30 November 2019

Obrolan (Teman) Tiba-Tiba Berubah Dingin (Lika Liku Teman Part 6)

Di penghujung November 2019, saya kembali menulis tentang lika liku pertemanan, sebenarnya bagian ini sudah sempat dibahas sepintas di beberapa part sebelumnya namun belum begitu mendalam dan detail, inspirasi menulis ini tidak lain karena adanya kejadian baru saja. Mendapatkan teman tiba-tiba "dingin" dalam obrolan, ada dalam dunia maya dan ada juga dalam dunia nyata. pastinya kita akan bertanya dalam diri. Ada apa dengan teman yang berubah sikap tidak seperti biasanya, menanggapi seadanya, jika ada penyebab yang bisa diduga sebelumnya mungkin kita tidak akan terheran atau terkejut dengan perubahan tersebut namun jika tiba-tiba berubah pastilah menimbulkan tanda tanya. apakah ada yang salah dengan obrolan sebelumnya, apakah dia sedang bermasalah dengan saya? apakah dia bermasalah dengan keluarganya? tempat kerjanya? ataukah dia mendengarkan atau mendapatkan informasi tentang kita yang belum terkonfirmasi kebenarannya!! entah siapa yang bisa menjawab semua ini? berharap segera ada klarifikasi, entah kapan itu sehingga tidak ada salah persepsi bila itu ada kaitannya dengan diri kita sendiri. kejadian seperti ini buka satu dua kali, namun beberapa kali, ada yang berkahir dengan terputusnya komunikasi dan silaturahmi, ini biasanya karena salah paham, dan ada yang tetap terjalin komunikasi hingga saat ini karena saat itu lebih kemasalah pribadi dengan keluarga atau pekerjaan teman.

Sedikit cerita untuk kejadian terakhir ini, ada teman sudah sangat dekat, bahkan sudah sepertu saudara sendiri, dalam tiga bulan terakhir begitu intens komunikasi, hampir tidak ada hari yang terlewatkan tanpa saling menyapa, saling mendoakan dan saling mensupport. bahkan ada beberapa masalah bisa terselesaikan dengan saling memberi masukan, namun dalam beberapa hari terakhir, saya melihat beberapa kali teman ini memasang story kayak lagi ada masalah rumit, sebenarnya tidak ingin masuk ke ranah itu karena teman tidak bercerita secara detail, kayaknya benar-benar masalah serius, mungkin hanya sebatas itu keingintahuan saya dan saya tidak akan memaksa untuk mengetahui lebih jauh, dan mencoba untuk memancing dengan menyapa seperti biasa dan tanggapannya begitu dingin, tidak seperti biasanya dan saya tidak menghubungi 2-3 hari, dan begitu mencoba menyapa lagi-lagi masih dingin. kayaknya memang ada masalah di sana semoga itu tidak ada kaitannya dengan saya karena kalo ada pastinya akan dikasih tahu dan masalahnya bisa clear, semoga teman ini segera keluar dari masalah yang ada dan bisa kembali seperti biasanya walaupun obrolan saya tidak intens seperti dulu paling tidak masih tetap menjaga komunikasi dan silaturahmi

kedua, cerita tentang teman di Tarakan, memang sic kenalnya melalui aplikasi chatting sempat begitu instens komunikasi, kebetulan teman satu kantor dia adalah teman jogging dan saat lagi nonton bola di kantor teman ini (kebetulan lagi piket) dan saya sempat ngobrol sama teman kalo saya sering obrolan chatting sama salah satu yang kerja di tempat ini, dan ternyata teman ini bilang, orangnya lagi ada dan akhirnya kami ketemu. hehehe. dan sempat kembali komunikasi. selang beberapa lama,  makin kesininya nampaknya aplikasi chatting teman ini mengganti ID, ketika di add, kayaknya responnya sudah tidak seperti dulu, sempat terlintas apa ada yang salah dengan obrolan saya ataukah mungkin salah satu efek dari dunia maya itu adalah banyak "godaan" hingga membuat penggunanya tidak nyaman. sampai saat ini juga setelah kurang lebih 4 tahunan kenal, sekarang hanya bisa lihat dari kejauhan, kalo kebetulan berpapasan saya hanya berbalas senyum dan dalam hati bertanya apakah beliau ini masih ingat dengan saya atau bagaimana? hehehe (biar tidak ge'er) karena setelah ketemu di kantornya sudah tidak pernah lagi ngobrol, paling-paling berpapasan di jalan. dan teman yang satu kerja dengan dia sudah pindah tugas.

Adapula teman ngobrol, sudah sempat ketemu dan kebetulan saya lagi ada tugas di Medan, sekalian ada niat mau main ke Aceh, niat yang begitu lama terpendam sejak adanya tsunami, teman inipun memperkenalkan dengan keluarganya sempat diajak dalam kegiatan keluarga dan ditemani ke aceh bersama istri beliau. beberapa tahun obrolan berjalan lancar, hingga suatu waktu saat saya menghubungi dan ada respon yang tidak biasa, agak dingin dan makin lama membalas chat. saya nanya baik-baik katanya tidak ada masalah, namun kesininya makin penasaran, apalagi menanyakan tentang keluarga,. mungkin tidak akan dibahas di sini, dan memang dia lagi punya masalah dan baru jujur bicara setelah sekian lama,  sebagai teman hanya bisa memberi support dan mendoakan agar teman ini bisa keluar dan mendapatkan solusi terbaik dalam masalahnya.

Beberapa cerita tentang teman, sudah sempat disinggung dalam part part sebelumnya apalagi selama di Bandung, hehehe langsung kontak diblokir sama 3 teman di bandung hehehe.. ambil positifnya. Jika dilihat kembali filosopfi dalam berteman adalah karena ada kesamaan dan kecocokan dalam beberapa hal dan berharap akan memberikan dampak positif, sekalipun kita sudah berniat menjalin silaturahmi dan menjaga komunikasi namun semuanya dikembalikan sama teman kita sendiri, kita tidak bisa memaksakan kondisinya dan menjadi masukan untuk diri kita sendiri,jangan-jangan kita juga memberikan hal yang sama dengan teman kita. memang sebelumnya saya pernah bahkan pernah diingatkan sama teman kenapa tiba-tiba berubah? berkaca sama teman itu ada faktor yang kurang menyenangkan, misalnya teman ini sering minjam uang dan lupa mengembalikan, belum mengembalikan sudah minta lagi hehehe, ini namanya tidak tahu diri, atau misalnya kita menjadi berubah pandangan sama teman kita karena kita menilai teman ini memiliki niat atau tindakan kurang baik untuk diri kita, tidak tahu tempat ngobrol langsung ngajak ngobrol padahal situasinya kita lagi sibuk kerja, atau bahkan kita mendengarkan langsung atau menilai teman kita tidak baik dengan kita,tanpa dia sadari apa yang dia katakan apa yang dia lakukan menyakiti hati kita dan sudah sering menjadi membekas tapi orangnya tidak sadar akan itu, jadi untuk menghindari kita antisipasi untuk tidak terlalu dekat, hanya ngobrol seperlunya saya dan menjagaprofesionalisme

Semua kembali lagi sama diri kita, menjaga silaturahmi dapat membawa rejeki dan memperpanjang umur, niat kta sudah baik namun  bila tidak mendapatkan respon baik maka jangan berkecil hati. :) insyaAllah masih banyak orang atau teman yang bisa memberikan faedah buat kita dan juga buat teman terutam teman dalam mengingatkan dalam kebaikan.. wallahu'alam..

Tarakan. 30 /11/2019
Pukul 7.13 malam

29 November 2019

Teman Ngobrol / Chatting (Lika Liku Teman Part 5)

Ibarat sebuah cerita, yang terbagi menjadi beberapa sesi, cerita tentang pertemanan sayapun sudah menjadi part 5. semalam sempat berpikir, kok saya termasuk tipekal orang yang mudah sekali bergaul, itu dulu, hehehe karena kalo sekarang agak sulit memulai pertemanan bila tidak bertemu cukup lama dan berada dalam kegiatan yang sama. Seingat saya dulu dengan entengnya memulai percakapan dengan orang yang tidak dikenal misalnya ada keperluan yang sama dan ditempat yang sama dan ada topik untuk memulai pembicaraan. lagi-lagi itu dulu.. ;) kalo sekarang agak sulit terkecuali dalam kondisi dan situasi yang sama dan intens ketemunya (sudah dibahas dalam part sebelumnya) setelah diingat-ingat ini tidak lain, pengaruh dari alm ayah yang mudah sekali membuka percakapan dengan orang yang tidak dikenal, kebetulan saya paling sering melihat ayah saya bila ngobrol dan ayah juga sangat menjaga pertemanannya karena sebelum beliau wafat sahabat beliau sering datang menjenguk dan pada saat menjelang meninggalpun salah satu sahabat ayah ini tiba-tiba datang sehabis shalat subuh karena beliau punya firasat bahwa ayah meninggal,. sudah qdarallah tidak lama berselang ayah berpulang di pagi harinya. itulah arti sebuah persahabatan

Ketika memulai remaja dan saat kuliah di Makassarpun seperti itu, mudah sekali membuka percakapan misalnya pas lagi duduk-duduk atau lagi sama-sama menunggu, biasanya akan mudah sekali membuka percakapan. Kehadiran media sosial, aplikasi chatting semakin mengasah bakat atau kebiasaan itu. menggunakan platform chatting apalagi akan mudah mendapatkan pertemanan hanya dengan mengaktifkan orang-orang di sekitar aplikasi tersebut. ketika chatting pun bahan untuk obrolan selalu muncul bahkan ada teman ngobrol itu tetangga sendiri, beberapa rumah , namun belum pernah ketemu ini tidak lain karena awal-awal tinggal di tarakan rutinitas saya rumah kampus mesjid datu adil, hanya ketemu tetangga saat di mesjid, ada hajatan itupun karena dikenal sering ke mesjid dan ada juga karena ketemu di stadiun datu adil saat masih rutin jogging pagi atau lari sore. Melalui chatting juga mengenal beberapa pekerja yang ada di sekitar SKIP karena sama-sama menggunakan aplikasi yang sama. karena hobi yang sama misalnya suka jogging atau lain sehingga ngobrol tidak hanya di dunia maya namun diteruskan hingga kopi darat. semuanya berbalik sama kita baik positifnya pertemanan yang dijalankan apa niat dan tujuannya. Awalnya sering lewat, hanya kenal wajah dengan obrolan maya menjadikan lebih kenal lagi dan kalo ketemu paling tidak bisa saling sapa, dari dunia maya ke dunia nyata.

Kalo dikategorikan kecanduan chatting bisa ya bisa juga tidak, namun bila lagi suntuk lagi ga ada pekerjaan biasanya menjadi terhipnotis dan lupa akan waktu bahkan bila tidak chatting serasa ada yang kurang. apalagi bila obrolan chatting tentang hal yang menyenangkan dan persis hal yang kita cari bahkan terkadang menjadi curhat, menyampah,. tapi entah apa yang dirasakan, namun kadar kecanduan itu nyata. lagi-lagi itu dulu,  efek kesenangan itu yang membawa pada ketergantungan, mulai dari YM, massenger FB, whatsapp, BBM, bahkan wechat. untungnya kebiasaan hanya untuk mengisi waktu terlebih saat itu istri dan anak-anak masih di tinggal di Makassar jadi untuk mengisi waktu chatting menjadi solusinya, efeknya begitu istri dan anak-anak sudah di Tarakan, saya masih suka menggunakan aplikasi itu tanpa melihat waktu dan menjadi alasan ditegur a atau dimarahi :)... hehehe, sekarang kebiasan sudah dibatasi dan sudah mulai belajar mengurangi hanya digunakan  untuk pekerjaan dan silaturahmi bukan lagi untuk obrolan tidak berfaedah :)

Sayapun sempat bertanya dalam diri, selain alasan historis, apakah ada yang menjadi dasar ini, setelah searching ada artikel tentang ingin mudah berteman?? di dalamnya dibahas tentang karakter ekstrovert yang bersifat terbuka berbalik dengan introvert yang bersifat tertutup dan sulit akan bergaul. Bila ekstrovert memiliki sifat terbuka, menyenangkan dan teliti. kalau dilihat-lihat kedalam diri, ketiga sifat itu ada sama saya.. hehehehe ini juga berdasarkan pengakuan orang-orang, terbuka mudah menerima saran dari orang lain, menyenangkan tidak membosankan dapat mencairkan suasana menjadi tidak kaku dan teliti, nah ini saya banget. hehehe. kalo saya tambahkan "murah senyum semoga ini menjadi kesan tersendiri. saya mencoba merefleksikan diri semoga karakter ini bisa memberikan dampak positif bagi pertemanan dan membawa manfaat.. aamiin.

Tarakan, 29 November 2019
Pukul : 5.15 sore

28 November 2019

Menahan tidak kepo_ catatan Sore (part 2)

Sore ini mejadi begitu berat dan penuh godaan, bagaimana tidak, sore ini benar-benar mau belajar untuk tidak membuka whatsapp hanya untuk kepoin atau mengetahui status teman-teman online. bukan teman-teman yang berkaitan dengan pekerjaan atau saudara sedarah. Bagaimana tidak, biasanya selama ini saya begitu leluasa untuk membuka hp hanya untuk melihat notifikasi apakah ada w.a masuk ataupun tidak. saya memang begitu instans mengirimkan pesan untuk teman-teman online hanya sekedar mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar dan hal yang dinantikan adalah balasan pesan tersebut. itu rutin saya lakukan tanpa disadari menjadi habit, bahkan dalam satu bulan terakhir saya begitu intens melakukan komunikasi dan memang ada kesenangan sendiri. kata ahli neurosain, akibat kebiasaan itu hormon endorfin pun diproduksi di otak sehingga menimbulkan efek bahagia, senang, dan dampak efek senang ini akan menimbulkan ketagihan, ingin mengulangi dan mengulangi. 

untungnya efek endorfin ini adalah alamiah dalam diri manusia, namun akan memicu perilaku ketergantungan. Ini juga yang saat ini saya rasakan, kebiasaan untuk kepoin dan mengirimkan pesan itu membawa kesenangan tersendiri semoga dampak positifnya adalah menjalin silaturahmi. Sejak kemarin saya mencoba untuk berkomitmen untuk tidak kepoin story namun begitu banyak alasan tanpa disadari, masih saja jebol untuk buka aplikasi w.a padahal sudah disembunyikan aplikasinya namun notifikasinya  bisa muncul di layar bila ada pesan masuk. sampai sore ini juga dogaan begitu besar, apalagi memang di jam-jam yang menjadi rutinitas membuka hp dan mengirim pesan, tangan rasanya begitu gelisa ingin melihat notifikasi, apakah ada yang mengirim pesan tanpa sebelumnya saya yang ngirim duluan, atau biasanya teman-teman mengirim pesan sebagai tanggapan terhadap story yang saya buat. Namun tangan begitu gelisa untuk menyalahkan hp walau hanya memastikan ada notifikasi w.a atau tidak,.  paling tidak godaan untuk tidak membuka w.a dan biasanya tanpa disadari langsung kepoin story teman dan ujung-ujungnya mengirim komen. hehehe kalo seperti itu bakalan "bubar" "batal" komitmen yang baru saja akan dimulai

mulai sore ini belajar untuk kembali menahan diri, kembali untuk meyakinkan diri bahwa tidak perlu membuka aplikasi w.a hanya untuk kepoin story teman. kekhawatiran yang muncul wajar namun sebisa mungkin lebih realistis bahwa kita tidak aktif di w.a berarti teman kita akan mencari kita, kecuali salah satu teman di group SMP pasti akan mencari kenapa tidak aktif w.a hehehe karena orangnya sosmed maniac, bahkan sudah adictive sosmed :) sekali lagi memang berat tapi belajar untuk menghargai diri atas komitmen yang telah dibuat, tidak harus mengirim pesan, untuk teman yang sudah kayak saudara sendiri lebih baik mendoakan agar tetap diberi kesehatan untuk dirinya dan keluarganya serta dilancarkan aktifitas keseharian mereka, itu yang lebih positif dari pada kepoin story... mulai dari sakarang, mulai dari diri kita mulai dari hal-hal kecil dan bismillah untuk komitmen yang telah kita buat.

Tarakan, 28 November 2019
Pukul : 5.27 sore

Menahan tidak kepo_catatan Pagi (Part 1)

Pagi ini, kebelet sekali ingin menulis, namun  tiba-tiba kelupaan..hehehe padahal kemarin pengen sekali menulis namun karena ada yang harus dikerjakan kemarin jadi ga sempat baik pagi mapun sore hari, dimana waktu pas untuk menulis,.. apakah gerangan .... tiba2 muncul dalam bayangan,. story... Ya story,.. status di media sosial. bisa jadi berbagai motivasi untuk menulis story, sekedar eksis, sekedar menunjukkan eksistensi diri, sekedar memberi info / kabar atau sekedar "nyampah" atau bahkan curhat. namun tidak sedikit orang membuat story hanya sekedar pasang, bukan mewakili perasaan / isi hati atau pandangan ketika dikonfirmasi sama pemilik story jawaban yang diucapkan "sekedar status bukan kenyataan" :)

Tulisan ini tidak lain karena saya adalah orang sering mengupdate story terutama di IG, bila di whatsapp terkadang hal-hal yang sangat prinsipil karena sebagian besar kontak saya berkaitan dengan kerjaan / keluarga jadi menjadi alasan untuk berpikir panjang untuk membuat story namun saya masih ada satu nomor yang dulu biasa digunakan untuk paket data, sekarang diaktifkan w.anya dan kontak yang ada di dalamanya sebagian besar tidak berkaitan dengan keluarga / pekerjaan, dan beberapa group semua yang berkaitan dengan teman-teman SMP. jadi inilah media untuk mengekspresikan diri, sering bikin story bahkan untuk mengkepoin story. Belakangan kecanduan dengan ini hingga menimbulkan curiga dari orang dirumah, kenapa seperti ini kenapa seperti itu, dan sudah dijelaskan alasannya. karena beberapa teman saya memang teman sosial media namun banyak memberikan manfaat saling mengingatkan dan memotivasi dan yang terpenting ilmu agamanya tidak diragukan.

Dulu.., Saking deketnya sama teman, terkadang bikin story hanya sekedar pengen tahu apakah teman ini menjadi  story viewer atau tidak, apalagi jika teman tidak mengaktifkan last seen jadi otomatis tidak ketahuan kapan aktif, karena pesanpun hanya centang dua, apa sudah dibaca atau lagi malas membalas hehehe. ada beberapa teman dulunya sangat aktif membalas chat bahkan menjadi sarana untuk curhat bahkan tahu kondisinya dari storynya, dan seiring dengan pergantian waktu, kesibukan dan ritinitas bertambah bahkan kondisi kesehatan yang berbeda dan kedekatan an silaturahmi mulai berjarak, komunikasi tidak seintens dulu dan  tidak selamanya chat bisa langsung dibalas.Ada beberapa teman yang memberitahukan permohonan maaf karena baru bisa balas namun ada yang biasa-biasa saja dan mungkin bagi dia tidak perlu tergesa-gesa membalas toh bukan hal yang sangat urgent untuk di balas. bagi yang tidak lasngsung membalas bisa jadi karena ada batas jenuh belum lagi,. bagaimana kondisi emosi dan psikologisnya saat pesan kita masuk. dan  terkadang ada teman saat kita membalas story  pada saat itu dia baru mengingat kita.. hehehe langsung nyapa dan ini itu, beda dengan tipekal saya yang terkadang membalas / nanggapi story hanya sekedar menanyakan kabar atau menyambung silaturahmi. 

Namun hal yang menjadi ingatan dan refleksi, ini hanya dunia maya, bukan real, tidak semua kenyataan / realitas kita bisa tersampaikan dalam story atau status di media sosial, jadi menjadi catatan untuk tidak sepenuhnya percaya namun tidak berarti menolak mentah-mentah, perlu klarifikasi apa yang sebenarnya terjadi, sebatas mana keterlibatan kita dan sebatas mana support yang kita berikan. Dua hari ini belajar untuk tidak kepoin story orang-orang di platform media sosial apa saja atau media chatting, hari-hari ini menjadi hari-hari yang berat, ibarat yang belajar diet, godaannya sangat besar mau nahan makan atau makan saja, mau buka story atau nahan, tiba-tiba tengah malam buka hp dan aktifkan last seen dan menjadi investigator keaktifan w.a teman-teman, hehehe hari-hari pertama berat semoga kedepannya masih terbiasa.. semoga .. aamiin

Tarakan, 28/11/2019
Pukul : 8.14 pagi

26 November 2019

Perketat Manajemen Pengeluaran

Ini kali kedua saya menuliskan tentang kondisi keuangan, bulan lalu masih tercekik karena belum apa-apa sudah menipis, bulan ini juga terjadi kemudian, mungkin karena selama ini alhamdulillah seolah-olah selalu aman. namun dua bulan ini benar-benar real "tercekik". kemarin saking tidak ada uang di dompet, bingung mau beli popok, anak barusan BAB dan harus diganti popok, dirumah tidak ada persediaan, didompet ga ada sama sekali, dan ditiga rekening yang saya miliki semuanya dalam jumlah saldo yang tidak bisa di tarik. Tak kehilangan akal, akhirnya solusinya "mencari alasan" dengan beralibi  sama bule penjual bahwa nanti uangnya diantar karena belum ditarik di ATM ( emang belum ditarik karena ga bisa diterik... maaf bule., tidak ada maksud berbohong). akhirnya anak aman, uda ganti popok dan ada persediaan satu lagi. hehehe

Namun kejadian seperti ini benar-benar menjadi pengalaman, pengalaman ini cukup untuk dua bulan ini, pengalaman ini menjadi "alarm" dalam pengaturan keuangan khususnya untuk pegangan pribadi. Gaji uda dibagi-bagi keperluan rumah, sekolah ana--anak dan keperluan pribadi. keperluan pribadi ini biasanya untuk menjaga-jaga untuk adanya keperluan pribadi atau untuk anak-anak diluar perhitungan istri.   Biasanya ketika gajian diakhir bulan sudah dialokasikan, ini untuk kebutuhan dapur, ini untuk iuran anak-anak, ini untuk dana saving dan ini untuk keperluan pribadi (jumlahnya hanya 20% dari total gaji). diawal bulan ketika lagi aman-amanya sikap baik selalu muncul pengen belikan anak ini pengen belikan anak itu, ada teman yang minta tolong diberikan (ini jarang sekali), Namun seketika menggigita jari ketika masih minggu ketiga sudah kosong dan kering. Dua bulan ini memang menjadi tantangan tersendiri, dalam keadaan seperti ini selalu ada jalan. rasa tercekik itu satu sampai tiga hari merasakan benar-benar tidak ada sama sekali isi dompet dan isi rekening untuk ditarik (kurang dari batas minimal).Namun tidak lebih dari 3-4 hari, bantuan rizki itu selalu saja datang, tapi bukan dengan cara mengutang :) karena saya sama sekali anti utang mending mencari solusi lain dari pada berutang. Bantuan yang tiba-tiba itu mulai dari buku yang tiba-tiba laku habis (sebelumnya punya buku untuk dijual sama mahasiswa, tapi belum habis, hehehe)., selalu ada yang bisa menenangkan hati, memang benar Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. 

Dalam kondisi seperti ini alhamdulillah, masih ada keinginan dan niat untuk tetap sedakah, walau dalam keadaan sempit, masih ada uang yang disisipkan, semoga dijaga keihklasan. Dalam kondisi seperti ini juga hikmah begitu banyak, misalnya bagaimana selama ini saya tidak atau hampir pernah tidak merasakan tidak ada uang sama sekali, kali ini, masyaAllah luarbiasa pengalaman ini, saya yakin masih banyak diluar sana yang mengalami hal lebih parah dari saya, bagaimana ketika menginginkan barang /sesuatu apalagi yang paling pokok tapi ga ada uang. Namun bukan berarti harus berhenti berharap, banyak hal yang menjadi inspirasi dan hikmah yang dipetik, lebih banyak belajar arti kehidupan

Tarakan, 26 November 2019
Pukul : 08.22 pagi

22 November 2019

Teman Sebatas Maya (lika Liku Teman Part 4)

Munculnya sosial media tidak terlepas dari perkembangan dunia internet, bahkan saat ini mungkin saja sosial media paling banyak diakses di dunia internet dan  media sosial, tidak bisa lagi dihindari saat ini, dengan berbagai maca platform, banyak orang yang menggunakannya dan semua menunjukkan karakteristik penggunanya. untuk yang suka berbagi foto mainnya di intagram, untuk kalangan semua "kelas sosial" dan umur biasanya lebih banyak menggunakan facebook, untuk suka mengupdate informasi mainnya twiiter dan untuk berbagi video ada youtube. banyak orang bahkan menggunakan sosmed ini sebagai lahan bisnis yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bahkan saat ini kita orang menjadi terkenal dan tranding karena media sosial.  Dulu awal sosial media kita mengenal Merc aplikasi chatting, kemudian berkembang menjadi yahoo massenger (YM) kemudian ada frienster lalu. 

Bagi saya pribadi dari semua plattform itu semua pernah saya mencobanya dan sampai saat ini masih aktif untuk FB, IG dan twitter. memang ada kesenangan tersendiri yang didapatkan selain menambah pertemanan bahkan bisa mempererat silaturahmi. Pertama kali mengenal Merc sebagi media chatting namun masih gagap teknlogi saat itu jadi jarang menggunakan bahkan hanya melihat teman asyik ngechat. pernah mencoba namun masih agak berat karena aplikasinya masih rumit. beralih ke Yahoo Massenger.  YM terbilang simple, karena cukup dengan ID yahoo, kita sudah terakses. cukup lama menggunakan YM, bahkan ada beberapa teman yang masih terjelin komunikasi sampai saat ini bahkan mengikuti perkembangan platform media sosial dan sama2 beralih menggunakan. dan diantara ada yang sudah kopi darat ada yang bahkan belum sama sekali sejak boomingnya YM sekitar tahun 2008 :).

Beralih ke facebook saya menggunakan facebook pertama kali 2008 itupun diinfokan sama teman di YM dan orangnya masih terjalin komunikasi. karena banyak yang menggunakan facebook saya harus membaginya akunnya berdasarkan karakter pertemanan, ada untuk keluarga dan sahabat dan ada untuk kerjaan dan profesi biar tidak campur baur urusan, untuk facebook manfaat paling besar adalah terhubungnya dengan teman atau saudara (seepupu) yang selama ini hilang kontak dan melalui facebook selama penggunanya update kita bisa mengetahui kondisi terkini, bagaimana keluarganya, pekerjaannya bahkan aktifitasnya demikian juga dengan urusan pekerjaan kita bisa mngetahui teman sedang mengikuti apa dan sedang dimana. untuk facebook juga ada beberapa teman yang awalnya hanya sering ngobrol via chat akhirnya sudah dianggap sebagai teman real tidak hanya sebatas dunia maya.

Instagram saya tergabung sejak 2014, saat IG masih sepi dan belum booming seperti sekarang saat inipun saya menggunakan, terhubung dengan beberapa teman dari berbagai kalangan tapi kalo dilihat paling banyak terhubung dengan alumni akper kaltara, atas pertimbangan ini dan itu hanya beberapa saja yang difollow back. sebagian besar mereka menggunakan facebook dan biasanya apa yang di update di facebook itu juga yang diupdate di Ig, demi efisiensi dan efektifitas timeline alasan belum berteman menjadi penguatnya. Twitter merupakan media yang positif memberikan dampak untuk mengetahui perkembangan informasi. saya bergabung di twitter sejak  januari 2010, hanya karena melihat di TV, untuk bisa komentar harus melalui twitter. cukup dibilang saya sangat menikmati terutama saat komentar kita dibaca atau ditampilkan dilayar tv nasional :) bukan sekali namun sering kali dan beberapa kali dimention balik dengan orang-orang terkecil di dunia pertelevisian bahkan saling balas mention, ketika acara dibawakan sudah siap berkomentar

Itulah media sosial, ada positif dan tidak sedikit dampak negatif yang muncul. Untungnya belum kecanduan media sosial walaupun beberapa orang sering menegur hehehe. sisi positifnya adalah kita terhubung dengan dengan banyak orang entah itu dari daerah mana, kita bisa bertanya tentang daerah itu dan apa yang menjadi ciri khas, terkadang kita menanyakan sesuatu yang pernah kita dengar kita nonton di tv sehingga kita bisa mendapatkan penjelasan banyak dan kita bisa lebih tahu. teman dalam dunia maya hanya sebatas obrolan, kita tidak pernah ketemu orangnya, kita hanya melihat foto yang ada, untungnya asli coba kalo ternyata foto hasil editan/ filter atau menyalahgunakan foto orang lain. sebatas itu. kedekatan secara emosi dan jarak belum ada jaminannya. Sisi Negatifnya adalah bila membaca atau menonton berita banyak juga yang tertipu melalui media sosial. mendapat sesuatu yang bersifat maya, hanya semua, ada yang mencari kesenangan semata namanya kesenangan semu, nama yang mencari teman curhat namanya teman semu, kita tidak pernah melihat reaksi orang itu ketika kita curhat, ketemu belum pernah hingga bisa berujung pada penipuan.

Media sosial memang menghubungkan dengan orang-orang tanpa melihat jarak, jauh dari jarak namun dekat secara semu/maya. sehingga akibat sosial media hanya menghubungkan secara maya. namun tidak mendekatkan secara jarak dan hati. orang menggunakan sosial media namun tidak saling menyapa dengan orang disebelahnya yang sama-sama sedang asyik menggunakan sosmed, asyik dengan dunia masing hingga lupa sedang berada di bumi bukan berada di dunia maya. Terlalu terbuai dengan dunia maya hingga lupa bahwa dunia nyata adalah yang sesungguhnya, dunia yang kita hadapi saat ini.

Tarakan, 22 November 2019
Pukul : 09.06 pagi

21 November 2019

Setika iman (tiba2) anjlok

Iman, itu kadang naik, kadang turun, kalo sedang naik ketika mengharap banyak kepada Maha Kaya Sang Khaliq namun biasanya ketika sedang berhadapan dengan sebuah persoalan, kita semakin dekat Kepada Nya,. menurut ceramah alm ust. Jefri, Saat kapan Allah mengingin kita bertemu?? saat kita diberi kesusahan, pasti kita akan semakin dekat dengan Allah, semakin banyak berdoa... dan saat kapan kita merasa jauh dengan Allah?? saat kita diberi kesenangan, kita akan semakin jauh dengan Allah,. Allah akan semakin suka kalo kita diberi kesenangan namun kita semakin dekat dengan Allah.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, iman tiba-tiba ngedrop pada situasi   kita lagi "capeh", lelah rasanya dalam keseharian, gelisa tak berakhir, mendapatkan respon yang tidak sesuai dengan harapan, ada keinginan yang kita harapkan tiba-tiba tidak ada digenggaman kita, ketika kita lagi ada masalah dan buntu tanpa penyelesaian, dihadapkan dengan persoalan itu dan itu terus. Saat itu cahaya pun tidak bisa menembus dan menggetarkan hati dan jiwa semuanya seolah melempeng, buyar, kacau. dan semakin kencanglah "bisikan" sana sini yang mengarahkan pada perbuatan yang tercelah,. bisikan-bisikan itu semakin jelas dan memberi logika yang pas " ya udah, ngapaian susah-susah, ga usah takut sama Tuhan" lakukan saja". Akal sehat semakin terbenam oleh logika dan pembenaran tentang situasi yang kita hadapi, semakin menjauhkan dari cahaya "kebenaran". Yang ditakutkan ketika dia sudah mengendalikan akal sehat kita hingga kita tidak bisa berbuat apa-apa, sudah pasti arahnya semakin menjauhkan kita dari cahaya "kebenaran" tersebut. 

Apakah yang membuat tersadar dengan situasi seperti di atas?, tiba-tiba terdengar bisikan halus "kenapa kamu seperti ini? apakah kamu akan merobohkan bangunan cahaya iman yang selama ini sudah diperjuangan dan diusahakan?? sontak terucapa "astaghfirullah hal azin... astaghfirullah hal azim, astaghfirullah hal azim,.... a'udzubillahi minnas syaitoni rrojim... a'udzubillahi minnas syaitoni rrojim a'udzubillahi minnas syaitoni rrojim....

Semua manusia pasti pernah mengalami hal seperti di atas, saya paling sering mengalami hal ini, ketika lagi direndung masalah, kita tidak punya solusi, kita capeh dengan masalah yang kita hadapi. tanpa sengaja saat membuka instagram, pas lagi timeline potongan cemah ustat adi hidayat " semua orang tidak ada yang tidak punya masalah, semua diuji,. dalam QS ke.2 ayat 155 : semua yang hidup punya ujian, dan sifat ujian itu tidak akan diberikan pada yang tidak sanggup, kalo kamu tidak sanggap kamu tidak akan diberikan.." kalo ada ujian, jangan mengeluh saya tidak sanggup, kenapa tidak yakin kepada Allah, bahwa ujian itu diberikan karena kita sanggup, kalo diberikan kepada orang lain, orang itu tidak akan sanggup, jadi kenapa harus mengeluh?? Why me?? why not??  semua ada ukurannya, tidak usah khawatir dengan itu semua, ada tarakannya, Allah memiliki sifat keadilan yang luar biasa.."..
selain ustat adi hidayat, ada juga potongan ceramah ustat hannan Attaki  " setiap ada kesulitan, maka kesulitan membawa kita pada kemudahan, ada kesulitan ada kemudahan, seperti malam dan siang.." pada potongan ceramah yang lain " bisa saja orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang paling diuji, diuji dengan kehilangan orang-orang yang disayanginya, dirugikan dalam usahanya, maka jagan bersedih,  ketika itu terjadi dalam kehidupan kita, berrarti Allah sedang memberikan kesempatan menikmati pahit getirnya kehidupan, kekasih-kekasih Allah, Asia istri firaun, nabi ayyub, nabi ibrahim, sitti hajar dan yang lainnya, jangan bersedih karena itu Allah lagi beri perhatian sama kita"

Intinya, dalam kondisi iman lagi droup jangan sampai merusak diri, jangan sampai mendzalimi diri sendiri, jangan sampai membuat kesalahan hingga berakibat fatal, sekalipun pintu maaf sang Khaliq selalu terbuka tapi jangan sengaja dan dengan sadar untuk berbuat lalai, jangan berhenti berdoa, karena Tuhanlah yang membolak balikkan hati kita, kita akan mengalami pasang surutnya keimanan, naik turunnya keimanan, agar kita yaki bahwa semua yang dialami di muka bumi ini atas izin Nya dan semoga memberikan berkah buat kita. " Ya Allah, Engkaulah yang membolak balikan hati kamu, tetapkanlah hati kami agar tetap di jalan Mu.." Aamiin Ya Rabbal Alamin

Tarakan, 21 NOvember 2019
Pukul 8.35 pagi

20 November 2019

Menjadi lebih baik (part 2)

Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan tulisan ini adalah "aku bukanlah aku yang dulu". Seperti pada tulisan sebelumnya, saya menjadi mengangkat hasil refleksi diri saya selama seminggu ini. hehehe. setelah melalui perenungan yang mendalam dan setelah melewati beberapa situasi dan kondisi yang dulu pernah dilalui namun respon dari saya yang berbeda. sempat terlintas kenapa respon saya tidak saya ketika menghadapi situasi yang hampir sama. Jawabannya adalah proses berubah kearah yang lebih baik (insyaAllah). Dari kondisi real kalo dipertimbangkan secara logika sehat seharusnya respon saya lebih "parah" karena situasi sekarang sangat berbeda jauh dengan yang dulu, lebih banyak stressor, lebih banyak beban pikiran, lebih sempit keuangan, lebih banyak tanggungjawab dalam keluarga, alhamdulillah semua ini berkah dari iman yang mengendalikan akal sehat dan logika. 

Dalam 1 tahun  terakhir, saya sering melihat atau menonton video potongan ceramah dari ustad-ustad kondan di youtube, potongan ceramahnya sangat pas dengan situasi dan masalah yang sedang saya hadapi, terutama bagaimana kita mneyikapi persoalan hidup, ujian kehidupan, bagaimana merespon bila ada permasalahan dalam keluarga, bagaimana menghadapi anak dan bagaimana meningkatkan kadar dan kualitas keimanan kita. Semuanya masih dalam tahap belajar dan saat-saat yang terberat adalah ketika apa yang kita dengar dalam ceramah, tiba-tiba ada di hadapan kita, jika kalau bukan karena iman, pasti masalahnya akan semakin rumit, jika kalau bukan karena iman pasti respon saya sangat emosional, imanlah yang mengontrol dan mengendalikan respon dan reaksi saya terhadap persoalan.

Dulu, ketika lagi dalam masalah, yang dicari adalah teman curhat, sudah sering saya melakukan ini, namun semakin membuat "rasa malu" pada diri sendiri makin menggelora karena saya selalu mengutarakan masalah yang sama, itu lagi dan itu lagi, kapan selesainya, mungkin saja teman saya yang jadi teman berbagi kegelisahan ini bosan dengan masalah yang itu-itu saja. akhirnya saya beralih arah, lebih baik mencurahkan segala persoalan pada Sang Khaliq, Dia lah yang Maha Mengetahui apa yang sebenarnya yang saya alami, kenapa seperti ini, kenapa seperti itu, kenapa masalahnya yang tak kunjung selesai, dalam diri mencoba meyakinkan bahwa semua pasti ada solusinya, akan ada hikmah dalam semua persoalan ini. semuanya kembali pada sang Khaliq, pemilik alam semesta beserta isinya, tak mungkin setetes debu yang bertebaran di muka bumi ini tanpa sepengetahuan Nya dan tanpa seizin Nya. Berdoa agar semua persoalan yang ada mendapat solusi terbaik, jika bukan saat ini namun di saat yang tepat saat dibutuhkan dan meminta agar diberi kesabaran dan dibukakan pandangan agar melihat hikmah dibalik semua ini.. Aamiin Ya Rabbal Alamin

Salah satu cara yang mengurangi beban pikiran beban masalah terutama bagaimana menyikapi persoalan hidup, saya mencurahkan pada blog ini, hal yang berkaitan dengan refleksi diri, untuk menjadi lebih baik kedepannya, ada disini, insyaAllah disini bukan untuk menyinggung orang lain, membuat permasalahan baru, disini hanya mencurahkan kegelisahan, sharing ide dan gagasan.

Tarakan, 20 November 2019
Pukul : 7.56 pagi (sebelum ngajar)

17 November 2019

Menjadi Lebih Baik (Part 1)

Salah satu prinsip hidup saya adalah "berusahan melakukan yang terbaik", ini tidak terlepas dari pandangan saya bahwa ketika melakukan sesuatu harus betul-betul "figth" serius bukan ala kadarnya, sekedar mengerjakan atau sekedar menggugurkan kewajiban. karena bagi saya ketika melakukan sesuatu itu banyak hal yang bisa saya pelajari, banyak hal yang bisa dicurahkan,banyak ide yang bisa digali banyak hal yang bisa dicurahkan. apalagi ada ungkapan dalam agama bahwa apabila kita masih seperti yang kemarin berarti kita masuk dalam kelompok orang-orang yang merugi, sementara bila kita hari ini lebih baik dari hari kemarin maka kita masuk dalam kelompok orang-orang yang beruntung. itu menjadi prinsip dalam melaksanakan tugas dan aktifitas keseharian.

Dalam kenyataannya apa yang menjadi semangat kita dalam melakukan aktifitas dan ketika keseharian kita tidak berjalan mulus, ini tidak lain karena kita harus berhadapan dengan banyak orang apalagi dalam sebuah kerjaan, menjadi bagian tim kerja yang melibatkan berbagai macam karakter yang "seharusnya" melebur dalam ego bersama. mungkin kita akan ketika dengan orang yang berseberangan dengan kita, mungkin kita akan bekerja dengan orang dengan penangkapan yang beda dengan kita "lambat loading" (bagaimana cara merespon sudah dibahas ditulisan sebelum ini). Bagaimana kita bisa berselaras dan dalam satu frekuensi tentunya yang diutamakan adalah komunikasi dan klarifikasi. komunikasi untuk memperjelas maksud sementara klarifikasi untuk memperjelas persepsi tim kerja kita agar tidak terjadi salah persepsi. 

Hal yang akan sulit terjadi, apabila masih ada orang yang memiliki persepsi "salah" tentang diri kita. kita dipandang sebagaimana pandangan dia sehingga yang muncul adalah diri kita dalam bangunan persepsi dia, ini bisa salah persepsi bahkan salah menduga karena apa yang dipikirkan tentang kita belum tentu benar apa adanya tentang kita apalagi kita tidak diberikan kesempatan untuk mengklarifikasi. tentu ini menjadi hal yang sangat berat bagi kita, sekalipun kita tidak bisa memaksakan persepsi kita kepada orang lain namun apabila yang menyangkut pribadi seseorang agar tidak terjadi fitnah sebaiknya perlu mengklarifikasi sehingga menjadi jelas, apakah tujuan orang lain membangun persepsi tentang kita apakah benar-benar bertujuan baik atau ada maksud tertentu. wallahu'alam.

Terkhusus buat sesuatu yang sudah kita kerjakan dengan baik dan insyaAllah niat lillahi ta'allah dan di suatu waktu kita diuji tentang itu dengan tidak pernah diakui dan tidak dihargainya apa yang telah kita lakukan. mungkin kita akan berpikir apakah orang tersebut tidak melihat apa yang sudah kita lakukan, apakah orang tersebut tidak menilai apa yang sudah kita lakukan sebagai sesuatu yang membantu, lagi-lagi ini "ujian", ketika keikhlasan kita dipertaruhkan dengan kondisi ini, jangan sampai kemarahan kita lepas kendali hingga menyebut-nyebut semua yang kita lakukan.. nauzubillah semoga saja keikhlasan kita tetap terpelihara dan benar-benar tidak tergoda dengan situasi respon dan tanggapan yang kita dapatkan. bagaimana respon kita seharusnya? harus pelan-pelan dalam menanggapinya karena jangan sampai "marah" kita mengalahkan pengendalian ego kita.  kembali lai keniat awal kita, lillahi ta'allah semoga kita tidak kehilangan memontem keikhlasan kita. Situasi itu anggaplah sebagai penguat agar kita benar-benar ikhlas melakukan dan tidak mengurangi kebaikan yang kita lakukan mungkin sekedar mempertegas bahwa kita tidak seperti yang dituduhkan oleh orang lain.

Inilah namanya ujian pada komitmen kita, kita tidak akan pernah mengetahui seberapa besar keikhlasan dan kesabaran kita bila kita tidak dihadapkan dengan situasi dan kondisi serta orang yang dengan tanpa kita sadari menguji komitmen kita itu. Refleksi diri adalah cara yang tepat untuk mengevaluasi sejauh mana langkah kita, apakah sidah sesuai dengan komitmen yang telah kita ikrarkan. walaupuan tidak semua dalam kendali kita, kita masih memiliki Sang Khaliq, yang membantu menguatkan diri kita. semoga niat baik kita selalu terjadi dan terpelihara untuk menjadi orang yang lebih baik dari hari kehari. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 17 November 2019
Pukul : 7 Malam

16 November 2019

Sampai Dibatas Mana Harus Mengingatkan

Tugas sebagai teman sebagai saudara sebagai sabahat bahkan sebagai suami adalah mengingatkan dalam hal kebaikan. namun tugas mengingatkan itu memiliki batasan, sampai dimana peran kita, kita tidak ingin dicap sebagai mengatur kehidupan orang atau mendikte kehidupan orang lain. Ketika teman mendapat masalah, tugas kita mensupport, ketika teman mendapatkan penghargaan kita memberikan apresiasi ketika teman membutuhkan masukan kita memberikan masukan namun sampai sebatas itu setelahnya berpulang pada orangnya apakah menjalankan atau tetap pada pendiriannya. 

Ini tidak terlepas dari cara kita memahami orang lain, kita perlu mengetahui sudut pandang dia dalam melihat sesuatu sehingga kita bisa menilai sejauh mana pandangannya bila dibandingkan dengan pandangan kita, memang tidak mudah selama kita masih dalam semangat hanya mengingatkan dalam kebaikan, saran yang bertolak belakangpun harus berani kita sampaikan. dan sebaliknya ketika kita dalam posisi diberikan masukan, kita harus berbesar hati mau menerima masukan dan pandangan orang lain tentang diri kita atau tentang hal yang lain, kita tidak boleh menolak tanpa mempertimbangkan secara bijak. itulah namanya ruang "dialektika" dan "mediasi".

Dialektika ketika mendiskusikan pandangan-pandangan kita dengan pandangan orang lain, mencari kesamaan mencari titik temunya, kalo berseberangan pada titik mana kita berseberangan, pastilah berpulang pada pandangan masing-masing, tidak saling jugde. ketika memasuki ruang mediasi, hal yang harus dipertimbangkan adalah apa yang bisa kita kompromikan apa yang tidak boleh namun dalam koridor masih saling menghormati dan menghargai pandangan masing-masing.

Tarakan, 16 November 2019
Pukul : 7.37 malam

12 November 2019

Lika Liku Teman (part3)

Bisa dibilang saya tipekal orang yang menjaga silaturahmi dan sesekali menjalin komunikasi walaupun hanya menanyakan kabar, entah apa yang menjadi  motivasi saya, dan anehnya hal itu tidak terjadi dalam keluarga besar saya. apakah karena alasan dalam keluarga pembicaraannya hanya seputar hal yang sama seperti menanyakan kondisi keluarga yang lain dan kegiatan sekarang dijalani. Bedanya dengan teman, kita bertanya tanpa ada rasa beban tanggungjawab keharusan menjalin silaturahmi, kapan saja kita bisa menghubungi tanpa ada keterikatan emosi, tujuannya agar silaturahmi tetap terjalin walau dengan jarak waktu yang tidak menentu. sesekali mengecek kontak hanya sekedar memastikan teman ini posisinya dimana itu saja, kalaupun komunikasi yang intens pada teman yang benar-benar dekat secara emosi, bisa saling mensupport dan mengingatkan dalam kebaikan. belajar dari pengalaman yang sudah-sudah (part 1 dan 2) menjadi kehati-hatian dalam bertindak agar tidak terjadi kesalahan yang sama, mungkin yang dirasakan setiap orang sama, kehadiran pesan kita diwaktu yang tidak tepat dan momentuk yang kurang pas akan mendapatkan respon yang tidak sesuai keinginan.

Untuk kali ini, saya menceritakan tentang teman-teman yang berfaedah, terutama selama di Bandung. Bulan Maret 2017, tepatnya semester 2, saya memutuskan pindah kosan, kosannya sudah memenuhi standar keinginan saya; tidak campur laki-laki perempuan, dekat tempat makan dan yang terpenting dekat dengan mesjid. Tepatnya di jalan cibarengkok, Sukabunga Sukajadi Bandung, sekitar 200 meter menuju kampus dan Rumah Sakit Hasan Sadikin, letaknya sangat strategis, beberapa teman kuliah juga ngekos disana, untuk dikosan saya, ada 1 teman kuliah, ada 3 teman yang berada 50 meter dari kosan kami. Karena kedekatan kosan, ada 3 teman yang intensitas ketemunya lebih sering, sering ketemu di mesjid dan sudah pasti sering ketemu di kampus :). karena instensitas itu, kami sering berpergian ber4 (saya, zikran, safrul dan bang hendra). mulai buka puasa bareng, ke ta'lim bareng dan sama-sama berjuang menyelesaikan tesis. saling mensupport dan mendoakan saling membantu sebisanya dan saling sharing tentang kemajuan tesis.  pada pergantian tahun 2017  ke 2018 kamipun berpergian ber4, diawali dengan berpergian ke kawah putih dengan menggunakan motor, kemudian malam puncak pergantian tahun tampa direncanakan kami ke punclut. Bila memungkinkan ke kampus terutama kanmpus Jatinangor juga bersamaan berboncengan dengan dua motor. 

Puncak kebersamaan kami ketika kami harus bersama-sama mengejar yudisium untuk wisuda akhir bulan juli 2018, dengan kondisi terkantung-kantung dalam bimbingan hasil penelitian dan saya kesusahan dalam mencapai target sampel minimal dan masalah untuk menentukan jadwal ujian tesis kemudian jadwal ujian tutup (tesis). Alhamdulillah kami bisa bersama-sama Yudisium dan wisuda bareng, tapi tidak berempat, hanya bertiga, yang satunya masih dalam memulai penelitian, dan kamipun tetap mensupport dia agar bisa selesai. puncaknya ketika seminggu kami wisuda, teman yang satunya lagi akhirnya ujian tutup (tesis)

Tarakan, 12 November 2019
Pukul : 7.05 malam

11 November 2019

Lika Liku Teman (Part2)

Berbicara tentang teman, begitu banyak kisah hara biru, mulai dari persaudaraan yang dekat sampai dengan permusuhan yang abadi ;) ada beberapa pengalaman ada cukup "menyanyat" hati hingga menjadi pelajaran penting untuk kedepannya. Orangtua mengajarkan bahwa ketika berteman, bertemanlah sebaik-baiknya, berilah manfaat sama teman.  Terkadang saya begitu cepat mengambil kesimpulan kalo teman kita ini "baik". awalnya memang komunikasi berjalan baik dan ujung-ujungnya minjam uang.. hehe seperti biasanya kalau sudah masalah pinjam meminjam uang akan sulit untuk mempertahankan komunikasi dan pertemanan berakhir berantakan karena ga kunjung juga dibalikin uangnya. saling curiga saling menuduh dan akhirnya sudah tidak percaya, komunikasipun putus dan berantakan.

Pernah juga mengganggap teman  sudah sebagai saudara, sudah sangat dekat bahkan sudah kayak adik sendiri, saling berkomunikasi dan berkirim kabar, namun suatu waktu hanya karena persoalan salah persepsi dan salah paham, persaudaraan itu hancur sehancurnya. hampir 6 tahun loss contact tiba-tiba muncul di facebook, uda coba disamperin dan diingatkan tentang ini dan itu, namun dianya "amnesia" ya sudah ga digubris lagi dan lagi-lagi harus say goodbye. Selama di Bandung juga ada teman, bukan teman kuliah,beberapa kali bertemu dan akhirnya menjalin komunikasi pertemanan, sudah sangat dekat bahkan menjadi teman jalan, ditunjukkan jalan-jalan di Bandung, sering main ke kosan, sering ngantar kesana kesini, simbiosis mutualisme, keakrabanpun  terjalin hingga setahun saya balik ke Tarakan,namun karena saat dia butuh pinjaman uang dan kebetulan saya juga lagi ga ada uang, tiba-tiba diblokir kontak w.a, mencoba menghubungi dengan nomor lainnya, dibales namun beberapa saat kemudian (sadar kalo saya yang chat) tanpa ada penjelasan ini dan itu tiba-tiba diblokir kembali, saat ini masih ada satu nomor yang ada tapi saya kehilangan niat untuk chat karena yakin akan terjadi pemblokiran untuk ketiga kalinya..hehehe.

Cerita lain, masih di tempat yang sama, sering chatting, kalo ada masalah, bahkan meminta pengalaman bagaimana bisa agar istrinya bisa mengandung, saya sampaikan pengalaman saya dan sambil saya pantau rutinitas olahraga dia agar bisa memantau perkembangannya, pertama sempat berhara karena istri dia telat beberapa hari, namun kembali jebol, saya bilang biasanya ga lama lagi karena kandungan istrinya sudah beradaptasi. bulan berikutnya dia kabari positif, syukurlah  sisa dijaga kesehatan istrinya. bertemu kembali dan terjadilah salah paham dan tiba-tiba dia memblokir kontak :) (sebenarnya ini pengalaman pertama di blokir, cerita sebelumnya baru saja terjadi dalam tahun 2019). kejadian ini setetalah lebaran tahun 2017. sudah coba mencari dan berniat mengklarifikasi hingga mencoba mencari kedaerah tempat tinggalnya daerah cimahi tapi lagi-lagi tidak ada hasil. 3 bulan ga ada kabar, tiba-tiba bapak kos ngasih tahu kalo ada teman yang datang dan menyebut namanya. sontak saya kaget dan berharap dia kembali pas saya ada :). dua minggu berikutnya dia datang dan saya lagi di luar dan menitipkan nomor hp. saya hubungi dan kembali terjalin komunikasi. tidak ada yang berubah dan dia merasa biasa-biasa saja  dan komunikasi berjalan seperti biasa namun karena alasan ini dan itu dan orangnya masih terbilang labil beberapa kali saya kembali diblokir dan kalo dihitung terjadi 5 kali. hehehe. setelah lebaran idul fitri 2018 saya izin pamit untuk kembali ke tarakan dan komunikasi tetap terjalin. puncaknya sekitar bulan september 2019 saya buat status tentang kangen susana jogja sempat melihat dia melihat story ga lama kemudian saya chat dia, dan kaget dalam hitungan detik  kontak saya sudah diblokir. hehehehe untuk kesekian kalinya mendapatkan kondisi ini. Saya ingat cerita dia kalau ada keinginan untuk menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhan (kebetulan beragama non islam) sebagai teman kita support niat baik itu. Sebulan berselang dia hubungi saya dengan nomor baru dan pesannya untuk hubungi nomor ini. dan nomor lama masih aktif (tapi masih diblokir) nomor baru ini hanya digunakan saat kerja. hehehe saya berpikir apakah saya sudah sejahat itu sampai saya dianggap mengganggu dia kalo hubungi pakai nomor lama hingga bisa hubungi dinomor baru. memang dalam 4 bulan terakhir dia menceritakan lagi drop dengan kondisi kesehatannya. didiagnosis oleh dokter mengalami saraf terjepit di tulang belakang. saya teman sudah memberi support dan kalo dia mengambil seperti sekarang harus diharga.  

Pertanyaan kemudian, apa sebenarnya tujuan dalam pertemanan, kenapa teman kita dengan mudahnya memutuskan kontak bahkan blokir tanpa ada konfirmasi dulu bahkan tidak ada angin tidak ada asap. hehehe namun bagi saya sic enjoy aja walaupun diawalnya sempat bertanya-tanya bahkan menyayangkan kenapa bisa terjadi seperti itu, apa salah gerangan diri ini. namun setelah dipikir-pikir lagi, dan mengingat kalimat ustat "kita tidak bisa memaksakan orang lain berpikir seperti yang kita inginkan" ya sudah, kita sebagai teman sudah melakukan yang terbaik dan berusaha untuk tidak berbuat curang, namun kita tidak punya kuasan untuk mengatur pola pikir teman kita untuk sepakat dengan diri kita. Apa yang menjadi keputusan teman kita mau melanjutkan silaturahmi mau memutuskan silaturahmi itu bergantung dari niat dia, apakah dia ikhlas dan mau menerima apa adanya kita sebagai teman atau berteman karena ada kepentingan ini dan itu.. Ya sudahlah kembali ke niat masing-masing apa tujuan berteman namun satu hal yang menjadi pelajaran dari semua kejadian ini adalah berteman karena Allah, berteman semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, bila ada yang menjauh berpositif thinking aja, woless kembali luruskan niat..

Tarakan, 11/11/2019
Pukul : 5.40 sore

10 November 2019

Lika Liku Berteman (part 1)

Teman, memang bukan saudara sedarah. namun posisinya terkadang melampaui keakraban saudara. teman bisa bermula dari tetangga rumah, satu sekolah yang sama, satu kelas, satu kegiatan, satu hobi yang sama, satu tempat yang sama, satu rasa satu selera. Namun dari kondisi itu semua, tidak akan jaminan akan ada relasi dari kesamaan itu, mungkin hanya sekedar kenal atau tahu tapi tidak lebih. Untuk menjadi akrab, ada beberapa "persyaratan" yang harus dilalui, paling penting "chemestry" ada "tarikan" entah apa itu, bisa karena kita senang dengan karakter teman kita, ada karena intensitas pertemuannya yang sering dan paling penting adalah "tidak ada' kepentingan terselubung atau niat tertentu.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering berjumpa dengan orang-orang, entah itu dalam satu kegiatan, dalam satu kesempatan, namun tidak semua yang silaturahminya berlanjut, terkadang berakhir kegiatan berakhir juga komunikasi. kadang-kadang komunikasi masih berlanjut tapi hanya untuk keperluan tertentu. Namun ada satu dua kenalan yang komunikasi kami masih terjaga hingga sekarang. pernah juga sangat dekat dengan teman, sudah seperti saudara, sangat dekat, tiba-tiba hilang kontak, dicari-cari ga dapat, lama loss contact tiba ketemu di sosmed dan mendapatkan kontak, begitu ngobrol-ngobrol lama hingga pada akhirnya juga "rasa penasaran" sudah terjawab dan tiba-tiba kita merasa  ada perubahan dengan teman tersebut atau bayangan kita dia tidak seperti yang kita kenal selaman ini. ekspektasi kita ketika akan kontak kembali akan seperti apa namun ternyata berbeda dan setelah kontak terjalin kembali, sekarang malah  hanya  saling sama dan menkomentari di sosmed atau strory chatting

Perubahan pada teman, banyak faktornya, setiap orang memiliki kesibukan dan urusan yang berbeda-beda apalagi bila sudah berkeluarga. dulu saat dekat-dekatnya posisi kita masih siswa atau mahasiswa belum bekerja dan masih banyak waktu bebasnya, kalo sekarang belum lagi ngurus anak, belum lagi ngurus pekerjaan belum lagi ngurus urusan lain\, belum lagi kehadiran atau komunikasi yang kita buka bukan waktu yang tepat. kesadaran dan kebesaraan hati kita untuk memahami itu yang akan membuat kita legowo menerima kondisi yang ada.

Demikian pula bila tiba-tiba teman kita berubah 180 derajat dari yang kita kenal selama ini, mungkin selama ini kita terlalu merasa dekat tapi dianya tidak merasa atau bahkan karena kasihan dengan kita yang kalau ketemu hanya curhat dan mengeluh akan membuat teman kita menjadi jenuh tapi tidak berani untuk menyampaikan sehingga dalam ketidaksadaran kita dia mengambil jarak dan selalu ada alasan ketika kita menghubungi. pertemanan yang tidak disadari dengan saling memahami dan menyadari kondisi masing-masing membuat pertemanan hanya sekedarnya tidak ada "ikatan persaudaran" yang ada hanya karena "rasa tidak enak' sehingga pertemanan seperti ini tidak akan bertahan lama.

Menurut penceramah, carilah teman yang tidak lupa untuk mengingatkan kebaikan kepada kita, mau mngajak kita bersama menuju surga, berteman bukan karena ada kepentingan sesaat, berteman bukan karena ikatan politik, berteman bukan karena ada maunya saja. pintar-pintarlah memilih teman seperti kata Ali bin Abu Thalib,teman sejati adalah teman yang memberi nasehat ketika melihat kesalahanmu dan mau membelamu disaat kamu tidak ada. 

Tarakan, 10 November 2019
Pukul 6 sore (maghrib)

08 November 2019

Mencintai karen Allah dan membenci karena Allah

Pernyataan ini sering didengar, bahkan untuk mencintai karena Allah sampe ada lagunya dan cukup easy listening kira-kira seperti ini liriknya : cintai aku karena Allah, sayangi aku karena Allah, bukan harga pula keindahan dunia...... pernah juga saat melihat postingan salah satu ustat yang saya ikuti di instagram dan saya ikuti group telegram, menuliskan caption, saudara semua saya hanya menyampaikan i love u all karena Allah. dan beberapa komentar di antara pada ustat juga menuliskan hal yang sama. Terlintas dalam hati, apakah makna sebenarnya kata-kata tersebut??? apakah punya kekuatan sendiri. Waktupun yang menjawab, ketika saya sedang menghadapi masalah pribadi, seperti biasalah rumah tangga itu selalu ada bumbu bumbunya dalam menjalankan tidak selamanya mulus, sempat mengalami masa yang sulit untuk dipahami, pertanyaan selalu muncul kenapa seperti ini kenapa seperti itu kenapa harus saya kenapa bukan orang lain. tiba-tiba mendapat potongan ceramah dari ustat Adi Hidayat yang membahas seperti pertanyaan saya itu "ketika mendapat masalah, jangan mengeluh jangan bertanya kenapa harus saya? why must to me??? jawabannya why not?? kenapa harus saya?? jawabnya : kenapa tidak?? Allah memberi cobaan atau ujian karena kita mampu menjalaninya, kalo diberikan orang lain makan orang itu tidak akan mampu. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambahNya. sambil merenungi kata-kata ini dan meresapi dan berpasrah mungkin ini sudah bagian dari takdir yang harus saya jalani. Alhamdulillah waktu juga yang menjawab semua kegilisaan ini, saya sekarang cenderung lebih enjoy ga mau mikirin, mendingan melakukan sendiri dari pada menuntut orang lain untuk melakukan. (sebagian penjelasan tentang perubahan ini  ada ditulisan sebelumnya Akulah Aku.

Demikian pula dengan membenci karena Allah. sebelum menulis ini saya mencoba melihat video yang membahas ini, ada kalimat dari sang ustat : kita membenci karena Allah, bukan membenci manusianya namun membenci perilakunya yang menjauhkan kita dari Allah SWT.  mungkin ini yang harus saya lakukan dan belajar untuk memulai, memang ada beberapa teman yang kalo dipikir-pikir memberikan dampak yang negatif pada diri saya, bukan karena orangnya namun karena perilakunya tersebut, orangnya tetap baik akan tetapi ada suatu saat yang perilakunya ikut menjeruskan kita pada hal-hal yang negatif. Belajar dan belajar walaupun memang tidak mudah karena beberapa teman ini sudah cukup akrab, namun bukan berarti kita memutuskan silaturahmi atau memblokir kontaknya, namun yang kita lakukan adalah membatasi komunikasi apalagi kalo komunikasi ada kecenderungan mengarahkan ke hal negatif.

Mencintai dan membenci karena Allah, semua merupakan niat dari kita sendiri, kita sendiri yang menilai, kita sendiri yang memutus menentukan kita sendiri yang melakukan. kita tahu konsekuensinya untuk diri kita mana yang harus mana yang tidak semua berpulang pada diri kita sendiri. mungkin ada satu hal belum masuk dalam logika kita, masih misteri namun dengan niat karena Allah, hal yang belum terungkap ini akan terjawab dengan berjalannya waktu. 


Tarakan, 8 November 2019
Pukul : 5.17 sore

05 November 2019

Goal Diri

Untuk sekian kalinya saya menulis tentang diri (kita sendiri). Setiap tulisan memiliki situasi dan latar kondisi yang berbeda, semoga semakin menulis tentang diri sendiri semakin menunjukkan diri kita yang utuh, "jati diri" sebenarnya. Tidak ada batasan seperti apa diri yang utuh tersebut karena hidup selalu bergerak, dinamis tidak hanya berfokus pada satu tujuan. Salah satu indikator yang selama ini menjadi pegangan saya adalah "ketika nyaman dengan apa yang ada dalam diri kita, apa yang kita  pikirkan, apa yang kita putuskan dan apa yang kita lakukan" sepanjang kita sadar dan tahu apa yang menjadi konsekuensi yang kita lakukan sepanjang itu pula kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan.

Akhir-akhir ini, begitu besar godaan untuk melakukan ini dan itu, ada pertanyaan dalam diri sendiri bahkan dari orang lain kenapa tidak seperti itu kenapa tidak seperti dia? kenapa tidak melakukan hal yang sama seperti orang lain lakukan? kenapa dan kenapa? untuk menjawab pertanyaan itu tidak perlu tergesah-gesah apalagi dengan "emosi"... hehehe santai aja,. toh kita tidak membutuhkan jawaban segera dan secepat seperti pertanyaan orang-orang itu. kita hanya perlu waktu merenung, alasan kita mengambil sikap yang berbeda dengan orang lain. saya yakin sejumlah penjelasan akan mengalir karena kita sadar dengan apa yang kita lakukan saat ini.

Hal yang menjadi dasar motivasi dengan sikap kita yang berbeda dengan orang lain adalah "Goal Diri". kita punya cita-cita, kita punya impian, kita punya harapan, kita punya motivasi yang mungkin orang lain tidak perlu tahu bahkan tidak perlu kita sampaikan karena apa yang kita inginkan belum tentu mereka pahami apalagi meminta "persetujuan" dari mereka. Bukan berarti "egois" dengan tidak mempedulikan orang lain, namun goal yang sudah kita tetapkan merupakan hasil renungan terdalam diri kita, kita butuh apa? apa yang sebenarnya yang mendesak dalam diri saya untuk pengembangan diri saya, apa yang harus saya lakukan agar goal itu bisa terwujud. 

Orang-orang di sekitar kita tetap memiliki andil, karena kita tidak bisa lepas dari peranserta mereka baik secara langsung dan tidak langsung, namun yang menjadi pegangan kita adalah kita tidak full berharap, masukan serta saran tetap kita pertimbangkan dan pada akhirnya kita yang mengeksekusi sendiri. Hasilnya dievaluasi, dipelajari, dianalisa kelebihan dan kelemahannya sehingga untuk action berikutnya kita tidak melakukan kesalahan yang sama, jatuh pada masalah yang itu-itu saja. sekali lagi goal diri inilah yang menjadi pegangan kita dari segala aspek, mulai ekspektasi diri, bahkan hal yang paling mendasar spiritual kita, keluarga, kerjaan, relasi, hobi, bahkan liburan ;) so!!!!! tunggu apalagi,. planning do action evaluation revisi evaluasi again action again :) 

Tarakan, 5 November 2019
Pukul : 8.12 pagi

02 November 2019

Berjalan Apa Adanya

Beberapa hari terakhir ini, terlintas dalam benak, 'kayaknya ada yang berubah dengan diriku!!!!! Untuk meyakinkan kembali saya kembali mengingat-ngingat apa yang berubah, benarkah adanya??. setelah menerung dalam dan membandingkan apa yang pernah ada dan terjadi dan apa yang saya alami sekarang, secara perlahan-lahan tabir tersingkap. yang pertama dari segi persepsi dan mindset saya,. hari ini saya lebih cenderung "enjoy but not gegabah :)  dulu saya begitu khawatir dengan kondisi-kondisi saya yang belum jelas, kekhawatiran lebih besar dari kenyataan yang saya hadapi dan rata-rata hanya kekhawatiran belaka, membuang-buang energi pada akhirnya kekhawatiran saya tidak terjadi. itu dulu, sekarang lebih banyak positif thinking, dijalani saja dulu sambil mempelajari apa yang sedang dijalani apakah harus tetap berjalan, atau berhenti sejenak atau bahkan harus balik atau beralih arah.  kedua, lebih kepada emosi,. dulu saya sangat mudah terbawa emosi bahkan meluapkan hingga energi saya terkuras, sekarang walau kadang belum sepenuhnya stabil mengendalikan paling tidak masih bisa menahan diri bila ada hal-hal yang memancing untuk marah, kalaupun sudah terluapkan biasanya segera sadar diri dan memperbaiki suasana hati. ketiga,.IG.. (sempat terhenti menulis, jam 7malam tiba2 mati lampu dan hujan... Baru bs menulis jam 9 malam :)

Ketiga adalah lebih mendekatkan diri pada sang Khaliq, energi iman ini alhamdulillah masih stabil walau sesekali ngedrop tp masih dalam batas bisa dikendalikan,. Amalan ibadah sunnah ditingkatkan, seseringkan kali mendengarkan tauziah dari ustat kondang di youtube dan potongan ceramah di IG. Salah 1 ikhtiar untuk memperbaiki diri, mengingat umur sudah memasuki 35thn lebih, setengah perjalanan umur yg dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW., insyaAllah semoga menjadi motivasi untuk mempersiapkan dikehidupan yang kekal (akhirat)

Ini lah hasil pendalaman perenungan hingga menemukan apa yang selama ini tanpa sadari ada pada diri saya, semoga ini bukan menjadi motivasi untuk mendapatkan pujian dunia, apalagi harus riyah, naudzubillah... Sesuai salah prinsip hidup, kita akan menjadi orang yang merugi bila masih sama dg hari kemarin :) wallahu..alam..

Tarakan, 2/11/2019
Pukul 9.20 malam