25 Maret 2020

Ketika pertahanan iman, jebol (lagi)

Ini merupakan tulisan ke-60 di tahun 2020 ini, dan jika diakumulasi sejak kembali menulis di September 2019, ini merupakan tulisan ke-100 :). Alhamdulillah, ini hal diluar dugaan saya hingga bisa menulis sampai sejauh ini. Waktu menulis itu, diantara berakhirnya jam kerja, sebelum pulang, biasanya di jam 4 atau lewat dan menulis ketika belum mulai bekerja, pas jam 7 nyampe di kantor. Semua tulisan yang ada dalam blog ini, mengalir begitu saja, ide itu muncul ketika sedang mengalami / memikirkan sesuatu atau terinspirasi dengan pernyataan atau ceramah dari ustad-ustad di sosmed dan melalui tulisan-tulisan ini saya belajar bagaimana mengungkapkan sebuah ide, menyampaikan sebuah pandangan bahkan mengungkapkan sebuah "kegelisahan" diri dan tulisan-tulisan ini lebih diarahkan sebagai refleksi diri atas segala apa yang sudah dijalani selama ini sehingga bisa menjadi pertimbangan untuk melangkah  lebih baik lagi kedepannya dan juga menjadi inspirasi yang bisa membangkitkan semangat diri.

Tulisan kali ini terasa begitu berat untuk diungkapkan, apalagi judulnya langsung menembak sasaran "pertahanan iman kembali jebol". Inilah sisi kelemahan saya sebagai manusia, saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melakukan hal-hal yang baik dan belajar mengikuti sunnah-sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Muhammad SAW, terutama untuk amalan shalat sunnah, mengikuti ta'lim rutin di salah 1 mesjid disini, menyimak ceramah dari IG dan Youtube.  Semua ini tidak berjalan mulus, ketika sudah berniat dan berikhtiar dengan apa dipahami selama ini dan belajar untuk menjalani apa yang susah diketahui namun tiba-tiba saja mendapat hempasan "dogaan dunia" langsung terjebak dalam jalan-jalan yang tidak diridhoi, tiba-tiba iman menjadi anjlok sehingga dalam keadaan khilaf melakukan hal sepatutnya dihindari dan terjebak dalam langkah yang salah. inilah yang sering dibahasakan oleh ulama-ulama, selama ini orang-orang melihat kita baik, tapi kita jangan berbangga diri dulu, karena orang lain tidak sepenuhnya tahu tentang diri kita, Allah SWT masih menutupi aib-aib yang kita lakukan dan belum diketahui oleh orang lain. Allah  SWT menginginkan agar kita bertaubat dan berjanji didalam diri untuk tidak mengulanginya kembali. Misalnya salah satunya ketika saya sudah berusaha untuk membatasi komunikasi dengan teman-teman yang kurang memberikan faedah dan bahkan tidak mengingatkan dalam keabaikan, cenderung ke obrolan basa basi, dalam beberapa saat kemudian seketika mereka kembali menyapa dalam whatsapp dan beberapa diantaranya masih saja menyampaikan hal yang kurang berfaedah. Memang kalau sudah tabiat sulit untuk berubah, berharap obrolan tidak seperti dulu tapi nyatanya masih saja memancing-mancing obrolan unfaedah

Salah satu uang menjadi penguat diri ketika hampir saja jatuh dalam penyesalan dan bahkan berniat untuk berhenti menjadi orang yang lebih baik, mengorbankan apa yang sudah diupayakan selama ini, namun seketika itu muncul dalam diri, masa hanya begitu sudah berhenti untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, ini adalah ujian terhadap niat dan komitmen untuk menjadi pribadi lebih baik lagi tapi bukan berarti kita tidak akan lolos atau menghindari situasi yang menguji komitmen kita itu, inilah pelajaran kehidupan sebenarnya, sadar bahwa kita ini adalah manusia yang lemag tanpa rahmat dan kasih sayang Allah SWT, jangan merasa sudah baik bahkan menjadi lebih sombong bahkan  menyalahkan bahkan menyakiti orang lain, Allah SWT lebih suka sama orang yang selalu bertobat ketika berbuat maksiat daripada orang yang merasa sudah saleh dan merasa paling benar dan tidak pernah merasa salah. Semoga ini menjadi motivasi dan pelajaran kedepannya bahwa menjadi lebih baik itu harus butuh perjuangan dan jangan lelah dengan semua ujian yang datang untuk mengetes sejauh mana komitmen yang sudah jalankan. Semoga Allah SWT selalu membimbing dan mengarahkan diri ini ke jalan yang lebih baik lagi, yang menguatkan hati ini kearah iman yang lebih baik lagi, Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang sudah saya berbuat karena saya adalah orang-orang yang zalim terhadap diri saya sendiri bahkan pada orang-orang disekitar saya.. Bangkit dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.. aamiin

Tarakan, 25/3/2020
Pukul : 6.29 pas masuk magbrib yang sekaligus 1 syahban 1441 H, 30 hari menuju Ramadhan

23 Maret 2020

Jangan Tertipu dengan kesenangan (dunia)

Semalam ketika mendengarkan  ceramah live Ig dari ust Khaliq Basalamah tentang menyikapi virus corona dibuka dengan membahas tentang peringatan dalam surat al anfal mengenai Azab yang mengenai semua baik orang beriman dan tidak beriman, kemudian ada beberapa surat yang dibahas itu adalah tentang surat  Hud (11) ayat 117 : Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan"   Surat Al-Qasas (28) : 59 Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya yang membacakan ayat-ayat Kami kepada Mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri; kecuali penduduknya melakukan kezaliman. Banyak hal yang menjadi renungan, UKB juga menjelaskan bahwa sebenarnya peringatan itu selalu datang namun kita selalu mengabaikannya. misalnya seorang pencuri, ketika baru berniat mencuri, sudah ada orang yang melihat, tapi di dalam dirinya mengatakan, belum kedapatan masih bisa melanjutkan aksinya, ketika mencuri dan ketahuan, baru sadar bahwa dia akan ditangkap, tapi dia berusaha untuk berlari dan bersembunyi, jika suatu waktu ada keinginan besar dan kejadian sebelumnya tidak dijadikan pelajaran maka dia akan kembali mengulangi lagi, selama dia tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan itu salah. seperti itu juga dalam kehidupan, bisa jadi sudah ada peringatan dari dosa atau maksiat atau kezaliman yang kita perbuat, tapi kita tidak menyadari itu dan kita terus melakukan, hingga ada azab atau musibah yang menimpah kita baru kita menyadarinya.

Dalam kajian semalam juga ada hal yang sangat menyentuh ketika beberapa surat yang dihabas itu di ayat sebelum atau sesudahnya membahas tentang kesenangan dunia yang mengakibatkan orang lalai dan menjadi berbuat maksiat seperti dalam surat 28: 60 dan apa saja (kekayaan, Jabatan, Keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti. ayat 61 : Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya , dengan yang kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi; kemudian pada hari kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?. Surat lain yaitu Hud (11) ayat 116 Maka tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang yang telah kami selamatkan. Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Akhirnya saya menumukan ayat yang bisa menjadi renungan saya. Selama ini sadar dan tidak sadar diri ini masih saja terjebak dalam kesenangan dunia yang hanya bersifat sementara namun begitu kuat mengikat. Maksiat masih terkadang terlintas dalam diri bahkan kadang-kadang terjebak. Memang tidak mudah menjauhkan diri dari kesenangan menipu itu, terlebih lagi ketika hati gundah dan lagi ada masalah, seharusnya sikap yang saya ambil dan kini saya sedang belajar untuk melakukan adalah kembali kepada Allah SWT mencurahkan segala isi hati dan problematika kehidupan ini kepada sang Penguasa Alam semesta, dulu diri ini begitu rentan terjebak dalam pelarian yang tidak benar, bahkan semakin menjauhkan diri dari Allah, mencari pelarian dan mencoba membenarkan atas apa yang kita lakukan, lagi-lagi sebagai pelarian dari masalah, lagi-lagi semakin menjauhkan dari Allah SWT. merasa masalah-masalah yang tidak kunjung selesai, entah sampai kapan, Saya Lupa bahwa Allah SWT adalah sebaik-sebaiknya penolong. saat ini saya sedang belajar untuk kembali pada jalan yang seharusnya, berusaha memperbaiki diri dan menyadari bahwa Allah lah sebaik-sebaiknya penolang.

Tarakan, 23/3/2020
Pukul 6.23 pas azan maghrib pas waktu berbuka puasa senin :)

22 Maret 2020

Ikhtiar ketika wabah covid19

Bukan lagi wabah, tapi saat ini status covid19 sebagai pandemi yang telah ditetaapkan oleh WHO  karena penyebaran virunsnya ditemukan sebagian besar belahan dunia dan untuk menindaklanjuti itu, sebagian besar pemerintah di negaranya yang menjadi wabah covid19 akibatnya seperti yang sudah banyak diberitakan beberapa negara tersebut mengambil kebijakan untuk lockdown atau mengisolasi diri, membatasi masuk dan keluarnya segala aktifitas di negara itu bahkan pemerintah Arab saudi membatasi kunjungan ke Mekkah sehingga calon jama'ah umroh dari penjuru dunia, sempat menimbulkan kehebohan di negeri ini namun demi kebaikan bersama sehingga banyak orang memakluminya, saat pembatasan itu Indonesia belum ada yang dinyatakan positif dari corona. Setelah diumumkan per 2 Maret dari 2 penderita yang positif covid19, masih banyak orang yang belum peduli begitu setiap hari meningkat dan adanya korban yang meninggal dunia, orang-orang mulai menaruh perhatian bahkan hingga tiga minggu pemberitaan tersebut persore ini tanggal 22 maret 2020 sudah 514 yang positif, 48 meninggal dan 29 sembuh. bahkan dari prdiksi para ahli statistik bisa melihat trend jumlah penderita yang positif maka jumlah ini akan terus bertambah karena di daerah-daerah belum melaporkan secara menyeluruh dan adanya terkendala dengan pemeriksaan yang membutuhkan waktu yang panjang. 

Seringnya pemberitaan ini, menjadi perhatian banyak orang, tidak terkecuali dengan alim ulama, ustat yang sangat viral di sosmed saat ini sebagai respon dari kebijakan pemerintah dan MUI yang mengeluarkan imbauan untuk mengurang aktifitas berjamaan di mesjid. Salah satu ikhtiar yaitu ikhtiar dunia dan ikhtiar akhirat. Untuk ikhtiar dunia, ikuti instruksi pemerintah dan dokter mengenai pencegahan penyebaran virus corona ini, misalnya dengan sering mencuci tangan, tidak menyentuh mata, hitung dan mulut, tidak mendatangi tempat keramaian, mengurangi aktifitas di luar, lebih di rumah saja (self carantine) bila pernah melakukan perjalanan luar kota atau negara dengan wabah korona sebaiknya memeriksakan kesehatan pada fasilitas kesehatan, jika pernah kontak dengan pendertita positif corona sebaiknya melapor dan memeriksakan kesehatan, karena banyak yang positif corona tapi tidak menunjukkan gejala (asimptomatik), tidak melakukan kontak dengan penderita korona, menggunakan masker bila batuk atau sakit, melakukan pekerjaan kebersihan sebelum dan sebelum melakukan aktifitas, melakukan sosial distanching. kata ustat Nurulzikri, kebaikan ini akan mendapatkan kebarkahan.

Iktiar akhirat  juga jangan dilupakan seperti hasis Buchari dan muslim "menjaulah dari kusta atau lepra seperti engkau berlari dari singa. Ikhtiar dengan meningkatkan amalan-amalan kita, karena kalau memang keyakinan kita bahwa semua yang ada di dunia ini semua seizin Allah SWT, maka keberadaan virus ini harus diantisipasi bukan berarti kita tidak peduli. sesuai dengan hadist di atas bahwa menghindari wabah itu sudah dianjurkan. Sementara virus itu sendiri, mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang lemah, ini sebagai pengingat bahwa sakit itu ada makna atau hikmah di balik semua itu, apakah kita harus sadar diri, mengingatkan kita bahka kematian bisa datang kapan saja, tidak harus menunggu virus corona, apakah kita sudah siap dengan kepulangan kita kepada Allah SWT. Kita berdoa semoga Allah SWT melindungi ini kita semua dengan wabah ini dengan melakukan tindakan proteksi diri dengan tetap menjalankan instruksi-instruksi yang seharusnya kita lakukan.  harus membiasakan diri untuk bertaubat dan beristighfar, berdoa seperti nabi Ayub karena merasa sebagai orang yang Zhalim, kondisi ini mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia hanya sementara, jangan sampai merasa ringan dengan apa yang dilakukan selama ini sehingga terbiasa berbuat dosa, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan melindungi kita dari marabahaya termasuk dari virus corona. aamiin YRA.

Tarakan, 22/03/2020
Pukul : 6.22sore 

21 Maret 2020

Dimaklumi dan cukup tahu saja

Sebenarnya bingung untuk menentukan judul untuk tulisan kali ini dan sebenarnya tidak ingin menulisnya ini tapi karena tidak ingin memperpanjang karena ketika saya menulis dalam blog ini, insyaAllah saya anggap masalah cukup disini dan mencoba tidak akan mempermasalahkannya atau bahkan menjadikan sebagai beban pikiran, ini alasana saya menulis di blog ;)  dan masalah atau kejadian ini sebenarnya sudah menjadi konsekuensi dari segala keputusan yang dulu saya ambil. Di tengah lagi heboh-hebohnya virus corona yang telah ditetapkan oleh WHO sebagai Pandemi. Untungnya blog ini sampai saat ini belum go public masih sebatas konsumsi pribadi. Dalam keseharian kita sering sekali berhadapan dengan orang banyak dan pada kesempatan itu banyak hal yang  kita alami dan pelajari dari interaksi itu ada yang sesuai dengan karakter kita, ada yang bertentangan dengan karakter kita bahkan terkadang sesuatu menjadi bonglong, hari ini teman besok jadi "musuh". Tapi itulah kehidupan, tidak bisa kita menebak, dan alhamdulillah masih ada iman yang menjadi pengendali "kewarasan" berpikir :) dan ketika itu (interaksi) menjadi masalah buat saya, lagi-lagi saya mencoba untuk menahan diri untuk meluapkan secara "terbuka". cukup Allah SWT sebagai tempat untuk berkeluh kesah, 

Seperti kata ust. KHB berkeluh kesahlah kepada Allah, orang lain bisa melihat kita dari luarnya, melihat kita nampak selalu bahagia, padahal masalah kita banyak,padahal mereka tidak mengetahui bahwa kita juga punya banyak masalah yang banyak, karena kita prinsip kita berkeluh kesah sampai meluap-luap kepada Allah SWT. disisi lain dihari sebelumnya saya mendapatkan ceramah dari ust. SRB tentang sabar. Sabar itu, sabar itu tidak melampiaskan emosi, hati kita menerima takdir Allah SWT, sabar tidak harus diucapkan atau diteriak-teriakan saya sabar, padahal kalau sabar tidak harus mengungkapkan secara terbuka. Di ceramah lain ust. SRB bercerita tentang ketika dipuji orang lain, walau sebenarnya tidak secara langsung berkaitan dengan judul ini : ketika dipuji ada doa yang diucapkan : Ya Allah ampuni dosa-dosaku, mereka sebenarnya tidak mengetahui tentang aku, dan jadikan aku lebih baik dari prasangka mereka dan jangan aku diberi sanksi gara-gara ucapan mereka.

Kembali pada judul tulisan ini, seperti itulah ketika berhadapan dengan orang-orang bahkan dengan orang yang paling dekat dengan kita. Tidak semua apa yang disampaikan oleh orang-oranng tersebut sesuai dengan keinginan kita, apalagi jika hal tersebut sudah sering dilakukan bahkan terkadang malah kita yang disalahkan, siapa sebenarnya yang salah? hehehe seperti ada tulisan dijalan-jalan, loh yang salah, loh yang paling galak. berpikir waras saja, harap dimaklumi dan cukup tahu saja. mungkin dia (mereka) lagi ada masalah pribadi, mungkin dia masih lelah, mungkin dia perlu mencharger iman, bukan bermaksud untuk menjadge namun paling tidak ini sebagai penguat diri untuk bisa berpikir waras dan bertindak yang sesuai ;) tidak ikut-ikutan marah atau malah bertindak yang sama tidak warasnya dengan apa yang kita hadapi, tidak perlu menghitung-hitung apa yang sudah kita perbuat tanpa sepengetahuan atau bahkan tanpa pengakuan dari mereka, tidak perlu mempermasalahkan kebaikan yang sudah pernah diperbuat dan merasa tidak dihargai hanya karena masalah ini,  semua kembali kepada Allah SWT, semoga keikhlasan ini tetap dijaga, Dia lah yang Membolak balikkan hati manusia, semoga hati ini tetap condong pada kebenaran. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 21/3/2020
Pukul : 5.18 sore

19 Maret 2020

Fleksibel Bersikap

Masih tentang "hebohnya"  kemarin sejak banyak masukan tentang pelaksanan seminar keperawatan, seperti yang pernah saya sampaikan ditulisan sebelumnya begitu dilemanya ketika memutuskan jadi dan tidaknya seminar keperawatan yang akan dilaksanakan hari ahad, 22 Maret 2020. Sebelum "kegaduhan" ini seminarnya awalnya dilaksanakan tanggal 15 Maret 2020, sebelum heboh-hebohnya corona masuk ke Indonesia, sebulan sebelumnya ada masukan untuk menunda karena ditanggal itu ada kegiatan yang bersamaan juga dengan ketua DPD PPNI Kota Tarakan, akhirnya kesepakan panitia ditunda hingga seminggu ke belakang, namun pada akhirnya kegiatan yang akan diikuti tersebut terkonfirmasi ditunda. Namun kegiatan kepanitian tetap berjalan dan bertahan ditanggal 22 Maret, karena segala persiapan sudah ada, maka seminar tidak pernah lagi dibahas untuk dikembalikan di tanggal 15 Maret itu, semua sudah siap di tanggal 22 Maret. 

Begitu ada himbauan bahwa dilarang mengumpulkan orang banyak yang awalnya masih bersifat himbauan sehingga saya dan ketua DPD PPNI memberanikan diri untuk bertemu langsung direktur RSUD Tarakan untuk menklarifikasi dan meyakinkan dan saat itu beliau tidak merasa keberatan dan mempersilahkan kegiatan tetap berjalan. Besoknya dihari selasa, sudah ada pertemuan dengan Gubernur Kaltara dengan Bupati/ Walikota yang ada di Kaltara untuk semakin memperkuat dan menghimbau apa yang menjadi penekanan dari himbuan pemerintah untuk tidak melakukan aktifitas yang bisa mengumpulkan banyak orang dan menghindari kerumunan orang hingga ada instruksi untuk membatasi kegiatan-kegiatan ibadah. Karena rapatnya berlangsung di hari Rabu, kemarin, jadi sebagai ketua panitia juga saya tidak akan gegabah mengambil keputusan dan tetap harus melibatkan pandangan dan masukan teman-teman. Ada beberapa senior yang menelpon dan mengingatkan, dan beberapa komentar senior di WAG juga menyampaikan itu. hingga pada hari rabu yang ditunggu-tunggu dan mendapatkan telepon dari kedua DPD PPNI Kota Tarakan untuk seminar ditunda. akhirnya keputusan rapat kalau seminar di TUNDA bukan  dibatalkan, hingga menunggu waktu yang tepat dan kondusif untuk dilaksanakan.

Apa hikmah dari kejadian ini, pertama kita harus fleksibel, jangan keuh-keuh dengan pandangan sendiri tanpa memperhatikan pandangan orang lain apalagi situasinya berkaitan dengan kondisi terkiri dan mendunia, semua orang fokus dengan upaya gerakan "jaga jarak" maka sebaiknya kita mendukung gerakan itu, karena kegiatan ini melibatkan perawat, sehingga jika ada yang terinfkesi maka perawat yang terlibat akan harus diisolasi dan pertanyaan kemudian siapa yang akan bertugas di rumah sakit? kedua keputusan yang diambil sebisanya jangan sepihak tetap mempertimbangkan masukan-masukan anggota, walaupun sebenarnya bisa kita ambil sendiri namun mengingat ini adalah organisasi melibatkan banyak orang sehingga keputusan yang diambil juga harus melibatkan orang-orang walau tidak harus semua paling tidak memenuhi 2/3 anggota. Semoga virus ini segara berakhir mseskipun sekarang masih menunjukkan tren peningkatan semoga upaya-upaya pencegahan penyebaran tidak meluas dan bisa menurunkan jumlah orang yang sakit. aamiin Ya Rabbal alamin

Tarakan, 19/3/2020
Pukul : 6.09sore

18 Maret 2020

Ketika emosi yang tidak stabil :)

Sejak senin, 16 Maret kemarin ketika menyelesaikan dua tulisan tiba-tiba diri ini begitu kebawa perasaan atau baper :) sejak pagi tidak juga fokus untuk kerja, entah apa itu penyebabnya hingga membuat dua tulisan yang tidak berjauhan jaraknya. Setelah menunda surat pengunduran diri saya, sorenya saya menulis tentang pandemi corona dan kepeduliaan bersama, berharap itu bisa menutupi situasi perasaan yang lagi gundah :) pulang ke rumah sehabis kerja seperti biasa menjelang maghrib :) dan memasuki waktu untuk berbuka. Lagi-lagi,.orang di rumah dingin-dingin aja dan tidak ada suguhan khusus, ada dua sisa kue dari sekolahan serta jajanan anak2 seperti roti dan biskuit yang dijadikan menu berbuka :) alhamdulillah yang penting ada untuk berbuka. Malamnya juga tidur lebih awal, sempat dua kali bangun, dan paginya masih tetap "belum stabil" :)

Selasa kemarin menjadi selasa yang menguras emosi, ditelpon dan dihubungi beberapa kali hanya karena ada Himbauan dilarang mengumpulkan orang, kebetulan lagi persiapan seminar PPNI sejak 1,5 bulan ini. Senin sebelumnya saya sebagai ketua panitia dan ummi sebagai ketua DPD PPNI Kota Tarakan menghadap langsung kepada Direktur RSUD Tarakan sabagai pemilik tempat untuk mengklarifikasi dan meminta izin untuk pemakaian tempat khususnya Aula disana, alhamdulillah beliau mengizinkan dan hasil pertemuan ini kami mengklarifikasi juga ke rekan-rekan perawat yang bekerja disana sekaligus sebagai panitia juga. Namun tidak sampai disitu beberapa senior dan rekan-rekan masih ragu untuk tetap menyelenggarakan seminar dengan alasan Himbauan tadi namun bangga tulisan ini dibuat panitia belum menyatakan kemunduran kegiatan, insyaAllah sore ini rapat kepastiaannya. (Update : akhirnya ditunda hasil keputusan rapat panitia)

Kejadian kemarin di kampus juga menguras "emosi" ketika tidak sedang stabil-stabilnya emosi, obrolan di group kampus yang kurang pas, antara surat edaran yang baru diterbitkan sementara penjelasan tentang bentuk kuliah online / daring yang belum jelas, hingga kemudian saya bertanya dan diberikan penjelasan, seandainya saya tidak bertanya apakah ada inisiatif pejabat kampus ini untuk menjelaskan secara detail, apa karena saya tidak begitu detail mengikuti rapat di hari sebelumnya. Belum lagi teman dosen yang menyampaikan adanya miskommunikasi dengan bagian terkait tentang penyampaian libur mahasiswa.  Sore hari tiba2 di group ada penyampaian tentang kuliah online di web kampus ini. Sempat kaget, selama ini apa pernah disosialisasikan, pejabat yang terkait juga kayaknya baru mengetahui, karena baru memberikan pesan baru mencoba, selama ini siapa yang pegang kendali tentang kuliah online ini?? Abaikan segala "keributan" kembali ke diri masing-masing dosen, dan saya sendiri sudah membuat group dengan mahasiswa untuk mata kuliah yang saya ajarkan yaitu 3, sehingga segala komunikasi dan instruksi tugas dapat dikerjakan disitu.

Ada satu kejadian yang benar-benar menguras emosi kemarin, begitu tiba jadwal untuk menjemput rafa pulang, betapa kagetnya melihat jaket saya sudah tergeletak di tanah, spontan berpikir adalah yang mencuri helmku?.seingat saya saat datang jam 7 pagi tadi, helm itu di tempat seperti biasa, tiba-tiba tidak ada, mahasiswa yang ada disitu juga jadi kaget hingga saya menyuruh mereka menyampaikan di group mereka, pastilah menjadi heboh, 12 tahun mengajar baru pertama mengalami kejadian seperti ini. Beberapa mahasiswa yang saya temui juga saya sampaikan untuk nanyain sama teman-temannya kali saja ada yang melihat. Karena harus menjemput akhirnya minjam helm mahasiswa dan saat menjemput di sekolah rafa belum bisa keluar karena gurunya masih menyiapkan keperluan belajar di rumah selamai dua minggu ini.  Tingkah si kakak yang tiba-tiba aneh dan tidak mau mendengarkan menjadikan kondisi emosi tambah tidak stabil. Tiba-tiba terlintas jangan-jangan ada yang meminjam helm saya karena tidak seperti biasanya seperti ini, sebalik kembali ke kampus tiba-tiba melihat posisi helm sudah ada di tempat sebelumnya, akhirnya saya klarifikasi dan infokan ke mahasiswa untuk menyampaikan ke teman2nya biar tidak heboh :)

Akhirnya segala ketidakstabilan emosi kemarin dihempaskan melalui larisore terlebih pencapaiannya cukup menyenangkan untuk jarak 12 K pace stabil di 6.27 hingga berakhir di 75 menit dan malamnya bisa istrahat dengan baik, sempat membaca al qur'an dan alhamdulillah hasilnya hati lumayan tenang.

Tarakan, 18/3/2020
Pukul : 4.09sore @home


16 Maret 2020

Pandemi Virus Corona, butuh kepedulian

Sejak awal mengikuti perkembangan virus corona, merasa biasa-biasa saja, karena masih menganggap bahwa virus ini masih terbatas di Cina, makin hari makin cepat menyebar, awalnya sepakat dengan pemerintah untuk tidak menanggapi secara serius namun  tetap waspada, terlebih lagi virus ini tidak lebih dari virus SARS tahun 2003, belum lagi saat ada heboh berita online yang meragukan dari peneliti Universitas hardvard pada tanggal 10 februari 2020, ini Harvard loh, universitas terkenal seantero dunia ini, awalnya sempat baca ulasannya dan memang benar logikanya bukan meragukan kapasitas laboratrium di Indonesia namun yang menjadi pertanyaannya dari sekalian banyaknya orang-orang di Indonesia siapa yang menjamin telah bertemu dengan siapa? diluar negeri apakah ada yang terbebas dari virus corona? terlebih lagi tidak semua menunjukkan gejala. Sampai-sampai karena pemberitaan ini, si peneliti itu meminta maaf jika pemerintah indonesia tersinggung dan beliau meluruskan bukan meragukan alat yang ada di Indonesia, tapi untuk waspada.

hampir sebelum diberita itu, tiba-tiba ditanggal 2 Maret di Indonesia mengumumkan adanya pasien yang positif Covid 19, berjumlah 2 orang, dan pemerintah Indonesia belum menunjukkan keseriusan, hingga 1 minggu berselang ada berita jika ada korban yang meninggal dunia, dan saat ini hingga berita tadi malam sudah ada 117 penderita dengan 5 yang meninggal dunia dan yang mencengangkan salah satu menteri pemerintah positif covid19. pastilah negeri ini menjadi "gaduh" seolah-olah belum lepas dari tanggapan-tanggapan pemerintah di awal-awal virus ini mewabah, masih banyak yang menyayangkan sikap pemerintah yang lamban, bahkan ketika ada berita yang memberitakan ini seolah-seolah dianggap menyerang pemerintah, contohnya Koran Tempo minggu lalu yang mengulas lambannya sikap pemerintah. Bagaimana kondisi saat ini? Makin heboh pembeitaan, namun  ditengah hebohnya pemberitaan itu, sekolah-sekolah diliburkan, kampus menjadi kuliah online di rumah dan kantor juga membatasi aktifitas untuk berpergian di luar kota. dan tempat kerja saya sebagai institusi perkuliahan juga diliburkan hingga 14 hari kedepan. Sebenarnya  saya secara pribadi, sempat khawatir apalagi dua minggu yang lalu sempat melakukan perjalanan linta Jawa, tiga daera yang saya lewati saat ini terinfeksi virus corona, Jogjakarta, Bandung dan Jakarta. sempat mengalami sakit di awal-awal kembali di Tarakan, mungkin efek kecapean karena begitu tiba langsung masuk kerja, alhamdulillah tepat hari ini 14 hari terlewati sejak kedatangan saya senin 2 pekan lalu, segala gejala yang menjurus ke penyakit Covid19 tidak ada. 

Perlu kepedulian kita bersama tentang virus corona ini, WHO telah mengeluarkan instruksi dan Cara menghindari virus corona seperti sesering mungkin muncuci tangan, tidak sering menyentuh mata, wajah dan hidung, menjaga jarak dengan orang lain, tidak menghadiri kegiatan yang mengumpulkan banyak orang, menunda berpegian keluar kota jika tidak penting-penting amat, jika baru dari perjalanan luar kota sebaiknya memeriksakan kesehatan dan bila ada gejala demam, batuk, sesak maka segera ke pelayanan kesehatan yang telah ditunjuk. bila pernah kontak dengan penderita yang sudah positif sebaiknya mengisolasikan diri selama 14 hari. Semua butuh kepedulian bersama untuk saling mengingatkan, membatasi komunikasi dan kedekatan secara fisik bukan berarti menjauhkan jarak hati, kita semua masih bisa akrab dalam obrolan media sosial bila sedang bertemu sama teman sebaiknya tidak saling berjabat tangan, bukan berarti tidak menghormati tapi lebih pada peduli untuk kesehatan kita semua. Kita harus peduli, kita harus saling menjaga diri untuk kebaikan dan kesehatan kita semua. Semoga makin banyak orang yang sadar maka makin banyak orang yang peduli sehingga kita ikut membantu mencegah penularan virus ini yang lebih massif, tanpa kita sadari mungkin saya, anda, kita semua sudah terjangkiti virus namun daya tahan tubuh kita masih baik sehingga kita tidak menunjukkan gejala, namu kita bisa menularkan kepada orang lain. Mari kita peduli akan bahaya corona ini karena tidak sedikit dampak yang ditimbulkanyya bukan hanya masalah ekonomi bahkan kita terhambat dalam menjalankan ibadah-ibadah yang diwajibkan berjamaah di mesjid. kita berharap virus ini segera lenyap dari dunia ini dan kita selalu beristgihfar, virus ini menyadarkan kita akan kekuasaan Allh]ah SWT, tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa seizin Allah SWT, semoga menyadarkan kita mungkin ada yang salah dengn diri kita selama ini. semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa yang kita perbuat baik sadar maupun tidak sadar. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Tarakan, 16/3/2020
Pukul : 5.57sore

Tar

Entah apa yang merasukiku

Pagi tadi, ketika lagi adem-ademnya tiba-tiba terlintas dalam benak untuk mengundurkan diri dari jabatasn struktural sebagai sekretaris LPMI yang kurang lebih 1,5 tahun saya jalani sejak kepulangan dari pendidikan S2 keperawatan di Bandung. Pikiran ini beberapa kali terlintas namun ditunda hingga pagi tadi begitu besar keinginan untuk membuat surat pengunduran diri tersebut, isi surat saya hanya ingin fokus menjadi dosen dengan tugas pokok utama di tridharma perguruan tinggi. Entah apa yang merasukiku saat tadi pagi, hingga benar-benar keinginan / niat itu begitu besar menggebuh-gebuh. Akhirnya saya memberikan diri untuk menulis dan sebelum memasukkan ke direktur saya memberitahukan ke pada pimpinan saya di struktural, jam 10 pagi saya masukkan dan menyampaikan kepada beliau bahwa saya akan mengklarifikasi alasan saya itu. Memang tidak mudah untuk merealisasikan ini, saya harus menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati ini. Sebenarnya sudah begitu lama ingin mengutakan surat ini tapi menunggu moment yang tepat, kebetulan kegiatan di LPMI akan berakhir di minggu depan dengan dilakukannya audit internal untuk direktur. sehingga untuk kedepannya biarlah menjadi tugas di LPMI dan bagi saya salah bentuk pernyataan sikap saya.

Akhirnya begitu jam 1 siang, saya langsung ketemu beliau dan banyak bercerita tentang alasan saya ini. yang pertama kalimat dari direktur ": bekerjalah dengan ikhlas, kampus belum bisa mengakomodir keinginan bapak ibu" kalimat ini begitu mencengangkan bagaimana tidak, dengan kondisi seperti sekarang, dengan semakin besarnya beban kerja, untuk bekerja ikhlas seperti itu sungguh membutuhkan niat yang kuat, membutuhkan niat yang tulus untuk benar-benar ikhlas. Tanpa mencari kambing hitam, tanpa mau menuntut ini dan itu, diri ini belum bisa menjalankan pekerjaan ini dengan penuh keikhlasan sementara hak yang harus kita dapatkan belum juga didapatkan. sebenarnya secara pribadi begitu malu jika menuntut kenaikan gaji ini tat kala kondisi keuangan kampus belum stabil.  saya sebenarnya sadar diri bahwa keinginan saya ini bukan tanpa alasan, saya merasa kurang pantas menjalankan amanah di struktural jika harus bekerja sebagai relawan sementara pekerjaan ini hampir dikategorikan pekerjaan profit (keuntungan) apakah pantas jika kita bekerja harus berdasarkan keikhlasan tanpa mendapatkan hak yang layak didapatkan. 

Setelah berpanjang lebar, bercerita dan menyampaikan kegelisahan diri akhirnya pada kesimpulan untuk ditunda sementara karena sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengajukan surat, paling tidak kegelisahan saya ini sudah saya utarakan, walaupun siap dengan segala konsekuensi dari surat pernyataan saya ini, namun karena adanya masukan dari bos saya, saya kembali harus memperbaiki niat, apalagi melihat sudah niat dari pimpinan kampus untuk memberikan sesuatu yang sudah seharusnya diberikan walau masih dalam perencanaan / ajuan, paling tidak kegelisahan selama ini bisa terjawabkan dan saya lebih fokus lagi bekerja, lebih meluruskan niat, untung ini masih sebatas membicarakan dengan boz belum berhadapan langsung dengan pimpinan atau direktur di Institusi tempat saya bekerja

Tarakan, 16/03/2020
Pukul 4.49 sore

15 Maret 2020

Setiap orang punya ujian / masalah

Apa yang harus kita lakukan ketika kita sendiri atau teman kita sedang mengahadapi sebuah masalah?? Secara pribadi, biasanya bila ada teman yang punya masalah jika itu dia teman yang dekat bahkan sudah menjadi seperti saudara, sebisa mungkin untuk membantu apalagi jika itu sebuah solusi, sebisa mungkin akan memberikan masukan-masukan positif atau paling tidak memberi support bahkan harus mendoakan. Bahkan beberapa tulisan saya banyak menulis tentang ini, seperti sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri apalagi ada niat terselubung dari dalam diri saya, entah apa itu. saya juga tidak ingin ketika memberikan memberi bantuan itu malah ada dampak negatif untuk diri saya itupun  setelah melalui berbagai macam pertimbangan ini dan itu. Kemarin ketika melihat story teman, lagi-lagi "jebol" hehehe yang menuliskan "sabar sabar" saya yakin teman ini cukup ekspresif, besar kemungkinan itu benar adanya, seperti biasanya pasti respon saya dengan kata "semangaaat" tiba-tiba dibalas dengan  emot menangis, (walau dalam diri agak risih sic menggunakan emot yang langis sekuat2nya, air mata jatuh laksana air terjun, terlebih lagi secara fisik teman ini cukup "kekar" jadi tidak pantas saja dalam pandangan saya, hanya pandangan loh ya. kembali ke masalah story tadi maka saya nanya kenapa? tiba-tiba dia bilang ada cicilan yang harus dibayar sebesar 450rb. Karena memang lagi benar-benar tidak punya uang lebih, yang ada untuk membayar ini itu, takut saat meminjamkan dan diwaktu yang sudah ditentukan akan dibutuhkan dan itupun masih harus menutupi kekurangannya. Sebagai teman saya memberikan suport semoga segera mendapatkan pinjaman (kayaknya kalau ini, insyaAllah ada dengan jumlah begitu, terlebih teman ini punya banyak saudara) dan yang utama mendoakan agar segera bisa mendapatkan solusi dari masalah teman ini.

Demikian juga dengan orang-orang di sekitar kita, jangan hanya melihat yang nampak dari luarnya saja, karena pandangan dan persepsi kita bisa jadi salah, kita tidak tahu seperti apa isi hati orang, kita tahu apa yang sedang dipikirkan orang-orang dan bukan menjadi hak kita untuk mencari lebih jauh bahkan menjudge orang-orang di sekitar kita sekali lagi bukan menjadi urusan dan hak kita untuk ikut masuk dalam persoalan yang orang miliki, jika itu memang tidak ada urusannya dengan kita abaikan, jika itu tidak berkaitan dengan pekerjaan kita, jangan peduli, jika itu tidak menyangkut tentang hak-hak kit, sudah tutup telinga dan pandangan agar tidak mempengaruhi kita untuk tahu lebih banyak, sekali lagi bukan urusan kita. Yakin saja setiap orang ada masalah dan ujiannya dan setiap masalah itu sudah ada solusinya. Tidak perlu membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain entah itu pendapatan, rejeki, aktifitas, keluarga, barang yang dimiliki, jabatan, pandangan bahkan masalah ibadah. Jika ingin membandingkan paling tidak, sebagai instropeksi diri kita, agar kita tidak seperti itu jika menyangkut hal yang negatif dan kenapa kita tidak bisa mengikuti itu jika itu menyangkut hal yang baik dan positif, lihat sisinya, kaji dari berbagai sudut pandang jika ada yang bermanfaat ambil pelajaran positifnya, jika ada yang kurang bermanfaat bahkan bisa mencelakakan diri kita, lupakan dan jauhi, tidak ada yang lebih baik selain hal yang bisa meningkatkan iman kita dan kedekatan kita kepada Allah SWT. 

Setiap orang memiliki masalah masing-masing. dulu saya tipekal orang yang mudah mencurahkannya dalam status (jaman BBM), atau melalui bahasa isyarat :) namun makin bergulirnya waktu, jika memiliki masalah lebih banyak berdoa dan curhat sama Sang Khaliq pemilik alam semesta.. 
(berhubung sudah masuk azan maghrib, akan dilanjutkan kembali
Tarakan, 15/3/2020 Jam 6.24 sore pas azan maghrib

Baru bisa melanjutkan tulisan pada senin pagi,16/3/2020 
lanjutttt...

Belakangan ini saya jarang sekali mengkespose masalah apa yang sedang dihadapi, bahkan sosial media yang saya miliki hanya untuk membegaikan kegiatan yang sedang saya jalani atau berbagi pandangan, itupun dengan platform sosial media yang saya miliki sesuai dengan kapasitas dan fungsi serta tipekal teman di sosmed. Namun yang begitu update adalah instagram yang lebih diarahkan akrifitas diluar aktifitas rutin sebagai dosen, ini lebih kepada menyimpan foto / moment penting. Bila ada masalahpun lebih banyak mencurahkan melalui blog dan yang paling utama adalah melalui sujud dan doa. Sujud dan doa inilah yang sebenar-benarnya penguat, tidak ada hal ada di dunia ini diluar kendali Sang Khaliq, pasti ada solusi dan hikmah dibalik semua masalah / ujian yang datang menyapa, tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang hanif ini, pintar-pintar untuk menginstropeksi diri, menyadari tentang semuaini, tidak langsung mengambil keputusann dan kesimpulan apalagi sampai harus berputus asa, kita kembalikan masalah yang datang menyapa kita ini kepada sang Khaliq, sebaik-baiknya pertolongan adalah Allah SWT, pemilik alam semesta. Semog kita semua menjadi orang-orang yang sadar dengan semua ini. Aammin Ya Rabbal Alamin.

13 Maret 2020

Dikenali

Ada beberapa kesempatan tiba-tiba ada yang menyapa...padahal saya tidak begitu populer di kalangan karabat2 baik di puskesmas ataupun rumah sakit kecuali di salah satu puskesmas dan 1 atau 2 ruangan di RSUD Trk itupun karena intensitas pertemuannya yg sering, pernah membimbing di ruangan itu dan pernah menjalin kerjasama. Kejadian kemarin saat mengantarkam si sulung di puskesmas berharap sic ga ada yang dikenal walaupun pernah menjadi narasumber di dinkes dan dihadiri teman-teman di puskesmas. Saat anak diperiksa ada yang menyapa..hehe dan rupanya mereka sudah sangat kenal dengan anak2 saya yang sudah terlalu sering datang berobat. 

Ada pula beberapa orang yang sebenarnya sering dijumpai pada suatu waktu, biasanya sering berpapasan saat mengantarkan  anak2 ke sekolahan namun belum ada satu moment yang benar2 terlibat dalam 1 kegiatan nanti diacara HUT PPNI karena saya sebagai ketua panitia jadi banyak moment dipertemukan dalam 1 kegiatan.  Dampaknya ketika ketemu di jalan yang dulunya hanya lewat saja sekarang sudah bisa saling menyapa :) 

Sebenarnya saya termasuk tipekal yang tidak suka go publik..:). Suka dengan dunia sendiri dan tidak ingin dikenal banyak orang namun makin kesininya makin banyak uang kenal, istri sebagai kepala sekolah di SD saya sering mengantar anak2 dan kemungkinan akan dikenali sama orang2 juga besar. Sekarang sedang menjalankannya ketua panitia HUT PPNI ke 46 kemungkinan akan dikenali juga cukup besar sehingga saya tidak memiliki alasan untuk berdiri diri bahkan cool ketika bertemu orang2. Senyum, sapa dan nanyakan kabar. Tunjukkan keramahan dan hindari cari muka serta merasa paling baik :)

Tarakan, 13/03/2020
Pukul : 11.41 malam
  

12 Maret 2020

Ketika cemas menghampiri

Hari ini menjadi hari yang begitu mengkhatirkan, ketika menghadapi situasi yang begitu tidak disangka-sangka, sekalipun  sudah mencoba menerima sepenuh hati namun kecemasan itu tetap saja menghampiri. Cerita pertama ketika sedang mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan anak terkahir. 3 hari ini di rawat di RSUD Tarakan karena sesak napas sejak senin subuh. Saat dilakukan pemeriksaan rongent ada gejala / suspect TB paru. awalnya sih belum diberi tahu sama bundanya, karena saat itu hanya fokus pada sesaknya, dua hari ini hanya fokus pada sesaknya, alhamdulillah mulai berkurang dan memasuki hari kedua sempat khawatir karena anak harus melakukan pemeriksaan CTM pemeriksaan dahak untuk mengetahui adanya TB. hari ketika baru keluar hasilnya dan negatif namun hasil rongent parunya masih suspek TB, karena khawatir masih dengan hasil rongent maka saya menanyakan sama kerabat yang kerja di klinik TB rumah sakit, betapa kagetnya saya beliau mengatakan biasanya kalau suspek di foto rongent maka akan  tetap menjalankan pengobatan 6 bulan. sempat berbincang sama istri tapi kata istri doktter tidak menyampaikan itu. walau mencoba untuk berpikir positif jangan-jangan dokter belum mau mengatakan :) 

Sempat terlintas kalau harus menjalani pengobatan 6 bulan, dari mana asal muasal kuman itu? apa dari saya? karena saya pernah mengjalankan terapi saluran pernapasan selama hampir 2,5 bulan dan dokter tidak pernah menyinggung tentang masalah TB karena secara klinik tidak ada gejala mendukung. sempat curiga sama sama ini dan itu, namun akhirnya sikap pasrahpun yang harus dilakukan akan kondisi ini. Kekhawatiran seketika berubah ketika sedang ngobrol dengan kepala ruangan yang sekaligus rekan  di PPNI dan satu almamater Unhas, beliau menyampaikan kalau hasil pemeriksaan CTM negatif biasanya dokter anak tidak memberikan pengobatan 6 bulan, seketika hati menjadi tenang, namun mencoba mengklarifikasi kembali, bagaimana dengan hasil pemeriksaan foto rongentnnya? kalau hal seperti itu biasa ditemukan pada anak dengan keluhan batuk dan sesak, alhamdulillah ya Allah, akhirnya klarifikasi ini datang juga menghampiri, semoga saja anak bungsu ini sehat wal afiat dan bisa kembali bermain seperti biasanya. aammiin

cerita kedua, datang dari sahabat saya nan jauh di tanah jawa, sempat khawatir dengan pertemuan saya terakhir karena adanya insiden kecil, namu saya sudah mengklarifkasi dan memintan maaf atas kekeliruan saya dan saya meminta sama sahabat saya ini agar jangan lelah untuk selalu mengingatkan saya bila ada yang kurang berkenang. seperti itulah sebaiknya berteman ketika kita salah dia dengan berani mengingatkan kesalahan kita. sempat khawatir apakah teman ini akan berubah sikap dengan kejadian itu. sekalipun dalam beberapa obrolan tidak ada yang menunjukkan perubahan itu, sayanya saja yang begitu khawatir padahal dalam beberapa kesempatan sabahat saya ini sering mengingatkan jangan kepikiran, santai aja nah ini namun lagi-lagi masih saja ada rasa khawatir itu. Namun sektika rasa khawatir itu sirna ketika saya membuka obrolan dengan teman ini, tentang kuliner di daerahnya yang sempat dicicipi dan obrolan kamipun seperti biasanya ga ada yang berubah sama sekali. lagi-lagi kadang-kadang kekhawatiran itu muncul tat kala kita begitu banyak beban pikiran yang bersamaan muncul, pikir masalah ini pimir masalah itu pikir masalah yang tidak kunjung selesai. 

Satu hal yang menjadi penguat saya, bahwa saya harus realistis menerima apa yang ada di dunia ini, namun  belajar dari pengalaman yang sudah-sudah jangan gegabah mengambil kesimpulan dan pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran dalam bersikap hari ini dan kedepannya, jangan melakukan kesalahan yang sama pada orang yang sama, jika orang yang berbeda mungkin dampaknya akan berbeda jika orang yang sama maka kita harus siap mendapat konsekuensinya. Klarifikasi terhadap sesuatu yang belum jelas itu penting, apalagi untuk hal-hal yang krusial dan sangat sensitif, walau berat harus dicoba dari pada dipendam tanpa arah yang jelas. Yakin dengan apa yang ada, yakin dengan kondisi yang sudah lama terjaga dan jangan sungkan untuk meminta maaf dan mengklarifikasi jika ada yang memang belum jelas, dan sekali lagi tetap fokus dan kontrol diri, jangan tergesah-gesal dalam mengimbil sikap, apalagi membuat kesimpulan dan keputusan sendiri tanpa mencari tahu lebih jauh dan lebih dalam. Ini semua untuk diri sendiri, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. aammiiin ya rabbal alamin...

Tarakan, 12/03/2020
pukul ; 5.12 sore

10 Maret 2020

Tetap Seperti Ini

Nampaknya dalam beberapa hari belakangan saya sudah mulai terbiasa dengan tidak terlalu peduli dengan notifikasi sosial media, belajar dari selama 4 minggu menonatifkan w.a nomor simpati berpengaruh banyak pada diri saya paling tidak saya sudah tidak terlalu tergantung dengan pesan masuk dari siapa, mau apa dan apa yang dibahas. Hari-hari berjalan dengan begitu biasanya, sudah tidak ingin menulis story hanya ingin mencari tahu siapa yang menjadi viewer, sudah tidak terlalu mempedulikan apa yang sedang ditulis teman dan story walau sesekali terkadang penasaran dan mengintip notifikasi siapa yang sedang menulis story, paling-paling itu-itu saja, dia lagi dan lagi ;) atau terkadang penasaran adanya yang mengirim pesan untuk saya? hehe semua belum berubah masih seperti dahulu karena banyak hal yang menjadi motivasi seseorang untuk memulai chat, entah itu karena merasa nyaman, memang mengganggap sebagai teman yang akan sering menanyakan kabar atau ada balasan chat karena sudah saya sapa duluan, ha ha ha ha.

Hal ini sangat berdampak baik apalagi disituasi sekarang dengan berentetannya kegiatan belum lagi ada sesuatu yang tanpa diduga-duga hadir menyapa dan cukup merepotkan karena banyak waktu yang digunakan untuk keperluan tak terduga ini. ada saja kendala dalam memulai sesuatu, ada saja hal yang menghambat. Terkadang apa yang sudah dipersiapkan, apa yang sudah dilakukan apa yang sudah kita rencanakan dan sudah targetkan namun tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan dan kleinginan kita. Nah inilah yang menjadi fokus saat ini sehingga menghabiskan waktu hanya untuk obrolan dan chat yang kurang berfaedah menjadi hal yang dipertimbangka matang-matang sehingga banyak waktu yang tidak produktif dan banyak waktu terbuang untuk hal hal yang remeh temeh. Tanamkan dalam diri, apakah ini berfaedah? apakah ini hanya membuang-buang waktu. 

Obrolan di chat menjadi obrolan yang terkesan kaku dan cukup hanya ingin menanyakan kabar dan tidak lebih jauh apalagi hanya kepoin status teman kontak, apa gunanya? dan demi apa?  hehehe walaupun ada juga yang menuliskan story itu sebagai pemberitahuan / menyampaian informasi, hanya itu tidak lebih, namun hanya orang-orang tertentu saja. Ini belajar dari pengalaman dari sahabat saya, walaupun sering ngobrol dan sering mengikuti update-an status sahabat ini namun sepengetahuan saya dalam dunia nyata sahabat ini tidak seperti ini, bahkan kondisi sebenarnya lebih baik dari apa yang ada di story yang sering ditampilkan bahkan ketika beberapa foto yang sempat dibagikan via japri itu menggambarkan karakter sahabat ini, inipun setelah sekian lama, karena persabahatan ini hanya terjalin via sosial media. Ketika pertama kali bertemu kesan saya sangat berbeda, intinya lebih baik bahkan beberapa kali memberikan masukan yang positif, pertemuan kedua lebih lagi, kedekatan selama ini semakin diyakinkan dengan apa yang diamati sepanjang obrolan, nah begitu pertemuan ketiga karakter yang sebenarnya mulai nampak, hehehe kejahilan dan keisengan dan keakraban lebih jaug sudah didapatkan walaupun ada sedikit insiden kecil diakhir perjumpaan ketika, alhamdulillah sudah diklarifikasi, namanya persahabatan kadang kala ada salah  sedikit salah paham dan menjadi pelajaran kedepannya untuk bersikap.

Situasi dan kondisi seperti ini, berjalan apa adanya menjadi moment yang baik untuk saya untuk menjalankan hal yang ingin diraih lebih baik lagi. ini menjadi moment ketika saya sudah berniat untuk menjalankan kebaikan walaupun masih banyak kekurangan dan hal-hal yang menghampiri untuk menguji kekuatan hati untuk berubah. ini menjadi kesempatan bagi saya untuk benar-benar menghilangkan beban di hati, adanya keganjalan dalam diri ketika akan belajar menjadi lebih baik lagi , semoga ini bukan lagi penghambat untuk kembali meluruskan niat, memalingkan diri dari hal-hal yang kurang berfaedah, membatasi komunikasi yang tidak berfaedah, tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak produktif. Inilah moment yang ditunggu-tunggu walaupun tidak sedikit hal dan situasi yang menguji lurusnya niat, untuk apa dilakukan ini? untuk siapa ? demi apa? kembali meluruskan niat semoga ini bisa menambah keimanan, meningkatkan kualitas diri, semoga menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri pada sang Khaliq, penguasa alam semesta, Allah SWT.. aamiin

Tarakan, 10/3/2020
Pukul : 5.10 sore

09 Maret 2020

Tetaplah menjadi baik

Tulisan ini lebih banyak bercerita tentang qoute di IG "senja" tentang berbuat baik diantaranya

"tetaplah menjadi baik menjadi baik mesti tidak diperlukakan dengan baik"
 " jadilah baik, karena jika kita hanya berpura-pura baik, kita akan dipertemukan dengan yang berpura-pura baik"
ada juga  :
" jadilah orang baik, tetapi jangan buang waktu untuk membuktikannya"
"kalau kita inginkan yang terbaik, berikanlah yang berbaik"
" bersabarlah karena kebaikan akan datang kepada mereka yang sabar menunggu"
berbicara tentang berbuat baik memang bukan hal yang harus ditunjukkan atau ditampakkan kepada orang lain, apalagi ini sudah menjadi prinsip hidup saya "berusaha melakukan yang terbaik". walaupun dalam kondisi seperti apa, mau lagi susah, mau lagi tertekan mau lagi tidak dianggap atau tidak dihargai tetap saja prinsipnya lakukan yang terbaik, apapun kondisinya bagaimanapun situasinya berbuat baik itu akan kembali kepada kita, tapi yang harus diluruskan adalah niat dan jangan sampai hanya berharap balasan tersebut. berharap tetap all out dalam bekerja apapun hasilnya. Dalam bekerja prinsip berusaha melakukan yang terbaik walau belum tentu kita mendapatkan apresiasi dan reword  dari apa yang sudah dilakukan karena sebenarnya apapun hasilnya itu akan kembali pada diri saya sendiri dan pada saat melakukan pekerjaan dengan baik berarti saya belajar untuk memegang tanggung jawab dan belajar untuk memberikan yang terbaik apapun situasinya dan ini menjadi bekal ketika harus bekerja dengan orang lain pada situasi dan kondisi yang berbeda karena prinsipnya pertama tetaplah menjadi permata walaupun banyak orang tidak mengenalinya apapun itu jangan sampai niat yang baik dan lurus in dikacaukan dengan hal-hal yang kurang mengenakkan yang kita rasakan dan dapatkan

Dalam pergaulan juga seperti itu, bagi saya,  teman itu ada yang beberapa sudah dianggap seperti saudara sendiri, jika pada saat yang bersamaan, ada keperluan teman dan kebetulan saya bisa membantu, maka tidak ada alasan untuk tidak membantu namun jika kebetulan disaat yang bersamaan memang tidak bisa, ya harus berkata jujur kalau belum bisa untuk saat ini. Namun terkadang pada saat yang bersamaan ada "keterpaksaan" karena rasa tidak enak sama teman sehingga menjadi hal yang harus diantisipasi untuk kedepannya jika suatu waktu mendapatkan situasi yang mengarah kesana. Misalanya ada teman pada saat lagi disapa dan tidak diduga-duga tiba membutuhkan bantuan padahal niat kita hanya menyapa dan menanyakan kabar sehingga ini menjadi pelajaran jangan sampai terlalu sering menyapa sehingga menjadi tidak enak jika dia minta tolong dan kita tidak punya. Pernah juga kondisinya seperti itu karena sudah menjadi pengalaman akhirnya saya harus jujur dan berterus terang kalau saya belum bisa membantu karena menang situasinya tidak mendukung. intinya selama memang ada kenapa tidak namun jika tidak bisa jangan sampai memaksakan karena dampaknya juga akan kembali ke diri kita dan jangan sampai kita terlalu jauh mengorbankan diri kita untuk hal yang kurang pasti dan tidak responsif

30 detik menuju jam 12 malam
Tarakan, 9/3/2020

08 Maret 2020

Tidak Pernah Puas

Tantangan terberat dalam hidup ini adalah ketika rasa tidak pernah puas melanda. ketika ada keinginan besar yang ingin diwujudkan dan ketika kesempatan itu ada, masih saya rasa tidak puas melintas dalam benak, entah apa penyebabnya, kenapa rasa tidak puas itu begitu besar terlintas apakah karena kurang puas dengan apa yang dirasakan, apakah kurang bersyukur dengan apa yang sudah dilewati, karena tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud, banyak faktor yang berperan mulai sama siapa kita harus berinteraksi, siapa teman yang terlibat dalam keinginan itu, apakah teman kita benar-benar siap dengan segala keinginan kita sementara teman juga memiliki kesibukan dan keterbatasan waktu, apakah kita tidak melihat sisi positif yang sudah kita rasakan, apakah kita harus memaksakan keinginan dan keegoisan kita hanya untuk memuaskan diri sendiri tanpa mempertimbangkan ada orang lain yang ikut bersama kita, apakah kita tidak melihat seberapa besar usaha yang dikeluarkan teman untuk menemani dan memberi support kepada kita atau jangan-jangan kita kurang bersyukur saja dengan keadaan yang kita rasakan ini.

Pernah menginginkan sesuatu dalam beberapa hal, begitu yang kita dapatkan masih ada yang dirasa kurang, padahal apa yang sudah dirasakan sudah lebih dari apa yang sudah diinginkan namun masih ada yang masih yang kita harapkan dan seolah-olah ingin memaksakan kondisi bahwa hal itu harus diwujudkan apalagi kalau ada kaitannya dengan teman. seperti pada tulisan sebelumnya ini hanya karena "keegoisan diri" ingin  memaksakan hal yang sebenarnya tidak pantas kita paksakan karena belum tentu teman kita ini suka dengan sikap kita, kita benar-benar harus menahan diri untuk tidak memberikan kesan yang negatif dan jangan sampai merusak pertemanan hanya karena keogoisan dan ketidakpuasan.

Kenapa kita merasakan ketidakpuasan? alasan yang pertama ekspektasi yang diharapkan begitu besar begitu mendapatkan realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi maka yang ada rasa tidak puas dengan kondisi yang ada, apalagi dalam hal mengejar dunia, menurut ustat dunia tidak akan habisnya bila dikejar, ibarat fatahmorgana nampak ada tapi ternyata tidak ada, dunia ibarat air asing semakin diminum semakin haus, dunia ini ibarat buih di lautan, hanya kecil dari nikmat yang sangat luas ini. Rasa tidak puas ini bisa jadi karena merasa belum bersyukur dengan kondisi yang ada, sudah mendapatkan ini masih mau itu, sudah dapat itu masih mau yang lain. Kata UAH, dunia terpenuhi iman mengingkat, tidak semua harus dipake akal harus pake hati, kalau harta tidak ada tambahan manfaatnya maka hilang keberkahannya. Bila kembali ke masalah intinya ini lagi-lagi masalah dunia yang selalu dikejar dan tidak pernah habisnya. Dunia ini hanya tipuan, kesenangannya hanya sementara bila dikejar maka kita tidak pernah habisnya semakin dikejar semakin mendekat dan semakin mengikat dan sulit untuk melepaskan, sementara yang sesungguhnya bukan ini, ini hanya media untuk mendekatkan diri kita kepada sang khaliq selama kita bisa lepas dari genggaman dunia yang sangat erat ini dengan menyadari bahwa yang ada hanya bersifat sementara, kata sabahat saya "kita hidup hanya sekali, kenapa harus terus mengejar dunia, itu bukan bekal untuk kita ke akhirat"

Untuk bisa mengantisipasi semua ini adalah kita harus benar-benar bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, jangan sampai membanding-bandingkan dengan apa yang tampilkan orang lain, harus lebih proporsional, apa yang kita hadapi saat ini, jangan sampai melemahkan iman kita, jangan sampai menyilaukan pandangan kita hingga lupa apa sebenarnya yang ada dunia fana ini, bukan kebahagian semu yang kita kejar namun kebahagian khakiki dengan menyukuri apa yang kita miliki, dan apa yang ada bisa memberikan keberkahan dan dapat meningkatkan keimanan diri kepada Allah SWT. aamin ya rabbal alamin

Tarakan, 8/3/2020
pukul : 6.19sore

07 Maret 2020

Sudut pandang orang lain

Dalam beberapa kesempatan dihadapkan dengan orang yang memiliki pandangan yang kuat atau lebih tepatnya "kaku" dalam bersikap. Kalau dihitung mundur saya bukan pertama kali saja berhadapan dengan beliau bahkan sejak jaman2 masih kuliah :) bisa dibayangkan sudah berapa tahun, hal yang membuat terenyuh itu hal yang dulu sempat beliau sampaikan sekitar 5 tahun yang lalu sampai sekarang masih tetap di pegang entah apa yang menjadi pertimbangan beliau padahal topik yang dibicarakan itu sudah pernah dibahas dan diklarifikasi sama orang yang kompoten..berapa kagetnya saya ketika beberapa hari yang lalu masih mendengar hal tersebut walaupun melalui orang lain :)

Memang bila dipahami lebih mendalam lagi setiap orang punya pandangan dan persepsi yang berbeda-beda dan itu semua berpulang pada orangnya seberapa besar dia menerima masukan-masukan orang lain, seberapa besar dia memiliki open mindset,..apakah dia tetap keuh-keuh dengan pandangan atau seperti apa, terlebih orang memberi masukan  itu sudah memiliki pengalaman di bidang itu dan seberapa besar orang ini mampu mempertimbangkan kembali apa yang menjadi dasar pemikiran, memang benar sic hak setiap orang untuk bersikap tapi harus ingat sic kita hidup dalam komunitas, bekerja dalam tim sudah sebaiknya kita bersikap fleksibel karena apa yang kita pikirkan apa yang kita rasakan bisa jadi hanya sebuah persepsi subjektif tanpa dukungan kondisi yang objektif.

Tapi lagi-lagi saya juga tidak pernah menjudge orang yang memiliki pandangan yang keuh-keuh, tugas saya hanya sebagai pendengar kembali bersikap proposional, apa yang diperlukan saya sampaikan sesuai dengan sudut pandang saya dan juga mempertimbangkan apakah yang disampaikan berkaitan dengan pekerjaan yang berkaitang dengan banyak orang atau hanya sekedar menyampaikan padangan pribadi yang lebih subjektif. Orang yang "keras" dengan pandangannya hanya ingin didengarkan jangan diinterupsi karena dengan itu bisa dianggap sebagai perlawanan. Yang terpenting kita tidak perlu ikut-ikutan berkeras hati karena apa yang disampaikan hanyalah sudut pandang bukan hal yang sangat urgen yang berkaitang dengan permasalahan yang harus segera diselesaikan, bawa njoy saja, dengarkan phami jangan bersikap bertentangan kasih solusi dan sudah biar waktu yang merubah :)

Ronde26 Markoni, 7/3/2020
Pukul : 10.27 malam

06 Maret 2020

Dibawa santai aja

Setelah mencari-cari judul yang tepat untuk tulisan ini akhirnya ketemu juga dengan apa yang menjadi "biang" pikiran sejak tadi pagi. Mulanya ingin menuliskan judul "konsekuensi dari sebuah keputusan" namun kesannya agak negatif seolah-olah ingin menghakimi sesuatu, padahal niatnya baik ingin menyampaikan bahwa segala keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensi baik positif maupun negatif. Nah ini yang ingin saya sampaikan bahwa keputusan dan sikap yang sudah kita pertimbangkan matang-matang jangan sampai menimbulkan penyesalan hanya karena kita tidak siap dengan efek negatif yang baru saja kita rasakan, apalagi efek positif sudah duluan kita rasakan.

Jadi ceritanya begini :) minggu lalu saya sudah memutuskan untuk mengikuti pelatihan di Jogjakarta kemudian melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat, untuk yang kedua itu, saya sudah pertimbangkan baik dan buruknya, prinsipnya sic mumpung lagi berangkat, untuk bisa mendapatkan moment seperti ini cukup langkah, Terakhir berangkat itu bulan 10 tahun lalu, sebelumnya di akhir bulan 8, badget yang dikeluarkan sudah dipertimbangkan matang2, dan saat ini pengeluaran rutin sudah beres semua, mulai dari uang sekolah anak2, uang untuk istri, bayar listrik dan air, BPJS hingga pulsa bulanan :) 

Memang sempat gundah karena mengkhawatirkan yang tidak pasti, premi asuransi akan dibayar tgl 28 bulan Maret ini, nah itu masih bisa ditanggulangi dengan gaji di bulan maret sebelum di bagi2 lagi sesuai posnya,..uang jalan penelitian nah itu bisa diantisipasi dengan mengambil uang dari AXA mandiri,..nah sebenarnya tidak ada lagi alasan untuk saya linglung dengan situasi yang ada, toh kalau masalah beberapa hari ke depan hingga nanti akan masuknya gaji bulanan masih bisa tertutup InsyaAllah asal batasi pengeluaran yang tidak perlu, utusan yang sangat diperlukan, paling2 bensin.. jadi.. Bawa santai saja, nikmati apa yang sudah berlalu dan melangkah lagi dengan penuh optimis, masih banyak yang perlu dipikirkan masih banyak yang perlu diselesaikan masih banyak yang perlu dikerjakan

Ronde 26, Markoni, 6/3/2020
Jam : 8.54 malam 


05 Maret 2020

Semampuku Membantu Teman

Dalam beberapa kesempatan saya tiba-tiba dihadapkan dengan situasi diman teman yang butuh bantuan, entah itu apa, tapi biasanya "duit" dalam situasi kondisi keuangan seperti sekarang memang agak sulit untuk bisa memenuhi itu apalagi kalau jumlahnya sudah besar, mau diambilkan dimana duitnya..hehehe, Barusan ada teman, selama ini dia tidak pernah terbuka kalau lagi membutuhkan uang yang cukup banyak untuk menutupi sewa toko pakean yang dia miliki. Pernah dia minta tolong untuk menyebarkan informasi rumah kerabatnya di Jakarta yang akan di jual dengan harga yang cukup fantastik 25 M, beberapa teman saya tawarkan dan semuanya responnya merasa belum membutuhkan rumah sebesar itu. Terakhir dia menawarkan ada tanah di yang harus di jual di daerah serang sebagai teman juga membantu menyebarkan ke teman yang ada di daerah Banten, dan lagi-lagi mereka belum membutuhkan. Hari ini menjadi hari yang begitu mengagetkan tiba-tiba teman ini kembali menghubungi bahkan meminta ngobrol, sata mencoba untuk meladeni walau awalnya terkendala dengan jaringan. Setelah sempat tertunda 1 jam saya yang menghubungi duluan, barulah teman ini cerita apa yang sebenarnya terjadi. Pertama sebenarnya uang untuk membayar sewa toko itu ada, namun tanpa disangka-sangka anaknya dua kali masuk rumah sakit dan tidak memiliki kartu jaminan kesehatan sehingga biaya pengobatannya cukup besar. Kedua teman ini baru cerita kalau dia baru saja pisah dengan istrinya namun masih tetap menjaga komunikasi karena anak. Pantas saja akhir-akhir ini dia memasang story yang sangat religius tentang cobaan hidup, selama ini saya kenal teman ini cukup santai dalam ngobrol bahkan dia sering beberapa kali memasang kebersamaan dengan istri, walau awalnya komunikasi saya hanya sebatas menanyakan kabar dan kadang-kadang janjian ngopi walau tidak jadi-jadi :) 

Kondisi lain juga saya pernah alami, ketika ada teman selama saya di Bandung, meminjam uang dan pada saat itu memang uang saya ada, dan saya meminjamkan dan dia mengembalikan sesuai kesepakatan bahkan demi meyakinkan saya dia menitipkan beberapa barang dia sebagai jaminan mulai dari handphone, jam tangan hingga gelang. Selama saya kenal dia cukup baik, dalam beberapa kesempatan sering kami jalan bareng di Bandung sekedar mencicipi beberapa kuliner disana dan juga dia banyak menunjukkan jalan di Bandung dan beberapa kali dia menawarkan barang untuk di beli, hanya aircoler yang saya beli dan sampai barangnya sudah ada di Tarakan. Pada saat saya akan balik di tarakan malah dia menemani packing barang dan pagi hari sebelum sorenya saya menuju jakarta sempat kami mencari keperluan di Gazibu dan mencicipi mie ayam favorit saya, biasanya dia yang ngajak mendatangi suatu tempat. Begitu balik ke Tarakan, sempat dia menghubungi untuk mwnawarkan sepatu dan jaket, tapi saya katakan agak sulit karena bisa jadi sepatunya kekecilan atau kebesaran makanya saya tidak mengiyakan, terakhir sekitar dua bulan yang lalu, dia tiba-tiba menghubungi dan lagi-lagi ingin meminjam uang, tapi saya katakan kondisi saya berbeda saat di bandung, keuangan saya berbeda, sehingga saat ini benar-benar uang ada untuk keperluan hari-hari.

Menjadi kendala dalam pertemanan itu adalah masalah "utang" kita tidak  bisa menjamin teman ini akan mudah mengembalikan uang yang di Pinjam, sudah banyak cerita orang jika uang yang dipinjam sangat sulit dikembalikan sekalipun itu teman akrab bahkan saudara kita, tidak ada jaminan cepat dikembalikan belum lagi jika uang yang dipinjam itu kita sangat membutuhkan saat sekarang. Sebenarnya saya punya beberapa pengalaman juga tentang ini, ketika ada yang meminjam uang yang jumlahnya lumayan 2-3 juta dan saat meminjamkan saya menyampaikan bahwa uang ini akan saya pakai bulan depan dan mereka rata-rata mengiyakan akan mengembalikan, tapi apa dikata, seperti cerita orang-orang bahwa mengembalikan uang yang dipinjam itu sangat sulit, sudah menjadi rahasia umum orang yang berhutang lebih galak dari kita yang meminjamkan ketika ditagih. Sudah cukup ini menjadi pelajaran. uang yang ada untuk saat ini memang belum kita butuhkan, tapi sudah ada agenda di depan yang akan menggunakan uang itu, jangan sampai menjadi terhambat hanya karena uang yang sudah kita persiapkan, dipinjam an tidak kunjung juga dikembalikan disaat kita sangat membutuhkan  bahkan  uangnya sudah beberapa tahun tidak dikembalikan hingga sekarang. Bukanngta pelit, kondisinya tidak memungkin, kalau hanya 50rb hingga 100rb mungkin tak perlu dipinjam dikasihpun bisa saja jika memang uang itu tidak lagi diperlukan dan mungkin saja lagi berlebihan. sekali lagi saya tekankan bukannya pelit tapi untuk jaga-jaga. Dan memang sudah seharusnya kita saling tolong menolong untuk urusan kebaikan bukan memaksakan diri untuk menolong padahal kita lagi benar-benar membutuhkan apalagi yang minta tolong sudah memiliki catatan hitam dalam urusan utang mengulang. cukup jadi pengalaman , itu saja.

Tarakan, 5/3/2020
Pukul : 5.31 sore

04 Maret 2020

Menghapus jejakmu (toxic friends)

Beberapa menit sebelumnya judul ini sudah hampir rampung, begitu mau mempublikasikan, tiba-tiba laptop saya hang dan tidak bisa berfungsi saya berpikir kalau dimatikan "paksa" akan tersimpan seperti pada tulisan sebelumnya karena secara otomatis ketika menulis akan tersimpan sendiri. Setelah bercerita panjang lebar tentang pengalaman saya berteman dengan salah satu teman di bandung, mulai sejak awal berteman hingga tiga tahun kemudian dan terakhir kontak minggu lalu. Berteman dengan dia dengan segala lika-liku permasalahannya dan tidak sedikit cukup memberikan pengaruh terhadap diri saya apalagi kalau bukan pengaruh yang baik, setelah hampir 3 tahun berteman. Sebenarnya sudah  berbaik sangkah dengan segala kondisi dan gejolak yang pernah dia ceritakan dan juga pengalaman yang saya alami sejak berteman. dan ketika saya sudah mengurungkan niat untuk tidak menjalin komunikasi dengan pertimbangan ini dan itu, tiba-tiba dia mengirimkan pesan dan seketika meluluhkan niat saya itu dan pengalaman ini tidak satu dua kali namun sering kali bahkan beberapa kali saya menolak ajakan teman ini tapi lagi-lagi karena sudah sering ditanyakan jadinya hati saya luluh lagi

Sebenarnya ada dua hal yang menjadi pertimbangan bagi saya, yang pertama,  sebenarnya saya tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan permasalahan yang dihadapi teman ini walaupun selama ini kami cukup terbuka dalam hal apa saja termasuk saling berbagi cerita dan memberi solusi jika ada masalah. kalau masalah kesehatan dia sering nanyain dan saya memberikan solusi. Namun dalam pertemanan kami kadang-kadang ada hal yang kurang menyenangkan ketika ada hal yang dia inginkan dan harus dipenuhi kalau tidak dia mengeluarkan kata-kata seolah-olah kita tidak lagi menganggap dia sebagai teman dekat.  Sudah beberapa kali menghindar namun kadang-kadang rasa ibah saya melumpuhkan lokgika saya. Sebenarnya saya juga mendapatkan manfaat dari pertemanan ini, paling tidak saya dapat mengetahui tentang kondisi bandung dan kebiasaan olahraga yang baik, terakhir dia mengabari bergabung dengan komunitas lari di Bandung sehingga ini menjadi bahan obrolan. kedua, teman ini cenderung "egois" dalam beberapa hal , di beberapa kesempatan sering memaksakan apa yang dia inginkan walau kondisi saya saat itu lagi ada kesibukan dan moment ini  sekaligus untuk menjaga kemungkinan saya yang memulai obrolan yang nyeleneh biasanya hal seperti itu dia sukai, jadi harus saya batasi berkomunisi kembali dengan teman ini.

Masalah lain yang muncul dan tidak kalah bikin syock adalah ketika teman ini  telah membatasi kontak w.a, dan sudah bebarapa sering melakukan blokir kontak dengan berbagai alasan, entah apa saya sudah memberikan dampak negetif buat dia hingga nomor saya menjadi salah satu yang dibatasi itu. sebagai solusinya dia memberikan nomor w.a baru namun hanya aktif saat dia masuk jam kerja dan pastinya komunikasi tidak seperti dulu, sisa menunggu balasan disela2 waktu break teman ini, walaupun ada beberapa waktu, pesan dibalas dengan lancar dan obrolan juga seperti biasa jika ada waktu dan juga keinginan dia untuk bercerita atau ngobrol namun masih ada hal yang tidak mengenakkan bahwa teman ini tidak begitu antusias seperti dulu dalam membalas w.a maklum w.a itu disela-sela jam kerja dan pastinya saya sebagai teman tidak mungkin mengganggu ketika sedang bekerja dan di waktu yang bersamaan jika dia masuk kerja pagi berarti bertepatan dengan jam kerja saya, jika siang masih masih sempat ngobrol tapi itu ketika saya menjelang tidur apalagi akhir-akhir ini saya sering tidur awal dan jika dia masuk kerja malam, paling-paling obrolannya pas pagi ketika saya tiba di kantor, walau kadang pas subuh saat menunggu waktu salat dan itu sangat terbatas apalagi jika bertepatan dengan kesibukan pagi. Dari kesemua kesempatan nobrol itu hanya 30% saja dari seluruh pesan yang saya kirim, padahal pesan saya hanya sekedar menanyakan kabar, namun digubris lama, jika dipancing dengan obrolan tertentu baru cepat respon.hehehe

Puncak semua ini adalah ketika saya akan ke bandung minggu lalu dan mengabarinya, mendapatkan respon dia yang baik saya juga ikut senang walaupun sebenarnya ada keinginan untuk tidak memberiatahukan. namun ada pertimbangan lain karena sudah pernah berjanji dan ini merupakan yang ketiga kalinya saya tidak memberitahukan saat di bandung karena berbagai alasan dan pertimbangan. Namun diakhir obrolan ada yang mengganjal buat dia dan kayaknya membuat dia tidak nyaman ketika saya menyampaikan kalau bisa nomor saya yang diblokir dibuka untuk sementara biar enak ngobrolnya apalagi saat itu tidak bertepatan dengan jam masuk kerja dia, w.a saya tidak dibalas, besoknya saat hari H saya juga memberikan pesan, lagi-lagi tidak ada respon dan malamnya saya coba miscall nomor dia yang aktif, tapi tidak ada respon balik hingga akhirnya saya tidak berharap lagi dan lebih mengutamakan apa yang harus saya bereskan selama di bandung. Besok paginya saya langsung menuju Gazibu untu lari pagi, dan setelah 3 jam, teparnya jam 9 lewat saya balik ke penginapan dan melihat ada pesan dia masuk, saya balas dan memberitahukan saya ada di gazibu dan baru membuka hp, namun sampai tulisan ini dibuat tidak ada tanggapan dan respon sama sekali.

Saya berpikir positif, mungkin dia ada pertimbangan, dan saya juga harus mempertimbangan dari sisi saya sendiri, saya tidak ingin tergantung kembali dengan obrolan teman ini, dan saya juga harus membiasakan diri kalau onbrolan kami tidak seenak dulu. Ini pertimbangan juga dari sisi teman karena teman ini sempat cerita dengan gejolak yang pernah dia rasakan, kecelakaan dan mengalami saraf terjepit beberapa bulan kemudian, tidak bisa berkendara seperti dulu walau bisa bawa mobil namun pertimbangan kondisi bandung yang macet sehingga lebih banyak waktu terbuang di jalan. demikian juga saya, saya harus menjaga jarak dengan teman ini dan mencoba tidak lagi membangun komunikasi dengan berbagai pertimbangan di atas, biarlah apa yang sudah terjadi selama ini dalam pertemanan kami hanya menjadi kenangan bahwa kami pernah akrab bahkan sudah sebagai saudara, saling berbagi informasi dan saling memberi support. Saya juga tidak ingin terlalu jauh terlibat dengan permasalahan teman ini dan ada satu hal yang mungkin akan menjadi pertimbangan, teman ini memiliki persepsi yang berbeda dan agak santai, kita khawatir yang terlalu jauh tentang kondisi dia malah dia merasa biasa-biasa saja :) hehehe ini sempat bikin syock saat dia menyampaikan ini dan orangnya sebenarnya bawaannya santai namun dalam beberapa hal agak kurang pas dengan diri saya. selama ini saya cenderung "lunak" tidak bisa mengeluarkan sikap keras, entah apa yang saya rasakan, saya tidak bisa marah, paling-paling menghapus kontak tapi tidak lama mencari kembali kontak yang pernah dihapus memalui screenshoot kontak dia dan menghubungi lagi wkwkwkwkwkw 

Dalam pertemanan sebaiknya ada hal positif yang selalu dijunjung, jika selama ini sudah tidak seperti dulu komunikasinya, sudah tidak lagi menganggap penting pertemanan misalnya dengan tidak memberikan informasi atau klarifikasi pesan yang pernah masuk, berarti sudah tidak ada saling menghargai dalam pertemanan, terus apakah kita harus mempertahankan?? Beberapa kali sempat ingin bersikap tegas namun tidak lama kemudian pesan teman ini masuk dan sektikapun sikap keras saya itu melunak walau akhirnya teman ini kembali ke siklus dia, tidak kasih kabar, mencari hanya karena pengen sesuatu dan jika dihubungi pasti pembicaraannya menjurus ke hal-hal yang kurang enak untuk di bahas. entalah, sampai berapa lama dia menahan diri untuk mengklarifikasi kejadian kemarin atau dia merasa biasa-biasa saja tanpa merasa "bersalah" karena sudah janjian??? kalau dia memang sebagai teman yang baik seperti selama ini dikenal yang kadang juga memberi klarifikasi jika ada hal yang bisa menimbulkan masalah, paling-paling berkaitan lagi dengan gejolak dalam diri dia, entahlah, saya menantikan saja niat baik dia, kalaupun tidak ada, tidak jadi masalah, kalaupun ada syukur-syukur dan sebagai konsekuensi saya menghapus semua jejak obralan dan kontak di hape saya :)

Sebagai penekanan, saya belajar mencoba melupakan kalau saya pernah menganggap dia seperti saudara dan dia juga pernah berkata semacam mendapatkan sosok kakak yang menyebabkan hati saya luluh dan tidak tegaan, tapi untuk kali ini, izinkan saya untuk bersikap tegas demi kebaikan saya sendiri dan juga kebaikan dia dengan segala permasalahan dan gejolak serta pertimbangan dia, tapi satu hal yang harus saya ingat bahwa dia tipekal orang yang santai, apa yang kita pikirkan tentang kondisi dia, dia merasa aman-aman dan biasa-biasa aja sehingga yang capeh kita sendiri dianya enjoy-enjoy saja.. wkwkwkwkwkw apeessss... ya uda perlahan-lahan dengan bergulirnya waktu jejak-jejak teman ini akan dihapus perlahan-lahan. sepert yang sudah saya lakukan ada beberapa teman, saat ini semakin jelas, siapa saja teman yang perlu dipertahankan karena memberikan faedah, ada simbiosis mutualisme dan ada kebaikan dalam pertemanan, yang hanya mencari karena ada keperluan apalagi masalah pinjam dan meminjam uang, tidak pernah membangun komunikasi walau hanya berbasa basi sudah saatnya dihapus dalam list kontak apalagi yang dapat memberikan efek yang kurang baik, meberikan toxic, menjadi racun dalam pertemanan, bisa menghancurkan diri kita, bisa mengubur semua impian-impian karena salah memilih teman.. dan akhirnya tulisan ini berujung pada kesimpulan, akhirnya saya punya alasan untuk tidak kembali melanjutkan komunikasi yang selama ini sudah terjalin namun unfaedah, lebih untuk menghilangkan dahaga dunia dan tidak lebih itu saja.... 

Tarakan, 4/3/2020
Pukul : 6.13 sore

Teman lagi capeh, jangan (di)paksa ;)

Dua pengalaman yang menjadi pelajaran penting untuk kedepannya, apalagi dalam hal pertemanan, walaupun sudah janjian dan terlebih karena niat baik saya untuk "mentraktir" pada akhirnya kita mendapatkan respon yang kurang "pas" kalau tidak mengenakkan adalah sedikit tapi yang nampak di depan mata kita adalah kelelahan yang sangat sehingga obrolan menjadi datar dan garing, untungnya teman ini masih meladenin dan masih mau menepati janji, saya saking semangatnya sampai lupa bila teman habis dalam perjalanan luar kota, dan istrahat sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaan. Anehnya lagi, saya baru ngeh ketika berada dalam posisi yang sama yaitu habis melakukan perjalanan luar kota dan begitu tiba, istrahat sebentar dan lanjut dengan pekerjaan di kantor, kebayang begitu capehnya, ada tuntutan ini dan itu dan bahkan rasanya menjadi "sensitif" mudah marah dengan hal-hal yang sebenarnya sepele namun karena dalam kondisi lelah saya menganggapnya menjadi hal yang serius. Nyali begitu besar untuk terus beraktifitas, namun kondisi fisik yang kelelahan dan butuh istrahat atau tidur, untungnya masih bisa diantipasi dengan mengkonsumsi vitamin, konsumsi makanan hangat, banyak minum dan menghindari gorengan.

Cerita pertama, baru saja terjadi minggu lalu, ketika mampir di salah satu kota di jawa tengah, saya sudah janjian sama teman, namun cukup delematis ketika hari pertama di Jogjakarta, karena sahabat yang satu ini tiba-tiba ada tugas di jakarta, bertepatan saya tiba di Jogjakarta dan diapun baru tiba di jakarta, saat saya konfirmasi dan jujur agak segan menanyakan kepastian dia balik, hari kedua belum ada kepastian dan  hingga hari ketiga, itupun menjelang sore baru bisa mengabarkan kalau malamnya akan balik dan senangnya luarbiasa, akhirnya bisa ketemu, setelah 6 bulan. Sayapun harus segera memesan tiket kereta, alhamdulillah dapat. Kabar dari teman jam 2 dini hari baru tiba di rumah. saya melanjutkan perjalanan jam 7 pagi dan pas lagi shalat jum'at saya tiba dan saya menunggu teman di stasiun, tiba-tiba dia mengabarkan sudah ada di stasiun, di antar di tempat penginapan, istrahat sejenak dan kami mencari makan siang dengan menu andalah sate kambing :) walau akhirnya tempat ini tidak direkomendasikan kembali sama sahabat ini. Puas makan, perjalanan dilanjutkan ke pantai dan sempat nyantai-nyantai disana dengan suasana pantai dan ditemani gorengan tempe mandoang dan tahu goreng khas disana, sebelum balik kami mampir ke alun-alun dan mesjid agung yang tidak terlalu jauh dari tempat penginapan. Sahabat pamit dan saya istrahat di penginapan. Sore hingga malam hari hujan, sebenarnya dalam hati berharap teman ini kembali ngajak jalan untuk nyari makan malam (mumpung disini) hehehe, namun melihat notifikasinya terakhir aktif jam 10 malam dan sebelumnya dia mengabari kalau akan ke rumah sakit. Sampai larut ga ada kabar akhirnya saya mencari makan disekitaran alun-alun. pagi-pagi berharap masih sempat diajak kembali mencari sarapan sebelum saya menuju stasiun, tiba-tiba dia datang 1.5 jam sebelum keberangkatan, dan mengabarkan kalau semalam begitu lelah hingga tertidur dan baru bisa menemui pagi ini dan yang mengejutkan dia membawakan sarapan dan membawa buah tangan untuk dibawa ke Tarakan :)

Cerita kedua tentang teman satu kos di Bandung, usianya masih muda, kalau tidak salah umurnya sekitar 23 tahun tapi sudah bekerja, karena posisi kamar dia persis depan kamar jadi memungkinkan untuk sering ngobrol dan selama ini nyambung saja walau usia tidak menjadi penghalang untuk menyambungkan obrolan dan tidak ada kesan saya harus menggurui karena merasa "tua" :)  Selepas saya kembali ke tarakan, kalau ada tugas / kegiatan di Bandung, biasanya saya mampir di Kosan lama dan kalau memungkinkan saya menitip atau istrahat sejenak di kamar teman sekos ini namun dalam beberapa kali malah saya istrahatnya di kamar yang biasa digunakan bapak kosan kalau kebetulan beliaunya lagi ada tugas diluar kota dan kebetulan kamar kosong. Pada suatu waktu ada kegiatan di Jakarta, pas di waktu yang bersamaan teman ini ada kegiatan di jogjakarta, hari itu sore saya tiba di Bandung sementara teman ini tiba besok paginya. Karena sudah janji mau mentraktir makan surabi di sore harinya, selepas pulang kantor teman ini istrahat dan tertidur dan sekitar jam 5 saya menawarkan untuk segera ke warung surabi, lumayan tempatnya bila dari kosan, tanpa berpikir lebih jauh saya menyampaikan kalau shalat maghribnya nanti di dekat-dekat sana, karena alasannya kalau pergi habis mabhrib takut waktunya sangat sempit karena saya harus segera ke jakarta. Saat tiba di warung surabim teman ini agak cool, dan gak banyak ngomong dan dia menyampaikan kalau masih lelah sehabis perjalanan di Jogja. Entah yang ada dalam pikiran saya mungkinkah karena sudah menganggap terlalu dekat sehingga saya tidak terlalu pekah dengan apa yang sedang dirasakan teman,. mungkin teman ini ingin cepat-cepat beres dan kembali ke kosan. saat kami minta fotoin sama pelayan disana, hasil foto teman ini masih menunjukkan wajah yang agak lelah, sesudah makanan beres dan saya memesan untuk dibawa pulang, saya melihat respon dan kondisi teman ini sangat kelelahan dan dia langsung masuk makar begitu kami tiba di kosan. Rasa tidak enak dalam diri saya karena sudah "memaksanakan" untuk kami jalan, seharusnya saya lebih peka dengan kondisi lelah teman ini :)

Menjadi pelajaran penting, sekalipun niat baik untuk ngajak  teman tapi kedepannya saya harus lebih peka lagi dan benar-benar meyakinkan kepada teman apakah dia tidak ada halangan atau ada masalah bila dalam kondisi lelah seperti itu mau diajak untuk makan atau jalan,  apa sebaiknya dia tidak istrahat atau kalau mau makan, atau jika memungkinkan, tempat yang dipilih yang dekat saja dan saya tidak boleh memaksakan keinginan saya hanya karena pengen makan ditempat yang disukai sehingga mengabaikan kondisi teman. Saya harus benar-benar menjadikan ini sebagai pelajaran agar kedepannya rasa tidak enak ini tidak muncul lagi dan paling utama jangan sampai hanya karena kelalaian seperti ini menjadi pemicu kerenggangan dalam persahabatan. semoga tidak terulang di kemudian waktu


Tarakan, 4/3/2020
Pukul : 1.10 siang

01 Maret 2020

Halo Maret

Tulisan awal bulan ini menjadi begitu istimewa, dengan menceritakan perjalanan kemarin dan sore ini.  Menutup rangkaian perjalanan ala-ala saya :) setelah di jogja dan berakhir di Bandung. Kegiatan di bandung hanya sekedar menyelesaikan  beberapa keperluan, keperluan yang sebenarnya bisa dilakukan di tarakan, misalnya perbaiki keyboard laptop, beli sepatu running, cashan laptop tosiba, kabel penghubung /cashan hp. Namun ada beberapa keperluan lain yang tidak ada di tarakan misalnya Cash hp blackberry arora,.cash hp samsung Mega 1 keluaran tahun 2013 :) kemudian ada keperluan untuk beli parfum. 

Perjalanan ke Bandung via kereta dan kemarin tiba sekitar jam 14.20, keretanya lumayan "goyang" serasa menaiki perahu dengan ombak sedang.. Atau kira2 kayak lagi di speatboat..di tarakan :) namun perjalanan cukup menyenangkan dengan pemandangan sawah yang hijau dan cuaca cukup cerah kemarin. Ada kejadian yang tidak diduga saat kereta berhenti di Cirebon, dan saat itu sedang pergantian masinin dan berhentinya sekitar 20 menitan. Sambil menunggu saya meranjak ke pintu gerbong hanya sekadar selfie dan mau mengirimkan pesan ke teman kalau lagi disitu dan belum bisa mampir. Belum puas foto di gerbong saya turun dari kereta dan berfoto di sisi apron,.saat foto saya lihat di camera ada masinisnya jug ikut senyum2.. Jd sekalian saya ajak wefie..:). Begitu kembali di tempat duduk dan melihat hasil foto barusan, betapa kagetnya saat lihat foto di pintu gerbang tadi sang masinis juga ikut tersenyum di foto :) hehehe

Tiba di hotel, istrahat sejenak kemudian mandi, mau ke parfum collection yang ga terlalu jauh dari hotel, namun sebelumnya mampir makan siang yang tertunda di warung ibu imas versi originalnya (di jalan depan Dinas pendidikan Jabar), kenapa origynal..karena yang terkenal sekarang itu ibu Imas yang punya banyak cabang tidak jauh dari Jogja Kepatihan / Alun2 Bandung. Lanjut beli parfum, tiba disana ramai banget dan sekarang pakai nomor antrian, saya dapat nomor antrian 360 dan masih ada lagi sekitar 40 antrian. Saya putuskan untuk tidak menunggu, lanjut ke BEC via gojek untuk banyak keperluan :) setelah membeli charger laptop Toshiba yang sudah uzur dan ini kali ke3 membeli charger, dan saya konsulkan keyboard laptop istri disitu, kebetulan di toko yang sama saya mengganti keyboard sekitar 4 bulan yang lalu, dan lagi lagi harus di ganti, dikasih harga 150rb atau 50% dari harga normalnya.

Sambil menunggu kelarnya keyboard nanti setelah shalat maghrib, saya mencoba ke sportstasion untuk melihat sepatu running, pas lagi promo, begitu melihat sepatu skechers khusus untuk running, modelny begitu melumpuhkan logika :D terlintas di kepala "sayang kalau terus-terus dipake bisa cepat rusak" hehehe belajar dari pengalaman pakai sepatu merek yang sama, sehingga memaksa saya harus mencari sepatu cadangan yang harganya di bawahnya.. Setelah bingung dengan banyaknya pilihan, belum lagi masih galau antara mau ambil sepatu pertama tadi atau tidak, tiba-tiba teringat dengan timeline coach runner di IG "mending menyesal karena sudah beli, dari pada menyesal karena tidak beli" Begitu dapat sepatu running cadangan yang harganya pas dan modelnya berbeda dengan sepatu pertama, dengan bismillah kedua sepatu itu saya beli, biarlah rugi kan sepatutnya pasti dipake :) kalau sudah di Tarakan sulit mencari sepatu dengan kualitas sama dengan harga yang lumayan, toh ke bandung juga belum tentu bisa setiap saat :)

Laptop beres, sepatu sudah, lanjut cari2 cash hp, akhirnya ada juga walau harus menanyai di beberapa tokoh maklum hp lama dan jadul, tat kala orang2 dengan gawai merek2 terkenal saya masih setia dengan hp samsung mega1 dan blackberry arora, sejauh saya pake hp blackberry itu belum pernah ketemu orang yang sama gunakan :) maklum masa Jayanya sudah lenyap dengan hadirnya hp tipe android..beres semua saya ke kosan di jalan cibarengkok untuk bersilaturahmi  dengan pak kos dan keluarga serta beberapa teman yang masih Kos disitu, alhamdulillah mereka ada semua dan ngobrol seputar kabar dan kesibukan teman-teman yang pernah kos sebelumnya. Obrolan selesai saya memutuskan balik ke hotel dan menyiapkan tenaga untuk rencana running besok. Di perjalanan pulang ke hotel sempat ngobrol dengan penjual pulsa langganan dan penjual bubur langganan :) sekaligus membeli..hehe

Subuh bangun, lanjutkan dengan running star dari jalan layang surapati, lanjut ke track jogging gazibu, lumayan bisa lari 12 K, pace rata2 6.15 durasa 75 menit. Lanjut belanja2 dipasar tumpah, setelah mendapatkan semua keperluan pulang ke hotel untuk siap2 cek out dan packing2 barang dan saat itu saya ke kosan untuk membawa sebagian barang dan seperti biasa menyempatkan diri mencuci baju yang tadi basah karena keringat saat running. Kembali ke hotel mampir ke parfum collection. Alhamdulillah semua keperluan di Bandung sudah beres, apa yang dicari sudah ada semua, packing2pun dimulai dan jam 12 kurang 10 menit saya cek out dan lanjut menuju cibarengkok dan menpacking kembali barang yang tersisa :) saat tulisan ini dibuat saya sudah berada di hotel De Batara di sutlle Xtran Bandung menuju Soetta, dan saat memasang tadi lumayan deg2an karena sisa 1 saat itupun di jam 17.30. Alhamdulillah dapat dengan pesan via web. Semoga perjalanan balik ke tarakan berjalan lancar, perjalanan menuju jakarta lancar dan perjalanan Jakarta tarakan juga lancar, dari bandara ke rumah dan rumah kembali ke kampus.. InsyaAllah.. Aamiin

Bandung, 1 Maret 2020
Pukul : 5.21 sore menunggu panggilan naik xtran:)