Walau masih ada beberapa hari untuk menuju pergantian tahun 2019, namun ide untuk menulis catatan akhir tahun harus dilakukan sore ini. Ada beberapa subtema yang diangkat dalam tulisan ini sekaligus tulisan ini sebagai muhasabah diri di akhir. Beberapa subtema itu untuk menjawab hutang beberapa judul yang sudah pernah saya tulis / janjikan sebelumnya yaitu mengenai cermin diri, kelemahan dan kelebihan (ku), bijaksana bersikap, dan tentang apa yang saya cari?.
Aib yang tertutupi
Ide subtema ini muncul beberapa hari terakhir ini ketika mendapatkan caption di IG " Setiap orang punya aib dan dosa masing-masing, jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Kita punya kebusukan kita sendiri, maka jangan sibuk mengomentari kebusukan orang lain, hanya akan membuat baumu lebih busuk dari baunya, Dosamu lebih besar darinya. . Jauh sebelumnya saya pernah mendengar dan sering diungkapkan oleh KH AA Gym, :Kita ini punya aib, hanya saja Allah SWT masih menutupinya sehingga hanya Allah SWT dan diri kita yang tahu, sehingga jangan merasa paling benar". Beberapa hari sebelumnya saat lagi membuka video di IG, ada cerita ustat dari luar (kalau dari bahasanya dari tanah Arab) mengatakan bahwa "kenapa Allah SWT tidak menunjukkan aib-aib kita ketika kita bermaksiad / menzalimi diri sendiri? karena kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat" Begitu banyak aib yang baik sadar maupun tidak sadar yang sudah dilakukan dan itu semua diluar pengetahuan orang-orang yang mengenal kita, Aib ini menjadi pengingat dan menyadarkan bahwasanya sebagai manusia tidak merasa tinggi hati, paling soleh, paling beriman dan orang lain salah apalagi yang tidak sependapat dengan kita, padahal persoalan agama itu selama masih ada tuntutan dan dalil yang mengungkapkannya tidak menjadi permasalahan namun bila diluar kita kita hanya mendoakan semoga kembali kepada jalan yang sebenarnya sesuai tuntutan Rasulullah SAW. Aib menjadi alarm bahwa kita tidak boleh sombong dan angkuh karena itu sifat yang paling tidak disukai oleh siapa saja, manusia saja tidak menyukai bila mendapatkan orang sombong apalagi sang Maha Pencipta.
cermin diri
Ini menjadi catatan penting bagi saya, harus menggali dan mengenali dalam diri siapa sebenarnya diri saya, apa yang sudah saya lakukan? berapa banyak aib-aib saya yang sedang ditutupi karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri? naluri manusia akan membela apa yang merasionalisasikan atau menglogikakan yang sudah dilakukan dan ada kecenderungan untuk membelah diri (mempertahankan pendapat dan membenarkan apa yang sudah dilakukan), ujung-ujungnya berpendapat "mananya manusia tidak luput dari kekkhilafan (sadar tapi terus mengulanginya nauzubillah). saya sadar bahwa begitu banyak yang sudah saya lakukan yang mungkin bisa jadi merugikan bagi diri saya walaupun secara tidak langsung merugikan orang lain dan terkhusus bagi keluarga. Paling tidak cermin diri ini menjadi pengingat bahwa kita benar-benar manusia yang tidak sempurna masih banyak kelemahan yang harus diperbaikin, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi, tidak perlu merasa sudah melakukan yang terbaik hingga lupa bahwa ada kekuasaan sang Khaliq yang sudah menentukan tardir dan rejeki setiap manusia, tidak perlu khawatir karena semua sudah tertulis dalam lauh mahfuzh. berjalanlah dimuka bumi dengan mengharap bimbingan dan keridhoan Allah SWT
Kelemahan dan Kelebihanku
Apabila semua orang ditanya tentang kelebihan dan kelemahannya, maka setiap orang akan membutuhkan waktu untuk menjawabnya, karena tidak semua orang tidak memiliki kemampuan yang sama untuk mengenali diri sendiri. Belajar dari pada yang disampaikan dokter Aisyah (pada tulisan sebelumnya) saya ada kecenderungan sebagai tipe melankolis / penulis skenario, bila menyusun sesuatu secara rapi, suka bekerja (keras), suka mengamati, dan disiplin. mungkin sikap itu menjadi kelebihan yang harus ditingkatkan kearah yang positif untuk pengembangan diri dan karir (pekerjaan). Namun untuk kelemahannya lebih kearah mudah kebawa perasaan (perasa bukan baperan :), agak pemalu (kadang-kadang muncul kurang pede) agak kaku dan lebih mengutamakan perasaan orang lain (tanpa melihat bahwa diri kita juga bisa rugi / memiliki dampak negatif bagi diri kita). inilah kelebihan dan kelemahan diri. namanya manusia diberikan kelebihan dan juga dititipi kelemahan, bukan saling kontradiksi dan bertentangan namun untuk saling menguatkan khususnya untuk diri sendiri. Kelebihan itu bukan mrmbuat kita menjadi orang yang sombong atau bangga (berlebihan) dengan apa yang dimiliki hingga lupa bersyukur. Demikian juga dengan kelemahan, bukan berarti kita harus merasa minder dengan apa yang ada di dalam diri kita, namun kelemahan ini menjadi motivasi bahwa kita masih bisa memperbaiki diri, belajar dari pengalaman sebelumnya bahkan pengalaman orang lain yang memiliki cerita yang mirip dengan kita yang berusaha bangkit dab berkarya dengan kelemahan yang dimiliki. Kelebihan dan kelemahan haruslah saling mengisi ruang kosong agar bisa fight dalam menjalankan kerasanya kehidupan. Hatu hal yang harus diingat bahwa kelemahan dan kelebihan yang kita dapatkan berasal dari penilaian orang lain terutama yang sudah lama mengenal karena berada dalam satu pekerjaan dan lingkungan yang sama. Belajar untuk memahami diri sendiri ketika yang disampaikan orang lain itu merupakan kelemahan yang ada pada diri kita.
Bijaksana dalam bersikap
Sikap bijaksana menjadi indikator kedewasaan setiap orang. menurut KKBI bijaksana berarti selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif dan tajam pikiran. Untuk bisa menjadi bijaksana diperlukan kedewasaan dalam memandang segala hal, dipertimbangkan dari berbagai sudut pandang sehingga memunculkan keputusan yang matang yang sudah melalui berbagai macam pertimbangan. Dewasa tidak saja berkaitan dengan umur namun juga berkaitan dengan pengalaman hidup. Dalam dunia nyata sikap bijaksana sangat dibutuhkan, ketika kita dihadapkan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar atau kesepakatan yang sudah ada, tidak memaksakan dan menekan agar mencapai tujuan yang telah disepakati namun yang terpenting bagaimana mengarahkan dengan jelas dan rinci tentang apa yang sudah disepakati kalapun belum tercapai diarahkan untuk mengevaluasi sudah sejauh mana usaha yang telah dilakukan dan bagaimana tindak lanjut berikutnya, apa yang harus dilakukan untuk mencapai apa yang telah disusun. tidak memaksakan orang lain agar bersikap seperti apa yang kita inginkan dan bisa memahami bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan karena semua berpulang dari karakternya masing-masing
Apa yang saya cari?
Ilmu agama sudah membekali kita semua bahwa tugas kita di dunia sesuai tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah untuk menjadi abdi (menyembah sang khaliq) dan selama perjalanan hidup manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Inilah yang seharusnya menjadi panduan dalam hidup. kembali ke pasal pembelaan setiap orang "namanya manusia tidak lepas dari kelemahan dan kekhilafan" namun satu hal yang harus diingat pembelaan itu bukan berarti kita tidak mau belajar dari kesalahan dan kehilafan yang pernah kita buat. Sebenarnya sub judul ini merupakan kegilisahan yang ada dalam diri, ketika merenung dan mengingat-ngingat kebelakang tentang sambil bertanya dalam benak apa yang sebenarnya yang saya cari? apakah yang selama ini sudah mendekatkan diri saya kepada sang Pencipta? walau masih saja terjebak dalam urusan-urusan rutinitas dunia, belum ketika memasuki masa jenuh dan lemahnya iman,. sesuai dengan apa yang ustat-ustat sampaikan "manusia itu imannya naik turun, Allah dengan mudah membolak-balikkan hati manusia, hanya doa yang bisa meneguhkan agar iman itu berada dalam koridornya. Sampai berpikir apakah yang sudah saya dapatkan selama ini sudah cukup membuat saya bersyukur atau malah sebaliknya saya belum mensyukuri pemberian sang Khaliq, apalagi ketika godaan-godaan datang dan bisikan-bisikan yang menutupkan mata hati dengan membanding-bandingkan kehidupan orang lain dengan diri kita, bibit penyakit hati mulai muncul, rasa ikhlas mulai diragukan. Kembali lagi dengan potongan video yang saya dapatkan beberapa hari sebelumnya " ketika kita membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain secara tidak langsung kita telah mendzalimi diri sendiri'. kembali ke prinsip awal, sejauh ini apakah perjalanan hidup kita sudah mendekatkan pada sang Maha Khaliq??. semoga menjadi renungan sepanjang hidup ini
Tibalah dipenghujung tulisan sekaligus menjadi penutup tulisan diakhir tahun, Alhamdulillah target menulis sudah tercapai sesuai dengan target dibulan lalu sehingga tahun ini ada 40 judul tulisan dan terbanyak bulan november dan desember masing-masing ada 16 tulisan. Bila bulan november tulisan lebih banyak part-part dari judul yang ada sementara bulan desember judul tulisan hampir semuanya adalah tulisan dengan judul yang berbeda dan bukan menjadi bagian dari part-part sebelumnya. 40 judul tulisan sepanjang bulan 2019 menjadi inspirasi bahwa banyak hal (kegelisahan, pandangan, pemikiran, persepsi, catatan perjalanan) yang bisa dituangkan dalam tulisan, semoga ditahun depan bisa bertahan bahkan meningkat lebih banyak ide dan inspirasi untuk menulis dari sudut pandang apapun dan lebih kaya akan ide dan inspirasi. Terimakasih tahun 2019 begitu banyak kenangan dan inspirasi kehidupan yan mewarnai, begitu banyak hikmah yang didapatkab dari setiap hembusan napas, dari setiap jejak langkah yang ada, dari setiap permasalahan disemua lini kehidupan baik kehidupan pribadi, relas dan keluarga, semoga ini menjadi pelajaran untuk terus melangkah dan berkarya sehingga disetiap perjalanan waktu tidak ada yang sia-sia dan menjadi tidak bernilai baik bagi diri sendiri maupun orang lain. mengutip caption IG yang ada "teruslah menebar / melakukan kebaikan / sekalipun kita tidak diperlakukan dengan baik" tetaplah menjadi diri sendiri tanpa harus menjadi orang lain namun bukan berarti kita menjadi orang yang tidak mudah menerima masukan dari orang lain. Ingat dan selalu ingat, apakah perjalanan sejauh ini, saat ini dan akan datang sudah mendekatkan pada cahaya sang khaliq atau malah sebaliknya? muhasaba diri sangat penting untuk dilakukan tanpa harus menunggu "diingatkan / ditegur " sang Khaliq. Bismillah, semoga kedepannya makin baik lagi dari yang sudah-sudah dalam segala hal dan segala lini kehidupan.. InsyaAllah.., Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Tarakan, 26 Desember 2019
Pukul : 5.40 Sore