Alhamdulillah, saya mendapatkan beberapa rekan selama jogging. Dalam 1 minggu ini ketika sedang jogging, seperti biasanya kami bercerita tentang apa saja, kebetulan larinya sangat santai jadi masih memungkinkan untuk bercerita santai. Cerita pertama datang dari seorang yang cukup senior di TNI. kebetulan rumah saya yang tidak terlalu jauh dari kantor beliau dan saat ini beliau sudah membangun rumah yang tidak terlalu jauh juga dari rumah saya, masih satu RT. Hari selasa, pas saya lagi jooging santai untuk memulihkan kaki yang kemarin sore sempat lari 10K, pas yang bersamaan beliau lewat dan saya barengan jogging dengan ngeker (tidak menggunakan alas kaki :) entah sudah berapa topik yang kami bicarakan, mulai cerita teman kerja beliau yang saya sampaikan sempat berpapasan jogging sama saya namun tidak sekuat beliau. Awalnya saya menanyakan kepada beliau, apa beliau merokok? beliau cerita dulu perokok berat tapi sejak anak pertama masih 3 bulan di kandungan beliau berjanji berhenti merokok. beliau bercerita sewaktu muda ketika awal-awal tugas, beliau banyak menghabiskan waktunya di tempat yang salah. Mabuk dan menggunakan narkoba sudah menjadi hal yang biasa, namun beliau ini masih begitu disiplin untuk hal masuk kantor, dalam kondisi apapun beliau usahakan datang apel tepat waktu, bahkan beliau menyampaikan kadang-kadang apel itu beliau dalam kondisi "mabuk" namun hanya beliau yang tahu. pada suatu waktu, beliau dalam kondisi mabuk, tiba-tiba mengalami kondisi yang amat buruk, penglihatan beliau begitu kacau, apa yang dilihatnya sangat berbeda dan menyeramkan. beliau juga merasakan sakit kepala, dan meminta untuk diantarkan ke rumah sakit. Namun teman kerja beliau masih berhalangan, beliau bertemu orang di jalan dan meminta tolong untuk diantarkan ke rumah sakit, terus beliau berbaring di IGD. Selama di rumah sakit, beliau dibayang-bayangi rasa takut akan kematian, dan ada suara-suara sudah saatnya beliau mati. Saat itu beliau meminta agar diberikan waktu untuk berubah, berjanji tidak akan mabuk dan merokok apalagi menggunakan narkoba. Alhamdulillah niat baik beliau itu menjadi doa yang diijabah, tidak lama beliau sembuh dan memulai kehidupan normal seperti biasanya. Sekarang beliau memiliki kebiasaan memancing dan tentunya rutinitas lari tidak ditinggalkan dan karena rutinitas lari ini saya bertemu beliau dan bisa berkomunikasi seperti saat ini bahkan sosok beliau ini sudah seperti abang sendiri, karena usia beliau hampir sama dengan saudara kandung saya yang pertama.
Cerita kedua, datang dari rekan lari juga. Sebenarnya sudah lama saya mengetahui beliau ini. hampir 2 bulanan. Namun posisi saat itu saya belum pernah menyapa dan belum pernah berpapasan secara langsung. Namun ada yang khas dari beliau ini, wajahnya beliau familiar dan sangat sabar :). Saking seringnya melihat pas saya lagi recovery dan beliau sedang jogging biasanya bersama rekan beliau. satu hal yang menonjol adalah rekan beliau ini cukup sering kelihatan menelpon. bahkan dihari yang berbeda juga seperti itu. Saat itu saya berpikir kalau beliau ini ajudan si bapak yang menelpon. Awal bulan 3 ini, pas saya lagi recovery, saya sebenarnya penasaran dengan beliau, sempat berpapasan dihari sebelumnya. dan saat itu beliau lagi jalan meninggalkan rekannya yang sampai saat itu masih menelpon :) pas beliau ada dibelakang saya, cukup lama juga untuk bisa memulai ngobrol sama beliau ini. begitu lagi jalan sendiri dan tidak terlalu jauh dari saya, pas lagi sama-sama jalan sendiri, saya menyapa beliau dan bercanda, kenapa temannya ditinggalkan, persis dugaan saya diawal "temannya lagi nelpon". kami berbincang ada sekitar 6-7 menit, saya hanya memastikan apa benar beliau kerja di Lantamal dan beliau mengiyakan. tidak lama saya pamitan kebetulan sudah waktunya pulang. Esok harinya ketika lagi jogging bersama anak-anak, dan kebetulan saya melihat beliau ada dibelakang saya, namun agak jauh. pas anak-anak menuju teras islamic dan saya melanjutkan jogging, pas timingnya berpapasan dengan beliau dan saya menyapa, kami ngobrol. Saya menanyakan beliau dari mana asalnya dan sudah berapa lama ditugaskan di Tarakan. beliau menjawab tugas di tarakan, sekitar 6 bulanan dan asal beliau dari Kediri. Nah karena Kediri sangat dekat secara personal dengan saya dan saya ada rencana untuk kembali ke Paru kampung Inggris, jadi saya berani meminta nomor kontak beliau. Jadi kami biasa janjian untuk bertemu jogging kalau bukan di hari sabtu biasanya hari minggu.
Tadi pagi, begitu jogging bareng,. dan sudah masuk pendinginan, saya menanyakan beliau, 17 tahun di kapal perang, berapa lama beliau balik ke keluarga. dan tiba-tiba pertanyaan saya menjurus kepertanyaan orang pada umumnya apalagi jauh dari keluarga. Bapak, bagaimana bisa bertahan dengan kondisi seperti ini sementara istri dan anak-anak jauh, apa godaan tidak banyak. beliau tersenyum, beliau menyampaikan godaan itu pasti ada, namun bagaimana kita saling menjaga kepercayaan. ini yang utama. dan saya mengiyakan. Beliau bercerita jika berada dalam situasi yang bisa mengarahkan beliau melenceng, beliau meyakinkan dalam diri, untuk tidak berpikir yang macam-macam. ada kalimat yang sangat menyentuh "kita ini hidup untuk apa?, kita hidup ada pedomannya.. lah, kalau kita tidak tahu itu maka hidup kita akan kehilangan arah." saya mengiyakan bahkan kami berdiskusi cukup serius untuk kali ini. beliau menambahkan "kalau orang tidak mengetahui untuk hidup maka dia tidak akan mengenali dirinya,. " saya menambahkan seperti ada ungkapan "siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya" beliau menambahkan misalnya orang shalat, fisik shalat dan ucapan membaca bacaan shalat, tapi kenapa pikirannya masih kemana-mana, berarti dia tidak bisa menyatukan dirinya kalau saat ini sedang berhadapand dengan Tuhan. Saya menyampaikan bahwa untuk bisa sampai ke posisi itu tidak mudah, hanya orang-orang tertentu saya. "sebenarnya bisa, dan semua orang bisa,, " banyak yang kami ngobrolkan sepanjang 2K itu :) obrolan tentang hakikat kehidupan :). Satu pertanyaan saya lagim bagaimana bapak bisa tahap ini, karena ini tidak mudah. beliau menyampaikan "ketika ada masalah yang saya hadapi, saya yakin pasti ada hikmahnya, dan saya harus tahu itu apa hikmahnya, dari situ saya belajar." obrolan serius ini kami ganti dengan topik lain dan kembali melanjutkan jogging 1K yang tersisa :)
Dua cerita rekan lari ini menjadii hal yang sangat bermanfaat buat saya. cerita pertama, mengingatkan saya bahwa Allah selalu menunggu taubatnya hambah-hambahNya untuk bertaubat. Kita tidak p-ernah tahu akhir cerita seseorang, boleh jadi di masa lalu memiliki masa lalu yang kelam namun saat ini berbalik bahkan lebih baik lagi, dibandingkan dengan kita yang sudah merasa lebih baik dan tidak mau belajar dari pengalaman orang-orang yang bertaubat. dan untuk cerita dari rekan lari yang kedua ini, benar-benar memadukan "tarikat" dalam berislam. Saya berusaha berkomunikasi yang baik jika beliau-beliau bercerita, saya berusaha menjadi pendengar yang baik, memvalidasi dengan sopan, menghargai semuanya dan berusaha tidak menotong dan mengambil manfaat dan hikmah dari kedua obrolan ini.
Tarakan, 20 / 3 / 2021
Pukul : 6.21 menjelang azan maghrib