26 Desember 2019

Catatan Akhir Tahun



Walau masih ada beberapa hari untuk menuju pergantian tahun 2019, namun ide untuk menulis catatan akhir tahun harus dilakukan sore ini. Ada beberapa subtema yang diangkat dalam tulisan ini sekaligus  tulisan ini sebagai muhasabah diri di akhir. Beberapa subtema itu untuk menjawab hutang beberapa judul yang sudah pernah saya tulis / janjikan sebelumnya yaitu mengenai cermin diri, kelemahan dan kelebihan (ku), bijaksana bersikap, dan tentang apa yang saya cari?. 

Aib yang tertutupi
Ide subtema ini muncul beberapa hari terakhir ini ketika mendapatkan caption di IG " Setiap orang punya aib dan dosa masing-masing, jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Kita punya kebusukan kita sendiri, maka jangan sibuk mengomentari kebusukan orang lain, hanya akan membuat baumu lebih busuk dari baunya, Dosamu lebih besar darinya. . Jauh sebelumnya saya pernah mendengar dan sering diungkapkan oleh KH AA Gym, :Kita ini punya aib, hanya saja Allah SWT masih menutupinya sehingga hanya Allah SWT dan diri kita yang tahu, sehingga jangan merasa paling benar". Beberapa hari sebelumnya saat lagi membuka video di IG, ada cerita ustat dari luar (kalau dari bahasanya dari tanah Arab) mengatakan bahwa "kenapa Allah SWT tidak menunjukkan aib-aib kita ketika kita bermaksiad / menzalimi diri sendiri? karena kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat"  Begitu banyak aib yang baik sadar maupun tidak sadar yang sudah dilakukan dan itu semua diluar pengetahuan orang-orang yang mengenal kita, Aib ini menjadi pengingat dan menyadarkan bahwasanya sebagai manusia tidak merasa tinggi hati, paling soleh, paling beriman dan orang lain salah apalagi yang tidak sependapat dengan kita, padahal persoalan agama itu selama masih ada tuntutan dan dalil yang mengungkapkannya tidak menjadi permasalahan namun bila diluar kita kita hanya mendoakan semoga kembali kepada jalan yang sebenarnya sesuai tuntutan Rasulullah SAW.  Aib menjadi alarm bahwa kita tidak boleh sombong dan angkuh karena itu sifat yang paling tidak disukai oleh siapa saja, manusia saja tidak menyukai bila mendapatkan orang sombong apalagi sang Maha Pencipta.


cermin diri
Ini menjadi catatan penting bagi saya, harus menggali dan mengenali dalam diri siapa sebenarnya diri saya, apa yang sudah saya lakukan? berapa banyak aib-aib saya yang sedang ditutupi karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri? naluri manusia akan membela apa yang merasionalisasikan atau menglogikakan yang sudah dilakukan dan ada kecenderungan untuk membelah diri (mempertahankan pendapat dan membenarkan apa yang sudah dilakukan), ujung-ujungnya berpendapat "mananya manusia tidak luput dari kekkhilafan (sadar tapi terus mengulanginya nauzubillah). saya sadar bahwa begitu banyak yang sudah saya lakukan yang mungkin bisa jadi merugikan bagi diri saya walaupun secara tidak langsung merugikan orang lain dan terkhusus bagi keluarga. Paling tidak cermin diri ini menjadi pengingat bahwa kita benar-benar manusia yang tidak sempurna masih banyak kelemahan yang harus diperbaikin, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi, tidak perlu merasa sudah melakukan yang terbaik hingga lupa bahwa ada kekuasaan sang Khaliq yang sudah menentukan tardir dan rejeki setiap manusia, tidak perlu khawatir karena semua sudah tertulis dalam lauh mahfuzh. berjalanlah dimuka bumi dengan mengharap bimbingan dan keridhoan Allah SWT

Kelemahan dan Kelebihanku
Apabila semua orang ditanya tentang kelebihan dan kelemahannya, maka setiap orang akan membutuhkan waktu untuk menjawabnya, karena tidak semua orang tidak memiliki kemampuan yang sama untuk mengenali diri sendiri. Belajar dari pada yang disampaikan dokter Aisyah (pada tulisan sebelumnya) saya ada kecenderungan sebagai tipe melankolis / penulis skenario, bila menyusun sesuatu secara rapi, suka bekerja (keras), suka mengamati, dan disiplin. mungkin sikap itu menjadi kelebihan yang harus ditingkatkan kearah yang positif  untuk pengembangan diri dan karir (pekerjaan). Namun untuk kelemahannya lebih kearah mudah kebawa perasaan (perasa bukan baperan :), agak pemalu (kadang-kadang muncul kurang pede) agak kaku dan lebih mengutamakan perasaan orang lain (tanpa melihat bahwa diri kita juga bisa rugi / memiliki dampak negatif bagi diri kita). inilah kelebihan dan kelemahan diri. namanya manusia diberikan kelebihan dan juga dititipi kelemahan, bukan saling kontradiksi dan bertentangan namun untuk saling menguatkan khususnya untuk diri sendiri. Kelebihan itu bukan mrmbuat kita menjadi orang yang sombong atau bangga (berlebihan) dengan apa yang dimiliki hingga lupa bersyukur. Demikian juga dengan kelemahan, bukan berarti kita harus merasa minder dengan apa yang ada di dalam diri kita, namun kelemahan ini menjadi motivasi bahwa kita masih bisa memperbaiki diri, belajar dari pengalaman sebelumnya bahkan pengalaman orang lain yang memiliki cerita yang mirip dengan kita yang berusaha bangkit dab berkarya dengan kelemahan yang dimiliki. Kelebihan dan kelemahan haruslah saling mengisi ruang kosong agar bisa fight  dalam menjalankan kerasanya kehidupan. Hatu hal yang harus diingat bahwa kelemahan dan kelebihan yang kita dapatkan berasal dari penilaian orang lain terutama yang sudah lama mengenal karena berada dalam satu pekerjaan dan lingkungan yang sama. Belajar untuk memahami diri sendiri ketika yang disampaikan orang lain itu merupakan kelemahan yang ada pada diri kita.

Bijaksana dalam bersikap
Sikap bijaksana menjadi indikator kedewasaan setiap orang. menurut KKBI bijaksana berarti selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif dan tajam pikiran. Untuk bisa menjadi bijaksana diperlukan kedewasaan dalam memandang segala hal, dipertimbangkan dari berbagai sudut pandang sehingga memunculkan keputusan yang matang yang sudah melalui berbagai macam pertimbangan. Dewasa tidak saja berkaitan dengan umur namun juga berkaitan dengan pengalaman hidup. Dalam dunia nyata sikap bijaksana sangat dibutuhkan, ketika kita dihadapkan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar atau kesepakatan yang sudah ada, tidak memaksakan dan menekan agar mencapai tujuan yang telah disepakati namun yang terpenting bagaimana mengarahkan dengan jelas dan rinci tentang apa yang sudah disepakati kalapun belum tercapai diarahkan untuk mengevaluasi sudah sejauh mana usaha yang telah dilakukan dan bagaimana tindak lanjut berikutnya, apa yang harus dilakukan untuk mencapai apa yang telah disusun. tidak memaksakan orang lain agar bersikap seperti apa yang kita inginkan dan bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan karena semua berpulang dari karakternya masing-masing

Apa yang  saya cari?
Ilmu agama sudah membekali kita semua bahwa tugas kita di dunia sesuai tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah untuk menjadi abdi (menyembah sang khaliq) dan selama perjalanan hidup manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Inilah yang seharusnya menjadi panduan dalam hidup. kembali ke pasal pembelaan setiap orang "namanya manusia tidak lepas dari kelemahan dan kekhilafan" namun satu hal yang harus diingat pembelaan itu bukan berarti kita tidak mau belajar dari kesalahan dan kehilafan yang pernah kita buat. Sebenarnya  sub judul ini merupakan kegilisahan yang ada dalam diri, ketika merenung dan mengingat-ngingat kebelakang tentang sambil bertanya dalam benak apa yang sebenarnya yang saya cari? apakah yang selama ini sudah mendekatkan diri saya kepada sang Pencipta? walau masih saja terjebak dalam urusan-urusan rutinitas dunia, belum ketika memasuki masa jenuh dan lemahnya iman,. sesuai dengan apa yang ustat-ustat sampaikan "manusia itu imannya naik turun, Allah dengan mudah membolak-balikkan hati manusia, hanya doa yang bisa meneguhkan agar iman itu berada dalam koridornya. Sampai berpikir apakah yang sudah saya dapatkan selama ini sudah cukup membuat saya bersyukur atau malah sebaliknya saya belum  mensyukuri pemberian sang Khaliq, apalagi ketika godaan-godaan datang dan bisikan-bisikan yang menutupkan mata hati dengan membanding-bandingkan kehidupan orang lain dengan diri kita, bibit penyakit hati mulai muncul, rasa ikhlas mulai diragukan. Kembali lagi dengan potongan video yang saya dapatkan beberapa hari sebelumnya " ketika kita membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain secara tidak langsung kita telah mendzalimi diri sendiri'. kembali ke prinsip awal, sejauh ini apakah perjalanan hidup kita sudah mendekatkan pada sang Maha Khaliq??. semoga menjadi renungan sepanjang hidup ini

Tibalah dipenghujung tulisan sekaligus menjadi penutup tulisan diakhir tahun, Alhamdulillah target menulis sudah tercapai sesuai dengan target dibulan lalu sehingga tahun ini ada 40 judul tulisan dan terbanyak bulan november dan desember masing-masing ada 16 tulisan. Bila bulan november tulisan lebih banyak part-part dari judul yang ada sementara bulan desember judul tulisan hampir semuanya adalah tulisan dengan judul yang berbeda dan bukan menjadi bagian dari part-part sebelumnya. 40 judul tulisan sepanjang bulan 2019 menjadi inspirasi bahwa banyak hal (kegelisahan, pandangan, pemikiran, persepsi, catatan perjalanan) yang bisa dituangkan dalam tulisan, semoga ditahun depan bisa bertahan bahkan meningkat lebih banyak ide dan inspirasi untuk menulis dari sudut pandang apapun dan lebih kaya akan ide dan inspirasi. Terimakasih tahun 2019 begitu banyak kenangan dan inspirasi kehidupan yan mewarnai, begitu banyak hikmah yang didapatkab dari setiap hembusan napas, dari setiap jejak langkah yang ada, dari setiap permasalahan disemua lini kehidupan baik kehidupan pribadi, relas dan keluarga, semoga ini menjadi pelajaran untuk terus melangkah dan berkarya sehingga disetiap perjalanan waktu tidak ada yang sia-sia dan menjadi tidak bernilai baik bagi diri sendiri maupun orang lain. mengutip caption IG yang ada "teruslah menebar / melakukan kebaikan  / sekalipun kita tidak diperlakukan dengan baik" tetaplah menjadi diri sendiri tanpa harus menjadi orang lain namun bukan berarti kita menjadi orang yang tidak mudah menerima masukan dari orang lain. Ingat dan selalu ingat, apakah perjalanan sejauh ini, saat ini dan akan datang sudah mendekatkan pada cahaya sang khaliq atau malah sebaliknya? muhasaba diri sangat penting untuk dilakukan tanpa harus menunggu "diingatkan / ditegur " sang Khaliq. Bismillah, semoga kedepannya makin baik lagi dari yang sudah-sudah dalam segala hal dan segala lini kehidupan.. InsyaAllah.., Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Tarakan, 26 Desember 2019
Pukul : 5.40 Sore

25 Desember 2019

Tidak Ada Kata Terlambat

Hampir 12 tahun menjalani profesi sebagai dosen, namun peragustus 2019 baru mendapatkan jabatan fungsional dosen “asisten ahli” (pangkat akademik dosen tingkat pertama (awal) memang terbilang terlambat karena seharusnya itu sudah didapatkan lebih awal ketika mengajar, karena ketika awal-awal sudah diuruskan nomor induk dosen nasional (NIDN), kalau diingat-ingat dulu aturannya masih memungkinkan pendidikan S1 untuk mengurus ya, kendalanya ada diniat dimotivasi, melihat berkas-berkas yang harus disiapkan mencakup kegiatan tridharma perguruan tinggi, terkendala untuk kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Dua kegiatan tersebut terbilang tidak ada sama sekali.

Aturanpun berubah, pengurusan jabatan fungsional mengharuskan berpendidikan S2 dan seorang dosen harus berpendidikan S2. Sehingga yang awalnya ada kemudahan dalam pengurusan PAK (pangkat akademik) cukup melengkapi dan mengirim berkas dan yang menariknya lagi pengurusan sekarang via online singkrong.lldikti.go.id semua berkas discan dan Dupak akan sendirinya terisi sesuai dengan yang kita ajukan.

Tidak ada kata terlambat, ini semua merupakan titik awal untuk melangkah, dua tahun kedepannya sudah harus mengajukan PAK lektor, harus menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan, kegiatan Pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat serta kegiatan pendukung., masih ada dua tahun untuk menyiapkan semuanya. Tidak perlu melihat kesamping kiri dan kanan karena orang lain sudah sertifikasi dosen dan sudah doktor. Perlu melihat kembali perjuangan dalam pengurusan ini, ada kemudahan ada jalan, hingga pengurusan yang seharusnya baru akan dimulai bulan agustus kemarin namun diberi kemudahan untuk mengurusnya dan alhamdulillah disetujui. Jadi pelajaran positifnya dan mempersiapkan diri lagi lebih matang :) insyaAllah

Tarakan, 25 Desember 2019
Pukul : 08.00 pagi @home

22 Desember 2019

Lari (Runner..amatiran)

Olahraga lari sudah sejak lama saya lakukan, seminar saya ketika masih SMP atau sekitar 20 tahun lebih.. Awalnya hanya selangkah dua langkah, belajar untuk konsisten setiap subuh, keliling jalan sekitaran rumah (di bau-bau), saat SMA juga masih berlanjut, hal yang saya ingat adalah ketika sehabis lari dilanjutkan mandi di laut, cukup lama kebiasaan ini terutama sebelum kuliah. Kemudian saat di Makassar saat kuliahnya juga masih sering dilakukan, kebetulan kosan dekat dengan kampus yang memiliki jalan yang sangat bagus untuk lari terutama pagi saat mampus lagi sepi. Kuliah kelar, akhir tahun 2006 setahun kemudian kerja di Tarakan, dan rutinitas laripun tidak hilang terutama hati minggu, suasana di tarakan sangat pas untuk lari terutama pagi hari. Ketika tinggal permanen di jalan Bunyu RT 05 kampung 1 Skip tahun 2010, yang tidak jauh dari stadion Datu Adil, rutinitas laripun maki. Teratur target lari sore bersama teman2 dan lari pagi sendiri yang biasanya 2-3 x perminggu. Saat lari waktu rata-rata 30 menit, kalau ukurannya adalah stadion datu adil maka jarak tempuh adalah 12 putaran atau 12 x 300 M, sekitar 3-4 Km. Tahun 2015 rute lari bergeser ke hutan kota ladang dengan track lari yang cukup menantang.

Saat di Bandungpun rutinitas ini tetap di jalankan. 2 minggu sekali dan harus melawan dinginnya udara Bandung selepas shalat subuh, bahkan melalui lari pagi ini ada beberapa jalan yang ditahu, star dari perempatan RSHS (depan bebek kaleyo, menuju Balaikota nyambung ke BIP dan balik kembali di Perempatan, dan menjadi kemudia rutin  sore sekali dan Sabtu / ahad pagi dengan track  Gazibu. Sempat mengajak beberapa teman namun tidak rutin karena kesibukan masing-masing. Saat lari di Gazibu tepatnya tahun 2017 mulai mengenal aplikasi lari melalui HP, sempat beberapa kali menggantinya karena menurut analisa di interner kurang akurat dalam menghitung waktu dan saat sudah setahun lebih konsisten menggunakan dari Adidas " runstatic " cukup konsisten dalam menghitung waktu dan jarak tempuh dan kecepatan lari (pace). Selama di Bandung, dua kali mengikuti lomba marathon untuk jarak 5 KM dan 7 KM :) maklumlah masih amatiran dan sekedar mengukur sejauh mana jika berlari dengan banyak orang, ini masih sifatnya lokal Bandung. Sebenarnya untuk ukuran nasional dan internasional marathon di Bandung juga ada, tapi belum ada niat untuk ikut saat itu, karena kesibukan menyelesaikan tugas akhir. Alhamdulillah saat kembali di Tarakan, sudah konsisten lari, bila sore track yang digunakan adalah sekitaran islamic center Tarakan sementara untuk Ahad pagi mengambil di daerah Bandara Juwata dan sekitarnya, saat ini yang sudah mulai bertahan 10 K untuk lari sore dan 15 K lari pagi, walau untuk kecepatan, pace dan waktu selalu fluktuatif tergantung kondisi tubuh ;)

Lari pagi bagi saya tidak sekedar lari, namun beberapa manfaat besar yang hingga saat ini saya rasakan, selain menjaga kondisi kesehatan agar tetap fit, saat berlari juga energi negatif  berhembus seiiring menguapnya keringat dari dalam tubuh, kenapa bisa? melalui lari segala energi diarahkan agar bisa bertahan sebelum mencapai target lari, tidak ada pikiran lain selain bagaimana badan tetap berkompromi hingga finish demikian juga pikiran difokuskan dan bila ada yang mengganggu segera dihembuskan bersamaan hembusan napas yang tetap bertahan dengan kondisi yang ada, nikmat ketika lari ketika target tercapai, waktu yang dilalui masih dalam batas kewajaran selama ini.  Saat berlari aplikasi runstatic tetap stand by, karena sering digunakan saat berlari terkadang aplikasinya menjadi error, apalagi saat lari pagi bila sudah memasuka jarak 13 atau 14 K biasanya aplikasinya sulit dibuka, terlebih tangan berkeringat sehingga layar sentuhnya tidak berfungsi, sempat beberapa kali error dan salah mengirim foto hasil lari, ke group inilah ke group itu lah, kesalah orang juga hehehe untungnya fotonya masih batas kewajaran walau agak sedikit narsis dengan gaya cool :) itulah seluk beluk lari, untuk masalah errornya aplikasi kayaknya menjadi pelajaran bahwa bila finish dan menyelesaikan aplikasi sebaiknya tidak menshare hasil catatan lari, nanti napas sudah mulai stabil, pikiran sudah mulai fokus baru bisa buka aplikasi. semangat untuk berlari semoga di tahun 2020 bisa menambah kecepatan dan jarak tempuh serta waktu yang lebih baik lagi :) aamiin

Tarakan, 22 Desember 2019
Pukul : 10.00 malam (@rumahdiskip)


21 Desember 2019

Satu Rasa Satu Persaudaraan

Sebelumnya saya saya pernah menulis tentang bagaimana kita bisa berteman dengan orang lain dari mana mulainya dan kenapa bisa berlanjut komunikasi kenapa yang lain tidak. Apa hanya sekedar teman atau bahkan hanya sekedar tahu dan kenal, atau kenapa yang dulunya akrab sekarang biasa-biasa saja. Pada umur seperti sekarang untuk memulai pertemanan tidak juga mudah, ada yang sudah sering ketemu namun tidak juga terjalin komunikasi, saya juga yang dulu sangat mudah memulai ngobrol untuk terakhir - akhir ini sudah tidak gampang lagi, entah karena momentnya yang kurang tepat atau seperti apa, terkadang juga disebabkan karena orang lain yang tidak memberikan respon friendly..:) seandainya itu terjadi biasanya saya akan menyambut dengan baik.

Dulu, ketika kenal orang, jika memang banyak kesamaan maka akan terjadi komunikasi yang intens bahkan juga dianggap seperti sodara, sekarangpun ada beberapa teman ngobrol juga sangat dekat bahkan sudah seperti saudara sendiri bahkan kedekatannya melebihi saudara. Saya pernah berpikir kenapa dengan beberapa orang begitu dekat, ini tidak lain karena adanya kesamaan dalam beberapa hal dan selama ini tidak ada kesan tidak nyambung, banyak kesamaan, demikian juga respon yang ada selama ini belum ada kesan yang merugikan. Namun ada satu orang yang kadang-kadang sulit untuk ditebak, dekat bahkan sangat dekat tapi kadang-kadang hilang tidak ada kabar, tapi begitu ada kabar, komunikasi menjadi panjang :) namanya juga teman sama seperti yang lainnya dengan makin bertambahnya waktu semakin memahami karakter masing-masing dan tidak cepat menyimpulkan yang salah karena beberapa pengalaman sebelumnya terjebak dengan kesimpulan yang salah tentang kondisi teman dan saat ada klarifikasi yang mereka secara tidak langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan semuanya meleset dari dugaan kita.

Hal menarik dari tulisan adalah ini untuk pertama kalinya saya menulis  full menggunakan hp, biasanya menulis di kantor dan saat jam kerja. Semoga ini menjadi inspirasi bahwa kapanpun dan dimanapun bisa menulis dan bisa eksplore..apa yang akan ditulis terutama pengalaman langsung travelling...semoga... Aamiin

Tarakan, 21 Desember 2019
Pukul 06.52 pagi @rumah

20 Desember 2019

Terimakasih Bu Aisyah

Sekitar sebulan lalu, saya pertama kali melihat video dokter Aisyah, seorang ahli ketergantungan obat yang sekarang banyak membahas tentang parenting. Beberapa video sudah diupload tahun 2016, dan dari segi visual memang video ini sangat standar, kajian ibu-ibu kayaknya editornya juga ibu-ibu. hehehe , tapi isi dari video ini banyak yang bermanfaat sekali. video pertama kali saya tonton adalah perbedaan otak laki-laki dan perempuan,. dijelaskan bahwa dari segi anatomis khususnya saraf optik laki-laki dan perempuan berbeda sehingga ini mempengaruhi persepsi yang berbeda-beda antara laki-laki dan perempuan. misalnya pandangan laki-laki cenderung menyimpit sehingga ketika memandang tidak bisa melihat secara keseluruhan di penjuru sudut sementara pada perempuan karena saraf optiknya melebar sehingga pandangan dapat di segala penjuru. Dari segi emosi, laki-laki cenderung diam dan ketika mendapatkan masalah lebih memilih tidak menceritakan kepada orang lain  bahkan kepada istri sendiri sementara pada perempuan sebaliknya lebih suka berbicara dan lebih senang untuk di dengarkan. Nah, inilah pengalaman yang membuat saya tersentak sambil mengingat kejadian-kejadian selama ini di rumah sambil tertawa dalam hati, rupanya ini normal sikap laki-laki dan tidak bisa dipaksakan demikian juga dengan sikap wanita juga alamiahnya seperti itu sehingga akibat ketidakpahaman ini mengakibatkan salah persepsi dan tidak sedikit menimbulkan masalah.

video yang lain yang cukup membuka persespsi yaitu membahas tentang karakter manusia. sambil mengutip ayat al qur'an surat al isra' ayat 84 katakanlah wahai Muhammad setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing maka Tuhamu lebih mengetahui siapa yang paling benar jalannya.  manusia terdiri dari beberapa karakter dengan pendekatan dunia perfilman : penonton, sutradara, menulis naskah dan pemain. Tipe / karakter  pertama penonton ; ada khasrat damai, ciri khas pengamat, di sebut juga plegmatis, sering mengucapkan kata "terserah" kekuatannya : sering bantu orang (kalo dia butuh orang tidak ada yang bantu, karena tidak enak nyuruh), jarang marah, menghindari konflik, paling bagus untuk tempat curhat, energinya habis untuk hendel perasaan, suka diplomatis, suka dengan pekerjaan rutin, suka homoris (garing). Kelemahannya : suka menunda-nuda pekerjaan, tidak tegas, cari aman sendiri, kurang motivasi, terkesan penakut. 

karakter/ tipe 2, penulis skenario, memiliki hasrat sempurna, melakukan apa-apa dengan sempurna, dengan benar, detail, ciri khas : pemikir, disebut juga melankolis. (contoh realnya : pencet pasta gigi dari bawah, kalo habis pastanya dilipat, digunting) Kekuatannya : sempurna, senang menganalisa ( terlintas dalam kepalanya " kenapa ya, kenapa ya"), tekun, serius, disiplin, rapi dan berbakat. kelemahannya : pemurung (karena ideal tp menemukan kondisi yang tidak ideal), suka menyindiri dalam kamar, mudah memaafkan tapi tidak mudah melupakan (karena dipikir ulang-ulang)dan perasa. 

Tipe ketiga : Sutradara, wataknya hasrat mengatur, disebut juga koleris pandai mengatur dan pandai menyuruh, tegas, ada bakat memimpin (sulit menjadi bawahan), kekuatannya : dalam keadaan genting cepat mengambil keputusan,berkemauan keras, selalu ada yang dikerjakan, suka kerja, memiliki visi, Kelemahannya : terburu-buru, sering dingin, mudah marah, kalo disakiti sering sulit memaafkan. (kombinasinya penulis skenario : hasrat mengatur dan sempurna). 

Tipe keempat : artis (pemain) ada hasrat gembira, ciri khas : pembicara (suka bercerita), kombinasinya dengan koleris (sutradara) tipe sanguinis, suka ceria/ gembira walaupun lagi sedih/ ada masalah, apapun dibuat gembira, mudah berteman,  suka menyapa kelemahannya : sering lupa, suka mau cepat-cepat dan agak ceroboh

Penjelasan dokter Aisyah memberi pengaruh yan besar terhadap persepsi saya, selama ini saya hanya mengenal kepribadian yang tertutup (introvert) dan kepribadian terbuka (ekstrovert), dulu sering mendengar tipekal yang melankolis dan edealis, tapi tidak begitu mendalaminya. Penjelasan diatas benar-benar menyadarkan bahwa apa yang selama ini pada diri saya merupakan karakter dan apa yang ada pada pasangan kita atau orang lain juga merupakan watak yang memang sudah ada sejak lahir. Karena setiap karakter memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing maka tidak perlu menyalahkan orang dengan karakter atau watak yang sudah ada, namun bagi diri kita harus sadar bahwa karakter / watak kita ada yang kelemahannya sehingga dibutuhkan upaya untuk memperbaikinya perlahan-lahan dan sadar memang tidak mudah merubah bukan berarti kita merasa nyaman dengan kelemahan karakter kita paling tidak kita bisa mengantisipasi bila ada hal yang akan terjadi karena kelemahan dari karakter / watak kita.

Tarakan, 20 Desember 2019
Pukul 09.00pagi

19 Desember 2019

Judulnya apa?? :)

Pagi ini begitu sulit untuk menentukan apa yang hendak saya tulis, sejak kemarin begitu banyak ide yang akan dicurahkan, mulai dari tema tentang cermin diri, kelemahan dan kelebihan (ku), bijaksana bersikap, terimakasih bu dr. aisyah hingga tentang apa yang saya cari? bulan lalu saya menorehkan 16 judul tulisan, itupun tak disangka sebanyak itu bahkan melebihi tulisan-tulisan yang pernah ada. Saya menargetkan bula 12 ini jangan sampai jumlah tulisan dibawah bulan lalu, paling tidak setara. Kenapa? karena ketika target kita meleset jauh di bawah yang kita harapkan maka mungkin ini penyebab untuk kita tidak menulis dan yang tidak saya harapakan adalah ketika minggu berganti munggu demikian bulan juga berganti dan baru tersadarkan bahwa saya tidak menulis apapun. Target ini sebenarnya tidak muluk-muluk dengan judul ini pun saya masih memiliki utang 5 judul untuk bulan desember ini, jika melihat ide yang ada, insyaAllah judul itu bisa terpenuhi, walaupun ada ungkapan bahwa kita hanya merencanakan tapi kedepannya kita tidak tahu. Satu hal yang menjadi motivasinya adalah kita punya targer sehingga upaya apapun kita akan bekerja keras untuk mewujudkan itu tanpa mengabaikan efek kelelahan diri dan ketersediaan waktu :)

Menulis memang tidaklah gampang namun bukan berarti tidak bisa, kita harus benar-benar memiliki mood yang bagus untuk menulis, situasi dan kondisi yang baik dalam diri maupun diluar diri sangat mendukung untuk menulis dan yang terpenting punya niat dan tekad bahwa saya akan mengejar target sehingga saya harus menulis, masalah ide, biasanya akan mengalir sendiri. Jangan biarkan mood yang tidak bersahabat mengganggu tekat yang ingin dikejar karena melalui menulis ini segala apa yang dipikirkan menjadi nampak sehingga kita bisa mempelajari dan melihat sejauh mana peranan pikiran kita mempengaruhi kondisi psikologis kita saat ini bahkan cara bersikap dan bertindak sebagai bahan evaluasi diri. semoga tulisan ini menjadi pemicu dan semangat untuk menulis

Tarakan, 19 Desember 2019
Pukul : 08.01pagi

18 Desember 2019

Terus Belajar

Tiba-tiba subuh tadi terlintas dalam pikiran untuk menulis ini, terus belajar.. belajar untuk apa? belajar untuk banyak hal, memahami ini dan itu karena informasi, ilmu selalu berkembang, terupdate. dibelahan dunia lain bisa jadi sudah membicarakan hal yang tidak pernah kita pikirkan, ilmu berkembang sesuai dengan profesi dan bidang masing-masing. Dalam dunia saintek dan pendidikan tidak akan pernah berhenti ide dan inovasi yang muncul, semua perkembangan itu tidak terlepas dari informasi yang kita butuhkan. Namun saat ini yang menjadi terkendala adalah ketika perkebangan itu belum secara langsung kita rasakan manfaatnya walaupun sebenarnya perkembangan  itu sangat  berkaitan dengan kebutuhan dan rutinitas bidang keilmuankita sehingga kita tidak terdorong untuk mengejar dan berpacu dengan kerasnya perkembangan dan update ide dan informasi tersebut  karena  yang dibutuhkan saat ini adalah perkembangan informasi itu bersifat tepat guna tepat sasaran, bagaimana perkembangan itu kita manfaatkan untuk kemajuan dan pengembangan diri kita, pengembangan profesi kita dan pengembangan bidang keilmuan kita.  

Satu hal yang kita tidak boleh lupakan, perkembangan pengetahuan dan saintic itu haruslah diiringi dengan kemajuan dalam bidang "iman". ilmu tinggi tapi iman lemah? bisa menjadi musibah. orang yang hanya mengejar ilmu dunia berpotensi menjadi pribadi yang akngkuh, sombong, merasa benar sendiri karena memiliki update informasi, menganggap orang lain "bodoh' ketinggalan dan lain sebagainya. Padahal ilmu itu bisa mengantakan pada kebahagiaan seperti yang sering kita dengar dalam ceramah-ceramah kalau dunia dan akhirat tidak bisa dipisahkan, islam mengajarkan bisa ingin bahagian di dunia harus dengan ilmu, bila ingin bahagia di akhirat harus dengan ilmu, bila ingin bahagia kedua-duanya juga harus dengan ilmu artinya bahwa ilmu atau informasi yang kita dapatkan, kita pelajari dan atas dasar itu merubah cara berpikir dan keputusan yang kita ambil harus mengarahkan pada kebahagiaan. kebahagiaan seperti apa? kebahagiaan dunia yang tidak melupakan akhirat dan juga mengejar kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kebahagiaan dunia, keduanya harus balance dan sinkron sehingga tugas kita di dunia dalam mencari dunia tidak akan terjebak dalam kenikmatan dunia, tidak terjebak dalam dunia yang tidak akan pernah habisnya.

inilah yang menjadi catatan penting,. kita selalu mengupdate informasi, ilmu yang berkaitan dengan bidang kita dan disaat yang sama juga kita tetap memperkaya khasanh keilmuan agama kita, belajar dan terus belajar karena perkembangan ilmu agama juga disampaikan oleh ustat-ustat dengan pendidikan formal yang tidak bisa diragunakan, sebagian besar mereka berpendidikan di negeri arab dan potongan video ceramah atau video lengkapnya ada di sosial media. Tujuan semua ini tidak lain untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, menjadi pribadi yang cakep secara kelimuan dunia dan menjadi pribadi juga cakep secara spritual.

Tarakan, 18 Desember 2019
Pukul : 08.06 pagi

16 Desember 2019

Debut jadi Pemateri luar Tarakan

Alhamdulillah, ahad kemarin diberi amanah oleh teman sejawat PPNI kabupaten Nunukan untuk menyampaikan materi tentang askep di komunitas dengan aplikasi buku 3S. Sebenarnya bukan pertama kali menyampaikan materi atau presentase di forum resmi, namun kali ini merupakan pengalaman pertama yang diadakan di luar tarakan. Yang menarik dan mungkin seperti biasa mulai dari pemberangkatan hingga penginapan difasilitasi panitia. Ketika sampai di daerah lokasi kegiatan dijemput panitia, kebayang rasanya gimana gitu :) , bersyukur banget, bagaimana tidak, dulu saya adalah orang yang banyak terlibat melakukan hal seperti ini, harus menjemput pemateri, mengantarkan ke tempat istrahat/ hotel, kemudian diajak makan malam, difalisitasi transportasi. Sebenarnya saya masih agak idealis, ada terlintas dalam benak saya tidak mengharapkan diperlakukan seperti ini, namun  pasti panitia sudah punya kesepakatan  dan sebagai bentuk "penghormatan" atau apresiasi pada tamu sehingga diperlakukan seperti yang dulu saya lakukan karena saat itu juga saya saat jadi panitia teknik berprinsip tamu adalah "raja" harus disambut dengan baik. Kalau dibilang bagaimana penilaiannya, maka jawaban saya adalah "senang banget",. jadi seperti inilah orang-orang merasakan saat kita sambut, sampai pernah ada testimoni pada salah satu tamu kami di kampus dan menceritakan ke rekannya saat berkunjung di tarakan  kalo penyambutan kami begitu berkesan .(lanjut besok pagi :)
....
lanjut pagi, 17/12/2019
Ini menjadi motivasi bagi saya untuk belajar lebih banyak lagi sehingga dapat berkontribusi kepada khalayak yang pasti niat harus diluruskan, bukan sesuatu yang lebih  diharapkan, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda dan culture yang berbeda pula sehingga penyambutan juga akan berbeda bisa lebih baik bahkan lebih buruk, intinya bukan penyambutan dan reword tapi kembali lagi pada apa tujuan utamanya dalam penyampaian materi, menjadi media pembelajaran bagaimana belajar dari pengalaman audiens, semoga kedepannnya peluang seperti ini masih tetap ada dan bisa menjadi ladang untuk membagikan ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariah.

Tarakan, 16/12/2019
Pukul : 5.40 sore

12 Desember 2019

Tidak (merasa) Lebih Baik dari Orang Lain

Dunia kerja penuh kompetitif, semua akan dinilai berdasarkan kinerja dan prestasi, kompetensi dan sumbangsi (kontribusi). Dalam keadaan seperti itu semua orang berlomba-lomba menunjukkan yang terbaik, apa yang bisa diberikan dan apa yang bisa disumbangsikan. Dalam beberapa situasi dan jika ruang serta waktu yang pas, kita juga bisa menunjukkan kemampuan kita, tentunya yang yang memiliki pengalaman yang lebih banyak dan sudah terlibat dalam hal yang berkaitan sudah cukup lama, sehinggga dapat menilai apakah kontribusi atau sumbangsi kita dapat dikategorikan memenuhi syarat, melewati standar yang berlaku atau bahkan sebaliknya jauh dari standar. Bila jatuh pada pilihan pertama maka kita boleh berbangga diri (tidak berlebihan) usaha kita diapresiasi namun bila sebaliknya kita masuk dalam kategori kedua maka kita harus menggali dimana letak kekurangan dan apa yang perlu kita perbaiki. Begitu prinsip yang harus dijalani.

Dalam beberapa situasi, kesempatan dan moment yang menuntut kinerja yang kompeten, pencapianan  kinerja dan penyelesaian masalah  namun bukan untuk kita dengan alasan bukan wewenang dan job describstion kita maka yang kita lakukan hanyalah diam dan tidak merasa banyak / lebih tahu meskipun kita tahu bagaimana cara menyelesaikan karena kita memiliki pengalaman yang berkaitan hal tersebut hingga momentnya tepat. Pertimbangannya adalah tidak ingin dibilang sok tahu, bukan urusan saya atau mengalami post power sindrom. Moment yang tepat jika diberikan ruang untuk berargumen dan menyampaikan solusi bukan ruang sekedar menjastifikasi apa yang sudah orang-orang lakukan  tanpa melihat sejauah besar apa signifikansi apa yang sudah kita sampaikan. entahlah,. pengalaman ini begitu nyata dan menjadi pelajaran  dikemudian hari untuk lebih baik diam dan sedikit cuek dengan permasalahan yang ada.

Dalam beberapa situasi ketika melihat orang baru dikegiatan yang sama, karena kegiatan itu dekat dengan bidang kita, orang-orang yang terlibat kita kenal sehingga memunculkan rasa dalam diri kita lebih tahu kita paham masalah yang ada, tanpa kita cek dan ricek siapa saja yang terlibat (orang-orang baru yang kita lihat) sudah jauh mana pengalaman dan kontribusi dia tentang masalah itu sehingga untuk mengantisipasi ciutnya nyali kita ternyata orang lain memiliki kemampuan dan konsep yang mumpuni yang sebelum kita menilai tidak punya apa (lanjut besok pagi)

(akhirnya pagi ini kembali menulis 13/12/2019 pukul 7.35)
Sebelum menulis ini, saya sempat (tidak sengaja) membuka instagram dan ada 3 postingan yang sangat berkaitan dengan ini sehingga menjadi inspirasi menulis :) yang pertama dari Habib Anies, mengatakan "jangan sampai kita merasa kita lebih baik dari orang lain, sikap sombong itu merupakan sikap yang tidak disukai oleh Allah SWT karena itu merupakan sifat iblis. Kemudian ada postingan video ig dari teman dari ust. Khaliq Basallamah " dunia ini hanya persinggahan sementara, semua orang akan meninggal sisa menunggu giliran, semua yang kita lihat yang kondisinya diberi kelebihan baik fisik, kelebihan harta, namun saat ini mereka sudah berbaur dengan tanah, kita jangan lalai dengan kelebihan fisik. waktu yang kita buang sia-sia, kita semua akan menuju liang kubur masing-masing sisa menunggu waktu". Postingan video ketiga, semalam dapatnya dari ust. Nurul Dzikri yang mengutip dari Ibnu Qoyyim : barang siapa cita-citanya tetap tinggi tapi jiwanya tetap khusu', jiwanya tetap merendah maka dia akan memiliki seluruh sifat baik sebaliknya barang siapa yang cita-citanya rendah tapi jiwanya angkuh(penjelasan : cepat puas) maka dia akan memiliki segala sifat-sifat rendah dan buruk"  penjelasannya hati dan jiwanya tetap merendah, khusu, tawaddu.
Dari ketiga video di atas, sudah tidak perlu lagi penjebaran lebih jauh, yang diperlukan adalah perenungan mendalam akan makna kata-kata tersebut sehingga menjadi mengingat diri (self reminder) sehingga kita tidak jauh pada hal-hal yang tidak diinginkan. wallahu'alaj bishawab
Tarakan, 12/12/2019
Pukul : 17.43

10 Desember 2019

Khawatir yang Tak Perlu

Dalam beberapa hari ini saya merasakan rasa khawatir tanpa sebab. rasa khawatir begitu nyata, mencemaskan hal-hal yang sebenarnya belum terjadi, dilingkupi rasa was-was, bagaimana nanti kalo terjadi ini, bagaimana nanti kalo terjadi itu. Rasa khawatir itu begitu nyata bila logika tiba-tiba meredup tidak bisa bangkit dan menjelaskan tentang kondisi hati dan pikiran. ketika semuanya seolah-olah menjadi nyata akibatnya adalah  sudut pandang  akan realitas menjadi gelap dari yang sebenarnya terjadi. Secara teori, khawatir atau cemas merupakan kondisi psikologis berupa ketakutan, keprihatinan akan masa depan, disisi lain mendefinisikan ada istilah cemas sebagai keadaan psikologis akibat memimirkan objek yang tidak spesifik. Dari mana asal muasal rasa khawatir atau cemas ini tidak lain karena adanya harapan apakah realitas yang akan terjadi sesuai harapan ekspektasi atau sebaliknya yang bakal terjadi adalah yang tidak kita inginkan. mungkin seperti itulah pemahaman saya akan cemas. Dulu saya berpendapat bahwa cemas itu memiliki objek yang jelas yang dipikirkan oleh manusia hanya saja kejadian yang berkaitan dengan objek itu apakah diluar yang kita harapkan ataukah sesuai dengan yang kita harapkan, kecemasan akan meredup jika objek yang ada telah mengkonfirmasi kenyataan yang ada, apakah benar sesuai dengan harapan atau diluar harapan, cemas akan berlanjut jika yang terjadi adalah diluar yang kita harapkan.

Pikiran liar manusia yang tanpa batas membuat banyak pengandaian bahkan muncul ramalan ini dan itu, jika terjadi ini maka akan terjadi itu, jika saya begitu akan begitu, apalagi untuk sesuatu yang hanya kita sendiri yang menasirkan tidak melibatkan orang lain padahal objeknya berkaitan dengan orang lain. akan muncul pertanyaan, apakah saya salah? apakah dia tersinggung dengan ucapan atau perilaku saya? apakah dia tidak merasa nyaman dengan saya, pikiran-pikiran liar ini semakin menjadi-jadi jika kita tidak mengkonfirmasinya dengan orang yang bersangkutan. Pada situasi dan kondisi yang berbeda kita merasa cemas dengan diri kita sendiri, apakah saya mampu melakukan ini?, apakah saya amanah dengan tanggungjawab dan kepercayaan yang diberikan, apakah saya bisa menjalankan semua itu?, apakah hasilnya nanti, saya tidak mengecewakan orang-orang disekitar saya?. Tentunya kita tidak ingin terjebak dalam hal seperti ini, bagi saya rasa cemas itu masih wajar jika tidak berlebihan, tidak membuat ketakutan yang berlebihan atau bahkan membuat kita tidak mau berbuat apa-apa. Rasa cemas itu jika masih dalam batas kewajaran / kadar yang ringan maka akan menjadi sikap antisipasi, membangkitkan motivasi dalam diri bahwa kita tidak boleh gegabah, harus lebih mempersiapkan diri bila akan melakukan suatu hal, tidak melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa ada persiapan.

Dalam Alqur'an telah disebutkan bahwa manusia akan diberi suatu kondisi / ujian yang membuat mereka sedikit ketakutan atau kehilangan, namun jika manusia berserah kepada sang khaliq maka rasa kehawatiran itu tidak akan mematikan langkah kita untuk melakukan tindakan sebagai solusi agar apa yang kita khawatirkan tidak terjadi karena kita sudah antisipasi. Berserah kepada Sang Khaliq, Penguasa Alam semesta, dan penguasa hati manusia, dapat membolak-balikkan hati manusia, semoga masih diteguhkan pada jalan kebenaran, jalan yang lurus bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Kata UAH, bila rasa khawatir atau cemas itu kita luapkan di sosial media maka yang terjadi adalah bertambah cemas karena kita tidak mendapatkan respon dari teman yang sebenarnya kita harapkan komentarnya,,. padahal sudah jelas-jelas dalam alqur'an jika hati sedang gundah, memikirkan hal yang sebenarnya belum terjadi, menjadi cemas, sebaiknya yang kita lakukan dengan berzikir bisa dengan shalat atau membaca alqur'an, karena dengan mengingat Allah SWT hati akan menjadi tenang dan kita berharap kecemasan akan semakin berkurang dan realitas yang ada tidak seperti yang kita cemaskan.

Belajar dari pengamalan, untuk saya pribadi, ada beberapa yang terlintas dalam pikiran namun bisa jadi dalam pandangan orang lain ada yang mengganggapnya sepele, namun mengingat saya dengan tipekal orang yang rasa peka hatinya yang berbeda dengan orang lain (perasa), cemas itu muncul jika ketika mendapatkan situasi atau kondisi yang tidak jelas permasalahanannya namun secara tidak langsung kita terlibat dalam permasalahan itu atau sesuatu hal yang tidak jelas konfirmasi keadaan sebenarnya atau tidak adanya informasi atau klarifikasi yang berkaitan dengan orang, keluarga, sahabat, teman atau sikap saya yang rela "mengorbankan diri sendiri" hanya karena kecemasan yang tidak berdasar maka dengan kondisi seperti ini itu. Dalam situasi-situasi tersebut, saya pribadi berharap logika saya masih mampu bermain walau intensitas dan kualitas masih kecil namun mampu memberikan jawaban atas kekhatiran yang tak bertepi dan tak berasal ini sehingga saya mampu berpikir logis, tidak terjebak dalam perasaan / cemas yang tidak berdasar, ketika diri ini sedang mengkhawatir ini dan itu, akan ada logika yang menjawabnya mungkin seperti ini baiknya, kamu sudah mempersiapkan yang terbaik, jangan khawatir akan hasilnya yang penting sudah berusaha maksimal. Terkadang saya meminta pertimbangan teman bagaimana pandangan dia tentang ini dan itu yang menjadi biang kecemasan itu namun dalam beberapa kondisi saya memilih diam dan lebih percaya sama diri sendiri dan berusaha mengatur pola pikirian dan jika ada rasa khawatir akan kondisi teman atau keluarga maka pilihan saya ada memanjatkan doa pada sang Khaliq sebagai Penguasa alam semesta dan tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini tanpa seizin Nya, Bahkan seperti apa kondisi yang kita khawatirkan, Sang Khaliq yang Maha Mengetahui, doa dimunajatkan agar  kondisi saudara kita, kondisi keluarga kita, teman kita, sahabat kita, relasi kita semua dalam lindungan sang Khaliq, tidak seperti yang kita khatirkan, diberikan kondisi yang terbaik dan mendapatkan solusi jika sedang mendapatkan masalah. aamiin ya rabbal alamin. Berdoa lebih baik karena melibatkan Sang Khaliq yang Lebih Maha Tahu akan segala yang sebenar-benarnya terjadi.

Tarakan, 10 Desember 2019
Pukul : 5.28 sore

09 Desember 2019

Selalu Ada Solusi

Pasangan dari masalah adalah solusi atau pemecahan masalah atau dengan kata lain setiap masalah pasti ada solusinya. ini berkaitan dengan persoalan waktu, kadang masalah dengan cepat kita mendapatkan solusi namun ada masalah yang harus menunggu cukup lama, namun tidak sedikit persoalan untuk memperoleh solusinya membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Dulu ada ungkapan bahwa masalah yang kita hadapi saat ini, orang lain sudah melewatinya (sudah mendapatkan solusi) sehingga kita perlu belajar dari pengalaman orang lain. Persoalan yang kita hadapi dari semua ini, mulai dari keluarga sendiri, saudara, teman, relasi, pekerjaan, dalam sebuah organisasi dan lain sebagainya. Jika persoalan pekerjaan, bisa didiskusikan bersama dengan seluruh tim yang terlibat sehingga dapat dibahas dan dianalisa apa sebenarnya yang terjadi dan solusi terbaiknya seperti apa dan solusi alternatif dari permasalahan itu juga seperti apa. 

Situasi agak berbeda bila persoalan yang kita hadapi adalah berkaitan dengan interpersonal, antara diri kita dengan orang dekat dengan kita atau orang di sekitar kita. Ini tidak hanya melibatkan logika untuk menyelesaikan namun keterlibatan emosi tidak bisa dihindari.Dalam persoalan ini ada ungkapan bijak bila salah harus meminta maaf, bila benar harus berbesar hati untuk memaafkan, namun akan lebih baik bila dahulu memaafkan tanpa harus menunggu permohonan maaf, berat tapi harus dilakukan agar kita tidak terjebak dalam ruang sakit hati yang tidak berkesudahan, urusan balas membalas itu menjadi persoalan dia dengan Sang Khaliq, lain cerita bila ada yang sudah memaafkan namun mengambil jalur hukum sebagai pertanggungjawaban.

Pada sisi yang lain (terlepas dari uraian di atas) yang selalu menghinggapi setiap orang adalah persoalan kehidupan, mencari makna dari setiap persoalan yang ada atau menemukan hikmah dari lika liku kehidupan. Manusia tidak akan lepas dari permasalahan, bahkan dalam al qur'an disebutkan setiap masalah yang ditimpahkan pada manusia untuk menguji kesabaran, untuk menguji keimanan , menaikkan derajat manusia dan bahkan sebagai "teguran" atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Salah satu ustat kondang UAH, menjelaskan yang mengutip al qur'an  bahwa masalah itu diberikan kepada kita karena kita sanggup menghadapinya kalau diberikan kepada orang lain maka dia tidak akan sanggup. Nah, ketika kita sudah yakin bahwa masalah itu selalu ada solusi, maka tugas kita adalah menjalani masalah tanpa harus mengeluh, kenapa begini kenapa begitu. Memang untuk mendapatkan solusi dari permasalahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun bukan berarti seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ingatlah selalu ada solusi, yakinlah itu dan harus benar-benar yakin bahwa Sang Khaliq sudah  menitipkan solusi dari persoalan yang kita hadapi, sehingga salah satu usaha yang kita lakukan adalah berdoa, melalui doa yang kita panjatkan pada sang Khaliq, kita berharap diarahkan bahkan dipertemukan dengan hal-hal yang merupakan jawaban dari persoalan yang kita hadapi.

Hadirnya media sosial saat ini seperti youtube, instagram melalui video pendek kurang 1 menit atau melalui qoute yang diupload menjadi salah dua atau banyak yang bisa temukan solusi dari persoalan yang kita hadapi asal niatnya benar-benar untuk mendapatkan solusi, jika hanya untuk menguatkan pembenaran dari permasalahan yang ada, tidak melihat kedalam diri namun lebih cenderung menyalahkan orang lain, maka yang ada kita semakin kuat dengan pembenaran yang sudah kita pegang teguh, hati kita sudah mengeras dan sulit menerima solusi. Potongan-potongan video yang ada di Youtube dan IG bisa menjadi solusinya sesuai apa bentuk persoalan yang kita hadapi, setelah mendapatkan jawabannya perlu kita merenungi salahnya dimana, apa yang harus saya perbaiki dan pa yang harus saya lakukan agar permasalahan itu bisa terselesaikan. Apalagi dikedua media sosial itu banyak ustat dengan segudang ilmu sesuai dengan kapasitasnya menguraikan dan menjelaskan yang bisa jadi solusi dari masalah yang kita hadapi. (contoh kasusnya akan dibuatkan part berikutnya :)

Tarakan, 9 Desember 2019
Pukul : 09.01 Pagi

06 Desember 2019

Tantangan Terberat

Sebuah tantangan hadir untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kita, apakah bisa mengatasi tantangan itu atau tidak sama sekali. Jika itu berkaitan dengan bakat atau skill, akan menjadi hal yang wajar jika kita dihadapkan pada tantangan tersebut, dari tantangan itu kita bisa mengukur dan mengevaluasi sejauh mana persiapan yang sudah kita lakukan. Misalkan kita ditantang untuk bisa berlari hingga jarak 15 KM, sementara sejauh ini kita masih mampu pada jarak 12-13 KM, jika kita tidak menerima tantangan tersebut maka kita tidak ada upaya untuk mau meningkatkan jarak lari yang kita lakukan selama ini, sebaliknya akan berbeda jika kita menerima tantangan tersebut maka kita akan berusaha dan merencanakan program dan target lari sehingga tantang itu bisa kita penuhi dan kita jalankan secara konsisten tidak hanya pada saat jatuh tempo tantangan namun berlanjut pada hari-hari berikutnya. 

Cerita akan berbeda jika tantangan yang kita hadapi adalah komitmen terhadap diri kita sendiri. komitmen untuk belajar menjadi lebih baik, bergerak pada suatu tujuan hidup ke tujuan hidup yang lain. setiap orang punya cita-cita dan setiap orang memiliki impian dan tidak ada yang gratis dan dengan sejejap mata akan terwujud, semuanya berproses dan salah satu untuk mencapai proses itu adalah dengan menjalankan komitmen, komitmen untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini yang menyita banyak waktu dan pikiran, terlibat dalam hal-hal yang sebenarnya bukan urusan kita.teringat dengan sebuah kalimat bijak "Jangan bicara yang tidak perlu dibicarakan dan jangan cari tau yang tidak perlu kita tahu" . Bagi saya ini merupakan tantangan berat ketika banyak orang begitu antusiasnya ingin mengetahui segala hal yang bisa jadi hanya untuk melegakan dahaya "sekedar ingin tahu" tapi sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan dia bahkan kepentingan dia. sama seperti pada bulan di bulan yang lalu tentang "sadar diri dengan posisi sekarang" semakin meyakinkan pada diri saya pribadi untuk menahan diri terhadap keingintahuan atau keterlibatan lebih jauh pada hal-hal yang sebenarnya bukan urusan dan kepentingan kita.

Berat??? tapi harus dijalani dan dibiasakan, itulah tantangannya ketika kita akan belajar dan berniat untuk lebih baik maka kita harus menanggalkan kebiasaan yang tidak berfaedah,. bukankah itu ujian dari komitmen kita, diawal-awal masih melanggar masih batas kewajaran namun  harus dievaluasi dan dipelajari kembali titik lemah dimana kita masih gagal dan mengulangi kebiasaan yang tidak berfaedah, belajar dan mulai bertahap untuk menjalankan komitmen kita, komitmen kita merupakan janji kita terhadap diri kita sendiri, jikalau kita sendiri tidak menghargai dan menjalankan komitmen yang sudah diikrarkan maka harus bagaimana lagi untuk meyakinkan kita untuk berubah. belajar belajar dan terus belajar.

Tarakan, 6/12/2019
Pukul : 5.58 sore

05 Desember 2019

Intuisi atau (hanya) perasaan

pernakah anda mengalami suatu kejadian yang membuat kita sulit untuk menerimanya ini tidak lain karena ketidaksiapan kita menerima kejadian atau kondisi yang kita alami tersebut. saya mengalami beberapa kejadian namun setelah disadari, signal / pemberitahuan awal tentang kejadian itu sudah ada sebelumnya. beberapa kejadian yang saya alami yang berkaitan dengan relasai pertemanan atau persahabatan. Dalam salah satu kejadian saya mencoba untuk mengurang intensitas komunikasi dengan teman, salah satu alasannya tidak ingin mengganggu atau terlibat lebih jauh terhadap permasalahan yang dihadapi, saya membacanya dari beberapa status / story yang dibuatnya, "tidak bisa diandalkan saat dibutuhkan" ada juga menuliskan "jenuh" dan dalam beberapa kesempatan saya menahan diri untuk tidak menghubungi, padahal selama ini komunikasi tetap terjalin walau hanya menanyakan kabar dan kerjaan, itu rutin setiap malam dan sampailah pada suatu waktu dimana nomor sudah tidak bisa dihubungi dan status w.a terakhir aktif ditanggal dan jam yang tidak berubah, ini sudah berlangsung 5 hari. Saya berpikir seandainya saya alagi dekat-dekatnya berkomunikasi tiba-tiba kehilangan kontak secara mendadak pasti rasa kehilangan akan lebih besar. 

Demikian juga dengan  beberapa kali komunikasi dengan beberapa teman bahkan kolega, dalam pengalaman dan penilaian subjektif kita, orang tersebut tidak bisa dijadikan partner yang baik dalam bekerja, dilihat dari komunikasi dan cara menyampaikan gagasan, sulit rasanya untuk menemukan kecocokan namun bukan berarti tidak bisa komunikasi sama sekali namun untuk keperluan tertentu atau kepentingan tertentu nampaknya harus ditunda dulu kebersamaan itu, ini tidak lain cara pandang kita agak berbeda, namun sebagai orang yang tetap menghargai dan menghormati, lebih baik diam dari pada menceritakan pada orang lain untuk menghindari adanya fitnah, apagi karena dasar ketidakcocokan yang akan mengarahkan pada penilaian secara emosional dan tidak logis. Didiamkan dan sengaja untuk tidak mengungkapkan, takut terjebak dalam perasaan (baca:bawa perasaan/ baper) hanya ketidaksesuaian apa yang kita harapkan pada orang tersebut sehingga kita lebih banyak melibatkan emosi kita dalam bersikap). Sampailah pada suatu pembicaraan dengan kolega yang lain yang memiliki pandangan yang persis sama dengan kita, padahal kita tidak pernah membericarakan hal tersebut secara langsung, namun penilaian kita tentang bagaimana sudut pandang dan cara mengambil keputusan yang sama sehingga ini menjadi tantang bagi kita apakah pada saat yang bersamaan kita ikut menjadi pemanas pembicaraan atau bersikap bijak dengan berusaha untuk tidak terlibat jauhb dalam perbincangan dengan  pelibatan rasa atau emosi.

Apakah ini yang namanya intuisi, atau bisikan kalbu yang mengarahkan kita pada konidisi yang baik, beberapa kejadian menunjukkan kondisi yang mengharuskan kita,siap untuk mengalami dalam ketidaksiagapan kita, belajar memahami kondisi tanpa harus melibatkan emosi atau ego secara berlebihan, respon kita harus tetap jernih tanpa ada keterikatan dengan kepentingan tertentu bahkan untuk kepentingan ego/ emosi tertentu, tujuan kita menemukan kebenaran, menemukan kesiapan diri kita agar mampu membaca secara jernih segala kejadian yang kita alami baik yang kita sendiri tidak siap atau yang kita siap / antisipasi.Apalagi kita bisa saja terjebak dalam kungkungan perasaan tanpa berpikir secara logis tentang kondisi atau situasi yang kita alami. Tetap tenang dalam membawa diri, tidak berlebihan, jauhkan emosi ketika berkesimpulan dan memutuskan. Kalaupun yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita duga, paling tidak kita sudah berusaha untuk tidak melibatkan ego atau emosi ketika bersikap. wallahu a'lam bishawab.

Tarakan, 5 Desember 2019
Pukul : 6.37 sore

Hanya Berharap (menggantungkan harapan) Kepada Allah SWT

Begitu banyak keinginan yang diharapkan terwujud, namun dalam kenyataannya dan dalam merealisasikannya tidak semudah saat kita menyusun atau menetapkan keinginan tersebut. Ada petuah yang selama ini didengar "Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan" "yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan", memang untuk mengetahui apa yang sebenarnya benar-benar kita butuh yang mana hanya keinginan semata tidaklah muda, kita terjebak dalam ruang kosong tanpa arah. Nanti setelah kita mengalami kejadian barulah tersadarkan. misalnya kita berharap akan mendapatkan sesuatu yang selama ini kita inginkan, memiliki barang tertentu, menginginkan sesuatu namun tidak kunjung padahal kita sudah sangat mengusahakan dan sangat berharap bahkan kita sudah merasa memilikinya dalam angan-angan kita namun begitu dihadapkan pada kenyataan yang terjadi malah jauh dari apa yang kita harapkan, beberapa saat "sangat kecewa" bahkan sedih, dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menerima kenyataan dan meyakinkan dalam diri "belum rejeki, bukan milik kita" semoga Allah mengikhlaskan hati kita dan tidak membuat berputus asa.

Demikian juga bila berharap pada manusia, dalam imajinasi kita  menginginkan orang di sekitar kita harus memiliki sifat dan sikap tertentu, dia harus begini dia harus begitu, kita sudah melakukan ini dan kita harapkan dia seperti juga melakukan apa yang kita inginkan, namun pada kenyataannya tidak seperti diharapkan, malah menunjukkan sikap yang jauh dari keinginan bahkan yang kita tidak suka sama sekali,.. kembali lagi berharap manusia akan menimbulkan kekecawaan, sakit hati dan rasa jengkel, tapi mau bertahan berapa lama dengan sikap seperti itu? mau sampai kapan kita berlarut dalam keinginan dan mungkin sulit untuk diwujudkan,. kembali lagi pada sifat manusia, tidak sempurna, masih banyak kekurangan, tidak semua keinginan dan harapan kita bisa diwujudkan dalam keterbatasan sebagai manusia, kalau seperti itu mending kita mendorong diri untuk mewujudkan apa yang sebenarnya bisa wujudkan tanpa harus memaksakan diri namun bukan berarti usaha kita ala kadarnya tidak maksimal. 

Allah Maha Sempurna, Allah SWT mengetahui yang terbaik untuk hamba-hambanya, semoga kita semua diarahkan pada hal yang diridhoi Nya, bukan hanya keinginan kita diluar batas kemampuan dan kebutuhan kita, bukan pada hal yang membuat kita puas tanpa ada rasa syukur bukan pada keinginan yang membuat kita malah jauh dari cahaya Nya, semoga Allah SWT membimbing dan mengarahkan kita pada yang kita butuhkan, yang terbaik untuk kita sekalipun kita tidak menyadarinya. walllahu'alam bish shawabi

Tarakan, 5/12/2019
Pukul : 7.55 pagi

03 Desember 2019

Menjadi Lebih Baik Lagi (Refleksi 37thn)

Alhamdulillah wasyukurillah,.. Segala puji bagi Allah SWT, atas segala karunia dan rahmatMu ya Rob, 37 tahun yang lalu tepat tanggal hari ini, tangisan pertama saya ada di dunia yang fana ini, belum ada cerita yang pasti, jam berapa yang pasti saya hadir untuk pertama kali, cerita dari saudara kalo saya lahirnya setelah shalat maghrib pas lagi mati lampu makanya kulit saya lebih gelap bila dibandingkan dengan saudara yang lain hehee dan satu hal juga yang membedakan dengan saudara saya yang lain adalah hanya saya yang lahir di kota bau-bau, 4 saudara saya yang lain semua masih lahir di kampung halaman orang tua di Gu (lakudo), almarhum adik saya juga lahir juga di kota yang sama.
Hari kelahiran menjadi titik untuk merefleksikan diri, sejauh mana kaki ini sudah melangkah, apakah sudah lebih baik, apakah target diri sudah tercapai dan yang menjadi prioritas saat ini, apakah kadar keimanan saya sudah bertambah. Memang belum ada parameter yang jelas untuk menilai apakah saya pribadi sudah berubah kearah yang lebih baik, ini tidak lain dari pandangan dan penilaian orang lain sekalipun pandangan orang lain ini ada tendesius baik positif maupun negatif, apakah mereka menilai dengan jujur atau karena ada hal tertentu. Sayapun belajar untuk menilai diri dengan jujur tentang apa yang sudah saya lakukan, saya menilai kembali penilaian orang-orang di sekitar apakah benar adanya atau seperti apa, kalo baik maka harus dipertahankan dan berproses untuk ditingkatkan kalo masih ada yang kurang, saya belajar untuk memperbaiki diri dan melihat pada sisi mana yang harus saya hilangkan atau saya revisi J
Tidak ada selebrasi yang khusus, dan saya juga belajar untuk tidak meminta ucapan khusus dari orang-orang mau teman dekat, mau teman kantor mau kenalan mau saudara, biarlah mereka yang tahu sendiri dan kalo diucapkan ya alhamdulilah J notifikasi ulang tahun di facebookpun dinonaktifkan kayaknya bukan tipe saya harus merayakan atau membuat rame dan memang sengaja untuk tidak memberitahukan orang lain. Namun sejak anak-anak sudah mulai mengetahui tentang hari milad dan melingkari di kalander semua hari  milad orang di rumah sehingga tidak bisa dihindari lagi kalau tiba-tiba anak-anak malah yang mengingatkan hehehe. Tidak ada keharusan untuk merayakan, yang ada hanya memberikan kue tar dengan harga sesuai kantong hehe yang penting rame dan untuk tertawa-tertawa orang-orang di rumah, tidak ada acara tiup lilin, hanya untuk makan kue tar semata J

Sayapun, menantikan hari bersejarah dalam hidup ini, pas dini hari tadi, begitu terbangun dan menunaikan shalat malam dan pas waktunya jam 3 dan menunggu menit ke12, begitu persis di layar hp jam 03.12 langsung discreenshoot. Hehehe Banyak hal yang harus disyukuri dan refleksi diri, dikasih kesehatan sehingga menjalankan ibadah baik wajib dan sunnah, diberi cahaya iman sehingga masih digerakkan hati untuk ke masjid dan mengikuti ta'lim, diberikan kesabaran ketika menghadapi persoalan yang begitu rumit dan penuh perjuangan, diberikan kelapangan dada begitu menghadapi sesuatu yang tidak kita harapkan / tidak sesuai impian, dilembutkan hati ketika harus menghadapi hal yang menguras emosi dan marah, diberikan "bisikan hati" ketika bimbang harus menentukan mana yang terbaik dan bagaimana harus bersikap, diberikan kebijaksanaan ketika menghadapi sesuatu yang sesuatu yang tidak sesuai standar yang telah ditetapkan, diberikan kejernihan hati ketika harus menghadapi sesuatu atau orang yang tidak sesuai apa yang kita pahami tentang agama atau bagaimana seharusnya orang bersikap (berseberangan dengan diri kita), semoga kedepannya makin baik dan lebih baik lagi,, aamiin ya Rabbal alamin

Tarakan, 3 Desember 2019
pukul 04.05 sore

Berteman Sewajarnya (Lika Liku Teman Part7)

Mungkin ini menjadi part yang terakhir dari diskursus tentang lika liku pertemanan, mungkin ini adalah bagian klarifikasi pada beberapa part sebelumnya, terlebih tentang masalah sejauh mana batasan kita terlibat dalam permasalahan pertemanan, bagaimana respon kita terhadap teman yang menjadi "dingin" dan bagaimana saya secara pribadi belajar dari pengalaman yang sudah-sudah bisa jadi adalah kesalahpahaman. Kejadian dua hari yang lalu teman yang begitu dekat sudah dianggap sebagai saudara sendiri tiba-tiba ga bisa dihubungi nomornya dan w.a status lastseen jam 2.30 dini hari, facebook terakhir mengupdate status seminggu yang lalu dan story w.a terakhir hari jum'at jam 2 siang dengan tulisan "jenuh", seminggu ini bila dilihat statusnya mengisyaratkan ada masalah dan berharap pada seseorang untuk membantu namun tidak seperti yang teman harapkan (dugaan saya), karena teman ini tidak seperti biasanya, kalau ada masalah langsung ngomong, dan memang benar-benar lagi ada masalah,. saya sengaja tidak terlalu terlibat jauh, hanya sekedar menanyakan kabar dan dijawab seadanya. sebagai teman saya hanya mendoakan semoga dia baik-baik saja, dalam lindungan Allah SWT, bila sedang mendapatkan masalah segera diberikan solusi yang terbaik.aamiin (update 6 Desembar, setelah 5 hari ga ada kabar, malam sabtu, tiba2 ada w.a masuk dan ternyata dari teman ini, dan setelah ngobrol-ngobrol ternyata HPnya rusak :) dan baru diperbaiki..hehehe, pelajarannya : khawatir wajar, jangan berlebihan)

Kasus yang berbeda namun ada sedikit kemiripan :), belajar dari pagi ini dan satu dua hari terakhir ini, ketika dihadapkan dengan beberapa teman yang bersikap "dingin" saat chat, namun yang begitu menjadi inspirasi adalah kejadian pagi tadi. Sebelumnya, saya secara sengaja menghilangkan kontak sama salah satu teman ini, dengan alasan dia mulai "dingin" dan agak berubah dalam beberapa bulan terakhir dan kisahnya sudah ada dalam part sebelumnya :) dan berniat untuk benar-benar tidak menghubungi lagi dengan alasan dan pertimbangan ini dan itu, tidak ingin mengganggu dia, Namun kesininya saya berpikir apakah saya harus bertahan  seperti ini dan  mempelajari beberapa kejadian yang sudah-sudah dengan teman ini, saya pernah beberapa kali kehilangan kontak dan tanpa ada penjelasan sebelumnya, pamitnya tiba-tiba namun kemudian hari saya mendapatkan selebaran kerta tentang nomor yang harus saya hubungi dan saya yakin itu dia. Setahun kemudian terjadi lagi dan memang kondisi dia lagi drop harus beradaptasi dengan kondisi sakit dan kondisi pekerjaan yang berbeda sebelum sakit (masih di kantor yang sama), lalu tidak lama dia menghubungi kembali dan menanyakan kabar dengan menggunakan nomor yang baru. inilah yang menjadi pertimbangan berarti dia masih ada niat untuk kembali menjalin komunikasi walaupun dengan nomor baru itu teman ini masih saja dingin bila diajak ngobrol, hampir sebulan saya tidak menghubungi karena alasan itu dan saat yang sama saya mengganti HP dan tidak menyimpan nomor dia agar story teman tidak terbaca oleh saya (story hanya terbaca bila teman dan kita menyimpan kontak bila salah satunya tidak maka story tidak akan terlihat di layar w.a) 

Semalam saya mencoba menggunakan HP yang lama yang masih ada aplikasi w.a, saya registrasi ulang dan kontak masih utuh, saya melihat last seen teman ini kamis, atau 4 hari yang lalu, malamnya antara sadar dan tidak sadar saya melihat dia baru saja online, berarti lagi jaga malam, pagi tadi saya coba menyapa (setelah 1 bulan), dan dibalas, dan yang membuat senang, obrolan kami kembali cair seperti dulu, saya sempat kaget dan ga percaya, bahkan saya bercanda apa ga ucapakan HBD sama saya, dan dia ucapkan kata-katanya sangat menyentu, saya meminta maaf atas kejadian selama ini kenal, dan dia mengatakan hal yang sama, dan sempat teman ini bercanda untuk traktik minum teh telur (minuman fav saya selama di bandung) dan dia bilang masih ingat, odia bilang sejauh ini dia masih menganggap saya orang yang baik dan ga mungkin akan melupakan.. spontan dalam diri saya 'ist amazing" wow.. akhirnya kata-kata ini keluar juga dari" spontan apa yang selama beberapa bulan ini (sejak komunikasi jadi dingin) seketika lenyap, dia masih yang selama ini saya kenal, kalaupun ada yang berubah pasti karena ada persoalan yang sulit untuk diungkapkan dan mungkin dia butuh waktu untuk diri dia sendiri.

Kejadian seperti juga terjadi di beberapa teman di w.a, ada yang hanya membaca komen tanpa balasan sama sekali sudah begitu tanda centang dua dinonaktifkan :) ada juga yang begitu dingin membalas w.a dan mengatakan lagi sibuk, mungkin bagi dia benar namun rasa tidak enak bagi kita yang membaca balasan tersebut. Bukan saya kalo ga ada rasamalu untuk kembali menyapa mereka (rata-rata hampir sebulan tidak menyapa) dan semalam saya mencoba untuk menyapa dan dibalas :) hehehe. Teman ini orang baik dan memberikan info dan masukan bila ada hal yang saya tanyakan dan konsulkan kebetulan berkaitan dengan pekerjaan mereka. Mungkin ini pelajaran buat saya pribadi, jangan sering-sering koment story cuman sebagai viewer saja tanpa harus memberikan emoji apalagi koment. hehehe dan memberi koment pada status-status yang memang butuh dikoment bukan story yang hanya basa basi, nalar kepo juga tidak bisa tertahankan, inilah menjad ihal yang harus dipertimbangkan, bertemanlah sewajarnya.. harus banyak menahaan jempol dan telunjuk :) jangan sering-sering koment story, jangan sering-sering menanyakan kabar, sebulan sekali cukuplah, jangan cepat menilai hanya karena tidak dibalas chat, berpikir positif bahwa mungkin teman kita lagi sibuk, lagi pengen sendiri dan tidak ingin berkomunikasi dengan orang-orang, ingin berdiam diri. berkawanlah sewajarnya

Tarakan, 3/12/2019
Pukul : 11.45 pagi menjelang siang