31 Juli 2020

Selamat Idul Adha 1441 H

Lebaran idul adha kali masih dalam suasana pandemi korona, namun ada yang membedakan dengan lebaran idul fitri beberapa bulan yang lalu. Saat ini mesjid-mesjid sudah di buka, sudah ada pelonggaran dimana-mana beda dengan idul fitri, pelakasanaan shalat di rumah masing-masing. Walau masih terjadi pelonggaran namun nampaknya orang-orang masing enggang untuk melakukan silaturahmi dari rumah ke rumah. Sebenarnya Tarakan sendiri dalam beberapa hari ini, tidak ada penambahan kasus positif bahkan mulai besok memulai memasuki adaptas kebiasaan baru atau dulu dikenal dengan new normal. Hal yang menarik juga adalah untuk pertama kalinya mesjid depan rumah, di RT 05 kampung 1 Skip saya tinggal menyelenggarakan shalat idul ied. Persiapannya cukup baik mulai dari rapat koordinasi hingga persiapan kelengkapan mesjidpun berjalan sesuai dengan yang diharapkan, seperti membuat tenda di samping mesjid untuk tempat shalat kaum hawa. saya baru bisa membantu persiapan saat bersih-bersih halaman samping mesjid yang akan ditempatkan tenda untuk perempuan hingga malamnya sempat memantau kalau-kalau ada anjing yang buang hajat disitu, dan ternyata semalam itu jam 2 dini hari pas lagi menyiapkan dan menyetrika pakean untuk besok pagi, anjing-anjing itu lewat dan berkurumul mau tidak mau diusir karena biasanya di hari-hari lain pada buang hajat sembarangan.

Makna idul adha adalah untuk kembali mengingat keteguhan dan ketakwaan dari Nabi Ibrahim AS dengan anaknya Nabi Ismail yang dengan ikhlas siap menerima perintah Allah subhannah wata'alah, dikisahkan, nabi Ibrahim  sudah berumur ratusan tahun namun belum dikarunai anak, sehingga istrinya saat itu Sitti Sarah, menyarankan nabi Ibrahim menikahi siiti Hajar dan alhamdulillah melalui sitti Hajar lah Lahir Nabi Ismail. Sebelum perintah untuk menyembelih ismail, saat masih Nabi Ismali masih bayi ketika di padar pasir kehausan dan ismail bayi menangis, SittiHajar berlari-lari mencari air di padar pasir sehingga itu yang menjadi asal muasal orang-orang melakukan bagian ibadah haji, sai dari bukit safah ke bukit marwah dan saat nabi ismail kecil yang sedang menangis kuat itu melalui hentakan kakinya sehingga memncarkan air yang saat ini dikenal sebagai air zam zam. Kembali ke kisah nabi Ibrahim ketika mendapatkan perintah Allah subhannah wata'alah, saat menyampaikan perintah tersebut maka ismail dengan keikhlasan beliau menerima perintah dan mehimbau ayahnya Nabi Ibrahim untuk melaksanakannya. Ulasan ustat Das'ad Latif menyampaikan bahwa apa yang diperintahkan Allah subhannah wata'alah merupakan perintah yang tidak biasa, ketika Nabi Ibrahim selalu berdoa untuk dianugerahi keturunan soleh dan solehah namun begitu lama menantikan kehadiran anak tersebut hingga seratus tahun dan ketika dianugrahi anak yang soleh nabi Ismail, namun harus merelakaan anaknya harus disembeli. Ketika akan menyembeli leher nabi Ismail, seketika leher nabi ismail diganti oleh Allah dengan seekor kibas (dompa) sehingga ini menjadi asal muasal diperintahkan untuk berqurban.

Berqurban memiliki makna yang sangat luas, nabi ismail merupakan sesuatu yang sangat didambakan oleh Nabi Ibrahim. bila ditarik dalam konteks saat ini bahwa itu adalah dunia bisa berarti harta benda yang paling beharga yang kita miliki, ketika Allah subhannah wata'alah memintahnya melalui perintah berqurban, jika kita memiliki harta untuk membeli kambing atau patungan sapi maka kita tidak ada alasan untuk menolaknya. Kata AA Gym ini masalah persoalan hati dan iman, ada orang yang dengan harta yang dimiliki dengan kondisi pandemi saat ini, masih berpikir untuk melakukan qurban, adapula orang dengan kondisi pandemi saat ini, dan merasa bahwa harta yang dimiliki hanyalah sebagai titipan, dan kondisi keuangan saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan -hari-hari. Sama dengan saya, diawal-awal saya hanya berniat jika Allah subhannah wata'alah memberikan kelebihan rezky maka tidak ada alasan saya untuk tidak menunda melaksanakannya. Qadarallah, ketika sedang meengikuti rapat pengurus takmir mesjid yang di depan rumah, menyampaikan bahwa rencana kurban di tengah masa pandemi, apa tetap dilanjutkan atau tidak mengingat masih membutuhkan beberapa orang lagi, niat awalnya hanya 1 alhamdulillah setelah merembuk kembali dan saya menjadi salah satu bagian di dalamnya, kurban di mesjid kembali seperti tahun-tahun sebelumnya 2 ekor sapi. insyaAllah besok pagi akan disembeli, hari ini mengingat waktu yang sangat dekat di hari jum'at dengan beberapa kegiatan, shalat jum'at dan shalat ashar. semoga semangat qurban ini tidak akan surut apapun kondisinya, semoga Allah Subhannah wataa'alah tetap melimpahkan rejeki untuk niat berqurban di tahun-tahun medatang. aamiin

Tarakan, 31/7/2020
Pukul    : 06.02sore

28 Juli 2020

Lebih Bijak Bersikap lagi

Saat ini, ketika mendapatkan amanah baru dalam pekerjaan dituntut bersikap lebih bijak dalam bersikap, lebih bijak lagi dalam menanggapi / merespon segala apa yang ada dihadapan saat ini dan kedepan nanti. bagaimanapun juga posisi saat ini lebih dibutuhkan sikap bijak dalam menghadapi segala hal mau itu sesama rekan kerja dengan berbagai latar belakang dan pemahaman, dengan segala motivasi yang mendorong. Kita yang menjadi bagian dari pimpinan harus benar-benar "maksa" untuk menurunkan ego pribadi, mengesampingkan kepentingan pribadi apalagi dengan sengaja melakukan hal-hal untuk "memperkaya" diri sendiri. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah bagaimana cara merespon saya terhadap orang dan masalah yang ada, walau terlihat sangat "kuat" namun sebenarnya juga hati dalam kondisi rapuh namun tidak ditunjukkan secara langsung, cukup kita yang tahu. Namun ini menjadi pelajaran pada posisi nama saya harus menempatkan diri  dan bersikap, jika memang hal itu yang benar dan melanggar kesepakan serta aturan yang ada sebaiknya tetap bertegang teguh pada pendirian walau mungkin disampaikan secara bijak.

Belajar dari beberapa pengalaman di tempat kerja, ada tipikel rekan kerja yang secara personal kurang pas dengan kita namun berarti kita mendeskriminasikan setiap rekan kerja apalagi hanya karena pertimbangan beda pemahaman dan pemikiran sama kita, tetap profesional dalam melihat masalah, tetap memposisikan diri sebagaimana seharusnya. Memang terkadang ada hal-hal yang membuat kita "jengkel" "marah" dengan sikap orang-orang di sekitar kita namun sebisa mungkin bisa mengontrol diri, itulah namanya dinamika dalam pekerjaan bahkan dalam kehidupan dengan alasan tadi setiap orang punya latar belakang dan motivasi yang berbeda-beda. Jika memang ada hal yang tidak bisa kendalikan apalagi sebagaimana manusia yang memiliki kelehaman, ada namanya batas menahan diri, ada namanya batas untuk memendam rasa tidak senang namun sebisa mungkin mengendalikan dalam batas kondisi yang masih wajar dalam bersikap dengan tidak menyalahkan orang atau  tidak mencari kambing hitam, tetap meminta pertimbangan dari orang-orang yang memang memiliki pengalaman yang lebih banyak tentang masalah atau persoalan yang ada, meminta masukan-masukan agar keputusan yang diambil benar-benar tepat.

Kedepannya mengontrolan dan refleksi diri lebih diintenskan lagi, jangan mudah meluapkan emosi pada hal-hal yang berkaitang dengan pekerjaan di ruang publik seperti mau menunjukkan eksistensi diri dengan mengabaikan orang-orang di sekitar kita. Ingat kita tidak hidup sendiri di dunia ini, kita membutuhkan orang lain, untuk mengingatkan ha-hal yang kita tidak ketahui dan sadari, boleh jadi merasa sudah benar namun dalam sudut pandang orang lain kita kurang tepat dalam bersikap dan tidak ada salahnya untuk kita mendengarkan penilaiannyaa itu sambil merekleskikan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan bagaimana seharusnya saya bersikap. semoga ini menjadi catatan penting untuk ke depan yang lebih baik lagi. Seperti prinsip selama ini "Majulah tanpa menyingkirkan, Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan, Jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain, dan Benar tanpa menyalahkan (orang lain)

Tarakan, 28/7/2020
Pukul    : 05.05sore

27 Juli 2020

Zoominar di PPNI Kaltara

Kemarin untuk pertama kalinya saya menjadi narasumber di zoominar PPNI Kaltara, kali ini merupakan zoominar ke-6, pelaksanaan zoominar ini di hari jum'at, sabtu dan ahad. Untuk di DPW sendiri jabatan saya membindangi pelatihan dan pendidikan. Seminar ini merupakan bagian dari pendidikan khususnya pendidikan informal. menjadi narasumber di seminar PPNI menjadi pengalaman kedua saya, sebelumnya pertama kali menjadi narsum di PPNI Nunukan.  Secara pribadi saya sudah siap dengan materi yang disampaikan kebetulan berkaitan dengan pekerjaan saya khususnya bidang saya di keperawatan komunitas, keluarga dam kelompok. Namun saya terkendala karena saya lebih banyak berkaitang dengan teori atau lebih kepada tinjauan akademisi, untungnya  patnert pemateri dari dinas kesehatan sehingga memudahkan untuk pembagian materi, saya lebih banyak bahas tentang aspek  teori dan sementara patnert membahas tentang tinjauan di lapangan.

Persiapan untuk materi baru benar-benar dibereskan 2 jam sebelum acara dimulai, sebenarnya sejak sehari sebelumnya sudah selesai namun masih merasa masih ada yang kurang dan harus ditambahkan lagi ini dan itu, namun secara pribadi materi yang saya sampaikan sudah mewakili apa yang seharusnya disampaikan. Begitu acara dimulai, saya diperkenalkan moderator dan dipersilahkan masuk, kata-kata pembukapun dilontarkan, sempat terlintas dipikiran apa saja sudah sampaikan salam atau belum? hehehe jadi saya lewatkan aja salam. materi berjalan sesuai yang saya harus sampaikan masuklah, bagian pemateri kedua menyampaikan materi, begitu berakhir masuklah sesi diskusi banyak rekan-rekan di puskesmas yang bertanya juga dosen di tempat saya kerja, khsusus untuk salah satu penanya yang begitu ngotot dengan apa yang disampaikan, karena dia rekan kerja saya, jadi saya membiarkan apa yang dia sampaikan walau sebenarnya saya tahu bahwa apa yang disampaikan kurang tepat, karena waktunya kurang memadai jadi saya sampaikan bahwa akan berdiskusi secara personal nanti di tempat kerja, dan ini juga diamini oleh ibu moderator zoominar.

Begitu alotnya zoominar, sampai-sampai ga terasa hampir 3 jam hehe seingat saya zominar-zominar sebelum sampai jam 4 lewat hehe mungkin karena antusias peserta yang begitu besar sehingga semua pertanyaan yang masuk dibacakan oleh moderator ;) dan yang cukup membantu penjelasan dari penanya karena berkaitan dengan kebijakan ppni dan juga dinas kesehatan. Alhamdulillah akhirnya zoominar selesai dan saya melihat kembali di youtube, dan ga menyangka seperti ini jadinya hehehe saya ada beberapa catatan penting setelah melihat YT : yang pertama ternyata saya benar-benar tidak menyampaikan salam, kedua, posisi kepala saya agak miring ditampilan youtube, apa karena posisi laptop saya yang miring, ketiga tampilan layar diyoutube ada yang mengganggu kayaknya itu dari pengaturan tampilan layar saya yang memililih memunculkan gambar seharusnya hanya suara saat share screen sehingga yang tampil di youtubeseperti tampilan-tampilan zoominar. Mungkin ini menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk zoominar berikutnya jika ada yang mengundang menjadi narasumber ;D

Tarakan, 27/7/2020
Pukul   : 8.59pagi

24 Juli 2020

Mengolah Rasa

Hari pengen cerita tentang kejadian beberapa hari terakhir dan tepatnya pagi ini. Selepas subuh khususnya dalam  seminggu saya berniat dan mengupayakan untuk memanfaatkan fadillah untuk menjalankan salah satu hadist yang sangat baik tentang keutamaan yang berdzikir di mesjid sehabis shalat subuh berjamaah hingga matahari terbit. Kalau di minggu-minggu sebelumnya saya biasanya menyampaikan izin kepada penjaga mesjid yang sudah kenalan dan uda jadi teman hehe yang saya mau tinggal (duduk ngaji) di mesjid sehingga teman ini tidak perlu bercapeh-capeh bolak balik hanya karena ingin menutup pintu mesjid.. hehehe karena sebelumnya saya kenalan, penjaga mesjid ini beberapa kali bolak balik hanya memastikan apakah masih ada jamaah yang tinggal, Inilah yang mendorong saya berkenalan dan meminta no hpn dengan tujuan itu. beberapa minggu berjalan aman, karena begitu tinggal saya langsung samperin dan menyampaikan kalau saya tinggal di mesjid. Begitu juga dengan petugas listrik yang biasa mematikan lampu ketika menjelang pagi tepatnya jam 6. karena bawaan saya ini orang "tidak enakan" diawal-awal saya belum ketmu dengan si bapaknya ini. begitu waktu lain saya berpapasan dan saya menyampaikan kalau mau matikan gpp karena saya ngaji pake hp :) mungkin dalam hati si bapak ada orang dan tidak ada orang di mesjid tetap aja dimatiin lampunya. hehehe komunikasipun berjalan baik ketika tinggal saya usahakan menyamperin si bapak ini kalau mau mau mematikan di bagian tempat saya duduk.

Hari ini menjadi hari yang beda, begitu sudah meniatkan untuk tinggal kembali di mesjid, saya melihat teman yang jaga mesjid ini tidak ada, dan motornya juga tidak ada, pernah sic dia cerita kalau ga bawa motor berarti dia ikut sama teman, begitu beres ngaji, pas memasuki jadwal syuroq atau matahari terbit, rasanya tidak bisa menahan pipis, tidak lama saya ke toilet dan membawa barang bawaan saya semua, biasanya meninggalkan sejadah, kali ini full semua begitu beres saya kembali ke mesjid dan melihat ada petugas mesjid dan ini bukan dua orang yang sudah saya ceritakan di atas. begitu mau masuk mesjid eeee pintu mesjid uda kekunci hehehe, tidak masalah bagi saya karena masih ada pelataran mesjid yang bisa digunakan. sambil menunggu 15 menit lewat dari waktu syuroq saya menjalankan shalat sunnah 2 rakaat dengan niat sunnah isroq dan 2 rakaat lagi untuk shalat dhuha, begitu begitu beres saya menuju ke underground tempat parkiran dan berpapasan dengan teman penjaga mesjid, melihat wajahnya kayaknya dia baru bangun hehehe rupanya dia ada di mesjid dan tidak shalat berjamaah. saya tidak menyampaikan apa yang sudah saya alami barusan dan saya hanya bercanda tentang kemenangan tim favoritnya liverpool sebagai juara primerlliage setelah 30 tahun. 

Kejadian yang mirip-mirip baru saja terjadi kemarin. kira2 jam 11san pagi saya mendapatkan w.a masuk namun tidak langsung dibaca karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan. begitu lihat pengirimnya, dalam hati tumben-tumbennya menyapa duluan. rupanya dia pengen curhat. hehehe ini teman yang sebenarnya sudah cukup dekat karena ada beberapa miskomunikasi sehingga agar berjarak beberapa belakangan ini. panjang lebar dia bercerita dan saya mendengarkan dengan sepenuh hati, sambil memberikan semangat kalau apa yang dia rasakan itu pasti akan berlalu dan pasti ada hikmahnya dan semua kejadian yang sudah dilakukan jangan disesali cukup dijadikan sebagai pelajaran. Dia bercerita panjang tentang kegelisahannya saat ini dan kekhawatirannya akan dampak yang muncul dan dari panjang lebarnya curahan hati teman ini, ada hal yang menjadi point kenapa selama ini kita berjarak bahkan saya sampaikan dia terkesan dingin sehingga ini menjadi memicu dia bercerita panjang. penyebabnya adalah dia sudah mendapatkan teman, sahabat bahkan sudah seperti saudara sendiri, dia sangat-sangat sekat. hmmm dalam hati pantasan aja hehehe. Namun terlepas dari semua itu tidak sedikitpun rasa "benci" "jengkel" dari dalam hati saya. saya dengan tetap sedia membaca pesan demi pesan dia tanpa sedikit menyalahkan dia. mungkin itulah dia bilang kesaya sebagai pendengar terbaik. untung saja saya tidak keegeran. Komunikasi tetap berlanjut hingga saya pulang kerja dan beberapa kali sempat saya membalasnya. Jam 3.30dini hari tadi, ketika melihat jam di hp saya melihat pesan masuk di w.a seingat saya sebelum tidur 2 teman yang mengirim balasan pesan, begitu buka-buka pesan eee rupanya teman tadi masih mengirim pesan dan menyampaikan kekhawatirannya, karena masih subuh dan pasti dia juga masih tidur, saya menunda membalasnya rencananya nanti sekalian pas di kantor, begitu bikin story pagi ini pas mau balik selepas dari mesjid sy melihat dia membaca pesan saya ga lama setelah story saya pasang. sponton dalam hati jangan sampai dia berpikir ini hanya bikin story tapi tidak balas w.a hehehe walau saya yakin teman itu tidak seperti itu. lagi-lagi saya meyakinkan dia bahwa dia akan baik-baik saja. karena pesan yang dia kirim itu 2x, pertama jam 12 malam yang kedua hampir jam 2. untuk di jam2 itu biasanya saya suka chat sama dia pas kebetulan dia masuk malam, tadi itu ga kepirian kalau di masuk malam jd pesan tidak langsung saya balas.

Hal positif yang bisa saya ambil dari kejadian-kejadian di atas, menjadikan saya sadar bahwa mengelolah  bahkan mengendalikan rasa itu penting. kejadian pertama lebih kepada saya yang merasa tidak enakan, tidak enak sudah harus duduk di mesjid hingga matahari terbit, tidak enak mungkin karena saya sudah mengganggu kerjaan orang-orang, bahkan ada mesjid juga di dekat-dekat tempat kerja saya pernah beberapa kali tinggal merasa tidak enakan juga karena dilihat sama orang-orang hehehe takutnya ada kesan saya ini "terlampau soleh" atau "berlebihan" hehehe walaupun itu semua hanya dugaan saya. Cerita yang terakhir ini yang benar-benar menguras "rasa" saat mendengarkan curahan hati teman, bukan pertama kali aja dia menyampaikan kekhatiran ini, malah sering. ini juga menjadi alasan kenapa saya masih bertahan walau beberapa kali di "cuekin" hehehe pernah saya berprinsip kelak suatu saat orang-orang yang selama ini mengenal kita akan kembali mencari kita karena ada sosok yang dia rindukan bahkan butuhkan walau sempat beberapa saat hilang kontak. Ternyata betul dan sudah terbukti. Tantangan bagi saya untuk mengelolah rasa agar tidak menjadikan moment ini untuk meminta balas budi. demi apa? dengan melihat dia kembali menjalain komunikasi itu sudah cukup membuat "senang" dan meyakinkan diri saya bahwa dia tidak menyimpang rasa "benci" apalagi karena kesalahpahaman semata. Inilah pentingnya mengolah hati, tidak perlu tergesah-gesah mengungkapkan ketidaksenangan, mengungkapkan "kebencian" cukup disimpan dihati dijadikan "koleksi" sendiri dan tidak untuk diumpar ke orang lain

Tarakan, 24/07/2020
Pukul   : 8.55 pagi

21 Juli 2020

Obrolan tanpa Alasan

Dalam beberapa pekan terakhir ini, saya begitu intens membangun komunikasi dengan teman, kenalan dan kerabat-kerabat apalagi dalam situasi pandemi yang tidak menentu seperti sekarang ini, yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Komunikasi ini mulai dari hanya menyapa dan menanyakan kabar. Sebagian besar mereka adalah teman saat jogging, berkenalan saat jogging dan saling berbagi pengalaman berlari, progress target lari hingga saling komentar story. Beberapa diantaranya sudah sangat dekat bahkan sudah seperti saudara, walau ada diantaranya usianya masih sangat muda, selisi hampir 18 tahun hehehe, tapi sejauh ini masih nyambung saja, tidak ada kesan menggurui lebih kepada memberikan motivasi dari seorang kakak kepada adiknya mungkin lebih pasnya seorang paman kepada keponakannya hehehe. Beberapa teman ini juga merupakan teman di sosial media, berkenalan dan sering chat di sosmed akhirnya nyambung hingga bertukaran nomor hp bahkan dulu-dulu banget bertukaran pin BBM :D Ada diantaranya masih komunikasi sampai saat ini, sudah menjadi obrolan. Tipekal teman ini beda-beda sehingga tema obrolannya juga berbeda ada yang santai, ada yang saling memotivasi bahkan ada yang suka mau diperhatikan hehehe.

Dulu, punya kenalan melalui sosmed dan ternyata tempat kerja dia dekat dengan rumah, bahkan setiap kali saya akan keluar rumah hampir dipastikan saya akan lewat di depan kantor teman ini dan kebetulan tinggal di kelurahan yang sama namun beda RT. Sempat akrab sekali dalam obrolan bahkan teman ini terbuka dengan pekerjaannya sehingga saya juga tidak menutup diri dengan pekerjaan saya. Hingga suatu saat kami bertemu kebetulan ada teman yang kebetulan menjadi temann kerja dia walau berbeda devisi dan untuk pertama kalinya kami bertemu secara langsung. Komunikasi cukup intens bahkan beliau sempat memberikan nomor HP. Namun beberapa saat komunikasi menjadi berjarak teman ini nampaknya mengganti nomor HP Cukup lama lost kontak, sempat menyapanya di sosmed namun karena melihat sosmed saat itu kurang kondusif karena dia memasang status yang mempertegaskan status dia, nampaknya dia mendapatkan "serangan" dari sosmed entah apa itu sehingga pesan saya kirimkan tidak tergubris. Semoga saja tidak ada masalah. Akhir-akhirnya ini, saya sering berpapasan di jalan, walau beliau sekarang sudah menggunakan mobil karena seringnya berpapasan sehinggal plat nomor polisnya saya hafal hehehe namun lagi-lagi ada terbesik dalam hati apakah beliau masih mengenal saya? hehehe semoga saja tidak ada kesalahpahaman atau masalah lain, apalagi beliau ini termasuk posisi yang elit, pernah sekali atau dua kali saya berpapasan walau hanya senyum hehehe. Terakhir tadi pagi, saat selepas shalat subuh saya lagi jogging pagi, tiba-tiba melintas mobil persis mobilnya, tidak merasa bahwa itu adalah dia, apalagi pengendaranya terlibat lagi buka kaca dan sedang merokok :) mungkin hanya mobil yang sama saja karena seingat saya mobil merek dan jenis serta warna yang sama banyak disini. Selepas jogging kurang lebih 25 menit saya menuju ATM dan saya kembali berpapasan dengan mobil yang melintas tadi, saking penasarannya saya menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya saya plat mobilnya sama dengan teman ini. Kejadian seperti ini bukan satu dua kali namun sering. Bertanya dalam hati, apakah teman masih ingat saya? karena kalau flashback, terakhir kami berkomunikasi itu 5 tahun yang lalu hehehe. semoga suatu saat bisa ketemu secara langsung dan bisa berkomunikasi kembali.. aamiin

Kedua, ada teman ngobrol, yang namanya sudah sering disebutkan dalam tulisan-tulisan saya, bahkan sempat saking jengkelnya saya sama dia, saya menyebutnya toxic. Mungkin karena kesalahpahaman karena ada sedikit miss saat itu sehingga saya berkesimpulan seperti itu. Sebenarnya sudah segala macam cara untuk membatasi dan menghindari komunikasi namun entah sampai saat ini saya belum punya alasan yang kuat untuk benar-benar tidak sama sekali berkomunikasi dan yang selalu aneh saya rasakan ketika saya akan berniat untuk tidak berkomunikasi seketika juga dia mengirim pesan hehehe dan memang tidak bisa dipungkuri obrolan saya dengan teman ini cukup nyambung, mau topik apa saja, namun dalam beberapa kesempatan obrolan kami kadang-kadang menjadi garing, namanya juga manusia ada pasang surutnya komunikasi, mungkin ada kesibukan masing-masing. dan satu hal yang tidak bisa dilepas sama teman ini, pasti terlintas dikepala sifatnya yang suka iseng, hehehe semoga komunikasinya masih aman-aman saja, bisa saling memahami kesibukan masing-masing bisa saling memberi support. apalagi jauh sebelumnya saya merasakan, teman ini mencari sosok kakak sebagai pengayom. Memang sic akhir-akhir ini agak terbatas komunikasi kami namun itulah ketika kita sudah saling memahami dan tahu posisi masing-masing kita menjadi tahu kapan harus bersikap dan intinya tidak cepat mengambil kesimpulan.

Bukan kali ini saja saya memiliki teman obrolan yang begitu dekat, bahkan ketika obrolan ini menjadi cair tanpa harus melihat siapa diri kita, tanpa memposisikan status pekerjaan. Saya sengaja meminta kontak beberapa kenalan yang intensitas ketemunya terbilang sering. entah itu teman sebagai jamaah mesjid, kadang-kadang saya harus meminta konta orang-orang yang saya anggap perlu untuk keperluan saya terutama untuk hal-hal yang positif misalnya saya meminta nomor hp penjaga mesjid hanya karena mau meminta izin untuk saya bisa lebih lama duduk di mesjid terutama saat shalat subuh. Saya meminta nomor hp kenalan yang sering berpapasan saat jogging biar bisa saling janjian kapan akan jogging dan berbagai alasan lainnya selama itu tujuannya positif dan menambah pertemanan yang berfaedah, kenapa tidak. bukannya semakin kita menjaga silaturahmi bisa memperpanjang umur :) semoga.. aamiin

Tarakan, 21/7/2020
Pukul    : 7.30 malam jelang azan isya

18 Juli 2020

Luruskan Niat (dalam Bekerja)

Dalam bekerja, kita berada dalam lingkungan banyak orang dengan berbagai macam karakter (watak) dan bahkan dengan berbagai macam motivasi. Sudah 12 tahun lebih berada di tempat kerja tentunya sudah saling mengetahui karakter satu sama lain bahkan sudah tahu kapan harus terlibat kapan tidak berkomentar dan sudah harus benar-benar menempatkan diri, mengesampikan kepentingan personal apalagi kepentingan terselubung. Kadang-kadang bertanya dalam diri, untuk bekerja, demi apa? apakah hanya untuk alasan ekonomi, aktualisasi diri atau alasan lain. Memang alasan ini tidak bisa kita tebak untuk semua orang, bahkan bukan hak kita untuk mencari tahu motivasi-motivasi tersebut karena bukan urusan dan area kita untuk mencampuri motivasi itu, selama tidak mengganggu sistem tempat kerja dan tidak keluar dari kesepakan yang ada, ya sah sah saja kita mengabaikan itu, yang terpenting kita bisa bekerja tanpa harus "menabrak" kepentingan orang-orang dan tetap bertegang pada aturan yang ada, mengikuti kesepakatan yang sudah ada bukan mau-mau sendiri

Secara pribadi, saya bekerja itu sudah termaksud "menghibahkan" diri untuk kepentingan bersama. sekalipun ini terbilang sulit ditengah permasalahan yang semakin kompleks dan banyak tuntutan ini dan itu terutama dalam keluarga. Namun kembali lagi apa tujuan kita bekerja. Sejauh ini saya pahami bahwa bekerja ini menjadi media untuk bisa mendekatkan diri dengan sang Khaliq. Kok bisa? bukannya pekerjaan itu identik dengan urusan dunia bahkan mengejar-ngejar materi. Memang banyak yang berpikir dan bahkan menjalankan seperti itu, bahkan pekerjaan menjadi tujuan hidup, padahal jika kita terus-terus bekerja tanpa melihat jauh ke depan terutama yang bekaitan dengan filantropy maka kita tidak akan  menemukan makna positif dari lelahnya bekerja. sebaiknya bekerja ini diniatkan untuk berbagi kebaikan, bahwa  walau semakin sibuknya dengan bekerja untuk urusan dunia maka harus niatkan pekerjaan kita ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi banyak orang sehingga cara-cara yang kita ambil dan lakukan dengan cara-cara yang benar dan pantas bukan cara dengan menyikuk orang lain dan harus diingat bahwa lelahnya ini bekerja bisa menjadi lillah, atau diberkahi Allah subhannah wata'alah.

Tarakan, 18/7/2020
Pukul    : 5.15 sore

17 Juli 2020

Jangan Cepat Berbangga Diri

Belajar dari pengalaman satu minggu ini, mungkin berkaitan dengan pencapaian diri sendiri, mungkin saya ada sifat "ambisius" untuk mencapai sesuatu, ini bukan berarti negatif, tapi lebih pada semangat dan kesungguh-sungguhan untuk mencapai dan keseriusan dalam menjalani semua itu. Misalnya dalam bekerja dan berolahraga hehe, untuk kedua ini saat ini yang menjadi fokus. Untuk pekerjaan, alhamdulillah diamahi tugas baru walau sebenarnya cukup berat tantangannya namun ini menjadi tugas yang harus dijalani. Mungkin selama ini saya merasa puas dengan apa yang saya kerjakan dan apa yang sudah saya torehkan, namun dalam beberapa hal saya masih perlu membenahai dari apa saja yang sudah saya capai terlebih posisi saat ini saya memiliki 2 atasan secara langsung, direktur dan wakil direktur. Tugas sebagai kaprodi ini memiliki tantangan di masa pandemi. Bagaimana tetap harus mencari solusi di masa pandemi agar kompetensi mahasiswa dapat tercapai. Tadi pagi kami rapat koordinasi, saya sampaikan beberapa kekhawatiran saya, terutama bagaimana mekanisme pekerjaan selama ini, karena dulu melibatkan banyak orang namun saat ini hanya beberapa terlibat dan sudah ditanggapi dengan tetap melibatkan tim dalam pekerjaan dan masih bisa melibatkan orang-orang lama yang masih dalam 1 prodi. Melalui rapat tadi saya mendapatkan banyak gambaran pekerjaan yang harus dilakukan dan satu hal yang mebuat salut adalah ketika melihat pemaparan yang disampaikan membuat geleng-geleng kepala karena sudah dipersiapkan secara matang baik konsep dan pemaparannya, saya hanya membayakngkan seandainya saya di posisi itu tidak mungkin saya bisa menyampaikan sehebat dan sematang itu karena belum tentu saya paham dan saya tahu apa yang mesti saya sampaikan. Memang perlu banyak belajar lagi, bisa jadi selama ini saya sudah merasa "cukup' dengan apa yang saya capai selama ini hingga lupa banyak hal yang perlu dikembangkan dan digali lebih jauh lagi.

Kedua masalah olahraga. hoby lari :) awalnya cukup senang dengan pencapaian selama ini, catatan terakhir saya untuk lari pagi sudah menempuh jarak 17K sementara sore hari, saya lari dengan performa yang terbaik dalam 2 kali kesempatan saya bisa mempertahankan pace 6 menit sehingga untuk 10K bisa mencapai 1 jam pas atau lebih 1 atau 2 menit. Ini menjadi pencapaian yang luarbiasa dan lagi-lagi diluar dugaan bisa kembali seperti ini. Hal yang menjadi renungan ketika bertemu kenalan yang juga suka lari, dia banyak cerita tentang senior-senior yang masih aktif lari hingga saat ini dan beliau-beliau bisa mencapai 40 K sekali lari. wow luarbiasa, masih banyak orang yang lebih hebat di luar sana tanpa sepengetahuan saya. inilah manfaat berlari menambah pertemanan baru menambah silaturahmi, walau untuk memulai percakapan dan saling nyapa itu tidak mudah, sering ketemu dan berpapasan tidak ada jaminan untuk saling menyapa. saya pribadi melihat ekspresi orang yang saya temui, jika "bersahabat" dan melemparkan senyum dengan senang hati saya akan menyambut bahkan akan menyapa ulang jika perpapasan kembali namun tidak semua orang saya temui memiliki kriteria itu, namun dari yang sekarang saya temui dan membuka komunikasi bahkan saling bertukar nomor kontak biasanya melakukan hal itu. Intinya jangan pernah puas dengan pencapaian ini, terus belajar dan belajar jangan pernah cepat puas dan jangan saling terselip dalam hati untuk "meremehkan" orang, jangan cepat mengambil kesimpulan dari yang nampak di hadapan kita. tetap positif tetap bersahaja dan tetap saling memberi semangat.

Tarakan, 17/7/2020
Pukul   : 7.40 pas azan isya

16 Juli 2020

Terus Memperbaiki Diri

Manusia tidak ada yang sempurna termasuk diri saya. Mungkin banyak yang kecewa dengan diri saya, mungkin banyak yang tidak "suka" dengan sikap saya dan semoga masih banyak yang senang dengan saya hehehe. Saya menyadari bahwa begitu banyak kelemahan yang saya miliki dan dalam beberapa kondisi, saya tidak bisa menunjukkan sesuatu yang bisa menyenangkan semua orang, walau saya masih berprinsip bahwa saya harus melalukan yang terbaik apapun yang menjadi aktifitas saya apapun pekerjaan saya apapun kondisi saya. Dulu, begitu banyak hal yang menjadi kekurangan saya walaupun itu banyak orang yang tidak tahu dan itulah manusia, dan karena Rahmat Allah subhannah wata'alah, aib-aib dan kelemahan itu masih ditutup dan tidak jarang dogaan-godaan itu sering muncul. astaghfirullah hal azim, hanya kalimat itu yang bisa diucapkan sambil mengharap ampunan dari Allah subhannah wata'alah. Saat ini, saya belajar untuk memperbaiki diri, dengan lebih mendekatkan diri dengan sang Khaliq, pemilik alam semesta. Saat inipun proses terus berlanjut bahkan ketika lagi semangat-semangatnya membenahi diri, seringkali ada situasi dan kondisi yang berhempus dengan kencang yang berupaya untuk menguji keseriusan saya apakah benar-benar serius atau hanya angin-anginan saja. 

Belajar dari pengalaman teman, ketika akan membenahi diri, lebih mendekatkan diri kepada sang Khaliq, namun karena besarnya cobaan yang dihadapi, sehingga dia berkesimpulan mending kembali seperti dulu aja, biasa-biasa saja, menjalankan amalan-amalan yang standar saja, karena ketika akan menjadi lebih baik pasti cobaan semakin besar. Pernah mendengar penjelasan dari Ustat via online mengenai kasus seperti itu, bahwa itu tahap yang dilalui seseorang yang akan dinaikkan derajatnya. pasti akan diuji, ibarat anak sekolah anak naik kelas pasti akan melalui tahapan ujian. Ujian itu semakin mempertegas memang kita pantas menjadi orang yang lebih baik lagi. Begitu juga dengan diri saya, memang tidak semudah mengkedipkan mata ketika akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi bahkan manusia dengan label ketidaksempurnaannya ada saja hal-hal yang membuat dia jatuh dan terpuruk namun dalam kondisi seperti itu Allah subhannah wata'alah tidak pernah meninggalkan kita, bisa jadi moment kerjatuhan dan keterpurukan kita itu menjadi titik balik kita menjadi lebih baik lagi. Jangan pernah lelah untuk selalu membenahi diri, sekalipun diri kita jauh dari sempurna namun paling tidak kita sudah ada usaha untuk menghilang titik-titik noda hitam yang sudah menggumpal dalam hati kita, yang sudah menjadi watak dan tabiat kita, jangan pernah berputus asa, sebagaimana Allah sudah memfirmankan "jangan pernah perbutus asa dari rahmat Tuhanmu"

Tarakan, 16/7/2020
Pukul   : 5.10 sore

15 Juli 2020

"terpancing' Amarah

Pernah suatu ketika, saya terpancing dan tiba-tiba "marah" hanya karena ada hal-hal yang tidak saya disukai terjadi, sesuatu yang sudah terjadi berulang-ulang namun tidak kunjung juga berubah. Cerita kemarin sore, ketika sedang duduk santai di kamar depan, saya mendengar "percakapan' antara rafa, anak satun-satunya laki-laki yang ingin ditemani masuk ke dalam kamar mandi karena dia ketakutan, rafa ingin menyikat gigi, namun bundanya tidak ingin masuk hingga terjadilah pembicaraan yang alok antar keduanya, rafa bertahan tidak mau dan bundanya juga bersikeras kenapa harus ditemani masuk hingga ke dalam kamar mandi, akhirnya rafa tidak jadi masuk ke kamar mandi. Begitu saya mencoba untuk menemani dan rafa memaksa untuk masuk, dan persis juga saya sama seperti bundanya bertahan tidak mau masuk, namun karena kasihan jadi saya temani hingga masuk walau dengan "percecokan" juga, karena kesal saya tiba-tiba keluar dan rafa cepat-cepat ikut keluar dengan nada marah-marah. Kemarin siang ketika lagi jam istrahat hingga jam 2, rafa tiba mengajak untuk ditemani kembali dan lagi-lagi dia mengajar harus masuk ke dalam kamar mandi, tidak mau ditemani hanya berdiri depan pintu kamar mandi, padahal posisi saya dan dia dekat sekali, akhirnya saya temani masuk namun dengan ngomel-ngomel karena kenal pas melihat rafa sudah hampir beres saya tiba-tiba keluar dan dia kaget sambil menangis karena belum selesai mandi, karena kesal akhirnya rafa mengeringkan badannya walau belum sepenuhnya membersihkan badannnya. Akhirnya dia menggunakan gamis untuk pergi ngaji, itupun harus ditemani lagi. hehehe, pagi tadi begitu saya pulang dari laripagi, saya mengajak dia untuk  mandi, kebetulan saya akan nyuci baju yang baru saja dipake untuk lari, namun kali ini rafa lebih tenang, tidak serewel seperti sebelumnya.

Memang kadang-kadang ada hal-hal yang membuat terpancing untuk marah, pernah suatu ketika, persis minggu lalu, ketika barusaja pulang laripagi, pas lagi capeh-capehnya saya melihat al Qur'an tergeletak di bawah meja kecil dengan kondisi tidaj wajar, spontan saja kata-kata "kasar" saya keluar karena ini bukan pertama kali saya melihat seperti ini, kebetulan anak-anak lagi kumpul disitu dan bundanya menemani, namun marah saya disikapi lain sehingga terjadilah pembelaan dari bundanya dengan ngegass :) , seandainya hanya buku biasa mungkin saya tidak akan merespon seperti itu karena ini adalah kitab suci yang sangat mulia saya tidak ingin anak-anak memperlakukannya seperti menyimpan buku biasa. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak bisa kita terima sehingga respon spontan adalah "marah". Pernah juga ketika lagi sulit-sulitnya keuangan, demi anak-anak saya berusaha menyenangkan mereka dengan memperbaiki sepeda mereka, hari itu sepeda zilan dan rafa masih di bengkel, namun karena ketidaksabaran rafa dan zilan sehingga sepeda si atiyah yang paling kecil masih dipakai akhirnya bannya sobek dan harus ganti ban baru, begitu baru diganti pas sorenya saya melihat rafa menggunakan sepeda atiyah padahal sudah ada sepedanya spontan membuat saya marah sama rafa, karena tidak mendengar sejak awal. 

Namun saya harus sadarm bahwa marah ini tidak boleh berlarut-larut, marah secukupnya, karena tujuannya jelas terutama untuk pembentukan watak anak-anak, mereka tidak boleh "manja" dengan kondisi dan mereka harus tahu mana yang harus dilakukan mana yang tidak perlu. Saya juga harus sadar diri, jangan sampai "marah" ini menjadi luapan kekesalan saya, bagaimanapun "marah" harus sesuai dengan porsi dan tempat yang tepat, bukan asal marah saja dengan alasan tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabka. marah harus dimampu dikendalikan bahkan disadari karena bila tidak terkontrol maka dampak yang ditimbulkan juga cukup besar, misalnya anak-anak akan belajar bagaimana marah seperti orangtuanya marah, kesalahan persepsi antara bunda dengan anak-anak bahkan dengan saya, mungkin saya harus bisa mengendalikan diri bila melihat hal-hal yang bisa memancing amarah, saya tidak perlu tergesa-gesa untuk merespon dan yang utama adalah saya harus sadar diri kalau lagi capeh, lagi banyak pikiran, lagi banyak kerjaan jadi ini bisa menjadi faktor pemicu untuk marah. sekali lagi harus benar-benar sadar diri dengan kondisi saya agar tidak mudah meluapkan amarah, jika masih bisa ditahan maka tahanlah jika harus marah harus benar bisa menguasai diri agar tidak memberi efek yang negatif

Tarakan,  15/7/2020
Pukul   :   5.08 sore

13 Juli 2020

Ketika sudah menemukan teman ngobrol

Belakangan saya masih saja mengirim pesan pada teman walau hanya becanda :) entah itu apa saja, mulai dari teman jogging, teman jalan hingga teman ta'lim. Semuanya berpulang pada tujuan dari pesan itu. Namun ada beberapa teman, yang benar-benar sulit untuk melepas komunikasi bahkan ada saja celah untuk memulai obrolan, isengnya saya itu tidak mengenal waktu jika ingin mengirim pesan asal main tembak aja hehehe semoga saja teman-teman ini paham saja dan tidak merasa terganggu hingga menjauh hehe semoga saja tidak sampai seperti itu. karena belajar dari diri saya kadang-kadang ada tipe teman yang malas untuk kita ladeni dengan pertimbangan membosankan, suka tidak tahu diri jika mengirim pesan, momen dan waktunya kurang tepat apalagi kalau kirim pesan hanya untuk mengeluh ini dan itu, jauh-jauhlah kalau seperti ini. Belakangan ini saya kembali "tergoda" dengan obrolan teman, sekalipun pernah putus komunikasi kayaknya menjadi pengalaman bagi saya untuk tidak dengan sengaja menjauh berkomunikasi walau saat ini memang ada hal-hal yang perlu dihindari namun terlepas dari itu semua, teman ini masih menjadi teman yang asyik untuk ngobrol , ada saja alasan untuk membuka obrolan, entah itu alasannya dan apa niatnya, apakah untuk berbasa-basi atau sekedar memang ada niat yang terselubung hehehe, semoga saja komunikasi yang terjalin ini masih tetap pada koridornya dan saya belajar untuk tidak membuka komunikasi yang tidak berfaedah dan mencoba menghindari itu jika ada signal ke arah sana.

Namun belakangan ini, saya pada akhirnya teman kepada siapa yang harus banyak ngobrol, kepada siapa saja saya harus meminta pendapat dan kepada siapa saja saya harus memberikan masukan. Belakangan ini saya bertemu dengan orang-orang yang suka jogging dan banyak ngobrol-ngobrol tentang itu dan saya menghindari kesan "menggurui" karena tidak sedikit dari mereka usianya lebih dari saya. Semua itu berawal dari seringnya berpapasan dalam track jogging, kemudian saling menyapa dan saling berbagi pengalaman lari. Saya yang secara penampilan saat lari menurut beberapa orang dibuat "heran" karena pakean yang saya gunakan nyaris basah semua karena keringat sepanjang lari, bahkan ada yang mengira saya baru saja nyebur di sungai :) hehehe atau baru saja membasahi tubuh dengan air :D walaupun sebenarnya keringat ini sudah dari sononya karena jangankan lari, saat makan saja saya sudah keringatan :D. Dalam kondisi seperti ini saya harus benar-benar memposisikan diri, jangan merasa hebat apalagi paling benar dan paling kuat larinya, karena ini hanya persoalan intensitas latihan lari, semua orang bisa melakukan hal yang seperti yang saya lakukan bahkan bisa lebih dari saya lakukan dengan latihan intens dan konsisten saat latihan. Saat ini di list pertemanan w.a saya ada beberapa memang merupakan teman lari, teman untuk saling mengingatkan untuk lari dan saling menyemangati dan diluar itu juga kita masih saling komunikasi apalagi kalau sudah pasang story yang menjadi pembuka saat untuk memulai obrolan. semoga semua obrolan ini menjadi berfaedah termasuk untuk pengembangan diri dan kualitas diri, aamiin

Tarakan, 13/7/2020
Pukul   : 4.14 sore

11 Juli 2020

Ruangan Baru Semangat Baru

Sejak selasa kemarin saya mulai menempati ruangan baru, ruangan sebagai kaprodi (insyaAllah) yang akan mulai efektif berjalan sepetember mendatang. dalam dua bulan ini merupakan masa transisi hingga akhir semester genap ini berakhir di bulan agustus. Selama dua tahun belakangan ini  sejak lulus pendidikan saya berada di ruang dosen, ruangan yang saya tempati ini kurang lebih 3x3m, dengan berbataskan sekat antar meja yang lain. ini merupakan meja dengan posisi saya sebagai dosen walau diamanahi sebagai sekretaris lembaga namun saya memililih untuk berada di ruang dosen agar bisa lebih leluasa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ada. Dulu saya pernah menempati ruangan yang lebih besar lagi, ruangan sebagai wakil direktur sehingga ruangannya pun terbilang luas, 2 kali lipat dari ruangan yang sekarang yang tempati saat ini. Ruangan dulu sesuai dengan pekerjaan yang lebih banyak, apalagi seringkali bertemu dengan tamu bahkan dengan orangtua mahasiswa, bahkan kegiatan-kegiatan rapat juga sering diadakan di ruangan itu. 

Ruangan ini saya buat senyaman mungkin, selain agar pekerjaan bisa berjalan dengan baik juga bagaimana caranya agar saya selonjoran hehehe saya membentangkan bekas spanduk juga untuk bisa rebahan sejenak :) hehehe ini digunakan pada saat-saat yang tepat, kaca juga ditempeli kertas agar tidak langsung bisa terlihat dari luar. Untuk saat ini kondisinya sudah sangat pas, dengan posisi meja langsung berhadapan dengan pintu ketika melihat dari pintu kaca yang tembus pandang sehingga jika ada yang mencari sisa melihat dari pintu karena setengah dari dinding kaca sudah ditempeli kertas.  Ruangan sudah diatur dan ditata sebaik mungkin agar bisa nyaman dalam bekerja dan memberikan energi positif. Pada akhirnya saya berharap bahwa ruangan baru ini, memberikan banyak manfaat,  runagnan baru, pekerjaan baru, tantangan baru. Semoga pekerjaan bisa selesai sesuai target waktu dan juga target-target pribadi juga bisa berjalan sesuai dengan target, sehingga bisa sukses kedua-duanya. InsyaAllah, aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 11/7/2020
Pukul   :  6.06sore

Menunggu hingga Matahari Terbit

Ada kemuliaan ketika mengerjakan shalat subuh di mesjid dan melakukan dzikir hingga matahari terbit, sebagaimana hadist : riwayat Umamah :
"Barang siapa yang mengerjakan shalat subuh  berjamaah di mesjid, lalu dia berdiam di mesjid hingga mengerjakan shalat sunnah Dhuha, maka dia mendapatkan pahala seperti orang berhaji atau berumroh secara sempurna"
Riwayat Anas bin Malik :
"Barang siapa yang melaksanakan shalat subuh secara berjamaah lalu dia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian dia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh" "pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna"
Melihat begitu bermanfaatnya hadist tersebut saya mengniatka diri untuk melaksanakan itu 1 kali dalam seminggu. Selama ini ada dua mesjid saya melaksanakan, di mesjid nurul hidayah kampung1 Skip dan satunya lagi di islamic center. Selepas shalat subuh melanjutkan dzikir pagi, membaca al qur'an hingga alarm dalam hp menunjukkan waktu matahari terbit, berarti waktu isyroq menunggu 15-20 menit sejak matahari terbit itu. Sepanjang waktu itu juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan instropeksi diri, merenungkan diri atas apa yang sudah dijalani selama ini, apakah semakin mendekatkan diri kepada Allah subhannah wata'alah atau sebaliknya, termasuk meningat-ingat apa yang sudah dijalankan selama ini, apakah ada "hati" tersakiti atau merasa "tersakiti" :) namun ketika memang tersakiti kembali memperbaiki "hati" jangan sampai menyimpang dendam :). 

Pengalaman selama menunggu waktu isyroq itu menjadi pengalaman saya tersendiri, saya tipe orang yang mudah tidak enak dengan orang, termasuk berdiam diri di mesjid hehehe, takut dibilang riyah atau nanti dibilang kelewat soleh hehehe, walaupun saya yakin bahwa tidak ada teman-teman jamaah yang mengungkapkan itu karena mereka pasti tahu manfaat dari semua itu. Saat di mesjid islamic center juga saya sudah menanyakan kepada penjaga mesjid apa memungkinkan untuk bisa menunggu di mesjid hingga pagi, alhamdulillah diberi kesempatan. semoga kebaikan orang-orang yang sudah memberikan kesempatan untuk diri ini bisa lebih dekat kepada Allah subhannah wata'alah mendapatkan pahala dan kebaikan lebih banyak lagi. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 11/7/2020
Pukul   : 5.40 sore

08 Juli 2020

Kembali Ke Niat

Ada hadist menjelaskan "Segala sesuatu tergantung niat", Hadist ini lebih diarahkan untuk segala ibadah yang kita lakukan semua harus niat karena Allah subhannah wata'alah, mengharapkan keridhoan Allah, apabila ibadah bukan karena Allah, maka ibadahnya akan sia-sia. Menurut para ulama, niat ini menjadi persoalan hati, yang bisa menentukan derajat seseorang, apakah menjadi orang tinggi derajatnya atau rendah. Apabila niatnya karena mengharapkan dunia maka segala apa yang dilakukannya akan mengarahkan untuk urusan dunia itu bahkan dapat menghalalkan segala macam cara. Namun urusan niat bukan tugas manusia menilainya, karena niat ini urusannya dengan hati, kita tidak bisa menilai seberapa dalam hati seseorang atau kita tidak bisa menilai. Kita hanya bisa menduga-duga dari apa yang dinampakkan dalam perilaku dari tujuan mewujudkan niat itu mau baik atau buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, diluar aktifitas ibadah, niat ini menjadi motivasi, untuk apa dan bagaimana cara kita mewujudkannya keinginan itu. sekalipun niat kita baik namun cara mewujudkannya dengan cara yang salah, maka tetap akan salah, karena akan berkaitan dengan orang lain, apakah yang kita lakukan itu merugikan orang lain atau tidak. misalnya ada yang mencuri, niatnya baik untuk memenuhi kebutuhan hidup namun akan menjadi masalah karena merugikan orang lain karena sudah mencuri. Kalu niat jahat, dilakukan dengan cara yang baik itu namanya licik, pintar menutupi niat jahat dengan tampilan baik, ada musuh dalam selimut.

Kembali kemasalah hidup sehari-hari, masalah niat dan motivasi ini menjadi persoalan yang penting dan akan lebih penting lagi jika berkaitan dengan orang lain, sebaiknya niat itu tidak merugikan orang lain, apalagi mengambil atau melanggar hak-hak orang lain. Kita harus benar-benar bisa berkompromi, kita tidak bisa memaksakan kehendak besar kita apalagi sampai mengabaikan orang lain. Ini menjadi motivasi buat saya pribadi, harus benar-benar melihat dan perlu meninjau kembali niat yang terbenam dalam diri kita, apa yang ingin kita capai, apa yang ingin kita raih, demi apa dan bagaimana cara untuk mewujdukannya itu. Jika niatnya buruk ingin menjatuhkan atau merugikan orang-orang maka yang akan terjadi upaya-upaya untuk mewujudkannya itu baik dengan cara "halus" maupun "kasar", kalau memang niat kita baik namun tanpa sadar kita melakukan hal yang salah maka sebaiknya kita kembali berbenah jangan terus terjebak dengan bisikan niat baik itu namun sudah merugikan orang lain, menghalang-halangi rejeki orang lain bahkan sampai berniat jahat pada orang itu. naudzubillah sekali lagi kembali kepada niat, niat yang baik lakukanlah dengan cara-cara yang baik, jika ada niat buruk terselulubung maka segera luruskan, karena apa yang kita lakukan tergantung niatnya dan usaha yang dilakukan juga dikembalikan pada niatnya dan selalu merefleksikan niat-niat itu apa masih berada sama koridor atau sudah melenceng.

Tarakan, 8/7/2020
Pukul   : 5.34sore

07 Juli 2020

Saya Bukan Pelari

Bahasa ini sering dikeluarkan oleh teman-teman yang saat ini mulai senang dengan lari namun sekedar untuk olahraga bukan menjadi benar-benar pelari. Sebenarnya saya juga buka pelari profesional, belakangan karena sering lari dan dalam 2 tahun terakhir ini benar-benar lari tidak sekedar untuk kesehatan, namun berlari punya target-target sendiri dengan bermodalkan aplikasi running sebagai pemandunya. Nah ketika berdiskusi dengan beberapa teman yang suka lari, ada dua pendapat, ada yang suka dengan target-target lari dan ada juga yang "masak bodoh" yang penting lari. Untuk yang kelompok pertama ini, bukan maksud untuk menggurui namum lebih berbagi pengalaman walaupun pengalaman saya masih ala kadarnya. Teman-teman yang tertarik ini, ada yang mau ikut bahkan  mengikuti jadwal latihan lari saya dan sayapun tidak memaksakan diluar kemampuan mereka. sambil saya menitipkan pesan kalau lari jangan dipaksakan, harus heppy, harus sesuai kemampuan dan harus seirama dengan denyut jantung dan napas :). Untuk kelompok kedua, memang agak susah, ketika diajak share tentang lari, mereka langsung mematahkan "saya bukan pelari", iya bener, suka lari / running bukan berarti harus jadi pelari, namun alangkah baiknya kita jangan sekedar lari dengan tetap mempertimbangkan hal-hal tadi.

Akhir-akhir ini, ibarat gowes (bersepeda) yang mulai banyak orang bermunculan suka berlari. Tempat/ track jogging menjadi ramai, mungkin orang-orang ini pada bosan di dalam rumah setelah hampir 2 bulan segala aktifitas dari rumah saja. kadang-kadang memperhatikan cara lari mereka, hehehe pada umumnya ketika memulai lari itu dengan kekuatan penuh, bahkan speednya juga cepat, akhirnya baru beberapa meter sudah harus berhenti, itulah pelari musiman, mungkin bisa jadi lari hanya sekedar mengisi waktu. Ada juga tipe orang yang suka lari untuk kesehatan, termasuk rutin melakukan lari, setiap minggu sekitar 1-2 kali, lari cukup dengan target yang sudah dijalankan selama ini, tidak ada target "ambisius", bagi mereka lari harus saya dengan target-target sebelumnya. Pelari hobi, kayak pelari kedua, tapi ini sudah sangat enjoy lari dengan kebiasaan lari, target lari ga muluk-muluk, sesuai kemampuan diri dan tidak memaksakan, namun sudah memulai punya target lari, harus begini untuk minggu ini harus seperti itu minggu berikutnya, sudah mulai melakukan latihan-latihan lain untuk memperkuat kemampuan lari hehehe kurang lebih yang saya lakukan. Pelari terakhir ini pelari profesional, pelari yang benar-benar sudah menjadikan passion. Uda meliki target-target ikut event lari, sudah punya koleksi medali finisher dan punya jadwal intens untuk latihan lari.

cerita sedikit tentang kejadian sabtu sore, ketika harus mengganti lari pagi di waktu sore karena sepanjang subuh hingga jam 9pagi terus hujan. Begitu sudah mendapatkan pace dan durasi diatas ekspektasi, tiba-tiba bisa lari 1 K 6 menit sehingga bisa mendapatkan lari 5K dalam 30 menit, 10 menit dalam waktu 60 menit dan 15 K dalam waktu 1 jam 30 menit, pace konsisten di angka 6.07menit, capaian ini terakhir kali ketika sebelum menjalani terapi di awal tahun 2020, kejutan lainnya ketika lari pagi sudah mencapai 17 K targetnya adalah isnyaAllah akhir tahun ini sudah mencapai 20 K :), saat kembali menjalani lari sore senin kemarin juga pace terbilang stabil diangka 6.3menit/KM dalam kondisi sedang berpuasa. Alhamdulillah. Dibalik cerita itu juga saya akhirnya berpapasan lari dengan salah 1 orang yang sering lihat saat lari, sambil cerita, rupanya dia sudah tahu saya sejak lari di datu adil, berarti itu sekitar tahun 2014-2015 dan saat lari di TBK selama masa pandemi ini juga dia memperhatikan siapa-siapa saja yang sering lari, hehehe mungkin karena seringnya bolak balik di tempat yang sama sehingga apa wajah kita menjadi familiar, akhirnya saling ngobrol. Termasuk ada salah seorang pemuda, mungkin saking seringnya berpapasan hingga menjalin komunikasi dan saya bisa share pengalaman lari. Inilah sisi lain nikmatnya berlari, selain kita menikmati lari dan merasa bahagia saat selesai lari, juga dapat memperbanyak teman dan silaturahmi

Tarakan, 7/7/2020
Pukul   :  17(5).45 sore

05 Juli 2020

Ketika Keluar dari mesjid

Semua orang pasti sepakat bahwa mesjid merupakan tempat yang paling menyejukkan untuk bathin. Beberapa kali ketika menghadapi masalah yang runyam dan pikiran menjadi "kacau" maka mesjid menjadi pilihan utama untuk menenangkan hati sejenak, menghentikan segala pikiran yang mengganggu. Bahkan sengaja berlama-lama di mesjid hanya ingin "mengaduhkan" hati yang runyam. sekalipun tidak langsung solusi yang diiginkan hadir saat itu, namun paling tidak hal yang paling utama, "mencegah" pikiran makin liar kemana-mana bisa diantisipasi, berharap bahwa masalah ini segera mendapatkan solusi, bahkan ketika duduk menghadap kiblat merasakan ketenangan yang luar biasa. Mesjid juga menjadi tempat dalam meperdalam ilmu agama, melalui mesjid banyak ta'lim diselenggarakan dengan berbagai tema bahasan bahkan dengan berbagai sudut pandang, kita sisa memilih yang sesuai dengan hati kita.  

Bila menoleh ke belakang, salah satu wasiat orang tua saya sejak kecil adalah untuk "mencintai" mesjid, harus sebisa mungkin menjalankan shalat fardu di mesjid, sejak kecil bahkan terkadang orangtua agak "memaksa" untuk menjalankan shalat di mesjid, pernah mungkin saat saya masih kecil kayaknya belum sekolah :) seingat saya saya sempat menangis sekuat-kuatnya tanpa sebab ketikaayah saya mengajak ke mesjid namun saya tidak sampai ke mesjid karena terus menangis dari tempat yang tidak jauh dari mesjid sehingga ayah saya beberapa kali hanya untuk menenangkan saya agar saya masuk ke mesjid namun saya tidak kunjung berhenti menangis hingga shalat fardu itu selesai. kedua masih dalam ingatan saya ketika masih kecil karena sering diajak ke mesjid saat subuh, saking mengantuknya dan tertidur dan tiba-tiba ngompol hehehe. Pada usia remaja juga terutama saat ramadhan saat-saat paling intens ke mesjid. satu cerita lagi seingat saya masih SD, ketika ayah saya masih sering berpergian ke luar kota untuk menjual sehingga saya selalu berdoa lama sekali di mesjid sampai selesai orang bubar shalat, ada salah satu jamaah menanyakan kenapa lama sekali berdoa, saya spondan menjawab sedang mendoakan ayah saya yang sedang merantau. keinginan selalu shalat di mesjid ini akan selalu membawa saya pada sosok ayah (almarhum) ayah saya :)

Untuk beberapa minggu belakangan ini, saya memiliki agenda dalam sekali seminggu sehabis shalat subuh untuk diam duduk berdzikir hingga menunggu waktu terbit matahari. dua mesjid yang menjadi pilihan saat ini adalah nurul hidayah Skip kampung 1 dan Baituh Izzah Islamic center Tarakan. Mesjid pertama merupakan mesjid yang paling sering saya menjalankan shalat fardhu ketika jam kerja yaitu zuhur dan ashar, sementara islamic center mesjid yang paling sering saya lakukan untuk shalat subuh dengan beberapa pertimbangan misalnya pas hari dimana saya harus lari pagi (Rabu dan Sabtu) atau dihari-hari biasa jika memang bangunnya lebih awal dan bisa jogging sekitar 20 sampai 30 menit setelah sehari sebelumnya larisaore atau pagi. Di dekat rumah ada mesjid,  lebih banyak saya menjalankan shalat maghrib dan isya di situ. 

Kembali ke kondisi saat ini, tantangan kemudian adalah ketika keluar dari mesjid. Dapatkan kita menjaga hati kita dan yakin bahwa Allah subhannah wata'alah selalu mengawasi kita? ketika di dalam mesjid kita memperdalam ilmu dan mengamalkannya dalam beberapa kegiatan ibadah yang bisa dijalankan di dalam mesjid. Ketika berada di luar mesjid ketika kita benar-benar disibukkan dengan urusan pekerjaan ketika ketika merasa sudah selesai menjalankan segala ibadah di waktu-waktu istimewa, bagaimana "kekuatan" hati kita untuk tetap berada di jalan yang di ridhoi? memang tidak mudah mempertahankan nilai-nilai ibadah yang selama ini kita pegang jika kita jauh dari mesjid apalagi untuk jarak antara shalat, kita disibukkan dengan urusan kerjaan, urusan rumah belum lagi ketik ketidaksabaran kita ketika ada masalah, ketika menghadapi masalah yang itu-itu terus sehingga kita menjadi bosan bahkan jenuh sendiri dengan kondisi seperti itu?

Saat di luar mesjidlah perjuangan kita sesungguhnya, bagaimana kita bisa mempertahankan kadar iman kita apapun kondisinya, bahkan sebuah kondisi dimana kita yakin bahwa Allah subhannah wata'alah sedang mengawasi kita, kita yakin bahwa apapun yang kita lakukan ini (di luar mesjid) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Orang lain hanya bisa mengingatkan kepada kita namun yang lebih menyadarkan diri adalah diri kita sendiri dengan penuh keyakinan. Tetap yakin, tetap semangat, sekalipun terkadang kita lalai, namun  jangan sampai karena kita selalu menjadi pecinta mesjid menjadikan kita merasa sudah paling benar hingga lupa meminta ampun kepada Allah subhannah wata'alah, karena kita sebagai manusia kadang-kadang lalai dan berbuat dzalim terhadap diri kita sendri, manusia masih banyak salah, masih butuh bimbingan dan arahan dari sanga Maha Pemilik Alam semesta Allah subhannah wata'alah.

Tarakan, 5/7/2020
Pukul   : 6.01 sore

03 Juli 2020

Memulai Tantangan Baru

Hari ini, tanggal 3 Juli 2020 jam 9.00 pagi tadi dilakukan pelantikan pejabat di lingkungan politeknik kaltara. Berdasarkan SK ini, saya diamahkan menjadi ketua program studi keperawatan untuk masa bakti 2020 sampai 2024. Untuk menjadi prodi sendiri, sebenarnya ini bukan pertama kali seperti ini, pertengahan tahun 2010 saya diamanahkan menjadi wakil direktur hingga 6 tahun, ini di dua kali direktur berganti, saat pertama masih direktur yang menjawab hingga 2014, kemudian pergantian direktur masih diamanahi hingga 2016 sebelum saya melanjutkan pendidikan magister keperawatan di Bandung. Selama kurang lebih 6 tahun itu banyak pengalaman yang saya dapatkan termasuk pengalaman dalam "mendewasakan" diri dalam menghadapi segala problema akademik, bagaimana harus mengarahkan dosen dan bagaimana harus berhadapan dengan dosen baik yang seberangan maupun yang searah, karena dalam beberapa kesempatan terkadang ada hal yang tidak disepakati dan ada hal yang tidak disepekati, itulah namanya dinamika dalam berorganisasi tidak terkecuali dalam pekerjaan, kita berhadapan dengan berbagai macam karakter, kita berhadapan dengan latar belakang daerah, bisa jadi kita berhadapan dengan kampus asal, namun semua perbedaan itu harus berlebur dalam satu institusi saat ini.

Hari ini, menjadi langkah untuk kembali memulai apa yang sudah pernah digoreskan, walau kondisinya agak bedah, dengan kondisi di bawah naungan institusi yang telah menggabungkan 3 program studi, tentunya untuk jangkauannya lebih spesifik kepada keilmuan keperawatan. Rutinitas mulai mengkoordinasikan kegiatan akademik, proses akademik, penilaian hingga evaluasi, semoga apa yang bisa dilakukan, semoga apa yang menjadi cita-cita bersama bisa terwujud hingga menjadikan institusi ini lebih unggul lagi, lebih maju lagi, memiliki kualitas yan lebih baik lagi dan bisa bersaing baik secara lokal maupun nasional. Kedepannya saya belajar lagi untuk menampilkan leadership yang lebih humanis, menampung aspirasi rekan-rekan dosen, mencoba menghilangkan kepentingan pribadi yang terselubung, menunjukkan sikap mengakomodir siapa saja tanpa harus membanding-bandingkan,  atau membeda-bedakan, satu kepentingan bersama demi kemajuan bersama. Dua bulan kedepan menjadi bulan transisi, sampai menunggu berakhirnya semester genap yang sedang berjalan saat ini. Tetap berpikir positif, tetap memperhatikan target-target pribadi baik untuk pengembangan diri maupun hobi termasuk jangan sampai mengabaikan keluarga, sesibuk apapun, jangan sampai membawa pekerjaan di rumah. Manfaatkan waktu dengan baik bersama keluarga

Tarakan, 3/7/2020
Pukul.    : 5.43sore

02 Juli 2020

Mengamalkan Ilmu yang Dipelajari

Qadarallah, ketika akan mencurahkan isi hati mengenai kegalauan beberapa hari belakangan ini, bukan karena persoalan antar manusia namun lebih kepada ikhtiar untuk menjadi lebih baik lagi, sektika pagi ini saya mendapatkan sirahan qalbu dari ustat Nurul Dzikri di awal ta'lim hari ini mengenai sikap kita ketika mendapatkan kendala-kendala yang tidak kita duga. Selama ini, ketika mendengarkan ta'lim dari beberapa ustat baik secara online maupun secara langsung, ketika berniat akan mengamalkan tidak sedikit halangan-halangan yang dihadapi bahkan ketika sedang menjalaninya juga mendapatkan halangan dan kendala yang tidak sedikit. Kendala ini bisa berupa "dosa" di masa lalu yang kembali "terbayangkan" ada bisikan-bisikan bahwa "kita tidak layak menjadi orang baik, sudah seperti yang dulu, tidak usah berlebih-lebihan". 

Kendala itu bukan masalah namun jadikan ibroh, ini barusan disampaikan ust. Nurul Dzikri. Menurut beliau ketika ada kendala "saatnya amalkan ilmu yang didapatkan selama ini, bisa berupa membaca dzikir pagi, membaca alqur'an". Beberapa "kesalahan" yang sadar ataupun tidak saya lakukan, keseketika berpikir, ya Allah, memang tidak mudah untuk saya menjadi lebih baik, namun bukan karena "kelalaian" yang kembali saya lakukan ini, menjadikan saya lelah mencari dan menemukan cahayaMu, beri saya kekauatan Ya Allah, saya ingin melewati semua rintangan ini dengan tetap berada di jalan Mu, Jauhkan hamba dari riak-riak sombong yang masih terbesik di dalam hati hamba, hamba tidak ingin menjadi orang yang mudah menyalahkan orang lain, mudah menyalahkan diri sendiri bahkan mudah terpancing emosi sesaat.

Inilah menjadi kendala, namun jangan dijadikan alasan untuk tidak mau membenahi diri, semua nabi-nabi yang diutus di muka bumi ini mendapatkan masalah-masalah yang sangat luar biasa namun tetap teguh pada jalan Allah walau tidak sedikit pengorbanan yang harus dilakukan da dilalui. begitu juga dengan manusia, sudah difirmankan bahwa manusia dibebani dengan masalah sesuai dengan kemampuannya, ketika akan menjadi lebih baik maka dengan serta merta akan banyak tantangan dan rintangan yang datang menghampiri namun jangan menyerah, itu sebagai ujian untuk mengetahui sejauh mana keseriusan yang kita lakukan, ketika jatuh kembali bangkit, ketika berbuat salah, tobat, salah lagi, tobat lagi terus seperti itu sebelum pintu taubat ditutup saat sakratul maut. Ya Allah, semoga cahaya iman, rahmat, taufiq dan maghfiruh Mu selalu ada dalam sanubari hamba yang penuh kelemahan. aamiin

Tarakan, Ditulis     29/6/2020  jam 8.05 pagi
              Diposting 2/7/2020    Jam 4.45 sore

Memahami Diri

ini untuk sekian kalinya saya menulis tentang ini, lagi-lagi tidak bisa dihindari banyak sekali hal yang belum sepenuhnya sempurna pada diri saya, ketika saya lagi gencar-gencarnya membenahi diri, ketika itu pula saya mendapatkan tantangan yang begitu besarnya, memang benar ungkapan bahwa, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. ketika kita harus berjuang melawan gejolak dalam diri yang begitu benar, gejolak itu lebih kepada penyaluran diri yang bertolak belakang dengan nurani kita sendiri, tantangannya adalah bagaimana kita harus mengontrol diri kita agar tidak menjeruskan pada hal yang memiliki dampak negatif. selama ini sudah berusaha keras untuk tetap pada korido, tapi tetap saja arus deras godaaan itu begitu besar, apalagi ada faktor pencetus, masalah ini lah masalah itu lah, sudah mencoba untuk berdamai dengan semua itu bahkan tidak ingin menjadikan pelarian dari masalah yang ada, karena dengan masalah itu kita bisa belajar lebih bijak dan dewasa. Namun itulah hidup dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia masih saja terjatuh pada jurang dan lubang yang sama.

Tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, apalagi untuk diri sendiri, yang terpenting untuk saat ini adalah memahami diri,bahwa kita sepenuhnya masih lemah, kita sepenuhnya belum bisa sempurna, kita sepenuhnya masih banyak kekurangan, masalah demi masalah, kegalauan demi kegalauan datang silih berganti tinggal bagaimana saja kita menyikapinya dan belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Jatuh harus bangkit, jatuh lagi harus bangkit lagi, jatuh terus bangkit lagi karena suatu saat perjuangan ini akan menunai hasil, sekalipun bisa jadi masih tidak seperti ekspektasi kita namun paling tidak kita menghargai apa yang kita miliki saat ini dan apa yang sudah kita capai saat itu, sambil belajar terus belajar untuk membenahi dan memperbaiki diri.

Rasa penasaran yang begitu besar, ingin mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita ketahui, apalagi yang memiliki jebakan. Terkadang dalam masih bertanya sudah siapkah saya berubah? atau begitu tebalnya titik noda hitam dalam hati sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk bisa benar-benar bersih. sekali lagi tidak ada alasan untuk menyalahi diri sendiri, memang tidak mudah untuk menghilangkan noda-noda itu, setiap kali kita sudah berusaha menghilangkannya setiap kali juga akan ada tantangan yang harus kita hadapi, memang tidak mudah namun bukan karena alasan ini, menjadikan kita mundur dan kembali tenggelam dalam dunia yang penuh kefanaan ini, teruslah menyelam hingga pada tujuan yang akan dicapai, sekalipun dalam perjalannya akan banyak arus, tekanan, bahkan halangan-halangan yang muncul. optimis dan tetap fight, jatuh bangkit lagi jatuh bangkit lagi. terus seperti itu

Tarakan, ditulis      : 27/6/2020 jam 4.48 sore
               diposting :  2/7/2020  Jam 4.40 sore 

Keutamaan bulan Mulia (Haram)

Di dalam islam, selama ini kita hanya mengenal bulan Ramadhan sebagai bulan yang sangat istimewa, 1 bulan yang disiapkan dari 12 bulan ada untuk menjadikan bulan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan amalan-amalan sekaligus sebagai bulan untuk mendetoksikasi dari pada yang sudah konsumsi selama 11 bulan sebelumnya, apapun ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan dilipatgandakan pahala yang akan didapatkan dan di dalam bulan ramadhan ada malam yang sangat mulia dan dinanti-nantikan karena lebih muliah dari 1000 malam. Selain bulan ramadhan tersebut terdapat bulan haram atau bulan muliah sebagaimana dalam QS : At-Taubah(9):36) :

"sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia) maka jangan menzalimi diri kalian (dalam bulan-bulan tersebut) dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, Dan ketahuilah Allah bersama orang-orang bertaqwa"
Hadis Nabi :
"Satu tahun ada 12 bulan, diantaranya ada empat bulan haram , 3 bulan berturut-turut dan satunya terpisah sendiri. 3 bulan berturut-turut (Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Al Muharram dan yang terpisah sendiri adalah Rajab"
menurut UAH keistimewaannya : jangan berbuat dzlim (maksiat/ menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya) di bulan-bulan tersebut, jadi ada perintah maka haris dikerjakan, jika ada larangan harus ditinggalkan. jika maksiat ditinggalkan di bulan ini maka akan mendapatkan pahala dua kali lipat dihari-hari sebelumnya. sebaliknya jika melakukan hal yang mendzalimi diri sendiri maka akan mendapatkan dosa. Menurut Ust Nurul Dzikri, karena kemuliaan bulan-bulan haram ini, maka sebaiknya kita tetap menjalankan amalan-amalan sama seperti saat bulan ramadhan, kita tetap melakukan tadarrus alqu'an, bangun malam untuk tahajjud, melaksanakan puasa senin kamis dan memperbanyak sedekah. Semoga saya tidak menyianyiakan bulan yang mulia ini, aaminn 


Tarakan,  ditulis       : 25 Juni 2020/ 3 Dzulqo'dah 1441 H
                diposting  : 2 Juli 2020
                Jam          : 9.12 pagi





Welcome Juli

Hari ini, merupakan hari kedua di bulan Juli, Awal bulan juli ini disambut dengan banyak kejutan, ada kejutan yang menyenangkan hati dan ada yang sebaliknya. Kejutan yang menyenangkan hati, ketika selasa kemarin secara sah keluar surat keputusan kementerian pendidikan dan kebudayaan tentang penggabungan akper kaltara sebagai tempat saya bekerja dan Akfar dan ditambah satu prodi D4/S1 Promosi kesehatan, perjalanan sampai ke tahap ini cukup panjang, hampir setahun setelah visitasi lapangan dan terkendala ketika terbitnya SK diwaktu yang bersamaan kementerian pendidikan tinggi kembali bergabung dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan sehingga untuk birokrasinya ikut terhambat karena ada perombakan disana sini. Senin, sehari sebelum keluarnya SK ini, ada pertemuan di kantor yang membahas permasalahan keuangan kampus sehingga untuk kedua kalinya tunjangan tidak akan diberikan. Ketika diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat, saya menyampaian padangan dan kegelisahan hati. Sekalipun untuk subjektif, ada beberapa yang saya sampaikan berdasarkan informasi yang valid dan curhatan beberapa mahasiswa. Semua pegawai menyampaikan kegelisahan diri, bahkan sampai pada didik pimpinan menyampaikan "persoalan pribadi" yang cukup membuat orang-orang termenung, dari masalah kerjaan secara profesional hingga jalinan komunikasi dengan pemilik yayasan, karena diluar tempat kerja. beliau adalah putra pemiliki yayasan dan salah satu jajaran pimpinan yang juga merupakan kakak dari beliau, juga menyampaikan unek-unek dampaknya masalah tidak menerima tunjangan hingga tidak menerima tunjangan hari raya masuk kedalam "masalah" hubungan anak dan orang tua, karena kedua posisi tersebut untuk sulit membedakan pada saat di kantor sebagai pegawai dan diluar kantor sebagai anak.

Berita yang tidak menyenangkan yang menyambut bulan Juli ini adalah ketika anak ketiga saya, terpeleset dan kejebur dalam parit yang cukup dalam sehingga harus diselamatkan sama tetangga yang tidak jauh dari parit tersebut. Saat itu posisi saya sedang lari sore di saat-saat mennyelesaikan target 12 K. Anak-anak menelpon hingga menangis-nangis kuat karena tidak kuasa melihat dan mengingat-ngingat kejadian saat adik mereka jatuh kejebur dan sempat tidak terlihat beberapa saat. Alhamdulillah, anak-anak dengan begitu sigapnya meminta pertolongan dengan tetangga yang dekat dengan parit tersebut dan sempat menyilam 2x kali yang menemukan anak saya. Dalam kondisi masih sadar akhirnya anak saya dibawa ke rumah untuk dibersihkan, istri yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaan rumah kaget dan langsung membersihkan badan si anak. Begitu menyelesaikan larisore, saya beranjak ke rumah dan melihat kondisi anak saya masih sadar namun agak lemas dan rambutnya masih bau minyak dan cukup pekat. saya menyarankan kepada istri untuk tetap membawa ke rumah sakit takut akan terjadi apa-apa ketika malam dan setelah di IGD, dokter menyarankan untuk diobservasi selama 24 jam di ruang perawatan. hari ini hari ketiga dirawat dan kondisisnya sejak awal seperti biasa namun hasil rongent terdapat air sehingga masih harus di rawat hingga jum'at besok.

Bulan, Juli menjadi penanda bahwa setengah perjalanan ditahun ini telah berlalu, dengan kondisi pandemi seperti sekarang ini, menjadikan kondisi jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya bahkan hingga tulisan ini, indonesia measih menunjukkan lonjakan kasus yang cukup tinggi, sudah ada50rb lebih penderita positif korona dan pertambahan jumlah pasien positif baru 1000an lebih perhari, dengan kondisi pelanggaran aktifitas orang-orang dimana-mana menjadi keprihatinan semua orang dan semakin betanya sampai kapan wabah ini akan berakhir. Kondisi ini jangan menyurutkan kita untuk menyelesaikan beberapa target kerjaan, saya masih memiliki agenda besar dalam penelitian dan mau menyelesaikan dua artikel dalam bulan ini semoga saja bisa terwujud, karena dibulan-bulan ini rutinitas pembelajaran tidak padat dan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan diluar kulaih dan bimbingan cukup terbuka lebar. Target lain sebagai moment untuk terus memperbaiki diri juga tidak luput dari hal yang harus saya pertimbangkan, bagaimana menentukan sikap dan bagaimana harus tetap melakukan hal-hal positif untuk kebaikan diri sendiri. Semoga semua berjalan lancar dan apa yang ditargetkan bisa tercapai. aaminn ya rabbal alamin

Tarakan, 2/7/2020
Puku    : 8.36pagi