30 September 2020

Pusaran persepsi orang

Setiap orang memiliki persepsi berbeda tentang sesuatu, tergantung sudut pandang dia melihat. Satu hal akan dipersepsikan berbeda oleh orang lain, tergantung bagaimana dia mengartikan semua pesan dan kata yang ada. Menurut teori psikologi, sudut pandangan dan persepsi setiap orang akan dikelolah mengikuti memory yang sudah tersimpan dalam otak, apa kesan yang ditangkap tergantung bagaimana otak menilai dan menghubungkan dengan memory yang sudah tersimpan, spontan kita akan menilainya. Jika kita menangkap pesan yang sama besar kemungkinan kesan dan makna yang muncul akan seperti itu juga. Dalam beberapa situasi belakangan ini, benar-benar menguras pikiran dan hati, ketika diperhadapkan dengan banyak persepsi yang ada tentang suatu hal. Beberapa orang memiliki persepsi yang berbeda bahkan kuat mempertahankannya, beberapa orang lain memiliki persepsi yang berbeda bahkan cenderung bertolak belakang dan berseberangan. saya yang tidak berada pada kedua kondisi tersebut, harus ekstra hati-hati jangan sampai terjebak dengan salah satunya sementara saya tidak memiliki infomasi yang detail dan berimbang tentang situsi ini. Sempat membuat bingung dan berdoa agar tidak berada pada posisi yang bisa merugikan diri saya sendiri, bukan bermain aman namun lebih pada sikap tidak ingin bermain pada kedua persepsi yang berseberangan tersebut.

Ada hal yang positif ketika mengambil posisi tersebut, paling tidak, saya tidak ikut-ikutan mengambil keputusan atau mempersepsikan sesuatu yang saya tidak tahu menahu akar masalahnya. Bukan berarti sikap yang saya ambil ini menunjukkan sifat "tidak jelas", benar tidak jelas keberpihakan, karena kita semua berhak menentukan arah mana yang kita ikuti bahkan memutuskan tidak mengikuti keduanya. Menjadi netral adalah pilihan yang terbaik, bahkan sikap ini bisa menjadi negosiator untuk mempertemukan kedua persepsi yang berbeda ini, mempelajari dan menganalisa apa yang perlu disamakan, ada hal yang masih bisa didiskusikan, menurunkan tensi untuk hal yang tidak bisa dikompromikan atau dipertemukan. Pelajaran bagi saya, selama niat baik, tidak memiliki kepentingan pribadi dan tidak ingin tendesius, sikap netral ini menjadikan sikap penuh kewaspadaan, apalagi kita tidak memiliki hal atas sesuatu yang memang bukan hak kita. Paling tidak sikap ini menjadi buah dari renungan panjang kita dari masalah yang ada. Intinya jangan ikut-ikutan untuk hal yang kita tidak ketahui, apalagi hal yang bukan hak kita dan bukan hasil perenungan dalam kita akan suatu hal atau masalah. wallahu'alan bishawab

Tarakan, 30/9/2020
Pukul   : 6.22pagi

27 September 2020

Sudah Menyampaikan

Dalam sebuah hadis Bukhari menyebutkan bahwa " siapa yangmelihat kemungkaran makanya ubahlah dengan tangannya jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka (tolaklah) dengan hatinya, karena hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman." Dalam beberapa bulan belakangan ketika ada permasalahan di tempat kerja sebagai karyawan saya menyampaikan pendapat tentang bagaimana solusi dari permasalahan tersebut, saya melihat akar pemasalahannya dimana dan bagaimana itu bisa menjadi "biang" sehingga permasalahan itu menggerogoti. Saat itu saya yakin posisi saya bukanlah siapa-siapa, walau hanya sekedar menyampaikan masukan namun pada akhirnya semuanya dikembalikan kepada yang memiliki wewenang. Sempat "senang" setelah beberapa bulan kemudian masukan saya ini sempat dibahas kembali. Memang berat namun mau tidak mau ini kembali lagi sama pemilik wewenang. Beberapa saat kemudian ini sempat dijalankan dan dicarikan jalan solusinya agar bisa keluar dari pailit yang ada, ibarat negera saatinya sedang mengalami devisit atau resesi. 

Kemarin ketika ini dibahas dipucuk pimpinan, dan posisi saat ini saya sebagai bagian pengambil kebijakan, dan begitu masalah ini kembali dibahas, saya tiba-tiba tercengang, begitu kagetnya melihat kertas putih yang dibagikan, "waw" ini fantastik, ini apalagi?? kenapa kondisinya seperti ini, kenapa ini bisa jadi begini. Namun saya sadari bahwa saya bukanlah siapa-siapa, kita hanya berkomentar dan memberikan saran namun lagi-lagi semua ini dikembalikan pada yang memiliki kewenangan. Mau bilang apa mau bagaimana, "semua" menjadi  semua blunder. Yang pasti tugas kita sudah menyampaikan win win solution, kita sudah menjalankan tugas kita dengan baik, itu sudah lebih dari cukup, masalah pertanggungjawaban dikembalikan pada diri masing-masing. semua akan ada hisabnya semua akan ada waktunya untuk dipertanggungjawabkan. Masalah nanti bagaimana? wallahu a'alam bissawab. Yang penting tetap bekerja dan memberikan terbaik, jalan kebaikan itu akan diselalu terbuka walau ada rintangan dan tantangan yang akan dihadapi. semangat

Tarakan, 27/9/2020
Pukul    : 7.20 pagi

23 September 2020

Cukup kita yang tahu

Beberapa hari yang lalu, saya menyapa "bapak-bapak" yang sudah cukup berumur, mungkin karena sering berpapasan saat lari terutama saat lari pagi. Selama ini hanya menyapa "pak" atau melempar senyum ketika berpapasan saat lari. Ahad kemarin, momentnya begitu setelah lari dan saat istrahat, pas saya parkir yang tidak jauh dari parkir mobil bapak tersebut. sambil istrahat sejenak, saya membuka obrolan dengan beliau tentang rutinitas beliau lari, kayaknya paling serimg berjumpa, beliau cerita kalau jadwal larinya itu selah dua hari. Beliau menambahkan kebiasaan larinya sebenarnya sudah lama namun di tahun 2019 mulai serius menekuni, beliau menceritakan bahwa sebaiknya saat lari menggunakan aplikasi atau jam yang membantu memantau lari :) memang kalau sepintas beliau ini menggunakan jam tangan untuk lari, beliau menambhakan ada HP merek Xio** yang juga terhubung dengan lari, untuk tipe hp ini persis yang disampaikan teman juga. Sepanjang beliau cerita saya dengarkan dengan baik tanpa menyelah dan saya tidak menunjukkan sikap bahwa saya juga sudah gunakan aplikasi yang membantu lari, hampir satu tahun ini setia dengan adidas runstatic, sebelum-sebelumnya juga menggunakan google atau aplikasi lain namun akurasi perhitungannya belum akurat. Selain dari adidas, saya juga menggunakan refund health yang juga terhubung dengan jam untuk lari namun mereknya tidak seperti merek-merek terkenal seperti starva atau garmin atau yang lainnya

Sudah sering bertemu orang-orang berlari, namun bagi saya kita bisa belajar dari siapa saja, pasti masih banyak yang lebih hebat dan lebih berpengalaman saat lari, saya juga baru hampir dua tahun belakangan ini benar-benar menseriusi lari dan menetapkan, dan saat-saat lari banyak bertemu dengan orang-orang dengan berbagai latar belakang, jika melihat sepintas orang-orang akan bertanya ketika melihat saya yang keringatnya bercucuran  dan baju sampai basah kayak habis jebur di sungai ;) hehehe tapi itulah saya menganggap ini bukan kehebatan karena keringat seperti ini sudah jauh-jauh sejak dulu seperti itu bahkan ketika makanpun biasanya akan keringat seperti ini. Nah ini menjadi pengalaman yang penting, ketika bertemu dan saling cerita pengalaman lari, tidak perlu yang memproklamirkan saya seperti saya mungkin hanya sekedar cerita tanpa harus menggurui atau bahkan mengoreksi atau menganggap salah orang lain, karena setiap orang punya cerita dan pengalaman masing-masing, keberhasilan dan target yang sudah kita capai selama ini, cukup kita yang tahu :)

Tarakan, 23/9/2020
Pukul   : 4.21 sore

21 September 2020

Shalat subuh di islamic center

Dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak dibukanya mesjid setelah paska pandemi, paling sering menjalankan shalat subuh di mesjid baituh izzah islamic center tarakan. Mesjid ini terbilang megah dan luas, mungkin menjadi satu-satunya mesjid yang terbesar di kota ini. Namun megahnya mesjid ini jika sepadan dengan ramainya orang-orang shalat di mesjid ini kecuali dihari lebaran idul fitri dan idul adha serta shalat jum'at. Yah, memang letak mesjid yang bukan di daerah pemukiman menjadi pelaksanaan shalat fardu hanya terlihat beberapa shaf saja. apalagi untuk shalat subuh, awal-awal dibuka kembali jamaahnya hanya 10 orang, saking seringnnya bertemu jadi saling kenal satu sama lain. Hal yang menjadi perbincangan kami, kemana imam mesjid? mana pengurus mesjidnya yang mengurus sound mesjid? pernah saat-saat listrik bermasalah, pernah mesjid masih dalam kondisi gelap karena petugasnya belum datang :) Mungkin ini akan menjadi perbincangan tertutama bagi jamaah-jamaah yang rutin datang untuk shalat fardu terutama subuh.

Dalam beberapa kesempatan terakhir ini, menjadi hal yang kurang pas jika saya tidak shalat subuh di islamic center ini, selain saya memiliki jadwal rutin lari pagi sehingga mengharuskan saya harus shalat subuh di mesjid biar setelah shalat bisa menlanjutkan lari pagi biar beresnya tidak terlalu telat untuk melanjutkan dengan bekerja. Namun tidak sedikit, di subuh tiba-tiba hujan saat atau setelah shalat subuh. Jika hujannya sebelum subuh saya memilih shalat di dekat rumah yang hanya 10 langka saja sudah sampai. Kenapa harus di islamic center, niat saya ini hanya memakmurkan mesjid megah ini, walau saya tidak sendiri masih ada beberapa jamaah yang lain namun paling tidak niat baik saya ini menajdi motivasi buat saya untuk shalat disana, dan tidak jarang saya harus ketinggalan shalat sunnah sebelum subuh dengan segala kemuliaannya namun ini menjadi motivasi buat saya untuk lebih disiplin dan datang tepat waktu. Suatu waktu, ada jadwal saya harus duduk diam mengaji dan berdzikir setelah shalat subuh hingga menunggu wajtu terbit dan masuk waktu awal dhuha. Semua yang saya lalukan ini, insyaAllah untuk mendapatkan keridhoaan Allah subhannah wata'alah.

Tarakan, 21/9/2020
Pukul    : 06.01 pagi 



20 September 2020

Tentang Teman

Lagi-lagi berbicara tentang teman, sahabat yang satu ini, memang akhir-akhir cukup dekat, dia banyak menceritakan masalahnya akhir-akhir ini. sebagai sahabat saya mendengarkan dan memberikan masukan dan dukungan, karena banyak hal yang baru saya tahu setelah hampir 4 tahun berteman. Satu hal yang menarik ketika dia bercerita panjang tentang perjalanan hidupnya yang mulai susah-susahnya hingga bisa seperti sekarang dan satu hal yang baru saya ketahui ketika dia bercerita tentang istrinya dan mertuanya. walau saya  harus tahu posisi dan tidak banyak ikut campur cukup mendengarkan dan memberikan saran, semua yang dicerikan adalah hal yang posi tif 
(berlanjut setelah isya, karena sudah terdengan azan maghrib dan dilanjutkan ngaji bareng jamaah mesjid :)
Lanjut :)
Beberapa hari yang lalu dia menceritakan tentang kondisinya dan kondisi keluarganya, setelah mendengar cukup banyak, saya hanya senyum-senyum kok banyak kemiripan, misalnya tentang suka bersih2 rumah hehe dan ada beberap hal lagi. Pada akhirnya saya bercerita sedikit waktu ada niat untuk tidak menjalin komunikasi pas lagi berjarak ya komunikasi selepas balik dari Bandung, dan sayapun bercerita ini sebelum teman ini bercerita panjang lebar bulan lalu, sehingga saya tahu kenapa ketika saya dulunya sempat berniat untuk membatasi komunikasi tiba-tiba bermimpi tentang teman ini dan dalam mimpi itu dia berpesan jangan pergi. Butuh beberapa bulan untuk mendapatkan jawaban dari mimpi ini.

Dalam satu bulan terakhir ini, teman banyak cerita dan paling banyak menyampaikan kegelisahan yang dialami dan ada yang dikhawatirkan tentang kondisinya, saya mensupport dan memberi dukungan seperti biasanya.dan ini menjadi pelajaran buat saya untuk tidak cepat-cepat menyimpulkan tentang apa yang sebenarnya teman ini, sejak awal kadang-kadang berpikir kenapa tidak mudah melepaskan komunikasi, selalu saja ada moment yang menjadikan komunikasi itu tetap terjalin walau dengan caranya sendiri, sudah diputuskan lepas malah ada jalannya untuk tetap terjalin bahkan untuk saat ini hal yang membuat komunikasi menjadi seru teman ini mulai menseriusi olahraga lari, bahkan mau menyewa pelatih profesional,inilah lima liku pertemanan sekalipun teman sempat berubah kita jangan ikut-ikutan berubah karena suatu saat dia akan paham dan tahu bahwa selama ini dia mendapatkan teman yang baik bukan teman asal-asalan

Tarakan, 20/9/2020
Pukul : 8.05 malam@ronde26  Markoni

16 September 2020

Lagi Semangat-semangatnya Berlari

Kayaknya dalam minggu-minggu ini, tema "semangat" hampir masuk kesemua lini keseharian dan rutinitas saya,walau sebenarnya sumber semangat ini, entah dari mana :) tiba-tiba semangat lagi menggebug-gebuhnya. salah satu yang paling terasa adalah kebiasaan lari (running) minggu lalu, saya melakukan latihan 4x dalam seminggu, tidak sepeerti biasanya yang hanya 3 kali bahkan dulu-dulungnya cukup dua kali saja. Minggu menjadi minggu yang menyenangkan, di tengah kesibukan masih sempat latihan lari. Senin, dan Rabu, menjadi rutinitas yang biasa, senin sore lari longrun 10 K karena masih dalam kondisi puasa, dan begitu beres lari masih ada waktu untuk mempersiapkan makanan untuk buka puasa (terang bulan), Alhamdulillah semua berjalan lancar. Selasa subuh kemarin, sebenarnya hanya untuk jogging begitu berpapasan dengan teman akhirnya tergoda untuk lari karena dalam minggu-minggu kemarin tidak sempat bertemu saat lari bahkan ketika ahad pagi, ketika menambah jadwal latihan saya sempat melihat motor yang sempat dipakai teman ini, namun ga terlalu yakin karena teman ini biasanya selepas subuh mulai lari, dan saat itu jam 7 lewat, jam tidak seperti biasanya untuk dia latihan, Ternyata saat berpapasan lari kemarin pagi, dia cerita kalau ahad itu lari, langsung terlintas berarti yang kemarin itu memang dia ada di lokasi lari :) walau niatnya hanya ngobrol sambil lari ternyata baju dan celana yang saya kenakan "basah" :)

Alhamdulilllah, rabu pagi tadi menjadi latihan interval yang cukup menyenangkan. untuk kali ini pace yang saya capai cukup membuat puas karena selama ini tidak seperti ini, itupun sempat-sempat menghentikan sementara aplikasi lari yang digunakan agar tidak terhitung saat berhenti dan berjalan selama kurang lebih 100 meter sementara lari selama 600 meter.  Pagi tadi, diluar ekpektasi saya bisa lari selama 58 menit untuk jarak 10 K tanpa ada jeda, bahkan tadi pagi menjadi pagi yang "meria" saya bertemu dengan teman lari dan sempat ngobrol-ngonrol dengan orang lain yang lagi lari begitu berpapasan. walau sempat ditegur karena terlalu cepat, namun  ini tidak menyurutkan semangat karena capaian ini diatas ekspektasi. Harapan saya semoga ini bisa bertahan, ada latihan lari yang bervariasi lagi semua hasil belajar dari youtube dari pelari-pelari profesional. Semoga kondisi cuaca tetap bersahabat sehingga rutinitas lari tetap berlanjut, aamiin

Tarakan, 16/9/2020
Pukul   :  5.10sore

Sudah semangat dan harus tetap semangat (penelitian)

Dalam beberapa hari terakhir ini, ada kabar gembira dari apa yang selama ini dinantikan, dana pelaksanaan penelitian cair, dan sudah seharusnya menjadi penyemangat, karena semua yang direncanakan sudah bisa dimulai. Beberapa hal yang sudah saya lakukan beberapa waktu ini, melakukan review, saya sudah menghubungi penulis yang menjadi sumber kuesioner yang dilakukan dan alhamdulillah tidak cukup 4 jam, balasan email saya terjawab, padahal posisi si penulis itu ada di Amerika, dan bisa jadi disana masih jam 4 pagi, nah ini mungkin rejeki, jawaban dari doa selama ini dipanjatkan agar dilancarkan, langkah selanjutnya adalah mengurus persetujuan etik dan saya sudah membuat account dan sisa mengisi apa yang harus dilengkapi. Sebenarnya jauh-jauh sebelumnya saya sudah koordinasi dengan beberapa pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan penelitian ini dan alhamdulillah sejauh ini tidak ada masalah, sisa mengumpulkan sumber daya yang terlibat secara langsung.

Memang ada beberapa catatan yang belum fix saya lakukan, yang pertama belum membuat modul kegiatan. Kedua saya belum  memfixkan kuesioner yang akan digunakan. Walau ada beberapa yang sudah dilakukan, dan mungkin masih banyak kegiatan yang bersamaan sehingga saya harus benar-benar mempersiapkan diri dan mengatur diri bagaimana memanfaatkan waktu yang ada, intinya terus bergerak, lakukan apa yang bisa dilakukan dalam satu hari dan harus menunjukkan adanya progress walau hanya hanya sedikit dari pada tidak sama sekali. Saya harus tetap bersemangat sambil mengerjakan yang bisa dikerjakan, jangan membanding-banding dengan rekan yang sudah finish, karena persoalan dan objek penelitiannya berbeda. Bahkan dalam impian saya bahwa projek penelitian saya jangan hanya lewat begitu saja, hanya sekedar menyelesaikan tugas, padahal begitu banyak yang bisa dikembangkan dari 1 judul ini, bermodal pengalaman saat menyelesaikan tesis, bahwa judul ini sangat banyak dikembangkan karena memiliki tingkatan-tingkatan yang bisa dikembangkan sehingga saya berniat dan memotivasi diri agar jangan menyia-nyiakan kesempatan, terus berpacu dengan waktu, jangan berleha-leha, manfaatkan waktu dengan baik

Tarakan, 16/9/2020
Pukul   :  4.36 sore

15 September 2020

Memilih Memaafkan

Dalam suatu kondisi, ada hal yang membuat kita marah, kita sudah mencoba "meluapkan" dengan bijak dan berusaha untuk tidak menyakiti dengan amarah yang keluar namun masih bisa dikendalikan, memang saat itu situasinya benar-benar memancing kita untuk marah namun "pesan" marah ini tidak ditangkap oleh orang yang menjadi sasaran malah yang kita dapatkan respon sebaliknya. seharusnya kita yang marah namun kita malah dimarahi balik, inilah kenyataan yang ada, ketika marah diterjemahkan lain dan malah ' diberikan reaksi dengan marah juga, akhirnya menjadi permasalahan baru, seharusnya ada efek "baik" yang kita inginkan dengan marah itu namun kenyataannya lain. tapi sudahlah, lebih baik kita memilih diam karena kondisi tidak akan berubah. sudah cukup kita sampaikan 'pesan" marah dengan kata-kata yang terkendali dan setelah itu memilih diam, sambil menginstropeksi diri kenapa sampai "muncul marah" apa ada yang salah dengan saya, apakah salah dengan cara berpikir saya? Marah tidak lain, respon psikologis kita terhadap sesuatu yang tidak kita sukai dan kita meresponnya dengan full emosi. Selama benar posisi marah masih dibenarkan apalagi tujuannya untuk menyadarkan dan menunjukkan ketegasan namun jika terus-terusan marah maka akan berdampak negatif bagi diri kita dan juga dengan relasi serta komunikasi kita.

Namun mau sampai kapan kita terus-terus marah? jika memang menahan amarah itu bisa kita lakukan maka sebaiknya kita menahan, walau dalam kenyataannya hati kita tidak bisa menerima kondisi itu, dan akan terus terbawa dalam komunikasi kita. Namun kita kita tidak bisa berlama-lama marah dan tidak senang dengan sikap orang lain karena ada kesalahan yang terus diperbuat. apalagi kesalahan itu dan itu terus hingga membuat muak dengan kondisi itu. Pada akhirnya kita memilih untuk memaafkan setelah kita menyadarkan diri kita sendiri akan kondisi yang kita alami tersebut. mau sampai kapan energi marah kita ini terpendam dalam diri. mungkin memilih memaafkan akan lebih baik walau itu berat mau tidak mau kita harus lakukan. Ketika kita bisa marah namun kita menahannya maka itu kesabaran yang sesungguhnya, kita bisa marah karena kesalahan orang lain, namun kita memilih memaafkan itu akan lebih baik karena itulah sesungguhnya kebaikan yang bisa kita lakukan bahkan dengan memaafkan itu akan memberikan dampak positif dalam diri kita kita dijauhkan dari sikap mendendam dan sakit hati. kita kembalikan hati kita ini sama yang menciptakan diri kita agar hati kita ini dilembutkan dan mudah menerima kebaikan. aamiin

Tarakan, 15/9/2020
Pukul   :   6.06sore

11 September 2020

Tetap Berpikir Positif

Berpikir positif memang harus dilakukan demi kesehatan pikiran kita. Semua kembali pada persepsi kita tentang sesuatu hal, apapun itu, mau ada sesuatu yang kurang menyenangkan mau yang tidak menyenangkan. Sebenarnya ada kondisi-kondisi yang membuat curiga, kenapa begitu kenapa begitu namun sampai kapan kita harus terjebak dalam dugaan-dugaan yang tidak terbatas tersebut? mau sampai kapan kita mencurigai hal-hal yang belum tentu benar dan belum tentu sesuai dengan dugaan tersebut? mau sampai kapan pikiran-pikiran yang tidak terbatas tersebut terus membisiki kita tanpa kita mau mengkonformasi kondisi tersebut? Walau dalam kenyataannya ada beberapa orang yang mungkin berperilaku dan bertindak tidak sesuai dengan pola pikiran kita karena setiap orang memiliki pandangan dan persepsi yang berbeda dengan kita sendiri? jika kita tidak suka orang lain mengatur atau mempersepsikan diri kita sesuai dengan keinginan dia, berarti dalam pada posisi yang sama kita juga tidak boleh memaksakan persepsi kita kepada orang lain. Mau sampai kapan kita selalu berpikiran tentang sesuatu yang sebenarnya bukan hak kita untuk menilai dan memikirkan itu? yang bisa kita lakukan adalah ketika ada hal yang baik kita ambil sisi positifnya, jika yang tidak baik kita jangan ikut-ikutan melakukan hal yang negatif tersebut.

Seperti di awal tulisan ini, berpikir positif ini berdampak baik pada kesehatan mental kita, kesehatan pikiran kita karena kita tidak akan diracuni dengan pikiran-pikiran yang menguras energi. Dengan berpikir positif kita akan semakin "dewasa" menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan namun kita tetap positif dan tidak ikut menambah beban pikiran yang sebenarnya bisa kita gunakan pada hal yang lebih positif lagi. tidak ada ruginya jika kita berpikir positif, malah banyak manfaat yang didapatkan, jika sudah mulai ada aura-aura yang menggoyahkan pikiran-pikiran negatif segera kenali dan sadari jangan sampai tanpa sadar sudah merecoki dalam diri dan menguasai diri kita hingga menjatuhkan diri kita. Walau dalam kondisi-kondisi tertentu, ada hal yang perlu kita curigai apalagi sudah menyangkut kepentingan orang banyak dan adanya gerak-gerakan atau tanda-tanda yang merugikan. Walau tidak selamanya positif thinking itu dapat memberikan dampak negatif jika itu ada hal-hal yang tidak seperti biasa dan perlu dicurigai. Utamakan positif thinking, pelajari kondisi dan situasinya jangan sampai memberikan dampak negatif pada diri kita dan orang lain. Selama masih baik-baik saja, tetap jaga positif thinking, namun jika kalau ada hal-hal yang mengarah pada yang tidak benar maka perlu klarifikasi agar tidak terjadi hal yang merugikan.

Tarakan, 11/9/2020
Pukul   :  5.25 sore

10 September 2020

Belum Sepenuhnya Baik

Manusia tidak sepenuhnya sempurna (baik), selalu saja ada hal kurang dalam dirinya, sekalipun tampilan sudah baik, sudah menjalankan hal-hal yang baik namun tidak serta menjadi baik, selalu ada saja hal-hal yang khilaf atau yang tidak sempurna dilakukan, sehingga bukan berarti dengan sudah berpenampilan baik bukan berarti dia bebas dari kekhilafan atau tidak pernah berbuat salah, inilah manusia dengan segala keterbatasannya, tidak luput dari salah dan kekhilafan. Begitu dengan diri saya, walau dalam akhir-akhir ini belajar untuk menjalankan amalan-amalan shalat sunnah dan puasa sunnah, namun belum menunjukkan perubahan secara penampilan, semua ini karena masih terbatasnya pengetahuan saya dan "lemah"nya iman yang belum membuat saya sekuat tenaga menunjukkan perubahan yang lebih baik, misalnya dengan memendekkan celana pada mata kaki dan belum betul-betul melepas celana yang masih menampakkan lutut  apalagi untuk olahraga. semua masih berproses sambil membenahi apa yang  bisa dibenahi. walau akhir-akhir ini saya sering mendengarkan ta'lim online dan offline dalam setiap minggunya, namun bukan berarti saya dengan serta merta menjadi baik. semua ada prosesnya, apa yang kita dengan masih berproses dalam kehidupan kesaharian kita, belum sebelum belajar ini, kita masih membawa sikap kita selama ini, karakter, budaya, personalitiy, pemahaman, persepsi, semua masih bersarang dalam diri ini, 

Semuanya bawaan sebelum belajar agama dan mendalami agama terasa mulai bergejolak, pertentangan dalam diri apakah ikut, apakah masih setengah-setengah, masih kuat ditunjukkan dengan perubahan sikap tersebut. namun sekalipun besarnya "tarik menarik" dalam diri tersebut, tidak menurunkan semangat untuk belajar memperbaiki diri, sekalipun masih banyak gejolak-gejolak dalam diri, bisa juga datang dari orang-orang di sekitar kita yang tahu persis seperti apa diri kita, bagaimana sikap kita, dan bagaimana baik dan buruknya kita. Saya juga tidak pernah memaksakan persepsi orang lain seperti saya, sekalipun disebagian mereka tahu bahwa saya bukan sebaik seperi "kesan" yang ada pada diri saya. Bagi saya, inilah godaan keistiqomahan agar saya bisa tetap semangat untuk memperbaiki diri, agar benar-benar bisa menjalani semua ini dengan baik, semua masih berproses, semua masih perlu belajar dan tidak perlu menyalahi diri sendiri, manusia tidak ada yang sempurna, kita masih terus belajar untuk memperbaiki diri dengan segala tantangan, godaan, dan cobaan, semoga rahmat dan rahim Allah subhannah wata'alah setelah menerangi dalam perjalanan hamba, yang semuanya tidak ada apa-apanya tandapa bantua Nya.. aammiin ya rabbal alamin

Tarakan, 10/9/2020
Pukul    : 5.05sore

09 September 2020

Lelah

Ada sebuah titik dimana kondisi kita begitu lelah, bukan hanya lelah secara fisik namun juga lelah secara jiwa (bathin). Lelah fisik menunjukkan bahwa orang tubuh kita butuh istrahat, setelah sekalian lama tubuh bekerja untuk menopang aktifitas keseharian, ada titik dimana organ butuh istrahat, butuh waktu sejenak untuk tidak bekerja sambil mengumpulkan energi untuk melaksanakan aktifitas esok. Tubuh kita sendiri dituntut untuk bisa tidur paling sedikit 8 jam perhari, artinya tubuh butuh waktu untuk mengembalikan kondisi badan agar siap kembali bekerja, jika dipaksakan terus bekerja maka yang akan terjadi efek negatif dari kondisi tersebut, tubuh kita begitu kelelahan berdampak pada kondisi emosi kita, mudah terbawa emosi bahkan pikiran "waras" kita seolah lenyap dengan lelahnya tubuh yang terus bekerja, sel-sel sehat tidak diproduksi lagi sehingga yang ada,  sisa-sisa energi yang ada bisa digunakan untuk bernapas namun tidak bisa digunakan dalam menstabilkan emosi. Saya sendiri ketika hari kerja dan sedang lelah-lelahnya berusaha untuk menahan diri hingga menunggu waktu tidur biasanya selepas isya atau jam 9 malam sudah tidur, sambil berdoa agar lelah ini menjadi berkah (lillah) sehingga besoknya menjadi segar. dulu ketika belum rutin menjalankan olahraga 3x dalam seminggu ada yang menjadi menanda jika malam hari, badan begitu lelah hingga tidak sadar dan tidak siap untuk tidur, tiba-tiba saja tertidur. Dampak positif dari lelah ini adalah menjadi penanda bahwa tubuh sudah tidak bisa dipaksa bekerja, waktunya istrahat, jika ada dalam kegiatan maka minum kopi menjadi pilihan terbaik agar bisa menahan kantuk selama kegiatan tersebut. Ketika lagi lelah-lelahnya ini hal yang dihindari jangan sampai tidur setelah shalat ashar, karena ini hal yang tidak dianjurkan.

Bagaimana dengan  lelah hati? lelah jiwa? lelah hati lebih pada perasaan, bisa jadi kondisi yang menguras "emosi" "jiwa" dan perasaan. ada kondisi-kondisi dimana emosi kita begitu terlibat lebih jauh, ada hal-hal yang melibatkan "perasaan" walau sebenarnya lebih kepada aspek jiwa namun juga berefek pada kondisi fisik, lelah jiwa ini bisa mengakibatkan antipati, menjadi tidak care dengan sesuautu hal bahwan pada seseorang. Seperti halnya juga dengan lelah fisik, kondisi jiwa/batin / perasaan kita punya batas dalam menampung sesuatu, ada batas kita bisa menahan semua masalah bathin hingga batas kemampuan kita bisa mentolerir hanya buyar atau "berantakan" karena ketidakmampuan jiwa kita menampung kembali. Kondisi ini muncul jika ada seseorang yang sudah "dibaik-baiki" namun tidak memberikan efek baik terhadap diri orang tersebut. lelah jiwa ini juga bisa menjadi hal negatif seperti depresi bahkan sampai "nekat" menghadiri hidup atau melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kesana. Lelah hati ini bisa dinetralkan dengan sikap kedewasaan kita untuk menerima kondisi yang membuat tidak enak hati, hati kita harus berbesar hati bahwa hidup kita ini sudsh ditentukan, tugas kita hanya hanya menerima dan menjalankan dengan penuh keihklasan dan optimisme. Semoga kedua lelah ini, lelah fisik dan lelah hati bisa dibukakan pintu menjadi berkah sehingga bisa membawa pada kebaikan.

Tarakan, 9/9/2020
Pukul   :4.33 sore

08 September 2020

Mengatur Semangat

Dalam moment-moment tertentu, semangat terkadang datang dalam kondisi yang begitu besar, dan sulit untuk dibendung. Misalnya saya saat ini ketika saya lagi semangat-semangatnya olahraga lari, kayaknya ingin setiap hari lari, padahal dalam teori lari sebenarnya kita jangan terlalu memaksakan diri karena kita harus menyiapkan jedah waktu untuk tubuh kita beristrahat. Demikian juga dengan beberapa kegiatan tertentu, terkadang dengan begitu semangatnya melakukan sesuatu terkadang lupa waktu padahal tubuh kita butuh istrahat, tidak boleh terlalu porsi karena sesuai ada porsi masing-masing. 

Semangat ini, memang baik, namun kita juga harus tetap memperhatikan jauh kedepan bahwa banyak agenda dan kegiatan yang membutuhkan semangat. Mungkin selama kita tidak menyadari bahwa kapasitas semangat kita ini ada batasnya, jangan sampai semangat ini hanya difokuskan pada satu kegiatan saya sehingga kita menghabiskan semua energi untuk satu kegiatan saja sementara kegiatan atau agenda lain menunggu di depan. Bijaklah dalam mengatur semangat, proporsionallah dalam mengaturnya sehingga semua kegiatan semua aktifitas mendapatkan porsi semangat yang sama.

Tarakan, 8/9/2020
Pukul    :  5.21sore

Rindu dan benci

Benci dan rindu menjadi dua hal yang saling bertentangan, kedua kata itu menunjukkan dua kekuatan yang berbeda. satu menunjukkan kekuatan akan menantikan kehadiran seseorang yang sudah cukup lama tidak bersuah, sementara benci sendiri menunjukkan ketikdaksukaan dengan sesuatu karena alasan tertentu, benci ini biasanya jika sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai dengan keinginan besar kita. Lagu nostalgia sangat legend dengan lagu antara benci dan rindu, lagunya mengisahkan tentang perilaku orang yang dicintai yang menyakiti sehingga harus berpisah namun masih merindukan hal-hal indah yang dulu dilakukan. Namun itulah hanya bentuk perasaan dan ekspresi hati kita itu bisa dalam bentuk relasi, barang atau sesuatu hal. Berbeda dengan benci, rindu itu lebih pada kesukaan pada sesuatu yang diharapkan akan terulang kembali, namun karena alasan tertentu kondisi tersebut belum bisa diwujudkan.

Rindu, bisa pada kondisi persahabatan yang sudah begitu dekat, karena alasan pekerjaan maka harus terpisah secara jarak walau sebenarnya secara fisik tidak ada masalah. Benci juga demikian karena ketidaksukaan kita terhadap sesuatu sehingga kita tidak ingin mendekat dengan itu bahkan cenderung untuk menghindarinya. Rindu, menjadi., penyemangat bahwa kelak akan berjumpa kembali bila waktu memungkinkan untuk bertemu, demikian juga dengan benci, memungkinkan kita untuk mengantisipasi hal yang tidak ingin kita hindari, bukan karena ketidaksukaan yang permanen namun lebih kepada menjaga ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diimgijnkan. Benci dan Rindu bukan dua hal yang harus dibandingk-bandingkan namun keduanya saling melengkapi karena kedu sifat itu ada pada diri manusia agar proporsional dan tidak ada yang saling dominan dan tetap pada kondisi saling mensupport

Tarakan, 8/9/2020
Pukul  : 4.49sore

06 September 2020

Di Kelilingi orang Baik

Ada potongan kalimat yang merupakan salah satu ungkapan yang paling disukai dan terutama saat-saat kita lagi drop, pastinya yang utama adalah kita berserah pada takdir Allah subhannah wata'alah, berprasangka baik dengan semua yang kita alami sekalipun tidak mudah menjalani manun harus yakin bahwa semua akan terlewati, dan salah satu bentuk rejeki yang patut kita syukuri ketika kita dikelilingi orang-orang baik. Keberadaan mereka tepat dan di waktu yang dibutuhkan, walau tidak sepenuhnya bisa berharap mereka selalu ada, karena setiap orang memiliki kesibukan namun nasehat, support mereka yang sering muncul itu menjadi penguat buat kita. Bahkan bagi saya, selain keluarga sebagai harta yang paling berharga, juga kejadiran teman-teman baik ini menjadi bagian dari harta yang paling berharga tersebut. ketika kita down mereka menyemangati, ketika kita salah, mereka mengingatkan, ketika kita butuh support mereka memberikan dengan setulus hati, mereka hadir walau hanya dengan koment di story, mereka selalu ada waktu ketika disapa melalui pesan chat, sekalipun tidak langsung dibalas namun mereka akan tetap mengabari sekalipun telat.

Orang-orang ini paham, bagaimana sebenarnya kita, apalagi pernah dipertemukan dalam sebuah moment dan kesempatan, tidak hanya bersapa melalui pesan, namun sudah jauh lebih kenal, pernah "safar" bersama, sehingga seperti apa karakter kita dan karakter teman kita sudah saling kenal, pada saat-saat kapan kita bisa saling berbagi, bahkan pada saat-saat apa kita tidak memberikan koment namun tetap mendoakan agar teman dan kita bisa keluar dari kesulitan dan permasalahan yang ada. semoga pertemanan yang sudah terjalin bisa saling memberikan kebaikan dan manfaat, semoga pertemanan tidak hanya di dunia saja namun bisa hingga di akhirat kelak. aamiin

Tarakan, 6/9/2020
Pukul   : 6.16sore (azan maghrib)

04 September 2020

Kurang Peka

Setiap ada yang kita harapkan pada seseorang yang diharapkan adalah orang yang dimaksud bisa peka dengan kondisi tersebut. Dalam beberapa waktu saya berusaha untuk mengenali situasi yang saya dapatkan, jika ada yang berubah, jika ada sesuatu yang disembunyikan bahkan dengan situasi dan tanda-tanda yang ada saya berusaha untuk mengenalinya. Namun tidak begitu orang berpikiran tentang hal tersebut, mungkin tidak seperti yang dalam pikiran kita, karena setiap orang memiliki persepsi dan pandangan masing-masing tentang hal-hal di sekeliling kita. Namun karena kondisinya berbeda, sehingga apa yang ada bukan seperti yang kita bayangkan  bahkan jauh dari yang saya harapkan. Namun seperti itulah orang, ketika bukan dari hal yang prinsip bagi orang itu maka hal itu tidak akan dipikirkan jauh. Mungkin tingkat kepekaan seseorang bergantung sejauh mana hal tersebut penting bagi orang itu dan bagaimana hal tersebut mengganggunya, namun semua berpulang pada orang tersebut.

Mungkin, ada orang yang merasa selama dia tidak diganggu dan merasa benar maka dia akan merasa baik-baik saja. Namun lagi-lagi kita tidak bisa memaksakan apa yang ada dipikiran pada orang lain karena orang memiliki persepsi yang berbeda. Mungkin ini yang harus berpegang teguh bahwa apa yang ada dibenak orang kita tidak bisa tebak namun kita mengenali dengan respon. Orang tidak akan pernah merasa bahwa orang lain sedang marah sama dia selama dia merasa bahwa yang telahn dilakukan sudah benar dan dia merasa tidak merugikan orang lain, kalau ada yang merasa dirugikan itu karena kesalahan orang tersebut. Orang tersebut mungkin jauh berpikir bahwa perbuatan dia, kelakuan dia sudah "merugikan" bagi orang lain walau dia tidak merasakan langsung kerugian itu. Tapi itulah namanya kehidupan, dengan uniknya dan beragamnya persepsi yang dimiliki maka seperti itulah cara dia bersikap dan mengambil keputusan. Mungkin cukup orang lain yang tidak pekah, kita jangan ikut-ikutan melakukan itu, karena peka ini merupakan karunia karena tidak semua orang bisa memiliki dan tidak semua orang bisa mengaktualisasikan dalam keseharian dan yang terpenting tujuannya demi kebaikan, bukan demi sesuatu yang terselubung. itu saja


Tarakan, 4/9/2020
Pukul   : 5.26sore

Merasa "gila" sendiri

Ini yang beberapa hari terakhir saya rasakan, ketika ada persoalan yang tak diungkapkan, diharapkan subjek yang yang menjadi sasaran ini, pekah dengan kondisi yang ada. Bagaimanapun tidak, karena ini terus itu itu saja dan orang yang sama. Ketika yang diharapkan adalah "peka" dengan kondisi yang ada, namun sebaliknya tidak ada respon bahkan ketika yang diharapkan adanya kesadaran diri namun sebaliknya merasa biasa-biasa saja. Sebenarnya saya sudah capeh dengan kondisi ini, kondisi dimana diawalnya saya mengharapkan ada perubahan namun makin kesininya malah kondisinya semakin parah. Hingga kemarinpun saya meluapkan kekesalan dengan bernyanyi-nyanyi nada menyindir, bahkan melantunkan lagu istighfar namun juga tidak merespon dengan baik hingga saya sampaikan kalau saya lagi capeh dan bosan dengan kondisi selama ini namun tidak juga mendapatkan, tapi ya sudahlah, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan kayaknya tidak akan memberikan efek, saya hanya merasa "gila" sendiri, dan pada akhirnya apa yang saya keluhkan juga tidak akan mendaparkan respon seperti yang saya harapkan malah sebaliknya yang ada malah sayanya di"marahin" balik. 

Akhirnya saya paham, bahwa saya sedang berhadapan dengan orang yang kuat dengan pendiriannya, saya berhadapan dengan orang yang kuat dengan pemahamannya, saya berhadapan dengan orang yang sulit untuk mengenali kondisi orang lain, sejauh dalam logika pikirannya benar, kenapa harus dia pikirkan, ketika dia berada dalam posisi yang selalu harus di"utamakan", saya berhadapan dengan orang yang ingin selalu menuntut adanya perhatian lebih, suka mengarahkan namun tidak mau diarahkan, suka menasehati namun tidak mau dinasehati, mau mengatur tapi tidak mau diatur, berhadapan dengan orang yang berprinsip jika orang lain bisa melakukan maka saya juga bisa melakukan hal yang sama, orang yang tidak mau menerima jika ada disampaikan tentang orang lain menilai dirinya, bahkan hal yang tidak saya sukai, ada semua disitu, innalillah, mungkin inilah takdir yang harus saya jalani. Sebenarnya sejak dulu. diawal-awal saya sudah diingatkan tentang hal itu, "kuat dengan pendirian" namun saat itu saya masih percaya bahwa sikap orang itu akan berubah, Kini, semua itu terasa "sulit" untuk diwujudkan. 

Kembali pada prinsip bahwa, tidak ada kejadian di dunia ini, yang luput dari pemantauan Allah subhannah wata'alah, saya belajar untuk memahami kondisi ini, walau saya merasa bahwa sudah merasa capeh, bahkan sempat bercanda, kondisinya tidak akan berubah mending saya pergi atau mati saja, hehehe mungkin saking saya tidak kuatnya saya menghadapi kondisi ini, tapi saya yakin bahwa ini adalah takdir yang harus saya jalani, Allah subhannah wata'alah pasti menitipkan kepada saya karena saya bisa menjalani, walau terkadang saya yang tidak merasa percaya dengan itu, tapi saya anggap bahwa ini harus saya jalani dan harus terima dengan ikhlas dan lapang dada. semoga Allah subhannah wata'alah memberikan kekuatan dan petnjuknya dalam menjalankan semua ini. aamiin

Tarakan, 4/9/2020
Pukul   : 5.08sore

03 September 2020

Jangan "pertaruhkan" iman

Pagi ini sehabis sahalat subuh, begitu ingin menuliskan kegelisahan diri, terutama tentang apa yang saya rasakan dalam beberapa hari terakhir, terutama yang selalu mengganggu hati dan pikiran. Seharusnya ketika masalah-masalah itu muncul saya harus "berserah" kepada sang memilik Alam Semesta, Allah Subhannah wata'alah. InsyaAllah tidak ada yang berubah dengan amalan-amalan yang saya jalankan dalam beberapa hari terakhir ini, namun ini hanya penilaian saya sebagai manusia dengan segala keterbatasan yang ada, mungkin ada hal yang saya lalaikan, namanya manusia, kondisi keimanan kadang tidak stabil, membutuhkan kesiapan diri kita untuk mengeimbanginya. Saya mencoba menilik kembali, apa-apa yang sudah saja jalankan, jangan-jangan ada yang tidak sesuai. Namun memang benar-benar ada situasi yang itu dan itu lagi, sebenarnya saya sudah "muak" dengan semua ini, saya sudah berusaha keras untuk menerima kondisi yang saya alami, hidup dengan kondisi yang tidak satu hati, satu jiwa. Namun biarlah, memang ini sudah jalan saya harus menerima ini semua, mungkin ini takdir yang harus saya jalani, saya tidak boleh menyesali apa yang sudah ada, tinggal bagaimana saya harus berupaya keras untuk tetap bertahan dengan kondisi orang yang tidak pernah "pekah" dengan kondisi yang ada, lebih mengutamakan "rasional" diri tapi pada kebijakan diri, lebih bermain logika dari pada, menggunakan hati dan feeling, lebih bersikap frontal, jika kamu bisa saya juga bisa, jika kamu lakukan itu saya juga bisa melakukan itu, tapi sudahlah kondisi ini tidak akan pernah berakhir sekalipun setiap hari diperdebatkan.

Namun, yang terkadang membuat sedih, pada hal-hal tertentu saya "menggadaikan" iman yang saya miliki, saya pertaruhkan apa yang selama ini saya jalani, saya mendzalimi diri sendiri hanya karena tidak kuat dengan kondisi yang ada, saya membuang-buang waktu pada hal-hal yang bisa menggoyahkan iman saya, nah ini yang sebenarnya saya takutkan, saya takut terlibat jauh dalam kedzaliman diri sendiri, saya takut menyakiti diri sendiri hanya karena "tidak sabar" dengan semua kondisi yang saya alami, saya takut jika, amalan-amalan yang sudah saya kerjakan menjadi buih dan tidak berarti. Dalam kondisi seperti ini, hanya rahmat dan maghfirah dari Allah subhannah wata'alah yang menjadi perisai dalam mengembalikan kondisi keimanan yang masih terus goyah. Saya yakin bahwa saya hanya manusia yang penuh kekhilafan, banyak aib-aib yang Allah tutupi dan mengharapkan agar saya sadar dan tidak merasa sudah menjadi orang yang lebih baik, mengabaikan orang lain bahkan melupakan tanggung jawab utama saya sebagai hambah di muka bumi ini. Ya Allah, Engkaulah yang paling tahu dengan kondisi yang hamba alami, jadikan diri ini menjadi kuat dan lebih bersabar lagi dalam menghadapi semua likaliku kehidupan ini, tidak semua yang saya inginkan harus ada dihadapan saya, saya yakin apa yang saya alami ini adalah jalan terbaik saya untuk mendapatkan keridhoaanMu, jangan biarkan hambah terlalu jauh melangkah mendzalimi hamba sendiri, jangan biarkan hambah berjalan di jalan yang Engkau murkai, berikan rahmat, hidayah dan mahfirohMu agar terus ada dalam diri hambah, tetap jadikan hamba menjadi pribadi yang baik, pribadi yang kuat dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan. Aamin Ya Rabbal Alamin.

Tarakan, 03/09/2020
Pukul   : 6.02pagi 

01 September 2020

mau dilihat untuk lebih bersabar

Dalam beberapa hari terakhir saya menghadapi situasi yang cukup "memancing emosi" mulai dari urusan anak-anak, pekerjaan hingga masalah relasi. Tidak bisa dipungkiri kondisi belajar dari rumah, setiap orang tua harus mendampingi anak-anaknya untuk menyelesaikan tugas yang harus disetor kepada gurunya. Namanya anak-anak moodnya tidak bisa ditebak, kadang-kadang begitu menggebuh-gebuh dan kadang-kadang malah sebaliknya, belum lagi ritual sebelum memulai mengerjakan tugas, banyak permintaan ini dan itu, hehehe jika saat itu dalam kondisi lagi nyantai dan tidak lagi capeh-capehnya mungkin masih bisa dimaklumi, namun jika saat mendampingi anak itu kondisi kita lagi capeh-capehnya, benar-benar dengan mudahnya kita termancing untuk marah sama anak. Nah ini menjadi tantangan tersendiri, ketika kita harus sadar betul bahwa anak memiliki karakter tersendiri, dan emosinya masih tidak stabil sehingga kita sebagai orang tua yang harus benar-benar bersabar dan mengarahkan tanpa harus berlaku "kasar" jika mengeluarkan kata-kata sekedar menegaskan bahwa anak harus disiplin tidak masalah, asal jangan sampai keluar kata-kata yang bisa menjatuhkan mental anak atau bahkan tanpa sadar dan tidak bisa mengendalikan emosi melakukan tindakan kekerasan sama anak.

Dalam kerjaan, sebenarnya lebih pada padatnya kegiatan hingga waktu berlalu tanpa disadari, tau tahu sudah tanggal ini, sudah hari ini, mau ada kegiatan ini ada kegiatan itu, nah ini yang menjadi penyemangat agar benar-benar menjaga berlalu waktu, tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaian kerjaan dengan target waktu yang ditentukan. Kalau untuk masalah relasi, mungkin tidak ada yang serius, hanya saja kemarin ketika sedang membuka twitter dari salah satu dokter yang sering update TL, membagikan video tentang bagaimana menghadapi orang yang tidak kita senangi karena sering membuat jengkel, spontan saya tertawa dan sadar bahwa beberapa belakang ini saya menghadapi ini, karena penasaran saya membuka videonya dan melihat ada kalimat inti, bahwa orang-orang tersebut tidak bisa kita hindari dan yang bisa kita lakukan pastinya bersabar dan melihat sisi positif yang dimiliki orang itu sehingga itu yang bisa membuat kita bertahan hehehe. berat tapi akan dicoba.

Semalam ketika sedang menemani anak mengerjakan tugas, seperti biasa banyak drama-drama yang dilalui, namun ada kegiatan yang benar-benar menguras "emosi" ketika sudah menyelesaikan video tugas anak, saya terburu-buru untuk shalat dimesjid, begitu beres shalat saya mengirim ke group sekolah, dan saat bersamaan saya harus membalas w.a yang masuk dengan kondisi HP saya yang hang dan beberapa huruf tidak bisa diketik, namun akhiirnya semua w.a itu dijawab dengan penuh kesabaran hehe nah diwaktu yang bersamaan saya mencium ada aroma kotoran manusia, karena anak kedua sering uang angin sembarang saya pikir dia, namun setelah beberapa lama aroma itu tidak hilang, sehingga saya memeriksa pakean yang mereka gunakan dan tidak ada sumber aroma itu, begitu kagetnya ketika saya mencoba memeriksa baju saya, rupanya celana saya yang menempel kotoran itu. saya mengingat-ingat ini kapan kejadiannya apakah sebelum shalat atau seperti apa. 

setelah memastikan sumber pertama kotoran itu dan ternyata ada di karpet depan TV, saya mengingat-ingat ini kan bersamaan dengan saya mengambil video untuk tugas anak, berarti kejadiannya sebelum shalat isya, begitu memeriksa baju yang saya gunaka ternyata ada aroma itu termasuk sarung yang saya kenakan, otomatis shalat saya tidak sah dan saya harus mandi lagi dan kembali shalat. Sambil mengingat-ingat dan menerungi apa yang sebenarnya terjadi, kenapa situasi seperti ini, dan terdasarkan olehku, bukannya dalam beberapa minggu belakangan saya mengikuti ta'lim dari ust. Nurul Dzikri tentang kesabaran, apakah ini bagian dari aplikasi nyata dari talim yang saya dengarkan, apakah saya benar-benar bisa menjalankan dari apa yang sudah diajarkan beliau dalam kehidupan nyata. Saya tersenyum dan berucap, terimakasih ya Allah, hari ini Engkau mau melihat saya apakah saya bisa lebih bersabar lagi? InsyaAllah semoga rahmat dan ampunan serta bimbingan Mu ya Rob saya akan menjalani semua ini.. aamiin

Tarakan, 1 September 2020
Pukul   : 6.21 Sore

masih belum "menyatu"

hari ini berlangsung rapat kerja di tempat,Jalannya begitu alut dan masing-masing bagian mempersentasikan program kerjanya. Awalnya saya tidak mengikuti perkembangan tentang rapat kerja ini, beberapa hari terakhir ini disibukkan dengan rutinitas di kampus, mulai dari ujian sidang, pendampingi mahasiswa praktik, mengikuti dan mengawal lokakarya, mengikuti ujian serdos dan mendampingi mahasiswa ujian. Sampai kemarin saya begitu disibukkan dengan mengejar qouta yang kebetulan masih dibuka. Program kerja sudah saya selesaikan sebelum menyelesaikan proker prodi.  Namun karena saya yang tidak update dengan kondisi apa yang sebenarnya harus dilaksanakan prodi, dimana tidak lain harus mengirimkan prokernya ke wadir 1 sebagai pimpinan atau atasan langsung prodi. 

Yang menjadi pertanyaan besar, kenapa kondisi saya kayak tidak "menyatu" dengan situasi raker,. hati saya masih merasa lelah dengan rutinitas selama seminggu ini, namun bukan ini yang menjadi permasalahan utama, memang dari saya saja yang tidak "nyatu" dan permasalahan tentang proker masih bisa dibicarakan dengan atasan karena semua hanya masalah komunikasi dan semua masih bisa dibicarakan kembali, tidak ada final dan tidak bisa dibicarakan. Tetap berpikir positif, tetap menjalankan amanah dengan baik, tetap berkoordinasi dengan atasan dan tim kerja serta lebih care lagi dengan notifikasi w.a :) semangat..

ditulis : jum'at 28 Agustus 2020
diposting : 1 September 2020

Selamat Datang September (ceria)

hari merupakan hari pertama di bulan september, begitu banyak yang harus dilakukan bulan ini, semoga semua berjalan lancar aamiin Bgeitu banyak pekerjaan yang harus diselesiakan, begitu banyak impian yang harus diraih begitu banyak harapan yang ingin diwujudkan. Namun ada beberapa kegiatan yang berakhir di awal bulan september ini. Dua kegiatan yang begitu menguras tenaga dalam beberapa pekan terakhir ini. Bulan agustus kemarin merupakan bulan yang benar-benar banyak mengeras tenaga dan pikiran. ketika memulai beradaptasi dengan kebiasaan pekerjaan, banyak rutinitas kegiatan yang berentetan dalam setiap minggunya, rapat koordinasi dan ini bagian dari tanggungjawab. 

Kedepannya menjadi hari-hari yang penuh tantangan, hari hari dimulainya pekerjaan pekerjaan yang menjadi rutinitas, belum lagi target target pencapaian diri yang harus tetap dikembangkan. belum lagi tetap mendampingi anak dalam menyelesaikan pekerjaan tugas sekolah. Semoga September ini menjadi awal yang baik, walau sempat ada kondisi dan situasi yang kurang menyenangkan hingga membuat emosi sempat goyah. Intinya tetap berpikir positif, tetap melangkah penuh dengan kepastian, tetap foght dalam memperjuangkan capaian-capain diri. tetap positif tetap rendah hati 

Tarakan, 1 September 2020 
Pukul : 6.15 sore h