Ini merupakan tulisan ke-200 di tahun ini, alhamdulillah di melebihi ekspektasi saya menulis selama ini. Di awal tahun memang saya menargetikan untuk menulis 20 judul dalam setiap bulannya. Bulan berganti, waktu mencapai 100 judul itu sudah senangnya luarbiasa, saat itu kesibukan belum seberapa jika dibandingkan dengan sekarang dengan amanah yang diberikan dari tempat kerja. Saya awalnya juga berpikir bahwa saya bisa jadi tidak punya waktu lagi untuk menulis 20 judul lagi, sore ini menjadi bukti bahwa di tengah kesibukan seperti saat ini, masih bisa menyempatkan diri untuk menulis dan terus menulis menyelesaikan target dalam setiap bulannya. Rupanya makin ke sini makin terasa bahwa begitu banyak hal yang bisa dituangkan dalam tulisan dengan kesibukan seperti saat ini, makin banyak situasi yang dijalani untuk metuangkan dalam tulisan, mulai dari masalah pribadi, kerjaan, tuntutan keluarga, aktualisasi diri bahkan pengembangan ilmu agama. Untuk judul yang menjadi inspirasi sore ini. benar-benar menguras tenaga dan hati terutama dalam satu minggu ini dan masih ada keterkaitan dengan tiga judul sebelum tulisan ini.
Ada hal yang begitu sulit untuk diungkapkan, namun selalu saja muncul ketika lagi lengah dan iman menurun bahkan menjadi pelarian dari masalah dan banyaknya pikiran yang membebani. Namun untuk kali ini, benar-benar itu semua tidak ada, saat ini, saya benar-benar lagi tidak ada masalah yang membebani, iman alhamdulillah masih stabil dan tetap berjalan seperti biasa, pekerjaan masih berjalan walau masih ada beberapa target yang harus diselesaikan hingga akhir bulan ini. Saya benar-benar dalam kondisi fine-fine saja. Namun kenapa pikiranku saat ini diracuni dengan pikiran-pikiran yang kurang sedap, bahkan spontanitas diri saya begitu tidak bisa terbendung, saya seolah lupa bahwa saya ada yang diawasi, saya yang mencatat gerak gerik dan semua apa yang saya lakukan. Saya seolah lupa bahwa pikiriran-pikiran negatif ini kurang pas untuk terus dilanjutkan, spontanitas itu tidak begitu baik untuk dipertahankan. Cukup sudah saya menghindari semua ini, bahkan dalam 3 bulan terakhir saya begitu kuat menghindari bahkan menjauhkan diri, namun hanya karena rasa penasaran dengan berita yang ada, saya begitu dibuat penasaran dengan realitas dibalik itu semua, ini semua tidak terlepas dari kedekatan saya dengan beberapa teman selama ini. Mungkin karena rasa bangga dan kagum dengan profesi mereka sebagai garda terdepan bangsa, begitu senang berkawan dengan mereka, banyak hal positif yang diambil terutama masalah kedisiplinan.
Godaan dan bisikan serta rayuan dari jebakan dunia inilah yang memang sulit dihindari, saya dan bahkan hampir setiap orang melewatinya. Bagaimana kesiapan diri kita melewati semua cobaan dan rayuan dunia. Sebagaimana dalam alqur'an: kesenangan dunia ini hanya sementara dan hanya menipu, namun banyak orang yang terjebak di dalamnya seolah-olah lupa bahwa hidup di dunia tidak selamanya begitu juga kesenangan semua akan dimintai pertanggungjawaban, itupun kalau mereka sadar. Kalau tidak sadar? wallahua'alam bishawab. Ini juga pelajaran bagi diri saya, bukan berarti saya sudah baik, hanya karena sudah rutin menjalankan ibadah, alhamdulillah. bisa menjalankan amalan-amalan sunnah, sudah mengikuti ta'lim online, berusaha terus muhasabah diri, dan merasa sudah lebih baik dan merasa sudah hebat sampai merasa tidak akan pernah lepas dari dogaan dan tipuan dunia melalui bisikan syaitan ? perlu disadari bahwa itu semua menjadi ujian terbesar dalam hidup ini. Ibarat bayangan, godaan dan rayuan kesenangan dunia itu begitu nyata, semakin kita berlari maka semakin dia mengejar kita dan kita tidak pernah lepas dari kejaran itu bahkan ketika kita mendiamkan, dia akan tetap diam mengikuti dan suatu saat dia akan menjebak dan masuk perangkapnya. Hanya pertolongan Allah subhannah wata'alah yang bisa melepaskan kita dari jebakan dunia ini. Kita harus sadar bahwa ada bekal yang harus kita bawa pulang ketika menghadapNya kelak. Kenangan dunia hanya menipu. itu saja
Tarakan, 24/ 10 / 2020
Pukul : 5.25 sore