28 Februari 2020

Mampir sejenak

Perjalanan tiga hari di jogja alhamdulillah sudah berakhir pagi tadi, begitu banyak yang bisa dikenang begitu banyak hal yang tidak bosan untuk didatangi apalagi foto-foto. Bertepatan dengan weekend akhirnya saya memilih untuk menunda kepulangan dengan mengunjungi teman di daerah Jawa Tengah, alhamdulillah sampai siang tadi, dan dijemput sama teman. Siang tadi menjadi tempat yang begitu menyenangkan, selama ini hanya melihat dari Story teman, alhamdulillah sudah bisa dirasakan. Diawali dengan makan siang dengan menu sate kambing, kata teman, ini warung sate yang baru pertama kali dikunjungi dan selama ini dia sering ke cabang utama warung sate kambing ini, katanya rasanya agak beda hehehe katanya kaget rasanya beda dan ga mau rekomended..ha ha untuk cabang utamanya katanya sih agak jauh. 

Perjalanan kedua dilanjutkan di pantai, suasananya mirip2 Tanjung bayam atau Tanjung merdeka di Makassar, menikmati tempe mendoang..dan juga tahu goreng, kalo di tarakan tahunya lebih banyak ditemukan tahu isi hehehe.. Perjalanan ke tiga dilanjutkan ke alun2 kota, sebenarnya dekat banget dengan stasiun tempat tiba tadi, puas foto2 balik kamar dan istirahat tidur. Teman ini begitu dekat secara personal dengan saya termasuk sudah dianggap sebagai saudara sendiri kami saling menguatkan dan saling mendoakan dan menjadi teman berbagi kegelisahan dan pengalaman :) firasat teman ini baik, sehabis shalat maghrib hujan turun sampai sekarang kurang lebih uda dua jam :)

InsyaAllah perjalanan selanjutnya besok, saya akan ke kota kembang Bandung, baru menghubungi 1 teman dan yang lain akan dihubungi pas di Bandung :), Terakhir ke Bandung 4 bulan yang lalu dan, dan juga itu karena lagi ada Meeting di Jakarta, acara PPNI, izin ke kantor 2 hari biar bisa mampir ke Bandung, karena ada yang harus dibereskan di Bandung,  Bandung ini daya tarik ya begitu besar pernah saya sedang berada di Semarang, sebenarnya mau melanjutkan perjalanan ke jogjakarta karena prinsipnya mumpung lagi On trip masih ada waktu masih bisa mampir ke Bandung dan nanti dilanjutkan ke jogjakarta. Hitung-hitungan sambil perjalanan via kereta api. Walau cukup melelahkan perjalanan dengan kereta api cukup menyenangkan bila perjalanan pagi hingga sore sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan

Semoga sisa perjalanan besok hingga ahad berjalan lancar. InsyaAllah balik ke tarakan via Jakarta, Star dari Bandung sehabis maghrib.. Perjalanan balik via bandara Soetta,..di Jam 5.00 pagi uda boarding, insyaAllah tiba jam 9 pagi..lanjut kerja. Ada agenda rapat, ngajar di hari itu 🤦🤦 semoga selalu diberi kesehatan sehingga semuanya bisa terlewati..aamiin

Warung Tegal, 28/2/2020
Pukul : 8.22 malam

27 Februari 2020

Dua hari di Klinik Jurnal

Alhamdulillah, 2 hari ini menjadi bagian peserta klinik jurnal ilmiah di jogjakarta. Seperti dalam tulisan sebelumnya keputusan untuk ikut ini harus melalui pergolakan hati, antara besarnya keinginan dengan realitas isi rekening. Memang tidak sedikit uang harus dikeluarkan, mulai uang tiket pesawat pulang pergi, kontribusi peserta dan hingga keperluan lain selama di jogja. Setelah mempertimbangkan dalam-dalam uang direkening yang pas-pas, pas dibutuhkan pas lagi ada, dengan iringan bismillah saya memberanikan diri untuk meregistrasi dan membayar, memesan tiket pesawat dengan biaya sendiri., saya menghubungi alumni di jogja., untuk menyampaikan kedatangan saya, Qadarullah, teman2 satu kosannya sudah duluan balik ke kalimantan dan dia "mau" mengorbankan dan menunda pulang kampung karena sudah menyelesaikan semua administrasi sisa menunggu waktu wisuda dan balik ke kalimantan pada hari jum'at pagi bersamaan dengan waktu untuk saya tinggalkan jogja.

2 hari ini menjadi hari yang begitu bermanfaat bahkan saya mengatakan, ini tidak sia-sia, semua materi yang disampaikan sangat sangat saya perlukan dan menjadi hal yang selama ini membingungkan dan selalu salah persepsi, tentang bagaimana itu melakukan penelitian, menemukan masalah, menyusun naskah publikasi menentukan metodeloginya hingga menyampaikan hasil penelitian, bagaimana membuat manuskrip yang baik hingga menuliskan kutipan dan daftar pustaka dengan menggunakan aplikasi.

Hal yang sangat menginspirasi adalah narasumbernya sangat kompeten, ahli dibidang publikasi, merupakan penulis nomor 1 dan kedua di perindeksan dosen keperawatan di Indonesia, masih muda, seusia saya :) tapi beda nasib.. semoga menjadi inspirasi dan motivasi sehingga kedepannya saya bisa memulai untuk meneliti dan menulis, terlebih lagi untuk tahun ini saya sudah mendapatkan hibah penelitian dosen pemula.. semoga saja dilancarkan. Aamiin ya rabbal alamin

Jogjakarta,..27/02/2020
Pukul : 9.45 malam WIB

25 Februari 2020

Diluar ekspektasi

Empat minggu saya menonaktifkan w.a untuk nomor simpati, banyak hal yang bisa saya pelajari keputusan ini, paling tidak saya belajar untuk tidak terpancing untuk melihat notifikasi, saya mau memperlakukan w.a simpati ini sama seperti w.a nomor As. Awalnya hanya berniat hanya dua pekan, begitu masuk pekan kedua sayapun menantang diri saya untuk melanjutkan hingga 4, apa sanggup atau seperti apa? Alhamdulillah tantangan itu akhirnya terlewati. Tangan saya tidak tergoda untuk mengaktifkan w.a walau sempat terlintas untuk mengaktifikan

Hal yang menarik adalah ketika memasuki hari-hari terakhir pekan keempat, ibarat menantikan moment yg sudah ditunggu-tunggu, rasanya tidak sabar, hari berganti hari, memasuki hari yg dinantipun rasanya tidak sabar. Sehari sebelum waktu untuk kembali mengaktifkan w.a saya mencoba mengirim pesan via w.a nomor As, tagetnya saya saat mencari dikontak W.A tidak ditemukan dan tidak terkoneksi dengan w.a artinya tidak bisa mengirim pesan w.a dan berarti pula kondisi ini beda ketika aplikasi w.a di uninstall, pesan w.a tetap terkirim namun hanya centang 1 dan pesan akan masuk ketika w.a diinstall kembali. Saat menonaktifikan w.a saat ini saya menghapus akun w.a dan itu yang terjadi. Dampak lain dari menghapus akun w.a ini status saya keluar dari group yang ada., group teman-teman SMP, semoga tidak menimbulkan salah paham.

Kembali lanjutan cerita yang terpotong tadi, hari ini tepatnya tanggal 25 Februari 2020 merupakan hari mengaktifkan kembali w.a, saking semangatnya saya mencuri2 waktu di tengah banyaknya hal yang harus dikerjakan pagi tadi dan berharap ada surprise saat mengaktifkan w.a namun diluar ekspektasi saya tidak ada sama sekali surprise dan kondisi w.a seperti pertama kembali membuat akun, tidak ada pesan lama yang tersimpan dan tidak ada pesan yang masuk selama masa nonaktif. Ada beberapa kesalahan yang saya buat, pertama saat mengaktifkan saya lupa untuk menekan bagian pemulihan pesan sehingga pesan yang pernah tersimpan tidak muncul kembali, kedua.. saya menggunakan bukan aplikasi asli w.a jadi perlakuannya beda dengan aplikasi w.a yang baru., dan aplikasi bayangan w.a ini cukup ribet.. jadi pengalaman pertama jika menonaktifkan w.a jangan menggunakan aplikasi bayangan ini :) w.a plus nama aplikasinya. Ada kelemahan ada kelebihan..manfaat yang saya peroleh paling tidak saya tidak mengingat-ingat kembali pesan2 dimasa lalu, cukup menjadi kenangan dan tidak perlu diingat2 :)

Belajar dari 4 minggu ini, semoga tujuan utama saya adalah menahan diri untuk ber.w.a dgn nomor simpati, saya harus benar-benar memperlakukan w.a ini sama seperti w.a yang satunya.. proporsional, tidak berlebihan, mengingat banyak hal yang harus diselesaikan, banyak hal yang harus diprioritaskan. Lebih memposisikan diri sewajarnya saja, tidak mau terlalu tergantung dengan story teman2 dekat dan intinya jangan banyak waktu dihabiskan untuk w.a nomor simpati ini.


25 Februari 2020
Pukul : 20.24 Wita
Di atas ketinggian 35.000 kaki dari permukaan laut
Perjalanan dari balikpapan-Jogja

23 Februari 2020

Termakan Omongan Sendiri (renungan)

Ada ceramah yang begitu menyentuh, benar-benar menyadarkan diri tentang bagaimana cara memandang beban hidup oleh Ust. Muhammad Nurul Zikri. Untuk topiknya begitu menguatkan tauhid "Kembalikan kepada Allah" tugas manusia hanya menjalankan, bukan menuntut itu dan ini.  
Banyaknya musibah yang kita hadapi seringkali berkaitan dengan ucapan-ucapan kita,.karena banyak mengklaim. Misalnya mengatakan mengikuti kajian karena ridho, benarkah ridho nanti Allah akan mengujinya apa benar-benar menjadi keridhoaan. katanya mau  menjalani dengan ikhlas, sehingga Allah mencoba menguji apa benar-benar ikhlas nanti tanpa kita sadari kita melakukan hal yang kontra dengan apa yang kita klaim. hal ini sesuai dengan  QS Al Ankabut "(2): Apakah manusia hanya mengatakan kami telah beriman, lalu mereka tidak diuji? (3): Allah telah menguji orang-orang sebelum mereka, Allah pasti mengetahui orang-orang yang tulus dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta "  intinya kita dianjurkan untuk berjuanga secara all out, apakah kita benar-benar sudah berjuang, untuk mengatakan bahwa kita benar-benar berikhtiar. JKita harus tanggalkan gengsi, harga diri karena harus berjuang 1000%, harus menunjukkan totalitas berjuang. Namun nafsu dan emosi yang meruntuhkan sehingga kita tidak mendapatkan hasil terbaik.

(setelah 24 jam baru bisa melanjutkan tulisan, karena pas menulis masuk azan maghrib dan melanjutkan taddarus bersama jama'ah mesjid)

Bagi saya cerita ini sangat mengesankan dan menyadarkan bahwa selama ini saya juga mengalami hal seperti ini, saya mengungkapkan hal-hal yanh tidak lama kemuadian saya diuji bagaimana saya memegang kata-kata itu. demikian juga dengan orang yang pernah saya temui, kita dia menyarakan kita untuk melakukan ini dan itu, dan bahkan cenderung mencari-cari kesalahan namun dalam bergulirnya waktu orang tersebut yang malah ingkar dengan kalimat yang pernah disampaikan. Bukan berarti saya mencari kesalahan namun ini menjadi pengalaman pentinh bahwa memang kita harus hati-hati dengan ucapan kita, bukan berarti kita harus menghindari apalagi jika itu hal yang baik untuk diri kita, itu hanya mengingatkan diri kita dan menyadarkan agar kita tetap konsisten dengan kata-kata kita sendiri, kita lebih banyak untuk bercermin dan instropeksi diri bahwa apapun yang kita ucapkan benar-benar dari lubuk hati terdalam dan benar-benar bahwa kita adalah orang yang pertama harus menjalankan, tidak menuntut orang lain sehingga tujuan akhirnya adalah mendapatkan keridhoaan Allah SWT. semoga kita tidak menjadi orang mudah menasehati orang lain namun lemah untuk menasehati diri sendiri, jangan sampai kita banyak menuntut agar orang lain menjadi baik dengan diri kita sementara kita sendiri tidak menjadi baik untuk diri kita sendairi dan juga tentunya untuk orang lain. Semoga Allah SWT selalu memberi hidayah dan maghfiruh Nya agar kita senantiasa menjadi orang yang dengan penuh kesadaran menjadi lebih baik dan mendapatkan keridhoaan Allah SWT. aamiin Ya Rabbal alamin

23 dan 24 Februari 2020
Jam 7.26 sore jelang shalat isya

22 Februari 2020

Harus Mengikhlaskan (Pelatihan AECN)

1,5 tahun yang lalu, tepatnya bulan Agustus 2016, saya mengikuti pelatihan AECN oleh yayasan ambulan 118 Jakarta, pelatihannya terdiri dari dua yaitu advanced cardiovasculer life support (ACLS) dan advenced trauma life support  (ATLS) di selenggarakan selama 6 hari dengan masing-masing pelatihan 3 hari dan di hari ke-3 ada ujian teori dan praktik. biaya yang dikeluarkan cukup besar 6jt itu sudah mendapatkan discount 1 jt karena jika pelatihannya dipisahkan maka biaya 3,5jt dan diluar penginapan. Materinya sangat luarbiasa, kelanjutan dari Basic Trauma Cardiovasculer Life Support (BT-CLS) walau basic keilmuan saya adalah komunitas berkaitan dengan masyarakat, namun pengetahuan tentang kegawatdaruratan ini sangat penting dan bisa dijadikan materi penyuluhan untuk masyarakat umum. Walau selama pelatihan saya butuh penyesuaian yang cukup berat karena dua tahun yang lalu terpapar pelatihan BTCLS yang tidak pernah saya update kembali dan hanya saat kuliah semester 1 pernah mempelajari ini namun masih sangat umum. Melalui pelatihan AECN,  saya bertemu dengan dengan praktisi kegawatgaruratan, baik yang kerja di rumah sakit, klinik perusahaan, hingga sesama akademisi. Bahkan peserat yang 1 kamar menjadi teman berdiskusi dan memahami dan mendalami kembali materi-materi. komunikasi kami peserta pelatihan itu masih berjalan hingga sekarang dalam WAG AECN-LPPMAgustu2016. 

Kenapa harus mengiklaskan? niat awalnya mengikuti pelatihan ini adalah untuk memperkaya keilmuan kegawatdaruratan dengan harapan akan menjadi instruktur pelatihan BTCLS 118. Dua syarat yang harus dipenuhi adalah pertama harus mengikuti pelatihan TOT 118 dan kedua harus lulus 3 kali magang dalam pelatihan BTCLS 118. untuk ikut pelatihan TOT ini, ada saja kendala yang harus saya hadapi, pertama miskomunikasi, saat itu saya sudah berada di Bandung namun kurang konfirmasi kembali sama panitia sehingga yang seharusnya saya sudah bisa menghemat biaya tiket pesawat namun belum rejeki, kedua saat keuangan masih stabil namun pelatihan bersamaan dengan kegiatan di tempat kerja sehingga mau tidak mau harus memprioritaskan yang di kampus, ketiga yang baru-baru saya tulis bulan lalu harus memprioritaskan kegiatan, saya harus mengutamakan apa yang benar-benar saya butuhkan saat ini dan bisa memberikan efek (sebelumnya sudah ada dalam tulisan di bulan ini). Akhirnya untuk sementara ini dalam batas waktu yang tidak ditentukan saya harus memutuskan untuk tidak lagi memikirkan untuk pelatihan TOT, saya harus mengikhlaskan bahwa pelatihan AECN yang bulan Agustus tahun 2016 saya ikuti, saya tidak kembali mengembangkan untuk pelatihan selanjutnya atau kembali mengikuti untuk memperbaharui pelatihan tersebut, alhamdulillah banyak ilmu yang didapatkan paling tidak saya bisa memahami metode selama pelatihan dan insyaAllah tidak ada yang sia-sia dari apa yang sudah saya dapatkan sebelumnya. InsyaAllah

Tarakan, 22/02/2020
Pukul : 05.15 sore

21 Februari 2020

Belajar Memahami kemampuan berolahraga (running)

Berita akhir-akhir ini ramai diberitakan tentang meninggalnya ashraf sincleir, suami dari BCL. Salah satu yang membuat orang terkejut karena almarhum gemar menjaga kebugaran fisik dan tidak ada penyakit yang sebelumnya diderita sehingga berita menjadi tranding. Banyak orang berasumsi bahwa olahraga dapat menjaga kesehatan, namun dengan contoh almarhum maka orang-orang menjadi pesimis untuk berolahraga karena tidak ada jaminan untuk sehat. Kalimat terakhir ini lebih cocok untuk mereka yang belum menjadikan olahraga bukan kebutuhan namun sebagai selingan saja.  Banyak profesional lari dan bahkan dokter olahraga mengatakan sebelum olahraga kita harus mengetahui batas kemampuan jantung kita dengan cara treadmill apabila kita merasakan sesak yang nyata nah bisa menandakan kalo kita mengalami masalah jantung dan untuk mendukung itu harus disertai dengan pemeriksaan rekam listrik jantung (EKG).  olahraga sebagai kebutuhan bahkan gaya hidup sudah merasakan betul manfaat berolahraga. 

Saya sebagai orang kesehatan, sudah rajin olahraga namun bukan jaminan bahwa kita akan terlepas dari namanya sakit. Namanya kita sebagai manusia pasti tidak sempurna sama hal apapun, kita  sudah berupaya membentengi diri agar tetap sehat namun terkadang kebobolan juga :) sudah pernah saya ceritakan bagaimana usaha saya menjaga kesehatan melalui berolahraga running, hingga berolahraga hanya mengejar target tanpa memperhatian kondisi dan yang terpenting kita peka dengan diri sendiri apakah olahraga yang kita jalani dalam batas normal. Belum lagi masalah aktifitas olahraga masalah lain yang juga mendukung seperti istrahat yang cukup, kelolah stres, dan pola makan yang seimbang. Nah pola makan ini yang paling sering terabaikan, makan gorengan saja sudah membuat radang tenggorokan, saya termasuk orang yang sangat peka dengan gorengan dan hubungan dengannya radang tenggorokan, makan lebih dari 3 gorengan saya memberikan efek. 

Kembali lagi ke topik, akan banyak menimbulkan kebingungan jadi harus berolahraga seperti apa, apalagi running, belum lagi ada target yang ingin dicapai, ada race yang harus dipersiapkan. Salah satu coach profesional lari di ig 'andriyanto.run" yang cukup bagus memaparkan, lari tidak mesti dipaksakan, sesuai dengan kemampuan kita dan harus memberikan efek bahagia bagi kita. kemudian ada dr.dhika, dokter spesialis olahraga, juga banyak membahas bagaimana konsep medis tentang reaksi tubuh ketika olahraga termasuk hal-hal yang harus dihindari ketika berolahraga. Beberapa ulasan tentang lari juga banyak dibahas, jika ingin menaikkan jarak dan durasi maka yang harus dilakukan secara perlahan-lahan, hanya 10% dari total lari seminggu kita, misalanya dalam seminggu kita menghabiskan lari selama 3 jam atau 180 menit, berarti hanya kenaikan 18 menit dalam seminggu bila dibagi 3 berarti hanya ada 6 menit dalam setiap sesi latihan. Demikian juga dengan olahraga yang lain, perhatikan kemampuan jantung kita, jangan sampai terjadi overtraining, jangan-jangan tanpa kita sadari jantung kita bekerja secara maksimal sudah diluar kemampuan biasanya sehingga akan memberikan efek negetif bagi diri kita, tentunya yang kita inginkan olahraga yang memberikan manfaat sehat untuk tubuh bukan sebaliknya, olahraga sesuai porsi tubuh, jangan dipaksakan diluar kemampuan :)

Tarakan, 21/2/2020
Jam : 9.20pagi

20 Februari 2020

Serangan Ngantuk

Beberapa hari terakhir ini, tepatnya mulai selasa, 18 Februari, setiap pagi merasakan ngantuk yang luar biasa terutama diwaktu pagi saat jam kerja baru saja dimulai. Ini tidak seperti biasanya, kali ini benar-benar seolah-olah habis begadang, padahal jam tidur malam seperti biasanya, tidak ada yang berubah, bangun  tidur juga masih normal, sekitar jam 3 lewat, atau jam 3.30 pagi,melaksanakan shalat malam, mengerjakan rutinitas seperti biasanya, menyiapkan seragam anak-anak, membersihkan halaman, dan menjemur pakean jika bertepatan dengan waktu mencucim, itulah rutinitas ketika terutama di hari senin, rabu, dan jum'at. Jika itu senin dan kamis maka rutinitas tambahan adlah saum. Karena sudah menjadi rutinitas maka sudah sudah menjadi kebiasaan hingga kadang-kadang mengharuskan saya sepintar-pintarnya saya membagi waktu, sehingga tidak ada yang terbenturkan terlebih bertepatan jadwal masuk sekolah dan kerja. untuk kerja sebenarnya nanti 8.kurang sdh berada di kampus, namun demi efisiensi dan efektifitas sehingga waktu mengantar sekolah sekaligus jam masuk kantor.

Kembali ke judul tulisan ini, kondisi ngantuk ini, begitu mengingat-ingat akhirnya menuju ke sebuah obat, akhirnya sadar bahwa  sejak senin sore saya mengkonsumsi obat dari dokter sehingga efeknya seperti ini, sehingga sekuat tenaga harus melawan mengantuk ini agar tetap bekerja, mengajar, menyelesaikan tugas-tigas di tempat kerja dan juga tidak ketinggalan agar tetap berolahraga. Namun efek yang kurang saya kendalikan ketika tiba-tiba emosi menjadi tidak terkontrol untuk hal-hal tertentu, lebih menjadi moody. ini yang harus diantisipasi agar jangan sampai berdampak negatif. Akhirnya akar masalah mengarah pada  obat yang diminum yang merupakan kelanjutan dari pengobatan yang sudah saya jalani sejak sebulan yang lalu (sudah ada pernah ditulis) dan harus dijalankan demi kesehatan, alhamdulillah sejauh ini kondisi kesehatan saya sudah lebih baik, aktifitas kembali normal, dan rutinitas running kembali stabil bahkan ada peningkatan.

Ngantuk yang saya alami, semoga tidak ada kaitannya dengan kondisi yang saya alami beberapa hari ini. ketika harapan yang begitu besar di tempat kerja namun kenyataan belum sesuai harapan. Kondisi tempat kerja yang tidak seperti selama ini saya rasakan, banyak perubahan, walau sebenarnya sudah berniat untuk menerima dengan sepenuh hati, namun ada saja kondisi-kondisi yang memancing mood menjadi labil. misalnya ada saja anggapan dalam diri saya bahwa tempat kerja ini masih berlaku disktriminatif, dalam penilaian saya masih ada perbedaan perlakuan, ya mungkin karena posisi saya bukan siapa-siapa dan lagi-lagi ini hanya anggapan subjektif saya bisa jadi hanya ungkapan keresahan semata.Namun persepsi itu cukup menganggu namun saya menganggap bahwa ini hanyalah ujian saya dalam berkomitmen bekerja. prinsip saya bekerjalah dengan sebaik-baiknya, lakukan yang terbaik apapun kondisinya tanpa mengharapkan imbalan. nah ini ujian untuk prinsip ini, ketika ada keinginan yang belum terfasilitasi oleh kampus, masih merasa belum dipenuhi janji yang diutarakan, masih mendapatkan gaji yang belum sesuai dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional, namun lagi-lagi saya menganggap ini hanya ujian keikhlasan, ini hanya ujian untuk menggoyahkan effort sejauh mana saya bisa bekerja dengan lebih baik, mewujudkan impian yang ingin diraih, dan pastinya orang lain tidak mengetahui itu hanya kita saja yang pahami dan tahu yang terbaik untuk diri kita sendiri

Tarakan, 20/2/2020
Pukul : 5.01 sore 

Bangkit dari keterburukan (belajar dari kisah sukses motivator)

Judul ini bukan berarti kondisi yang sedang saya alami, alhamdulillah sampai saat tulisan ini ditulis, kondisi saya masih sehat wal afiat, masih dikasih karunia untuk selalu bersyukur dengan kondisi yang ada, alhamdulillah masih bisa menyanggupi kebutuhan keluarga walau dalam keadaan pas-pasan, pas dibutuhkan pas ada uang :). Memang secara tidak langsung kondisi saya sekrang baik dalam keluarga  (keuangan) maupun dalam pekerjaan yang mungkin tidak juga dikategorikan sebagai kondisi terburuk, artinya amunisi yang ada hanya untuk memenuhi pokok hanya saja untuk aktualisasi diri tidak seperti yang dulu, lagi-lagi pertimbangan kondisi keuangan, sehingga ini yang membuat saya harus berpikir panjang dengan kondisi sekarang, harus mana yang harus diprioritaskan (seperti judul sebelumnya di bulan januari). Kondisi sekarang bukan berarti kita tidak bisa bermimpi dan melangkah, kondisi ini menjadikan saya untuk berhenti sejenak, kembali merefleksikan diri, mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya hingga membuat strategi yang positif untuk melangkah ke depannya dengan seperti ini, tidak ada yang mustahil jika doa dan ikhtiar menjadi satu kesatuan kekuatan diri.

Belajar dari beberapa tokoh besar, yang bisa bangkit dari keterpurukan dan saat itu menjadi moment dimulainya kesuksesan. yang pertama yang sangat mengispirasi adalah cerita  Dewa Eka Prayoga, seorang bisnisman yang rugi lebih dari 7,7 M karena penipuan disaat usianya masih 21 tahun, baru menikah dan uang yang tersisa 7 ribu. Saya membaca uraian cerita beliau dari youtube dan beberapa berita online (belum pernah membaca bukunya). Banyak yang mengisahkan tentang bagaimana saat-saat dia jatuh dan orang-orang banyak menyalahkan karena kerugian besar dalam bidang investasi dan harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar utang-utang dari nasabah yang ikut join investasi dengan dia dan keluarga menyalahkan dan mencibirnya. Dalam kondisi terpuruk tersebut dia menuliskan pengalaman terburuknya itu dalam sebuah buku yang berjudul "7 kesalahan fatal pengusaha pemula", siapa sangka dari buku inilah titik bangkit dari sang motivator, dia mulai menyicil dan mebayar utang-utang nasabah yang ikut berinvestasi dan hasilnya adalah bisa terkenal seperti sekarang karena bukunya laris manis dan menjadi best seller

Inspirasi kedua adalah Ary Ginanjar Agustian, yang memperkenal ESQ bagi masyarakat Indonesia, melalui video  di Youtube, menceritakan awal mulanya terjung dalam dunia motivator, memulai karir sebagai atlit nasional taekondow dengan berbagai medali yang diperoleh, memiliki ambisi setiap target yang ingin dicapai untuk terus meningkat dari yang dperoleh selama ini, ingin ini ingin itu. beliau mengalami kebangkrutan dalam bisnis dan harus bercerai dengan istrinya, dalam kondisi sperti itu beliau harus tetap memberikan gaji kepada karyawannya tepat waktu. Pengalaman beliau menjadi inspirasi dalam menulis buku ESQ, tentang apa yang harus dicari seorang jika ingin sukses agar mampu menghadapi berbagai rintang dan harus miliki prinsip dan tujuan hidup yang kokoh. Berkah dari buku ini menjadikan Ary Ginanjar Sukses seperti saat ini, ESG menjadi brand bahkan berbagai pelatihan ditawarkan dan ada pusat trainingnya dengan ESQ center.

Masih banyak kisah sukses lainnya yang bangkita dari keterpurukan, kondisi yang dialami tidak membuat mereka kehilangan harapan dan asa, terus mencoba terus memberikan inovasi hingga bisa sukses seperti saat ini. Ini menjadi inspirasi bagi saya, kondisi yang ada sekarang tidak menghentikan kita untuk tetap bermimpi dan mewujudkan impian itu, selama ada tekat yang kuat, usaha yang maksimal dengan tidak menyerah dengan kondisi yang ada. yakinlah bahwa setiap langkah yang kita ayunkan semua atas seizin sang pemilik alam semesta, pasti ada hikmah dibalik semua ini, takdir kita sudah tercatat dalam lauhul Mahfuz sisa bagaimana doa dan ikhtiar kita untuk mewujudkannya itu. Ibarat peta jalan yang sudah tertuliskan, ketika kita mengambil jalan apapun akan tertuju pada ending yang sudah tertuliskan, jalan salah mengarah pada tujuan yang salah, jika kita tidak cepat menyadari makan kita akan tetap berada dijalan yang salah tapi jika kita  benar-benar sadar bahwa selama ini berada di jalan yang salah, doa dan ikhtiar kita mengarahkan pada jalan yang seharusnya kita lalui,m jalan yang membawa kita pada kondisi hidup yang lebih baik dan pastinya jalan yang semakin mendekatkan diri kita dengan sang pencipta dan pemilik alam semesta. Wallahu'alam bishawab..

Tarakan, 20/2/2020
Pukul : 8.58

19 Februari 2020

Memahami Batas Kemampuan Kita

Dalam banyak hal ketika ada yang ingin kita raih, effort yang kita keluarkan begitu menggebuh-gebuh untuk mencapainya, ada yang benar-benar bisa tercapai sesuai dengan harapan kita, namun tidak sedikit yang malah berdampak negatif pada diri kita. effort yang sudah kita maksimalkan  itu berbanding terbalik dengan apa yang kita dapatkan. Biasanya jika ada impian yang ingin kita kejar pada akhirnya kita melihat sejauh mana persiapan yang sudah kita lakukan dan waktu untuk eksekusi yang kita lakukan. Misalnya dalam pekerjaan, begitu besar usaha yang sudah kita lakukan walaupun hasil yang kita dapatkan, namun jangan berkecil hati karena tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud, pasti ada hikmah di balik itu. Meminjam kata teman "belum rejeki" apapun yang sudah kita upayakan belum bisa memberikan hasil yang seperti yang kita inginkan, namun jangan berkecil hati, paling tidak kita menghargai apa yang sudah upayakan, tidak ada yang sia-sia karena semua kejadian sudah digariskan oleh sang pemilik alam semesta, tetap berbaik sangka.

Demikian juga dalam hal olahraga, ada batas-batas yang harus kita pahami dan menjadi alarm kalo tubuh kita sudah tidak bisa dipaksakan, namun jangan karena ketakutan tersebut kita tidak ingin berolahraga. Dalam beberapa berita disebutkan ada seseorang yang gemar berolahraga namun ditemukan meninggal karena mengalamai serangan jantung. Menurut ahli olahraga, memang olahraga tidak menjamin seseorang tidak mengalami penyakit, namun tanpa melakukan olahraga juga bisa menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit terutama penyakit tidak menular. Ini menjadi dilematis, namun bila kita kembali pada prinsip jika segala suatu itu dilakukan sesuai dengan porsi nya dan sesuai planning kita maka manfaat sehat akan kita dapatkan asalkan kita tidak memaksakan diri untuk melakukan olahraga diluar kemampuan karena akan ada dampak negatif akan kita dapatkan. Selain olahraga rutin kita lakukan itu, kika juga perlu menjaga pola makan yang sehat, istrahat yang cukup,  mengelolah stres dengan baik, tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok dan terpenting meningkatkan keimanan :)

Bekerja pun harus melihat porsinya, namun bukan karena alasan tersebut kita mau bermalas-malasan. Apalagi saya termasuk tipekal workholic, pekerja keras yang kadang-kadang melampaui jam kerja normal. Belajar dari yang sudah-sudah, dari hasil kerja yang over ini, selain banyak manfaat namun juga efek negatif yang saya alami, mulai dari mengabaikan komunikasi dengan keluarga, menimbulkan kesalahpahaman dengan teman-teman 1 kantor, mudah stres dan turunan stres :). Satu hal yang tetap saya jalani dari kesibukan yang luarbiasa itu, tetap menjaga kewajiban sebagai seorang muslim dan tetap menjaga olahraga. Kondisi dulu, benar pada saat itu, namun sulit untuk tetap dipertahankan untuk kondisi saat ini. Saat ini saya berprinsip, "mengalir, apa adanya", "tidak mau muluk-muluk, asal Allah Ridho". Keterbatasan dari kemampuan kita menjadi alarm yang penting  bahwa ada hal yang tidak bisa paksakan, ada hal yang harus bertahap kita lakukan, ada hal yang mesti pintar-pintar kompromikan, tubuh kita sudah sangat lelah bekerja maka di buruh refresh dan instarahat dari segala kejenuhan mengejar urusan dunia. wallahu a'alam 

Tarakan, 19/2/2020
pukul : 4.14sore

17 Februari 2020

Saatnya Beraksi (Wujudkan Prioritas)

Tepatnya tanggal 21 Januari 2020 yang menulis kegalauan saya tentang menentukan prioritas dari sekian banyak agenda yang harus diikuti  dan dibiayai secara mandiri tidak mendapatkan  dari tempat kerja, ini lebih berkaitan dengan pengembangan diri atau lebih tepatnya menanam investasi ilmu. ketika kita mengikuti kegiatan maka akan berefek pada diri kita dan secara tidak langsung pada tempat kerja karena bagaimanapun pekerjaan sebagai dosen akan memberikan dampak pada intitusi pendidikan tempat bekerja. Saat menulis di bulan lalu, berdasarkan kondisi saat itu, pastilah berdasarkan pertimbangan kondisi keuangan saat itu. saat ini, alhamdulillah kondisi ada yang berbeda, dan pertimbangan kondisi keuangan juga berubah, berbedanya saat ini ada penambahan jumlah income yang diluar dugaan perhitungan saya saat itu yang benar-benar kondisi kere dan pas-pasan. penambahan kondisi keuangan antara lain alhamdulillah mendapatkan hibah penelitian dan ada tambahan keuangan dari honor mengajar serta bisnis kecil-kecilan. kekhawatiran saya tentang premi AXA mandiri yang harus dibayarkan setelah berkonsultasi di Bank Mandiri, kekhawatiran saya sedikiti berkurang dan tiba-tiba terlintas saat autodebit masih mendapatkan dua kali gaji bulanan :) walau secara perhitungan semua pas, tidak lebih dan tidak kurang sehingga pertimbangan saya di bulan lalu mulai meluntur.

Apakah prioritas yang akan saya lakukan, tiga hari yang lalu, saya mendapatkan w.a dari kerabat yang mengirimkan pesan tentang pelatihan klinik menembus artikel scopus pematerinya semua dari basik ilmu yang sama dengan saya dan satu tentang pengelolaan operation journal system. Kedua materinya sangat-sangat saya butuhkan. alasan pertama, saya mengalami kesulitan ketika akan mengajukan publikasi yang berskala internasional, sudah ada dua judul yang harus dibuatkan manuskrip sementara hasilnya sudah dikelolah dan sudah memberikan hasil seperti diinginkan. nah melalui klinik penulisan ini menjadi pintu gerbang untuk memulai menulis atau menerbitkan artikel berskala internasional. sebelumnya sudah pernah, namun masih bagian dari tesis secara tidak langsung masih terdapat sumbangsih dari pembimbing saat itu. Sementara OJS, ini merupakan hal yang baru diinstitusi kami, walau sebenarnya ini kepentingan institusi namun bukan berarti akan terhalangi kepergian menuntut ilmu. Jika dibandingkan dengan list kegiatan yang ada, dari beberapa tawaran kegiatan dan semuanya menggunakan biaya sendiri, misalnya pelatihan TOT 118, maka klinik menembus artikel berskala scopus ini yang prioritas dan harus saya lakukan untuk tahun 2020 ini (insyaAllah, selalu Allah SWT selalu mencurahkan kesehatan).

Melihat pertimbangan ini dan itu, saya sudah tidak punya alasan untuk menolak, kecuali qadarallah, ada hal yang tidak bisa saya tolak dan memang tidak bisa dihindari. insyaAllah niat baik ini, akan menjadi motivasi lebih besar lagi, karena ini merupakan investasi yang harus dikembangkan saat ini, insyaAllah kelak akan memberikan faedah untuk pengembangan diri. Inilah hal yang selama ini yang saya cari-cari, apalagi narasumber yang sangat kompoten di bidang ini. Untuk salah satu pemateri pernah menjadi inspirasi judul tulisan pada tahun 2017 ketika akan menyusun tesis dan prestasi pemateri tersebut merupakan peringkat pertama yang memiliki H-indeks dalam penulisan dosen dalam bidang keperawatan di Indonesia, artinya karya-karya sudah melalangbuana dalam jurnal internasional bereputasi. Inilah mewujudkan prioritas untuk pengembangan diri. salah satu cara untuk mewujudkan impian memiliki artikel berskala internasional yang bereputasi, dimana artikelnya merupakan hasil kerja mandiri selepas menyelesaikan pendidikan magister. inilah impian yang inginn diwujudkan, semuanya insyaAllah atas seizin Nya dan sebagai hamba kita hanya berusaha karena ini merupakan ikhtiar dari doa-doa yang kita panjatkan. semoga bisa terwujud.. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 17/02/2020
Pukul : 5.01 sore

16 Februari 2020

Meleburkan Ego

Ketika kita berada dalam sebuah tim, yang pertama-tama yang harus kita utamakan adalah meleburkan ego, tidak memaksakan kehendak kepada anggota tim, apalagi sebagai ketua tim, harus benar-benar memahami karakter setiap anggota tim. Hal utama yang harus dilakukan adalah kesepakatan dalam tim, apa saja yang harus dilakukan, apa saja yang harus dikerjakan, apa yang tidak perlu apa yang perlu. Ketika ada target bersama, semua anggota tim mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab masing-masing, kapan harus diselesaikan. Sebagai ketua tim pasti paham dengan keluhan yang ada, ada anggota yang bekerja dengan tepat waktu, ada anggota hanya mengerjakan sebagian saja bahkan ada yang tidak mengerjakan sama sekali. ketika melakukan rapat monitoring evaluasi (monev) kita semua anggota tim menyampaikan progress pekerjaan yang harus diselesaikan, begitu banyak gaya karakter yang muncul, ada yang berusaha menyelesaikan sesuai dengan target waktu, ada yang menyelesaikan sebisa dan semampunya saja, ada juga yang justru mencari pembelaan dan pembenaran dari apa yang tidak bisa dilakukan untuk mengerjakan, jangankan untuk mengerjakan memulaipun sulit. Ketika diberikan waktu yang menhklarifikasi, ada beberapa hambatan untuk menyelesaikan dan anggota tim ini menawarkan jika pelaksanaan monev di waktu yang lain. begitu sarannya dijalankan oleh ketua tim, apa yang terjadi? lagi-lagi tidak ada progress, mencoba memberikan klarifikasi dan pembelaan namun tidak pernah melakukan yang sudah dikatakan sehingga anggota tim lain berkesimpulan ini bukan masalah kesibukan ini lebih kepada "tidak amana" karena kalau memang benar-benar amanah, pasti akan menemukan jalan ketika akan memulai mengerjakan yang sudah ditugaskan, namun yang ada selalu mencoba mencari pembenaran dan alasan maka yang ada adalah keluhan ini dan itu tanpa ada pekerjaan yang diselesaikan.

Kalau melihat kilas balik yang dulu yang pernah saya lakukan, ketika daya berada diposisi seperti itu, ketika dulu dengan rasa "egois"nya saya melakukan apa yang harus saya lakukan, apa yang saya harus saya katakan, maka kondisi seperti di atas sulit akan saya temui, karena semua orang bekerja sesuai dengan tupoksi dan saat melakukan monev yang utamakan adalah sejauh mana progress yang sudah dilakukan, semua meleburkan keegoan untuk bisa mencapai tujuan yang telah disepakati, jika ada yang mengalami hambatan, tidak sungkan untuk bertanya dan meminta bantuan, ketika semua mengalami kebuntuan, secara bersama-sama memecahkan masalah. lain waktu lain masalah yang dihadapi, dulu kondisinya tidak seperti sekarang, walau hari sekarang kita masih dipertemukan dengan orang yang sama namun  ada beberapa tambahan orang, nah orang baru bergabung ini memiliki karakter yang berbeda dan akan semakin aneh dirasakan jika memberikan karakter yang kuat dan berbeda dengan yang lain dan semoga saja bisa memberikan dampak positif. kita tidak menghindari apa yang ada dihadapan kita tapi kita bisa mengantisipasi apa yang bisa kita dapatkan dari kondisi tersebut apa yang berdampak negatif atau berdampak positif. 
Jadi sekarang bagaimana kita membawa diri pada kondisi dimana kita berada, kapan harus profesional kapan harus mengutamakan rasa persaudaraan. :)

Tarakan, 16/2/2020
Pukul : 6.23 sore menjelang azan maghrib

14 Februari 2020

Belajar jadi Runner

22 Desember saya pernah menulis tentang kebiasaan berlari (running), saya lebih banyak bercerita tentang awal mula berlari, kalau menurut runner profesional atau yang sekarang menjadi coach lebih dikenal sebagai pelari hobi. Memang tepat dikategorikan seperti itu karena hampir 20 tahun lari lebih sudah menjalankan kebiasaan ini bukan targer sebagai profesional atau ikut lomba. Sebenarnya di Bandung pernah dua kali mengikuti race lari, 6 K dan 8 K, sementara di Tarakan sendiri tahun lalu sempat mengikuti 7,4. dan semuanya "gagal" ha ha ha, walau bermimpi bisa mencatat rekor baik, namun  apalah daya tapi ini menjadi pengalaman yang penting untuk ke depannya bila ikut race :) target bukan untuk juara lebih mau mengetahui sejauh mana kemampuan berlari saya. Sejauh ini per 14 februari untuk lari sore sudah mencapai 11 K sementara lari pagi sudah mencapai 16 K dan sejak minggu kemarin mulai belajar untuk belajar interval :) sehingga dalam seminggu sudah ada 3 kali latihan untuk lari .

Belakangan ini, saya sering menonton via youtube atau membaca ulasan tentang running diinstagram. ada beberapa coach yang dengan rutin membagikan tips untuk berlari, beberapa selebrity yang juga hoby bahkan sudah dikategorikan pelari juga sering share, dari bagaimana yang seharusnya dilakukan seorang yang mulai menggeluti lari atau sudah lama berlari namun secara teknik berlari masih minim. dimulai dengan poster tubuh saat berlari, ayunan tangan, saat kaki mendarat harus menggunakan bola-bola kaki bukan tumit serta beberapa kategori pelari mulai dari zona 1, 2, 3, 4 hingga 5 bahkan ada beberapa latihan yang harus dijalankan seorang pelari yaitu easy run (jogging), lari zona 2, latihan interval, latihan tempo hingga strength training bagi pelari. Untuk teknik dasar berlari harus menguasai namanya ABC running drill, ada empat; Angkling: berlari biasa namun lebih dominan tumit yang mengangkat, Hight Knee: mengangakat lutut hingga sejajar dengan pangkal paha, Kicking: gerakan menendang namun kaki tetap lurus kedepan, Butt kicks: kaki diayungkan ke belakang dan tumit kaki diangkat sejajar dengan lutut bagian belakang. 

Karena selama ini hanya menjadikan lari sebagai rutinitas tanpa teknik yang benar sehingga membuat pace atau capaian KM permenitnya begitu lambat mengalami peningkatan, ya alhamdulillah asal jangan mengalami kemunduran. menjadi runner memang tidak semudah yang kita bayangkan dan butuh banyak jam terbang dalam latihan dan juga lomba yang diikuti. Capaian terbaik saya ketika di bulan november saat lari pagi beberapa kali mendapatkan 5 KM di bawah 30 menit bahkan untuk 10 KM mendapatkan pace dibawah 6 menit, namun begitulah begitu memasuki latihan berikutnya pacenya bisa menurun ini semua tidak terlepas dari kondisi tubuh saat itu dan beberapa hari sebelumnya. dipertengahan bulan 12 hingga pertengahan bulan 1 sempat menjalani terapi karena batuk yang kunjung sembuh, dokter mendiagnosa dengan onstruksi saluran napas, sudah saya ceritakan pada tulisan di bulan januari tentang kekhatiran akan kondisi kesehatan saya, sehingga itu yang membuat saya lebih peduli dengan kesehatan dan tidak terlalu memaksakan harus lari jika kondisi tidak memungkinkan, alhamdulillah beberapa minggu ini, kondisi mulai membaik dengan capaian lari yang tidak mengecewakan

Belajar menjadi runner menjadi keharusan, ketika hoby berlari saja tidak cukup ;) ada target di thaun 2021 insyaAllah jika diberikan kesehatan, saya akan mengikuti event lari nasional, rencananya mau langsung half marathon atau paling tidak 10 K. dari review tentang lari yang sudah sering di dengar, tidak ujuk-ujuk langsung ikut race tanpa ada persiapan sebelumnya, paling 6 bulan sudah harus latihan secara kontinyu dan konsisten. Bismillah, dengan semangat yang membara ;) saya akan mencoba memaksimalkan kembali latihan lari, lebih melihat kembali ulasan-ulasan tentang lari dari coach atau profesional lari yang ada instagram atau youtube dan yang terpenting adalah mengenali gaya lari yang ada pada diri saya, tidak mesti sepenuhnya menjadi orang lain atau harus seperti orang yang sudah berlari cukup lama dengan teknik dan pengalaman race yang sudah segudang. Belajar lagi secara konsisten, tetap utamakan  kesahatan dan kondisi tubuh, tidak memaksakan kondisi jika memang tidak memungkinkan namun jangan menjadikan alasan ini dan itu untuk tidak berlari sejauh masih bisa dikompromikan kenapa tidak... kesehatan itu menjadi investasi yang sangat berharga di masa depan

Tarakan, 14/2/2020
Pukul : 5sore


13 Februari 2020

Membatasi Komunikasi

Setelah menulis tentang 12 hari tanpa notifikasi, dan hari ini memasuki hari ke-16, begitu banyak pelajaran yang bisa diambil, dari target hanya 14 hari, akhirnya saya terbiasa membatasi percakapan dengan orang-orang yang selama ini hanya sekedar kenal via sosial media. 2 minggu ini saya banyak belajar, belajar untuk memulai pembicaraan, belajar untuk tidak memulai obrolan basa basi, belajar untuk memahami diri sendiri, sebenarnya ini yang saya butuhkan, ketika dulunya saya dengan gampangnya memulai pembicaraan basa basi unfaedah hanya sekedar menegur yang pada akhirnya tidak juga diberikan respon padahal niat kita baik ingin menjalin silaturahmi. saya sudah belajar dengan kondisi saya, ketika lagi sibuk-sibuknya dengan kerjaan saking sibuknya hanya melihat pesan masuk tanpa membalas walaupun hanya dengan emot, banyak faktor yang menyebabkan diantaranya benar-benar sibuk dan benar benar malas meladeni orang yang itu itu saja, apalagi untuk sapaan yang recehan hehehe

Selain di sosial media, pengalaman nyata juga ketika bertemu dengan orang-orang dalam suatu moment. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, saya termasuk tipekal orang asal nyambar, tidak kenal sama sekali malah menegur bahkan saking semangatnya tidak jarang salah orang.. hehehe ini tidak lain dari segi fisik dan "penampakan" nampak sama dengan teman yang dikenal. Saat- saat dimana kita lagi dalam sebuah moment, ada keinginan untuk menyapa orang-orang yang ada, namun  melihat raut wajah yang kurang "bersahabat" dalam pandangan saya orang ini belum menyambut dengan hangat, sehingga mengharuskan kita bersikap biasa-biasa saja, dan memang sudah seharusnya seperti ini, tidak perlu merasa terlalu kenal untuk mengurangi potensi malu yang akan muncul kemudian. ada dua kejadian yang bisa dijadikan pelajaran. Kejadian pertama, saat berkenalan dengan teman kuliah s2, saat pertama jumpa nampak cuek dan tidak bersahabat seperti yang lain, mungkin saat itu dia lagi banyak pikiran atau lagi capeh sehingga yang muncul "persepsi" awal tentang teman bahwa dia "sombong" makin kesininya makin kenal dan makin tahu karakternya dan ternyata orangnya baik, kita tidak bisa mengambil kesimpulan dengan hanya satu atau dua kali bertemu.

Kedua, saat menyapa dokter di kampus, dari intensitas pertemuan dengan dokter ini, cukup sering, terutama saat memasuki waktu shalat, karena sering ketemu dan berada di tempat yang sama, hingga saya memberanikan diri menyapa, rupanya saya salah orang, dari wajah mirip, dokter yang saya sapa ini merupakan dosen di salah satu jurusan yang ada di eikman, awalnya saya menduga dokter ini adalah yang pernah saya ketemu dan sering ketemu saat profesi ners di ruangan kamar bedah. Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang tidak bisa kita nilai dari pertemuan awal. Demikian juga kita tidak bisa menilai seseorang dari tampakan luarnya, dua kemungkinan, yang nampak kurang baik ternyata baik dan sebaliknya yang nampak baik rupanya memiliki maksud tersembunyi. Apalagi dalam sosial media, kita memulai menyapa orang-orang yang menurut kita baik namun rupanya responnya tidak seperti yang diharapkan, tapi ada juga yang awalnya kita merasa baik namun makin kesininya makin bosan dengan cara komunikasinya. Akan tetapi ada pengalaman dari salah satu teman online saya yang hingga saat ini cukup terjaga yang awalnya tidak begitu mulus berkomunikasi, komunikasi hanya seadannya, sekedar menyapa, cukup namun makin kesininya banyak kecocokan sehingga komunikasi yang terjalin sekarang cukup dekat.

Berbicara tentang memulai komunikasi, Ada beberapa pengalaman terutama saat running baik pagi maupun sore, kadang-kadang kita memperhatikan orang yang juga sedang lari. saking seringnya ketemu di sore lari saat lari, menjadikan wajah-wajah yang lari cukup familiar. dan dari wajah-wajah itu ada yang beberapa yang membuka obrolan dan ada juga yang tetap datar dengan menikmati larinya. sudah mencoba untuk senyum ketika berpapasan namun apalah daya tidak ada feedback. Namun ada juga yang memberikan respon yang ramah bahkan menyapa duluan sehingga menjadi kewajiban saya untuk menyambut itu. kejadian pertama saat lari pagi di sekitaran Bandara, ada komunitas lari yang kebetulan sering ketemu, saat berpapasan ada salah satu anggotanya yang memberikan sapaan sehingga saat balik dilintasan itu dan ketemu saya memberikan sapaan duluan dan ini terjadi beberapa kali di minggu-minggu berikutnya hingga saat ini jika berpapasan, walau hanya sekedar memberikan "salam". Kemarin kejadian lari, ketika berpapasan dengan salah satu yang lari, dia duluan memberikan sapaan karena beberapa kali berpapasan saat lari sore dan sayapun menyambutnya, masih sebatas sapaan belum berpapasan lebih lama sehingga bisa ngobrol lebih lama. 

Bila diperhatikan pengalaman yang sudah-sudah, kejadian seperti barusan juga terjadi saat kebiasaan lari pagi di hutan kota gunung ladang, ada beberapa orang yang sering lari disana pada akhirnya saling menyapa bahkan tidak hanya di lokasi lari bahkan saat ketemu di tempat lain. Inilah beberapa pengalaman, mana yang harus kita batasi komunikasi mana yang kita komunikasi seadanya dan sewajarnya. Memang kalau dilihat-lihat, akhir-akhir ini saya lebih banyak menunjukkan sikat yang cool tidak seperti dulu mudah memulai obrolan, apalagi untuk orang-orang yang sudah sangat kita kenal bahkan ada juga kita yang merasa sudah sangat kenal hanya karena pernah ngobrol lama, ternyata hanya sebatas itu setelah obrolan yang lama itu berakhir maka berahir juga komunikasi tanpa ada lanjutan dan kembali seperti biasa kembali seperti orang yang tidak begitu kita kenal. kembali lagi ke pelajaran utama dari sekian kejadian dan pengalaman yang sudah-sudah, jangan cepat mengambil kesimpulan dari apa yang nampak di depan kita, kita butuh waktu untuk menilai dan mengkarifkasi secara tidak langsung bagaimana sebenarnya sosok dan pribadi teman ngobrol kita selama ini sehingga tidak cepat mengambil kesimpulan yang bisa jadi kita salah menilai. jangan tergesah-gesah dalam membuka obrolan tetap santai, ngobrollah seperlunya saja sesuai, tidak lebih dan jika memang tidak ada kepentingan yang berfaedah mending dihindari atau bahkan di batasi

Tarakan, 13 Februari 2020
Pukul :  4.53 sore

Berjuang mendapatkan keberkahan

Beberapa malam yang lalu sempat melihat potongan video dari ustat Nurul Dzikri, tentang keberkahan sesuatu yang kita dapatkan. semakin mudah suatu barang kita dapatkan maka semakin mudah kita akan melupakan barang tersebut sebaliknya jika suatu barang kita sulit dapatkan maka kita akan sering mengingat barang tersebut. Demikian juga ketika final piala champion, kenapa supporter bola memilih menonton langsung di lapangan tidak di rumah, padahal di rumah bisa lebih santai, mau apa saja bisa, karena saat menonton bola atmosfer yang dirasakan langsung supporter bola tersebut berbeda. Seharusnya juga semangat itu kita terapkan dalam menghadiri majelis ilmu, 
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699)"
Masih dari ustat Nurul Dzikri, banyak ilmu yang sudah ada sejak jaman nabi, bahkan saat ini ilmu yang ada lebih banyak secara kuantittas namun secara keberkahan masih kalah jauh dengan jaman dulu, karena sekarang gampang didapatkan bila dibandingkan dengan zaman dulu, 
 sesuatu yang dapatnya gampang, hilangnya akan gampang
dalam potongan video yang lain  tentang  urusan dunia tidak telat, bagaimana untuk ibadah,. yang menguraikan singkat tentang mengejar dunia yang menghasilkan orang-orang hebat karena  mereka  tidak hanya berbicara ontime, namun memulai sebelum star jam normal bekerja dimulai misalnya ronaldo yang hebat seperti sekarang, menurut pengakuan setimnya ronaldo sudah memulai latihan sebelum dimulai, pada saat pulang belakangan, mental juara seperti itu, kalo masalah dunia bisa, kenapa untuk masalah akhirat kita tidak bisa?

Kedua video di atas sangat mengispirasi, video pertama, alhamdulillah saat ini, diri ini "dipaksakan" untuk mengikuki ta'alim setiap rabu malam dan belajar tajwid di hari ahad, banyak manfaat yang didapatkn selain ilmu juga menambah saudara dan kenalan dengan teman-teman yang ikut. Untuk lokasi mesjidnya sendiri tidak jauh dari kampus bahkan untuk shalat zuhur dan ashar paling sering shalat berjama'ah di mesjid itu terkadang bila ada urusan di kampus sengaja pada saat menjelang shalat fardu biar bisa sekalian shalat berjama'ah. salahsatu bait dalam lagu tombo ati yang dipopulerkan opick yaitu berkumpul dengan orang-orang saleh. sewaktu di Bandung juga demikian, effort untuk menghadiri majelis ilmu, pernah sampai harus menembus derasnya hujan bahkan tidak jarang harus "membela macetnya kota Bandung" 

Video yang kedua ini, menjadi video yang kembali memberikan inspirasi dan motivasi, bekerja lebih awal dari jam kerja normal dan pulang lebih lama dari jam pulang kerja normal. Tidak bisa dipungkiri, saya termasuk orang bekerja dengan penuh semangat, bahkan saking semangatnya sambil mengorbankan diri sendiri, itu dulu, ketika amanah sebagai yang bertanggungjawab dalam bidang akademi dan hasilnya dapat saya rasakan dan juga kampus. Tidak mau terlena dengan pencapaian dulu, sekarangpun dalam bekerja masih ada sisa-sisa semangatnya, sekarang memulai datang ke kampus lebih awal, sekalian mengantar anak kesekolah sekalian menuju tempat kerja, nyaris tersisa sekitar 45 menit batas akhir jam masuk kantor, demikian juga saat balik, walau tidak setiap hari, terkadang pulangnya dimundur, paling-paling jam 5 atau bahkan menjelang maghrib karena saya berprinsip saya akan menyelesaikan pekerjaan di kantor dan tidak akan mengerjakan di rumah kecuali sudah tidak ada waktu dan sangat mendesak untuk diselesaikan, mau tidak mau harus membawa kerjaan di rumah

Ini menjadi inspirasi, semoga apa yang saya lakukan saat ini mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, tidak ada niat lain, semua diarahkan untuk ibadah, sehingga menjadi motivasi besar untuk berkontribusi lebih baik lagi. Luruskan niat, semoga apa yang dilakukan memberikan dampak positif bagi diri saya pribadi, begitu banyak cita-cita yang ingin dikejar, begitu banyak impian yang ingin diwujudkan dan semuanya itu membutuhkan niat dan ikhtiar yang balance semoga diri ini selalu dianugerahkan kesehatan dan kelembutan hati. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 13 Februari 2020
Pukul : 8.13 pagi

10 Februari 2020

Semua Karena Allah SWT

Sudah sering saya menulis "luruskan niat" dan ini mudah dalam ucapan tapi tidak semudah saat dalam kondisi ril. kekita apa yang kita lakukan karena mengharap balasan baik manusia yang ada hanya rasa kecewa karena apa yang harapkan tak kunjung datang atau karena yang datang tidak sesuai yang diharapkan. setidaknya apa yang kita lakukan saat ini tanpa disadari niat yang diucapkan atau terlintas dalam hati belum niat karena Ibadah, niat karena Allah SWT. Kata ustad Khaliq Basalamah, semua aktifitas yang kita lakukan harus dijadikan sebagai "ibadah karena Allah SWT", niat karena ibadah ini akan menjadikan kita ringan dalam mengerjakan sesuatu apalagi itu amalan yang berkaitan dengan habnul minnallah.haji begitu banyak perjalanan yang menguras tenaga dalam paket haji atau umrah, jika niatnya karena ibadah maka ada keinginan untuk mengulang kembali ibadah yang sudah dijalankan. Niat karena ibadah akan baik efeknya bila dibandingkan dengan niat bukan karena ibadah. misalnya  amalan untuk menikah.  Jika menikah karena dorongan orang tua, karena teman-teman sudah menikah, atau karena rasa suka, atau rasa terdesak maka harus diubah niatnya karena Allah, menikah karena perintah Allah dan Rasulnya. Menurut Ust. Syafiq Riza Basalamah, masalah niat ini menjadi perkara yang sering dibicarakan oleh para ulama, ada ulama sofyan mengatakan "tidak ada persoalan yang paling berat selain mengurusi niatku sendiri, karena niat ini berkaitan dengan hati yang mudah berbolak balik, sehingga sekarang yang harus kita pikirkan bagaiman kita bisa ikhlas". Agar niat benar-benar karena Allah SWT makan yang harus dilakukan agar tidak menjadi riyah adalah pertama kenali Allah, kedua bertanya kenapa mengharapkan pujian pujian dari manusia, berharaplah pada pujian Allah SWT melalui shalat 1/3 malam kadang kala ada amalan perlu disembunyikan, akan tetapi bukan berarti jika terang terangan jika jadi persoalan namun akan lebih mulia.

Inilah yang menjadi pengantar dalam tulisan kali ini. Memang begitu berat jika kita berniat ikhlas atau niat karena ibadah, apalagi ini menjadi rutinitas pekerjaan kita. Sebelum mendengar ini lebih tepatnya merenungkan kata-kata ini, pernah mendengar kalimat ini diucapkan oleh pimpinan. Awalnya sontak kaget, karena saat itu saya berprinsip karena pekerjaan rutin, insyaAllah niat karena Allah SWT, meskipun masih menitipkan persyaratan atau karena "keterpaksaan" dalam bekerja. Awalnya respon mendengar kalimat ini pasti ada penolakan dalam diri, karena pertimbangan saat ini kita tidak mendapatkan yang seharusnya kita dapatkan namun karena kondisi yang berbeda dengan yang dulu yang pernah saya rasakan, kalimat itu menjadi sulit didapatkan. Memang benar adanya, jika kita tidak bekerja dengan niat karena ibadah maka kita tidak mendapatkan keberkahan. Suatu waktu saya melontarkan kalimat tersebut dalam sebuah rapat yang berbeda, memang tidak mudah mengatakan "saya ikhlas bekerja karena Allah SWT" semantara masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, yang tersirat saat itu jangan sampai semoga saja tidak, kita "dimanfaatkan dalam bekerja" (kondisi ini sudah dalam tulisan sebelumnya tentang ikhlas bekerja dalam kondisi pekerjaan seperti saat ini). 

Disisi berbeda, ketika ada aktifitas atau rutinitas di rumah yang kita lakukan tidak digubris / direspon dengan baik, awalnya merasa masih biasa-biasa saja, namun makin kesininya merasa ada yang tidak beres, sehingga omelan kata-katapun keluar lagi-lagi hanya karena tidak mendapatkan feedback yang seharusnya, akhirnya ini disampaikan berulang-ulang namun tidak juga ada perubahan hingga suatu saat saya mendapatkan dua ceramah ust. Syariq Riza Basalamah, tentang niat karena Allah. Sekalipun tidak berkaitan langsung dengan yang saya hadapi namun maknanya sangat dekat. yang pertama dalam video dikatakan bahwa dalam berumah tangga tidak mesti kita harus saling mencintai. Awalnya kaget dengan kalimat ini hingga mendengar lebih jelas lagi potongan ceramah tersebut. kurang lebih seperti ini "kadang kala dalam rumah tangga tidak sepenuhnya harus dilandasi rasa cinta, kadang bertemu dengan orang yang menjadi pasangan kita, rasa cinta itu diganti karena ibadah, lillahi ta'alah, niat kita berumah tangga karena Allah, kita melihat pasangan kita sudah memberikan waktu yang banyak, sudah mendidik anak-anak kita maka segala aktifitas dalam rumah diniatkan karena Allah SWT." Potongan ceramah kedua seorang istri yang melakukan aktifitas di rumah karena terpaksa dan apa yang dilakukan menjadi berat. lagi-lagi jawaban ustat menekankan pentingnya melakukan aktifitas diniatkan karena Allah SWT.

Memang tidak mudah untuk membiasakan diri untuk meniatkan segala sesuatu yang kita lakukan, rutinitas hari-hari, semuanya diniatkan untuk ibadah kepada Allah SWT. walau sebagian besar ibadah kita. amalan-amalan sunnah sudah diniatkan ibadah karena Allah SWT, namun ada sisi karena kekhilafan kita belum sepenuhnya meniatkan untuk ibadah. Apalagi hal-hal yang banyak berkaitan dengan mualah kita dalam hidup sehari-hari, masih saja ada yang melenceng dari niat karena ibadah, mungkin secara logika alam sadar kita itu tidak ada kaitannya dengan Hablun minnallah, karena berkaitan dengan interaksi manusia. semoga dengan ceramah dari ustat-ustad tersebut menyadarkan saya secara pribadi untuk meluruskan niat kembali terutama dengan niat dalam melakukan aktifitas dan rutinitas semuanya harus diniatkan ibadah karena Allah SWT..

Tarakan, 10/2/2020
Pukul : 6.28 pas azhan maghrib

08 Februari 2020

12 hari berlalu tanpa notifikasi

Akhirnya judul ini yang keluar di kepada sore ini, padahal kemarin begitu banyak ide yang akan menjadi judul tulisan, kemarin menulis tentang kegiatan rabu dan kamis tentang pelatihan penyuluhan, khusus sore ini entah mengapa hanya judul itu yang terlintas. Sejak 27 januari hingga sekarang atau 12 hari berlalu saya menutup akun w.a untuk nomor simpati. Keputusan ini saya ambil untuk mengurangi intensitas saya bermain hp :) khususnya w.a. nomor simpati ini terhubung dengan teman yang tidak ada kaitannya dengan kerjaan (uraian dan alasannya sudah ada dalam tulisan sebelumnya), ada dua sampai tiga orang yang komunikasi begitu dekat namun bukan berarti harus memutuskan silaturahmi, ini saya lakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan, hehehe khususnya untuk saya pribadi. 

Selama ini saya bermain di dunia dunia, boleh di kata hitam dan putih mungkin juga dunia abu-abu hehehe, sejak ramenya dunia sosial mulai dari facebook, twitter dan ig  kemudian berlanjut dengan aplikasi chating seperti w.a line, seolah ada keinginan untuk mengaburkan identitas diri. tidak perlu orang mengetahui siapa diri saya, pekerjaan saya dan apa aktifitas saya. Karena secara tipekal diri saya itu tidak suka "pencitraan" atau merasa lebih baik untuk tampil di depan umum, ada hal yang tidak perlu diketahui oleh orang tentang apa yang saya lakukan, apa yang saya pikirkan.. hehehe seekstrim itu kah? sebenarnya tidak ini hanya mengalihkan dari hiruk pikur kerjaan, bisa jadi ini merupakan "pelarian" kehidupan yang fana ini, tidak bisa dipungkiri begitu banyak persoalan yang melanda, baik itu dari segi kerjaan (saat itu :) atau dalam masalah keluarga. Saat usia masih terbilang muda dengan beban persoalan yang dihadapi begitu beragam. Dan saya sadari saat itu kualitas iman masih sangat-sangat standar, lebih banyak demi menggugurkan kewajiban. Mungkin  inilah cara pelarian ke teman-teman yang sebenarnya lebih tidak mengetahui siapa sebenarnya diri saya :)

Saking sudah lamanya bermain dengan dua dunia hingga membuat zona nyaman tersendiri. mendapatkan teman yang cocok untuk berbagi cerita, mendapatkan teman yang bisa mengingatkan tentang bagaimana harus bersikap. Tidak bisa dipungkiri begitu banyak kenyamanan yang didapatkan hingga banyak teman yang sampai sekarang berkomunikasi, rasa penasaran juga saya terjawab ketika harus melihat sisi lain kehidupan yang fana ini :) mendapatkan teman dengan latar belakang yang berbeda, dengan pekerjaan yang berbeda. Sampai dapat teman yang begitu dekat, ada juga yang sudah meninggal dunia dan ada beberapa pesan yang masih saya pekan sampai saat ini "utamakan keluarga, apapun masalah kita, keluarga tempat kita kembali". ada juga teman yang ga lupa untuk mengingatkan shalat dan pentingnya menjalankan amalan-amalan baik. Namun tidak lepas juga ada yang mengajak ke hal yang negatif dan ini yang harus diantisipasi atau dihindari tanpa harus memberi orangnya akan tetapi membenci perilakunya

Setelah merenung beberapa lama dan menjadi instropeksi saya ketika lagi shalat 1/3 malam sampai kapan merasa nyaman dengan kondisi seperti ini? apakah saya tidak berusaha untuk kembali kedunia yang sesungguhnya, sehingga di tanggal 27 Januari 2020 itu saya mengnonaktifikan nomor w.a simpati. sebenarnya saya punya target 2 minggu, namun makin kesininya saya memutuskan 4 minggu semoga bisa konsisten. Tujuan dari semua ini adalah saya mau melihat sejauh mana saya komitmen dengan diri saya sendiri, mau berusaha menjadi lebih baik dan sekali lagi bukan memutuskan silaturahmi dengan orang yang sudah begitu dekat dengan saya selama ini. Sebenarnya ada keinginan untuk mengaktifkan nomor im3 yang kasih untuk Rafa (anak kedua) untuk watchphone nya karena hapenya lagi rusak, touchscreennya tidak berfungsi lagi, lagi-lagi saya bertanya untuk apa?  bukannya saya selama ini saya berusaha untuk belajar komitmen dengan diri saya. Kebetulan bulan 2 ini saya dipenuhi dengan banyak kegiatan dan membutuhkan banyak waktu dan energi, ditambah lagi dengan keinginan saya untuk menambah jadwal latihan untuk running yaitu untuk latihan interval dan latihan tempo. 

Inilah keinginan terdalam saya, melepas dari hirukpikuk kehidupan dunia kedua ;), sejauh ini facebookpun lebih banyak dinonaktifkan untuk instagram sudah membatasi dengan teman yang memposting hal-hal yang berdampak negatif, lebih banyak menggunakan instagram untuk mengungkapkan aktifitas diri, mengaktifkan aktualisasi diri dan semoga dalam koridor yang baik dan tidak untuk menyinggung orang lain dan lebih real aktualisasi diri tanpa pencitraan negatif atau modus (ada maksud dibalik status). Intargram yang fake juga hanya digunakan untuk mengetahui runners profesional lebih digunakan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana menjaga atau meningkatkan performance saat running/ dan sebagian besar instagram saya dipenuhi dengan aktifitas berlari walau masih banyak jam terbang dan lebih pada running karena hoby sehingga belum terlalu terpapar dengan running for race. sekali lagi, 12 hari dan insyaAllah hingga 4 minggu kedepan saya masih bisa menjaga komitmen untuk membiasakan diri sehingga ketika sudah kembali mengaktifkan whatsapp sudah tidak tergantung dengan notifikasi dan memperlakukan w.a nomor simpati ini juga sama seperti w.a yang digunakan untuk pekerjaan.. semoga memberikan dampak kebaikan untuk diri saya,, aamiin..

Tarakan, 8/02/2020
pukul : 6.26sore (pas azan maghrib)

07 Februari 2020

Melatih kemampuan penyuluhan


Rabu, 5 Februari 2020 merupakan hari pertama kegiatan pelatihan penyuluhan kesehatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Tarakan dengan dengan hadirkan 3 nara sumber dari Universitas Hasanuddin; prof. Muhammad Safar, Prof. drg. Andi Zulkifli, Dr. drg. Ayub yang diselenggarakan di Audotorium Hotel Royal Tarakan.  Dari segi materi yang disampaikan bukan hal yang baru bagi saya: metode penyuluhan kesehatan, media penyuluhan kesehatan, teknik penyuluhan kesehatan. materi itu bahkan menjadi pokok bahasan yang saya sampaikan di kelas untuk mata kuliah promosi kesehatan, namun hal yang berbeda adalah cara penyampaian beliau-beliau, ini tidak lain karena jam terbang dan sudah menjadi expert di bidang penyuluhan kesehatan. Peserta yang hadir sangat bervariasi selaianm dari seluruh puskesmas yang ada di Tarakan, dari rumah sakit daerah kota tarakan, BNN kota Tarakan dan Akper Kaltara (tempat saya bekerja :) setelah mendapatkan semua materi, keesokan harinya merupakan microteaching atau simulasi pelaksanaan penyuluhan kesehatan dengan mengaplikasikan apa yang telah disampaikan dalam materi serta adanya perencanaan yang disiapakan, kalau di kampus di kenal dengan SAP (satuan penyuluhan kesehatan)

Mengingat hari kedua adalah hari penilaian, menjadi kesempatan yang baik untuk mendapatkan feedback dari narasumber. Makanya sehabis pulang kampus sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada untuk membuat perencanaan penyuluhan  (SAP) dan materi. setelah semuanya beres, seperti yang dianjurkan narasumber untuk melatih melakukan penyuluhan selama 5 menit. Ini waktu yang singkat dan tidak seperti biasanya penyuluhan yang dilakukan bisa sampai 15-30 menit. hehehe ini merupakan tantangan. dua kali coba sebelum menjelang maghrib akan tetapi masih melihat waktu apa sudah lewat 5 menit atau belum dan ini yang menjadi penanda ritme berbicara sambil melihat point apa saja yang harus disampaikan / dilakukan (14 point)  Paginya sebelum menuju tempat pelatihan. saya kembali berlatih agar tepat 5 menit. dengan tanpa melihat timer, waktu yang saya lakukan saat penyuluhan 4 menit 55 detik artinya belum mencapai 5 menit. Saat latihan beberapa point masih yang belum disampaikan, karena harus menuju lokasi, berharap kekurangan itu bisa ditutupi saat penyuluhan berlangsung.

Saat microteaching dimulai, sebagai manusia biasa pasti mengalami rasa cemas namun masih bisa dikendalikan, rasa cemas ini menjadi motivasi untuk lebih fokus bukan sebaliknya, sembil menunggu giliran, saya kembali melihat slide materi yang sudah saya siapkan dan melihat pada bagian mana yang bisa diinprovisasi dan melihat point penilaian mana yang belum dilakukan. Setelah menunggu beberapa orang yang tampil, akhirnya nama saya dipanggil. saya berusaha untuk konsisten namun ada beberapa improvisasi sehingga dari waktu 5 menit ketika mau menyampaian bagian akhir sudah diperingatkan oleh panitia waktu berakhir. ini foto saat penyuluhan, videonya sudah di instagram :) jadi senyum-senyum melihat video yang dikirimin rekan-rekan yang hadir
foto : microteaching yang dinilai oleh narasaumber

sambil menunggu semua peserta selesai dan begitu selesai istrahat siang, menyisahkan 2 peserta, begitu selesai, salah seorang narasumber menyampaikan feedback  secara umum yang sangat positif. beberapa diantaranya saat penyuluhan jangan banyak prolog hingga lupa menyampaikan substansi materi, jika ingin membuat prolog harus menarik dan langsung mengarah ke substansi materi penyuluhan, sistematika penyampaiannya dan penguasaan terhadap isi,  di slide yang ditampilkan tidak perlu menuliskan penyuluhan kesehatan, karena kegiatannya memang penyuluhan, penekanan yang ingin disampaikan, sehingga dalam penyuluhan ini bisa merubah sikap audience, pentingnya manajemen waktu karena waktu tidak bisa ditambahkan, ini menjadi penting apalagi jika berbicara di forum internasional hanya dibatasi dalam beberapa menit saja, jangan terlalu banyak berteori langsung fokus keinti penyuluhan, bahasa yang digunakan lebih menarik dan dipahami audince

Begitu acara berlangsung diumumkan 5 nama peserta terbaik, alhmadulillah masuk dalam 3 besar :) ini foto2nya 
bersama narasumber dan ketua panitia

5 peserta terbaik dari kiri 

ini menjadi bekal yang sangat penting untuk kedepannya

Tarakan, 7/2/2020
Pukul. 4.27sore

03 Februari 2020

Menjaga Niat Puasa Sunnah Senin Kamis

Kejadian subuh tadi ketika malamnya sudah berniat untuk puasa sunnah senin dan malamnya bangun dua kali, yang pertama masih menunjukkan jam 2 dini hari, sempat tersadarkan dan sambil berkata dalam hati masih ada waktu yang menghilangkan ngantuk sebentar dan saya kembali untuk memacamkan mata dan benar-benar terlelap hingga terbangun kembali menunjukkan jam 4.30 pagi. spontan kaget karena seingat saya belum ada persiapan untuk sahur, nasi semalam sudah habis, begitu melihat di dapur dan memastikan ternyata seperti dugaan awal, tidak ada sama sekali bekal untuk sahur. sambil melihat jam dan menghitung kemungkinan untuk sahur di luar dan persis ingatan tertuju di warung nasi kuning di daerah simpang 3 karena sejak jam 4 di sana sudah buka. Saya menyempatkan melakukan shalat malam 2 rakaat dan 1 rakaat untuk witir di sisa waktu yang ada, begitu mau keluar rumah, terdengar perut berbunyi yang menandakan ada tugas yang harus dituntaskan di belakang. Tuntas menyelesaikan tugas, lanjut keluar rumah dan mau mampir di ATM dan ternyata atmnya lagi error dan mau mampir di RSAL setibanya disana baru sadar kalo ATM sudah tidak ada :) namun masih ada 1 cadangan atm di dekat asrma polisi kampung bugis, dan alhamdulillah ada dan perjalanan dilanjutkan ke warung makan, setibanya disana dan pesan makanan dan melihat masih ada sekitar 15 menit sebelum memasuki azan subuh. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan dan setelah beres makan masih ada sekitar 2-3 menit azan. saya memutuskan untuk shalat subun di mesjid Al Huda dekat bundaran gedung Galatama kompleks asrama TNI AU dan masih sempat menyelesaikan shalat tahyatul mesjid dan shalat rawatip sebelum subuh.

Kejadian seperti sudah pernah dialami, ketika hanya bermodalkan nasi dan lauk seadanya, karena sudah berniat maka pantang untuk dibatalkan. sekalipun merupakan amalan sunnah, namun karena saya berprinsip kalau sudah diniatkan jika tidak ada alasan yang sangat berarti maka pantang untuk dibatalkan. Beberapa minggu lalu ketika akan menjalankan syaum yaumul bidh atau puasa pertengan di bulan hijriah dan di waktu bersamaan saya sedang menjalankan terapi setelah menjalankan pengobatan di dokter paru. Jatuhnya yaumul bid itu persis di hari rabu kamis dan jum'at, karena baru saja berobat di hari selasa, maka saya menutuskan untuk menunda saum tersebut namun tetab menyelesaikan saum di hari kamisnya karena sudah menyelesaikan suam di hari senin sebelumnya. inilah pertimbangan mana yang harus dijalankan mana yang masih bisa ditunda. Dalam berpuasa juga saya berkeyakinan bahwa puasa memberikan manfaat kesehatan bagi diri kita, sekalipun saya memiliki penyakit magh dan pernah mencoba berpuasa tanpa mengkonsumsi penurun asam lambung beberapa hari kemudian memberikan efek, belajar dari pengalaman itu, penurun asam lambung harus dikonsumisi saat sahur dan saat berbuka. di bulan ramahdan juga demikian tapi bukan selama sebulan minum obat tersebut, biasanya hanya di 3-4 hari pertama saja dan setelahnya hanya selingan saja untuk di konsumsi, ini karena lambung sudah terbiasa dengan kondisi berpuasa setiap hari.

Menjaga niat menjadi hal yang sangat penting karena niat menjadi ikatan komitmen pada diri kita sendiri, apakah kita benar-benar menjalankan apa yang sudah kita ikrarkann atau sekedar lewat. ketika kita menjaga komitmen untuk diri kita sendiri maka kita menghargai diri kita sendiri dan sekaligus mengikrarkan bahwa apa yang telah saya sampaikan akan saya jalani selama tidak ada halangan dan alasan yang berarti. Bukan berarti ketika amalan itu sifatny sunnah sehingga kita tidak menseriusi, kata ustad jika hal yang sunnah saya kita sudah mengseriusi maka insyaAllah yang wajib akan lebih diseriusi dijalani. Semoga amalan-amalan ini menjadi berkah buat diri saya dan juga orang-orang di sekitar saya. Walaupun ada sedikit inseden kecil di rumah yang berkaitan dengan puasa sunnah ini namun semua menjadi pelajaran positif (suasana puasa sunnah di rumah sudah ada dalam  tulisan di bulan januari), sekalipun zilan, anak pertama, setelah saum sunnah malah sakit diesokan harinya namun bukan berarti menghalangi untuk mencoba puasa kembali di minggu depannya dan akhirnya kejadian sakit kembali, ini tidak lain karena saat berpuasa masih bersekolah sementara kalau di awal ramadhan anak sekolah di liburkan, semoga ini menjadi bekal zilan untuk berpuasa nanti. 

Insiden kedua ketika di rumah tidak ada persiapan khusus untuk berbuka puasa. Kejadian ini tidak hanya sekali, awalnya memaklumi dan  menganggap biasa seperti hari-hari sebelumnya tidak mempermasalahkannya, dan saya seperti biasa menyiapkan cemilan untuk berbuka. Namun kondisi tanpa persiapan atau menyajikan khusus ternyatan terus belangsung hingga 3 minggu berturut-turut hingga saya mengkonfirmasi sama istri kenapa tidak menganggap istimewah karena sudah sama-sama berpuasa, jawabannya klasik dan untuk menghindari perdebatan lebih lanjut, saya tidak mau mengungkit dan yang pasti tidak terlalu berharap untuk sajikan khusus untuk berbuka dan untuk mengindari agar tidak terlalu kecewa, saya melakukan dan menyiapkan sendiri dan untuk sendiri untuk berbuka. Kejadian terakhir itu di hari senin yang lalu, Begitu di hari kamis juga mendapatkan  kondisi yang sama, sehingga saya memutuskan untuk berbuka di tempat lain dengan membeli bekal sendiri :) bukannya pelit sebenarnya hanya mau melihat bagaimana respon atau effort orang di rumah karena sudah berpuasa bersama namun disamput dengan suasana berbuka yang sepi tanpa ada penyambutan khusus. kalaupun saya konfirmasi ke istri pasti jawabannya masalah budget. saya beranggapan bahwa istri terbiasa berbuka seperti makan pada umummnya dan tidak membutuhkan makanan ringan khusus untuk berbuka dan itu bertolak belakang dengan saya yang tidak terbiasa sehingga mengharuskan saya harus mencari alternatif lain. Sebenarnya tidak masalah dengan semua ini dan saya memaklumi dan memahami sehingga mendorong saya untuk tetap berbuka dengan cara saya sendiri, saat berbuka dengan makanan ringan nanti setelah shalat isya baru bisa makanan berat.  ya sudahlah, karena tidak ingin memperbesar masalah, apalagi ini tentang hal yang baik tentang puasa sunnah senin kamis dan saya tidak ingin rusak niat amalan baik ini dengan hal-hal yang sederhana hanya masalah sambutan untuk berbuka :) 

semoga insiden kedua menjadi pelajaran dan tidak mengurangi semangat untuk menjalankan amalan puasa sunnah dan tidak membuat permasalahan baru, ini lebih kepada masalah kebiasaan semata tidak lebih. Semoga niat tetap terjaga, makna puasa adalah untuk menahan, bukan hanya menahan makan dan minum termasuk bisa mengendalikan emosi. Semangat puasa saum menjadi penyemangat dan pengingat untuk menyambut bulan suci ramadhan. Saat ini sudah memasuki bulan jumadil akhir, bulan berikutnya masuk bulan rajab dan dilanjutkan dengan syahban. Hampir 3 bulan lagi berpuasa. Niat awal hanya berpuasa di minggu pertama dan kedua kecuali di bulan rajab dan syahban yang mungkin  akan memperbanyak, insyaAllah merutinkan senin kamis sepanjang bulan tersebut. Semoga Allah SWT menjaga niat ikhlas kita dan kita dihindarkan dari  hal yang berkaitan dengan riyah dan dibebaskan dari hal-hal yang dapat memperburuk kondisi puasa kita. insyaAllah, semoga Aamiin ya Rabbal Alamin

Tarakan, 3 Februari 2020
Pukul 5.02 sore

02 Februari 2020

me_time

Ditanggal yang cantik ini (kata orang-orang) 2 februari 2020 atau 02.02.2020 saya akan menulis tentang me_time yang memiliki segudang manfaat dan ada yang sangat berfaedah. me_time  merupakan waktu untuk diri sendiri, tat kala banyaknya aktifitas dan rutinitas baik di pekerjaan maupun di rumah. ada suatu waktu pengen sendiri, tidak mau diganggu oleh siapapun tidak mau dibebani oleh pikiran apapun dan tidak mau diusik dengan hal apapun, sekalipun itu suara anak-anak :) bukannya tidak mau peduli, hanya aja kita perlu waktu untuk sejenak untuk merilekskan hati sejenak dari segala hiruk pikuk kehidupan ini. Bagi saya waktu yang dibutuhkan ini tidak lebih dari 30 menit, hanya butuh rebahan tanpa diganggu :) hehehe walau agak mustahil untuk dilakukan di rumah tapi seperti biasanya kalau anak-anak melihat saya baring dan tidur biasanya hanya mengganggu sebentar begitu tidak memberikan respon, mereka akan menjauh sendiri, asal jangan dipancing dengan handphone karena itu akan menjadi biang "kerusuhan" di rumah. selain berbaring biasanya yang saya lakukan adalah duduk di kursi yang ada di kamar depan, hanya sekedar melihat layar hp tanpa ingin mengetahui apa yang sedang terjadi atau sedang ditulis distory, dan ada kebiasaan satu lagi menjadi bagian dari me_time pergi tanpa tujuan, menusuri jalanan tanpa arah, dimana mata menuju disutu jalan disusur, pulang-pulang bawa makanan untuk di makan orang di rumah.

me_time secara bahasa merupakan waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, ini dimuat di salah satu media online yang ditulis 10 tahun yang lalu :D bila diketik di google tentang me_time sangat banyak yang membahas tentang manfaat me_time mulai untuk kebahagiaan diri, menjadikan diri lebih produktif, melepas stress, lebih menikmati hidup. bahkan banyak yang mengulas me_time pasangan, bukan menghabiskan waktu bersama pasangan namun menghabiskan waktu tanpa kehadiran pasangan, selain manfaat di yang disebutkan di atas me_time menjadi waktu untuk introspeksi diri menerungkan diri, melakukan hal yang disukai (gue banget), menghindari rasa jenuh, belajar untuk mandiri, bahkan untuk memanjakan diri sendiri bahkan me_time ini juga bermanfaat untuk kestabilan emosi, kita bisa menilai diri sendiri, bahkan  dapat memperkuat empati. begitu banyak yang diulas.

ada me_time yang sangat spesial ketika kita tidak ingin bersama dengan orang-orang di sekitar kita, namun kita hanya ingin berdua dengan sang pencipta alam semesta. mungkin inilah me_time yang paling berfaedah untuk dunia dan akhirat, kenapa?? karena saat kita khusuh, apalagi saat sepertiga malam menjadi moment yang sangat berharga didukung dengan suasana hening dan mendapatkan begitu banyak kemuliaan. Kalau belum sanggap disepertiga malam, masih ada 5 waktu shalat fardu masih ada amalan shalat rawatib yang masih bisa kita lakukan, moment ketika bersujud ketika itu juga rasa dekat kita sama sang pencipta dan merupakan moment yang baik untuk bermunajat, ketika dzikir menjadi waktu untuk inspropeksi diri, mengingat apa yang sudah dilakukan, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, mengurangi apa yang harus dikurangi apalagi yang berkaitan dengan hal yang negatif, membuka pintu maaf bagi siapa saja, merelakan apa yang sudah terjadi dan mengikhlaskan apa yang menjadi bagian takdir dan meminta agar bisa melangkah di dunia ini dengan lebih baik dan lebih mendekatkan diri sama Sang Penguasa Alam Semesta, Allah SWT. 

me_time menjadi sarana untuk beristrahat sejenak, bukan berarti menuntut selalu harus ada me_time tinggal melihat dan mempertimbangkan waktu yang tepat, mencari waktu yang pas, tidak pada saat kita dibutuhkan, tidak saat kita lagi banyak tuntutan kerjaan dan memiliki banyak deadline kerja, waktu dimana anak-anak meminta waktu untuk ditemani bermain atau belajar, waktu dimana banyak orang mengharapkan kehadiran kita. Kita harus bijak melihat situasi dan kondisi di sekitar kita. me_time harus diwaktu yang pas, diwaktu dimana kita tidak sedang menyelesaikan kerjaan atau ketika sedang dibutuhkan  di rumah, me_time yang tepat adalah waktu dimana yang kita lakukan tidak merugikan diri kita dan juga orang di sekitar kita, karena apa yang kita lakukan dan inginkan dalam me_time adalah kebaikan untuk diri kita dan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita. akhirnya me_time dapat memberikan kebaikan bagi semua orang.. 

Tarakan, 2.02.2020
Pukul : 6.15 sore

01 Februari 2020

flashback isi blog

Memulai awal bulan februari ini dengan kembali menulis. Bulan Januari baru saja berlalu, dan sudah tertoreh 20 tulisan, pencapaian baru setelah dua bulan berturut-turut, dimana bulan 11 dan 12 berhasil menulis 16 judul. Bagi saya menulis mengalir apa adanya, tidak ada target harus berapa judul dalam setiap bulannya namun ada dalam benak terlintas jangan sampai capaiannya menurun jauh dari bulan sebelumnya. alhamdulillah capaian 20 judul merupakan luarbiasa, bila flashback pada tahun-tahun sebelumnya, dan melihat pertama kali blog ini dibuat bulan september 2008, yang jelas saat itu status saya masih bujang hehehe, dan merupakan puasa perdana di kota Tarakan, dan ada dua judul dalam tulisan di tanggal 16 September 2008 dengan judul ramadahan dan hanya berselisih 1 hari dengan judul puasa dan kesabaran. dan persis di bulan oktober tanggal 16oktober 2008 dengan judul tulisan hari yang fitri telah berlalu. dalam tulisan itu disebutkan bahwa lebaran telah berlalu 14 hari yang lalu, berarti ini bertepatan dengan telah kembali ke Tarakan sehabis lebaran Idul fitri. 

Tahun 2009 dengan 5 judul. mungkin di tahun ini lebih banyak mengambil tulisan dari media online. Bulan maret 1 tulisan dari kompas.com : partai islam andalkan identitis islam dan peluang kecil, bulan juli 2009 dengan 1 judul masih dari kompas.com : memaknai kampanye negatif, bulan juli ada dua judul, 1 judul dari kompas.com pendidikan Indonesia yang tidak berkonsep dan satu tulisan dari saya "berprasangka baik" kayaknya ini juga merupakan "kegelisahan" saat itu ;) apalagi sebagian besar isinya bagaimana mengendalikan sifat negatif thinking terutama dalam hubungan antar manusia :) dan terakhir 1 judul di bulan novembar 2009, masih mengutip dari kompas.com cerpen laila. Seharusnya di bulan november 2009 ini saya banyak menulis ;) karena pada bulan sebelumnya saya melepas masa lajang ;) hehehe.. tapi tidak ada satupun catatan yang tertinggal mau dimana pun, kecuali foto dan status di media sosial facebook (saat itu lagi booming). 

Tahun 2010 absen, tidak ada sama sekali tulisan, dan kembali menulis di tahun 2011 dengan 1 judul di bulan Maret hanya sepenggal tentang fenomena "udin sedunia" dan disini sudah mulai banyak yang menggunakan youtube. di tahun 2012 juga demikian hanya ada satu judul di bulan juli 2012 dengan semangat menulis kembali berblog ria. entah apa seharusnya benar-benar menjadikan saya bersemangat namun yang terjadi malah sebaliknya tidak jejak tulisan setelahnya di tahun 2012 bahkan sangan berkontradiktif dengan semangat itu, 2 tahun absen tanpa ada judul tulisan, ini mah namanya panas-panas tai ayam, semangatnya hanya sebatas di bibir saja tanpa ada bukti ril dari tindakan :)  tahun 2013, 2014 tidak ada jejak yang tertinggal di blog :) 

masuk tahun 2015 di bulan feberuari, persis tanggal yang sama dengan hari ini, 1 februari, dengan judul yang hampir sama dengan pembuka tulisan di atas, hari pertama di bulan februari 2015 (ini 5 tahun yang lalu :) dan ada dua tulisan berikutnya dan tidak lebih dari 150 kata hehehe masih di tanggal 1 februari (kayak sore, karena tanggal yang nampak di blok sama dengan tulisan di buat, kalau menulis sebelum jam 4 sore maka, tanggal di blog masih merekam tanggal sebelumnya, berbeda sehari dengan di Indonesia, sudah dicoba untuk di rubah di setting namun  yang terjadi tulisan akan dipendiing di terbitkan sambil menunggu jam yang sesuai dengan jam yang ada di dalam sistem blog, panjang juga penjelasan dalam kurung ini :) tulisan ketiga dibulan februari tepatnya tanggal 2 Februari 2015 yang mengritisi kertidakpuasan saya membimbing di RSHS, dan perlu diketahui angkatan yang saya temati di Bandung merupakan angkatan terheboh hehehe dan mahasiswanya cukup dekat dengan saya :)  tahun 2016 absen kembali 

Tahun 2017 kembali menulis dengan 6 judul, ini suasanya lagi menjali pendidikan di Bandung, begitu banyak kisah yang perlu diukir namun apa daya hanya sempat menuliskan jejak, kembali lagi menuliskan dengan judul yang jika sudah lama menghilang kembali berblog ria :) dan  perjuangan menyusun tesis (Juli), Bulan Agustus bagi saya sangat spesial yang pertaman tentang recovery hati agar tetap semangat dalam menyusun tesis harus menyiapkan waktu untuk memulihkan hati :) dan tulisan kedua hidayah saya mulai mengukuti ta'lim di Bandung, sebelumnya belum tersentuh dengan hal-hal seperti ini alhamdulillah ini merupakan pembuka bagi saya untuk kemblai belajar tentang pemahaman islam terutama tentang tauhid dan menguatkan keimanan (keyakinan), Bulan September masih ada tulisan, lagi-lagi masih memberikan semangat untuk menyusun tesis dengan adanya tuntutan untuk publikasi yang saat itu merupakan hal yang sangat "menakutkan" karena belum pernah coba sama sekali dan Bulan oktober, saya menulis dengan tulisan "terus menebarkan kebaikan".

Tahun 2018, sudah mulai meningkat dengan 11 judul, seingat saya berada di bandung sampai bulan Agustus, dan 10 dari 11 tulisan itu saya tulis di bandung dan 1 tulisan tepatnya 2 Desember 2018 dan disaat saya kembali bekerja di akperkaltara, berjalan 3 bulan, dan  rasa rindu yang begitu kuat dengan suasana di bandung sehingga menuliskan judul khsusus :) padahal di bulan oktober dan november sempat kembali di bandung untuk beberapa kegiatan :). Tahun 2019 kembali bangkit untuk menulis dan menjadi inspirasi untuk kembali mengasah ide dan kegelisan, banyak yang harus diungkapkan tanpa harus menyinggung atau menyakiti. 40 Tulisan sepanjang 2019 merupakan pencapaian yang luarbiasa bagi saya, ternyata banyak hal yang bisa diuraikan dalam tulisan-tulisan penuh makna dan menjadi refleksi diri dan motivasi untuk ke depannya lebih baik lagi., aaamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 1 Fberuari 2020
pukul : 6.20 sore jelang maghrib