menanyakan atau mengklarifikasi kebenaran w.a tidak aktif!! ha ha ha ini alasan yang sangat halu (kata anak-anak sekarang). memangnya saya siapa? ha ha palingan teman kalau lihat chat ceklist 1bisa berkesimpulan;  lagi hp rusak, hp lagi ada masalah, mungkin lagi sibuk atau kehabisan paket yang berkepanjangan.hehehe. Pertanyaannya kemudian, sampai kapan saya bertahan tidak mengaktifkan w.a ini ? tidak kangen kah dengan teman-teman di kontak w.a yang begitu setia dan menjadi teman yang baik dalam obrolan? saya rasa tidak, saya menonaktifkan bukan berarti tidak berniat untuk kembali mengaktifkan kembali, semua ada waktunya, dan waktu akan menjawabnya, paling tidak saya mau meyakinkan dalam diri bahwa saya bisa bebas dari "candu" menunggi notifikasi. itu saja :) semangaaat

Tarakan, 28/1/2020
Pukul : 08.42pagi

27 Januari 2020

Meramaikan puasa senin kamis

Puasa senin kamis, alhamdulillah sudah saya lakukan kurang lebih 2 bulan terakhir ini, itupun sampai dengan 2 minggu pekan pertama kalander hijriah, awalnya puasanya sembunyi-sembunyi lebih tidak mau merepotkan istri, makanannya masih ada yang semalam cukup panasin atau nambahin sedikit menu itu sudah cukup untuk sahur. Berawal belajar berpuasa yawmul bidh atau puasa di pertengahan bulan. Diawal-awal hanya bermodalkan pengetahuan seadanya saya niat berpuasa senin atau kamis yang kebetulan berdekatan dan bersamaan dengan pertengahan bulan, hampir sudah dua kali saya jalani, begitu ketemu dengan senior yang paham agama dan pas beliau menanyakan apa lagi puasa atau tidak saya jawab puasa sekalian senin kamis dan yaumul bidh, dibulan lalu beliau sempat menyampaikan tentang puasa pertengahan bulan namun tidak persis menyampaikan tanggal berapa saja, saat itu spontan saja dengan logika saya tanpa dasar dan tuntunan saya berkesimpulan puasanya pertengah pasti di tanggal 14,15,16 begitu beliau menyatakan tanggal untuk yaumul itu ditanggal 13,14,15 waa. sontak saya kaget, jadi yang saya lakukan selama ini salah? hehehe beliau bilang ga masalah kan belum tahu, toh niatnya sudah dicatat :) alhamdulillah namun ini jadi pelajaran untuk depannya

Belakangan di rumah anak-anak mulai ikut belajar puasa, sebelumnya istri juga ikut, karena keseringan melihat saya berpuasa, karena dari awal memang niat saya hanya berpuasa di 2 minggu pertama, eee malah istri keterusan di minggu-minggu berikutnya ;) saya masih konsisten dengan niat awal. Zilan, anak pertama, dihari ahad sudah menyampaikan akan berpuasa, padahal itu minggu keempat di bulan hijriah, karena melihat semangatnya sayapun berniat untuk berpuasa agar semangat zilan tetap berkobar ;) saking berkobarnya bangun untuk sahur jam 3 dini hari, hehehe kalah-kalah dengan saya, begitu selesai sahur dan shalat subuh, ingin bertahan untuk tidak tidur saya anjurkan untuk tidur, karena semangat sudah duluan mandi untuk ke sekolah padahal masih jam 5.30, dan tidak lama karena efek mengantuk akhirnya tertidur juga dengan mengenakan seragam sekolah. Hari ini Rafa, anak kedua, sejak 2 hari sebelumnya sudah mengatakan dan berniat akan berpuasa, sampai dengan berbagai alasan agar dia berpuasa salah satunya makan banyak di hari ahad sampai-sampai ke kondangan pun itu lakukan, hehehe buah dan cake dilahap habis dan beberapa kali nambah, hehehe namanya juga anak-anak, hari ini ketika menjempat jam 10.15 saya menanyakan bagaimana dengan puasanya dia menyahut, batal sampai pulang sekolah, Ok, bagi saya itu sudah cukup mau belajar berpuasa. Zilan sampe dengan menjemput tadi jam 13.15 masih bertahan, namun sudah ada bekal jika nanti dia merasakan pusing dan ingin buka (jadi penasaran jam berapa bukanya hari ini :)

Karena puasa senin kamis menjadi niat untuk membiasakan diri dengan kondisi ramadhan, termasuk membiasakan diri untuk tidak tidur pagi setelah sahur dan shalar subuh. Dulu memang menjadi pembenar jika mau bekerja dengan segar dan seperti biasanya maka harus tidur pagi, alih-alih tidur pagi malah banyak pekerjaan yang tertunda dan menjadikan repot sendiri. Puasa yang seharusnya memberikan hal positif segala aktifitas kita malah yang terjadi sebaliknya. ALhamdulillah sejak memulai puasa senin kamis ini juga saya belajar untuk tidak tidur pagi dan sudah berjalan hampir sebulan lebih. Alibi yang membenarkan bahwa selama ini tidur pagi bagus semakin tertepis karena banyak hal yang bisa dikerjakan untuk menghindari tidur pagi, selain untuk mempersiapkan diri untuk keperluan pekerjaan juga semakin banyak waktu yang digunakan untuk tadarrus ataupun mendengarkan ceramah via sosmed. Walau belum ada penyambutan yang spesial untuk buka puasa, namun bukan berarti harus mengurangi semangat untuk berpuasa dan berbuka puasa, syukuri apa yang ada, manfaatkan apa yang ada, nikmati apa yang ada untuk berbuda semoga menjadi berkah dan amalan puasa diterima di sisi Allah SWT.. aamiin

Puasa senin kamis memang menjadi salah satu sunnah nabi Muhammad SAW, sangat bermanfaat untuk kesehatan, bahkan saat ini di Amerika sedang tren diet intermitten, semacam puasa nabi Daud, adapula diet yang menganjurkan dalam sebulan kita upayakan untuk menahan konsumsi karbo selama sehari penuh tapi boleh minum, nah kalau dilihat-lihat itu tidak jauh beda dengan puasa senin kamis. Walau ramadhan masih kurang lebih 90 hari lari, namun semarak untuk meramaikan begitu terasa di rumah, niatnya latihan, biar saat puasa ramadhan tiba, fisik sudah siap untuk menjalankannya. Puasa ramadhan kali ini sudah menjadi ramadhan yang kesekian kalinya, namun yang membedakanyya kondisi dan situasinya, bisa jadi dulu kita begitu kuat dan enteng saja menjalaninya namun sekarang dengan segala rutinitas dan kondisi keluarga pasti memiliki tantangan tersendiri. ALhamdulillah hal positif ini memberikan virus positif juga di keluarga kami, sehingga insyaAllah dengan semoga diberi kesehatan dan kesempatan untuk bisa lagi menjadi ramadhan dengan amal-amalan yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.. semoga saja... Aammiin. Ya Rabbal alamin

Tarakan, 27 Januari 2020
Pukul : 04.36sore

Jangan Merasa yang Terbaik

Dalam perenungan beberapa belakangan ini, muncul sesuatu yang mungkin  selama ini tanpa disadari mampir dihati "saya lebih tahu, orang lain hanya tahu sekedarnya" "saya pasti lebih paham dan bisa mengerjakannya" semoga jangan sampai terlintas dibenak "saya yang lebih soleh, saya yang lebih sering ngaji, saya yang lebih paham agama..". semoga ini hanya dogaan dan bujuk rayu setan tatkala kita mulai belajar dewasa menghadapi masalah, ketika keikhlasan mulai dipertaruhkan walaupun pada saat yang sama kita diharapkan dengan orang-orang yang tidak sepaham dengan pemikiran kita bahkan meragukan kemampuan yang kita miliki,  kondisi-kondisi seperti itulah yang menjadikan energi "sombong" dengan mudahnya keluar, "Anda tahu apa?, kamu bisa apa? apa yang Anda bisa lakukan??  kadang-kadang ketika melihat sebuah realitas, ketika melihat sebuah kesempatan dan rejeki bukan berpihak kepada kita, padahal dalam diri juga menginginkan itu, maka bibit berpikiran negatif juga mulai muncul, "kenapa harus dia? kenapa bukan saya saja? Untungnya semua ini masih bisa terkendali dan hanya sebatas dalam pikiran, semoga tidak sampai turun ke hati, karena apabila sampai mendekap dalam hati, maka yang dia menjadi menyakit dan dapat menggrogoti hati, mempengaruhi alam pikiran sehingga berdampak pada sikap yang kita tampakkan baik secara langsung maupun secara tersembunyi.

Setelah mendengarkan penjelasan dari ust Khaliq Basalamah dan juga ga lama juga ada dari ust Reza Basalamah, yang membahas tentang sifat yang dibenci Allah SWT. Sebagai godaan manusia, sifat-sifat itu bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan hingga seorang ulama besar, sehingga kita anjurkan untuk bermuhasabah diri, apakah kita sudah terjangkit dengan sifat-sifat seperti itu atau jangan sampai kita tidak sadar bahwa kita selama ini sudah memiliki sifat-sifat itu hanya karena lagika yang kita jadikan alasan semakin membenarkan sifat kita itu dan kita lupa bahwa sifat itu merupakan sifat yang paling di benci Allah SW. Asal muasal sifat sombong ini ditunjukkan oleh Iblis yang tidak mau tunjuk dengan perintah Allah ketika dimita bersujud kepada Nabi Adam karena merasa paling soleh dan paling baik. Menurut riwayat Iblis sudah ribuan tahun beridah kepada Allah SWT, namun tidak menerima bila Nabi Adam, derajatnya lebih mulia di Sisi Allah SWT, akibat keputusan itu, iblis harus menerima konsekuensi di keluarkan dari surga, namun tidak sampai disitu, Allah SWT memenuhi keinginan iblis sebelum keluar dari surga untuk menyesatkan keturunan Adam. Hendaklah kita menghindari sikap sombong, merasa paling benar merasa paling berjasa merasa paling soleh, karena kita semua hanya ciptaan Allah SWT, tidak sepatutnya kita mengagung-agungkan diri dan melupakan bahwa ada yang Maha Kuasa, Maha Segala-galanya, Memiliki semua yang ada di langit, di bumi dan di alam semesta, masih patut kah kita merasa paling baik? merasa paling benar? merasa paling berjasa? kita bukan siapa-siapa, kita hanya makhluk yang dhoif, lemah dan tidak berdaya tanpa rahman rahimnya Allah SWT semoga kita kita dihindarkan dari sifat-sifat sombong dan penyakit hati lainnya, semoga kita menjadi makhluk yang dengan sadar bahwa ada tanpa Allah SWT kita bukan siapa-siapa.. Wallahu'ala bi sawhab..

Tarakan, 27 Januari 2020
Pukul : 8.24Pagi

25 Januari 2020

12 tahun berlalu

Entah persisnya tanggal berapa saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Tarakan, kalo bukan tanggal 19 atau 25 januari 2008,  seingat saya itu hari sabtu dan sekitar jam 4 sore,  tiba di Tarakan :) Tapi kayaknya saya memiliki catatan perjalanan itu di buku catatan harian hehehe, dulu masih sangat rajin mengisi selama masa mahasiswa :) Ketika tiba saya dijemput oleh dua orang yang begitu dekat selama di tarakan, pak aris dan kak ruli,  namun nama yang kedua tersebut menjadi almarhum sejak 2014 silam. Menyenangkan sekali bisa tiba di Tarakan , di satu sisi saya bertemu dengan 3 teman semasa kuliah, satu senior dan 1 lagi ners B tahun 2002 (saya angkatan 2001),  ada juga alumni ners B yang bekerja di RSUD tarakan, di kampus lain tepatnya di keperawatan UBT juga banyak juga satu almamater dan salah satunya adalah teman seangkatan yang sekarang sudah menjadi dosen di Papua. inilah yang membuat betah berada di Kota Tarakan, awalnya sebenarnya tidak adaq niat untuk menetap seperti sekarang, cuman mengalir saja, mengikuti kemana arah air :) beberapa kali juga mengikuti test CPNS di Kota Makassar namun lagi-lagi belum rejeki padahal kalo di banding-bandingkan peluang justru lebih besar di RSUD Tarakan. saat itu belum tertarik untuk menjadi perawat di RSUD Tarakan.

Begitu banyak cerita yang menjadi warna dalam perjalanan 12 tahun ini, sekalian menjawab banyak pertanyaan orang-orang kenapa bertahan di Tarakan? begitu banyak alasan, begitu banyak pertimbangan hingga akhirnya pertanyaan itu hingga sekarang mencuat. pertama, ada tantangan tersendiri mengajar di kampus swasta dengan kondisi mahasiswa yang pastinya secara input berbeda dengan yang negeri, tantangannya apakah kita sebagai dosen bisa memanfaatkan potensi anak-anak tersebut yang mungkin secara kapasitas "otak" berbeda dengan yang negeri dan beberapa yang sudah-sudah potensi itu terbukti ketika berada di lapangan mahasiswa kami bisa bersaing dan mendapatkan apresiasi. Kedua, sebenarnya untuk menjadi PNS begitu besar di Tarakan baik di RSUD maupun di UBT, entah saya yang tidak ingin menjadi bagian dari"sakit hati" orang-orang yang selama ini sudah banyak membantu, prinsip saya kalo mau jadi PNS sekalian saja di luar kota Tarakan sehingga tidak ada rasa tidak enak dengan orang-orang yayasan. ketiga, apa yang saya dapatkan saat ini sudah lebih dari cukup, alhamdulillah rumah saya milik sendiri walau masih seadanya, istri dan anak-anak sudah ada di tarakan semua, bahkan anak ketiga dan keempat sudah lahir di Tarakan, bukannya tidak mau keluar dari zona nyaman, tapi apa yang didapatkan semua lebih dari cukup, tidak ingin membanding-bandingkan dengan kondisi yang lalu dan kondisi yang sekarang, InsyaAllah semua orang sudah ada rejeki yang mengaturnya. keempat, apakah yang dinamakan pasion, saya tidak ingin terjebak bahwa ini adalah zona nyamannya saya, ketika ada ungkapan, ketika kamu nyaman bekerja dan melakukan apa yang kamu inginkan mungkin itu namanya pasion. tidak mesti menjadi orang lain untuk menjadi sukses, kita bisa menjadi lebih baik dan terus berusaha dan berkembang untuk lebih baik dengan cara kita sendiri, bukan berarti egois namun kita tahu apa sebenarnya kekuatan dan kelemahan diri kita sehingga itu yang menjadi pertimbangan ketika kita akan memutuskan dan melakukan sesuatu.

Perjalanan 12 tahun bukan waktu yang sebentar, ini cukup lama, dan pertanyaannya apa yang sudah saya perbuat selama 12 tahun itu? apakah saya sudah mewujudkan cita-cita saya? apakah saya sudah memberikan kontribusi yang positif dan membangun? bukan saya yang harus menjawab, orang-orang yng ada di sekitar kita yang mampu menjawab. Kedatangan sejak awal sudah mendapatkan respon positif, namun bukan berarti tanpa kendala, kendalanya begitu"deras" sehingga menjadi pelajaran ketika akan memutuskan dan mengambil sikap serta berperilaku, semua warna telah menghiasi perjalanan 12 tahun itu, lika liku, haru, sedih, luka, impian, semangat, jatuh, bangkit, senang, optimis, inovatif semua sudah dirasakan, sisa bagaimana bersikap untuk kedepannya bagaimana tetap komit dengan apa yang diyakini baik dari segi pandangan terhadap keyakinan, keluarga, pekerjaan, relasi dan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan ini. Saya berharap kedepannya lebih baik lagi, 12 tahun mundur, kubur hal-hal yang kurang berkenan, sakit hati, sikap ambisi, merasa benar sendiri, egois, sombong, merasa hebat, dan semua hal-hal yang berkaitan dengan penyakit hati.  Hal yang harus dipertahankan, sikap optimis, berpikir positif, melihat sesuatu secara lebih positif, tidak gegabah mengambil keputusan, tidak cepat mengambil kesimpulan, jangan membanding-bandingkan dengan orang lain, apa yang bisa dikerjakan dengan baik kerjaka, perdalam kembali ilmu agama, berteman dengan orang-orang yang rajin shalat dan ngaji dan belajar lagi tentang hikmah kehidupan, Itulah kisahku, masih banyak yang sebenarnya mau diungkapkan namun tidak cukup halaman untuk menceritan semua yang terjadi (padahal sudah tidak ada ide lagi untuk menulis :) hehehe semoga perjalanan kedepannya semakin mendekatkan diri saya kepada Allah SWT.

Tarakan, 25 Januari 2020
Pukul : 05.18sore

24 Januari 2020

Menjaga Amanah

Beberapa hari terakhir menjadi hari-hari yang begitu sibuk, sejak senin kemarin begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mulai merespon mahasiswa yang belum menyelesaikan askep di ruangan, mengajar SP dan yang paing banyak menyita perhatian dan waktu adalah menyiapkan segala keperluan audit mutu internal karena sudah sesuai dengan schedulle yang diberikan. memang boleh dikata semua keperluan audit ini mulai dari no sehingga metode, dokumen yang dibutuhkan harus mulai dikerjakan. Hanya bermodal "bismillah" saya mulai mengerjakannya dan menyiapkan segala keperluan. alhamdulillah setahap demi setahap berjalan sesuai dengan perencanaan hingga yang tidak dituga-duga ada alhamdulillah bisa diselesaikan hingga waktu yang ditentukan semua persiapan bisa berjalan dengan baik walaupun ada persiapan yang dikerjakan 1 jam menjelang audit mutu. Hingga hari H, ada kendala dimasalah teknis mungkin karena miskomunikasi masalah logistik tapi bisa ditangani, proses audit berjalan sesuai dengan yang diharapkan sisa menunggu penyusunan laporan akhir. Berjalannya audit mutu ini sesuai dengan perencanaan awal demikian juga dengan pembagian tugas. teman-teman auditor sudah memahami apa yang harus ditanyakan dan ditulis, kami sudah menekankan bahwan ini adalah upaya kita saling mengisi dan menguatkan untuk perbaikan kedepannya. dan dari yang direncanakan akan audit mutu internal berlangsung sekitar 4-5 jam, alhamdulillah tadi berlangsung kurang lebih 1.5 jam.

Ketika menyelesaikan tugas dari audit, tepatnya selasa, 21 januari saya mendaoat w.a dari rekan dipuskesmas yang meminta tolong untuk dikonsepkan proposal kegiatan daerah binaan salah satu puskesmas di Mamburungan, ketika memperhatikan sepintas isi contoh proposal saya mengiyakan sambil menanyakan deadlien, rupanya deadlinennya jum'at ini (tersisa 3 hari), ditengah kesibukan dan rutinitas kegiatan di kampus, saya baru menyentuh untuk memulai mengerjakan proposal persis di hari rabu, ketika melihat lebih jelih uraiannya, saya sempat "tersenyum" bukan karena mudah namun setiap komponen proposal telah ditentukan sekigtar 300 s.d 600 kata bahkan ada yang 700 kata. ini merupakan tantangan dan tidak mungkin saya mengatakan kepada rekan itu maaf saya mundir saya tidak sanggup padahal saya belum mencobanya. Untungnya data utama yang dibutuhkan sudag ada sama saya sisa diolah menjadi kata-kata. hari rabu baru saya mulai mengerjakan dan garu menyelesaikan sekitar 1000 kata, Kamis pagi lanjut lagi mengetik hingga dihubungi siang hari menjelang istrahat siang, saya mengatakan insyaAllah akans selesai sore ini akan tetapi masih ada yang perlu diisi karena berkaitan dengan data yang ada di puskesmas. tepat jam 5 sore lewat sedikit, semua ulasan yang harus masuk dalam proposal alhamdulillah beres. sisa mengedit kembali dan mengirimkan sama rekan. spontan aja teman takjub dengan proposal itu karena tidak kebayang kalo proposal itu bisa jadi ;) alhamdulillah kata saya, dan saya sampaikan saya sebenarnya hanya menyampaikan apa yang sudah rekan-rekan puskesmas lakukan selama ini. Untungnya setiap kegiatan di kampung manis yang menjadi inovasi puskesmas ini saya ikuti dan tahu bagaimana kegiatan tersebut sehingga ini yang memudahkan dalam menyusun proposal tersebut.

Hal positif dari kedua kegiatan diatas yang bisa dijadikan  motivasi adalah menjalankan amanah merupakan hal positif dalam pekerjaan dan relasi, ketika menjalankannya yang harus dipegang adalah jangan banyak mengeluh, perbaiki dan luruskan niat karena lillahita'alah, semoga apa yang dikerjakan mendapatkan keberkahan dan kemanfaatan bersama. sebenarnya dari awal tidak bermodal apa-apa, hanya bermodal bismillah dan semangat, insyaAllah saya akan coba dan akan mengerjakan sesuai dengan waktu yang diberikan. Bagi saya, ketika dikasih pekerjaan di awal berarti itu adalah amanah, orang disekitar kita percaya bahwa kita bisa mengerjakan itu, sekalipun tidak ada embel-embel ini itu, yang penting niat lillah ta'alah insyaAllah akan ada jalan untuk menyelesaikannya. Semua manfaatnya akan berpulang pada diri kita, kita lebih banyak tahu begitu pentingnya manajemen waktu dan manajemen diri, kita jadi paham bahwa apa yang menjadi kepercayaan orang lain itu menjadi hal yang sangat penting, kita  walau tidak sedikit yang juga harus dikorbankan mulai dari waktu termasuk dengan pekerjaan lain yang harus ditunda bahkan juga rasa capeh, namun semua itu terbayar ketika semua selesai dan kita sudah meyakinkan bahwa kita telah selesai mengerjakan amanah itu. semoga ini memberikan keberkahan buat diri saya dan buat orang-orang disekitar saya. aamiin

Tarakan, 24 Januari 2020
Pukul : 6.18 sore (18.18 wita :)

23 Januari 2020

Mengenang masa remaja :)

Subuh ini tiba-tiba terbayang kemasa lalu, masa-masa saat saya tumbuh dan berkembang di kota Baubau. Masa kanak-kanak yang tidak berbeda jauh dengan anak yang lain, namun yang membedakan hanya persoalan kebiasaan dan lingkungan. karena tumbuh dengan lingkungan yang homogen, hampir satu suku semua sehingga kebiasaan mirip antar keluarga dan teman, Ketika menjadi remaja, masa SMP, ketika orang tua mengalami musibah kebakaran kios, saya membatasi pergaulan, lebih banyak diam di rumah, bergaul hanya sebatas teman sekolah dan di teman selingkungan yang satu sekolah, memang hanya beberapa yang seusia saya, dan lebih banyak anak yang saat itu masih SD. Pergaulan saat remaja ini sangat jauh berbeda dengan pergaulan saat SD, ketika SD saya hampir tidak dibetah di rumah, lebih banyak bermain di rumah teman bahkan makan juga disana, hehehe saya kembali di rumah hanya pada saat makan, jika malam menjadi hal yang menyeramkan :) karena kedua orang tua selepas shalat isya melanjutkan pengajian bersama di dekat mesjid raya (kota Baubau), nyaris setiap malam harus menunggu sendiri di rumah, dengan jiwa saya rada penakut, kadang-kadang harus mencari akal agar tidak takut tapi lagi-lagi gagal, rasa takut menenggelamkan keingin untuk sendiri di rumah. Saat remaja karena sudah memiliki kamar sendiri (lantai dasar), sudah ada fasilitas radio sehingga membuat sata betah di rumah, kebiasaan ini berjalan hingga SPK (Sederajat SMA).

Hal yang menjadi renungan subuh tadi, saat remaja saya tumbuh sendiri dalam hal perkembangan mental, sebenarnya karena posisi saya sebagai anak terakhir pastilah mendapatkan perhatian lebih dari orang tua dan saudara yang lain. Karena kebiasaan dan rutinitas di keluarga, untuk saling mensupport dan mendukung tetap ada, hanya aja beda dengan keluarga-keluarga yang lain terutama yang berbeda suku dan pekerjaan orang tua, saya begitu berkunjung ke rumah teman, melihat kebiasaan memang berbeda, kebetulan saat SMP, teman sebangku saya sebagai sahabat yang begitu dekat, alhamdulillah banyak belajar dan melihat kebiasaan keluarganya berbeda, mungkin karena latar belakang keluarga TNI dan PNS (perawat), sementara keluarga saya dengan latar belakang seorang pedagang sehingga kebiasaan juga berbeda terlebih sahabat saya ini sukunya memang berbeda mengenal geng-geng juga saat SMP, teman suka mengajar keliling-keliling kota baubau dengan menggunakan motor (masih kelas 3 SMP:) dan saya baru ngeh namanya "gaul" hehehe, mengenal cinta monyet juga saat SMP, kami dijodoh-jodohkan dengan salah satu teman, hehehe hingga kami menjadi "kiku" dan tidak saling bersapa dengan teman dijodohkan, tapi hanya sahabat saya ini yang benar-benar mengejar cinta sejatinya, walau pada saat SMA sempat memendam hingga jaman kuliah akhirnya yang didambakan itu menjadi pasangannya hidupnya saat ini. :)  

Pertemanan ini masih berlanjut hingga SMA, walau sebenarnya kami berbeda sekolah tapi masih dalam wilayah yang sama (ga terlalu jauh) bahkan sering berpapasan di jalan. Kami masih suka saling mengunjungin apalagi ada kursus kimia yang mempertemukan kami sehingga komunikasi masih berjalan, masih jaman-jaman telepon rumah, kadang-kadang menelpon hanya untuk emnanyakan kabar dan satu hal saat lebaran biasanya kami kumpul. Saat kuliah, kami masih dalam 1 kota yang sama, tapi berbeda kampus. komunikasi memang tidak terlalu berjalan lancar karena kesibukan masing tapi tidak saling melupakan hingga saatnya semua sudah punya pekerjaan dan saat ini kami dipertemukan kembali dalam 1 group whataspp :) komunikasi tetap berjalan dan biasanya saling menanyakan kabar keluarga dan saling memberi support ketika ada masalah masing-masing. Alhamdulillah persahabatan itu tifak berakhir di masa-masa remaja namun masih berlanjut hingga saat ini

Itulah perjalanan saat remaja, begitu manis untuk dikenang, satu hal yang menjadi perhatian saya adalah, kondisi karakter saya saat ini, tidak terlepas seperti apa karakter saya saat remaja, agak pemalu, tidak mau merasa lebih hebat, tapi ada niat untuk menunjukkan prestasi juga menjadi bayangan karakter saat ini, intinya tidak ada yang salah dengan masa remaja, masa remaja telah memberikan perjalanan hidup yang sangat berarti untuk saat ini, kondisi keluarga, berteman dengan banyak orang, lingkungan sekitar rumah yang masih homogen, mendapatkan pertemanan dengan latar belakang yang berbeda sehingga membentuk karakter yang cukup berperan saat ini, . walau masa remaja telah berlalu, pelajaran yang didapat menjadi salah satu sudut pandang dalam melihat remaja saat ini, termasuk pengalaman dalam memberlakukan anak-anak, semua ada jamannya semua punya kebutuhan yang berbeda-beda dan semua punya cara untuk mewarnai dan memaknai perjalanan hidup masing-masing. Walau masa remaja yang saya lalui juga tidak terlepas juga hal negatif, pemahaman yang salah, kebiasaan yang salah, pandangan yang keliru, menjadi bahan renungan saat ini untuk diperbaiki karena berkaitan persepsi, tindakan, perilaku,  karakter dan watak saat ini, semua menjadi bahan renungan untuk melangkah dan menjadi pribadi yang terus berproses menjadi lebih baik lagi. Amin YRA

Tarakan, 23 Januari 2020
Pukul : 08.08Pagi

21 Januari 2020

Harus Memilih yang Lebih Prioritas

Ada kegiatan yang akan dilaksanakan diakhir februari oleh yayasan PT Ambulan 118 Jakarta tentang Training of Trainer(TOT), sebenarnya pelatihan ini sudah pernah ingin diikuti, namun dua kali  gagal, yang pertama karena salah komunikasi, salah mendapatkan informasi padahal posisi saya lagi di Bandung, awalnya saya menduga dilaksanakan di hari rabu, rupanya dilaksanakan di hari kamis :)  padahal bisa langsung ikut tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi tambahan karena kegiatan di bandung sudah berakhir di hari rabu. Gagal kedua karena belum menyiapkan diri untuk mengikuti, karena waktu yang kurang pas tapi ada sudah siap. Kedua kondisi tersebut, secara material masih mendukung, saya masih memiliki simpanan dana untuk mengikuti dan membiaya segala keperluannya.


Nah, posisi sekarang sangat berbeda jauh, selain masalah saldo yang pas-pasan :) juga masalah harga tiket pesawat yang harganya lebih mahal. setelah menghitung-hitung segala keperluan pelatihan dan traveling serta lain-lainnya paling tidak saya membutuhkan dana sekitar 8-9juta. Biaya pelatihan sudah 3,5jt, harga tiket PP : sekitar 2,5-3jt, traveling+ oleh2  sekitar 2jt :) kenapa harus travelling, loginya sederhana mumpung lagi berangkat dan pas weekend jadi bisa ke Bandung atau ke tempat lain. Setelah mengecek ketersediaan saldo, saat ini ada 3,5jt (3 mau dipake bayar premi Axa Mandiri), ada tambahan dana dari kerjaan sekitar3-4 jt, artinya saya memiliki dana sekitar 6-7jt, masih minus 1 jt, sebenarnya masih bisa minjam namun karena tipel diri saya yang tidak mau berutang sehingga saya harus berpikir panjang untuk mau ikut pelatihan tersebut. terlebih lagi masih ada kegiatan yang harus diantisipasi yaitu kegiatan Munas PPNI di Bali bulan April (sebelum Puasa), ini juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Inilah Dilemanya, harus benar-benar meyakinkan diri bahwa mana yang sangat prioritas mana yang harus ditunda walaupun semua sama manfaatnya, cuman ada kekhawatiran jika saya paksakan ikut malah akan berdampak negatif bagi diri saya, karena benar-benar saldo lagi tidak stabil dan masih ada pengeluaran rutin yang harus dipersiapkan terutama pembayaran premi AXA. harus memprioritas dari yang sudah prioritas, intinya kegiatan itu tidak memberikan masalah baru dalam hal keuangan, apalagi ada keperluan yang wajib di bulan 3 tersebut dan kalo dilihat-lihat tidak ada tambahan pemasukan untuk bulan 3. semoga saja dengan menahan diri untuk tidak memaksakan memberikan hal positif bagi diri saya.. aamiin YRA

Tarakan, 21 Januari 2020
Pukul. 4.14 sore

20 Januari 2020

Ada saja Halangannya/Penghambat

Beberapa kali menginginkan sesuatu yang sebenarnya hanya persoalan receh,ga penting-penting amat sekedar melintas tapi kadang terlintas berharap (kecil) kalo ada alhamdulillah kalo ga ada gpp juga :) misalnya pengen suatu tempat yang sudah direncanakan sudah dipersiapkan tiba-tiba ada halangan tanpa di duga datang menghampiri. Pernah juga sudah berniat menghindari sesuatu yang ada dampak negatif buat diri kita, namun suatu waktu kita dihadapkan dengan kondisi yang memungkinkan itu terjadi namun didalam hati berniat itu tidak akan atau jangan terjadi, ada yang benar benar terjadi (20%) dan ada yang benar-benar terhindar an (80%) 

Memang perlu "perenungan" yang mendalam kenapa ini bisa terjadi kenapa ini bisa terhindar an. Belum lama ini saya mendengarkan ceramah dari UAS tentang rejeki dan takdir, ada juga ceramah UAH tentang Nabi Musah yang belajar sama Nabi Khidir. Yang pertama dari UAS (semoga tidak salah mengutip) "ada seseorang yang Allah SWT sengaja tidak memberikan rejeki disuatu waktu, karena Allah mengetahui ketika rejeki itu diberikan maka orang (saleh) tersebut menjadi Khudir, sehingga memeliharanya dengan menunda memberikan rejeki hingga waktu yang tepat".

Sementara dari UAH, Ketika Nabi Musa ingin belajar pada Khidir yang diberi persyaratan agar Nabi Musah harus bersabar dengan tidak bertanya apapun kepada Khidir sampai Khidir yang menerangkan sendiri (ada dalam QS : Al Kahfi (18) : 66-70.. Makna pelajaran yang didapatkan Nabi Musa termuat dalam ayat 71-82.. Dari  tiga peristiwa yang membuat nabi Musa tidak bersabar untuk bertanya (melanggar perjanjian dengan Khidir) yaitu peristiwa menenggelamkan perahu, membunuh anak kecil dan membangun rumah di suatu desa (yang warga kurang peduli).

Pelajaran penting dari Nabi Musa dan Khidir bahwa suatu yang terjadi walau dalam pandangan kita buruk (karena belum tahu) akan tetapi memiliki ibroh..yang baik kemudian hari. Meminjam kata-kata UAH seorang nabi Musa saja masih harus belajar arti kesabaran dari Khidir, apalagi kita sebagai manusia, bukan nabi tidak hidup di jaman nabi ketika ada sesuatu tidak sabar menghadapi :). Apa yang disampaikan UAS dan UAH menjadi pegangan bahwa kadang-kadang kita harus melewati hal-hal yang membuat kita tidak sabar, cepat mengambil kesimpulan tanpa mau belajar dan memahami lebih dalam apa sebenarnya makna dari peristiwa yang kita alami, selama kita masih dalam koridor di jalan Allah SWT, maka khusnudzon..terhadap apa uang kita alami saat ini. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Allah SWT menginginkan kita tetap berada di Jalan Nya dengan menghindarkan kita dari hal2 yang kita inginkan tapi sebenarnya dapat membuat kita celaka. Wallahu Alam bisawab.

Tarakan, 20 Januari
Pukul : 9.04pagi di RSAL Ilyas Trk
(Sambil menunggu antrian, semoga hasil pemeriksaan kali ini tidak ada hal yg serius..aamiin.)

19 Januari 2020

Berat tapi Harus dicoba

Sesuatu yang sudah masuk dalam zona nyaman memang tidak mudah untuk melepasnya. apalagi itu yang sudah menjadi hebit, entah itu pekerjaan, rutinitas,  mau kebiasaan baik, kebiasaan buruk, semua sudah mengakar dan menjadi tabiat dan memang menjadi berat untuk meninggalkan. Tapi kalo dipertahankan akan menjadi "racun" bagi diri kita, misalnya dalam pekerjaan, ketika kita sudah nyaman dengan pola pikir dan pola kerja yang itu-itu saja, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja maka kita tidak akan berkembang, sementara bila kita melihat keluar, dunia terus berkembang dan maju, banyak inovasi, banyak yang baru yang lama selalu berganti, kalo kita masih begitu-begitu saja kapan berubah dan majunya ? (ada dalam  tulisan : Goald diri)

Demikian juga masalah habit, diluar rutinitas kerjaan, misalnya masalah pergaulan dan pertemanan. tidak bisa dipungkiri, teman itu sangat mempengaruhi pola pikir kita termasuk mempengaruhi habit. kembali lagi selama kita punya goal termasuk dalam hal pergaulan dan pertemanan pasti menjadi motivasi untuk berubah. Selama ini saya termasuk membatasi diri dalam pergaulan apalagi dalam dunia maya, membatasi pergaulan dengan orang-orang yang kurang memberikan dampak positif ;) terutama orang-orang yang bisa memberikan efek negatif, benar-benar harus dibatasi dan kalau bisa dihindari tanpa harus membenci orang tersebut, bukan orangnya tapi perilakunya. Dengan siapa kita berteman akan menggambarkan karakter kita sekalipun bukan maksud memilih-milih teman, akan tetap menjadi keharusan kita untuk menentukan sama siapa kita berteman, walaupun jaman sekarang untuk memulai pertemanan tidak lah mudah, terlebih umur yang tidak mudah, bukan jamannya untuk bergaul seperti jaman sma atau kuliah, sudah ada keluarga sudah ada pekerjaan sudah ada rutinitas, intinya tidak membeda-bedakan orang, karena semua orang memiliki hak yang sama dan yang membedakan adalah bagaimana dia dengan Tuhan Pencipta Alam semesta, bagaimana sikap dan perilaku dia dengan orang-orang disekitarnya dan bukan hak kita untuk menjugde orang karena kita belum tentu lebih baik dari orang lain.

Dalam refleksi diripun, terkadang kita masih menemukan hal-hal yang menjadi kelemahan diri kita, bisa jadi merupakan sisi negatif  kadang-kadang muncul kadang masih bisa dikendalikan / kontrol. Memang tidak mudah tapi akan dicoba sambil memperkuat diri, memperbanyak melakukan aktifitas atau hal positif, mengabaikan hal-hal yang bisa memicu itu dan tetap mengutamakan pikiran positif, terkadang masih saja terjatuh pada lubang yang sama, padahal sudah komitmen untuk tidak melakukan hal yang berdampak negatif, mungkin namanya juga tabiat, apalagi bila kondisi mendukung, mudah sudah kebawa emosi, suasana  yang tidak diharapkan tapi terjadi, mendapatkan masalah itu-itu terus, lagi capeh karena kerjaan atau karena urusan di rumah, lagi banyak pikiran, semuanya itu menjadi pemicunya hanya bisa berharap semoga masih bisa terkandali dan tidak kehilangan kontrol diri. Itulah salah satu kelemahan manusia dan saya menyadari itu, atau mungkin ini adalah 'aib" yang masih tertutupi oleh Sang Pencipta Alam semesta, walaupun terkadang dengan label manusia tidak sempurna sebagai pembelaan diri namun bukan berarti menjadi pembenar untuk melakukan hal yang salah, terus berusaha melakukan yang terbaik, kesalahan yang kita buat kita akan tanggungjawab sendiri dan tanggungjawab kita sama sang shaliq. semoga kita semakin hari semakin baik. aamiin YRA.

Tarakan, 19 Januari 2020
Pukul : 5.52sore

16 Januari 2020

Manusia Tak Sempurna

Sempurna hanya milik Allah SWT dan manusia sangat tidak sempurna namun diantara semua ciptaan Sang Khaliq, manusia yang memiliki potensi  sempurna, memiliki akal, hati dan fisik yang membedakan dengan ciptaan lainnya, namun dalam aqur'an dijelaskan jika potensi itu bisa positif dan negatif, tergantung bagaimana manusia sadar dengan segala potensi yang dimiliki dan diarahkan untuk apa dan tujuannya kemana. Jika semakin mendekatkan diri kepada Sang Khaliq maka akan memiliki dampak positif, jika sebaliknya semakin jauh dari cahaya sang Khaliq maka manusia masuk dalam kategori yang tidak mensyukuri nikmat pemberiang Sang Pencipta. Para Nadi dan Rasul juga merupakan manusia pilihan yang langsung mendapatkan bimbingan dari Sang Pencipta, namun sebagai manusia biasa tetap mendapatkan pengarahan Sang Pencipta memalui perantara malaikat. 

Saya secara pribadi, perlahan-lahan belajar memahami diri, sesuai dengan prinsip mencoba melakukan sesuatu dengan baik dan berusaha menjadi orang baik. semua tahapan-tahapan sudah diplanningkan mau merubah sikap yang mana, mau meningkatkan sikap yang mana, membatasi pergaulan dengan teman yang seperti apa, mau mempertahankan komunikasi dengan teman yang bagaimana, mencoba menerima saran-saran orang lain atau bahkan apa yang didiengarkan dari ceramah-ceramah, sudah berusaha mengikuti dan mencoba perlahan-lahan mengurang hal-hal yang tidak berfaedah dan memang tidak mudah, gejolak dalam diri begitu besar, ada dorongan untuk tidak mau komitmen dengan apa yang sudah direncanakan, ada dorongan tidak mau bersusah-sudah dari pada yang sudah ada, namun pertanyaan dalam diri selalu terlintas ? " mau sampai kapan seperti ini??

Kelemahan yang kita miliki, bisa jadi hanya sedikit orang yang mengetahui, bahkan orang lain bahkan tidak pernah tahu tentang apa saja yang ada pada diri kita, salah satunya kita tidak suka mengumbarnya dalam sosial media, bagi sebagian orang yang sering berinteraksi dengan kita akan tahu seperti apa diri kita, apa yang kita sukai dan apa yang tidak, apalagi bagi orang sering bersama kita, kerja bareng, kerja dalam 1 tim, dan ada ungkapan bahwa kita akan ketahuan aslinya bila kita sedang bersama dengan orang-orang yang kita kenal pada parjalan diluar kota (safar). Apa yang kita tidak ketahui dari orang lain akan dengan sendirinya kita paham karena karakter aslinya akan ketahuan jika dalam satu perjalanan. bagaimana orang beradaptasi dengan kondisi dan suasana baru, bagaimana orang bersikap sebagai individu dan menjadi bagian dari tim kerja, apakah lebih menonjolkan kepentingan pribadi atau kepentingan bersama.

Apapun itu, yang lebih paham apa kelemahan diri kita, adalah Tuhan dan diri kita sendiri. kita haris paham apa sebenarnya diri kita mau dan bisa, kita harus paham apa yang menjadi prioritas dalam kehidupan kita, kita harus paham apa yang menjadi kelehaman dan bagaimana sikap dan tanggapan kita tentang kelemahan itu, seberapa sadar kita dengan kelemahan itu, kita sidah berusaha menghindari namun dalam suatu waktu kita masih jatuh di lubang yang sama dan mengulangi kesalahan yang sama, namun yang harus disadari usaha kita untuk mengurangi hal yang kurag bermanfaat adalah bejalar dan terus belajar sambil evaluasi pada titik atau situasi mana kita bertahan bisa mengendalikan diri namun pada kondisi mana yang kita kurang bisa kompromi dengan keadaan yang sama. Menyadari kelemahan kita akan membawa kita bahwa itulah manusia membutuhkan sang pencipta yang mengarahkan ke jalan yang lebih baik,hargai apa yang sudah upayakan untuk berubah dan jangan cepat jatuh dan tidak bangkit kita ternyata kita masih jatuh pada masalah yang sama. belajar lebih baik lagi agar manusia tang tidak sempurna ini bisa mendekatkan diri pada Pencipta Semesta.

Tarakan. 16 Januari 2020
Pukul : 5.55 sore

11 Januari 2020

Bersikap Profesional Abaikan Baper :)

Suatu waktu kita dipertemukan dengan orang-orang yang sama dan membicarakan hal yang sama namun yang berbeda adalah posisi saat ini. Kalau dulu, saya menjadi orang yang terdepan karena posisi dan amanah namun  sekarang saya sebagai pendengar dan orang yang dahulu sebagai audiens sekarang sebagai orang yang terdepan. Dalam beberapa pengalama dahulu, seperti biasanya ada dengar pendapat dan saran, ada yang menyampaikan laporan dan ada yang menanggapi laporan. Dulu, mungkin pernah merasakan "terpojok" ketika apa yang kita kerjakan belum sepenuhnya diapresiasi orang lain, bisa jadi karena perbedaan persepsi dan cara dalam mengambil tindakan, dulu mungkin kita pernah menyampaikan dalam hati, andai saja mereka tahu betapa sulitnya pekerjaan ini, mungkin mereka tidak akan memandang "sebelah mata" dan cenderung melihat ada kekurangan tapi kurang mengapresiasi yang sudah baik. dulu mungkin ada perasaan semacam apa yang kita lakukan kurang diapresiasi padahal pekerjaan itu memang menjadi tanggungjawanb kita dan sebenarnya tidak ada kaitannya dengan orang yang memberikan saran. Bukannya tidak mau menerima saran namun kondisi saat itu memang ada indikasi "perang argumen" dan kayaknya dulu kurang mendapatkan apresiasi dari apa yang kita kerjakan walaupun kalo dipikir-pikir lagi orang yang memberikan komentar itu tidak ada kaitannya dengan tanggungjawab yang telah ditunaikan. Sebenarnya tidak ada dendam dan memang hal itu yang harus dihindari, mencoba tetap bersikap profesional dan menghilangkan perasaan yang bisa berefek jangka panjang. legowo menerima semua masukan untuk perbaikan kedepannya.

Saat ini, kondisinya berbeda, bahkan sangat berbeda jauh. ketika apa yang kita lakukan dahulu telah berakhir dan amanah itu dilanjutkan oleh orang lain. Sikap profesionalisme diutamakan dengan tidak mengingat-ngingat kejadian masa lalu yang mungkin menyimpan "luka", itulah manusia namun perasaan itu berusaha untuk ditepis dengan selalu mengutamakan sikap positif thinking dan tidak menyimpan dendam sama sekali. Orang yang dulu sebagai audisen sekarang dalam posisi terdepan, sikap profesionalisme diutamakan beri masukan yang membangun, tidak menyimpan dendam sedikitpun walaupun pancingan-pancingan untuk melakukan itu sangat besar peluangnya, kembali lagi pada niat, untuk apa berkomentar untuk apa berbicara, niat yang menentukan. Mungkin terlintas dalam benak, orang-orang dulu sudah merasakan seperti apa yang kita rasakan dulu, masalah yang kita hadapi dan bagaimana sikap yang kita ambil. Saya secara pribadi berharap yang dulu itu sebagai audiens bisa memberikan yang terbaik saat ini dan bisa mengambil pelajaran positif dari apa yang sudah dikerjakan dulu (kalaupun ada dan dianggap itu penting :) 

Intinya harus ditanamkan dalam diri, inilah sunnatullah, dunia berputar dan selalu ada pergantian peran dan wewenang. sikap yang diutamakan bagi kita sebagai orang yang mantan pernah pada posisi itu adalah tetap berpikir positif, melupakan rasa sakit hati bahkan menghindari dendam yang mungkin dulu sempat mampir karena merasa kurang enak dengan reaksi ataupun respon dari orang-orang di sekitar kita. Tetap memberikan saran dan masukan sesuai dengan porsinya, hilangkan gejala post power syndrome yakin dan percayalah bahwa orang yang saat ini mampu memberikan yang terbaik dan lebih baik lagi dari apa yang dulu kita lakukan. Berpikir positif, abaikan perasaan-perasaan negatif, luruskan niat dan beri kontribusi yang sesuai dan sewajarnya. Melangkah lagi lebih jauh, ciptakan hal-hal positif untuk pengembangan diri lebih baik lagi.

Tarakan, 11 Januari 2020
Pukul 18.18 (6.18 sore)

10 Januari 2020

Belajar untuk katakan "Tidak"

Saya tipekal orang tidak tegahan pada hal-hal tertentu, apalagi dalam persoalan pertemanan. Dalam beberapa kondisi ketika teman meminta tolong, hati saya luluh :) entah apa yang mendorong, rasa tidak ingin mengecewakan teman begitu besar apalagi saat meminta bantuan dan kebetulan pada saat kondisi saya memang memiliki apa yang akan dipinjam dan belum memerlukan untuk saat itu. Namun seiring berjalannya waktu rupanya kita juga butuh bantuan namun karena tidak enak dengan teman akhirnya rela merasakan "kepahitan" ketika kita butuh pertolongan maka siapa yang akan menolong? sementara teman yang tadi meminta tolong kondisinya yang tidak memungkinkan untuk dimintai tolong, akhirnya gunda melanda :) tapi itulah pertemanan ada lika-likunya dan saya sudah menulis dalam beberapa part tahun lalu. Belajar untuk menahan diri melakukan kebaikan / pertolongan yang sebenarnya kita juga lagi membutuhkan / kondisi terjepit belum bisa memberi pertolongan

Dalam hal lain, saya berteman atau kebetulan dengan beberapa orang dalam dunia maya, namanya dunia maya yang tidak jelas asal usulnya penuh dengan tipudaya maka obrolan terjalin karena ada sesuatu yang nyambung, ketika saya sudah membatasi obrolan dengan dunia maya dan berusaha membatasi diri, tiba-tiba ada saja godaan untuk kembali melakukan hal-hal yang kurang baik dalam pergaulan entah apa itu gibah? mengobrolin hal-hal yang tidak berfaedah hingga obrolan seputar kebutuhan orang dewasa. Karena sudah berniat membatasi ada saja teman yang masih mengajak ngobrol sekalipun kontak mereka sudah saya hapus tapi saya tidak memblokir karena tidak ingin membuat persoalan baru dan memang tidak ada masalah personal dengan teman-teman tersebut. Apabila mereka ngajak ngobrol, saya tetap membalas namun ketika obrolan sudah melenceng, saya berusaha kuat untuk mengalihkan dan tidak meladeni obrolan dan mengatakan maaf lagi kerja dan tidak ada waktu membahas hal-hal yang tidak berfaedah. Kadang-kadang karena lama tidak ngobrol saya coba untuk menyapa duluan, obrolan menjadi cair namun yang harus diantisipasi apabila pembicaraan sudah  nyeleneh saya mencoba untuk tidak melayani terus, kadang-kadang harus pintar mengalihkan obrolan ke tema lain, kalaupun sudah rada memaksa, saya harus cut dan mengatakan maaf saya sudah tidak seperti itu lagi, maaf saya tidak biasa :) 

Dalam obrolan dunia maya, saya memiliki teman yang begitu dekat, mungkin tidak ngobrol hal-hal yang tidak berfaedah, sehari atau dua hari walau hanya dengan menyapa dan memberi semangat :) namun ada teman yang salah satunya agak membatasi diri dan saya pahami itu dan tidak ingin melakukan obrolan seperti dulu-dulu yang begitu akrab namun tetap menjaga komunikasi walau hanya menanyakan kabar sekali sebulan :) dulu berusaha untuk menghilangkan kontak namun setelah dipelajari apa yang sudah-sudah kayaknya bagi teman saya tidak ada masalah tapi reaksi saya yang tidak wajar saja sehingga mengganggap ada yang aneh dengan perubahan teman ini. Intinya dalam pertemanan harus tahu batas mana kita bisa ngobrol dan batas mana yang tidak boleh diobrolin, hanya mengobrolkan ada hal-hal yang positif untuk diobrolin. Nah karena kedua teman ini begitu akrab sehingga jalinan komunikasi ini tetap terjaga pada koridornya dan semoga saja tidak ada hal-hal yang bisa merusaknya. harus memahami bahwa ada batasan-batasan dalam keakraban pertemanan. setiap teman memiliki kesibukan dan prinsip hidup yang tidak bisa kita langgar dan harus kita hormati, mereka punya pandangan yang bersifat privasi demikian juga kita yang memiliki pandangan yang sama dan kita tidak ingin orang lain untuk memasukinya jika kita tidak mengizinkan. Apabila obrolan sudah mengarah yang kurang pas, biasanya salah satu mereka dengan jujur bilang tidak suka, puyeng, ga usah diomongin :) inilah manfaatnya teman, harus mengingatkan ketika kita salah dan bukan membiarkannya :)

Kembali pada masalah pada tulisan ini, memang tidak mudah untuk melakukan perubahan dalam diri kita terutama dalam pergaulan, terlebih lagi bila bergaulan tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi diri kita, sekalipun kita tidak  boleh merasa sempurna dan yang lain salah, kita hanya membatasi diri pada hal-hal yang memberikan faedah, tidak memutuskan silaturahm namun dibatasi pada yang memberikan faedah, bila ada hal-hal yang mengarahkan pada obrolan yang tidak befaedah anggaplah ini sebagai ujian pada komitmen diri kita yang belajar dan membenahi diri untuk berubah. Wallahu'alam b shawab 

Tarakan, 10 Januari 2020
Pukul : 8.15 pagi 

09 Januari 2020

Menikmati Nikmat yang Mulai Berkurang

Postingan ini menjadi refleksi buat saya pribadi, hal ini tidak lain berkaitan dengan materi. Seperti roda yang terus berputar, tahapan kehidupan juga terus berputar, dulu dalam posisi di atas, sekarang posisi di bawah, dulu memiliki jabatan yang baik sekarang tanpa jabatan, dulu memiliki waktu yang luas untuk mengembangkan diri secara struktural sekarang lebih banyak memiliki waktu untuk mengembangan diri secara personal yang bukan  dari tempat kerja. Perubahan itu menjadi nyata, yang tidak nyata itu adalah respon kita :) mungkin kita belum siap dengan segala perubahan yang ada sehingga "riak-riak" nostalgia kita mendorang kita untuk mengejar kembali kenangan-kenangan itu. kondisi ini lebih dikenal post power syndrome. Sempat berhadapan dengan orang yang boleh dikata memasuki tahap post power syndrome, masih menunjukkan gejala kekuasaannya walau sebenarnya sudah tidak lagi memiliki wewenang dan merasa berjasa atas apa yang ada saat ini, pencapaian yang ada sekarang tidak lepas dari kontribusinya. Kita menghargai apa yang telah dicapai beliau dan kebetulan saat itu, saya sebagai orang yang sedang menjalankan amanah memahami dan tidak ingin membuat permasalahan, cukup mendengarkan dan akan mempertimbangkan apa aja saran yang disampaikan, dan saat itupun saya berjanji dan berdoa jika suatu waktu saya melepaskan amanah ini, semoga saja saya tidak mengalami hal seperti itu. 

Tibalah saatnya saya untuk "melepaskan" segala atribut amanah yang pernah diberikan dan disaat yang bersamaan saya sedang menjalankan tugas belajar di bandung. Saya belajar seperti doa yang pernah saya panjatkan, semoga jiwa masih berkuasa dan memiliki wewenang segara, belajar untuk tidak mengingat-ngingat semuanya dan tidak ingin melibatkan diri dalam pengambilan kebijakan atau keputusan kecuali ada hal-hal yang urgen dan harus disampaikan itupun harus dipertimbangkan matang-matang. sekalipun beberapa teman kerja menyampaikan dan berbagi informasi tentang kondisi tempat kerja saat ini, saya tetap menahan diri utuk tidak ingin terlibat lebih jauh. setelah dua tahun menjalani tugas belajar dan kembali aktif mengajar dan komitment itu tetap dipegang dan banyak sebenarnya yang ingin disampaikan lagi-lagi menunda karena menghargai wewenang yang ada pada orang lain, tidak etis untuk mencampuri apalagi ada kesan mau mengatur. Bejalar dari pemngalaman yang sudah, ada kesan ketika menyampaikan sarana atau pendapat bisa diindikasikan mendikte kerjaan orang lain atau bahkan saran kita sampaikan tidak terlalu dianggap penting :). Apabila diingat-ingat kembali, nikmat yang didapatkan selama ini sangat-sangat luarbiasa, alhamdulillah berkah dari kerjakeras selama in, sudah bisa membeli rumah sejak 2011 walau harus pinjam di Bank, utang pinjaman di bank pun sudah selesai sejak 2017, selama menjalani pendidikan di Bandung mendapatkan support beasiswa yang sudah lebih dari cukup, bisa mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan ini dan itu, dan kondisi keuangan keluarga yang masih bisa tertutupi walau harus babak belur untuk pengaturan dengan istri, nikmat apalagi yang saya dustai? dan tidak syukuri???

Setahun kembali mengajar masih aman, begitu memasuki akhir tahun 2019 barulah mulai terasa, ini lebih kepada materi yang didapatkan (sudah ada dalam tulisan bulan oktober 2019). Nikmat yang didapatkan bila dibandingkan dengan yang sudah-sudah sangat jauh berbeda, ini tidak lain kondisi  dan waktu juga yang berbeda. Sebenarnya tidak ada alasan untuk mengeluh, dan jangan sampai tidak mensyukuri apa yang sudah didapatkan selama ini.  jika melihat dan belajar dari  hukum alam kehidupan, roda akan  terus berputar, saat ini senang besokbesok sedih, saat ini merasa lapang (rejeki) besok-besok merasa sempit, namun ada ungkapan " bukan rejeki kita yang tidak cukup, tapi rasa syukur kita yang kurang. Kita ini merupakan kondisi yang menguji iman kita, apakah kita menjadi khufur dengan kondisi seperti ini, bukankah ada ungkapan "Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan untuk apa yang kita inginkan" Sudah itu jangan mengeluh jangan mengeluh, lebih banyak bersyukur atas apa yang ada saat ini. Jangan membanding-bandingkan dengan kondisi yang dulu, jangan membanding-bandingkan dengan kondisi orang lain, setiap orang sudah tentukan rejeki nya masing-masing. tetap berpikir positif, kencangkan doa, perkuat ikhtiar, :)

Tarakan, 9 Januari 2020
Pukul : 8.22 pagi

07 Januari 2020

Pelajaran penting "jangan lari hujan-hujanan

Hari ini saya berobat ke dokter dokter spesialis baru setelah mendapatkan surat rujukan dokter keluarga (Bpjs), ini tidak lain karena batuk tidak kunjung sembuh selama kurang lebih 3 minggu. Kalau dibilang kondisi (batuk) saya lebih parah juga tidak. Kondisi badan yang saya rasakan terbilang stabil seperti dalam kondisi sehat hanya saja batuk ini masih sering muncul walau tidak ada sekret atau dahak yang mengganggu, dan sudah seminggu hanya begitu-begitu saja walau sudah ditingkatkan dosis oleh dokter. Batuk ini cukup mengganggu ketika masuk jam makan baik siang maupun menjelang maghrib dan ini sudah saya ceritakan sama dokter paru tadi :), alhasil dokter melakukan pemeriksaan kapasitas paru (belum sempat nanya hasilnya:) dan pemeriksaan adanya sekret dan juga kayaknya aman2 saja sehingga dokterpun menuliskan resep untuk dua jenis obat, obat yang pertama itu omeprazol obat magh dan obat aesorol..ut pernapasan :) 

Kedua obat mengingatkan saya saat di bandung dan saat kondisi yang saya rasakan sama persis seperti sekarang, batuk-batuk tanpa sekret dan berkaitan dengan asam lambung. Dulu sempat berpikir apa kaitannya dengan penyakit TB, namun gejala yang menyertai seperti kurang nafsu makan, berkeringat malam hari, penurunan berat badan juga tidak ada, dan saat itu dokterpun menyatakan bukan gejala TB, sama seperti tadi pagi, untuk diarahkan pemeriksaan sputumpun tidak apalagi pemeriksaan rongent:) (sebelum ke dokter ini yang selalu mengintai, jangan-jangan sampai seperti ini) ya seprti itulah namanya penyakit pernapasan, gejala utamanya batuk,. Pulang dari dokter, agak tenang, sempat was was kalo disuruh periksa sputum,  pikiran sudah menjelajah kemana-mana kalau kalau beneran ada TB kenapa bisa? Tertular dimana? Kontak sama siapa? Apa karena sering lari subuh ? Apa karena pernah lari pagi2 saat hujan dan entah apa lagi, yang pasti kekhawatiran itu seketika runtuh setelah pulang dari rumah sakit :)

Pelajaran pentingnya dari kondisi ini adalah jangan memaksakan untuk lari kalau memang kondisinya hujan dan tidak memungkinkan, mending menunda atau berhenti lari jika menang hujannya tidam bisa berkontribusi..kejadian hampir sama antara di Bandung dan di Tarakan. Saat di bandung sebelum sakit batuk2 juga diawali terlalu semangat berlari malam hari terus disertai hujan ringan dan akhirnya beberapa minggu kemudian batuk2 dan harus berobat ke spesialis, ini juga di tarakan, sebenarnya awalnya saya tidak batuk, dalam proses pengobatan saya lari pagi dan tiba2  hujan dan saya tidak berhenti berlari, dan akhirnya batuk hingga 3 minggu. Untuk lari sendiri dokter mengatakan tidak jadi masalah malah dianjurkan asal jangan sampai spring..(laricepat). 

Intinya olahraga itu penting, lari itu juga penting tapi jangan sampai terkesan memaksakan diri harus lari dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat.. Semoga menjadi pelajaran kedepannya... Semangaaaat

Tarakan, 7 Januari 2020
Pukul : 5.38sore

06 Januari 2020

Libur Telah Usai (Senin Semangat)

Liburan anak sekolah telah usai, hari ini, senin, 6 Januari 2020 menjadi hari pertama sekolah di semester genap untuk anak sekolah. Sejak kemarin aura-aura semangat zilan (anak pertama, kelas 2 SD) dan Rafa (anak kedua, masih TK) begitu terpancar dan sudah meniatkan untuk bangun lebih awal agar bisa shalat berjama'ah di mesjid. Sebagai konsekuensi agar itu bisa terwujud sebagai orang tua harus mendukung sepenuhnya, melihat kebelakang apa saja yang membuat senin pagi di rumah itu begitu riweh (rempong :), yang pertama, seragam sekolah belum siap dipakai (biasanya menyetrikanya setelah shalat subuh senin, dan kelarnya menjelang dhuha, belum mandi, belum ini belum itu menjadi rutinitas hari senin, mencukur, menyetrika dll), kedua anak-anak baru dibangunkan jam 6 dan dilanjutkan dengan nonton sambil menunggu sarapan jadi. bisa dibayangkan sibuknya rutinitas senin pagi itu dan rentan dengan emosi yang meledak-ledak karena semua pekerjaan harus dikerjakan secara buru-buru. ketiga, anak-anak hari ahad tidurnya telat (diatas jam 9 malam) sehingga menyulitkan anak-anak bangun lebih awal. Ketiga rutinitas itu dikemas dan diantiasipasi dengan keadaan yang lebih luang dan jangan sampai terjadi di hari pertama sekolah ini. Antisipasi pertama : menyetrika sehari sebelumnya, kedua, anak-anak tidur lebih awal. alhamdulillah hari ini menjadi hari yang seperti diharapkan anak-anak bangun lebih awal, shalat subuh berjamaah di mesjid, sarapan lebih awal dan ke sekolah lebih awal. 

Untuk masalah liburan, keluarga kami tidak menetapkan harus seperti apa :) tidak ada  patokan khusus. misalnya harus kesana, harus kesini, harus ada ini, harus ada itu :) selain persoalan budget dan juga karena kebiasaan. Bagi kami yang terpenting  selama libur sekolah anak-anak mendapatkan waktu yang banyak untuk istrahat dan bermain. Sempat mengikuti rekreasi yang diadakan sekolah baik rafa maupun zilan, jadi sepanjang liburan, tidak ada agenda khusus keluarga. Liburan diisi dengan membelikan raket bagi zilan dan rafa. dan sepanjang liburan digunakan waktunya untuk bermain. Ternyata dibelinya raket ini memberikan manfaat. jika sore hari kami menyiapkan waktu beberapa kali 1 keluarga untuk bermain di halaman islamic center. menikmati kebersamaan di sore hari yang mungkin sulit kami dapatkan sebelumnya, karena permainan badminton ini sangat bervariasi dan menimbulkan suasana yang gembira. Rafa awalnya tidak bisa sama sekali bermain badminton dan terakhir kemarin saya bermain melihat luarbiasa kemajuan dalam bermain dan sudah enak diajak bermain karena bola yang dikembalikan bisa lebih dari dua kali. Zilan sebelumnya sudah paham dan sekarang malah perkembangannya bisa berimbang dengan rafa. Pada liburan-liburan sebelumnya anak-anak menghabiskan waktu dengan bersepeda mungkin karena bosan dan ada sepeda dalam kondisi kurang baik sehingga kurang dimanfaatkan. 

Memang keluarga kami bukanlah keluarga dengan latar belakang kemewahan :) namun insyaAllah secara materi akan tercukupi dan semoga Allah SWT senantiasa memasukkan keluarga kami dalam golongan yang bersyukur. Tidak harus menjadi seperti keluarga lain untuk bahagia, tidak harus mengikuti apa yang orang-orang tuntut harus ada ini, harus ada itu, bahagia  itu tidak ribet dan sebenarnya cukup sederhana, harus melakukan perjalanan kesini, harus melakukan perjalanan kesana, dan anugrah yang terbesar adalah  Allah SWT masih memberikan kesehatan, kita diluangkan waktu bersama dengan keluarga dan kita tidak mesti membutuhkan budget yang banyak untuk menjadi bahagia. Semoga kedepannya liburan sekolah menjadi bagian pelajaran yang menyenangkan bagi keluarga dengan bersyukur apa yang dimiliki dan dijauhkan dari hal-hal yang malah dapat menjauhkan keluarga dari Allah SWT. 

Tarakan, 06 Januari 2020
pukul ; 07.24 pagi

04 Januari 2020

Menentukan Sikap (dalam WAG)

Ketika berada dalam group whatsapp (WAG) begitu banyak karakter dari anggota group. group juga dibuat dengan berbagai latar belakang, mau karena ikatan saudara, pertemanan bahkan hobi atau kesukaan. Yang paling banyak itu kalo bukan group karena pekerjaan pasti karena group sekolah hingga kuliah, ada juga group orang tua siswa :) namun salah satu yang tidak saya miliki adalah group saat SD. beberapa teman SD sampai saat ini banyak yang kehilangan kontak, entah apa yang melatarbelakangi, memang seingat saya setelah lulus, hampir tidak ada komunikasi yang dibangun kalaupun ada hanya sambil lalu sekedar sapa dijalan :) dan ada beberapa teman SD yang bersekolah di SMP yang sama dan kini berada dalam 1 group SMP dan satu diantaranya berteman saat jaman-jaman kuliah karena berada di kampus yang sama. Berbicara tentang group,  ada yang dibentuk dengan latar belakang pembentukan group yang sama  namun berbeda skala, misalnya skala kabupaten/ kota, ada skala propinsi bahkan skala indonesia :) teman saya malah masuk dalam group untuk skala dunia/ internasional tapi anggotanya masih orang indonesia :)

Berbicara di group memang unik, tergantung siapa yang memulai obrolan, awal-awal group seperti biasa ramai, ribut bahkan obrolan bisa sampai ribuan dalam sehari ini tidak terlepas karena anggota berada di daerah yang berbeda sehingga obrolan itu menjadi pelepas kangen. ada pula postingan di group karena latar belakangnya sama namun skala yang berbeda pesan yang sama yang masuk, sekedar melanjutkan informasi.  Perilaku anggota group juga tidak bisa terkontrol, walau ada rambu-rambu dalam group masih ada saja yang melanggar :) semua berpulang dari tujuan group itu dibuat. semua anggota group memiliki hak yang sama untuk berkomentar namun tetap membatasi diri dalam hal-hal yang berkaitan dengan topik yang dibicarakan atau paling tidak tujuan dari group itu sendiri. Ada yang hanya menginginkan group itu cukup hanya sebagai komunikasi dua belah pihak bukan hal yang lain yang tidak berkaitan, apalagi group digunakan untuk media promosi usaha :) ada juga yang tujuannya untuk menasehati atau saling mengingatkan tapi tidak semua anggota group sepaham dengan nasehat tersebut karena latar belakang pemahaman yang berbeda sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda bahkan berpotensi menimbulkan konflik dan group menjadi ramai. apalagi yang dibahas tentang pendangan politik maka obrolan tidak akan pernah ada habisnya bahkan bisa bikin panas :)

Group yang bubar juga ada ;) bahkan hobi bikin group tapi sebentar-sebentar bubar, inilah salah satu group yang paling unik. sebenarnya group ini pecahan group SMP, namun karena beberapa yang berada di perantauan membuat group sendiri, karena ada oknum yang mendominasi jadi group menjadi ambyar karena salah paham dan adanya konflik. seingat saya mungkin group ini sudah hampir yang kelima kali dibuat hehehe dan semoga masih bisa bertahan dalam waktu yang lama. Ini tidak terlepas bagaimana sikap anggota di dalamnya. apakah bijak menggunakan obrolan, tidak mengumbar aib sendiri hanya karena sudah dianggap seperti saudara sendiri atau seperti apa. memang ada tipekal orang yang keuh-keuh dengan pendapat dan pendiriannya sehingga berpontensi membuat group menjadi ribut, kurang care dengan yang lain, lebih menonjolkan diri, menyampaikan segala aktifitas secara detail padahal anggota group mungkin tidak butuhkan :)  Pada akhirnya beberapa teman sempat ngobrol sebaiknya sikap kita seperti apa dan pada kesimpulan tanggapi yang perlu ditanggapi abaikan yang memang harus diabaikan, bila ingin menasehati dengan cara halus tanpa nyindir dan menyerang, lebih baik diam, jangan ikut-ikutan gila :)

Dalam group pekerjaan juga ada beberapa obrolan yang memancing perdebatan, ketika ruang ekspresi itu hanya ada do group sehingga segala pemikiran dicurahkan di group, terlebih informasi yang diberikan diluar konteks tidak berkaitan dengan pekerjaan namun ingin mendapatkan perhatian dari anggota group yang tak kunjung-kunjung memberikan respon. memang tidak mudah menghadapi tipekal anggota group seperti ini, kita harus benar-benar bisa menahan diri dan bertanya pada diri sendiri apakah sudah sesuai wewenang atau kompetensi saya harus memberikan respon, jangan sampai mengambil hak orang lain. atau yang seharusnya orang lain yang berkomentar malah kita sibuk menanggapi obrolan yang sebenarnya bukan wilayah tanggung jawab kita. dari kedua kondisi di atas, hal yang harus dicermati dan menjadi pegangan dalam WAG tanggapi yang perlu ditanggapi, abaikan jika memang harus mengabaikan, jangan biarkan emosi dan pikiran kita terkuras dalam group yang sebanarnya tidak memberikan dampak positif pada diri kita bahkan berpotensi memunculkan konflik. bijak bergroup bijak mengirim/ menanggapi pesan / obrolan. 
wallahu'alam bishab..

Tarakan, 4 Januari 2020
Pukul : 5.55 sore

03 Januari 2020

Apa Yang harus saya lakukan (Target Kerja)

Dua hari ini sudah kembali kerja sejak kemarin di awal tahun 2020. seperti yang ditulis sebelumnya bahwa awal tahun itu sebagai tolak ukur dalam menjalankan aktifitas atau bahkan sejauh mana refleksi diri atau muhasaba diri. ada ungkapan bahwa "kamu tidak akan menemukan semangatmu sebelum kamu menemukan tujuan hidupmu" tujuan hidup yang paling khakiki adalah 
 selain awal tahun yang menjadi rujukan adalah saat hari milad, bukan melakukan perayaan khusus. Sekarang mulai menyusun strategi, apa yang harus dilakukan apa yang menjadi target pribadi dalam pencapaian pengembangan diri sebagai dosen apa yang menjadi target tuntutan pekerjaan. lagi-lagi ini menjadi titik untuk mulai bergerak.

Dalam pengembangan profesionalisme saya memiliki keinginan untuk mengembangkan diri untuk mendalami bahasa inggris, ada keinginan untuk kembali ikut kursus, target harus memiliki sertifikat ITP Toefl agar bisa digunakan untuk apa saja karena beberapa persyaratan berkas memerlukan itu seperti pengurusan beasiswa, bahkan  untuk mengikuti beberapa pelatihan bahkan kemampuan bahasa inggris yang saya rasakan kurang adalah kemampuan cuap-cuap, masih ada radah malu untuk berbicara in english semoga tidak menurunkan keinginan besar untuk terus belajar. salah satu caranya dengan melihat di youtube :) dan keterampilan yang sangat dibutuhkan membuat tulisan bahasa inggris untuk kepentingan publikasi. ada coba tapi masih banyak revisi hehehe

Target kerjaan yang langsung berkaitan dengan pekerjaan saya sebagai dosen adalah pengembangan karya ilmiah dan pengabdian masyarakat, jangan bosan-bosan membaca jurnal, diskusi dengan teman atau orang-orang mengenai jurnal dan ambil hal yang bisa dikembangkan untuk keilmuan dan jangan lupa untuk mencari tema-tema yang sangat relevan dengan keahlian saya dan pekerjaan. intinya jangan kapok untuk membaca jurnal :) pengembangan pengabdian masyarakat lagi harus lebih dirutinkan lagi, sudah ada beberapa relasi yang sudah terjalin namun 6 bulan belakangan ini tidak rutin kembali. Harus menggali lagi cara apa yang bisa ditawarkan kepada masyarakat agar bisa dimanfaatkan sebagai hasil karya riset.

Sebenarnya masih banyak lagi yang menjadi target yang harus dijalankan dalam pekerjaan, namun yang paling besar diharapkan adalah apa yang ditulis di atas. namun bukan berarti mengabaikan seperti bagaimana tetap memberi arahan dan bimbingan yang bijak kepada mahasiswa, tetap meenunjukkan sikap terbuka bila ada saran dari siapa saja tentang pekerjaan tanpa melihat siapa yang menyampaikannya, tetap melihat sesuatu secara positif, tidak terpancing dengan hal-hal atau pembicaraan yang sebenarnya tidak perlu. sekali lagi ini hanya sekian banyak tahapan yang harus dijalankan bisa bersifat acak tidak harus menoton tapi bukan berarti diabaikan dan hanya sekedar impian tanpa ikhtiar. impian, doa dan ikhtiar berjalan berbarengan.. insyaAllah

Tarakan, 3 Januari 2020
Pukul : 8,42pagi

01 Januari 2020

Tahun Baru Harapan Untuk yang Lebih Baik lagi

Selama ini saya begitu menunggu moment-moment pergantian tahun, mulai menunggu acara-acara di televisi hingga mendatangi teman / kerabat atau tetangga yang membuat acara yang menyambut pergantian tahun, acara bakar ini bakar itu, masak ini masak itu bahkan moment pergerseran menit-menit menuju jam 00.00 sangat dinantikan dan dijadikan moment untuk berbagi di sosial media bahkan di status (sekarang story). Bahkan saat di Bandung, moment itu tidak terlewatkan, saya dan tiga teman ke puncluk yang menjadi puncak dari kota bandung dan saat moment detik pergantian tahun begitu meriah karena segala perayaan kembang pagi dari penjuru kota Bandung terlihat jelas dari punclut dan akhir perjalan punclut tiba di kosan jam 2 lewat dan untungnya saat azan shalat subuh masih terbangun dan shalat berjamaah di mesjid :) dunia didapat akhirat tidak dilupakan / diabaikan :)

Pergantian tahun ini begitu spesial, bukan spesial dalam peringatan bukan spesial dalam penyambutan, spesialnya adalah saya berjanji dalam diri untuk tidak ikut dalam kemeriahan pergiantan tahun, selain memang tidak ada undangan untuk makan-makan juga tidak berniat untuk mengikuti moment pergantian tahun baik di televisi maupun di sekitaran Tarakan. Sengaja tidur lebih awal seperti biasanya sehingga bisa bangun saat larut malam :) dua kali terbangun dan akhirnya bangun yang kedua ketika jam di handphone tertuju jam 1.05 artinya di Tarakan pergantian tahun telah berlalu namun untuk indonesia barat baru saja berlangsung. Karena melihat beberapa teman di daerah jawa masih ada yang online ;) jadi saya mengucapkan selamat tahun baru 2020 dan semoga mendapatkan kesehatan dan kesuksesan lagi. ini sekedar menjalin komunikasi karena beberapa teman ini cukup dekat dalam berkomunikasi dalam whatsapp.

Walaupun dalam pemahaman agama tidak ada perayaan khusus dalam pergantian tahun, namun ada beberapa ustat dan ulama yang mengalihkan perayaan tahun baru dengan hal yang bersifat positif dan bernuansa agama misalnya diisi dengan ceramah dan muhasabah diri. dalam saya mengambil pemahaman yang kedua, pergantian tahun menjadi moment pergantian baru untuk melihat kebelakang sejauh mana apa kaki ini melangkah apakah segala impian dan harapan sudah tercapai, kalau belum apa kendalanya dan apakah ada hal yang didapatkan bukan bagian dari target yang sudah kita tetapkan namun sangat bermanfaat untuk kita. saya untuk refleksi diri menjadi moment ketika memasuki berkurangnya usia karena bersifat personal namun ketika berkaitan dengan profesional dalam kerjaan, pergantian menjadi parameternya. 

Dalam story whatsapp saya, di dua nomor :) story pertama itu dari AA Gym " kita tidak bisa memelihara diri dari keinginan, ada nasehat jangan banyak keinginan duniawi ini, sudahlah banyak bersyukur nanti dicukupi oleh Allah karena Allah sudah tahu keperluan kita dari pada kita sendiri. keinginan itu lebih cenderungan karena (dorongan) nafsu, jadi bukan terpenuhinya keinginan tapi terpenuhinya keperluan, menjadi perhatian jika kita tidak memelihara diri dari keinginan, Allah tidak akan memelihara kita, hati kita banyak lalainya dari Allah SWT.  Story kedua bertajuk renungan akhir tahun masih dari AA Gym. berikut petikannya : "sesuangguhnya setiap hari yang kita jalani adalah hari yang baru, jam yang baru, menit dan bahkan detikpun baru, keberuntungan bukan karena hari yang baru, keberuntungan bagi siapa saja yang mengisi harinya dengan sesuatu yang lebih baik. empat ciri orang yang beruntung sesuai dengan qs. al asr, pertama aamanu: meningkatkan kualitas imannya dengan paham dengan kebenaran melalui ilmu, bertambahnya ilmu tiap hari untuk semakin yakin kepada Allah. Kedua, waamillusholihati, waktu yang dijalani dipastikan menjadi amal soleh, amal-amal kita yang akan kita bawa saat meninggal, amal soleh harus melalui niat yang tulus karena Allah dan amal yang benar, sesuai tuntunan Rasullullah SAW. intinya luruskan niat dan benarkan sikap. ketiga : watawall shoubil haq, saling berwasiat dalam kebenaran, kita bisa menjadi nasehat bagi orang lain dengan sikap kita yang benar dan kita menikmati nasehat dari orang lain. Keempat wattawar shobil sobr setiap saat kita berlatih untuk bermujahadah menahan diri dan mengendalikan diri banyak masalah akibat keduanya tidak dilakukan (menahan diri dan mengendalikan diri). seseorang menjadi bagus bukan karena waktu yang berubah tapi karena pribadi yang berubah. Untuk story di whatsapp yang lain saya mengambil syair dari lagu sejak pertama dengar begitu menyentuh  dengan lantunan suaran yang merdu dan vokal yang tinggi" Ya Rabbana Wa Tarafna yang artinya seperti ini "Ya Tuhan, sesuangguhnya kami mengakui bahwa kami telah melakukan kesalahan, dan kami melampui batas dan kami telah menghampiri jurang kebinasaan. maka ampunilah kami dengan ampunan yang dapat membasuh semua dosa kami, dan tutupilah semua aib kami dan tentramkanlah ketakutan dan kegelisahan kami.

Demikian apa yang menjadi tulisan pertama di tahun 2020 ini, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, karunia, inayah dan hidayah serta rejeki sehingga hari-hari yang dijalani semakin mendekatkan pada Allah SWT. aamiin ya rabbal alamin.

Tarakan, 1 Januari 2020
Pukul : 5.28sore