Dalam minggu-minggu terakhir ini, dalam ta'lim online dalam riyathul sholihin dalam bab menutupi aib kamu muslimin dan larangan menyiarkan tanpa alasan yang mendesak (diperbolehkan). Setiap membahasan di bab ini menjadi hal-hal yang sangat akrab dengan keseharian kita dan menyampaiannya sangat sederhana dan mudah dipahami. Salah satu bagian yang diulas adalah ketika Allah subhannah wata'alah menjaga (menutupi) aib kita, namun kita sendiri yang membukanya (sesuai hadist nabi). Adapula diceritakan, ada ulama besar, ketika bertemu dengan muridnya yang mengatakan bahwa ada orang yang sedang membicarakan beliau di belakang, namun respon beliau di luar dugaan, bukan mencari lebih detail apa yang dibicarakan namun beliau berkata 'apakah syaiton tidak memiliki kurir untuk menyampaikan hal tersebut". Mungkin maksudnya kenapa kita yang harus menyampaikan berita itu, ulama tersebut tidak ingin merusak pendengarannya dengan perkataan yang tidak penting. Kemarin juga diulas, bahwasanya, bukan hanya orang yang menyebarkan aib orang lain yang mendapatkan ganjaran dari Allah subhannah wata'alah, namun kita sekedar senang mendengar aib itu tanpa menyebarkan juga sudah mendapatkan dosa. Bab-bab ini disampaikan oleh narasumber, dengan lugas dan sederhana, bahwa aib atau dosa yang manusia dilakukan memang tidak bisa dihindari, karena manusia tempatnya dosa dan sering khilaf maka segeralah bertaubat. Allah menutupi aib hambaNya dan mencintai hambaNya yang menutupi aibnya. Allah membenci sikap lisan membuka aib sendiri. Ketika akan membuka aib seseorang pastika bahwa kita punya argumentasi kuat yang bisa dibertanggungjawabkan saat di pengadilan di hari akhir. Yang bisa mengendalikan diri kita dari berbicara yang berpotensi membuka aib orang lain adalah diri kita sendiri dengan memegang prinsip sesuai hadir "berkata yang baik atau diam".
Dalam keseharian kita, sering kali berjumpa dengan orang-orang yang dengan mudahnya membuka aib sendiri atau membicarakan aib orang lain. Posisi kita dilematis, apakah ikut bergabung dalam pembicaraan aib tersebut atau menghindari atau mengalihkan pembicaraan lain. Apalagi jika punya "pengalaman sakit hati" atau diperlakukan tidak baik dengan orang yang dibicarakan, jika kita tidak mengendalikan diri maka kita akan ikut tenggelam dalam obrolan gibah tersebut. Terkadang ada aib kita yang pada akhirnya terbungkar tanpa kita sadari, padahal ditutupi aib-aib kita selama ini menjadi nikmat yang harus disyukuri. karena bisa jadi satu aib yang dibuka bisa berdampak besar pada diri kita padahal, masih banyak aib-aib yang belum terbongkar. "tidaklah Allah menutupi aib seorang hamba di dunia, kecuali Allah akan tutupi aibnya di akhirat'. jadi maksudnya jika aib yang kita miliki kita tidak buka atau tidak menceritakan kepada orang lain maka Allah subhannah wata'alah akan menutupi di akhirat. yang biasa ketika ada aib kita dibuka oleh orang lain maka yang kita lakukan juga menutupi aib orang itu. Kondisi dilematis juga ketika ada teman yang mencoba mengkonfirmasi kepada kita mengenai kejelekan (aib) teman kita yang lain, walaupun kita punya peluang untuk mempertegas kejelekan tersebut atau malah menambahkan namun perlu diketahui bahwa kita tidak punya hak untuk membukanya apalagi jika itu hanya menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak yang lain, tugas kita menjaga aib orang lain, tidak perlu membuka kecuali jika ada alasan syar'i misalnya saat akan menikah maka kita harus jujur menyampaikan jika ada aib itu bisa berdampak masa depan pernikahan. Aib yang kita miliki haruslah kita bertaubat dan brusaha menutup dan semoga kita mandapatkan ampunan dari aib yang kita lakukan dan kita tidak perlu menyampaikan kepada orang lain.
Tarakan, 26 / 2 / 2022
Pukul : 11.50 siang