Akhirnya saya harus menulis tentang ini, bagaimana tidak kebiasaan yang sudah mendarah daging yaitu suka sambal yang pedas atau makanan pedas lainnya yang tidak bisa dihindari karena kondisi lambung saya yang tidak bisa menahannya. ini cerita 3 hari yang lalu ketika saya harus ke IGD RS Santo Borromeus Bandung, bagaimana tidak, pagi setelah meneguk kopi susu kepala saya serasa berputar tidak seperti biasanya (baca: vertigo) rasanya begitu kuat hingga ketika saya memencamkan mata terasa banget hingga muntah-muntah dan karena sudah tidak bisa menahan, saya meminta tolong sama teman kos untuk di antarkan ke rumah sakit tersebut. setelah mendapat suntikan dan obat minum agak berubah sedikit sehingga harus rawat jalan dan diperbolehkan pulang namun kondisi masih begitu lemas hingga untuk menjalankan shalat jum'at saat itu sudah tak mampu berdiri apalagi untuk berjalan ke mesjid. sore harinya alhamdulillah sudah bertambah perubahan dan sudah bisa untuk berjalan hingga ke toko depan gang kosan.
Bukan pertama kali saya merasakan seperti ini, 5 tahun yang lalu tepatnya saat rafa lahir saya pernah merasakan seperti ini namun muntahnya tidak separah ini sehingga saya harus membatalkan puasa saya saat itu dan setelah menelpon teman saya dianjurkan meminum obat mual dan obat magh alhamdulillah sehari sudah sembuh dan besoknya saya harus balik lagi ke Tarakan (dari makassar). Obat ini menjadi pegangan saya selama ini terutama obat magh karena saya punya riwayat magh sejak dulu sehingga selalu diwanti-wanti dan selalu menyiapkan obat magh jika terjadi seperti ini terutama bila gejalanya mulai terasa.
Hari-hari belakangan ini memang terbilang sangat sibuk dengan tugas akhir yang harus diselesaikan ditambah lagi dengan kegiatan untuk persiapan ramadhan, nah yang terakhir ini bukan berarti sebuah problem namun ada beberapa rentetan kejadian yang memang kurang pas dan diluar ingatan saya. Yang pertama ketika shaum syahban, seperti biasanya saya membiasakan diri untuk mengkonsumsi obat magh saat sahur namun saya tidak melakukannya karena benar-benar tidak ingat. Kedua bukan menyalahkan kegiatan yang saya lakukan karena begitu buka puasa bertepatan dengan ceramah yang saya ikuti, nah itu juga diluar kontrol saya seharusnya saya menyiapkan buka yang lebih sehat paling tidak menyediakan teh botol (seperti biasanya untuk mengganjal perut) karena ceramahanya selesai jam 9 malam dan untuk sampai ke tempat makan butuh 30 menitan artinya kurang lebih 3 jam perut saya kosong tanpa nasi (asli orang Indonesia untuk makan). Ketiga begitu tidak berdosanya saya melahap sambal tanpa ingat-ingat kalo lambung saya tidak aman, setelah berpuasa. Keempat karena merasa aman-aman selama 3 hari belakangan, ketika melakukan perjalanan PP Bandung Jakarta untuk bertemu dengan paman, tanpa rasa berdosa bahkan meminta ikan yang dimakan sama paman yang dibuat dengan belimbing mangga dan jeruk plus cabe, pass banget dicampur dengan masakan padang yang sudah pasti pedasnya. kelima sesampainya di bandung tanpa sadar saya mengkonsumsi makanan yang agak dingin dan lupa minum teh panas setelah perjalanan jauh. Keenam tanpa berpikir panjang paginya saya membuat kopi susu dan selang 30 menit gajala pusing mulai terasa dan akhirnya harus masuk IGD
Gejela pusing kepala berputar (baca : vertigo) merupakan keluhan yang berat yang saya rasakan. Jikalau sebelum-sebelumnya ketika makanan pedas saya selalu berurusan dengan diare kalo berat sedikit disertai dengan muntah-muntah (seperti perjalanan ke aceh, 2014 silam) dan kejadian terakhir sebelum ini adalah ketika melakukan perjalanan ke dusun bambu dan pulangnya langsung mencret-mencret dan harus ke puskesmas lagi-lagi masalah utamanya adalah karena makanan pedas. Masih teringat juga ketika bulan-bulan pertama awal perkuliahan saya mengalami sakit yang kurang lebih sama namun efeknya batuk yang tak kunjung sembuh, kata teman karena gas lambung yang mempengaruhi refleks batuk dan hampir 3x bolak balik puskesmas untuk berobat.
Inilah pelajaran penting bagi saya ketika merasa sudah sehat dan melupakan bahkan mengabaikan faktor risiko penyakit salah satunya makanan pedas, sudah sering kali menghindari namun pada momen momen tertentu lupa dan kejadian seperti ini. Saya barus berkata dalam hati "lambung saya tidak sehat, tidak cocok dengan makanan pedas, hindari sebelum sakit kembali" ketika masih sehat terkadang masih diingat namun begitu lagi sibuk-sibuknya dengan sendiri terlupakan". Namanya manusia terkadang khilaf dengan kondisi sendiri. Kalau dalam pendekatan agama, sakit menjadi menggugur dosa, sudah pasti ini jadi pengingat saya untuk lebih berhati-hati, awarness dengan kesehatan makanan dan juga jangan sekali-kali mencoba mengikuti teman yang memang sudah terbiasa dengan makanan pedas. kalo satu kali mencoba tidak ada efek jangan diteruskan lagi karena ketika mencoba untuk yang kedua kali biasanya akan memberikan dampak dan mungkin akan lebih besar. Nauzubillah min zalik.
Bandung, 6 Mei 2018
Pukul : 11.46 am (pas azan zuhur)