Setelah menulis tentang 12 hari tanpa notifikasi, dan hari ini memasuki hari ke-16, begitu banyak pelajaran yang bisa diambil, dari target hanya 14 hari, akhirnya saya terbiasa membatasi percakapan dengan orang-orang yang selama ini hanya sekedar kenal via sosial media. 2 minggu ini saya banyak belajar, belajar untuk memulai pembicaraan, belajar untuk tidak memulai obrolan basa basi, belajar untuk memahami diri sendiri, sebenarnya ini yang saya butuhkan, ketika dulunya saya dengan gampangnya memulai pembicaraan basa basi unfaedah hanya sekedar menegur yang pada akhirnya tidak juga diberikan respon padahal niat kita baik ingin menjalin silaturahmi. saya sudah belajar dengan kondisi saya, ketika lagi sibuk-sibuknya dengan kerjaan saking sibuknya hanya melihat pesan masuk tanpa membalas walaupun hanya dengan emot, banyak faktor yang menyebabkan diantaranya benar-benar sibuk dan benar benar malas meladeni orang yang itu itu saja, apalagi untuk sapaan yang recehan hehehe
Selain di sosial media, pengalaman nyata juga ketika bertemu dengan orang-orang dalam suatu moment. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, saya termasuk tipekal orang asal nyambar, tidak kenal sama sekali malah menegur bahkan saking semangatnya tidak jarang salah orang.. hehehe ini tidak lain dari segi fisik dan "penampakan" nampak sama dengan teman yang dikenal. Saat- saat dimana kita lagi dalam sebuah moment, ada keinginan untuk menyapa orang-orang yang ada, namun melihat raut wajah yang kurang "bersahabat" dalam pandangan saya orang ini belum menyambut dengan hangat, sehingga mengharuskan kita bersikap biasa-biasa saja, dan memang sudah seharusnya seperti ini, tidak perlu merasa terlalu kenal untuk mengurangi potensi malu yang akan muncul kemudian. ada dua kejadian yang bisa dijadikan pelajaran. Kejadian pertama, saat berkenalan dengan teman kuliah s2, saat pertama jumpa nampak cuek dan tidak bersahabat seperti yang lain, mungkin saat itu dia lagi banyak pikiran atau lagi capeh sehingga yang muncul "persepsi" awal tentang teman bahwa dia "sombong" makin kesininya makin kenal dan makin tahu karakternya dan ternyata orangnya baik, kita tidak bisa mengambil kesimpulan dengan hanya satu atau dua kali bertemu.
Kedua, saat menyapa dokter di kampus, dari intensitas pertemuan dengan dokter ini, cukup sering, terutama saat memasuki waktu shalat, karena sering ketemu dan berada di tempat yang sama, hingga saya memberanikan diri menyapa, rupanya saya salah orang, dari wajah mirip, dokter yang saya sapa ini merupakan dosen di salah satu jurusan yang ada di eikman, awalnya saya menduga dokter ini adalah yang pernah saya ketemu dan sering ketemu saat profesi ners di ruangan kamar bedah. Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang tidak bisa kita nilai dari pertemuan awal. Demikian juga kita tidak bisa menilai seseorang dari tampakan luarnya, dua kemungkinan, yang nampak kurang baik ternyata baik dan sebaliknya yang nampak baik rupanya memiliki maksud tersembunyi. Apalagi dalam sosial media, kita memulai menyapa orang-orang yang menurut kita baik namun rupanya responnya tidak seperti yang diharapkan, tapi ada juga yang awalnya kita merasa baik namun makin kesininya makin bosan dengan cara komunikasinya. Akan tetapi ada pengalaman dari salah satu teman online saya yang hingga saat ini cukup terjaga yang awalnya tidak begitu mulus berkomunikasi, komunikasi hanya seadannya, sekedar menyapa, cukup namun makin kesininya banyak kecocokan sehingga komunikasi yang terjalin sekarang cukup dekat.
Berbicara tentang memulai komunikasi, Ada beberapa pengalaman terutama saat running baik pagi maupun sore, kadang-kadang kita memperhatikan orang yang juga sedang lari. saking seringnya ketemu di sore lari saat lari, menjadikan wajah-wajah yang lari cukup familiar. dan dari wajah-wajah itu ada yang beberapa yang membuka obrolan dan ada juga yang tetap datar dengan menikmati larinya. sudah mencoba untuk senyum ketika berpapasan namun apalah daya tidak ada feedback. Namun ada juga yang memberikan respon yang ramah bahkan menyapa duluan sehingga menjadi kewajiban saya untuk menyambut itu. kejadian pertama saat lari pagi di sekitaran Bandara, ada komunitas lari yang kebetulan sering ketemu, saat berpapasan ada salah satu anggotanya yang memberikan sapaan sehingga saat balik dilintasan itu dan ketemu saya memberikan sapaan duluan dan ini terjadi beberapa kali di minggu-minggu berikutnya hingga saat ini jika berpapasan, walau hanya sekedar memberikan "salam". Kemarin kejadian lari, ketika berpapasan dengan salah satu yang lari, dia duluan memberikan sapaan karena beberapa kali berpapasan saat lari sore dan sayapun menyambutnya, masih sebatas sapaan belum berpapasan lebih lama sehingga bisa ngobrol lebih lama.
Bila diperhatikan pengalaman yang sudah-sudah, kejadian seperti barusan juga terjadi saat kebiasaan lari pagi di hutan kota gunung ladang, ada beberapa orang yang sering lari disana pada akhirnya saling menyapa bahkan tidak hanya di lokasi lari bahkan saat ketemu di tempat lain. Inilah beberapa pengalaman, mana yang harus kita batasi komunikasi mana yang kita komunikasi seadanya dan sewajarnya. Memang kalau dilihat-lihat, akhir-akhir ini saya lebih banyak menunjukkan sikat yang cool tidak seperti dulu mudah memulai obrolan, apalagi untuk orang-orang yang sudah sangat kita kenal bahkan ada juga kita yang merasa sudah sangat kenal hanya karena pernah ngobrol lama, ternyata hanya sebatas itu setelah obrolan yang lama itu berakhir maka berahir juga komunikasi tanpa ada lanjutan dan kembali seperti biasa kembali seperti orang yang tidak begitu kita kenal. kembali lagi ke pelajaran utama dari sekian kejadian dan pengalaman yang sudah-sudah, jangan cepat mengambil kesimpulan dari apa yang nampak di depan kita, kita butuh waktu untuk menilai dan mengkarifkasi secara tidak langsung bagaimana sebenarnya sosok dan pribadi teman ngobrol kita selama ini sehingga tidak cepat mengambil kesimpulan yang bisa jadi kita salah menilai. jangan tergesah-gesah dalam membuka obrolan tetap santai, ngobrollah seperlunya saja sesuai, tidak lebih dan jika memang tidak ada kepentingan yang berfaedah mending dihindari atau bahkan di batasi
Tarakan, 13 Februari 2020
Pukul : 4.53 sore