27 Juni 2021

Menasehati Diri

Ketika kita melakukan sebuah kesalahan dan kekhilafan, yang yang terpenting adalah kita sadari dengan kesalahan itu dan kita mau mengakui bahwa itu salah. hal yang paling berat adalah ketika kita sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah dan apa yang kita lakukan tidak lah benar. ini menantang diri kita apakah kita bisa menasehati diri kita sebelum orang lain melakukan itu. Memang tidak mudah, karena ini diperlukan kebesaran hati kita untuk jujur dan mengakui kesalahan kita itu. me time menjadi moment yang tepat untuk menasehati diri sendiri, kita membutuhkan perenungan lebih dalam seperti apa yang sudah yang kita lakukan, apa saja dampak yang bisa muncul jika kita tetap melakukan kebiasaan yang kurang baik.

Entah mengapa, kondisi saya dalam 10 hari terakhir, benar-benar drop dan membutuhkan semangat dalam diri sendiri, sebennarnya orang lain tidak banyak mengetahui seperti apa kondisi saya saat ini, karena mereka masih beranggapan semuanya baik-baik saja, hal ini tidak lain karena saya masih keluar seperti biasa, masih bekerja, masih ke mesjid dan masih berolahraga. Walau kondisi saya agak berbeda karena kondisi rumah yang sepi dan ada saja hal pikiran-pikiran yang tidak fokus, jika biasanya pikiran dialihkan karena ada kehadiran anak-anak, namun kali ini benar-benar sepi, hanya ada suara tv dan suara motor yang melintas samping rumah :)

Menasehati diri itu menjadi penting, karena yang lebih paham seperti apa diri kita adalah kita sendiri, ketika kita terlintas keinginan untuk mundur dan  merasa "kalah" namun disaat itupula bisikan untuk menyemangati diri sendiri menjadi kuat, walau sebenarnya lelah namun tidak boleh menyerah, tidak boleh merasa gagal menjadi manusia, karena bagaimanapun ada saja ujian dan masalah yang dihadapi namun jangan sampai membuat kita kalah dengan situasi dan kondisi itu, tetap semangat menghadapi hal-hal yang kita tidak inginkan namun ada dihadapan kita bahkan kita menjadi "aktor" dari kebodohan yang kita lakukan

Tarakan, 27 / 6 / 2021
Pukul   : 9.19 malam

23 Juni 2021

Dirimu Sebenarnya

Kata Ali Bin Abi Thalib 
Dirimu yang sebenarnya adalah yang kamu lakukan disaat tiadda orang melihatmu

Kutipan kata-kata tersebut begitu menyentil, begitu membuat diri termenung, apakah selama ini diri ini menggunakan "topeng" entah apa itu niat dan motivasinya. Namun topeng disini bukan berarti sengaja menampakkan hal-hal yang baik dalam kehidupan demi menutupi niat yang terselubung, ataukah topeng ini untuk menutupi hal-hal yang orang lain tidak ketahui karena itu mengenai kelemahan diri kita dan dari sadar akan kelemahan diri itu kita menjadi lebih jernih dan bijak melihat kehidupan bahwa jika ada orang lain yang berbuat salah dan keliru, kita tidak langsung memvonis dan menyalahkan tanpa memberikan ruang untuk membela diri, kita seolah kita lupa bahwa kita tidak lebih dari orang itu, kita lupa bahwa kita juga melakukan kesalahan yang sama yang sampai saat ini tidak tercium oleh orang lain. 

Dirimu sebenarnya adalah dirimu yang saat ini, ada dihadapanmu, tidak pernah sempurna, karena selalu ada titik lemah yang disembunyikan atau belum nampak. selalu ada celah untuk berbuat salah, dirimu sebenarnya adalah diri yang masih belum menampakkan diri, yang masih samar-samar diantara riak-riak kehidupan disekelilingmu, diri sebenarnya adalah "topeng" yang engkau sembunyikan dengan rapi, topeng yang masih tersembunyi dari pandangan orang lain, topeng ini harus benar-benar dikendalikan jangan sampai mencuat diwaktu yang tidak tepat, disaat-saat kita tidak siap dengan segala "kemunafikan diri" sudahlah, kembalilah ke fitrahmu sebenarnya, jangan pernah menunjukkan dirimu yang tersembunyi itu khalayak ramai, cukup dirimu yang tahu, cukup itu menjadikan penyadaran bahwa kamu masih benar-benar lemah, jangan merasa sempurna dan baik dengan topeng ini, sadarlah bahwa topeng itu merupakan dirimu yang perlu dibenahi bukan untuk menafikan atau mematikan

Tarakan, 23 / 6 / 2021

Pukul   : 6.09 sore

Terjebak

Ibarat sebuah kata, dalam 1 minggu terakshir ini saya terjebak dalam sebuah ilusi yang tak berkesudahan. Sebenarnya sudah lama menghilangkan ilusi ini namun entah mengapa dalam 1 minggu terakhir ini begitu kuat, seolah-olah tidak ingin menyia-nyiakan moment dan situasi yang ada, ilusi ini semakin liar dan bahkan terkadang tak terkendali. entah apa yang saya cari, jika melihat ke belakang inilah yang selama ini mengintai dan menjebak saya, inilah yang selama ini membuat saya jatuh dan terus jatuh ke dalam lubang "dalam dan gelap", sekalipun sudah dengan berbagai cara mengilangkan dan menghindarinya namun laki-laki, sudah cukup lama memang "ilusi" ini begitu menggentayangan, entah apalagi yang harus saya perbuat untuk melawannya selalu ada celah untuk terjatuh, walau diri ini sudah tahu, jatuh terus bangkit, jatuh bagkit lagi, jatuh tetap bangkit hingga lelah ini untuk melawan ilusi ini. Apakah ini tidak lain karena lingkaran pertemanan saya yang keliru? apakah karena saya terlalu jauh melibatkan diri dengan teman yang sebenarnya tidak ada urusannya dengan saya secara pribadi. 

Situasi ini, tidak menghentikan langkah saya untuk tetap mencoba membenahi diri, melawan ilusi, apakah saya perlu mencoba hal lain lagi untuk mengendalikan ilusi ini, atau cukup dengan apa yang ada selama ini hanya memperkuat diri agar tidak terlalu terjebak. memang jebakan ini sangat dekat dengan hawa nafsu membawa pada kesenangan duniawi yang hanya sementara, begitu "apik" dengan menjebak diri ini. Memang tidak mudah mengendalikan, tetap berusaha menguatkan diri, bahwa ini menjadi ujian kehidupan, jangan sampai menjatuhkan diri ini bahwa kita tidak bisa menjadi orang baik dan bener, menjadi orang yang biasa-biasa saja, bukan ini, mungkin ini menjadi ujian apakah kita benar-benar mau berubah menjadi lebih baik. jangan terlalu membela diri dengan slogan "mumpung waktunya tepat dan pas" sudahlah kembali lagi menjadi diri sendiri yang ada saat ini, jangan mudah kembali terjebak dengan rayuan ilusi dengan kalimat-kalimat,  tenang aja ini hanya lewat, tenang aja belum lagi apa-apa, belum terlalu berlebihan, tenang aja ini masih bisa dikendalikan, kapan lagi, sekarang aja, gpp kok ini hanya sementara saja ;( mau sampai kapan? :(  wallahu a'lam bishawab

Tarakan, 23 / 6 / 2021
Pukul   : 5.43 sore

21 Juni 2021

Rumah Sepi

ini menjadi malam ke.4 rumah menjadi sepi ditinggal istri dan anak-anak liburan sekolah di Makassar. untuk zilan dan Rafa, sudah 5 tahun tidak ke makassar sementara atiyah dan aqilah di rentang waktu itu pernah tinggal beberapa bulan di Makassar. Sebenarnya keinginan pulang kampung ini sudah lama diniatkan oleh bundanya anak-anak dan semuanya selalu saja ada hambatan dan gagal untuk pulang kampung. Tepat hari rabu kemarin, ada dapat w.a untuk segera pesankan tiket, uang sudah ada. dengan uang pas untuk beli tiket segera saya eksekusi pesankan di traveloka dan tidak lama kemudian, tiketnya diacc dan siap untuk berangkat. saya berinisiatif membelikan oleh-oleh untuk ibu mertua dan keluarga di kampung, walau jumlahnya tidak seberapa dan membelikan bekal untuk anak-anak makan dalam perjalanan dan harus menyiapkan dana untuk pemeriksaan genose yang jumlahnya tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan test swab antigen. 

begitu malam sabtu, kesunyian rumah begitu terasa, walau sebelumnya anak-anak sudah video call dan mengabarkan kondisinya disana. namun itu tidak berlangsung lama, beda ketika anak-anak ada di rumah, ada saja coletehan, ada saja keributan, ada saja suara yang menangis. suasana rumah menjadi sepi bahkan yang biasanya saya merasa tenang dengan kondisi seperti ini namun  kali ini merasa ada yang kurang, pikiran sudah menjalar kemana-mana, sudah travelling kemana-mana bahkan saya bingung mau ngapain, padahal dalam kondisi seperti biasanya ada saja pekerjaan yang diselesaikan ini malah sebagina pekerjaan tertunda dan tidak berjalan. Moment sepinya rumah ini bisa saya manfaatkan dengan membawa pekerjaan di rumah dan mengerjakan di malam hari untuk mengganti kesibukan saya bermain sosmed atau mendengarkan youtube. banyak hal yang harus dibereskan dan banya hal yang perlu komunikasikan. semoga di waktu-waktu sepinya rumah ini banyak hal positif yang saya selesaikan dan banyak hal baik yang bisa dibagikan. walluhu a'alam bisahawab

Tarakaan, 21 / 6 / 2021
Pukul      : 10.43 malam

yang tak terlihat (dari orang lain)

Yang lebih mengenal siapa sebenarnya  diri kita adalah kita sendiri dan yang sudah pasti adalah Sang Khalik. Ada orang lain yang juga mengenal kita, namun tidak semuanya mengenal kita paling tidak luarnya saja, apalagi jika yang menjadi patokan adalah apa kita nampakkan yang belum tentu mewakili semua tentang diri kita. ada juga orang yang mengenal kita mungkin karena dia teman lama kita yang sudah banyak berinteraksi dengan kita namun lagi-lagi belum sepenuhnya, walaupun ada diantara mereka merupakan teman curhat atau teman berbagi pandangan. lagi-lagi dia hanya mengenal hanya gambaran umumnya saja namun yang lebih detail bahkan yang lebih spesifik dari kita belum diketahuinya. Apalagi untuk saya pribadi, ada sisi yang ternyata saya miliki dan ada sebagian orang tidak percaya. misalnya dibalik seringnya saya berbicara di depan khalayak ramai, saya sebenarnya termasuk dalam tipekal orang pemalu, karena memegang prinsip tidak ada manusia yang sempurna, jika ada kesalahan atau keliru maka disitulah kita memperbaiki diri dan kita tidak akan pernah mengenal apa kelemahan dan kesalahan kita jika kita tidak pernah mencoba menampakkan/menunjukkan. 

belum lagi ada saja kelalaian, kekhilafan dan kesalahan yang kita lakukan. tidak ada orang lain yang melihatnya, Dia yang Maha Melihat tidak pernah lepas sedikitpun dari pengawasan Nya, namun hati benar-benar ditutupi seolah-olah pengasawan dari Nya tidak ada, hawa nafsu menguasai kita hingga melumpuhkan logika dan suara hati yang menjerit. Inilah moment benar-benar keimanan diuji dan iman lagi drop-dropnya, semua yang berkiatan dengan ilmu agama yang pernah didengar, semua seolah-olah sirna. namun satu hal yang selalu teringat, "kembalilah, bertaubatlah, jangan terlalu jauh terlena dengan penguasaan hawa nafsu"  sampai suatu ketika sempat berpikir apakah memang kita ditakdirkan menjadi orang yang salah,, jawabannya adalah tidak,. ini hanya bumbu-bumbu kehidupan, kondisi iman  manusia kadang diatas kadang di bawah, kadang lagi bagus-bagunya kadang lagi ngedrop-dropnya. dan ketika dalam kondisi seperti ini teringat kembali ilmu agama yang pernah diidengar "jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah" menjadi hal yang luarbiasa ketika kita tergelincir dalam kemaksiatan atau kesesatan, menjauhkan cahaya Nya, maka kita kembali, ampunan Allah subhannah wataalah terbuka lebar selama kita memintan dan memonhon Ampunan Allah subhnannah wata'alah. 

Tarakan, 21 / 6 / 2021
Pukul    : 9.57 malam

16 Juni 2021

Tidak Usah "mempermalukan" Orang Lain

Kalimat pada judul di atas itu semacam nasehat dan akhir-akhir, saya dihadapkan orang yang "sok" tahu (maaf bukan maksud kasar), namun tidak bisa menerapkan apa yang disampaikan, cenderung menampakkan sesuatu yang absurd dan lebih tepatnya tidak konsisten. Sebenarnya orang seperti ini banyak dimana-mana entah itu di dunia pekerjaan maupun di dunia sosial ;) entah kenapa sic harus sering bertemu dengan mereka-mereka ini. Namun kita tidak bisa membeda-bedakan  teman namun yang bisa kita lakukan adalah tidak terlalu terpengaruh dengan hal-hal negatif. Untuk menghadapi tipe orang seperti ini harus benar-benar ekstra sabar, begitu ketahuan kedoknya dan apa yang dilakukan selama ini, maka "kelar"lah teman ini. Berhadapan dengan orang seperti ini lebih tepat disebut sebagai orang yang "lupa cermin", tidak bisa mengoreksi diri sendiri, lebih sering menonjolkan image "orang hebat" dan "orang yang banyak tahu". Dalam beberapa kesempatan saya terlibat dalam beberapa perdebatan, dan perdebatan itu di forum resmi seminar online, untungnya saya masih bisa menguasai diri walau saat itu si teman ini masih saja ngotot dan cenderung "menyalahkan" bahkan cenderung tidak mau menerima penjelasan dan lebih cenderung merasa "lebih benar". 

Pada suatu ketika, saya melihat situasi yang menunjukkan "kelemahan" dibalik berkoar-koarnya selama ini. saya menemukan satu titik kelemahan bahwa apa yang disampaikan selama ini hanya "cari panggung"  bahkan untuk hal yang sederhana tidak bisa dia lakukan dan itu merugikan bagi saya. Ingin sebenarnya "show off" dan menunjukkan siapa sebenarnya dia, ingin sekali "menjatuhkan" dan "mempermalukan" ingin rasanya apa yang selama ini saya rasakan, ingin saya kembalikan kedirinya yang "sok tahu" itu :) hehehe ini menulisnya sambil berkoar-koar,. namun dalam hati kecil berbisik, demi apa semua? apa yang ingin diraih dengan melakukan "kejahatan" itu, kalau karena sakit hati, bukan kah sudah dimaafkan dahulu, jika karena beberapa kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, bukankah itu sudah dilewati dan tidak dipermasalahkan lagi, walau sering menghadapi situasi yang mirip-mirip dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Tapi sudahlah, lebih mulia mengingatkan dan menyampaikan apa yang sebenarnya harus dia lakukan dari pada mempermalukan dihadapan banyak orang. Ya sudahlah, bukan urusan saya, dia mau seperti apa, setiap orang yang berhadapan dengan diapun akan memberikan respon sesuai apa yang dia lihat dan apa yang dialami bersama dia dan alangkah jalan yang terbaik adalah mendoakan dia agar dilembutkan hatinya dan dibukakan pandangannya agar bisa melihat segala situasi dan kondisi lebih bijak dan lebih humanis lagi. wallahua'alam bishawab

Tarakan, 16 / 6 / 2021
Pukul   :  6.52 sore

15 Juni 2021

Dilema Niat Kurangi Porsi lari

Akhir Mei lalu, saya berniat untuk mengurangi porsi lari, namun yang terjadi sebaliknya, dalam dua minggu ini malah performa lari saya menunjukkan peningkatan, bahkan ada catatan personal best saya untuk lari 5K dan 10 K dalam minggu lalu sehingga menjadi dilema apakah saya betul-betul mengurangi porsi lari atau seperti apa nantinya, semua hanya mengikuti waktu. Sebagai permulaan, saya menutup akhir bulan mei dengan catatan yang cukup apik berlari dengan jarak 250 K, saya memulai lari di bulan Juni, di hari selasa yang bertepatan dengan libur nasional, ini untuk pertama kalinya karena senin sore sebelumnya saya sudah lari, dan ketika berlari dengan pace easy, ternyata cukup memberikan efek "enak", lari hari rabu seperti biasanya interval dan melakukan beberapa latihan ABC Dril, A Skip, B Skip, C Skip dan saya juga memulai untuk kembali melakukan plank untuk menguatkan otot bahu dan pinggang. Anehnya Jum'at yang biasa saya lakukan dengan easy run karena sabtu harus longrun, malah sudah dua jum'at saya lakukan dengan lari cepat 10 :) alhamdulillah dapat waktu kurang 1 jam atau 56 menit tepatnya, ini menjadi personal best saya selama ini saya hanya bisa mendapatkan 58 menit untuk 10 K itupun sudah cukup lama, ada sekitar 3-4 bulan yang lalu, begitu mengulangi jum'at lalu, masih mendapatkan time kurang 60 menit atau 57 menit, lebih lambat 0,7 menit, sebenarnya ini sudah lumayan, mengingat saya beberapa kali mengalami jika sudah performa maksimal dengan berlalu kurang darri 30 menit untuk 5 K dan kurang dari 60 menit untuk 10  K biasanya untuk lari berikutnya langsung drop dan kembali menjadi pace keong :)

Memang menjadi dilema, ketika benar-benar ingin menurunkan porsi lari, malah saya disuguhkan dengan pencapaian-pencapian seperti ini, belum lagi kombinasi latihan yang apik dalam sepekan ini, hanya hari kamis saya benar-benar off, itupun dilakukakan walking, tidak benar-benar berhenti bergerak, Longrun tidak muluk-muluk harus mencapai 21K, akhir-akhirnya saya mencoba konsisten dengan berlari 30-35% dari total jarak hari mingguan, jika saya berlari sekitar 50-60 K dalam perpekan maka longrun saya diantara jarak 15-18 K, inipun sudah menambah jadwal lari di hari minggu dengan easyrun. memang kombinas lari cepat, lari lambat dan latihan-latihan lain cukup memberikan efek positif, tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita konsisten dengan latihan itu, jangan memaksakan kondisi hanya karena terpancing dengan orang lain, kita memiliki target sendiri-sendiri, yang pasti kita sudah tahu sampai batas mana kemampuan kita, kapan harus berhenti dan kapan harus benar-benar lanjut. kita harus benar-benar mampu mengendalikan diri, jika lagi onfire dan merasa masih fine-fine saja padahal durasi dan time sudah melewati target kita, jangan hanya karena ambisi kita melupakan potensi cedera yang ada, ingatlah semangat lari is happy, saya berlari maka saya bahagia :)

Tarakan, 15 / 6 / 2021
pukul    : 4.30 sore

Godaan untuk ikhlas

Senin kemarin saya menyelesaikan pembayaran untuk ikut kurban bersama sebesar 2,5jt di mesjid depan tempat kerja. Awalnya berniat untuk ikut di mesjid depan rumah, namun begitu konfirmasi dengan panitianya sudah penuh. Sebenarnya dalam hati terlintas bahwa sudah mungkin ini bukan rejeki mungkin akan ada di tahun-tahun berikutnya. Dalam diri juga semakin membenarkan bahwa saya menunda dulu untuk berkurban tahun ini, karena masih banyak keperluan untuk dipenuhi, masih mau beli ini masih mau beli itu. Namun dalam diri sempat berpikir juga, mau sampai kapan berpikir seperti itu, bukannya tidak akan pernah selesai dan puas untuk memenuhi kebutuhan diri, pasti akan selalu ada kurangnya. Setelah menimbang-nimbang kayaknya saya tidak punya alasan lain untuk tidak melakukan kurban kali ini, karena uang itu ada dan untuk saat ini memang tidak ada keperluan yang sangat mendesak kecuali untuk keperluan liburan anak-anak itupun tidak begitu urgen dan tidak bisa dipaksakan harus segera liburan dengan pulkam kampung ke makassar. 

Niat baik ini, terinspirasi dari beberapa hal, diantaranya, hampir setiap hari raya qurban biasanya akan diliput kisah inspirasi orang-orang yang dalam keterbatasan secara ekonomi namun tetap menjalankan niat untuk tetap berqurban, mereka-mereka ini sudah jauh-jauh hari menyiapkan dananya. Adapula inspirasi dari seorang mualaf yang menjual rumah dan mobilnya untuk kegiatan sosial karena berprinsip, semua yang dimiliki saat ini hanya titipan dan Allah suatu saat akan mengambilnya, mau tidak mau kita harus mengembalikan titipan harta ini kepada jalan Nya, bisa sedekah dan bisa berqurban. Apapun yang kita kurban saat ini di Jalan Allah, insyaAllah kebaikannya akan kembali kepada kita sendiri, paling tidak kita sadari bahwa  kita tidak boleh terlalu terikat dengan dunia, apa yang kita miliki hanya urusan dunia dan harus memberikan berkah buat diri kita dan sekitarnya.  Apalagi makna berkurban ini benar-benar menguji kesabaran dan keikhlasan kita, sebagaimana sejarah diperintahkan berqurban saat nabi Ibrahim harus menyembelih anak kesayangannya Nabi Ismail.

Tarakan, 15 / 6 / 2021
Pukul   :  03.10 siang


08 Juni 2021

hyperrealita

Saya termasuk orang yang "liar berimajinasi" kadang-kadang pikiran saya sudah jauh melayang terbang ke angkasa sementara dalam kenyataannya tidak demikian, semisal ketika berjumpa dengan teman, setelah berlalu perjumpaan singkat itu saya tiba-tiba menghayal seolah mau mengulang kembali kejadian tadi sehingga ada hal yang harus saya lakukan, harus seperti ini dan seperti itu, coba tadi saya begini, coba saya tadi begitu mungkin tidak akan terjadi ini, mungkin tidak akan terjadi seperti itu,  sementara dalam kenyataannya saya tidak melakukan apa-apa. Saya seolah tidak "puas" atau "ikhlas" dengan kejadian yang sudah berlalu. Yang paling aneh lagi, saya seolah-olah ingin "menyutradarai" kehidupan yang ada, padahal lagi-lagi semua itu hanya imajinasi "liar" saya. Apakah karena saya terlalu sering "melamun" dari bermimpi tentang sebuah cita-cita atau keinginan, saya terlalu membesar-besar realitas yang ada, sudah seharusnya saya berpikir apa adanya, tidak melebih-lebihkan yang ada, tidak membuat sesuatu yang tidak ada dan yang sudah berlalu seolah-olah bisa kembali dan "diedit", lihat dan pahami kondisi yang ada, bahwa semua yang kita alami, kita jalani itu berjalan apa adanya bukan sesuai kemauan kita secara "egois"

Sebenarnya khayalan hiperbola ini tidak sering munculnya, hanya kadang-kadang saja apalagi jika ada yang berkaitan dengan angan yang sebenarnya sudah lama ingin diwujudkan, misalnya ingin ngobrol bersama teman karena sudah lama ga ngobrol dan sempat hilang kontak dan kondisi sekarang lebih karena segan dan hormat sehingga tidak memberanikan diri seperti yang dulu, namun jika berpapasan persis depan, akhirnya saya menyapa. Namun ini sebesar-besarnya keinginan diri untuk mengendalikan pikiran agar tidak terlalu jauh berhayal, yang nyata-nyata saja dihadapi, tidak perlu terjauh melamun, jika ada sesuatu tidak sesuai keinginan, ya sudah lupakan dan lepaskan, hadapi yang saat ini, yang didepan kita, yang ada ril dihadapan dan yang terpenting jangan terlalu mengkhayal yang tidak-tidak :)

Tarakan,  8 / 6 / 2021
Pukul    : 4.44 sore

Tidak Perlu Diingat Lagi

Kalimat ini, persis disampaikan sama sahabat saya ketika saat itu terjadi kesalahpahaman dan membuat dia tersinggung dan "marah", namun ketika diklarifikasi dan ada rasa bersalah dalam diri apalagi ketika ketemu sahabat ini, pernah suatu saat saya mencoba untuk mengungkit masalah ini, karena merasa bersalah betul, namun teman ini menyampaikan kalimat itu "sudah tidak perlu diingat lagi" kemudian sahabat ini melanjutkan "waktunya sudah lewat, jangan melakukan kembali dan saya sudah melupakan itu". Kalimat ini saya mencoba untuk menerapkan untuk dirii saya tehadap masalah atau persoalan yang selalu saya pikirkan bahkan cenderung terus menyalahkan diri, apalagi jika sudah melakukan kesalahan atau dosa yang sama, maka kalimat itu menjadi pengingat agar diri ini tidak menyalahkan diri sendiri. Namanya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kehilafan, asal jangan  keterusan melakukan kekhilafan meskipun dalam hati sudah merasa "panas" :) begitu "sadar" lepaskan, jangan lagi ada kata tanggung untuk hal-hal yang merusak. walaupun sebagai manusia sudah sekuat tenaga untuk menghindari namun dalam kondisi-kondisi tertentu ada saja celah untuk mengulangi kebodohan yang dulu, kadang kesal, kenapa sic belum bisa sepenuhnya melepaskan, padahal sudah berusaha keras meninggalkan hal-hal yang merugikan tapi apalah daya, manusia ditakdirkan lemah dan sering melakukan dosa namun bukan ini pembelaan terus melakukan kesalahan dengan sadar.  Masalah khilaf ini bukan berarti apa yang sudah kita lakukan selama ini menjadi hal yang sia-sia, bukan itu, kita tetap berusahan untuk menjadi baik, adapun kondisi "jatuhnya" kita ini sebagai bumbu-bumbu kehidupan, jangan lelah untuk tetap berbuat baik ;)

Jika dilihat lebih mendalam lagi, sebenarnya dengan menyadari kesalahan yang kita lakukan berarti kita sadar bahwa orang lain juga bisa melakukan hal yang sama, dalam artian bahwa kita tidak bisa menghakimi orang lain ketika melakukan hal yang sama, jangan sampai kita lupa bahwa kita juga pernah melakukan hal yang sama, apalagi dengan melihat kesalahan orang lain, kita membesarkan-besarkan bahkan menjugde orang lain tidak benar. Padahal dalam kondisi seperti itu yang harus kita lakukan adalah memberikan support agar orang lain tidak jatuh ke lubang yang sama, orang lain bisa melakukan apa yang sudah kita lakukan untuk bangkit dari rasa bersalah, bukannya ketika orang atau kita sendiri sudah menyadari dan meninggalkan kesalahan dan potensi masalah yang bisa muncul aka dengan itu Sang Khaliq sangat senang dengan taubat yang kita lakukan dan kita berusaha untuk tidak melakukan dan ini menjadi kesedihan bagi syaitan karena tidak berhasil menjerumuskan kita ke dalam hal yang lebih jauh dan kita kembali kepada cahaya Sang Khalik dengan berharap besar mengharapkan keridhoannya. tidak ada yang perlu disesali atau dibesar-besarkan, jangan pernah merasa bahwa kita tidak akan bisa menjadi orang baik karena kesalahan yang sudah kita kkukan, ingat bahwa pintu memperbaiki diri selalu terbuka hingga napas tinggal di leher dan ketika sudah tidak akan ada kehidupan karena hadirnya hari akhir. Semoga Allah subhannah wata'alah merahmati dan membimbimg hati ini agar tetap berjalan dim jalan yang lutus, jalan yang dirdhoi,

Tarakan, 8 / 6 / 2021
pukul    : 3.13 sore

06 Juni 2021

Capaian Lari Sepekan

Hari ini menjadi hari ke.6 di bulan Juni, seperti biasanya jika di hari Ahad ini saya kembali melihat capaian lari sepekan yang sudah lewat. Di catatan aplikasi lari addidad running, saya mendapatkan 60 K :D ini belum dengan tambahan lari 15 K di hari senin namun saat itu masih tanggal 31 Mei sehingga masih masuk dicapaian bulan mei yang secara totalnya mencapai 250K :D bulan ini penuh tantangan dua Minggu masih suasana Ramadhan belum lagi memasuki puncak ramadhan di 10 malam terakhir, malam harus khusus ibadah, sorenya harus tetap lari:) 

Kembali kecatatan lari, jika ditotalkan dalam 7 hari ini saya sudah lari 75K :), padahal biasanya hanya 50-60 K, ini tidak lain karena Selasa bertepatan dengan libur nasional sehingga paginya dimanfaatkan untuk lari pagi yang mana sore sebelumnya sudah lari lumayan jauh :). Alhamdulillah Minggu ini banyak catatan positifnya ketika hari Jum'at berniat easyrun malah berubah menjadi lari temporun dengan capaian record baru 56 menit untuk 10 K Alhamdulillah diluar dugaan dan tidak direncanakan dan ini tidak lain bagian efek positif  dari latihan yang sudah dijalankan secara rutin dan konsisten dijalani walau pace belum konsinsten masih labil tp masih di range 6.20-6.50 :). Hari Sabtu kemarin juga melaksanakan longrun 17K cukup was was karena sehari sebelumnya temporun biasanya cukup berpengaruh dengan performa lari, Alhamdulillah dengan prinsip easyrun kekhawatiran itu sirna karena memang tidak mencoba untuk menaikkan Pace ke Pace laju :) stabil di 6.40-6.50.

Tadi pagi yang seharusnya lebih hati-hati lagi untuk lari tapi Alhamdulillah rupanya kondisi badan terbilang mendukung laripun Pace 6.15-6.25 sambil tetap menjaga kondisi badan, sempat terhenti karena gerimis sekalian ke toelit meesjid :D sekalian istrahat sejenak rupanya hanya gerimis lewat dan lari dilanjutkan dan ditutup 13 K yang rencan awal hanya 8 atau 10 K saja

Tarakan, 6 / 6  / 2021
Pukul.   : 6.06 sore

Pilih-pilih outfit running original

Seperti biasanya ketika tanggal dan bulan menunjukkan angka yang sama maka akan dilaksanakan diskon besar-besaran :) tidak terkecuali untuk barang-barang kebutuhan lari (outfit). Secara pribadi saya menginginkan outfit ory :) walau kantong pas-pasan :D sebenarnya ada beberapa barang yang sudah lama diincar terutama untuk celana dan baju :) selama ini hanya pakai kw termasuk juga untuk sepatu, sempat beli mendekati ory yang harganya lumayan 50% dari harga ory. Sebenarnya bahasa ory ini menurut penjelasan dari pemilik tokoh hanya masalah agen resmi atau bukan namun dari segi kualitas bahan pabriknya mendekati sama persis :) bisa jadi ini hanya pembelaan dari pemilik toko :)

Yang bikin barang ory menarik ini, bukan saja tahan lama namun lumayan bikin pretesius untuk digunakan :D semoga tidak riya' dan pamer apalagi sengaja ingin mencari pujian :D padahal yang paling penting adalah kualitas barangnya dan awet kalau dipake. Kembali ke bigsale, untuk kali ini 6.6 sudah memilih barang dan sudah siap dengan harga yang lumayan namun begitu memilih paket pengiriman ini cukup mengagetkan kok pilihannya satu barang  1 kali pengiriman, kenapa tidak sekalian dipaketkan jadi 1 kan lebih murah :D 

Padahal sudah lumayan dapat potongan 30% dengan memilih 3 barang :D namun sayang beribu sayang ongkirnya kemahalan :D padahal selama ini tidak semahal itu :D paling 40% dari itu misalnya barang dari Bandung saja harga 43 dengan JNE paket reguler sekarang malah jadi 83 ribu :D ini malah habis dipaketannya biasanya juga ada pilihan paket yang murah kali ini opsi hanya 1 dan mahal pula :D ini bukannya tidak mau beli karena tidak ada uang tapi ini kebangetan namanya :D sudah dideal diharga barang malah mahal dipaket. Ya sudahlah siapa tahu nanti ada rejeki bisa ke Bandung :D bisa langsung ke tokonya aja ga pake ribet ngirim2 lagi :D

Tarakan, 6 / 6 / 2021
Pukul.    : 5.51 sore

05 Juni 2021

Ikut ta'lim yang mana?

Dalam dua minggu ini, setiap hari jum'at Bada maghrib diajakan ta'lim di mesjid depan rumah., nampaknya ini menjadi kajian rutin yang dibawakan da'i muda Tarakan, sebenarnya beliau ini beberapa kali mendengarkan ceramah di islamic center, kebetulan beliau salah satu pengelolah islamic center, dari konten materi yang disampaikan cukup familiar, yang umumnya disampaikan penceramah yang lain. Dari segi latar belakang, beliau berpendidikan sarjana agama di Malaysia. Sebenarnya apa yang disampaikan hal yang sudah sering di dengar bahkan sejak masih remaja saat mendengarkan ceramah subuh di tv saat itu :)

Yang menjadi problematika bagi saya pribadi adalah ketika dalam satu tahun terakhir ini mulai dengar ceramah dengan pendekatan jaman nabi dan sahabat nabi ( tabi, tabi'tabi'in, jadi ada beberapa pemahaman selama ini diyakini namun tidak ada misalnya masalah berdoa setelah shalat, keharusan menjalan shalat rawatib, dan masih banyak lagi Walau dari segi berpenampilan belum sepenuhnya mengikuti syar'i  Dalam beberapa tulisan saya diblog ini banyak terinspirasi dari penceramah yang ahlu Sunnah, seperti ust. Nurul Dzikri, Ust. Syafiq Riza Basalamah, Khaliq Basalamah. Nah disini saya harus memposisikan diri, saya tidak ingin berhadap-hadapan dengan jamaah mesjid depan rumah, tujuan saya lebih hanya untuk menjalin silaturahmi dengan tetangga yang ada karena di moment ini bisa bertemu dan duduk bersama lebih lama sambil menunggu waktu shalat isya

Tarakan, 5 / 6 / 2021
Pukul.    : 7.32 malam

Khatam qur'an di Bulan Syawal

Jika khatam Qur'an di bulan ramadhan itu hal yang lumrah dilakukan oleh orang-orang muslim yang tidak ingin kehilangan momentum kemuliaan bulan suci tersebut, ada yang khatam sekali, dua kali bahkan ada yang berkali-kali, Alhamdulillah, namun jika khatam Qur'an di satu bulan full di luar ramadhan, itu menjadi hal yang luar biasa, ada tantangan tersendiri ketika hari-hari yang kita jalankan terbilang biasa, tidak ada mindset bahwa apa yang kita lakukan tidak dilipatgandakan pahalanya :) dan ini merupakan pembuktian bahwa di luar bulan ramadhan kita masih bisa mempertahankan semangat untuk tadarrus apalagi bulan Syawal ini bulan yang berada setelah bulan ramadhan, tentunya ssemangat bulan ramadhan masih tersisa untuk dipertahankan :)

Sejak dari awal saya meniatkan semoga bisa khatam Qur'an di bulan Syawal ini, yang mana di bulan ini ada amalan puasa 6 hari dan jika ditambahkan dengan puasa Yaumil Bid maka puasa akan terhitung 9 hari belum lagi jika masih tetap menjalan puasa Senin Kamis di 2 Minggu terakhir di bulan Syawal, untuk saya memang masih belum utuh menjalankan puasa Senin Kamis ini di bulan Syawal. Rangkaian puasa tersebut tersebut yang menjadi penyemangat untuk melakukan tadarrus setelah shalat fardu persis saat Ramadhan walau jumlah ayatnya tidak sebanyak paling tidak berprinsip one day one juzz. Semoga semangat tadarrus ini tetap terjaga semoga masih bisa khatam lagi untuk target 3 bulan kedepan :) insyaAllah.. aamiin ya rabbal Al-Amin

Tarakan, 5 / 6 / 2021
Pukul.    : 6.06 sore

03 Juni 2021

kembalinya email arixafi@gmail.com

Tadi pagi, begitu sedang rapat, saya membuka-buka email, entah mengapa fokus saya ke arah kumpulan account yang saya miliki, tiba-tiba saya tertuju dengan alamat email yang selama ini saya cari-cari paswordnya dan selalu gagal, namun saya tidak langsung mencoba membuka email ini. spontan saya teringat email ini saya buat ketika di Bandung untuk membuat email tambahan untuk beberapa account fake, namun makin kesininya saya gunakan untuk mendaftarkan beberapa aplikasi seperti traveloka dan gojek. Sore ini, saya mencoba kembali membuka dengan pasword yang ada diemail tersebut dan ternyata terbuka dan saya harus kembali memperbaharui nomor hp yang digunakan karena saya menggunakan nomor yang lama dan sudah tidak aktif.

Kembalinya email ini, membuka kembali memory yang pernah ada selama di Bandung. Namun ada beberapa memory yang tidak perlu diingat-ingat karena kurang baik untuk dikenang apalagi dengan kondisi sekarang.. yang berlalu biarlah berlalu.. biarkan semua yang ada saat itu cukup menjadi kenangan.. dan ada beberapa memory menjadi pelajaran untuk saat ini dalam bersikap dan berpikir, jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama, jangan sampai melakukan kelalaian yang sama, untuk saat ini yang sudah baik, tetap dijaga jangan sampai kembali ke masa-masa lalu yang tidak berfaedah, terjatuh dalam lubang kesalahan yang sama..

Tarakan, 3 / 6 / 2021
Pukul.   : 6.29 sore..


Pasti ada hikmahnya (Catatan Oktober 2018)

Tulisan ini ditulis  setelah dua bulan saya meninggalkan Bandung setelah menyelesaikan pendidikan S2 di Unpad, tulisan ini saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta, seperti ini awal perjalanan saya. Selasa malam, tepatnya tanggal 23 Oktober 2018 saya berangkat ke Jakarta dan lanjut ke Bandung selama beberapa hari ini untuk beberapa kegiatan dan keperluan, ada di Bandung dan ada juga di Jakarta. Berbagai kejadian yang tidak menyenangkan saya alami. Pertama saya ketinggalan barang bawaan di bandara Juwata, kresek yg berisi ole2.. krn masuk ke cabin pesawat lebih awal dan alhamdululillah begitu sadar ketinggalan barang dan saya masih diizinkan untuk mengambil barang saya.. Lanjut perjalana ke jakarta dengan travel, saya berpapasan dengan dua orang dari dinas propinsi Kaltara yang kebetukan akan menuju Bandung Dalam perjalanan seperti biasanya travel akan mampir sejenak untuk laporan di kantor yg ada disitu yang ada di rest area.. Saya berniat untuk ke toilet...dan tidak lama balik travel dengan kondisi setengah sadar hehehe, antara ngantuk dan sadar. tidak lama kembali ke travel dan setelah jalan beberapa saat  saya tersadarkan kalo topi yg saya pake tadi sudah tidak ada di kepala saya.. Topi kesayangan harus hilang..hik hik hik, terlalu banyak kenangan bersama topi itu :D

Tiba di Bandung  nginap di kosan teman saat S2 namun beda jurusan, kebetulan masih ada di Bandung walaupun sama-sama sudah selesai kuliah. Begitu pagi hari, agenda saya adalah mengurus surat mutasi motor di samsat jalan Soekarno Hatta (bay pass), saya rental motor dan naifnya lampu depan motor ga dinyalain dan terkenalah razia oleh bapack2 polantas, kena sanksi tilang dan lagi2 bayar denda di TKP, luamayan 1 lembar uang merah harus melayang :D  Lanjut ke samsat alhamdulillah semua lancar dengan semangat berapi-api, saya ke kampus dan lagi2 nasib naif, pegawai di akademik lagi pelatihan, dan saya harus balik besok pagi, sambil berpikir besok ada konferensi internasional, moga-moga sempat untuk kembali ke kampus. Alhamdulillah keesokan harinya saya ke kampus di sesi-sesi akhir konrefrensi dan bertemu dengan pegawai yang kemarin tidak sempat ketemu.

Perjalanan ke Bandung, saya lanjutkan ke Jakarta dengan menggunakan kereta api.  Saya mengambil jadwal kereta pertama jam 4.30 subuh. Saya rrepare dengan  bagusnya seperti tidur awal dan bangun awal jam 2 subuh saya uda bangun dan mengerjakan ini dan itu hingga mempersiapkan ut ke stasiun kurang 20 menit saya sdh siap jalan...pesan ojek online tapi handphone drivernya tidak bisa dihubungin..saya positif thinking.. Drivernya ga bisa dihubungin mungkin lagi perjalanan ke sini.. beberapa saat kemudian hati menjadi tidak tenang... Cancel dan ganti driver tapi motor drivernya cukup lama jenis honda astrea dan perjalanan ke stasion cukup lambat.. Terhitung kurang 10 menit ke stasiun.. Begitu tiba di stasiun suara kereta sudah berbunyi dan bertanda kereta sudah siap jalan dan saya baru nyampe stasiun.. Berusaha untuk mengejar tapi apa daya kereta sudah berangkat. Spontan. saya menuju musholah di stasiun Bandung untuk  tunaikan shalat subuh. Begitu selesai shalat saya kembali memesan kereta untuk jam 5.30 dan semoga perjalanan ke Jakarta cukup lancar.  Pengalaman yang berharga walau sudah berusaha untuk ontime tapi apalah daya...dan kondisi2 seperti ini pernah juga saya alami tapi nasib baik masih berpihak saya masih diselamatkan..  Perjalanan ke Bandung benar2 penuh cerita dan "sial" hehehe  Moga-moga di sisa perjalanan saya nanti ke jakarta dan balik ke Bandung dan selama di bandung dan ut persiapan kembali ke Tarakan berjalan lancar2.. Aamiin

Tambahan catatan (seingat saya saat itu, ditulis hari ini 3/6/2021) : begitu sampai di Jakarta lumayan di bingungkan dengan perjalanan naik kereta dari Gambir menuju stasiun tanah Abang, kemudian di lanjutkan perjalanan ke arah cengkareng (Jakarta Barat) alhamdulillah lumayan lancar sampai di acara workshop di Jakarta. Selepas acara workshop saya berpapasan dengan salah satu peserta dan bersama-sama menuju stasiun tanah abang, sambil cerita, rupanya kurang lebih sama dialami teman saya ini, hanya berselisi 30 menit dengan keberangkatan dia ke Cengkaren dari stasiun Tanah Abang dan dia mengalami kehilangan HP di KRL. dalam hati berkata bisa jadi saya mengalami hal yang sama jika tidak telah kereta dan saat itu kondisi KRL lagi padat-padatnya karena jam masuk kerja. Perjalanan kembali ke Bandung berjalan lancar, sempat melakukan lari pagi dan bernostalgia dengan beberapa rute saat lari pagi dari kosan menuju Gazibu (ada di IG :) dan sekembalinya di Tarakan juga berjalan lancar. Alhamdulillah

ditulis     :  26 / 10/ 2018
diupload :   3 /  6 / 2021
Pukul      :  5.36 sore


02 Juni 2021

Memahami kondisi (cobaan)

Sebagai pembuka tulisan ini, saya mengutip sebuah ayat :
"Sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang yang bersabar" (QS. Al-Baqarah, 155)

Ayat di atas menjadi penguat ketika menghadapi kondisi atau situasi yang ada, dan harus benar diyakini bahwa semua yang ada atas kehendak Allah subhannah wata'alah, tinggal  bagaimana kita sebagai manusia menyikapinya, karena bagaimanapun prasangka kita terhadap kondisi dan situasi ini akan mengarahkan kita kesimpulan kita ambil, baik buruknya semua tergantung kita, namun ada satu hal yang harus kita ingat bahwa, hal yang kita tidak sukai bisa jadi itu yang terbaik untuk kita sebaliknya hal yang kita sukai bisa jadi merupakan hal yang merugikan bagi kita.

Kondisi yang dialami diakhir bulan kemarin, ketika notifikasi rekening jumlahnya tidak seperti biasa, sebenarnya kondisi pernah dialami 2 bulan di tahun lalu. kondisi ini tidak bisa dihindari ketika kondisi keuangan sedang tidak stabil, bukannya tidak ada nominalnya namun pengelolaan yang belum tuntas, akan ada satu atau dua minggu sebagai batas akhir pelunasan pembayaran (mahasiswa). Saat mendengarkan kondisi ini, sontak saya teringat dengan ayat tersebut di awal. dan saya yakin semua ini sebagai kondisi / cobaan yang harus diterima dan harus benar-benar ikhlas menerima kondisinya. Bukan kah ini kondisi yang kita inginkan namun mau tidak mau kita harus terima, mau teriak sekuat apapun tidak akan merubah kondisi karena waktunya belum tepat, waktunya akan berubah di satu minggu atau dua minggu ke depan. Anggaplah ini bagian dari cobaan, mungkin kita akan merasakan "marah" "cemas" bahkan mencoba mencari "kambing hitam". 

Perlu diingat bahwa, sejak 8 bulan belakang, kita tidak mendapatkan kekurangan, semua komplit bahkan ada tambahan pendapatan. Bahkan saya secara pribadi merasa "terkejut" bahwa selama ini salary saya cukup tinggi, selama ini saya benar-benar tidak mengecek berapa jumlahnya. Seharusnya saya sangat bersyukur dengan 8 bulan yang sudah berlalu itu, dan jika saya menolak kondisi saat ini karena berbeda? berarti saya tidak mensyukuri apa yang sudah didapatkan selama ini. Bukan berarti skepsis dengan kondisi yang ada, namun ini menjadi pelajaran yang sangat penting untuk menejemen kedepannya. Kita perlu mencari formulasi yang lebih jitu lagi, tanpa mencari siapa yang salah siapa yang benar, berikan solusi bukan menambah masalah baru.

Tarakan, 2 / 6 / 2021

Pukul   : 4.51 sore

Respon Teman Balas Chat

Sudah menjadi kebiasaan saya, menyapa teman jika sudah beberapa lama tidak saling nyapa dan ketika menyapa ini harus benar-benar mencari topik yang menarik, tentunya yang berkaitan kebiasaan obrolan kami di chatroom. Apalagi saya menggunakan aplikasi whatappplus, jika tersimpan obrolan chat, maka teman ini akan "ketahuan" apakah sedang online atau tidak. dan kadang-kadang melalui notif ini saya memulai obralan dan untuk teman-teman yang sudah terbiasa dengan obrolan, topiknya itu-itu saja. namun tidak semua chat ini langsung dibalas oleh rekan-rekan ini, ada saja kendala dan ada yang hanya read dan tidak membalas sama sekali dilain waktu (setelah beberapa hari), dan ada juga yang membalas di lain waktu (berjarak 2-3 hari), tidak lupa mengklarifikasi alasan tidak membalasa saat membaca pesan, alasannya lagi ada kerjaan, lagi ada kesibukan, tidak ada pulsa (baru beli paket). 

Kondisi ini tidak perlu disalahkan, niat untuk menyambung silaturahmi yang utama. dan untuk hal-hal yang berbasa basi itu masih sewajarnya, tidak berlebihan. sikap saya ketika teman tidak langsung membalas w.a, hanya membaca saja, harus berpikir positif dengan mengingat adanya kendala-kendala yang tadi dan asal tidak menunjukkan "memaksa"kan obrolan. dan untuk satu sahabat, terkadang niat untuk mengirim w.a karena ada sesuatu yang tidak terungkap, tiba-tiba teman ini mengabarkan  kalau dia ada musibah, kalau anaknya sakit dan bagi saya saat seperti ini, kehadiran kita untuk mensupport walaupun bisa jadi niat kita itu tidak diminta, namun paling tidak kita sudah menunjukkan kepedulian kita sebagai teman.

Dari beberapa pengalaman mengirim pesan ini, menjadi pelajaran penting bagi saya, menyambung silaturahmi itu penting namun kita harus melihat situasi dan kondisi yang ada, jangan memaksakan obrolan yang tidak penting dan ngobrollah sepantas dan sewajarnya saja, mengingat umur saya dan beberapa teman ini ada yang sama seumuran, bahkan ada yang lebih tua dan ada juga yang lebih muda, ada yang memiliki jabatan yang tinggi, ada juga yang hanya masyarakat biasa, tidak boleh dilebih-lebihkan, tidak boleh mendikriminasi dan tidak boleh merasa lebih hebat dalam obrolan.

Ditulis      : 27 / 5 / 2021
Diupload  :  2 / 6 / 2021
Pukul        : 4.15 sore

01 Juni 2021

Hari Menguras Emosi

Tulisan ini ditulis  kamis, 27/5/2021 (ditulis sore)  menjadi hari yang begitu menguras emosi. Sebenarnya pagi diwali dengan hari yang menyenangkan, selepas shalat subuh saya menikmati sisa-sisa bulan purnama disekitaran islamic center dan sport center, semua saya abadikan dalam story IG setelah membuatnya dalam bentuk video kumpulan foto-foto tadi pagi. Selepas balik ke rumah, saya membereskan  beberapa pekerjaan, seperti membersihkan halaman rumah, mempersiapkan atiyah ke sekolah hingga menjemur pakean. Pagi tadi begitu ke tempat kerja, saya melihat waktu cukup Panjang sehingga saya memutuskan untuk shalat Dhuha di kampus, saat itu saya agak delimatis apa saya ke kampus dulu untuk ceklot, terus antar atiyah ke sekolah terus ke SPBU (sambungan cerita sebelumnya), ternyata saya memilih ke kampus namun di tengah jalan saya memutuskan untuk antar atiyah, tiba-tiba motor mati, setelah dicek, rupanya masih bias sampai di depang gang sekolah. atiyah sudah di depan sekolah saya memutuskan untuk mencari bensin botolan, cukup jauh mencarinya (sudah ada ditulisan sebelumnya)

Beres urusan bensin, saya melanjutkan shalat Dhuha di tempat kerja dan menyelesaikan sedikit kerjaan dan mengikuti rapat dengan Yayasan. dan di jam 10 harus sudah berada di RSU Kota Tarakan, sebenarnya saya sudah janjian dengan teman untuk nebeng di mobilnya, namun saat mau pergi saya harus menjemput atiyah dan itu sudah lewat waktunya. sebelumnya saya w.a teman yang punya mobil ini kalua saya akan jemput dulu anak, sambal berharap paham ini pesan saya ini (menungguin saya) dan saya sampaikan sama teman yang lain yang juga akan pergi berbarengan. Namun kejadian yang terjadi diluar dugaan, begitu selesai menjemput anak, saya melihat mobil teman ini masih parkir, saya piker rapat belum selesai saya coba ke kampus ternyata sudah selesai dan saya piker teman ini masih menunggu di parkiran, begitu selesai ke toelet saya menuju parkiran rupanya mobilnya sudah tidak ada dan mau tidak mau saya harus kesana menggunakan motor. 

Seriba disana, sudah mulai kegiatannya dan perwakilian direktur sudah menyampaikan sambutan, tidak lama saya dipersilahkan memberikan sambutans sebagai prodi, selesai sambutan, saya mengikuti pemaparan oleh ketua panitia PKK, dan saya melihat jam kurang 15 menit lagi jam 12, saya izin balik duluan , kebetulan kapasitas saya sebagai prodi selesai dan ada coordinator MK yang ikut disitu. Ternyata saat saya meninggalkan rapat, ada pembahasan yang perlu ditegaskan tentang jam dinas, namun sudah disepakati padahal ada teman dosen yang ikut pembahasan sebelumnya namun  demi pertimbangan dalih bisa mendapatkan pengalaman yang lebih banyak lagi sehingga jam dinas mengikuti jam kerja perawat RSU KT. 

Perjalanan menuju di rumah, sambil was-was, sisa bensin botolan tadi dalam kondisi sekarat, kondisi dompet kosong dan harus mencari ATM, alhamdulillah semua berjalan aman. Begitu nyampe di rumah, seharusnya sudah azan zuhur, namun bilal masjid tidak ada di masjid, karena menyelematkan shalat sunnah sebelum zuhur, saya shalat di rumah dan begitu selesai saya menuju masjid dan harus azan. ini pertamam kalinya saya azan di masjid depan rumah. ALhamdulillah beres shalat, saya lanjut di kampus karena ada jam mengajar. Saya melihat ada beberapa mahasiswa sudah menunggu namun nlab belum terbuka, sambal menunggu begitu kagetnya saya mendengar jika anak-anak tidak membawa nursing kit untuk praktik, padahal beberapa alat dibutuhkan saat praktik. Namun hanya beberapa saat Lab sudah terbuka dan akhirnya proses pembelajaran praktik di mulai.

Pasti semua ini sudah menjadi qadarallah ma wa syifa, semua sudah ditentukan Allah SWT, tidak ada kejadian di muka bumi ini tanpa seizin Allah subhannah wata'alah. ambil hikmahnya, ambil sisi potifinya.

Diitulis     : 27 / 5 / 2021
Diposting : 1   / 6 / 2021
Pukul        : 6.08 sore

Halo Juni

Alhamdulillah, sudah memasuki bulan ke-6 tahun masehe, yang berarti bahwa ini merupakan bulan pertengahan di tahun 2021 ini. Tanpa kita sadari bahkan terasa berat hari demi hari terlewati dengan kondisi new normal/ pandemi seperti saat ini. Satu bulan telah terlewati, hampir tiga minggu yang lalu juga ramadhan telah berlalu, saat ini menjalani masa-masa aktualisasi dari apa yang sudah dicapai bulan ramadhan dan menjadi hal yang menjadi renungan. Di dalam pekerjaan juga banyak tuntatan yang harus dicapai dengan segala tantangan dan rintangannya. Akhir bulan lalu menjadi tantang tersendiri ketika saldo yang masuk tidak seperti bulan-bulan sebelumnya, kondisi yang tidak memungkin seperti kondisi normal, banyak hal yang menjadi pertimbangannya. 

semoga ini menjadi bulan yang terlewati dengan baik, meskipun rintangan, halangan yang tidak bisa dihindari, semua itu bergantung sikap dalam menghapi, dan terpenting bagaimana kita memperkuat hatu dan persepsi agar tidak jauh dari kondisi yang sebenbarnya ada. Pengalaman yang penting juga dari yang sudah terlewati adalah ketika kata-kata kembali diuji apakah kita konsisten dengan apa yang diutarakan/ siposting. Semoga Allah subhannah wata'alah melindungi dan memberi petunjuk untuk semua aktifitas yang dijalani nanti. aamiin


Tarakan, 1 / 6 / 2021
Pukul   : 06.06 sore