Kata orang bijak pengalaman adalah guru yang terbaik. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa apa yang kita alami saat ini adalah sudah dialami lebih dulu oleh orang2 sebelum kita sehingga apa yang mereka alami apa yang mereka telah lakukan bahkan kesalahan mereka perbuat menjadi pelajaran buat kita. Demikian pula dalam agama, dalam kajian yang pernah diikuti beberapa saat yang lalu, ustad menyampaikan ayat tentang bagaimana orang-orang dulu diberikan azab sehingga menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sekarang.
Sebenarnya uraian di atas hanya sebuah intro dari apa yang hendak saya mau sampaikan (entah nyambung atau kaga :) sayaingin bercerita tentang pengalaman seminggu yang lalu. Ketika saya sudah meniatkan membantu teman untuk mencarikan "barang" yang sebelumnya pernah dia ungkapkan untuk beli dalam beberapa kali pertemuan namun selalu kehabisan dan terakhir 2 minggu yang lalu saat ketemu juga mengatakan akan membelinya dan ketika berada di penjualnya juga kehabisan. terakhir saya menawarkan untuk membelinya dan ternyata juga senasib dengan sebelumnya kehabisan. Hingga tibalah waktu yang kebetulan bersamaan dengan jadwal untuk lari pagi dan mampir dan alhamdulillah barangnya ada, memang penuh perjuangan.. hehe singkat cerita saya memberitahukan ke teman itu kalo ini barangnya sudah ada dan ternyata si teman ini lagi berada diluar kota :( saya berharap besok dia balik ke Bandung biar barangnya bisa diambil (baca : cake/bolu). Uda bela2in dititipin dikulkas ibu kos, karena teman ini lagi berada di luar Bandung, seharian hanya komunikasi di awal ga ada respon lagi setelah sempat terlintas dalam diri "ini barang memang terlihat biasa2 aja, mungkin bagi dia tidaklah seberapa bahkan dia bisa beli dengan cake lain yang lebih mahal, tapi sudahlah saya berpikir tidak menduga2.. sampailah keesokan harinya, siang tiba2 dia w.a (setelah 1x24 jam) nanyain itu bolu :) saya jawab masih ada, dan dijawab mohon maaf slow respon karena banyak kerjaan dan saya bilang gpp, berarti itu cake saya makan sama teman2 saja. memang benar cake itu dibagikan sama ibu kos, sama tetangga penjual makanan, sama teman kebetulan lagi ketemu siangnya dan sama teman yang membantu penelitian saya :) panjang juga ceritanya ;D
secara pribadi saya gak permasalahkan kejadian diatas, toh niat baik apalagi untuk teman, namun yang membuat saya berhenti sejenak berpikir, ada apa dengan kejadian ini kenapa begitu terasa... memflashback kebelakang barulah saya tersadarkan, tepat 4 hari yang lalu saya mengikuti ta'lim dari ust. Hanan Attaki di mesjid trans studio mall Bandung dan yang dibahas adalah jenis-jenis ujian kesabaran dan salah satunya yang dibahas adalah ujian zulzilla atau ujian kesabaran. Pas kenah banget... sekedar mengingat-ingat untuk pergi ke ta'lim ini tidaklah mudah hari itu bertepatan dengan jadwal lari sore yang biasanya pulang jelang maghrib, uda ngajak teman tapi ada ada halangan dan pas kesananya lumayan macet. ternyata inilah hikmah terbesarnya saya menghadapi sebuah kenyataan beberapa hari setelah ta'lim ini.
Ini ujian kesabaran yang sesungguhnya kita dihadapkan pada kondisi yang sudah kita dengarkan sebelumnya, mungkin tidak langsung tersadarkan mengingat saat itu masih terbawa perasaan (baper :) mungkin saat itu lagi ga enak-enaknya sama teman karena seolah-olah dia tidak menghargai atau bahkan dia gak mau tahu betapa sulitnya mendapatkan cake yang menurut dia "kampungan" (saking kesalnya dia karena beberapa kali kehabisan) sebenarnya dia bisa beli di jalan dengan harga yang ga terlalu jauh tapi pengalaman dia pernah seperti itu dan rasanya lain dan memang saya sudah mengalaminya dan rasanya agak beda bila beli langsung (tangan pertama), tapi inilah cobaan sebanar-benarnya ketika kita sudah bersungguh-sungguh membantu tapi belum sepenuhnya mendapat respon positif, apakah saya gak ikhlas?? tunggu dulu, sejak awal sudah tidak mengharapkan apa2 sekedar ingin membantu dengan alasan-alasan tadi. pertanyaannya kenapa mau membantu...? namanya teman, apalagi sempat dia katakan itu akan dikasih orangtuanya... ya udah itu saja
inilah manfaat langsung ta'lim yang diikuti, manfaat real, kondisi gadiharapkan, bahwa kita dapat melewatinya tanpa memberikan efek negatif, belajar untuk ikhlas, belajar untuk bagaimana menyadarkan diri akan kondisi atau masalah-masalah yang kita hadapi yang ternyata itu bagian dari menguji iman kita. karena iman dan sabar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan (kata ustad) kita tidak akan dikatakan beriman kalo kita belum berhasil melewati ujian-ujian yang mau mengukur sejauh mana kesabaran kita dalam melewatinya, untungnya setelah kejadian ini saya dan teman ga ada efek negatif yang timbul walau merasa gimana :D tp berlangsung lama karena sudah sadar kalo ini rangkajian ujian keimanan diperhadapkan dengan kondisi yang tak terduga dan tidak kita inginkan tapi kita harus hadapi. sisi positif lain adalah bolunya bisa dinikmati oleh orang-orang disekitar kita dan tidak pupus untuk berbuat baik
Semoga Allah SWT selalu menguatkan diri ini ketika berhadapan dengan kondisi2 seperti itu dan bahkan bisa lebih berat lg... walluhu a'alam bishawab
Bandung, 22 April 2018
Pukul : 10.20 WIB