16 Oktober 2008

Hari yang Fitri yang Telah Berlalu

Hari ini, bertepatan dengan tanggal 16 oktober 2008, menandakan bahwa hari yang fitri telah 2 minggu berlalu. Walaupun sudah berlalu, namun tidak ada salahnya melihat hal penting pada hari yang fitri tersebut. Paling tidak ada dua hal yang penting yakni fenomena mudik dan menjaga silatirahmi dengan saling memaafkan.

Mudik..
Hampir setiap orang pernah mengalami namanya mudik. Fenomena tahunan ini menjadi pusat perhatian banyak orang. Bahkan sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Bahkan banyak intelektual melihat mudik dari segi keilmiahan. Misalnya saja Nurchalis Madjid (alm)atau lebih dikenal dengan caknur melihat mudik merupakan panggilan ruhaniah manusia. Manusia merasa rindu dengan asalnya. Orang melakukan mudik karena rindu dengan kampung halaman, tempat lahir, karena suasana kampung bisa memberikan ketentraman (terutama batin)yang mana kita bertemu orang tua, sanak saudara. sehingga mengabaikan segala macam resiko yang mungkin saja bisa terjadi, orang rela berdesak-desakan di stasiun, antrean yang panjang di loket kartis/tiket, menjalani perjalanan jauh, semua itu dilakukan untuk bisa mudik / pulang kampung.
Caknur melihat bahwa mudik sesungguhnya adalah kita pulang ke asal kita yang sebenarnya, Ilahi. Manusia diciptakan dari Ruh Allah. Secara fitrawi ada panggilan manusia untuk pulang atau merindukan asal usulnya yang abadi yakni Allah SWT.

Menjaga Silaturahmi
Banyak orang mempergunakan moment hari yang fitri dengan menjaga silaturahmi; ada yang menyambung silaturahmi dengan sanak saudara yang sudah lama tidak terjalin, ada pula yang memperbaiki silaturahmi yang pernah putus / bermasalah. Namun semua itu tidak bisa terjalin pabila tidak dibukanya pintu maaf sesama kita. Memaafkan kesalahan orang lain memang tidaklah mudah. Namun karena mengingat ketulusan orang meminta maaf dan keikhlasan kita dalam memaafkan kesalahan orang lain, menjadi pendobrak kebesaran jiwa kita. Namun ada hal perlu kita catat bahwa dalam term saling memaafkan ada ungkapan forgive dan forget ; memaafkan dan melupakan.Sekalipun kita terkadang tersakiti dengan kesalahan yang sama, namun kebesaran hati kita untuk tidak mengingatnya sehingga tidak ada yang namanya dendam yang selalu berputar bagai rantai setan yang tak berujung.

Mudik dan menjaga silaturahmi hanyalah sebagian kecil dari perayaan kemenangan kita di hari yng fitri. Tanggungjawab kita adalah sejauhmana kita bisa menerapkan nilai-nilai ramadhan yang telah kita pupuk selama sebulan untuk diterapkan pada 11 bulan setelahnya. Apakah mempunyai implikasi positif terhadap diri kita atau malah sebaliknya justru penurunan? ataukah jangang sampai kita menjalankan hanya sebagai rutinitas belaka. Pada akhirnya, semuanya berpulang pada pribadi kita masing-masing, karena kitalah penentunya.
Namun satu hal yang menjadi renungan adalah bekal apa yang kita miliki, yang akan dipertanggungjawabkan ketika nanti, kita kembali kepada Nya?
Kebaikan yang kita lakukan, kita sendiri yang akan merasakan manfaatnya sebaliknya kemudhoratan akan menghampiri bila kita menyia-nyiakan hidup kita tanpa ada sesuatu yang bermanfaat. Semoga saja kita termasuk dalam golongan orang yang beruntung bukan golongan orang yang merugi. Amien ya rabban alamin