24 Oktober 2020

Ibarat Melepas Kejaran "Bayangan"

Ini merupakan tulisan ke-200 di tahun ini, alhamdulillah di melebihi ekspektasi saya menulis selama ini. Di awal tahun memang saya menargetikan untuk menulis 20 judul dalam setiap bulannya. Bulan berganti, waktu mencapai 100 judul itu sudah senangnya luarbiasa, saat itu kesibukan belum seberapa jika dibandingkan dengan sekarang dengan amanah yang diberikan dari tempat kerja. Saya awalnya juga berpikir bahwa saya bisa jadi tidak punya waktu lagi untuk menulis 20 judul lagi, sore ini menjadi bukti bahwa di tengah kesibukan seperti saat ini, masih bisa menyempatkan diri untuk menulis dan terus menulis menyelesaikan target dalam setiap bulannya. Rupanya makin ke sini makin terasa bahwa begitu banyak hal yang bisa dituangkan dalam tulisan dengan kesibukan seperti saat ini, makin banyak situasi yang dijalani untuk metuangkan dalam tulisan, mulai dari masalah pribadi, kerjaan, tuntutan keluarga, aktualisasi diri bahkan pengembangan ilmu agama. Untuk judul yang menjadi inspirasi sore ini. benar-benar menguras tenaga dan hati terutama dalam satu minggu ini dan masih ada keterkaitan dengan tiga judul sebelum tulisan ini.

Ada hal yang begitu sulit untuk diungkapkan, namun selalu saja muncul ketika lagi lengah dan iman menurun bahkan menjadi pelarian dari masalah dan banyaknya pikiran yang membebani. Namun untuk kali ini, benar-benar  itu semua tidak ada, saat ini, saya benar-benar lagi tidak ada masalah yang membebani, iman alhamdulillah masih stabil dan tetap berjalan seperti biasa, pekerjaan masih berjalan walau masih ada beberapa target yang harus diselesaikan hingga akhir bulan ini. Saya benar-benar dalam kondisi fine-fine saja. Namun kenapa pikiranku saat ini diracuni dengan pikiran-pikiran yang kurang sedap, bahkan spontanitas diri saya begitu tidak bisa terbendung, saya seolah lupa bahwa saya ada yang diawasi, saya yang mencatat gerak gerik dan semua apa yang saya lakukan. Saya seolah lupa bahwa pikiriran-pikiran negatif ini kurang pas untuk terus dilanjutkan, spontanitas itu tidak begitu baik untuk dipertahankan. Cukup sudah saya menghindari semua ini, bahkan dalam 3 bulan terakhir saya begitu kuat menghindari bahkan menjauhkan diri, namun hanya karena rasa penasaran dengan berita yang ada, saya begitu dibuat penasaran dengan realitas dibalik itu semua, ini semua tidak terlepas dari kedekatan saya dengan beberapa teman selama ini. Mungkin karena rasa bangga dan kagum dengan profesi mereka sebagai garda terdepan bangsa, begitu senang berkawan  dengan mereka, banyak hal positif yang diambil terutama masalah kedisiplinan. 

Godaan dan bisikan serta rayuan dari jebakan dunia inilah yang memang sulit dihindari, saya dan bahkan hampir setiap orang melewatinya. Bagaimana kesiapan diri kita melewati semua cobaan dan rayuan dunia. Sebagaimana dalam alqur'an: kesenangan dunia ini hanya sementara dan hanya menipu, namun banyak orang yang terjebak di dalamnya seolah-olah lupa bahwa hidup di dunia tidak selamanya begitu juga kesenangan semua akan dimintai pertanggungjawaban, itupun kalau mereka sadar. Kalau tidak sadar? wallahua'alam bishawab. Ini juga pelajaran bagi diri saya, bukan berarti saya sudah baik, hanya karena sudah rutin menjalankan ibadah, alhamdulillah. bisa menjalankan amalan-amalan sunnah, sudah mengikuti ta'lim online, berusaha terus muhasabah diri, dan merasa sudah lebih baik dan  merasa sudah hebat sampai merasa tidak akan pernah lepas dari dogaan dan tipuan dunia melalui bisikan syaitan ? perlu disadari bahwa itu semua menjadi ujian terbesar dalam hidup ini. Ibarat bayangan, godaan dan rayuan kesenangan dunia itu begitu nyata, semakin kita berlari maka semakin dia mengejar kita dan kita tidak pernah lepas dari kejaran itu bahkan ketika kita mendiamkan, dia akan tetap diam mengikuti dan suatu saat dia akan menjebak dan masuk perangkapnya. Hanya pertolongan Allah subhannah wata'alah yang bisa melepaskan kita dari jebakan dunia ini. Kita harus sadar bahwa ada bekal yang harus kita bawa pulang ketika menghadapNya kelak. Kenangan dunia hanya menipu. itu saja

Tarakan, 24/ 10 / 2020
Pukul   : 5.25 sore

19 Oktober 2020

Ketika ada bisikan menguatkan vs melemahkan

Pernah tidak menghadapi situasi yang benar-benar membawa kita pada kondisi pada seolah-olah kita "berkelahi" dengan diri sendiri. Kita menghadapi  gemulut hati (baca : hati setengah gila) yang benar-benar menyedot perhatian kita sendiri. Entah asal muasalnya dari mana, mulanya perdebatan itu, kita tidak sedang berdebat dengan lawan bicara namun kita berdebat dengan diri kita sendiri tentang hal-hal yang sangat prinsipil. Ada dua kekuatan yang kita hadapi dalam diri kita sendiri, "bisikan" yang menguatkan dan bisikan yang melemahkan dan tidak jarang bisikan yang kedua ini yang paling mendominasi, rasa ketidaksabaran kita dan logika yang dikembangkan dengan penuh retorika menjadikan kita mengiyakan tanpa berkompromi kembali, seolah sudah terhipnotis, kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa, yang kita lakukan adalah menuruti naluri tanpa proses filter lagi. Namun sesekali bisikan yang menguatkan kembali terdengar walau sayup, naluri yang masih menguasai belum bisa menepaskan dari jeratannya dan kali ini suara kekuatan itu kembali mengingatkan  agar kita berpaling dari jalan yang berbelok ini. Sesaat kemudian, kita sedikit dibuat sadar dengan apa yang kita sudah lakukan, namun kembali suara kelemahan itu tidak tinggal diam dan selalu berusaha mengalihkan dengan menunjukkan "hasrat" tersembunyi dan selama ini mencari jalan penyalurannya. Keduanya ini terus membisikkan, mereka tidak pernah lelah untuk menggiring diri kita. Semua berpulang sebagaimana kita bisa "mengiyakan" kedua bisikan itu dan mengendalikannya walau memang tidak akan mudah.

Begitulah kehidupan, ketika kita dihadapkan dengan situasi yang menyulitkan bahkan berbahaya buat kita, kita sulit sekali mengambil keputusan, kita dipacu dengan putaran waktu harus memutuskan apa, dan kita ikut yang mana. Disinilah pintar-pintarnya membawa diri, kita perlu waktu sejenak untuk merenungi semua itu, apa konsekuensi apa dampak yang harus kita tanggung dan apa manfaat yang kita dapatkan. kita harus berani membela diri bahwa kita bisa melakukan yang lebih  baik, kita harus berpikir lebih tanpa terus mengikuti naluri yang terus mengalir dan menggelapkan pandangan kita, kta butuh upaya rasional diri agar tidak terjebak lebih jauh dengan situasi yang "menipu" ini, memberikan kesenangan namun hanya sementara bahkan secara diam-diam menjebak diri kita agar kita terjatuh bahkan menjadi hina. Sudahlah tidak perlu memberikan rasa "empati" pada diri sendiri yang begitu lemah dan berusaha untuk menjauhkan diri kita dari jalan kebaikan dan kebenaran, ada situasi yang memang tidak perlu kita kompromikan, apalagi mengenai pandangan dan prinsip hidup. Namun kita perlu sadari, sekuat-kuatnya kita bisa membentengi diri, dengan label diri kita sebagai manusia, yang sepenuhnya belum sempurna, pada kondisi dan situasi ini, kita membutuhkan bantuan Illahi robbi, Tuhan Alam semesta ini, karena Dia yang mengendalikan segala apa yang ada di alam semesta ini, walau semua itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan dari kita, karena pada situasi seperti itu hanya cahaya iman yang bisa mengantarkan kita pada jalan kebenaran dan kebaikan agar kita tetap berada di jalan yang lurus dan jalan yang diridhoi Allah subhannah wata'alah. InsyaAllah.. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 19/10/2020
Pukul   :  6.19 pagi

18 Oktober 2020

Mau Sampai Kapan ?

Sampai saat ini saya juga belum menemukan alasan yang tepat untuk menghilangkan kebiasaan dulu saya ini. Sudah beberapa bulan mengganjalnya namun pada akhirnya saya jebol juga. Sudah berusaha melakukan ini dan itu tapi tetap juga belum menunjukkan hasil malah makin kencang terasa. Padahal saat ini saya masih menikmati sedang bagus-bagusnya kondisi, seharusnya saya lebih bersabar dan bersyukur, seharusnya saya lebih menahan diri terhadap apa yang saya rasakan saat ini. Gejolaknya begitu terasa hingga saya sendiri tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Saya harus lebih bersabar lagi menjalani hari-hari. Dulu saya belajar berdamai dengan situasi ini, entah mengapa tiba-tiba hanya karena membaca satu berita yang ada kaitannya dengan patnert saya, saya seolah-olah tidak habisnya mencari informasi lebih jauh. dan ternyata semua ada jalannya, semua ditunjukkan apa dibali semua yang terjadi terus sampai kapan saya bertahan seperti ini. tangan saya seolah-olah tidak pernah lepas, dada saya terasa terdorong kuat untuk melakukan ini, hati saya seolah-olah mati bahkan saya sempat tidak peduli dengan segala kemungkinan yang terjadi, bahkan saya sudah tidak peduli lagi dampak yang akan terjadi. Bahkan lebih anehnya lagi saya kembali melakukan hal yang selama ini saya hindari, saya menghubungi teman hanya sekedar bercanda gurau padahal selama ini saya sudah hindari.

Entah sampai kapan terus begitu, sebenarnya saya sudah muak dengan semua ini, namun diri ini diam-siam menikmati semua moment yang ada, kesenangan semu yang datang dan dirasakan entah bertahan sampai kapan. kenapa seolah-olah saya tidak bisa keluar jebakan ini, padahal dengan segala upaya saya lakukan. lagi-lagi hanya karena penasaran, dan terus menikmati penasaran itu, padahal inilah yang menjadi perjuangan yang selama ini, inilah yang selama ini saya hindari, namun bukan berarti saya menyerah, saya akan kembali berusaha dan bangkit menjauhkan saya dari semua ini. bismillahirohmanirohim.

Tarakan, 18/ 10 / 2020
Pukul   : 5.58 sore

17 Oktober 2020

Allah Maha Melihat

Tidak ada yang bisa kita tutupi dalam kehidupan ini, sekalipun penglihatan manusia sangat terbatas, namun Allah subhannah wata'alah tidak pernah lepas dari pengawasannya kepada seluruh alam semesta tidak terkecuali bagi kita manusia makhluk yang sangat lemah ini. Manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya melakukan banyak hal yang mendzalimi diri sendiri bahkan orang lain tanpa pernah "takut" bahwa ada yang selalu mengawasi, bahwa ada yang tidak pernah luput dari dari pantauan Allah subhannah wata'alah, apa karena lemahnya iman sehingga rasa "takut" itu seakan sirna, kita pasti membela diri dengan mengatakan asal bukan manusia yang langsung mengawasi, mungkin ini yang menjadikan begitu banyak kedzaliman yang ada, bahkan diri kita, ketika sadar bahwa ada hal yang kurang baik kita lakukan, namun siapa yang bisa mencegah kita selain diri kita sendiri. Apakah memang karena kelemahan kita sebagai manusia hingga kita tidak bisa membimbing dan membawa diri kita kearah yang lebih baik. Belum lagi dengan begitu banyaknya permasalahan kehidupan, banyak orang yang begitu tidak sabarnya melihat kondisi ini bahkan ada beberapa kehilangan iman di dalam diri.

Tidak terkecuali diri saya sendiri. Saya sadari bahwa saya belumlah menjadi sempurna, bahkan saya belum banyak memiliki ilmu untuk bisa memperbaiki diri, masih saja dan sejak dulu masih melakukan kelalaian sebagai mana manusia, kadang harus "berbohong pada diri sendiri", kadang harus mengabaikan orang lain, kadang masih mengutamakan ego sendiri bahkan tidak sedikit. mungkin ini manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, saat ini yang kita butuhkan adalah "kesadaran" bahwa kita belumlah menjadi lebih baik sehingga itu yang menjadi motivasi dalam diri agar menjadi lebih baik, terus berbeda diri dengan segala kemampuan yang ada, jangan pernah menyerah ketika terjatuh pada lubang yang sama, jika masih ada kesalahan dan kekhilafan kita lakukan segera perbaiki diri dan berbena, minta bimbinganNya, kita sebagai  manusia masih perlu banyak belajar, jangan pernah merasa lebih baik, harus terus muhasaba diri, walau terkadang kita sering sekali lalai dan lupa bahwa Allah subhannah wata'alah selalu bersama kita dan selalu mengawasi kita, jangan selalu turuti hawa nafsu, jangan selalu mengambil tindakan yang gegabah dan cereboh, ketika iman sedang lemah-lemahnya sadarilah bahwa saat itu kita butuh kekuatan dari pemilik alam semesta ini

Memang merasa diawasi terkadang lenyap dalam benak ketika iman lagi dalam kondisi tidak stabil, kita disilaukan dengan urusan dunia dan hawa nafsu yang menggelapkan pandangan kita sehingga kita lupa dengan semua yang ada, kita khilaf, kita lalai, Namun, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah, Allah masih menutupinya karena kelalaian yang kita lakukan hanya Allah subhannah wata'alah yang tahu, orang lain tidak tahu dan orang di sekitar kita masih memandang bahwa kita adalah sosok yang baik dari penampilan yang selama ini kita tunjukan, walau bukan berarti kita punya niat jahat yang terselubung,  akan tetapi kekhilafan dan kelalaian yang kita lakukan masih belum dinampakkan Allah subhannah wata'alah, karena kita diharapkan untuk sadar dan berubah sebelum dampak burruk yang lebih jauh dan lebih besar akan datang sebagai konsekuensi dari perbuatan dan kelalaian yang kita lakukan, jangan pernah menyalahkan diri, jangan pernah mempermasalahkan keimanan sehingga kita tidak ingin melanjutkan kebaikan-kebaikan yang selama ini sudah kita lakukan, semua itu adalah batu sandungan apakah kita bisa terus berjalan menuju kebaikan atau malah berbalik arah menjadi orang biasa-biasanya saja karena tidak kuat dengan ujian iman yang harus kita jalani bahkan yang ditakutkan kita menjadi pribadi yang lebih buruk lagi. wallahu'alam bishawab

Tarakan, 17/10/2020
Pukul    : 5.25 sore

16 Oktober 2020

Persepsi orang lain

Ketika kita punya niat baik, tidak ada jaminan  orang lain juga menyambut baik. Begitulah lika-liku kehidupan  apalagi dalam dunia kerja. Ketika kita sudah berusaha bekerja dengan baik, ada saja orang yang merasa kurang "sreg" dengan pekerjaan kita. Begitu banyak persepsi yang ada bahkan ada yang begitu liar menafsirkan seperti apa yang kita kerjaan saat ini. Bagi sebagian orang, kita adalah masih bagian dari masa lalu, kita belum berubah, kita masih saja. Mungkin dulu, kita memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, sehingga bagi sebagian orang, kita belum berubah, kita masih menjadi orang dulu mereka kenal dengan segala image "negatif" membayangi. Bukan hak kita untuk mengatur apa yang orang pikirkan seperti yang ada dalam pikiran kita, semua bebas memikirkan apa saja, termasuk memikirkan tentang diri kita. Sebenarnya kita jangan terlalu memusingkan hal itu, terlepas benar dan tidaknya persepsi yang ada, pada akhirnya semua orang mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan, selama masih dalam persepsi kita sendiri namun belum ditransmisikan kepada orang lain, masih sah-sah saja namun pikiran kita terbebani dengan hal-hal yang belum jelas, pikiran kita masih tercekoki dengan hal-hal yang sebenarnya bukan "urusan" kita untuk memikirkannya, kita memikirkan orang yang pada waktu yang sama orang itun tidak memikirkan kita, bahkan bisa jadi tidak terlintas sama sekali untuk mrmikirkan kita :) kembali lagi ke diri masing-masing.

Sisi berbeda, jika kita berada diposisi  dimana orang yang membisikkan kita tentang orang lain. orang akan menilai sesuai dengan pengalaman yang sudah-sudah, orang akan mempersepsikan bahwa orang itu dulunya seperti itu, pastinya seperti ini. Padahal tidak ada jaminan bahwa orang itu tetap seperti itu, barangkali orang, bisa jadi orang yang kita nilai itu saat ini sudah berubah lebih baik, bisa jadi orang itu sudah melakukan instropeksi diri atas apa yang sudah dia lakukan, apa yang sudah dia lalu, apalagi dia memiliki target diri untuk terus berbena diri. Sangat ironis apabila kita terus "mengusik" orang lain padahal orang itu sudah lebih baik bahkan jauh dari kesan yang ditimbulkan selama ini. Lagi dan lagi, bukan hak kita untuk membuat penilaian orang lain, bisa jadi kita terlalu terbawa "perasaan" sehingga lupa menilai secara jujur apa yang ada dihadapan kita dan sekali lagi bukan hak kita untuk menilai baik dan buruknya orang lain hanya dari satu sudut pandang kita, kita perlu belajar bijak untuk menilai sesuatu  secara jujur dan apa adanya, bukan karena suka dan tidak suka

Tarakan, 16 / 10 / 2020
Pukul   :  4.08 sore

15 Oktober 2020

Menahan "malu" karena recehan

Ini cerita semalam dan menjadi pelajaran penting untuk ke depannya. Sebenarnya ini hanya recehan cerita, namun entah bagaimana begitu kepikiran sejak semalam hingga siang tadi. Ini tentang salah kaprah, hehe. Awalnya kemarin sore, ketika bertemu sesama jamaah yang sudah cukup akrab, saya sambil bercanda, kapan "ngeronde" lagi. Jamah ini menjawab, ini mau pergi tapi anggota tidak datang shalat berjamaah. lantas saya melanjutkan sekalian besok malam aja pak, selepas ta'lim. beliau mengatakn ok. esokkan harinya ketika saya bertemu dengan jamaah mesjid yang lain saya menyampaikan kalau semalam dicari untuk diajak minum ronde, karena tidak ada, jadi diganti bentar malam. diapun mengatakan ok. begitu selepas ta'lim, karena posisi duduk agak berjauhan dari jamaah yang mengajak ini, saya tidak mengkonfirmasi ulang ke beliaunya, tapi begitu selesai shalat isya, saya menyampaikan ke jamaah yang berbeda lagi tentang ajakan tersebut, tapi apa karena dia masih lanjut berdoa jadi tidak terlalu ditanggapi.

Selepas shalat sunnah, saya menuju parkiran, sambil memantau apakah ajakan kemarin malam itu jadi atau tidak. saya melihat beberapa jamaah yang lain juga sudah pada siap-siap, namun yang mengajak pertama ini sudah duluan pulang, spontan saya bilang dalam diri kayaknya tidak jadi. begitu lagi asyik main hp di parkiran, saya melihat ada mobil kijang parkir di depan mesjid, dan setelah saya perhatikan yang bawa mobil tersebut adalah orang yang ngajak ngeronde ini. Saya perhatikan kembali jamaah mesjid yang biasa pergi bersama beliau, sedang siap-siap menuju mobil tersebut, satu persatu mereka masuk mobil dan dalam diri bertanya kembali, ini jadi atau tidak, dan jujur saja saya agak malu untuk konfirmasi kembali. Ok saya lihat mobilnya sudah jalan dan saya memutuskan pulang ke rumah. Begitu melewati mobil yang tadi saya lihat, rupanya mobil ini masih parkir dan belum jalan, entah siapa yang ditunggu namun dalam hati apa saya yang ditunggu, tapi kalau saya kok ga ada komunikasi ini dan itu. 

Sayapun berbaik sangka, dan mencoba untuk menuju tepat ronde yang biasa, namun beberapa saat kemudian, mobil kijang hitam tadi sudah mendahului, namun masih dalam pantauan saya, saya melihat mobilnya jalan terus tidak belok menuju tempat ronde, saya berinisiatif untuk belok sambil menolek ke belakang apa mereka menyusul, karena tidak ada tanda-tanda saya memutuskan untuk kembali ke rumah. cukup apes sebanrnya walau ini hanya recehan namun jujur dalam hati cukup malu. hanya karena ingin ditraktir minum ronde yang sebenarnya harganya tidak seberapa itu, saya rela seperti ini, ya Allah, entah apa yang ada dalam pikiranku,. begitu tidak menduga kalau mereka pergi dan tidak ngajak-ngajak dan saya masih saja menganggap bahwa saya juga diajak, betapa malunya ketika saya yang bersemangat menyampaikan ke jamaah lain kalau diajak minum ronde namun begitu melihat respon dari jama'ah-jamaah tersebut agak beda dan memang tidak ada konfirmasi jadi dan tidaknya.

Sebenarnya kejadian awalnya pernah saya bertemu 2x dengan teman-teman jamaah ini, di tempat ronde, pertemuan pertama pas saya sudah mau beres dan bersiap-siap pulang, dan seperti biasa kami saling menyapa dan mereka sempat bercanda kenapa ga ngomong-ngomong kalau kesitu padahal tadi ketemu di mesjid. pertemuan kedua sekitar awal bulan lalu, pas saat itu posisi saya baru saja disitu dan akhirnya kami sama-sama disitu dan ternyata saya di bayarkan untuk minuman saya. Saya pikir untuk kejadian semalam akan seperti sebelumnya namun kali ini benar-benar berbeda, mungkin saya bukan bagian dari mereka, mungkin saya bukan anggota mereka hehehe, sebenarnya hanya ingin berbaik sangka saja tapi sudahlah menjadi pengalaman jangan terlalu berharap apalagi hanya traktiran ronde, hehehe, yang penting silaturahmi tetap terjaga, masalah ngajak mengajak cukup pengalaman semalam menjadi pelajaran kedepannya, pastikan dulu dan jangan merasa diajak kalau tidak ada komunikasi konformasi langsung orang yang mengajak. dan saya yakin mereka tidak membayangkan atau mikirkan apa yang baru saja saya ceritakan, mungkin bagi mereka ini biasa saja, dan mereka pasti tidak tahu apa yang sudah alami semalam, malu dengan diri sendiri, hanya karena berharap ditraktir tapi ternyata tidak diajak pergi wkwkwkw  :)

Tarakan, 15 / 10 / 2020
Pukul   : 5.19 sore

Wisuda Offline di masa pandemi

Dua hari yang lalu, tepatnya selasa, 13 Oktober 2020, berlangsung wisuda dan angkat sumpah lulusan prodi D3 keperawatan  dan D3 Farmasi Politeknik Kaltara. Sebenarnya wisuda ini, merupakan wisuda dari akper dan akfar. dua institusi ini sudah bergabung dan beralih bentuk  menjadi politeknik kaltara. Namun dalam pelaporan untuk mahasiswa akhir ini, tetap saja masih menggunakan kedua institusi asal tersebut. Dibalik pelaksanaan wisuda kali ini, benar-benar menguras tenaga dan energi karena kondisi saat ini tidak normal belum tagi sorotan yang pernah datang dari masyarakat karena kegiatan sebelumnya di kampus ini. Sorak-sorak mulai terdengar mulai dari mahasiswa yang akan di wisuda, sorotan dari panitia dan kekhawatiran dari bapak walikota tarakan. dan kondisi yang terakhir ini yang cukup menyita perhatian karena ketika -5 hari H, walikota sebagai ketua gugus tugas covid19 menghimbau dan menyarankan untuk tidak melibatkan orangtua dan kapasitas ruangan dengan protokol kesehatan hanya bisa menampung 250 peserta, namun karena pertimbangan dari pimpinan kampus ini, ditambahkan 50 kursi lagi sehingga total menjadi 300 kursi dengan syarat hanya 1 orangtua yang datang memenuhi undangan. Keputusan ini menimbulkan pro dan kontra bahkan dikalangan panitia, yang meminta surat resmi dari walikota dan yang paling jelas-jelas memberikan reaksi adalah dari lulusan yang akan diwisuda. 

Kondisinya memang tidak seperti diharapkan namun paling tidak kita bisa memaklumi dan paling tidak bersyukur karena masih diizinkan untuk wisuda secara offline, ini semua bukam keinginan kita namun inui semua untuk kebaikan bersama, ditengah virus korona yang masih mengancum belum lagi risiko penularan yang masih ada, orangtua lulusan berasal dari berbagai daerah di kalimantan utara, kita tidak bisa menjamin dan tidak mengetahui sudah bertemu dengan siapa, kontak dengan siapa, apakah ada penularan atau seperti apa. Namun  dengan memberlakukan protokol kesehatan yang ketat, semua peserta harus mencuci tangan terlebih dahulu, mengganti masker yang digunakan dengan memakai masker bedah, dan dilakukan pemeriksaan suhu tubuh. 

Alhamdulillah, acara wisuda berjalan lancar, walau masih ada kekurangan disana sini, mulai dari mc yang salah mengucapkan beberapa kata / kalimat, konsumsi yang telat datang sehingga pada saat pembagian sudah ada undangan yang duluan datang, dan jumlah kotakan konsumsi yang kurang sekitar 30 kotak dan saat penyampaikan sambutan walikota menyampaikan rasa khawatirnya karena saat ini masih kondisi pandemi, takutnya mendapatkan sorotan, dan pada akhirnya semuanya menjadi pelajaran penting, tamu undangan tetap diingatkan mengutamakan protokol kesehatan agar jangan terlalu kerkerumun setelah acara wisuda. namun dibalik kekurangan itu, wisuda di masa pandemi ini cukup sukses dan lancar pelaksanaannya, ini paling tidak 2 hari setelah wisuda kabar miring tentang wisuda ini tidak ada di berita online maupun media sosial. semoha menjadi pelajaran dan masukan untuk kedepannya.

Tarakan, 15/10/2020
Pukul   : 4.40 sore

11 Oktober 2020

Tidak Update Berita

Dalam beberapa hari terakhir ini, Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan pengesahan Undang-undang Cipta lapangan Kerja atau Omnibus Law tepatnya senin malam, 5 Oktober 2020. dan ramainya gelombang unjuk rasa mulai besoknya hingga memasuki hari puncaknya di Rabu, 8 Oktober 2020. Sempat melihat beritanya, ketika menyalahkan tv dan melihat hampir semua saluran tv menyiarkan secara langsung proses pengesahan di DPR. Namun  karena kurang paham dengan undang-undang ini mungkin karena tidak mengikuti secara dalam. Kemudian saya melihat twitter yang juga rame membahas ini, hingga beberapa aktifis yang selama ini lantang berbicara juga mengomentari ini. ada yang bahkan mengingatkan bahwa jangan hanya fokus ke DPR yang mensahkan ini, namun juga ke pemerintah karena pengusulannya juga dari pemerintah. Linimasa semakin ramai dengan pembicaraan penolakan yang terjadi di daerah-daerah, terutama di beberapa kota besar, jakarta, semarang, jogja, malang, palembang, makassar. Tidak terkecuali juga di Tarakan, juga ikut melakukan demontrasi, bedanya di Tarakan diinfonya hanya dilakukan oleh mahasiswa dan buruhnya tidak terlibat, ada teman yang bercanda, pekerja pabrik / perusahaan disini sudah sejahtera :)

Sampailah pada rabu malam, tiba-tiba teman mengabari bahwa di bandung lagi rame dan "bentrok" karena demo, (pesannya saya baca pas tengah malam :) hehehe sepintas saya melihat kembali lini media masa yang masih rame membicarakan ini, ada bentrok dll. kemudian paginya saya melihat timeline IG juga ramai dengan demo kemarin itu, bahkan beberapa fasilitas publik ikut dirusak, ada beberapa memperlihatkan juga keabraban antara pengaman dan  mahasiswa yang demo, belum lagi reaksi dari pemerintah yang mencoba "membela diri" dengan mengatakan bahwa ada yang menanggungi, ada pihak anarko yang bermain. itu kamis beritanya, besok paginya  saat jum'at selepas shalat subuh saya laripagi yang berpapasan dengan teman yang berprofesi sebagai aparat kepolisian, sepanjang  lari banyak ngobrol termasuk tentang unjuk rasa. karena sudah sama-sama paham, obrolannya dibawa santai dan sempat sharing pengalaman waktu masih mahasiswa juga ikutan demo tapi tidak anarkis :) 

Mungkin ini pengalaman bagi saya, apa karena kesibukan sehari-hari sampai tidak terlalu mengikuti berita, kalaupun dirumah harus bernegosiasi dengan si kecil yang paling bungsu yang hoby dengan tontonan animasinya, kalaupun harus mengganti chanel berita maka dia akan ngambek dan mendapat pembelaan dari saudara-saudaranya. Cara lain untuk mengupdate adalah melalui timeline twitter, itupun sangat terbatas, hanya satu atau dia sosmed tv berita atau portal berita online yang saya buka, paling sering adalah timeline dari beberapa tokoh, itupun tidak maksimal belum lagi berita-beritanya tertutupi oleh timeline yang lain, belum lagi masih besarnya berita tentang covid19. Mengecek tranding twitter juga masih terbatas, ketika melihat tranding ulasannya ditutupi oleh hal-hal yang hanya ikut merapaikan, link yang memberitakan kurang. Paling tidak saya masih ada sedikit pengetahuan tentang perkembangan terkini tentang undang-undangan yang banyak orang plesetkan menjadi cilaka, cipta lapangan kerja. Pengalaman penting, sesibuk apapun jangan lupa update berita terkini dan yang banyak dibicarakan orang. 

Tarakan, 11/10/2020
Pukul   : 7.45 pagi

10 Oktober 2020

Belajar Menerima Kritikan

Dalam posisi di pekerjaan seperti sekarang begitu banyak pekerjaan yang harus dibereskan, belum lagi pekerjaan dalam struktural dan sebagai fungsional. sebagai struktural, begitu banyak tuntutan yang harus dikerjaan sesuai jobdescription harus mengatur ini, harus mengatur itu, harus mengkoordinator ini harus mengkoordinator itu, harus mengatasi ini, harus mengatasi itu, belum lagi pekerjaan diluar jobdesc tiba-tiba saja hal diluar itu, harus menjalankan perintah pimpinan, harus mengikuti kegiatan ini, harus menyelesaikan pekerjaan tambahan misalnya dalam kepanitiaan, malah dalam kepanitiaan inilah yang paling banyak menyita perhatian, apalagi disaat-saat sekarang ini, begitu banyak kegiatan yang berentetan. 

Satu hal yang harus saya pelajari adalah bagaimana saya begitu siap menghadapi kritikan atau masukan-masukan. Entah itu yang positif bahkan yang negatif sekalipun. Karena bagaimanapun, jika merujuk pada jendela jauhari, ada titik buka yang kita tidak ketahui namun orang lain tahu, disinilah pentingnya masukan atau kritikan orang lain, bisa jadi ada wilayah yang kita tidak sadari namun orang lain sudah lihat, dan orang itu memberikan masukan. Belum lagi jika masukan-masukan itu datang dari orang sudah punya banyak pengalaman dan sangat presentatif. karena bagaimanapun masukan mereka itu sangat membantu untuk membentuk pengalaman dan pemahaman kita yang lebih baik lagi. Walau dalam beberapa kondisi mungkin kita akan merasa malu dengan masukan itu, begitu bodohnya kita terhadap masalah itu, namun kembali lagi bahwa posisi kita adalah belajar dan terus belajar. masukan itu akan semakin mematangkan kita.

Bagaimana jika kritikan itu berasal dari orang yang "sok tahu", nah ini menjadi tantangannya, lagi-lagi harus siap dengan segala kemungkinan itu, jangan lihat dari personalnya, jangan lihat dari sisi lainnya, lihat apakah masukannya bisa diakomodir atau tidak? apakah bisa mencakup kepentingan bersama atau hanya untuk mengungkapkan atau menunjukkan eksistensi diri, apapun  itu kita harus siap menerima kritikan-kritikan yang ada, tidak perlu merasa terpojok apalagim itu demi kebaikan dan pengembangan diri yang lebih baik. selama memberikan kebaikan, kenapa kita tidak mempertimbangkan untuk diri kita, namun jika tidak memberikan kebaikan untuk diri kita bahkan untuk kebaikan bersama atau keluar dari kaidah-kaidah yang ada, ditinggalkan saja.

Tarakan, 10/10/2020
Pukul    : 5.35 sore

09 Oktober 2020

Belajar dari kehebatan senior

Hari saya mengikuti kegiatan yang begitu bermanfaat, padahal bila dicek kebelakang, kegiatan serupa saya pertama kali mengikuti sejak tahun 2012 silam :) memang cukup lama namun begitulah namanya ilmu selalu berkembang, kemudian tahun 2013 kembali mengikuti dengan hal yang sama namun dengan pendekatan lebih canggih menggunakan aplikasi sipena. tahun 2015 silam kembali saya mengikuti kegiatan ini di UB dengan mentor dari dosen Unpad, cukup membantu memahami kembali bagaimana teknik membuat soal, kemudian di tahun 2019, tahun lalu saya kembali mengikuti di UB, sekedar mengigatkan kembali hal-hal yang dulu pernah diikuti, nah, sepanjang pagi hingga sore saya kembali mengikutinya, semua kembali lagi menyegarkan dari awal, ternyata dari sekalian saya ikuti, inilah paling berkesan, karena soal yang direview langsung oleh ahlinya yang sebidang dengan saya. dan beliau tidak lain adalah senior saya di unhas dan di unpad dan sudah sering kali bertemu dalam beberapa kali pertemuan.

Beliau sudah banyak makan asam garam, bahkan saat pelatihan dulu, beliau sudah memberikan contoh buku yang bisa diambil dan dipelajari, bahkan kegiatan tahun 2012 lalu beliaulah panitianya, saya mulai mengenal karena diperkenalkan sama rekan dari Tarakan karena sama-sama dari unhas dari akper di makassar. tidak lama kemudian beberapa kegiatan beliau di tarakan yang kebetulan saya panitianya sehingga itulah yang membuat akrab. Dalam beberapa kesempatan juga sering meminta ilmu beliau apalagi ketika saya masuk unpad dan beliau banyak memberikan arahan, memang banyak yang harus dipelajari kembali. Belum lagi kesuksesan beliau membuat praktik klinik homecare di samarinda yang begitu mengispirasi banyak orang. Sore tadi beliau kembali menginspirasi ketika saya harus memberanikan diri untuk mempresentasikan hasil review saya dan beliau memberikan banyak masukan, tidak lama kemudian qadarallah, patner saya mereview ditunjuk presentasi, otomatis soal saya yang dibahas, mau tidak mau saya harus berbesar hati menerima masukan dan itu sangat-sangat membantu untuk kedepannya lebih baik lagi.

Tarakan, 9/10/2020
Pukul   : 7.14 malam (setelah azan isya)

08 Oktober 2020

Selalu ada yang "mendinginkan" suasana

Sudah menjadi hal yang lumrah, jika dalam situasi kerjaan ada saja situasi yang kurang menyenangkan atau membuat tiba-tiba mood menjadi "kacau" , ada perselesihan, ada pertentangan, ada rintangan, ada ada perbedaan dalam menanggapi sesuatu, itu yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari karena kita tidak bisa memaksakan pikiran orang lain seperti keinginan kita. Sehingga perselisihan ini tidak bisa dipungkiri selama memang masih sesuai dengan koridornya dan kapasitasnya. Dalam kondisi ini kita dituntut untuk menjadi lebih bijak, kita harus berkepala dingin dalam menghadapi semua ini, kita harus memaksakan diri dan meyakinkan diri bahwa ini merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan, tidak bisa ditolak dan memang kita harus bersikap wajar dan biasa-biasa saja tidak perlu didramatisir.

Dalam kondisi yang seperti itu dan suasana gersang seperti itu, tiba-tiba saja hadir orang yang membawa angin segar, membawakan makanan yang cukup membuat suasana yang cukup adem, tat kala kepala lagi panas dengan situasi berpikir dan bertindak dengan segala kemungkinan masalah dan friksi yang muncul, makanan yang manis yang membawa suasana menjadi lebih baik, alhamdulillah. Itu kejadian kemarin, hari ini, menjadi hal yang begitu rumit ketika segala persiapan kegiatan sudah mencapai 75% tiba-tiba ada situasi yang tidak menyenangkan, belum lagi pendapat orang-orang di group, semakin membuat vanas kepala, saking tidak mau terlibat lebih jauh, saya menyimpan hp di kantor agar jam istrahat tidak memantau group. 

Begitu selesai istrahat siang, semuanya terlihat adem ayem namun dalam hati ingin "berteriak",  begitu ketika kita ingin mengademkan diri, ada saja hal-hal yang mencoba memancing suasana hati walaupun mereka tidak sepenuhnya tahu tentang kondisi yang terjadi, dan saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang tersebut, saya hadapi dengan tenang dengan mencoba menguasai suasana hati, tiba-tiba diwaktu lagi panas-panasnya itu ada teman yang kembali membawakan cemilan yang cukup membantu mengademkan suasana, apalagi jika dikonsumsi dengan secangkir teh di sore ini. Akhirnya kita sendirilah yang bisa mengendalikan suasana, kita yang harus pintar-pinta mengatur pola pikiran dan suasana hati kita, agar tidak semua menjadi berantakan dan memberikan efek yang tidak diinginkan

Tarakan, 8/10/2020
Pukul   : 5.25sore

07 Oktober 2020

Tetap Tenang dengan Kepala Dingin

Saat ini saya berada dalam posisi yang tidak seperti biasanya. Ketika menjadi leader dalam suatu kegiatan. Di dalam tim itu melibatkan banyak orang dengan berbagai macam karakter dan latar belakang. Ketika meeting banyak pendapat yang harus ditampung, banyak keinginan yang harus didengarkan, namun tidak semua harus dituruti, karena ada keterbatasan waktu atau keterbatasan sumberdaya. Dalam suatu waktu ada persoalan yang harus diluruskan, ada miskomunikasi antara beberapa pihak, saya coba sikapi dengan tenang, mungkin bagi saya ini hanya masalah komunikasi, namun makin kesininya permasalahan makin menjalar kemana-mana, saya coba sikapi dengan "kepala dingin" sambil melihat akar masalahnya dimana. ternyata ada point yang haris disamakan persepsi, tentang mou dan 7%. ini menjadi akar dari masalahnya. Memang masalah ini tidak sepeleh karena berkaitan dengan uang dan melibatkan beberapa orang. Akhirnya saya saya mencoba meluruskan ke berbagai pihak yang "mis komunikasi". Sebenarnya masalah ini sudah cukup lurus, namun terlanjur ada riak-riak yang ada, menjadikan masalah ini menjadi ruwet, beberapa orang ikut berkomentar dan kembali merembes kemana-mana, lagi-lagi kembali ke prinsip awal, ini tanggungjawab siapa dan wewenang siapa. Jangan sampai kita mengurusi sesuatu yang bukan bagian wewenang dan tanggungjawab kita, biarlah itu menjadi tanggungjawab dan urusan orang itu, kita cukup memberikan saran dan cukup sampai disitu setelahnya itu bukan menjadi wewenang kita. 

Di luar kejadian di atas, baru saja yang mengalami situasi yang menguji judul tulisan ini, menguji agar kepala tetap dingin ketika kita menghadapi situasi yang tidak kita inginkan / sukai, sebenarnya masalah sepeleh, hanya karena berkaitan dengan tugas sebagai dosen dan ada mahasiswa sempat melanggar dan saya menyita barang yang digunakan itu dan saya menyampaikan kalau habis wisuda akan ambil. Ternyata orang tuanya menelpon, saya melihat nomor telepon yang sama sudah beberapa kali menelpon, namun saya abaikan karena kebetulan tidak lagi melihat telpon, begitu mengkonfirmasi kalau orang tua mahasiswa, maka saya balas kembali, ternyata orangtuanya ini menanyakan cincin. Saya bilang saya akan mencari dulu karena sempat pindah ruangan dan ganti meja, takutnya tercecer, namun kalimat yang cukup mencengangkan dari orangtua ini, "harus ada" kalau bisa selasa ketemu saat wisuda". senin dan selasa adalah hari yang sibuk, apalagi saya ketua panitia, tidak mungkin saya mengurusi masalah pemberian cincin, belum lagi risiko kehilangan karena banyaknya orang dan sibuknya kegiatan. Awalnya agak enek melihat respon orang tua tersebut, namun saya sadar saya tidak bisa seperti ini, saya mengecek kembali meja dan alhamdulillah cincinnya masih ada. sudah saya kabari ke orangtua tersebut bahwa rabu akan saya berikan sesuai perjanjian awal.

Begitulah, ketika kita diharapkan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, sekuat-kuatnya menjaga kepala agar tetap dingin, tidak terpancing emosi dan amarah. Sebisa mungkin menguasai diri, apalagi jika lagi lelah-lelahnya agar tidak terpancing emosi. wallahu'alam bishawab.

Tarakan, 7/10/2020
Pukul   : 5.12 sore

06 Oktober 2020

Serasa punya keponakan sendiri

Hampir setahunan ini, saya begitu intens melakukan latihan lari di area islamic center. Saking rutinnya saya lari sore, sampai beberapa kali bertemu dengan beberapa orang, saking seringnya kemudian saling lempar senyum dan saling menyapa dan akhirnya berkomunikasi di luar jadwal latihan lari. Umumnya pembicaraan seputar lari, saling berbagi pengalaman dan saling berjanji untuk sama-sama latihan. Bahkan dalam beberapa kontak w.a simpati saya ada beberapa kontak teman lari. Nah, diantara beberapa teman lari ini, ada satu atau dua orang yang begitu nyambung diajak ngobrol. dan ketika bertanya tentang usia, saya cukup kaget karena usianya seperti usia keponakan saya, yang lulus sma sekitar 2 tahun yang lalu. Mungkin karena seringnya berkomunikasi dengan mahasiswa sehingga obrolan dengan anak ini cukup nyambung bukan hanya masalah lari masalah obrolan lain apalagi seputar anak muda yang lagi semangat-semangatnya bahkan lagi galau-galaunya dalam pergaulan. hal yang membuat nyambung adalah anaknya lulusan pesantren, pernah ke daerah muna, sehingga obrolan semakin nyambung.


Sekarang anaknya dalam pendidikan brimob, alhamdulillah, setelah sebulan menjalankan test, qadarallah memang sudah rejeki dan jalannya. Saat-saat test, dia tidak pernah lupa memberi kabar tentang perkembangan testnya, apa saja tahapan dan selalu meminta untuk didoakan. Alhhamdulillah, dalam setiap doa, hampir tidak pernah lupa untuk mendoakan. Saat ini, dia sedang pendidikan, setelah dua bulan tidak boleh mengaktifkan handphone, sabtu kemarin akhirnya storynya terbaca dalam layar w.a saya ;) sambung membalas w.apun tidak terlewatkan sambil dia menceritakan kondisi dia disana. Saya melihat storynya juga begitu semangat dan bangganya dia menjalani pendidikan. Sebagai "paman" saya mensupport bahkan kami sudah berjanji jika ketemu kami harus balapan lari hehehe. semoga saja

Ada hal menjadi hal yang sangat positif dari interaksi saya dan anak ini, saya semakin sadar bahwa dalam berkomunikasi banyak hal positif yang bisa kita berikan. kata-kata motivasi dan semangat sangat dibutuhkan sama anak-anak seusia dia. Bahkan semakin saya sadar bahwa banyak hal yang bisa diberikan dalam koridor saling menasehati dan mengingatkan, tidak perlu ada modus dalam berkomunikasi, tidak perlu ada keinginan  yang tersembunyi dalam berkomunikasi, kita tidak perlu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, cukup apa yang bisa kita berikan dalam kebaikan. Paling tidak kehadiran si anak ini, memberikan warna sendiri, paling tidak menunjukkan pada saya bahwa saya bisa saja nyambung ngobrol dengan usia yang terpaut 20 tahun dengan saya :) hehe

Tarakan, 6/10/2020
Pukul   :  5.35 sore

11 Tahun berlalu

Tepat hari ini, 11 tahun yang lalu, saya mengikrarkan diri saya untuk mempersunting seorang akhwat, teman seperjuangan dalam organisasi mahasiswa islam, persis sore sere seperti ini selepas shalat ashar masih berlangsung walimatul 'ursy, untuk pertama kalinya saya duduk berdampingan dengan istri di pelamina. Saat itu keluarga dari bau-bau juga hadir, ada alamrhum ibu, saudara kandung perempuan, beserta ipar perempuan, beserta bibi dari pihak ibu, kemudian ada kakak kandung laki-laki yang kebetulan bermukim di Bantaeng, juga turut hadir bapak kepala desa saat saya KKN di desa mangadu Takalar, kebetulan di hari itu saya mengenakan pakean disana karena mengingat perjalanan yang cukup jauh dari Bantaeng, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar hingga hari H. Teman-teman seperjuangan di organisasi juga turut datang, yang selama kurang lebih 6 tahun ini sering bersama berjuang. Memang saat menikah ini kami baru saja melepas masa kepengurusan di 2 periode sebelumnya, jadi masih begitu dekat dengan teman-teman seperjuangan. Saya hanya dua minggu berada di kampung halaman istri karena saya harus balik ke kalimnatn karena masa cuti saya telah berakhir.

Saat ini, semua sudah terlewati, rintangan dan tantangan dalam berumah tangga selih berganti bahkan pahit dan lelahnya berumah tangga masih begitu hangat dalam ingatan. Memang tidak mudah menyatukan dua hati yang berbeda, berbeda dari segi budaya bahkan sampai kepandangan hidup. Memang tidak semua harus selalu sama dan disama-samakan, karena bagi saya hidup itu harus berjalan apa adanya tanpa rekasa namun tetap selalu berikhtiar menuju kebaikan. 11 tahun ini bukan hanya bilangan semata, 11 tahun itu bisa bertahan hingga saat ini, tidak semudah dan tidak semulus dalam pandangan mata, semua butuh perjuangan dan butuh pendewasaan hidup. Sempat menjadi begitu ambisius dan tidak bisa mengontrol diri ketika menghadapi masalah, namun setika itu ada saja nasehat-nasehat yang didapatkan dari ceramah online, sangat-sangat membantu dalam menjalankan kehidupan rumah tangga yang merupakan ibadah terlama. 

Mungkin orang akan menilai bahwa semua berjalan tanpa ada masalah, namun orang melihatnya dari segi yang nampak, tidak melihat jauh dari kondisi yang ada dan terkadang masalah yang ada cukup kita yang mengetahui tanpa harus mengekspose keluar apalagi menulisnya dalam media sosial. Memang butuh kedewasaan dan kewarasan dalam menjalankan ibadah terlama ini, dibutuhkan energi besar dalam menghadapi segala persoalan yang ada di dalam rumah, belum lagi anak-anak yang mulai tumbuh besar dan lagi lincah-lincahnya yang tidak sedikit juga memancing emosi dan jika tidak dikendalikan bisa membuat persoalan baru. Saat ini kami berdua disibukkan dengan rutinitas kantor dengan posisi masing-masing, sehingga ada hal yang harus diabaikan dan dikorbankan, mulai dari perhatian yang berkurang, kebetuhan di dapur yang tidak selalu ada apalagi ketika lagi dibutuh-butuhkan. 11 tahun ini, tahun dengan penuh tuntutan kedewasaan, kesabaran dan kewarasan dalam berpikir dan bertindak. semoga semua berjalan sesuai dengan koridor dan keridhoan sang khaliq. aamiin ya rabbal alamin

Tarakan, 6/10/2020
pukul   : 5.00 sore

Jeratan Dunia

Dunia memang tempat yang paling menyenangkan untuk sebagian orang, karena segala kesenangan didapatkan di dunia. Harta dan tahta serta wanita merupakan hal yang menjadi tujuan bagi sebagian orang. Banyak orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, pagi mulai kerja malam baru pulang, istrahat kemudian pagi lanjut kerja lagi. Kemudian diakhir pekan kita berlibur dan menghabiskan akhir pekan untuk mempersiapkan diri untuk kembali bekerja. seperti itulah putaran kehidupan. Uang dimiliki jika sudah memenuhi kebutuhan hidup pasti akan mencari kesenangan yang lain. Walau sebagian orang hidupnya tidak semulus seperti orang kebanyakan, ada yang harus berupaya keras untuk bisa memenuhi kehidupan sehari-hari, belum lagi kesenjangan antara miskin dan kaya, antara orang yang memiliki keberuntungan atau tidak bahkan sebagian dari kita masih sering sekali menyalahkan kondisi yang ada, bahkan mengadu kepada Sang Khaliq pemiliki alam semesta akan ketidakadilan ini. Itulah banyaknya pandangan orang-orang tentang kehidupan dunia.

Segala kesenangan ada di dunia ini, segala keindahan ada didunia ini, segala kenikmatan ada di dunia, jabatan, barang-barang yang dimiliki, kesuksesan, pencapaian karir, perjalanan  wisata, mendatangi tempat-tempat wisuda, berpeloncong keluar negeri, mendapatkan teman baik, bergabung dalam komunitas, anak-anak yang sehat dan cerdas, namun terdapat situasi yang juga bertentangan, kesedihan, kesengsaraan, kegagalan, rintangan, penurunan pendapatan, kondisi yang tidak diharapkan, masalah pertemanan, masalah pekerjaan, masalah dalam rumah tangga dan semua yang membuat putus asa dalam menjalankan kehidupan. Namun inilah hidup, mungkin kita belum menyadari untuk apa semua ini kita mendapatkan, kita mau mencari apa? kalau sekedar hidup, semua mahluk di muka bumi ini juga hidup, namun sadarkah kita bahwa setelah kehidupan di dunia ini ada kehidupan yang kekal, ada fase yang meminta pertanggungjawaban terhadap hidup yang sudah kita jalani selama ini? wallahua'alam bishawab

Tarakan. 6/10/2020
Pukul   : 5.55 pagi

04 Oktober 2020

Perlahan-lahan melepaskan

Hampir tiga minggu terakhir saya berusaha untuk menahan diri untuk tidak terlalu aktif memberikan respon terhadap story teman yang sudah seperti saudara sendiri. Sejak awal berkomunikasi baik w.a maupun masih aktif di facebook, saya hampir tidak pernah melewatkan untuk memberikan respon, padahal mungkin saja, untuk sebagian orang tidak suka direspon terhadap apa yang ditulisnya di story. saya secara pribadi pernah mengkonfirmasi sama teman ini dan menyampaikan kalau saya terlalu jauh terlibat. mohon untuk diingatkan. Dalam beberapa postingan, sering mendapatkan reaksi yang baik namun dalam beberapa postingan yang lain, kurang mendapatkan respon. Nampaknya teman ini orang yang reaktif terhadap apa yang dirasakan, bahkan postingan yang dimuat tidak jarang postingan lama, ya sekedar memasang saja. dan sempat saya berpikir kalau itu postingan kondisi dia terbaru.

Makin kesininya saya makin sadar, bahwa sekalipun sudah dianggap sebagai saudara sendiri, namun saya harus tahu diri bagaimana untuk memposisikan diri, dua hari ini saya belajar untuk menahan diri tidak memberikan komen ketika melihat story teman ini, cukup berhasil :) selama dua minggu belakangan juga yang benar-benar menahan diri untuk tidak melihat story teman ini dan berharap tidak menimbulkan "kecurigaan" atau mungkin malah sebaliknya teman merasa senang karena tidak harus capeh membalas komen yang saya kirimkan hanya karena rasa penasaran saya. ya cukup sudah saya harus belajar menahan diri, ada hal yang harus saya lepas dari teman ini, semua untuk kebaikan bersama, bukan berarti memutuskan silaturahmi namun lebih memposisikan diri sewajarnya, tidak terlalu jauh lagi terlibat, karena semua orang memiliki wilayah privacy yang harus dijaga dan bukan baru-baru saja saya berkomunkasi dengan teman ini, kalau dilihat sudah hampir jalan 10 tahunan, jadi sudah bisa saling tahu dan sudah harus bisa memposisikan diri, demi kebaikan bersama dan demi utuhnya persaudaraan itu

Tarakan, 4/10/2020
Puku;   : 6.06 sore

03 Oktober 2020

Diingatkan akan kematian

Kemarin, sekittar jam 10an, ketika baru saya membereskan kerjaan, tiba-tiba saya membuka email Yahoo. Sambil mengecek email masuk, saya juga mencoba membuka email lawas di item kotak terkirim, begitu masuk ke draft, email yang tidak terkirim, saya melihat ada email yang dulu saya buat untuk teman yang meminta tolong untuk dibuatkan Facebook. Dulu, memang kadang saya iseng untuk membuka FB teman ini hanya sekedar melihat aktifitasnya. Karena hampir 3 tahun tidak berkomunikasi dan saya juga sempat menelpon nomornya tapi tidak aktif. saking penasarannya saya membuka Facebook teman ini, dan melihat postingan terakhir itu 3 tahun yang lalu, yg ada tahun lalu itu hanya ucapan selamat ulang tahun.


Tidak lama saya menuju postingan yang ada dari rekan kerjanya, begitu terkejutnya karena temannya ini menuliskan kabar duka dan rencana untuk melayat, persisdiakhir agustus 2018,  saya baca satu persatu koment, untuk memastikan saya coba hubungi via inbox teman kerjanya yang nulis status itu, tidak lama dia membalas dan membenarkan. Karena sudah yakin, saya berniat untuk menutup permanen account Facebook itu. Walau sempat berputar-putar mencari item untuk menghapus account yang biasanya ada pengaturan privacy, namun tidak lama kemudian menemukan pilihan menutup acount permanen.

Ini bukan kejadian pertama kali seperti ini, setidaknya ada beberapa kajadian yang serupa ketika baru mengetahui kabar teman meninggal melalui postingan Facebook, ada yang baru tahu setelah seminggu, ada yang sebulan, dua bulan dan untuk kali ini dua tahun. Rata-rata teman ini masih cukup muda, hampir dibawah 40 tahun kecuali yang terakhir ini mungkin ada 45 tahun umurnya. Dan walau hanya berteman via Facebook dan ssmpat ketemua walau hanya 1-2 kali, namun doa tetap dipanjatkan semoga mereka semua diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah subhanah wata'alah. Aamiin

Kematian tidak mengenal kata usia, jika memang sudah waktunya kita berpulang maka tidak ada yang bisa menghalangi, tugas kita yang masih hidup mempersiapkan diri sebaik-baiknya karena selama kita diberikan umur maka selama itu juga kita harus mempertanggungjawabkan dihadapan Tuhan Alam Semesta,, sudahkah kita menjalankan amanah ini dengan baik, sudahkah kita memanfaatkan dijalanNya semua amanah yang diberikan,? Inilah bekal yang harus kita bawa kelak. Wallahua'alam bishawab

Tarakan, 3/10/2020
Pukul : 7 malam @ronde26Markoni

kacak-kacakin Restar HP

Kemarin, sejak sepertiga malam hingga pagi, menjadi hari-hari yang menguras "emosi" hehehe, bagaimana tidak, seperti ditulisan sebelumnya hp yang selama ini dipegang istri saya tukar dan gunakan untuk keperluan lari, sebelumnya sudah beberapa kali mengrestar sendiri dan alhamdulillah berhasil namun kemarin itu benar-benar tidak merespon bahkan ketika menekan tombol star, volume bawah dan tombol power, belum lagi hp yang suka heng sendiri, beberapa kali layar jalan sendiri tanpa di sentu dan beberapa kali malah tidak merespon, tidak beres setelah shalat lail, lanjut sebelum subuh. tidak juga merespon-respon, padahal biasanya tidak membutuhkan waktu yang lama. Namun kali ini benar-benar menguji kesabaran, selepas shalat subuh masih juga lanjut padahal sudah diniatkan untuk membaca surat al kahfi, karena ketikdaksabaran saya tanpa sadar 30 menit lewat tanpa memulai membaca al kahfi :( sekalipun membaca masih saja tersendak-sendak saking tangan tidak sabar mengotak-ngatik. 1 jam lewat belum juga bagus hp, dan saya menyimpan hp melanjutkan membaca surat al kahfi walau hanya sampai ayat 50. Karena sudah jam setengah 7, saya harus melanjutkan untuk mempersiapkan pekerjaan, saya balik namun sebelum balik saya meniatkan untuk bawa saja ke service dan tangan saya tiba-tiba melepaskan antigores yang baru saja saya ganti kemarin. 

Setiba dirumah, lanjutkan beberapa kerjaan, lanjut shalat dhuha dan lanjut menyelesaikan sisa bacaan surat alkahfi yang tersisa, kalau sudah ayat 50, biasanya masih ada 4-5 halaman, beres bacaan, langsung ke kantor, namanya masih penasaran, masih saja kotak katim itu hp. Namun diluar dugaan, hp ini cukup bersahabat, yang biasanya suka hang sendiri tiba-tiba bagus lagi, perlahan-lahan mulai mengikuti instruksi, untuk restar ulang melalui setting, semua perintah diikuti sesuai instruksi dan alhamdulillah lancar-lancar saja, satu persatu diberesin instruksinya dan finally, hpnya langsung terestar :) jadi tidak perlu lagi ke service, satu persatu diinstal, mulai aplikasi adidas run static, aplikasi refun health yang terhubung dengan jam, zoom dan w.a, itu saja sudah cukup. Pagi ini saya coba menggunakan aplikasi lari, alhamdulillah tidak mengecewakan, sudah sesuai yang diharapkan, hanya cuacanya yang tidak mendukung untuk lari hehehe sempat lari 5K, hujan deras sekitar 30 menit, istrahat, lanjut lari lagi 16 K. dan untuk HP perlu nambah kartu memory biar foto-fotonya tersimpan dengan baik. semangaaaat.

Tarakan, 3/10/2020
Pukul   : 5.55 sore


02 Oktober 2020

Berdamai dengan situasi

Dalam situasi tertentu, terkadang kita dihadapkan dengan kondisi yang tidak kita sukai, kondisi yang bertentangan dengan pribadi kita bahkan kondisi yang sangat kita hindari. suka tidak suka, senang tidak senang, hal itu tidak bisa ditolak, dan kita harus menerima itu. Upaya kita untuk merubahnya juga bukan hanya satu dua kali, namun setiap saat, setiap kita hadapi, namun situasinya juga tidak bisa berubah secepat yang kita inginkan bahkan situasinya makin rumit jauh yang kita harapkan. Kita tidak bisa berharap banyak dengan situasi seperti ini banyak hal yang harus dipelajari lebih jauh, kenapa situasinya seperti ini, kenapa situasinya tidak seperti diharapkan, mungkinkan kah Tuhan sedang menginginkan kita lebih bersabar dengan situasi seperti ini? kalau seperti ini makna yang tersirat, apakah kita akan mundur dengan situasi ini? memang tidak mudah dan bukan berarti kita harus menghindarinya bahkan "membencinya" atau kita mau benar-benar mau belajar dari situasi dan kondisi seperti ini?

Jawabannya adalah kita harus berdamai, ya sudahlah, kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan situasi ini, jika situasi yang tidak menyenangkan ini berkaitan dengan kerasnya hati seseorang tidak bisa diubah dengan waktu yang cepat, seperti yang sudah disampaikan tadi, apa yang kita hadapi saat ini, karena kita sanggup, berarti ada "power" yang ada didalam diri kita yang secara pelan-pelan bisa merubah situasi ini, memang benar-benar harus memaksakan diri untuk berdamai dengan situasi ini, seburuk-buruknya seseorang pasti akan ada hal yang positif yang dimiliki, walaupun itu kadarnya tidak banyak dan harus ditegaskan bahwa mungkin cara-cara tidak bersahabat tidak akan mudah menyentuh hati yang mengeras itu. semoga dengan doa yang selalu dipanjatkan untuk dilembutkan hati bisa pelan-pelan mengubah hati yang mengeras dan bisa belajar memahami dan berdamai dengan situasi sambil berharap situasi akan kondisif situasi yang diharapkan dan diinginkan meskipun membutuhkan waktu yang tidak cepat. semangaaat

Tarakan, 2 Oktober 2020
Pukul   : 4.26 sore

Welcome Oktober

Hari ini, merupakan hari kedua dibulan oktober, sejak kemarin sudah merencanakan untuk menulis,  ada cerita menarik sepanjang hari kemarin yang sayang untuk dilewatkan. Karena sudah ada niat dari awal mau menulis namun belum ketemu jadwal yang pas, karena pagi ada waktu ngajar dari jam 9 hingga jam 11. begitu selesai ngajar, siangnya entahlah saya berseliuran kesana kesini hanya untuk mencari handphone yang bisa digunakan untuk aplikasi lari agar bisa menunjang saat latihan lari. setelah berputar-purat mencari tempat, akhirnya saya memutuskan untuk menuju karang anyer sekalian mampir ke tempat penjual moleng karena sudah janji untuk membelikan moleng untuk rafa, begitu nyampe ditempat penjualan sempat dibuat bingung dengan banyaknya varian handphone namun saya mematuk harga jangan lebih 1,5j, karena belum ada yang pas saya memutuskan untuk menuju toko yang lain tepatnya di beringan, toko yang pernah saya membeli hp sekitar bulan lalu.namun sebelum melanjutkan perjalanan saya membeli donat salahsatunya untuk aqilah yang lebih memilih donat dari kue yang lain. Begitu beres, saya menju beringin, sesampainya disana, saya tidak mendapatkan respon penjualnya seperti saat pertama datang, apa karena lagi siang sjadi mood penjualnya kurang pas :), begitu menanyakan harga dan melihat tipe yang ada akhirnya saya memutuskan kembali ke rumah, sempat mampir di dua toko hanya sekedar memastikan harga yang ada, rupanya di tempat sebelumnnya masih lumayan walau hanya selesi 50rb. 

Balik ke rumah sepanjang perjalanan dibuat bingun, memikirkan apakah saya harus beli hp baru atau saya tukaran hp dengan istri, kebetulan istri hpnya cukup lama dan kapasitas memorinya kecil, sementara dengan aktifitas belajar anak-anak dan kerjaan pastilah kurang mendukung, belum lagi saya hanya butuh hp yang sebenarnya hanya digunakan untuk latihan lari dan zoom, dan yang saya inginkan seperti hpnya istri, terus berpikir sempat kembali ke tempat penjualnya namun tertunda berpikir lagi, ada 2 x saya balik balik hanya untuk mau memastikan apa saja jadi beli atau seperti apa. Saking bingungnya saya memutuskan mampir di rumah sambil membawakan donat dan molen untuk anak-anak saya katakan sama zilan, anak pertama kalau saya mau ambil hp bundanya dan akan menukarnya dengan hp baru ;) hehehe berarti secara tidak langsung saya memutuskan membelikan hpkan hp baru istri atau menukarnya dengan dengan hp yang dimiliki. Selepas ashar balik kembali ke toko dan memastikan untuk membeli hp. jreng jreng begitu sampai di rumah sudah, hp dicash dan menitipkan sama zilan ;)

Memang kalau dipikir-pikir yang lebih membutuhkan hp baru itu adalah bundanya anak-anak, saya hanya membutuhkan hanya sebagai cadangan saja, sudah ada hp yang utama namun sayang kalau dipake untuk latihan lari, hehehe biar awet dan tidak mudah rusak, sekalian bulan oktober itu bulan istimewah karena tepat 11 tahun kami menikah, dan alhamdulillah diamanahi 4 anak yang sehat-sehat dan lucu serta menggemaskan, walau tidak seberapa harngaya paling tidak, hp itu bisa dikenang karena diberikan dihari yang istimewah :)

Tarakan, 2/10/2020\
Pukul   : 9.25 pagi