Selasa, 7 Juli 2009 | 13:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan nasional saat ini. Pendidikan nasional tidak berkonsep, dan tak ada figur pemimpin yang bisa membawa arah pendidikan dengan jelas.
Hal tersebut dikemukakan oleh Daoed Joesoef saat membuka diskusi 'Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional' yang digelar oleh Education Forum di Jakarta, Selasa (7/7). Daoed Joesoef mengatakan, setiap akan dilaksanakannya Pemilu selalu banyak tokoh muncul sambil mengumandangkan UUD '45, khususnya terkait kalimat 'mencerdaskan kehidupan bangsa'.
"Tapi yang diucapkannya berbeda yaitu mencerdaskan bangsa, ini sudah salah kaprah, sebab muara kecerdasan bangsa itu ada pada peri kehidupannya," ujarnya.
Akibatnya, lanjut Daoed, muncul persepsi yang mengidentik antara sekolah (schooling) dan pendidikan (education). Keduanya begitu timpang, karena fokus pemerintah lebih mengarah pada schooling.
Schooling, kata Daoed, adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada materi pelajaran yang diberikan. Untuk itu, kemudian disiapkan berbagai macam ujian di tiap jenjang dan diberi gelar sebagai hasil akhir ujian.
"Celakanya, mata pelajaran yang sudah dikuasai dengan label gelar itu disebut dengan pengetahuan dan lebih celaka lagi semua orang menganggap pengetahuan adalah kekuasaan, karena yang punya pengetahuan adalah mereka yang punya gelar," ujar Daoed.
Tidak heran, tambah Daoed, tanpa pembagian usia, anak-anak saat ini sudah dijejali begitu banyak pelajaran. Daoed geleng kepala ketika melihat siswa SMA sudah diberikan mata pelajaran yang semestinya merupakan materi mata kuliah tingkat II di perguruan tinggi. Tujuannya, anak-anak itu diharapkan semakin cerdas, punya gelar, dan bisa berkuasa karena gelarnya.
"Mereka, anak-anak itu yang rata-rata sudah menguasai teknologi dan informasi pun disebut telah menguasai pengetahuan, padahal mereka cuma menguasai informasi, bukan pengetahuan. Mereka hanyut oleh informasi, bukan menguasai pengetahuannya," ujar Daoed.
Sementara itu, Daoed mengatakan bahwa pendidikan adalah pelajaran yang memberikan nilai-nilai. Karena berurusan dengan nilai, pendidikan itu merupakan bagian dari kebudayaan sebagai sistem nilai yang dihayati.
"Sehingga belajar Matematika itu bukan semata sebagai subject matter, melainkan juga nilai-nilai di dalam Matematika yang harus dihayati," ujarnya.
Alhasil, tambah Daoed, dengan prinsip mendidik dan bukan menyekolahkan, anak-anak jadi memahami nilai-nilai yang kemudian akan mendorong mereka untuk punya sikap peduli pada subyek dan lingkungan di sekitarnya.
"Maka kepedulian terhadap pendidikan itu muncul karena kita sudah memahami pendidikan itu sendiri seperti apa, sehingga saat berbicara soal mencerdaskan kehidupan bangsa kita semua sadar, bahwa mulai dari para pencetus kebijakan pendidikan, yang mendidik, sampai yang dididik pun memahami nilai-nilai itu sebagai bekal masa depannya. Bicara pendidikan itu bicara masa depan," ujarnya
sulit untuk menebak kehidupan yang kita jalani.. terkadang apa yang direncanakan tak kunjung juga datang, malah yang datang hal slama ini kita hindari bahkan tidak diinginkan. sekalipun hidup ini adalah hasil usaha kita, namun seberapa besar apa yang kita jalankan adalah wujud dari harapan kita.. Kita membutuhkan asa, ia bisa membangkitkan kita juga mengarahkan langkah kita dalam mengarungi kehidupan yang kita jalani sekarang dan yang akan datang
08 Juli 2009
06 Juli 2009
Berprasangkah Baik....
Mungkin setiap orang pernah mengalami namanya negatif tinkhing.. ya.. maklumlah.. perasaan itu merupakan naluri setiap manusia. Negatif thinking diawali oleh persepsi kita tentang sesuatu, kemudian dikelolah lalu dihubungkan dengan pengalaman-pengamalan masa lalu kita. Ini juga dipengaruhi oleh struktur budaya dimana selama ini kita dibesarkan. Penilaian itu akan menghasilkan sebuah keputusan, apakah kita sepakat dengan objek itu ataukah mala berkontradiksi dengan pemahaman kita. Makanya kemudian, negathif thinking bisa muncul apabila objek dihadapan kita tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
saya teringat dengan pernyataan Jalaluddin Rahmat, pakar komunikasi, manusia ketika berinteraksi akan saling menukar kepentingan, ketika keduanya memiliki kesamaan maka komunikasi tersebut akan berlanjut menjadi relasi. Hubungannya dengan negatif thinking, tidak lain, ketika sesuatu yang dinilai tidak sesuai dengan konsep dasar yang ada pada diri kita, maka terkadang kita salah mengartikannya.. Misalnya saya punya pengalaman ketika berinteraksi dengan orang yang memiliki budaya yang berbeda dengan kita,. mungkin dalam pandangan kita, orang tersebut "kurang sopan", padahal dalam pandangan dia seperti itulah cara menunjukkan penghormatan kepada kita.
Nah, menyadari kondisi dan permasalahannya, Kita bisa saja mengontrol atau menunda sejenak penilaian kita terhadap objek yang mungkin asing bagi kita, sambil mencari lebih jauh tentang latarbelakang dan konteks dimana objek itu berada. Penundaan penilaian ini akan membantu kita, untuk menghindari negatif thinking. Setelah data yang dibutuhkan lengkap, barulah kita memutuskan. karena bukan hal yang mustahil lagi, terkadang penilaian awal kita biasany berbanding terbalik dengan kondisi sebenarnya, bisa jadi lebih baik atau sebaliknya lebih buruk.
Berprasangka baik, sangatlah penting untuk menghindari miskomunikasi yang berlebihan, sebaliknya selalu bernegatif thinking justru akan memperpendek relasi. Padahal tanpa orang lain, mana mungkin kita bisa hidup di dunia ini..
Langganan:
Postingan (Atom)