Alhamdulillah, perhari ini merupakan 15 tahun kedatangan saya di Tarakan, saya memiliki tulisan (diary :D) ketika hari ke-2 di Tarakan (28/1/2008), tepatnya saya menulis selepas hari pertama bekerja. berikut ini tulisanya. Untuk mengenangnya saya menulis ditanggal 26 Januari karena hari ini sebagai hari bersejarah kedatangan saya di kota Tarakan.
Hari ini merupakan hari kedua saya di Tarakan (28/1/2008). Keputusan yang saya ambil untuk keluar / pergi merantau. Banyak yang bertanya-tanya kenapa harus ke kalimantan ? pertanyaan ini kucoba jawab dengan jujur dan arif, mengingat keputusan yang ku ambil ini, bkanlah perkara yang mudah, banyak hal yang harus dipertimbangkan bahkan aku melihat dari berbagai macam segi. Pertama, ini menjadi puncak dari ketidakpastian pekerjaan yang selama ini kucari. Ada yang bilang bukannya saya tidak mau bekerja tapi saya saya yang belum punya waktu yang tepat untuk bekerja, apalagi saat itu saya masih "fungsionaris" sebuah organisasi (eksternal mahasiswa; HMI-MPO cab. Makassar). yang tidak memungkinkan untuk memecahkan konsentrasi. Aku berprinsip ketika melakukan sesuatu, aku harus konsent pada pekerjaan itu. Selain waktu yang tidak tepat, ada saja pekerjaan yang ditawari, aku merasa kurang cocok saja. Berbicara tentang idealisme yang masih mengental dalam diriku, bahkan ada alasan lain adalah aku sangat mengharapkan pekerjaan yang di pernah dijanjikan oleh teman, tetapi entahlah kepercayaanku yang begitu besar kepada mereka tak kunjung jua memberikan kabar baik. Pengharapanku tak juga mendapatkan jawaban yang pasti.
Kedua. Dari segi keluarga, tidak bisa dipungkiri cobaan yang datang dari keluarga begitu besar. Sejak ayah meninggal dunia (2006) perhatian keluarga terfokus pada diri saya, yang status "anak bungsu" dari 5 bersaudara, apalagi dengan status belum berkeluarga. Masih harus "diperhatikan" jadilah aku si "bungsu" yang menjadi kecemasan dari keluarga. Kenapa tak jua memberi kabar kalau sudah bekerja. Perjalanan ini cukup membebani, apalagi keputusan yang kuambil adalah tak mau bergantung pada keluarga. Kehidupan yang kujalani berdasarkan tabungan yang pernah kumiliki, itulah yang menjadi sumber kehidupanku walaupun keluarga (masih) memberi uang, namun tidak menjadikanku bergantung pada mereka.
Ketiga. Alasan yang cukup buatku ke Tarakan adalah pengenalan awal dengan tempat kerja. Kondisi ini cukup buatku ke Tarakan adalah pengenalan awal dengan tempat kerja. Kondisi ini cukup membuatku tertarik, gambaran awal tentang orang-orang yang menjadi mitra bekerja adalah orang yang seideologis dengan saya, ada senior saya di HMI, ada teman saya sewaktu kuliah, ada senior saya sewaktu kuliah. Jadi dalam pikiran saya, mereka adalah bukan orang asingsisa bagaimana saya harus menyesuaikan diri. khusus alasan yang paling mendasar adalah akan ada orang menjaga saya adalah akan ada orang yang menjaga saya terhadap komitmen keislaman yang selama ini kupegang.
Keempat. Alasan ini bukanlah yang menjadi pendorong besar, apalagi alasan utama saya terhadap tempat dimana saya akan bekerja. apalagi kalau bukan urusan materil. memang pernah terlintas dalam diri saya "wah.... disini gajinya begitu besar! Namun bukan berarti saya tidak tertarik karena alasan yang itu. hanya membandingkan dengan tawaran yang pernah saya dapatkan. Banyak hal yang harus saya siapkan untuk masa depan saya. aku harus punya tabungan, aku sudah merencanakan akan seperti apa aku kedepan tapi aku harus sadari bahwa rencana saya itu, Sang Khaliq yang lebih tahu, apa yang sebenarnya terbaik untuk saya.
Alasan terakhi adalah aku merasa di tempat kerja, aku merasa cocok dan pas dengan yan kucari selama ini. memang berat untuk memutuskan untuk kesini. Sekalipun keempat alasan tersebut sudah cukup namun kemudian hal yang mengganjal adalah bagaimana saya harus menyakinkan kepada orangtua dan keluarga bahwa keputusan yang saya ambil ini adalah tepat. Perlu perjuangan besar juga, apalagi aku pernah berkomitmen "saya tidak mau memilih pekerjaan di luar Makassar" atau bahkan "pulkam aja sekaligus". namun aku kembali berpikir panjang, dengan segala apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan sendiri seperti apa kondisi makassar dan kampung tempat saya lari (bau-bau) apalagi dengan cita-cita besar yang aku impikan. Nah, keluarga besar saya juga memegang seperti itu, walaupun tidak mudah mencoba untuk mengkomunikasikan dengan keluarga. awalnya mendapatkan "penolakan" yang luar biasa, namun aku tetap bertahan dan tentunya berdoa. Meyakinkan kepada orangtua dan keluarga memang tidak mudah hingga aku cari alasan yang begitu bisa menjadi pertimbangan bagi keluarga. Salah satunya adalah alasan "merantau" kedengarannya sederhana, namun inilah menjadi titik awal respon baik dari keluarga dan orangtua. Mengenang ayah saya, yang memang seorang perantau sejak usia beliau. saya tahu persis seperti siapa ayah saya (alm), semangat berjaungan di negeri orang, luar biasa!. bahkan ayah saya sering menceritakan penmgalamannya itu. Semangat itulah yang membuka pintu izi keluarga untuk mengamini keputusan saya untuk tarakan ini.
Memang kusadari butuh perjalanan panjang untuk datang kesini.; cemas, ragu, bimbang, khawatir, bersatu padu mempengaruhi diriku. alhamdulillah, sekarang itulah yang berkurang. Sekarang yang aku pikirkan, apa yang bisa aku beri terhadap pekerjaan yang telah menantiku di depan mata, Bagaimana sikapku terhadap orang di sekitarku. Aku sadari bisa keluar dari masalah itu. Yang pasti, Drama kehidupan seperti itu sudah aku jalani; yang penting dalam bekerja adalah memberi yang terbaik. dalam menghadapi masalah " bagaimana kita mengambil sisi negatifnya, dari segi mana kita melihatnya, pertahankan sikpa positif yang selama ini orang telah nilai. Sikap negatif yang ada dibuang jauh, jangan sampai itu menghambat karir atau perjalananku. Sekali lagi sikap negatif yang masih terbenam dalam jiwa dan ragaku harus diminimmalisir, bahkan dihindari, agar tidak mengganggu keberadaanku disini, Selamat meniti hari-hari baru di negeri rantau.
Tarakan, 26. 1. 2023
Pukul : 22.03