29 April 2018

Tak Berhenti Berharap

Ada sebuah ungkapan " selalu ada harapan untuk orang yang berdoa dan selalu ada jalan bagi orang berusaha", mungkin ini yang menjadi pegangan beberapa bulan terakhir ini tat kala menyelesaikan tugas akhir di kampus. Dulu saya menentukan jalan hanya bermodal keyakinan, yakin akan apa yang saya lakukan kelak bermodal data seadanya dan juga reverensi yang cukup kuat. Semangat inilah yang seolah menguatkan saya bahwa jalan (baca: riset) ini tepat untuk saya. Bukan berarti mengabaikan saran dan masukan orang disekitar saya (pembahas dan penguji), entah apa yang menjadi spirit buat saya sehingga rasa yakin ini begitu kuat, apalagi dengan sebuah prinsip "segala sesuatu pasti ada tantangan dan masalah tersendiri"
Beriring jalannya waktu kendala-kendala itu mulai terasa, rasa mundur dan resa begitu kuat menyapa, bertanya dalam diri, apakah saya mampu melewati ini semua, bagaimana kalo harapan saya tidak seperti kenyataan yang saya alami saat ini? lagi-lagi rasa down ini begitu kuat mengampiri. Beruntungnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang memberikan support (seperti dalam tulisan sebelumnya : support system). Namun sebesar apapun support yang dapatkan apabila saya tidak menyemangati diri sendiri maka semua akan sia-sia bagaikan buih di lautan yang akan lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Seperti apa yang akan terjadi kelak kita tidak bisa memprediksinya karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan untuk ditebak. Saat ini hanya bisa berdoa dan berikhtiar apapun hasilnya itulah yang terbaik. Hanya itu yang saat ini menjadi harapan dan harus benar-benar ditumbuhkan dalam diri tentang apa yang terjadi kelak dan berharap masih sesuai dengan harapan walaupun dalam diri berkata " jika memang ini terbaik untukku, semoga saya ikhlas menerima, saya harus menghargai segala jerih payah usaha dan doa saya yang selama ini. Jadi ingat sebuah ungkapan :
"kita tidak bisa merubah arah angin, tetapi kita bisa mengatur posisi layar kita agar tetap pada arah tujuan kita"
 seperti inilah kondisinya, ketika saya tidak bisa memprediksi situasi dan kondisi yang terjadi esok namun saya akan berusaha sekuat mungkin untuk menghadapi situasi dan kondisi itu agar tetap survive dan fight

Bandung, 29 April 2018
Pukul : 17. 47  

23 April 2018

Izinkan Aku Menuruti Hati

Masih seputar hati,. Diri kitalah yang mengetahui seperti apa kita sebenarnya dan berasal dari perenungan yang dalam atas diri kita dan input(saran, ocehan, tanggapan) dari orang-orang disekitar kita. Secara pribadi saya dibiasakan dengan hal-hal yang saya lakukan menurut saya baik namun tidak serta merta saya menuruti semuanya (baca : egois) namun terkadang ada hal yang harus saya ikuti hanya untuk berdamai dengan diri sendiri, saya mau menjadi sahabat bagi diri saya sendiri. Setiap kali kita melangkah, setiap kali kita mengambil keputusan, diri kitalah yang paling paham sejauh mana batas kemampuan dan keadaan real kita saat ini namun untuk bisa mencapai titik ini sebaiknya kita perlu mengenali siapa seperti diri kita, apa keinginannya dan apa yang dia harapkan. Walau tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa, kata kunci adalah "nyaman" ketika kita melakukan sesuatu kita merasa nyaman untuk melakukan dan ada kepuasan disitu dan orang lain tidak akan mudah menilai seperti apa yang kita rasakan. 
Seseringlah bertanya pada diri, "hati" apa yang engkau inginkan dari ku? apa yang engkau harapkan dariku? apakah aku sudah memiliki karakter seperti yang engkau inginkan?? tentunya ini dilakukan disaat kita lg khusuh berdzikir sesaat ketika selesai shalat ditunaikan, sesaat ketika kita lg menjadi bagian yang menyatu dengan sang Khaliq. Disaat2 syahdu seperti ini  kita, diri kita dan bimbingan sang khaliq mengarahkan kemana dan seperti apa yang harus kita putuskan dan lakukan
Sebulan ini, saya baru mau belajar untuk kembali mengingat-ingat apa sebenarnya yang saya inginkan, terlintas berpikir apakah yang saya inginkan merupakan apa yang saya butuhkan. Saya mencoba menyingkirkan butiran debu yang selama ini menutupi diri, menutupi kata hati yang bergejolak, saya mencoba mencari lebih dalam apa yang sebenarnya yang mengarahkan saya pada diri yang sesungguhnya, beberapa hari ini saya menemukan tulisan Tere Liye yang merupakan nasehat yang diajarkan oleh orangtuanya dan saya kira sangat pas, (nasehatnya : Jangan pernah membenci siapapun sejahat apapun orang tersebut kepada kita; Hiduplah bersahaja, sederhana-tidak peduli sebanyak apapun harta yang kita miliki; senantiasa berpikir positif sebesar apapun beban kehidupan yang harus kita lewati; banyak berbagi dan memberi- meskipun kita menerima sedikit sekali dari kehidupan ini; menjaga hubungan- bahkan dengan orang yang melupakan kita; Ringan memaafkan- kepada orang yang khianat sekalipun kepada kita; Terakhir selalu mendoakan yang terbaik bagi orang-orang yang kita sayangi.
Nasehat begitu mengena dan persis dengan yang saya harapkan, walau sesekali penolakan dalam diri juga begitu besar, mungkinkah itu "suara lain" yang sengaja ingin membelokkan diri pada jalan yang lain, jalan yang jauh dari yang diharapkan. Hampir semua point itu mengisyaratkan karakter diri yang tersembunyi selama ini, apakah ini jalan yang harus saya lakukan untuk menemukan dan "memeluk erat2" diri yang selama ini tertutupi dan  "hilang" karena keegoisan. Bukankah itu merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, sebagai mana ungkapan " siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya"

Bandung, 23 April 2018
Pukul : 10.50 AM 

22 April 2018

Belajar dari Pengalaman

Kata orang bijak pengalaman adalah guru yang terbaik. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa apa yang kita alami saat ini adalah sudah dialami lebih dulu oleh orang2 sebelum kita sehingga apa yang mereka alami apa yang mereka telah lakukan bahkan kesalahan mereka perbuat menjadi pelajaran buat kita. Demikian pula dalam agama, dalam kajian yang pernah diikuti beberapa saat yang lalu, ustad menyampaikan ayat tentang bagaimana orang-orang dulu diberikan azab sehingga menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sekarang. 
Sebenarnya uraian di atas hanya sebuah intro dari apa yang hendak saya mau sampaikan (entah nyambung atau kaga :) sayaingin bercerita tentang pengalaman seminggu yang lalu. Ketika saya sudah meniatkan membantu teman untuk mencarikan "barang" yang sebelumnya pernah dia ungkapkan untuk beli dalam beberapa kali pertemuan namun selalu kehabisan dan terakhir 2 minggu yang lalu saat ketemu juga mengatakan akan membelinya dan ketika berada di penjualnya juga kehabisan. terakhir saya menawarkan untuk membelinya dan ternyata juga senasib dengan sebelumnya kehabisan. Hingga tibalah waktu yang kebetulan bersamaan dengan jadwal untuk lari pagi dan mampir dan alhamdulillah barangnya ada, memang penuh perjuangan.. hehe singkat cerita saya memberitahukan ke teman itu kalo ini barangnya sudah ada dan ternyata si teman ini lagi berada diluar kota :(  saya berharap besok dia balik ke Bandung biar barangnya bisa diambil (baca : cake/bolu). Uda bela2in dititipin dikulkas ibu kos, karena teman ini lagi berada di luar Bandung, seharian hanya komunikasi di awal ga ada respon lagi setelah sempat terlintas dalam diri "ini barang memang terlihat biasa2 aja, mungkin bagi dia tidaklah seberapa bahkan dia bisa beli dengan cake lain yang lebih mahal, tapi sudahlah saya berpikir tidak menduga2.. sampailah keesokan harinya, siang tiba2 dia w.a (setelah 1x24 jam) nanyain itu bolu :) saya jawab masih ada, dan dijawab mohon maaf slow respon karena banyak kerjaan dan saya bilang gpp, berarti itu cake saya makan sama teman2 saja. memang benar cake itu dibagikan sama ibu kos, sama tetangga penjual makanan, sama teman kebetulan lagi ketemu siangnya dan sama teman yang membantu penelitian saya :)   panjang juga ceritanya ;D
secara pribadi saya gak permasalahkan kejadian diatas, toh niat baik apalagi untuk teman, namun yang membuat saya berhenti sejenak berpikir, ada apa dengan kejadian ini kenapa begitu terasa... memflashback kebelakang barulah saya tersadarkan, tepat 4 hari yang lalu saya mengikuti ta'lim dari ust. Hanan Attaki di mesjid trans studio mall Bandung dan yang dibahas adalah jenis-jenis ujian kesabaran dan salah satunya yang dibahas adalah ujian zulzilla atau ujian kesabaran. Pas kenah banget... sekedar mengingat-ingat untuk pergi ke ta'lim ini tidaklah mudah hari itu bertepatan dengan jadwal lari sore yang biasanya pulang jelang maghrib, uda ngajak teman tapi ada ada halangan dan pas kesananya lumayan macet. ternyata inilah hikmah terbesarnya saya menghadapi sebuah kenyataan beberapa hari setelah ta'lim ini.
Ini ujian kesabaran yang sesungguhnya kita dihadapkan pada kondisi yang sudah kita dengarkan sebelumnya, mungkin tidak langsung tersadarkan mengingat saat itu masih terbawa perasaan (baper :) mungkin saat itu lagi ga enak-enaknya sama teman karena seolah-olah dia tidak menghargai atau bahkan dia gak mau tahu betapa sulitnya mendapatkan cake yang menurut dia "kampungan" (saking kesalnya dia karena beberapa kali kehabisan) sebenarnya dia bisa beli di jalan dengan harga yang ga terlalu jauh tapi pengalaman dia pernah seperti itu dan rasanya lain  dan memang saya sudah mengalaminya dan rasanya agak beda bila beli langsung (tangan pertama), tapi inilah cobaan sebanar-benarnya ketika kita sudah bersungguh-sungguh membantu tapi belum sepenuhnya mendapat respon positif, apakah saya gak ikhlas?? tunggu dulu, sejak awal sudah tidak mengharapkan apa2 sekedar ingin membantu dengan alasan-alasan tadi. pertanyaannya kenapa mau membantu...?  namanya teman, apalagi sempat dia katakan itu akan dikasih  orangtuanya... ya udah itu saja
inilah manfaat langsung ta'lim yang diikuti, manfaat real, kondisi gadiharapkan, bahwa kita dapat melewatinya tanpa memberikan efek negatif, belajar untuk ikhlas, belajar untuk bagaimana menyadarkan diri akan kondisi atau masalah-masalah yang kita hadapi yang ternyata itu bagian dari menguji iman kita. karena iman dan sabar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan (kata ustad) kita tidak akan dikatakan beriman kalo kita belum berhasil melewati ujian-ujian yang mau mengukur sejauh mana kesabaran kita dalam melewatinya, untungnya setelah kejadian ini saya dan teman ga ada efek negatif yang timbul walau merasa gimana :D tp berlangsung lama karena sudah sadar kalo ini rangkajian ujian keimanan diperhadapkan dengan kondisi yang tak terduga dan tidak kita inginkan tapi kita harus hadapi. sisi positif lain adalah bolunya bisa dinikmati oleh orang-orang disekitar kita dan tidak pupus untuk berbuat baik
Semoga Allah SWT selalu menguatkan diri ini ketika berhadapan dengan kondisi2 seperti itu dan bahkan bisa lebih berat lg... walluhu a'alam bishawab

Bandung, 22 April 2018
Pukul  : 10.20 WIB

13 April 2018

Support Sistem

Beberapa hari belakangan ini saya benar-benar direndung rasa tak menentu campur baur terutama masalah penelitian yang sedang saya jalankan. Bagaimana tidak kondisi dilapangan saat ini di luar dugaan awal. sebenarnya kondisi ini sudah diantisipasi sebelumnya dengan saya mengejar waktu ujian proposal lebih awal dengan harapan agar bisa memiliki waktu yang banyak selain itu saya sudah mengantisiapasi dana penelitian dengan menyisihkan uang buku dari LPDP karena penelitian yang saya akan lakukan kemungkinan akan mendapatkan support dana yang tidak begitu besar. Ternyata memang dua kondisi itu benar-benar saya alami dan seharusnya bukan menjadi hal begitu yang saya pikirkan ternyata kondisi realitanya seperti demikian.lantas apakah saya harus benar2 down dengan kondisi seperti ini? tentunya sebagai manusia biasa perasaan itu lumrah ada, namun jangan berlama-lama dalam kondisi seperti ini, cukup merasakan dan lepaskan.

Alhamdulillah, saya dikelilingi yang mensupport dan memberi semangat, Allah SWT mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat yang memberikan dukungan untuk tetap fight kondisi ini, ketika dalam "kesulitan" ada saja bantuan yang datang, tanpa saya sadari kebaikan orang-orang disekitar saya ini sangat berkontribusi mulai dari keluarga,pembimbing, teman kuliah, teman kosan hingga teman jalan. Mereka mengingatkan bahwa semua akan terlewati, jangan lupa untuk doa dan ikhtiar. mungkin ini akan menjadi "charger" hidup saya untuk melewati masa-masa berjuang menyelesaikan tesis tepat waktu. InsyaALLah.. Amin.. Bismillahi rohman ni rohim.. la haula walla quata illah bi llah