24 Mei 2020

Happy Eid Mubarak

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laillah ha illahu akbar Allahu Akbar Wa Laillah hilham

Alhamdulillah, puji syukur atas rahmat Taufiq dan Hidayah Allah Subhannah wata'alah dan atas segala nikmat kesehatan nikmat kesempatan dan nikmat iman sehingga tibalah kita semua di hari kemenangan, hari untuk merayakan atas segala nikmat yang telah diberikan selama 30 hari dalam menjalankan ibadah puasa dan amalan-amalan selama bulan ramadhan. Semoga di hari kemenangan ini, semakin memperkuat iman kita karena akan menjadi pintu pembuka untuk memasuki masa-masa setelah ramadhan, waktu dimana dibutuhkan dan dituntut untuk kita bisa konsisten atas apa yang kita lakukan selama bulan ramadhan bisa tetap di jalankan selama 11 bulan ke depan, semoga Allah Subhannah wata'alah selalu memberikan kita cahaya iman, Taufiq dan rahmatnya agar kita tetap berada di Jalan yang diridhoi..Aamiin Ya Rabbal alamin. Dan hal yang membuat takjub ini merupakan tulisan ke-100 di tahun 2020, semoga masih tetap menulis sepanjang tahun ini dan tahun-tahun depan, aamiin

Bila flashback selama 30 hari selama bulan ramadhan di tengah PSBB di kota tarakan dan selama pandemi virus korona yang melanda seantero dunia, secara pribadi ada beberapa hal yang menjadi catatan penting, pertama: alhamdulillah, shalat tarwih, tahajjud dan Dhuha, tidak terlewatkan, ya Allah ini menjadi spirit untuk tetap menjalankan setelah bulan ramadhan. Kedua: anak-anak sdh mulai belajar puasa full, untuk zilan lumayan ada 75% karena ini untuk pertama kali, tahun lalu hanya mampu puasa 75% puasa setengah hari, 25% malah tidak puasa, Rafa ada sekitar 20% puasa full, selebihnya setengah hari, atiyah baru belajar bangun sahur, sdh 50% puasa setengah hari, sempat sakit 6 hari.

ketiga: untuk pertama kalinya tidak ada kegiatan bimbingan di kampus selama bulan ramadhan dan tidak ada THR hehehe, untuk yg pertama menjadikan waktu untuk ibadah lebih banyak dan waktu ut tadarrus juga banyak, alhamdulillah bisa 3x khatam dari hanya 2x dari target, alasan kedua THR, berat sic tapi mau bagaimana lagi, memang kondisi tempat kerja yang tidak memungkinkan untuk memberikan karena kondisi keuangan yang tidak stabil. Keempat: Alhamdulillah kehadiran ta'lim via youtube sangat membantu dalam memahami dan mendalami ilmu keislaman apalagi berkaitan dengan alaman selama bulan ramadhan, dan pemahaman ketauhidan, untuk ramadhan kali ini saya banyak mengikuti youtube ust.Nurul Dzikri., selalu mengingatkan dan membimbing dalam menjalani hari-hari di bulan ramadhan

Keempat, begitu banyak kisah dan cerita ketika akan melaksanakan shalat berjamaah di mesjid, 1 bulan sejak ada kasus positif korona di Tarakan, sebagian mesjid tutup (seperti banyak dimuat dalam tulisan sebelumnya), ketika mesjid depan tempat kerja menyelenggarakan tarwih malam pertama ramadhan, langsung mendapatkan sorotan dan terlebih hari pertama puasa yang bertepatan dengan hari jum'at, dan mesjid tetap melaksanakan shalat jum'at berjamaah dan ternyata ada yang melaporkan ke pihak berwajib. Sejak awal pengurus mesjid berbeda pandangan ada yang tidak ingin ada kegiatan selama masa pandemi dan ada tetap mau berjamaah di mesjid.,.Masalah muncul ketika malam kedua aparat keamanan datang mesjid tidak lama sebelum azan isya, terus ada Himbauan untuk membatasi jumlah jamaah hanya sebatas pengurus mesjid, beberapa hari aman namun pada suatu waktu jamaah yg datang cukup banyak dan ada yang sempat memoto saat sedang shalat dan melaporkan kembali ke pihak keamanan, dan untuk kesekian kalinya pengurus mesjid harus mendapat teguran, hingga pada pelaksanaan jum'at ketiga, ada pengawalan ketat dari aparat, tapi pengurus tetap mengikuti himbauan aparat untuk segera mengunci pintu setelah azan setiap shalat fardu terutama shalat isya dan alhamdulillah itu tetap dijalankan hingga ramadhan berakhir dan pihak berwajib sudah tidak mempermasalahkan itu. Alhamdulillah pengurus mesjid yang tetap shalat berjamaah juga melaksanakan buka puasa setiap harinya dan beberapa kali saya ikut dalam bukber tersebut.

Indikator keberhasilan ramadhan, disampaikan oleh banyak ustat, dapat dilihat bagaimana perilaku / akhlak di 11 bulan setelah ramadhan, apakah lebih baik atau ada yg berubah dan semoga saja kita semua bisa mengamalkan semua apa yang didapatkan dan apa yang dipahami selama bulan ramadhan, dan semoga saja di 11 bulan nanti bukan terjadi penurunan akhlak, ibadah dan iman. Aamiin Ya rabbal alamin 

Tarakan, 24 Mei 2020
Pukul : 7.36 malam

19 Mei 2020

Mudah mencurahkan isi hati :)

Sebenarnya judul ini bagian dari tulisan sebelumnya, namun setelah diposting dan membacanya terlintas dalam benak kayaknya bagus menjadi judul baru, apalagi ini bagian yang cukup penting dalam perjalanan hidup saya, hehehe. Jadi cerinya dimulai saat bada zuhur tadi, setelah shalat zuhur, ketika berusa menghabiskan tadarrus alqu'an, saya bersama imam sedang melayani warga yang membayar zakat begitu beres ada kendala untuk menyimpan uang zakat karena bendahara tidak berada di mesjid, qadarallah begitu mau berniat meninggalkan mesjid beliau hadir. setelah memastikan jumlah uang zakat, tidak lama berbincang-bincang, entah kenapa pembicaraan mengarah pada kondisi tempat kerja yang mana bidangnya sama dengan bapak bendahara ini, karena memiliki latar belakang yang sama maka pembicaraan begitu nyambung dan mengalir karena beberapa situasi yang dhadapi ada kemiripan ketika situasi tempat kerja yang berbasis pendidikan ini memiliki jumlah mahasiswa yang jauh berbeda dengan kondisi dahulu karena saat sekarang sangat turun jumlah peserta didik. Kita saling berbagi informasi dan beliau memberikan masukan tentang kondisi yang ada. kuncinya ada di manajemen bahkan harus ada usaha lain meningkatkan pendapatan kampus. Namun kondisi yang tidak memungkinkan karena yayasantidak memngelolah itu dan lebih dikelolah oleh pribadi yang merupakan kerabat yayasan. Entah apa yang "merasuki" hingga saya yang spontannya "curhat" tentang kondisi yang saya alami saat ini sebagai pengajar. saya berharap semoga ini menjadi bagian pelajaran buat saya dan tidak menimbulkan efek negatif dalam pembicaraan ini, ini sebagai salah satu pengungkapan atas kegilasan saya pada situasi yang pertama di atas.

Sebenarnya mencurahkan isi hati ini sudah sering saya lakukan pertama secara tersembunyi hehe dalam catatan harian, bahkan ada dalam sosmed fake, kemudian yang kedua pada orang yang sudah dinggap dekat. yang pertama ini sudah saya lakukan ketika memasuki masa usia remaja tepatnya saat SPK (sederajat SMA) saya masih ingat persis buku diare sebagai tempat curhat itu sebagai hadiah saat mendapat juara di tingkat pertama :) kemudian saat kuliah juga masih berlanjut khususnya saat tanggal kelahiran sebagai refleksi diri dan saat memasuki awal tahun sebagai pencatatan impian yang akan diraih. begitulah sampai saat merantau sempat menulis namun tidak seperti saat kuliah. Pada sosmed dulu saat jaman-jaman FB awal-awal saya mencurahkan beberapa pandangan sekaligus curahan isi hati dalam  sosmed bahkan saat jaman-jaman bbm biasa menuliskan kegelisahan hati melalui status bbm namun beberapa kali pengalaman kurang nyaman saat mendapatkan reaksi atau tanggapan dari teman sehingga perlahan-lahan curahan hati di status mulai dikurangi dan alhamdulillah saat ini sudah tidak lagi. saat ini lebih banyak orang menggunakan w.a IG dan FB, dan semuanya bukan menjadi tempat mencurahkan isi hati, lebih pada menyampaikan gagasan, sekedar berbagi informasi dan sekedar menyampaikan aktifitas saat ini terutama di IG, menjadi media saya untuk mengekspresikan diri "lebih terbuka" bila dibandingkan dengan w.a dan FB

Nah kebiasaan yang saat ini saya belajar untuk mengurangi dan mengontrolnya adalah curhat pada seseorang dan tidak mudah berkesimpulan bahwa ini orang yang tepat untuk tempat curhat, apalagi baru kenal terus berkesimpulan bahwa ini teman yang asyik untuk ngobrol termasuk untuk curhat. Beda kalau hanya sekedar ngobrol biasa apalagi hanya sebatas sharing pengalaman pribadi namun bukan untuk menyampaikan masalah pribadi. Belajar dari pengalaman-pengalaman dulu, saya sadari saya mudah sekali rapuh dengan kondisi, saya tipekal orang yang terbuka pada orang-orang tertentu untuk mencurahkan isi hati. Dulu dulu banget, sering mencurahkan atau nyampah sama teman, hanya sekedar mencurahkan kegelisahan hati dan kunjung mendapat solusi. seingat saya ada 2-3 teman yang menjadi tempat menyampaikan kegelisahan, ada yang di medan dan ada yang di balikpapan dan terkadang begitu sudah kenal orang, dan dirasa pas jadi teman ngobrol dan sering komunikasi nah ujung-ujungnya menjadi teman curhat jadi nyampah kemana-mana.

Alasan saya tidak menceritakan sama orang-orang yang secara tempat dan personal dekat karena tidak ingin mendapatkan efek lain. misalnya sama kakak, karena tidak ingin menyampaikan bahwa saya dalam kondisi tidak stabil dalam apapun baik dalam urusan keluarga maupun dalam pekerjaan. Itulah alasan memilih teman curhat bukan dari keluarga atau teman kantor padahal ada beberapa yang sudah memenuhi syarat sebagai teman curhat. Saat ini saya memiliki sahabat yang secara umur hampir sama hanya selisi setahun, namun tidak semuanya harus saya sampaikan hanya pada beberapa yang meminta pendapat teman apakah yang saya lakukan sudah tepat dan lebih pada teman share. Untuk teman share yang terakhir ini menjadi "kekuatan" baru buat saya, ada power dalam pertemanan ini dan menjadi saya banyak belajar dalam beberapa hal misalnya dalam bersikap, cara merespon sesuatu namun mengingat umur dan kesibukan masing-masing sehingga saya harus tahu diri dan memahami ada kesibukan dan karakter masing-masing agar pertemanan dan persahaban tidak menjadi bermasalah, pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran bagaimana seharusnya bersikap pada teman apalagi sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara.

Namun semakin kesininya semakin sadar bahwa sebaik-baiknya tempat mencurahkan isi hati dan yang paling utama adalah kepada Allah Subhannah wata'alah, sejadah adalah tempat tebaik saat sujud untuk mencurahkan isi hati. segala kegelisahan disampaikan pada Sang Pemilik Alam semesta, segala apa yang terjadi di alam semesta ini atas seizin-Nya, termasuk masalah yang kita hadapi semua atas seizin-Nya. maasalah yang kita hadapi bisa jadi sebagian ujian untuk kita untuk naik derajat yang lebih tinggi sehingga ada ujian dalam bentuk masalah yang dihadapi.dan masalah lain bisa menjadi sebagai "teguran" atas kelalaian dan kesalahan yang kita lakukan baik sadar maupun tidak sadar sehingga dengan masalah itu kita disadarkan bahwa kita harus kembali membenahi diri dan memperbaiki diri agar berjalan di jalan yang benar dan kembali pada jalan yang lurus, jalan diridhoi Allah subhannah wata'ala. semoga kedepannya tidak salah dalam menjadikan tempat curhan hati, terutama pada teman atau orang yang belum kenal betul, belum melakukan safar bersama karena melalui safar akan ketahuan sebenarnya seperti apa teman kita dan adanya kecocokan dalam segi pandangan dan kebiasaan, yang utama adalah berteman dan bersahabat yang dapat mengarahkan pada jalan yang benar, mengingatkan bila salah dan menguatkan bila ada masalah dan saling mensupport yang paling utama adalah saling memahami dan menghargai. semoga teman curahan hati juga ini dapat mengantarkan hingga ke jannah. aamin ya rabbal alamin

Tarakan,  26 Ramadhan 1441 H
                19 Mei 2020
Pukul :    6.03 sore


"tantangan" di penghujung ramadhan

Awalnya bingung mau menuliskan judul apa. sebenarnya tidak ada kalimat yang pas untuk menggambarkan situasi "hati" dalam beberapa hari terakhir. ini tidak lain ada kondisi psikologis yang saat ini saya rasakan, ketika memasuki hari-hari terakhir di bulan ramadhan ini, niatnya fokus ibadah dan melaksanakan rutinitas yang tidak terlalu berfokus pada urusan dunia :) hehehe, namun menjelang 10 hari terakhir ramadhan ini begitu banyak situasi yang "menguji" iman, inti dari puasa adalah menjadikan kita insan bertakwa, dalam tulisan sebelumnya nafsu dan takwa yang mengutip ceramah dari UAH, begitu banyak fitawi dalam diri kita yang diciptakan bertentangan bahkan keberadaannya bisa saling meniadakan. seperti misalnya tentang ikhlas dan riya, sabar dan marah. Nah kondisi yang pertama adalah ketika tiba-tiba mendapat informasi dari tempat kerja tentang gaji bulan mei ini hanya mendapatkan gaji pokok tanpa tunjangan fungsional dan tunjungan hari raya (THR), untuk kondisi ini sudah diantisipasi jauh-jauh hari bakal mengalami hal seperi ini dan mau tidak mau harus menerima karena sekalipun "memberontak tidak ada gunanya karena kondisinya tidak memungkinkan.

Situasi kedua, sebagai bagian dari lika-liku kehidupan dalam berumah tangga dan ini wajar ada perbedaan pendapat. Jadi ceritanya begini, ketika ada "coletehan" orang di rumah tentang mudik, hmmm dalam kondisi keuangan seperti ini tidak memungkinkan apalagi untuk masa pandemi yang hingga saat ini tidak jelas kapan akan berakhir malah karena ketidakjelasan itu kita dianjurkan berdamai dengan virus korona ini sehingga tetap beraktifitas dengan mempertimbangkan aspek kesehatan. Ini masih bisa dipahami, mungkin harus merencanakan keuangan untuk dialokasikan untuk pulang kampung ini. Nah yang kemarin yang benar-benar bikin bingung, asli tiba-tiba ada kalimat yang keluar "apa rumah ini tidak ada rencana untuk direnovasi?" saya langsung jawab, ada kalau sudah ada uangnya tapi sekarang belum ada dan saya tidak ada rencana untuk meminjam di Bank untuk melakukan pinjaman karena tidak ingin terjebak dengan ribah. kemudian saya menambahkan "alhamdulillah, kita harus bersyukur, kita tidak ngontrak, sementara masih banyak orang yang setiap bulan atau setiap tahun harus bayar kontrakan" terus direspon dengan kalimat " bersyukur sic beryukur tapi akan lebih bersyukur kalau rumah ini direnovasi" hmmmm seketika kaget untungnya emosi masih terkendali :) saya hanya menyampaikan pesan "jika bersyukur jangan pake kata "tapi", ya syukuri apa yang diberikan saat ini, jangan memaksakan keinginan yang tidak sesuai keadaan, boleh berimpian tapi harus realistis sesuai dengan keinginan kita". seketika saya menghakhiri pembicaraan dan memilih untuk melakukan taddarus.

Inilah tantangan menjelang akhir ramadhan, ketika keinginan untuk fokus beribadah namun ada saja hal-hal yang ada diluar dugaan kita, dan kita harus siap menghadapi itu semua. dan anggap sebagai bagian ujian dari aplikasi sabar yang dipelajari selama ini. situasi pertama dan kedua menjadi tantangan tersendiri dalam menghadapi pengujung ramadhan dan semoga tidak mengurangi semangat dalam menjalankan moment-moment yang sangat istimewah ini. Situasi kedua lebih mengajarkan saya untuk "lebih memaklumi" kondisi yang ada, karena bukan pertama kali saja seperti ini namun harus benar-benar lebih "dewasa" dalam menyikapinya karena inilah bagian dari hidup dalam menjalankan lika-liku yang ada. Jika bereaksi berlebihan malah akan merugikan diri saya, makna puasa semakin akan berkurang hanya karena situasi emosi saya yang berlebihan menghadapi semua ini.

Saya berdoa semoga dua kondisi di atas, semoga tidak mengurangi semangat saya dalam menghambiskan sisa-sisa ramadhan karena belum tentu dan tidak jaminan bahwa tahun depan kita mendapatkan ramadhan seperti saat ini, semoga Allah subhannah wata'alah melembutkan hati saya, melapangkan dada saya terutama dalam menerima kondisi dan situasi yang diluar dugaan yang dapat "memancing" emosi dan amarah, semoga semua itu masih bisa terkendali walau memang tidak mudah paling tidak cahaya iman ini masih bisa menerangi sehingga memberikan pencerahan dalam mengambil tindakan, paling tidak jangan sampai bertindak / berbicara tanpa berpikir sebelumnya karena akan menimbulkan efek yang tidak baik. semoga Allah subhannahu wata'alah membimbing dan mengarahkan hati dan pikiran ini pada jalan yang lurus dan jalan yang diridhoi Allah Subhannah wata'alah. aamiin

Tarakan, 26 Ramadhan 1441 H
               19 Mei 2020
Pukul :   4.27 sore menjelang adzan ashar

17 Mei 2020

Malu dan Iman

Rasa malu merupakan fitrah semua manusia. Malu menjadi benteng seseorang dalam perilaku karena malu menjadi kontrol diri kita hidup bersosial, hal ini tidak lain karena dalam masyarakat terdapat norma-norma yang harus dipahami dan patuhi, karena malu ini tidak terlepas dengan norma dan budaya yang ada namun dalam beberapa situasi malu bisa menjadi motivasi yang terbendung karena kondisi yang tidak mengenakkan. misalnya malu tampil didepan umum, malu melakukan sesuatu yang sebenarnya kita mampu namun masih mempertimbangkan pandangan orang lain padahal belum tentu orang lain berpandangan sama seperti dalam pikiran kita. Dalam agama, malu ini merupakan bagian dari akhlaq. Menurut refensi malu dianjurkan dalam  Islam, karena dengan malu menunjukkan akhlaq seseorang baik dan dapat mengendalikan hawa nafsu dengan kata lain, bila seseorang yang tidak mempunyai rasa malu maka menunjukkan rendahnya  akhlaq seseorang  karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Malu kaitannya dengan iman ketika melakukan sebuah dosa, kita rasa malu yang ditandai dengan rasa penyesalan telah melakukan dosa itu maka menunjukkan masih adanya iman seseorang, dan rasa malu tersebut juga jika sudah mulai hilang maka bisa jadi tidak akan ada rasa penyesalan dalam diri seseorang ketika melakukan perbuatan dosa (bacaan lebih lengkapnya bisa mensearch artikel "rasa malu dan iman seorang muslim dipublish republika.co.id)

Dalam perjalanan hidup ini, tidak sedikir rasa malu begitu muncul, ketika sudah berniat dan berjanji untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik namun masih gagal bahkan lupa dengan janji itu. Penyesalan demi penyesalan namun belum juga menguatkan diri untuk berbuat lebih baik lagi. apakah saya merasa gagal? dulunya seperti itu bahkan merasa mungkin saya tidak ada lagi ruang untuk berbuat baik. Tapi itu dulu, ketika ilmu tentang taubat hanya recehan sehingga mampu dimanfaatkan oleh "bisikan" yang menjatuhkan semangat untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Alhamdulillah, rahmat dan taufiq Allah subhannah wata'ala sehingga menngarahkan pada sebuah ulasan tentang taubat (sudah ada dalam tulisan sebelumnya), bahwa teruslah untuk bertaubat, jika jatuh terus bangkit, jatuh lagi terus bangkit lagi  hingga kamu merasa menyesal yang mendalam dan berpasrah kepada maghfiroh Allah subhannah wata'alah. Itulah rasa malu dan penyesalan ketika muncul ketika kita masih saja gagal untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik. Semoga rasa malu ini selalu ada karena ketika dia sudah hilang dari diri manusia maka celakalah manusia itu, 
" Jika Allah subhannah wata'alah ingin menghancurkan sebuah kaum maka dicabut dari mereka rasa malu, jika rasa malu telah hilang maka yang muncul adalah rasa keras hati, bisa sikap keras hati membudaya, Allah mencabut mereka dari sikap amanah (kejujuran dan tanggungjawab), bila sikap amanah itu telah hilang maka muncul adalah para penghianat bila para penghianat merajalelah maka Allah akan mencabut rahmat Allah, jika rahmat Allah telah hilang maka muncul adalah manusia laknat,  jika manusia laknat muncul maka Allah akan mencabut tal-tali islam" HR Ibnu Majah
"Bila seseorang tidak memiliki rasa malu dan amanah maka dia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti hawa nafsunya, tak peduli apakah yang menjadi korban adalah mereka yang tidak berdosa. Mereka merampas harta dari tangan-tangan mereka yang kafir tanpa belas kasihan, hatinya tak tersentuh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. matanya gelap, pandangannya ganas, dia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya, jika seseorang sampai ke tempat perilaku seperti ini maka terlepas darinya fitrah agama Allah dan terkikis habis jiwa ajaran islam" Syeikh Muhammad Al Gazali dalam Khuluqul Muslim
Ini menjadi renungan buat saya bahwa selama ini rasa malu itu hanya muncul jika langsung berinteraksi dengan orang lain, terkesan menjaga image padahal bisa jadi tidak lebih baik dari pandangan orang-orang. Itulah bagian dari rahmat Allah subhannah wata'alah menutupi aib-aib kita agar kita tahu dan sadar bahwa Allah menginginkan kita kembali menjadi orang yang lebih baik tanpa pencitraan, pintar menyembunyikan kelemahan diri dalam kehidupan sosial, namun kita lupa Allah subhannah wata'alah tidak lalai memantau detik demi detik, setiap hembusan napas kita. Memang inilah kelamahan sebagai manusia, hanya mampu mengontrol diri jika dalam berkehidupan sosal namun ketika sendiri, tidak ada orang yang melihat, maka bisikan hawa nafsu menjadi lebih kuat sehingga kita lupa diri. semoga Allah Subhannah wata'ala selalu memilihara iman kita, yang masih naik turun, lebih banyak sadar jika keadaan sulit namun begitu keadaan senang malah menjadi lupa akan nikmat Allah. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang mampu mengontrol hawanafsu, mampu menghidupkan alarm rasa malu sebagai pengontrol diri dan penguat iman sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang tercela. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 24  Ramadhan 1441 H
               17 Mei 2020 
Pukul  :  5.44 sore

15 Mei 2020

10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Hari ini merupakan hari ke-22 Ramadhan 1441 H, yang berarti bahwa sudah memasuki hari kedua di 10 hari terakhir. banyak kemuliaan yang banyak diulas ulama dihari-hari terakhir ini, bahkan disebutkan ada malam yang lebih mulia dari 1000 malam yaitu lailatulqodar. sebagaimana terdapat dalam surat al-qodr. yang artinya
(1) sesungguhnya Kami telah menurunkannya (alqur'an) pada malam qadar (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu malam kemuliaan (4) Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan (5) Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa malam lailatur qadar itu ada di 10 malam terakhir dan khususnya di malam-malam ganjil. Belajar dari jaman-jaman sewaktu masih di kampung halaman, ada tradisi di 10 malam terakhir ini yang dikenal dengan istilah witir panjang, sejak kecil sudah diajak sama orang tua untuk melaksanakan shalat, mulai dari tidir di mesjid dan saat itu saya masih SMP di mesjid raya kota bau-bau yang menyelenggarakan, teman-teman seusia saya ada yang sudah tangguh menyelesaikan semua rangkaian shalat witir panjang. ketika SMA shalat witir panjang sudah diselenggarakan di mesjid lain, ada dua mesjid yang ga jauh dari rumah. Alhamdulillah dulu itu masih bisa konsisten bisa selesai ini tidak lain karena ada teman-teman sebaya yang saling mendukung dan juga ada orangtua yang tidak pernah lelah membangunkan di jam 1 malam. untuk saat itu bangun jam 1 malam menjadi hal sulit, harus dengan bantuan jam wekker :) saat mahasiswa ini juga moment yang ditunggu-tunggu walau tidak sesempurna mengukuti full selama 10 hari karena biasanya pulang kampung itu menjelang beberapa hari puasa, paling-paling dapat 3-4 hari. Saat sudah di Tarakan, sempat melakukan bahkan saat itu status saya baru 1 tahun menikah dan bersama istri kesana, namun lagi-lagi "ghirah"nya mulai berkurang hehehe karena saat itu kadang-kadang bangun kadang-kadang tidak. 

Saat ini, ketika sudah mulai mengukuti ta'lim online, mulai belajar memaknai dan menjalanakan dengan benar ibadah dan amalan-amalan baik, 10 hari terakhir yang akan berlangsung nanti semoga diberi taufiq, dan rahmat Allah subahanna wata'ala, selama ini hanya mengetahui iktikaf itupun belum pernah menjalankan, semoga 7 hari yang tersisa menjadi moment yang tidak terlewatkan, mulai mempersiapkan diri, terutama menjaga star untuk mulai tidur malam, agar bisa bangun lebih awal. berikut ini ada amalan-amalan yang bisa dikerjakan sesuai dengan penjelasan ust. nurul dzikri bahwa riwayat menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wassalam mengencangkan ikat pinggang, dengan meningkatkan ibadah-ibadah (1) menjaga shalat wajib berjamaah terutama shalat isya dan subuhb secara berjama'ah, (2) shalat taraweh berjamaah (3) memperbanyak membaca alqur'an minimal 100 ayat sebuah malam (4) memperbanyak doa terutama doa Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni' (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku). (5) memperbanyak muhasabah diri, tertaubat dan meminta ampunan (istagfar), (6) memperbanyak dzikir terutama diakhir tengah malam (7) membaca 2 ayat terakhir QS al baqarah (8) berpenampilan baik (9) bangunkan dan ajak keluarga untuk beribadah (10) lakukan semua ibadah dengan penuh keimanan dan keyakinan serta penuh antusias dan berbahagia, tetap lakukan amalan yang lainnya.

Bismillah.. semoga Allah subhannah wata'alah memberikan kesehatan, taufiq hidayah dan kekuatan untuk menjalankan amalan-amalan di 7 malam tersisa ini dengan semaksimal mungkin dan jangan sia-siakan kesempatan terbaik ini karena tidak ada jaminan tahun depan bisa menjalani seperti saat ini semoga diberikan kebaikan, aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 22 Ramadhan 1441 H
               15 Mei 2020 
Pukul   : 6.06sore

Pelajaran dari THR yang Ditunda

Kemarin begitu masuk kerja karena jadwal piket, tidak lama ngobrol-ngobrol dengan teman yang juga piket, kebetulan ada salah satu diantaranya ikut rapat terbatas untuk pinpinan, karena kepo, saya nanyakan apa yang dibahas, dijawab dengan spontan dan lugas " THR tidak dikasih di lebaran kali ini, bisa jadi di lebaran idul adha, atau tahun baru,. gaji yang didapatkan haji gaji pokok tanpa tunjungan" respon saya tiba-tiba ' wow,... akhirnya kita juga kena dampak korona". sebenarnya kondisi ini sudah jauh-jauh diprediksi oleh beberapa teman, ini tidak lain karena kondisi keuangan yang tidak stabil sejak 3-4 tahun belakangan, entahlah saya tidak terlalu paham tentang kondisi ini. Kondisinya tentunya sangat jauh berbeda dengan dengan kondisi saat saya menjadi di bagian struktural, boleh dikata saat itu kondisi lagi puncak-puncak kejayaan kami, Belum ada potongan ini dan itu, mengajar masih diberikan insentif yang full, hampir setiap bulan mendapatkan amplop putih, jumlah mahasiswa saat itu yang terbilang cukup banyak sehingga cukup berpengaruh dengan pendapatan, dan  kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi mahasiswa saat ini, bahkan pada suatu periode, jumlahnya hampir 3x lipat dari kondisi saat ini. Alhamdulillah kami menjalankan semua dengan prinsip kejujuran dan saling menopang. Kejujuran yang dimaksud bahwa apa yang diberikan kepada stokeholder merupakan pelayanan terbaik yang bisa kami berikan, tanpa ada tendensius bahkan niat tersebung, murni untuk kemajuan dan kebaikan bersama, tanpa merugikan salah satu pihak walaupun saat itu tidak sedikit juga mendapat riak-riak dari semua lini, namanya puncak kesuksesan tidak sedikit yang bisa menerima kondisi yang ada bahkan mengkritisi setiap kekurangan yang ada. 

Bagaimana dengan kondisi sekarang? entalah? saya tidak ingin mendeskripsikan takut jatuh pada subjektifitas saya pribadi. Namun sebagai pribadi pernah menyampaikan beberapa pendapat tentang solusi dari kondisi ini, walau sebenarnya saya tidak punya kapasitas dan power untuk merubah keadaan karena saya hanya sebagai dosen biasa atau bisa dikata hanya "rakyat jelata" di tempat kerja. Untuk keluar dari kondisi keuangan yang tidak stabil ini saya menawarkan peninjauan ulang semua gaji yang ada, karena setahu saya tidak ada standar yang baku pemberian gaji pokok, kalau tunjungan sic sudah ada, hanya digaji pokok ini, belum ada perbedaan spesifik untuk pemberian gaji, atas dasar apa? kabarnya sic berdasarkan lama kerja dan pendidikan? benarkah kedua standar itu sudah benar-benar teraplikasikan, contoh kecil saya yang sudah lama bekerja dengan status pendidikan sarjana (saat itu) sudah mendapatkan gaji sekian, terakhir  mendapatkan kenaikan gaji sekitar tahun 2014, selebihnya entahlah,.. berdasarkan jenjang pendidikan/ pendidikan yang mana? keperawatan? kesehatan atau umum? belum lagi rumor yang bertebarangan ada yang pendidikan masih s1 tapi gaji pokoknnya melebihi yang pendidikan s2. lama kerja? lama kerjanya juga tidak jauh? apakah penetapan gaji pokok ini lebih pada "rasa kekeluargaan"? belum lagi ada yang memiliki jabatan fungsional, belum  lagi ini, belum lagi itu. entahlah. Kalau saja semua bisa legowo untuk menerima ini, bisa jadi sedikit bisa mengurangi beban gaji yang diberikan selama ini, paling tidak "asas adil" itu terpenuhi dan sudah ada standarisasi baku dalam pemberian gaji yang ditetapkan secara profesional. Tapi lagi-lagi ini hanya sebuah recehan pesan yang entah dianggap sebagai solusi atau malapetaka. solusi yang belum pernah saya sampaikan ini lebih kepada "muhasabah diri" apakah kondisi ini sudah menjadi qadarallah? apakah kondisi ini teguran buat institusi untuk lebih membenah diri, atau jangan-jangan kita tidak merasa bahwa ini adalah sebuah ujian agar institusi ini lebih baik lagi, atau malah kita mencoba mencari pembenaran dengan mengaitkan atau "menyalahkan" ini dan itu? atau pernahkah kita semua berpikir ada perlu dibenahi, apakah ada orang-orang yang kecewa? seberapa besar orang-orang mendoakan yang baik-baik untuk insitusi ini?

Tapi lagi-lagi saya sadar, siapa sic saya? buru-buru masukan ini didengar, untuk menyampaikan masukan dan saran pada masalah-malasah yang ada dan masalah teknis juga tidak sedikit mendapatkan "bantahan" selama saran dan masukan itu sesuai dengan logika pemimpin ya bisa jadi diterima akan tetapi jika belum-belum putuskan secara kolektif saja sudah syukur, pengalaman saya, lagi-lagi subjektifitas saya, dan bisa jadi ini salah, ketika berargumenpun agak sulit untuk menerima argumen yang lain, entahlah, akibat keseringan seperti ini, akhirnya saya berkesimpulan untuk apa berargumen pada akhirnya dimentahkan saja karena tidak sesuai logika pimpinan belum lagi pembelaan dan pembenaran yang dikeluarkan, kita bisa apa? mau ngotot? malu sama diri sendiri nanti dicap ini dan itu, walaupun semua tahu bahwa ini tujuannya untuk kebaikan bersama namun apakah keterlibatan dalam pengambilan keputusan itu "mengambil" saran-saran dari yang ada? jika pada akhirnya keputusan akhir dikembalikan kepada pimpinan, untuk apa buat wadah mendengarkan saran dan masukan dan pada akhirnya semuanya itu harus discrening kembali apakah sesuai dan tidak bersebelahan dengan pemahanan pimpinan. Ya sudahlah, dari pada membuang-buang energi, mending "diam" dari pada "sakit hati" hehehe

Kembali kemasalah THR, sebenarnya kondisi ini sudah saya antisipasi terkhusus sehari sebelum saya mendengar kabar THR ini saya sudah dalam kondisi siap dengan tulisan kemarin :) alhamdulillah, semoga semakin yakin dan siap dengan kondisi ini. Sejauh sebelum ini "memamas" sebenarnya sejak kepulangan saya dari pendidikan dan kembali aktif  september 2018 ngga tulisan ini dipost belum mendapatkan penyesuaian pendapatan malah penyesuaian beban kerja yang didapatkan hehehe ini kondisi yang kurang menguntungkan, namun belajar dari pengalaman-pengalaman teman yang sudah lulus duluan setahun sebelumnya juga butuh waktu satu tahu untuk mendapatkan penyesuaian, nah saya perbulan mei 2020 ini hampir 1,5 tahun sejak kepulangan saya juga tak mendapatkan penyesuaian padahal sudah mendapatkan jabatan fungsional dan sudah membantu menjadi staf di bagian tertentu selama 1.5 tahun ini dan gaji yang saya dapatkan adalah gaji yang pertama kali saya menjalani pendidikan terhitung sejak september 2016. Nah, cerita-cerita ini belum lagi dikait-kaitkan dengan cerita-cerita yang lain yang kurang lebih sama, ada hak yang tidak diberikan, tapi sudahlah kita bisa apa? alhamdulillah di tengah masalah lain, Allah memberikan rejeki dari jalur yang lain melalui pemberian beasiswa selama menjalani pendidikan s2. Atas dasar itu saya sebenarnya tidak mau mengungkit, bahkan ketika tulisan ini akan dibaca oleh pihak-pihak tertentu pasti akan menjadi masalah, semoga bisa dilihat sisi positifnya dan ini hanya subjektifitas saya dan tidak saya umpar ke sosial media.

Belajar dari kondisi yang ada ini, saya harus benar-benar memaksimalkan kegala sumber daya untuk menutup segala keperluan, saya harus benar-benar berdamai dengan kondisi ini, bahkan kondisi di pekerjaan ini sulit untuk dirubah, saya harus benar-benar mengatur keuangan dengan pendapatan yang ada saat ini, mana perlu mana yang bisa ditunda, harus memanfaatkan potensi keuangan yang ada dengan tetap mengukuti asuransi demi masa depan, mengikuti rencana mandiri untuk keperluan-keperluan saat tahun ajaran baru, dan tetap menambung keperluan-keperluan pengembangan diri, karena kita tidak boleh kalah dengan keadaan, rejeki tidak hanya terbatas dari besarnya pendapatan yang didapatkan di pekerjaan, rejeki yang Allah subhanaah wata'ala sediakan terbentang seluas alam semesta sisa bagaimana kita berdoa, berikhtiar dan mencari dengan cara yang benar. Jangan menyerah dengan keadaan ini, gali kembali potensi diri yang bisa dikembangkan, tidak harus mengikuti orang lain, lihat passion lihat peluang dimana kita bisa beraktualisasi diri. Semoga kondisi tidak menjadikan saya kehilangan pandangan bahkan berpandangan sempit, menyalahkan keadaan bahkan menjadi emosional dalam bersikap. Terus berusaha, pantaskan diri, hebatkan diri. raih ridho Allah subhanna wata'ala. 

Tarakan,  22 Ramadhan 1441 H
                15 Mei 2020
Pukul     : 5.10 sore

13 Mei 2020

Jangan mengkhawatirkan Rejeki

Sebagai pembuka dalam tulisan ini saya mengutip QS Az-Zumar (39):52
Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rejeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki)? sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum beriman
Banyak buku yang membahas tentang rejeki, mulai dari 7 keajaiban rejeki, magnet rejeki, dikejar rejeki, magnet rejeki hingga quantum rejeki, bahkan tema tersebut banyak seminar yang ditawarkan. Kutipan ayat di atas juga telah menggambarkan bahwa rejeki ini sudah diatur oleh Allah subhanna wata'ala, kita tidak perlu khawatir tentang itu walau dalam kenyataannya tidak mudah mengaplikasikan  dalam hidup sehari-hari. astaghfirullah hal adzim. Ini tidak lain kita kita sudah tidak menyukuri apa yang telah kita miliki terlebih kondisi saat ini berbeda dengan kondisi yang lalu.  sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi, semoga Allah menjauhkan dari sifat khufur nikmat.aamiin. dulu, alhamdulillah kondisi saya lebih dari cukup. tanggungan saat itu tidak seperti saat ini. tabungan masih ada, bahkan untuk beberapa keperluan akan mudahnya dikeluarkan namun bukan berarti seenaknya membeli ini dan itu, dan alhamdulillah, saat itu bisa melakukan pinjaman di bank untuk menembus harga rumah yang dijual saat itu yang sekarang sudah berakhir angsurannya sejak awal tahun 2017, semoga itu menjadi pinjaman terakhir yang berkaitan dengan ribah termasuk angsuran motor metik putih yang juga menggunakan sistem ribah. Itu semua dulu, ketika kebutuhan bisa saja dipenuhi walaupun saya sangat hati-hati membelanjakan bahkan sangat membatasi hanya keperluan penting. semua berlansung hingga saya menjalani pendidikan selama dua tahun di Bandung dan berakhir ketika pendidikan selesai dan sisa-sisanya terasa hingga akhir tahun 2018. 

Kondisi saat ini berubah, ketika semua kenikmatan yang Allah titipkan berakhir masanya dan saat ini saya harus menghadapi kondisi yang sangat jauh berbeda. dalam beberapa kondisi keuangan saya sangat drop seperti dalam beberapa tulisan yang dulu, gaji saat ini benar-benar hanya bisa digunakan untuk kebutuhan bulan mulai dari kebutuhan daput, kebutuhan rutin bulanan namun masih bisa menabun sedikit melalui program rencana mandiri, lumayan ini bisa menutupi keperluan saat pencairan diawal masuk sekolah untuk memenuhi kebutuhan sekolah, memang sudah jauh-jauh direncanakan agar tidak menyulitkan untuk mencari pinjaman. lagi-lagi kondisi saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi-kondisi sebelumnya, saat ini harus benar-benar mengatur keuangan namun bukan berarti harus pelit hingga lupa bersedekah, sementara sedekah yang paling utama apalagi dengan kondisi sempit saat ini. Semoga  kondisi ini tidak menjadikan saya lupa bersyukur, masih banyak hal baik dan insyaAllah selalu ada kebaikan dan hikmahnya. saya harus benar-benar menguatkan diri dengan tidak membanding-bandingkan kondisi saat ini dengan kondisi yang lalu apalagi hingga membandingkan dengan kondisi orang lain, semoga saja rasa syukur ini selalu ada tanpa mengurangi makna untuk tetap menjalankan kehidupan saat ini seperti biasa. kondisi saat ini menjadi pelajaran buat saya bahwa rejeki itu harus berkah buat kita dan orang lain. Allah akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan buka apa yang kita inginkan, karena keinginan itu tidak akan pernah ada habisnya apalagi jika urusannya adalah mengejar dunia. 

Jangan mengkhawatirkan rejeki Allah subhannah wata'ala yang terbentang di seluruh alam semesta ini, meskipun dalam hal pendapatan ada yang sudah mengaturnya dalam dunia pekerjaan, namun rasa syukur yang ada kitalah yang mengaturnya, jangan melihat orang dengan kondisi yang lebih baik dari kita namun lihatlah kebelakang banyak orang yang kondisinya lebih sulit dari kita, apalagi dalam kondisi pandemi saat ini. Jangan pernah mengkhawatirkan bahwa rejeki kita ini sudah ada, tinggal bagaimana ikhtiar kita untuk menggapainya, jangan hanya berfokus pada gaji yang kita dapatkan namun banyak hal yang harus kita syukuri yang merupakan bagian rejeki dan nikmat yang kita rasakan. Gaji / pendapatan tidak selamanya berarti rejeki, Gaji / pendapatan hanyalah bagian dari rejeki namun bukan satu-satunya indikator. kesehatan, kesempatan, iman, taufiq, hidayah merupakan hal yang sangat penting untuk disukuri. Intinya jangan membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain, karena semua ini yang kita dapatkan merupakan titipan dan amanah Allah SWT, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, kita gunakan untuk apa? apakah membawa berkah? apakah semakin mendekatkan kita kepada Allah subhanna wata'ala atau malah semakin jauh sehingga kita terus mengejar dunia hingga melupakan kewajiban kita untuk bersyukur. ini pelajaran buat saya agar bisa menguatkan iman dan keikhlasan untuk menerima kondisi saat ini karena apa yang kita rasakan dan alami saat ini merupakan qadarallah dan buah dari ikhtiar kita, jangan berputus asa dengan nikmat Allah subhanna wata'ala yang sangat luas terbentang di alam semesta ini. Ingatlah Allah memberikan apa yang kita butuhkan buka apa yang kita ingin. semoga kita menjadi golongan yang bersyukur. aamiin

Tarakan, 20 Ramadhan 1441 H
               13 Mei 2020
Puku;  : 6.01 sore

Melepaskan Dua Beban "pikiran"

Hari memasuki ramadhan ke-20, sudah tidak terasa sebentar malam sudah memasuki 10 malam terakhir, ada beberapa hal yang menjadi renungan saat ini, insyaAllah semua aktifitas di bulan penuh berkah ini masih sesuai dengan track yang sudah direncanakan, walau tidak sepenuhnya sempurna. Puasa kali ini begitu istimewa, selain karena suasana karena pandemi korona, selama bulan  ramadhan kali ini aktifitas mahasiswa semester akhirpun tidak dilaksanakan bulan puasa, jika dilihat ke belakang sejak tahun 2009 kegiatan tersebut ada di bulan ramadhan, tahun 2017 dan 2018 saat saya sedang menjalani pendidikan di Bandung juga masih dilaksanakan di bulan ramadhan, terakhir tahun lalu (2019) bahkan dihari pertama bulan ramadhan dimulainya semua rangkaian penyusunan tugas akhir, kegiatan selama cukup menguras tenaga karena hampir 20 hari seluruh kegiatan harus difokuskan dikegiatan tersebut sehingga waktu untuk melaksanakan ritual selama ramadhan cukup terhalangi. Selama pandemi ini juga aktifitas dikantor hanya di jadwal datang ke kampus sesuai dengan piket, 1x seminggu, namun bila ada beberapa keperluan saya sering ke kampus walau hanya sekedar menulis di blog ini di sore hari sambil menunggu waktu berbuka puasa. Rutinitas shalat berjamaah walau dengan kondisi yang tidak sepenuhnya "aman" tetap berjalan, karena beberapa kali mesjid yang saya datangi untuk shalat tarawih dan kadang shalat fardu sering mendapatkan pemantauan dari pihak keamanan karena masih menyelenggarakan shalat berjamaah dan setelah ada pembicaraan dan beberapa himbauan pihak keamanan tersebut misalnya harus mengunci pagar dan tidak boleh parkir di depan pintu masuk mesjid sehingga shalat berjamaah masih diselenggarakan hanya sebatas pada jamaah tetap mesjid tersebut.Tadarrus masih berjalan bahkan kadang-kadang kembali belajar memperbaiki bacaan alqur'an melalui iman mesjid

Disemua rutinitas ramadhan tersebut, ternyata masih ada dua beban dalam benak saya. pertama beban tentang pekerjaan dan kedua beban tentang persahabatan. Beban pertama, beban pertama merupakan beban yang sia-sia, hehehe kenapa? karena saya harus memikirkan hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi wewenang saya dan ini penilaian saya yang sangat subjektif. Bayang-bayang "post power sindrom" begitu besar, mungkin ada kondisi dalam benak saya yang belum sepenuhnya saya terima, ada kondisi dimana saya belum ikhlas menerima dengan sepenuh hati, kenapa? tidak lain karena harapan saya begitu besar pada tempat kerja, berharap mendapat perlakukan "adil" tapi keinginan itu tidak memungkin ditengah kondisi tempat kerja dalam 2 tahun terakhir, terlalu banyak gejolak, terlalu banyak tantangan dan terlalu banyak "problem" yang harus dipecahkan, sementara posisi saya tidak strategis. Ibarat roda yang terus berputar dan bola yang terus bergulir dan bola saat ini tidak berada di posisi saya dan itu kenyataan yang harus diterima, sehingga keputusan kebijakan dan keinginan sepenuhnya bukan keterlibatan saya dan memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa keputusan yang kurang sreg dengan pemahaman saya, kalaupun saya terlibat dalam pengambilan keputusan dan keputusan juga tidak sreg karena saya bukan siapa-siapa bukan saya yang harus mengeksekusi, hanya hanya memberikan masukan hanya itu saja tidak lebih dan ketika keluar daru ruang pertemuan harus ikhlas menerima semua itu sekalipun kurang sreg tapi saya bisa apa? saya siapa di tempat kerja ini, hanya niat baik untuk menyampaikan pendapat, hanya sebatas itu selebihnya yang mengeksekusi adalah yang berhak untuk lakukan itu. Saya harus benar-benar harus sadar diri, tahu diri, siapa saya ini? saya bisa apa? apa wewenang saya?  semoga saya benar-benar bisa memahami dan berdamai dengan kondisi seperti ini dan tetap berbuat yang terbaik sebisa dan semampu saya yang sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab saya.

Beban kedua adalah beban persahabatan. inilah moment-moment saya harus benar-benar melihat dan menilai dan sebisa mungkin menghilangkan subjektifitas tentang sama siapa sebenarnya saya harus menjalin persahabatan dan sama siapa yang hanya sebatas kenal dan teman tidak lebih. seperti kalimat yang sering kita dengan, bukan tidak tidak boleh memilih-milih teman tetapi kita berhak menentukan sama siapa kita harus bersahabat. Dalam pertemanan selalu ada lika-likunya. dalam kondisi pandemi ini, saya awalnya dibuat takjub ketika orang-orang dalam kondisi dibuat cemas dengan pandemi korona, dalam suatu kesempatan lagi-lagi saya mengnonatifkan w.a simpati ketika mengaktifkan beberapa pesan masuk ada yang dari 2 minggu (sejak awal di nonaktifkan) hingga pesan yang baru masuk, sebagian besar pada menanyakan kabar bagaimana kondisi di sini dan kabar diri selama masa pandemi ini. membaca pesan tersebut segera saya membalas satu-satu sambil memohon maaf karena baru merespon. kondisi ini juga selama masa ramadhan, lagi-lagi saya mengnonaktifkan w.a simpati setelah memasuki 10 hari pertama, dua hari yang lalu saya baru saja mengaktifkan (padahal rencananya baru hari ini) dan ketika aktif ada beberapa pesan yang lagi-lagi masuk selain menanyakan kabar atau sekedar membangunkan sahur :) mungkin inilah orangt-orang yang harus saya pertahankan sebagai list teman, diantaranya bahkan sudah saya anggap sebagai saudara dan sahabat, karena alasan ini juga saya bertahan dan mendapatkan support sekaligus menjadi teman untuk bercanda atau bahkan ngobrol yang remeh temeh tapi tetap berfaedah. Namun ada beberapa teman yang bahkan tidak ada kabar sama sekali karena sebagian besar mereka itu akan merespon jika sapa duluan, ya sudah ga usah dibuat repot, jangan mencari perhatian karena ada keinginan  yang tersembunyi. Paling tidak menjadi catatan buat saya, kepada siapa sebenarnya teman yang harus saja jadikan sahabat atau teman yang sekedar dikenal.

Dua kondisi "beban" pikiran itu menjadi bumbu-bumbu dalam menjalankan ramadhan kali ini, namanya manusia, namanya kehidupan ada saja hal-hal yang tidak sesuai harapan dan keinginan kita. sikap kita awalnya bisa jadi menolak bahkan tidak mau menerima bahkan kita marah? demi apa? hanya memuaskan emosi kita yang tidak terbendung? hanya menunjukkan ego siapa kita sebenarnya? sikap berdamai dengan keadaanlah yang tepat walau berat namun harus diterima, harus benar-benar ikhlas menerima kondisi seperti ini dan mencari pelajaran dari kondisi seperti ini karena tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan ini selama kita bisa mengambil pelajaran baik di dalamnya. Semoga semangat ramadhan ini menjadi tameng buat diri kita apa yang sebenarnya harus kita pikirkan apa yang sebenarnya harus kita lepaskan apalagi menjadi beban pikiran karena akan menimbulkan masalah baru menimbulkan "kekacauan baru' semoga saja semua beban itu bisa terlepas dari pikiran ini. aamiin

Tarakan, 20 Ramadhan 1441 H
               13 Mei 2020
Pukul  : 5.16 sore

12 Mei 2020

Tawaddu Vs Sombong

Kata tawaddu ini paling sering saya dengar ketika masih aktif berorganisasi saat kuliah sarjana di Makassar, saat itu pemahaman saya kata tersebut lebih ditujukan pada orang dengan bawaannya tenang, religius dan tidak berlebihan. secara bahasa arti tawadhu merupakan perilaku manusia yang memiliki waktu rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau lawan kata dari sombong dan takabur. Sombong merupakan sifat merasa lebih baik dari orang lain. sombong itu merupakan sifat iblis karena merasa diri lebih baik dan menyimpulkan bahwa dia  bahwa api sumber penciptaannya lebih baik dari tanah. Tawadhu berarti menyadari bahwa apa saja yang dia miliki merupakan karunia Allah Subhanahu wata'ala. Dhalil yang mendukung QS ; Asyu'arah : 215,   rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang pengikutmu yaitu kalangan orang beriman. Dikisahkan nabi yang menunjukkan ahlak ketika nabi sedang duduk, disebelah nabi ada anak kecil dan nabi berbicara dengan anak kecil untuk mengambil tempat minum. Ada pula kisah ketika sahabat, menawarkan diri untuk berburu, ada yang mengkuliti, ada yang menyiapkan api dan Nabi berkata bahwa beliau yang akan menyiapkan kayu bakarnya. ada pula dalil  siapa yang merendakan hatinya maka Allah akan mengangkat derajatnya

Ulasan Ustat Oemar Myta: sombong ada tiga : sombong karena harta, sombong karena harta/ kedudukan sosial, sombong karena ilmu /ibadahnya. ilmu dan ibadahnya belum tentu benar. Ada riwayat bahwa Ulama Hasan Al Basri, bila senin dan kamis sering menangis, karena setiap senin dan kamis itu amal akan dilaporkan malaikat kepada Allah SWT, karena jangan sampai malaikat mengatakan tidak ada amal yang dilaporarkan kepada Allah SWT. Untuk bisa menjada tawaddu kita harus menghilangkan potensi sombong dalam hidup kita sehingga tawaddu ini juga mengarahkan pada 3 hal, harta, kedudukan/status sosial dan ibadah/ ilmu. Jangan sampai kita merasa ibadah kita / ilmu kita sudah lebih baik sehingga kita sering menyalahkan orang lain yang tidak sependapat dengan kita.  Jangan sampai hilang sifat tawadhu kita dalam beragama. Ada kisah kita sahabat Muawiyah dan Ali bin Abu Thalib ketika berselisih tidak pernah menyombongkan diri, padahal Ali merupakan menantu Nabi Muhammad shallalahu Alaih wassalam. Seperti kata Sofwan Attauri, Adam dan Iblis memiliki 3 persamaan tetapi memiliki 1 perbedaan, namun perbedaan ini yang membedakan mereka kembali, Adam ke surga, Iblis ke neraka, persamaannya : sama-sama penduduk surga,  sama-sama melakukan satu kesalahan, sama-sama dikeluarkan dari surga, perbedaannya, Nabi Adam merasa rendah ketika melakukan kesalahan , menembus kesehalahannya dan berdoa seperti yang diabadikan dalam alqur'an sementara sementara iblis merasa sombong ketika melakukan kesalahan. Kenapa Allah subhannah wata'alah hanya membimbing dan memberikan petunjuk kepada nabi Adam dan tidak untuk iblis padahal sama-sama melakukan kesalahan, ini tidak lain karena tawadhunya nabi Adam sehingga meninggal dunia dalam keadaan beriman sementara iblis tidak, karena iblis memiliki sifat sombong dan merasa lebih baik. 

Seorang mukmim sebaiknya merasa rendah hati dengan ibadah yang dilakukannya, ada imam besar sedang shalat tahajud bersama anaknya, ketika menghabiskan malam begitu panjang dan menjelang subuh, anaknya membuka jendela dan berkomentar lihatlah wahai ayahku berapa banyak rumah-rumah yang masih padam lampunya dan mereka tidak bersungkur kepada Allah subhannah wata'ala, kemudian bapaknya mendengar dan mengatakan bahwa anaknya lebih tidur dari habis isya dan habis subuh tapi bangun dengan hati merasa rendah dihadapan orang beriman, itu lebih baik dari pada kamu tahajud semalam suntuk tapi hatimu muncul takabur  didepan orang-orang berimana. karena semakin kita merendah (hati) maka Allah yang akan mengangkat derajat kita. Ada tawadhu tercelah ketika kita merendah dihadapan orang yang memiliki harta namun kita berharap mendapat sekeping harta tersebut sehingga menunjukkan kita seolah-olah tidak memiliki kehormatan, ini merupakan tawadhu kepada mahluk namun tidak kepada Allah subhannah wata'ala

Ulasan ustat Oemar Mhita dan UAS diatas semakin menyadarkan diri saya bahwa untuk apa kita menyombongkan apa yang kita miliki saat ini, kita tidaki boleh mendjge orang-orang yang memiliki kedudukan saat ini karena itu merupakan sikap sombong apalagi jika kita merasa lebih baik dari orang-orang, hanya karena kita berbeda dengan orang lain, hanya karena kita merasa lebih baik namun tidak memiliki kekedudukan seperti orang lain. semoga Allah subhannah wata'ala selalu membimbing dan memberi petunjuk kepada kita agar kita semua tetap memiliki sikap rendah hati namun tidak merendahkan diri dihadapan mahkluk. Aaamiin.. sebaik-baiknya tempat menghadapakan adalah mengharapkan keridhoaan Allah subahannah wata'ala


Tarakan,  19 Ramadhan 1441 H
                12 Mei 2020
Pukul  : 6.04 sore 12 menit menuju azan maghbrib waktu tarakan


10 Mei 2020

Keharusan Bertaubat

Sebagai besar tulisan ini, akan mengulas tentang taubat dari ta'lim ust. Nurul Dzikri, Lc, Via youtube, seperti ini ulasannya : taubat secara bahasa berasal dari kata taubaitu artinya jika seseorang itu kembali, roja'ah artinya kembali. jika secara istilah syari'at : kembali dari kemaksiatan kepada Allah kepada amal sholeh dan ketaatan kepada Allah (dari kemaksiatan kepada ketaatan). Taubat yang paling tinggi adalah taubat dari kekhufuran dan kesirikan kepada  keimanan, dhalilnya QS Al anfal : 38 " katakanlah wahai orang yang kafir jika mereka berhenti dari kekhufurannya menuju keimanan maka Allah akan mengampuni seluruh yang dikerjakan di masa lalu.  Level kedua  Taubat dari dosa-dosa besar (zina, minum khomar, dll) level ketiga bertobat dari dosa-dosa kecil. Taubat itu hukumnya wajib dilakukan dari seluruh dosa sehingga jika kita tinggalkan (tidak dikerjakan) maka kita terancam dosa. Jika orang tidak bertubat maka dia akan mendapatkan dua dosa, dosa tidak bertuabat dan dosa tisa melakukan kemaksiatan. Jangan menyepelehkan hal yang dianggap kecil  atau sepele sehingga kita tidak mau bertuabat, karena bertaubat itu kewajiban setiap muslim sekecil apapun kesalahan yang kita perbuat. 

Apabila kemaksiatan itu antara hamba dengan Allah dan tidak ada keterkaitan dengan manusia (misalnya tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat, tidak haji padahal dia mampu), jika dia sadar bahwa selama ini salah tidak shalat atau tidak puasa maka syarat taubat ada tiga : pertama : tinggalkan maksiat (dosa), kedua: menyesali perbuatan dosa tersebut. Meninggalkan saja tidak cukup harus ada penyesalahan, karena penyesalan ini inti taubat. Menyesali ini bukan karena alasan lain misalnya berbuat mencuri dan ketangkap dan dia menyesal, ini bukan inti penyesalan sebenarnya karena jika tidak ketangkap maka dia tidak akan menyesal. Jadi penyesalan ini harus tulus / jujur lahir dari hati yang dalam / penyesalan sejadi-jadinya bisa memacu orang tersebut untuk meninggalkan kemaksiatan dan tidak akan mengulangi lagi. hanya meninggalkan perbuatan dosa tanpa penyesalan maka bukan perbuatan taubat dan tidak akan diterima Allah SWT. Rasa penyesalan itu bisa dilihat ketika orang mengingat masa lalunya kemudian mempertanyakan kenapa bisa seperti itu dan menyesali dan berjanji tidak akan mengulangi sambil merenung menyesali sedalam-dalamnya kenapa dulu tidak menyadari kenapa dulu tidak berubah ini menjadi tanda semoga taubat kita saat ini diterima Allah SWT. ketiga: bertekad untuk tidak mengulangi kembali di masa yang akan datang selama-lamanya. Tekad ini lahir dari penyesalan yang dalam dan jujur. Jika dia jatuh pada kesalahan yang sama di masa yang akan datang, maka bukan berarti taubatnya di masa lalu masih tidak di terima.

Kenapa manusia ketika sudah bertobat, sudah menyesali, sudah bertekad kemudia di masa yang akan datang, 6 bulan atau setahun kemudian melakukan kesalahan yang sama, maka ini menunjukkan bahwa memang manusia selalu melakukan kesalahan manusia, sesuai dengan hadis nabi bahwa anak manusia, bani adam itu selalu melakukan banyak  kesalahan dan sebaik-baiknya manusia adalah yang melakukan taubat. sehingga taubat itu merupakan kewajiban seumur hidup karena manusia melakukan seumur hidup. jatuh maka kita harus bangkit jatuh kita harus taubat jatuh kita harus bangkit, jatuh taubat lagi, jatuh taubat lagi jatuh taubat lagi, dan kita harus meminta pertolongan kepada Allah SWT dan jangan kita berputus asa dari rahmat Allah SWT. Jangan pernah menghakimi diri bahwa kita tidak bisa menjadi orang baik karena syaiton akan membisikkan kita bahwa kita orang gagal menjadi baik. sebaiknya kita jangan berputus asa, kita harus meminta pertolongan  Allah SWT dan jangan kita berputus asa dari rahmat Allah SWT, karena kita ingin menjadi orang yang lebih baik, QS Azzumar : 23 "Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang telah melampui batas terhadap dirinya sendiri jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT Maha mengampun dosa jika hambaNya bertaubat, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.  orang yang bertaqwa, insyaAllah akan memerima Taubat kita.  sesungguhnya Allah SWT Maha mengampun dosa jika hamba Nya bertaubat sekalipun kita tobat sambal, karena Allah maha mengetahui hati kita, kejujuran kita saat taubat. Tambahan syarat taubat keempat : ikhlas, untuk mempertegas bahwa kita bertaubat untuk mencari wajah Allah SWT, bukan taubat karena bersyarat, bukan karena Allah, misalnya karena mengingat keluarga, mengingat anak, karena memiliki cita-cita karena tidak ingin diri hancur, pengen mewujudkan ini dan itu, karena merasa kapok karena tidak ingin masuk penjara. 

Waktu untuk bertaubat selalu ada, waktunya tidak terbatas, sebelumnya nyawa di tenggorokan (Sakratul maut), taubat juga tidak akan terputus sampai matahari terbit dari Barat (hari kiamat). artinya ketika sakratul maut dan ketika kiamat maka pintu taubat akan ditutup, karena semua sudah berakhir dan semua sudah sia-sia dan sudah tidak artinya lagi karena waktu taubat telah habis (time limite). Misalnya .  di tolak taubatnya karena taubat ketika sakratul maut. Firaun bertaubat ketika sakratur maut mengatakan " Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai Bani Israil ( QS Yunus :90) " mengapa baru sekarang kamu beriman, sesungguhnya engkau sudah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang-orang berbuat kerusakan  (QS Yunus : 91)

MasyaAllah, Tabarakallah, inilah yang selama ini saya cari-cari ketika ketika selalu jatuh pada kesalahan yang sama bukan berarti kita orang gagal bertaubat, Allah SWT masih selalu menunggu taubat-taubat kita karena kita memang manusia lemah selalu jatuh pada kesalahan namun bukan berarti ini menurunkan tekad saya untuk berubah, harus benar merenungi, menyesali dalam-dalam bahwa taubat ini benar-benar karena Allah SWT bukan karena takut ini atau pertimbangan itu hingga mengabaikan bahwa kita taubat harus benar-benar karena Allah SWT. semoga kita tidak pernah berhenti mengharap Rahmat Allah SWT, semoga kita selalu dilembutkan hati ini, dilapangkan dada ini agar bisa menjadi orang yang lebih baik, dekat dengan Allah SWT. aamiin

Tarakan,  17 Ramadhan 1441  H
                10 Mei 2020
Pukul   : 6.00 sore

09 Mei 2020

Nafsu dan Taqwa

Nafsu secara bahasa artinya keinginan atau dorongan kuat, kalau ditambahkan hawa nafsu : dorongan yang kuat untuk berbuat kurang baik.  Dalam alqur'an ada 3 sifat , pertama nafsu mutmainnah, nafsu yang tenang karena iman, amal sholeh, dan ketaatan kepada Allah SWT (dalilnya QS: Ar-ra'du: 28,  orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram karena mengingat Allah, ingatlah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang ). Kedua Nafsu Lawwamah : nafsu sering mencelah orangnya disebabkan telah melakukan kesalahan, baik dosa besar atau dosa kecil atau meninggalkan sifat wajib atau anjuran. (dalilnya Qs : al qiyyamah: Aku bersumpah dengan menyebut nafsu lawamah). ketiga nafsu ammarah bis su'u, selalu mengajak berbuat dosa, melakukan yang haram dan memotifasi untuk melakukan perbuatan hina, Dalilnya Qs : Yusuf : 53 ; dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku, sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang 

Cara kerja nafsu menurut UAH, , yang pertama ada kata Fallah (dalam surat : qodla aflaha zakaha, yang berarti tenang, bahagia, cenderung sukses dalam beraktifitas dan bahagia.yang bisa melakukan yang menyucikan jiwa (napas), jadi Allah diciptakan nafsu itu bukan membuat manusia menjadi hina (kotor) akan tetapi membuang potensi-potensi yang tidak baik dalam diri manusia dan akan bisa menonjolkan taqwa, jadi nafsu diciptakan bukan membuat kita bermasalah akan tetapi untuk menjadi katalis untuk memunculkan sifat-sifat taqwa. demikian juga saat Allah menciptakan Taqwa : ada jujur, sabar dan rendah hati, jadi ada sifat baik dalam taqwa namun disisi lain ada yang bertolak belakang, jadi kita tidak akan bisa mengetahui sifat taqwa jika kita tidak mengenal sifat nafsu (jujur lawannya bohong, Sabar lawannya Marah, rendah hati lawannya sombong), sehingga taqwa ini menjadi pembersih nafsu, kita tidak akan mengetahui bagaimana sabar jika kita tidak mengenal namanya marah. jadi ketika munculnya nafsu itu harus dibarengi atau ditunjukkan dengan sikap sabar agar tidak menjadi masalah. 

kedua Khoban (seengsara) (masih penjelasan dari UAH) artinya ada penderitaan yang dirasakan bertubi-tubi. kalau mengikuti nafsu maka akan membawa pada keadaan tersiksa, jika sifat taqwa tidak dimunculkan maka orang tersebut akan gelisa, semakin tidak nyaman karena mengikuti nafsu, misalnya saat orang bersalah dan menceritakan kejelekan orang, mencelah orang lain, maka orang itu tidak akan membuat tenang karena selalu memimirkan kita, dalam sebuah hadist  dijelaskan bila orang mencelah orang lain maka orang tersebut pahala shalatnya akan diberikan sama orang yang dicelah, jika tidak ada lagi kebaikan pada orang yang mencelah itu maka sifat tercelah itu akan diberikan pada orang yang mencelah tersebut. ini menjadi tantang buat kita karena tidak akan mudah kita lakukan namun bukan berarti kita tidak bisa, jika ada hal-hal yang negatif karena nafsu misalnya ada orang marah, maka tugas kita adalah memunculkan sifat sabar, karena jika memunculkan sifat marah juga, nafsu ketemu nafsu maka akan menjadi masalah.

Menjadi renungan dalam diri saya, apalagi saya termasuk tipekal "pemarah" pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya melihat tidak suka dijanjikan sesuatu yang juga tidak direalisasikan, maka tugas besar saya bagaimana tidak menuntut terus hingga membuat stres :) saya juga termasuk tidak suka melihat hal-hal yang kotor dan ini bisa membangkitkan sifat amarah, maka tugas besar saya adalah bagaimana dengan kesadaran diri memberishkan pemandangan yang kotor tanpa harus ngomel-nogmel, padahal sebenarnya pengen marah namun harus benar-benar harus mengendalikan diri. jadi nafsu itu merupakan fitrawi, namun jangan sampai kita tidak bisa mengendalikan atau tidak bisa dikontrol, nafsu ini sangat jauh dengan iman, sehingga iman yang lemah akan menjadikan nafsu menjadi kuat, sifat-sifat kebaikan dan taqwa akan semakin jauh. Memang terkadang pada kondisi-kondisi tertentu membuat kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, namun iman didalam dirilah yang menjadi pengendali kita. semoga nafsu-nafsu yang mengarah pada ketidakbaikan ini semakin bisa kita kendalikan dengan memunculkan sifat-sifat taqwa, jika mulai muncul signal marah cepat-cepat bersabar dan mengendalikan diri, jika sudah mulai muncul sifat-sifat sombong maka segera kendalikan diri dengan memunculkan sifat rendah hati, jika sudah mulai muncul sifat-sifat mulai berbohong maka segera mengendalikan sifat jujur, demikian juga untuk sifat-sifat yang lain. semoga Allah SWT melembutkan hati kita, melapangkan hati kita sehingga sifat-sifat kebaikan datang pada diri kita. Aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 16 Ramadhan 1441 H
                9 Mei 2020
Pukul  : 6.03 sore (13 menit menuju adzan maghrib)

08 Mei 2020

Keluar dari ring "pertarungan"

Dalam dunia kerja, "persaingan" antar karyawan atau teman kerja bukan merupakan hal yang baru, setiap orang berupaya untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Persaingan ini sah-sah saja selama dalam koridor yang wajar dan sesuai dengan aturan main dalam dunia kerja. Semua pekerja memiliki peluang yang sama untuk maju dan berkembang, namun itu tidak datang begitu saja, kemampuan itu harus diasah dan dipupuk serta dikembangkan agar capaiannya lebih maksimal. Muncul permasalahan ketika "menunjukkan" kebolehan itu berhubungan dengan orang banyak atau mengatasnamakan institusi maka perlu penyesuaian beberapa aspek yang berkaitan dengan orang banyak sehingga yang dibutuhkan dalam kondisi seperti ini adalah "bijaksana" itu saja

Dalam dunia kerja terkadang juga melihat ada semacam "pertarungan" antar karyawan, banyak hal yg melatarbelalangi, entah itu sekedar unjuk gigi, "balas dendam", mematikan rejeki orang lain, atau sekedar mau eksistensi. Demi apa orang melakukan itu semua? Kepuasan batin? Dunia ? Dalam kondisi ini yang harus diantisipasi adalah orang-orang yang tiba-tiba baik sama kita karena ada kepentingan terselubung, begitu keinginannya tercapai tiba-tiba menghilang entah kemana, semoga kita dijauhkan dari orang-orang seperti ini, karena dia ibarat benalu atau bakteri jahat yang hanya nampak hidup namun diam-diam merusak diri kita. Orang-orang ini akan membuat siasat seolah-olah dia dalam posisi terzalimi, tersakiti, tidak diberikan hak-haknya,sehingga kita akan terbuai dalam rayu cerita naifnya pada akhirnya kita akan bersikap sama dengan dia, padahal semua itu hanya subjektifitas dia, mau menambah power agar bisa menekan.

Bagaimana bersikap jika menemuai orang-orang dengan kepentingan  terselibung. Saling bertukar hanya untuk mewujudkan keinginan dalam diri. Dalam berteman khususnya di tempat kerja harus meningkatkan kewaspadaan, harus benar memahami situasi yang ada karena jangan sampai kita tergoda dan terjebak dalam permainan orang-orang, apalagi jika ada yang bernilai namun dikemas dalam persaudaraan yang erat, namun terjadi ketika kita lagi bersama orang itu dia akan mudah memuji-muji kita namun ketika dia berada di belakang kita, dia menjadi orang yang pertama " menjelek-jelekkan" kita, hidup sebagai parasit hanya mau mencari untung dan diam-diam melakukan  aksi yang menggunakan dalam diri kita. Apalagi mereka yang ada di ring "pertarungan", mereka saling makan, mereka saling menyerang dan mereka juga saling memuji, namun semuanya palsu hanya demi kepentingan masing-masing. Yang kita lakukan adalah keluar dari pertarungan itu, bentengi diri kita dengan peningkatan speritual.

Tarakan,  16 Ramadhan 1441 H (malam)
                    8 Mei 2020 H
Pukul. : 10.16 malam @rumahdiskip

06 Mei 2020

Tak Perlu Sombong (Refleksi Diri)

Sebagai manusia, sudah menjadi fitrawi jika ada keinginan untuk menunjukkan eksistensi diri, apalagi dalam kondisi orang tersebut "merasa" punya sesuatu yang dibanggakan. entah itu apa, mulai barang yang dimiliki, prestasi yang dicapai hingga ekspekasi yang direncanakan, semua dilakukan itu untuk mendapatkan "pujian" atau pengakuan yang semakin mengokohkan bahwa benar apa yang dimiliki / raih pantas mendapatkan pujian. Demi apa itu semua dilakukan? Semua tidak lain demi "kepuasan" diri, merasa senang dengan pencapaiannya. Pertanyaan kemudian apakah itu benar-benar membawa pada kebahagiaan? Atau justru kita banyak mendapatkan kesenangan semu.

Dalam sejarah penciptaan manusia, sikap sombong ini pertama kali ditunjukkan oleh iblis, ketika adam diperkenalkan pertama kali dan semua makhluk ciptaan Tuhan diperintahkan untuk sujud sebagai penghormatan kepada Adam, namun hanya Iblis yang menolaknya karena merasa bahwa lebih baik dari Adam, akibat ketidakpatuhan iblis tersebut, iblis ingin mengetahui apakah nabi Adam AS dan keturunannya benar-benar patuh dan tunduk kepada Allah SWT dengan cara merayu bahkan menyesatkan agar manusia tidak berada di jalan yang lurus, dan misi pertama berhasil ketika Adam dirayu untuk memakan buah huldi, yang dilarang Allah SWT dan sebagai akibatnya Nabi Adam dan istrinya Hawa harus diturunkan ke bumi sebagai konsekuensi pelanggaran yang telah di langgarnya.

Kembali kepada sikap sombong, kenapa sic orang memiliki sikap ini, karena ingin mendapatkan pengakuan walau ada kesan "memaksa" , haus akan pujian, entah orang-orang yang memuji itu ikhlas atau karena terpaksa atau hanya karena ada maunya (kepentingan terselubung) begitu terpenuhi keinginannya seketika itu juga dia menghindar dan berpaling. Sombong ini menjadi hal benar-benar harus disadari, jangan-jangan kita sudah terjebak dalam sikap ini, kita mengharapkan pengakuan eksistensi diri dengan mengabaikan orang lain, tidak lain. Atau jangan-jangan sikap ini telah menguasai diri kita hingga kita terus menunjukkan eksistensi diri tanpa melihat orang-orang disekitar kita yang juga punya potensi, demi apa? Demi mengejar kesenangan dunia. Semoga saja cahaya iman yang ada di dalam diri menjadi pemenang dan pengingat agar kita senantiasa mengevaluasi diri agar tidak jatuh dalam sikap sombong dan mengabaikan orang lain. Sikap sombong merupakan sikap yang tidak disukai Allah SWT dan merupakan sikap tercelah dan semakin melemahkan iman

Tarakan, 13 Ramadhan 1441 H
                   6 Mei 2020
Pukul : 6.11 sore, 5 menit menuju azan maghrib

05 Mei 2020

Syukur

Secara bahasa Indonesia, syukur berarti rasa terimakasih kepada Allah SWT. secara asal kata, asy-syukra artinya terimakasih, mengingat akan segala nikmatNya yang diucapkan secara lisan, dimantapkan dengan hati dan dibuktikan dengan perbuatan. dalam kehidupan sehari-hari, kata syukur ini begitu kita sering kita dengarkan melalui "alhamdulillahi robbil alamin" yang artinya segala puji bagi Allah Tuhan Alam semesta. ketika kita mendapatkan kenikmatan, maka kalimat itu akan mudah kita ucapkan, ketika mendapatkan hadiah, ketika mendapatkan barang baik, ketika mendapatkan kabar yang baik, ketika mendapatkan sesuatu yang diharapkan dan lain untuk segala yang nampak kita dapatkan kita rasakan yang membuat kita senang dan bahagia. Hal tersebut menunjukkan bahwa apa yang kita dapatkan merupakan pemberian Allah SWT yang merupakan hasil ikhtiar kita, jawaban doa-doa kita hingga hal yang dinanti-natikan terwujud.

Akan beda ketika rasa syukur ditujukan untuk sesuatu yang tidak nampak, tersembunyi dan membutuhkan perenungan yang mendalam. Misalnya ada yang kita inginkan akan tetapi yang didapatkan bukan yang kita inginkan, sehingga secara spontan kita akan berkata "bukan ini yang saya inginkan" namun kondisi ini perlu kita sadari bahwa Allah saat ini belum memberikan sesuatu yang bukan kita inginkan, itu dalam pandangan kita namun pasti itu yang kita butuhkan, karena keterbatasa ilmu dan ketidakdalaman perenungan diri kita belum sampai mengijabah hal yang tersembunyi. Apalagi hal ini akan semakin parah jika kita membanding-bandingkan kondisi kita dengan orang lain, membanding-bandingkan kondisi kita dengan orang lain yang lebih baik namun kita tidak berupaya membanding-bandingkan kondisi kita dengan orang yang keadaannya jauh dari yang baik yang kita rasakan, bisa jadi banyak orang yang mengharapkan kondisi yang kita rasakan saat ini namun kita tidak mengetahui.

Hari ini, saya berbincang dengan teman kantor,satunya via chat, karena berkomentar dengan story w.a saya tadi pagi dan satunya lagi ketika lagi berada di kantor sekita siang. perbincangan pertama itu lebih fokus bagaimana berprasangka baik dengan kondisi yang kita rasakan, alhamdulillah pembicaraan dengan teman pertama ini, kondisinya lebih baik dan pelajaran buat saya untuk tidak membanding-bandingkan dan saya sempat menyampaikan bahwa iman lah yang membuat kita teguh dengan kondisi kita saat ini, dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap titipan Allah SWT dan saya berupaya untuk tidak terkesan menggurui karena hanya sekedar share dan berbagi pendapat.  Memang banyak hal yang tidak kita inginkan namun Allah SWT memberikan ini kepada kita sesuai dengan ketentuanNya. sementara pembicaraan kedua siangnya lebih kepada bagaimana kita melihat kebelakang karena masih banyak yang kondisinya lebih jauh dari kita dan ini yang harus membuat kita harus bersyukur dengan tidak menuntut ini dan itu karena Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Semoga Allah SWT memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang bersyukur dan menjauhkan dari orang yang khufur nikmat. aamiin


Tarakan, 12 Ramadhan 1441 H
                  5Mei 2020 
Pukul  : 6.13 sore 5 menit menuju buka puasa

04 Mei 2020

No Comment (Refleksi Diri)

Pernah suatu ketika saya sedang ngobrol dengan alumni di tempat saya kerja, seperti biasa obrolan itu  saling menanyakan kabar dan aktivitas saat ini,.pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah "bapak sekarang sebagai apa?" tanpa beban saya menjadi sebagai dosen biasa :) pertanyaan seperti bukan satu dua kali saja saya mendapatkan seperti itu, tapi sering sekali bahkan menjadi pertanyaan yang selalu tidak pernah hilang ketika kembali ngobrol sama alumni setelah sekian lama tidak ngobrol. Mereka-mereka ini memang saat menjadi mahasiswa, saya menjadi penanggungjawab akademik., cukup lama dari tahun 2010 sampai 2016. Wajar saya pertanyaan itu muncul apalagi mereka tahu saya baru saya menyelesaikan pendidikan S2, mungkin mereka kira posisi saya akan lebih baik lagi. Hehehe itu pemikiran mereka, tidak ada yang salah dengan itu dan memang harus dijawab dengan fakta yang ada, bukan menutup-tutupi tapi sekedar menyampaikan apa adanya tanpa ada tendensius apapun.

Pada sisi lain, hal yang saya rasakan saat ini, ketika kondisi di lingkungan kerja dalam padangan saya ada yang berubah, ini wajar saja  karena kondisi saat ini, kepimpinanan dan situasinya juga berubah, sejak kembali dari pendidikan 1.5 tahun lalu saya sudah dibekali nilai2 dan budaya sunda selama menjalani pendidikan di Bandung, hal yang ditekankan adalah jangan pernah merasa paling benar, kampus tidak pernah mengajarkan untukmu memiliki sifat yang egois dan mau menang sendiri karena harus sesuai semangat silih asah, silih asib dan silih asuh. Nilai ini cukup memberikan pengaruh terhadap sikap yang saya ambil.  Dalam bersikappun harus selalu menjunjung nilai etika dan kebenaran, mengutamakan akal sehat dalam berpikir dan menggunakan hati dalam bersikap.  Jika ada hal-hal yang menjadi perdebatan, sebaiknya sesuai etika kesantunan.dan tidak perlu memaksakan kehendak jika dalam berdebatan.

Jika ada hal-hal yang tidak sesuai keinginan sebaiknya "diam" atau no comment, tidak perlu gonjot-gonjotan, tidak perlu menunjukkan yang paling benar, yang paling hebat. Pertanyaannya kita mendapatkan apa dari "kesombongan" sikap itu, ingat bahwa orang akan menghargai karya dan dedikasi kita, dan hal yang harus ditekankan, pengalaman selama ini tentang orang yang kita hadapi, yang ada di sekitar kita mengajari bagaimana seharusnya kita bersikap dengan orang-orang tersebut, terlebih saat ini, saya tidak punya kuasa atau power, saat ini moment yang sangat baik untuk belajar menahan diri, tidak membanding-bandingkan dengan yang lalu, tidak boleh memaksakan kondisi yang lalu pada ko disini sekarang dan memang saat-saat seperti sekarang untuk lebih sering mengambil sikap "no comment" bicara seperlunya tidak perlu berlebih-lebihan. Ambil hikmah dari kondisi seperti saat ini

Tarakan, 4 Mei 2020
Pukul : 11.52 malam.. @rumahskip

03 Mei 2020

Berlalunya 10 hari pertama bulan Ramadhan

Sore ini, merupakan berakhirnya 10 hari pertama di bulan ramadhan, sesuai dengan hadist yang sangat familiar riwayat Abu Huraira : awal bulan ramadhan adalah rahmat, pertengahannya maghfiroh dan terakhirnya itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). 10 hari pertama yang akan berakhir di maghrib ini menandakan bahwa rahmat Allah SWT sudah bertebaran di muka bumi.  Banyak penjelasan bahwa 10 hari pertama ini pintu rahmat dan pahala dibuka untuk yang menjalankan amalan-amalan di bulan ramadhan. Secara asal kata Rahmat : kelembutan, kehalusan dan kasih sayang. Rahmat atau kasih sayang Allah SWT bersumber dari Allah SWT Maha Penyayang (Rahman dan Rahim), ketika rahmat ini didapatkan oleh manusia maka manusia akan mengasihi satu sama lain. Subhanllah, mungkin ini dasar kenapa seseorang memiliki sikap menyanyangi karena merupakan fitrah sebagai manusia. Bulan ini mengajari kita bahwa manivestasi rahmat yang kita dapatkan ini, bagaimana sikap "kasih sayang'" muncul untuk keluarga dan orang-orang di sekitar kita sehingga akan meluluhkan "kebencian" dan penyakit hati lainnya ( Bagian terakhir ini merupakan penafsiran pribadi, belum merujuk pada referensi menurut ulama)

Terlebih dari makna rahmat di atas, renungan untuk diri saya adalah sudah sejauh mana saya melangkah memanfaatkan moment ramadhan ini. sejauh mana diri ini mendekatkan dengan Maha Cahaya, Allah SWT, Tuhan Alam semesta. Apakah amalan-amalan saya sudah lebih baik lagi? bagaimana tadarrus saya? apakah sudah ada peningkatan? bagaimana sedekah saya. apakah sudah lebih baik bila dibandingkan di luar ramadhan? bagaimana amalan ibadah saya, kalau shalat wajib insyaAllah masih sesuai jadwal walau dalam kondisi pandemi seperti sekarang? bagaimana amalan-amalan shalat sunnah? bagaimana tahajud saya? shalat rawatib, shalat duha? apakah lebih baik bila dibandingkan diluar bulan ramadhan. Alhamdulillah ramadhan kali ini, tidak bersamaan dengan ujian akhir mahasiswa yang biasanya berlangsung di bulan ramadhan sehingga cukup banyak waktu yang digunakan dalam proses tersebut sehingga harus pintar-pintar memanfaatkan waktu, sekarang kegiatan itu tidak ada, terlebih sekarang masih bagian masa dari kebijakan-kebijakan pandemi, bekerja di rumah, beribadah di rumah. 

Ramadhan kali ini, begitu banyak waktu yang tersedia untuk memanfaatkan moment-moment ramadhan ini, alhamdulillah target khatam yang awalnya diniatkan dipertengahan ramadhan, bada ashar tadi sudah bisa khatam, semoga Allah mengizinkan untuk 10 hari kedepan bisa khatam kembali. Amalan sholat tarawih masih dijalankan. sekalipun ada anjuran dari pemerintah untuk beribadah di rumah, kebetulan ada mesjid yang masih menyelenggarakan shalat tarwih berjamaah dengan jamaah yang terbatas dan hanya jamaah yang sering shalat di mesjid itu dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan virus korona terutama apabila ada jamaah yang belum dikenal untuk diajak ngobrol apakah memiliki potensi penularan. Sejauh ini ikhtiar jamaah didasarkan karena jamaah tidak memiliki faktor risiko, belum pernah ketemu dengan orang yang positif dan salah sati warga yang sekitar 1 km dari mesjid tidak pernah ke mesjid sesudah melakukan perjalanan luar kota dan sejauh ini jamaah masihs sehat wal afiat dan semoga tidak ada yang masuk kategori orang tanpa gejala. Semoga rahmat Allah SWT tetap terpanjarkan dan terpatri dalam diri dan bisa termanivestasi dalam sikap keseharian. Semoga Allahg SWT selalu memberikan taufiq, inayah, kesehatan agar tubuh ini selalu semangat menjalankan amalan-amalan 20 hari tersisa sehingga ramadhan ini tidak berlalu begitu saja. aamiin ya rabbal alamin.

Tarakan, 10 Ramadhan 1441 H
                 3 Mei 2020
Pukul    : 5.55 sore

02 Mei 2020

Butuh keihklasan full

Ini merupakan tulisan pada hari kelima ramadhan (28/4/2020), ditulis pada sore hari, menunggu waktu berbuka puasa. Baru saja mengalami kejadian yang tak diduga yang sebenarnya sepeleh :) ban motor bocor. Ban motor saya ini seingat saya terakhir kali saya menggantinya sudah cukup lama, saat masih di Bandung akhir tahun 2017 ketika masih masih melaksanakan feild experience di Sumedang dan seingat saya belum pernah kembali mengganti Ban motor sejak menggunakan ban motor tubles yang katanya sulit untuk menganti ban dalam motor. memang terbukti, kalau dihitung berarti hampir 2,5 tahun kondisi Ban ini masih aman, selama ini hanya mengisi angin. Tadi pagi sudah isi angin karena saya mengira hanya kurang angin, begitu mau keluar sore barusan, tiba-tiba melihat kondisi ban seperti pagi tadi sebelum diisi angin, jadi spontan saja harus kembali ke rumah ngambil dompet (padahal tadi sebelum keluar rumah, sudah ada firasat untuk bawa dompet, yaaa lagi-lagi saya gagal untuk ngekuti bisikan hati itu dan akhirnya harus balik kerumah untuk ngambil dompet, pembelaan diri saya, kalaupun saya bawa dompet tetap juga balik ke rumah karena harus memasukkan beberapa pakean yang di jemur termasuk ada kasur dan bantal :) Mumpung sore, dan bengkel masih buka, alhamdulillah ada bengkel yang masih buka sampe malam

Ahad kemarin ketika nonton tv. Ada bahasa dari nara sumber yang membahas tentang siasati keuangan selama masa pandemi korona ini, ada beberapa hal yang penting untuk direnungi, ketika semua orang mengeluh tentang kondisi keuangan, narsum selalu mengingatkan untuk ikhlas menerima kondisi sekarang karena kondisi ini dialami hampir semua orang dipenjuru dunia, banyak orang yang tidak mendapatkan penghasilan bahkan ada yang harus di phk.. Kat kuncinya adalah harus ikhlas. Memang tidak mudah untuk melakukan itu, apalagi jika logika yang bermain maka akan semakin jelas. Kata ikhlas ini punya nilai kekuatan tersendiri, memang tidak mudah namun kita wajib untuk dijalankan karena efek psikologis yang akan muncul sebagai konsekuensi positif. 

Ada beberapa kondisi saat ini yang saya harus belajar ut ikhlas. Ikhlas bila menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, tidak sesuai yang diinginkan, memang tidak semua kondisi dan situasi seperti yang kita inginkan, kita tidak bisa mengatur apa yang ada dihadapan kita sesuai yang kita hendaki, sekalipun ada situasi yang sudah kita antisipasi agar tidak terjadi namun sekali lagi tidak semua bisa kita kendalikan, apalagi jika berkaitan dengan orang-orang di sekitar kita, entah itu dengan pasangan hidup, anak-anak, rekan kerja, teman, saudara bahkan dengan diri kita sendiri. Kondisi-kondisi ini yang mengharuskan untuk ikhlas, dilakukan tanpa syarat, tanpa ini dan itu. Bismillah, semoga Allah memberikan kekuatan, Taufiq dan hidayah agar hati ini benar-benar ikhlas dalam menghadapi dan situasi yang tidak diharapkan / tidak diinginkan yang terkadang muncul tiba-tiba tanpa disadari. Aamiin

Ditulis      : 5 Ramadhan 1441 H / 28 April 2020
Diposting : 9 Ramadhan 1441 H / 02 Mei 2020
Pukul       : 05.06 sore


Belajar untuk "diam"

ini ditulis di hari ke-4 ramadhan, tadi barusan dari Bank di cabangnya yang ada daerah yang cukup dekat dari rumah untuk mengambil kartu ATM yang sudah diupgrade karena sebelumnya masa berlakunya telah berakhir, begitu nyampe disana rupanya kantor cabangnya tutup, securitynya menganjurkan untuk mengambil di kantor cabang, begitu nyampe di kantor cabang, antiran masih ada 10, karena biasanya waktu menunggunya lama sehingga saya menunggu di parkiran depan yang telah di pasang tenda untuk berteduh. saya melihat ada tiga yang lagi menunggu walau tidak menanyakan langsung apa mereka juga ke CS, jadi saya menjadikan patokan. begitu ada 30 menit lebih menunggu saya mencoba ke atas dan ternyata nomor antrian saya juga sudah lewat 3 antrian dan rupanya bapak-bapak yang ada di depan saya juga kelewat nomor 2 nomor sebelum saya. hehehe begitu dilayani, saya menyampaikan keperluan saya, dicek apakah kartu atm saya sudah jadi apa belum, setelah di cek ternyata belum beres :) hehehe. sebenarnya tidak ada hubungannya dengan judul tulisan, isi sekedar intro untuk menulis. Ramadhan ini, benar-benar saya jadikan sebagai bulan untuk memperbaiki diri, bulan untuk menreflesikan diri dan bulan untuk mengevaluasi sejauh mana kaki ini melangkah dan beberapa hari terakhir ini, sejak ramadhan sudah dipertemukan dengan kondisi yang benar-benar menjadi "ujian" dari kalimat-kalimat yang pernah saya ucapkan selama ini. misalnya Ramadhan dijadikan sebagai bulan ujian, dan saya dihadapkan pada situasi yang mengetes kesabaran saya :) masyaAllah. benar-benar harus dihadapi dengan  sabar. 

Salah satu bentuk realisasi dari sikap sabar ini adalah menahan diri untuk tidak berbicara yang tidak perlu atau "diam". sesuai dengan hadis nabi,  berkata baik atau diam. Karena saya sebenarnya orang dengan tipekal mudah bereaksi, kadang-kadang "cukup emosional" dalam merespon pembicaraan yang tidak sesuai. itu dulu, dan sekarang belajar untuk lebih banyak berbicara seperlunya saja walau dalam diri bergejolak ingin menyampaikan ini dan itu :) hehe. sesuai dengan hadis di atas, saya mencoba untuk berbicara seperlunya saja dalam semua kondisi, mau dengan keluarga, mau dengan rekan kerja, mau dengan teman, mau dengan sahabat. Dengan teman, karena belum tentu teman kita memiliki kesiapan waktu untuk mendengarkan ocehan atau curhatan kita. Dalam pekerjaan juga, sekalipun banyak hal yang bisa disampaikan namun saya harus memahami posisi dalam pekerjaan, apakah memang wewenang atau bukan untuk kita berbicara, terus apa manfaatnya buat saya melakukan pembicaraan yang memang bukan kapasitas saya. Saya senang dengan beberapa kalimat, mungkin yang akan menyampaikan yang memiliki kapasitas/ yang berwenang. Yang paling pas yang menyampaikan adalah orang yang berilmu. Memang sebaiknya harus seperti itu, ketika berbicara menjadi hal yang perlu dikendalikan, kita tidak bisa berbicara seenanknya tanpa memiliki kapasitas/ wewenang / ilmu bahkan dalam kondisi psikologis dan ini merupakan tantang terberat, kita tidak bisa seenaknya mengeluarkan kata-kata hanya untuk menyakiti orang lain, apalagi dilakukan dengan sadar, dilakukan hanya karena "dendam" dilakukan hanya karena ingin menonjolkan keakuan. buat apa? hanya kepuasan hati sementara, hanya kepuasan emosi yang kita dapatkan namun dampak yang terjadi setelah itu dendam demi dendam akan terus berlangsung bahkan tidak pernah berakhir sebelum semuanya diikhlaskan dengan hati yang bersih tanpa dendam lagi. belajar kembali untuk menerapkan hadis tersebut di atas : berkata baik atau diam. itu saja.

Ditulis      : 4 Ramadhan 1441 H  / 27 April 2020
Diposting : 9 Ramadhan 1441 H / 02 Mei 2020
Pukul       : 5.01 sore

01 Mei 2020

Belajar dari Ramadhan yang lalu

Tulisan ini ditulis sore hari, di ramadhan ke-3 sambil menunggu waktu berbuka puasa. Menjadi sebuah renungan,  Sejak dulu, ramadhan saya jalankan dengan rutinitas seperti yang dianjurkan; Tadarrus hingga khatam qur'an, shalat tarwih, bahkan jika masih di kampung halaman di 10 hari terakhir itu diselenggarakan "witir panjang" yang pelaksanaannya diantara jam 1.30 dini hari hingga jam 3. ini menjadi tantangan tersendiri, karena belum terbiasa shalat tahajud maka akan terasa berat karena harus menahan ngantuk. awal-awalnya terasa berat bahkan ketika sujud dimanfaatkan untuk tertidur dan terkadang tidak bangkit lagi, tau-tau bangun shalatnya sudah beres. hehehe itu kebiasaan yang saat ini sulit lagi saya temukan terkecuali saya berada di kampung halaman karena kegiatan itu masih dijalankan. Kebiasaan taddarus juga menjadi rutinitas yang saya jalankan. mulai belajar 1 hari 1 juzz, hingga bisa khatam dua kali dan memanfaatkan di waktu-waktu yang untuk melakukan taddarus. 

Target saya kedepan mentadaburri alqur'an melalui kajian ustat si sosial media dan melalui membaca dan memahami terjemahan alqur'an. Hal yang tidak boleh terlupakan saat ramadhan itu adalah bersedekah, apalagi untuk kondisi saat ini, kondisi dimana keuangan saya tidak seperti biasanya, harus benar-benar mengatur keuangan ditengah banyak kebutuhan yang harus dikeluarkan. melaksanakan shalat malam menjadi keharusan yang tidak bisa ditinggalkan, sebisa mungkin bangun lebih awal agar bisa lebih fokus untuk ibadah sebelum sahur. insyaAllah semua menjadi rutin  dan menjadi keharusan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan walalupun rutinitas ini masih dijalankan namun pada kondisi-kondisi tertentu ada kelemahan yang tiba-tiba muncul, ketika sudah menjelang malam, menjadi moment-moment ujian terberat, jika pada saat puasa kita masih bisa menahan diri karena mengingat masih berpuasa, namun malam tidak ada halangan, tidak ada yang merusak seperti pada sepanjang pagi hingga sore selama berpuasa. Masih ada terniat bahkan dengan sengaja melakukan kegiatan-kegiatan yang kurang baik, karena tidak ada beban bakal membatalkan puasa, terutama 3 tahun yang lalu, ketika eforiah selama tinggal di Bandung bahkan melakukan hal sepatutnya tidak di lakukan ketika malam ramadhan. mendzalimi diri sendiri dengan perbuatan terjelah. astgahfirullah hal azim.

Bagaimana hasil evaluasi ramadhan saya sebelumnya terhadap dampak kehidupan saya saat ini. Ramadhan demi ramadhan sudah berlalu, sudah perubahan baik apa yang sudah saya jalankan selama ini, apalah selama 11 bulan tersisa saya sudah mengamalkan hal-hal baik yang menjadi spirit selama bulan ramadhan. sudahkah perubahan baik itu sudah menjadi bagian diri saya? seperti pada tulisan di hari pertama ramadhan, sudah sejauh mana saya melangkah saat ini? sudahkah saya menjadikan spirit ramadhan menghiasi hari-hari saya selama 11 bulan kemarin. Memang manusia tidak sempurna sehingga menjadi kewajiban kita untuk terus memperbaiki diri hari demi hari. karena ada ungkapan jika kita tidak berubah masih sama dengan sebelum-sebelumny maka kita akan merugi. Ramadhan kali jangan disia-siakan kembali, anggap saja menjadi ramadhan yang terakhir, apakah diramadhan berikutnya kita memang sudah tidak ada atau bisa jadi kondisi kesehatan kita yang sudah tidak seperti sekarang, dalam kondisi yang tidak memungkinkan memanfaatkan nikmat kesehatan dan kesempatan memanfaatkan bulan yang penuh rahmat dan meghfirroh,, semoga Allah SWT selalu mengkaruniakan kesehatan memberikan taufoq dan hidayah agar hati ini masih bergetar dan mengarah pada jalan yang Allah SWT ridhoi. aamiin ya rabbal alamin

Ditulis       : 3 Ramadhan 1441 H / 26 April 2020 H
Diposting  :8 Ramadhan 1441 H / 1 Mei 2020
Pukul        : 5.12 Sore