28 April 2021

Jangan Kasih Kendor

Ramadhan telah melewati setengah perjalanannya, hari ini memasuki hari ke-16, apa kabar ramadhan 15 hari yang terlalu, sudahkah kita memanfaatkan dengan baik, tidak melewatkan setiap moment penting untuk me;akukan ibadah? Sudahkah kita menjalankan planning-plinning kita sebagai indikator perubahan atau peningkatan dari ramadhan sebelumnya. Secara pribadi, saya berusaha keras untuk memanfaatkan setiap momentnya ini, akan tetapi bukan memaksakan diri untuk menjalankannya, namun lebih kepada memanfaatkan potensi diri untuk melaksanaan amalan di bulan ramadhan ini lebih maksimal lagi dan lebih konsisten dan lebih banyak menahan diri pada hal-hal yang membuat puasa ini menjadi sia-sia. Ramadhan kali ini terasa berbeda saja, sekalipun mesjid-mesjid diperbolehkan melaksanakan kegiatan shalat berjamaah dan ternyata di bulan ramadhan ini semangat saya untuk tetap lari sore juga cukup besar :) semua harus seiring dan sejalan dan saling mendukung dan menguatkan. 

14 hari yang tersisa ini, jangan sampai berlalu begitu saja, walaupun di tengah target pribadi dan kerjaan yang tidak ada hentinya, kita tidak boleh lengah, abaikan hal-hal yang menyita banyak waktu dan cenderung melakukan hal yang sia-sia. Sejak awala ramadhan sudah membatasi diri membuka sosmed, kalaupun buka hanya sebentar dan tidak bisa dipungkiri begitu banyak cobaan dan godaan untuk mengalihkan setiap moment di bilan rmadhan ini. Jangan sampai terlena dengan hiruk pikuk seremonial di bulan ramadhan. Jika ada hal yang bisa ditunda untuk dilakukan karena semakin mengurangi memanfaatkan waktu di bulan ramadhan, maka tinggalkan, lupakan, abaikan jika perlu jangan mengingat-ingatnya. Kita melakukan hal-hal yang memberikan efek positif bagi diri kita, keagamaan kita, iman kita sehingga ramadhan tahun ini benar-benar tidak berlalu begitu saja, karena ramadhan tidak akan  pernah menunggu kita, kita harus yang mengejarnya dan beriringan , selaras dan sejalan hingga menjadi insan yang diinginkan di bulan ramadhan sebagai insan yang bertakwa, dan tuntuk dan patuh pada perintah Allah subhannah wata'alah.


Tarakan, 28 / 4 / 2021 ~ 16 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 4.41 sore 

Menempatkan diri

Pengalaman menjadi pembimbing tugas akhir dan diwaktu menjadi penguji menjadi pengalaman yang berharga. Ini bagaimana kemampuan mengarahkan mahasiswa agar sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah dan yang terpenting adalah bagaimana menjaga semangat dan terus mensupport mahasiswa agar tidak mudah menyerah dan lelah dengan kondisi ini. Dari sudut pandangan mahasiswa seperti menyusun tugas akhir yang pernah kita alami entah itu di jenjang sarjana dan magister, menyelesaikan tugas akhir itu menguras pikiran, tenaga dan juga perasaan :) nah yang terakhir ini yang benar-benar menguras energi bahkan terkadang kita terlama merenungi materi bimbingan atau ujian, mengingat-ingat kata-kata penguji atau pembimbing yang masuk ke renung hati hingga sulit kita keluarkan dan menjadi beban pikiran tersendiri, jika tidak selesai tahap ini maka yang terjadi kita akan berlarut-larut dengan masalah yang sama dan tidak menunjukkan progressif dan yang terjadi malah kemunduran atau ketertinggalan jauh. 

Pengalaman selama menguji terkadang kita memberikan masukan terhadap draft yang diberikan mahasiswa dan tidak sedikit melakukan pembelaan jika mahasiswa tersebut mendapatkan serangan dari penguji. Nah, ketika saya menjadi penguji, ada hal lain yang bagi saya prinsipil dan sebaiknya mahasiswa meerevisi / melakukan perbaikan dan mendapatkan pembelaan "keras" dari pembimbing karena sudah merasa sudah mengikuti kaidah yang ada. Namanya perbedaan persepsi itu hal yang biasa. Terkadang ketika menjadi pembimbing, kita melakukan penilaian terhadap rekan penguji yang menunjukkan sikap yang berlebihan dan kita melakukan pembelaan tentunya kepada mahasiswa. Ini masih wajar-wajar saja selama kepentingannya untuk kebaikan, kita mencoba tetap bersikap netral semua demi kepentingan ilmu pengetahuan dan memang yang harus tetap ditekankan bahwa batasan kemampuan yang dimiliki lulusan Diploma tiga seperti apa, sebaiknya tidak keluar dari jalur yang ada, apalagi menyamai kompetensi sarjana atau apalagi S2 :) semua kembalikan ke posisi dan porsinya jangan dilebih-lebihkan dan jangan dikurang-kurangi

Tarakan, 28 / 4 / 2021 ~ 16 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 4.24 sore

27 April 2021

Menyembunyikan ibadah

Masih tentang kajian tematik ust. Nurul Dzikri yang membahas belajar dari ahli puasa dan membahas amalan yang disembunyikan. Menyembunyikan ibadah yang dilakukan bukan berarti tidak mau melakukan syiar, untuk masalah syiar kita diwajibkan untuk menunjukkan dan menyampaikan kepada orang lain agar mengikuti apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad sallahu allaih wassalam. Pilihan ulama Maru Al karfi untuk menyembunyikan amalan ini tidak lain karena  ilmu yang dimiliki ilmu karena memiliki rasa takut kepada Allah subhannah wata'alah yang disandingkan dengan rasa cinta kepada Rob. Pernah suatu ketika ulama ini sedang berpuasa dan menghadiri perjamuan maka dia akan makan jika dipersilahkan dan tidak mengatakan sedang berpuasa, beliau lebih memilih menyembunyikan amalannya. sesuai dengan hadist nabi : barang siapa diantara kalian yang mampu menyembunyikan atau memiliki amalan sholeh rahasia maka rahasiakan amalan tersebut. dari Hadist ini kita belajar bahwa kita perlu menyembunyikan paling tidak memiliki 1 amalan rahasia, yang tahu hanya kita dan Allah subhannah Wata'alah. Ini penting karena di jaman sosial media saat ini, ibadahpun diekspose, sekalipun ini syiar dan kita tetap husnozon jika orang lain melakukan postingan ini. Jika untuk diri kita, kita belajar  untuk diri kita untuk  menyembunyikan amalan kita.

Melakukan kebaikan itu ibarat memberikan kebaikan dengan tangan kanan namun tidak diketahui tangan kiri "seseorang yang berinfak lalu disembunyikan hingga tidak diketahui tangan kirinya" sekalipun kedua tangan tersebut tidak terpisahkan namun tangan kiri tidak pernah mengambil alih tugas dari tangan kanan, keduanya kelihatan selalu bersama ketika berjalan dan bekerja. Salah satu nasehat ulama mengungkapkan tutuplah kebaikan-kebaikan kamu sebagaimana kamu menutup aib-aibmu. Pelajaran ini semakin menguatkan diri saya, dan saya termasuk terkeyakinan bahwa perlu memiliki amalan yang dilakukan diam-diam, hal ini dilakukan karena merasa belum layak untuk menunjukkan kepada khalayak, biarlah diri ini yang tahu dan Rob. ku, semoga ini menyadarkan diri bahwa masih banyak yang perlu diperjuangan masih ada syahwat terselubung yang bisa menyusup mengalihkan niat ikhlas kita hanya karena mengharapkan pujian dari apa yang kita lakukan. 

Tarakan, 27 / 4 / 2021 ~ 15 Ramadhan  1442 H
Pukul.    : 7.38 malam

26 April 2021

jangan berlebihan dan kendalikan nafsu "silent"

Pagi ini mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, ketika mendegarkan kajian rutin bada subuh "riyaadhus Shaalkihin" karya monumental dari Imam Nawawi yang dibahas oleh ust. Nurul Dzikri. Tadi pagi membahas tentang celakanya orang yang berlebih-lebihan (thanatho) baik dalam urusan dunia hingga ke masalah ibadah. bahkan dalam sebuah hadist disebutkan  hadist yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud : binasalah orang-orang yang berlebihan (dalam beragama). ada kalanya berlebihan ini terlalu mempersulit diri sendiri, perintah agama dianjurkan sesuai kemampuan namun dipaksakan hingga memberikan imbas negatif pada orang lain. Bahkan berlebih-lebihan ini menimbulkan sifat fanatik hingga menjadi biang ekstremisme, menganggap orang lain serba salah.  Keraguan  ini  yang berlebih-lebihan mendapatkan sorotan para ulama sehingga ulama menyampaikan bahwa keyakinan tidak boleh kalah dan hilang dengan keragu-raguan. jangan menganggap keraguan-raguan dan tidak boleh melakukan sesuatu dengan keragu-raguan. 

Pada ceramah lain dari ust. Nurul Dzikri yang membahas puasa, dimana ketika orang mulai menunjukkan eksisntensi dirinya namun disisipi dengan nafsu ingin dipuji atau ingin mengharapkan balasan sehingga kebaikan yang sudah kita lakukan akan sirna begitu saja karena "nafsu yang samar/ terselubung" senyap ini. nafsu ini senang jika manusia melihat amalannya. Bisa jadi karena terselubungnya kita tidak sadar dan merasa baik-baik saja, kita pikir kita sudah ikhlas dan padahal kita senang jika orang lain tahu. :( ada ulama menyampaikan tidak jujur kepada Allah, orang atau hamba yang masih suka dengan popularitas. Orang yang ikhlas itu dia tidak kagum / ujuk dengan dirinya sendiri.  Jangan sampai terjebak dalam nafsu terselubung ini karena bisa jadi selama ini kita menghindari riya secara langsung namun diam-diam tanda disadari kita terjebak dengan nafsu senyap ini. Jangan menjadi orang berkoar-koar kecuali untuk masalah syar'i, untuk masalah diri, kita sengaja mendapatkan dan menceri perhatian orang, kita mendapatkan keuntungan secara popularitas tapi kita jauhkan dari nabi. Kita merasa fine-fine di depan orang / sosmed namun sebenarnya kita rapuh. jika orang lain melakukan kebaikan kita harus husnudzon.

Tarakan, 26 / 4 / 2021 ~ 14 Ramadhan 1442 H
Pukul.   : 7.58 malam

25 April 2021

Asal Ngomong :)

Baru-baru ini, saya baru "sadar" ada satu kebiasaan saya jika sedang ngobrol dengan teman, yaitu "asal ngomong" ;) ini bukan berarti apa yang saya bicarakan itu tanpa fakta dan lebih subjektif. Namun obrolan asal ngomong ini lebih kepada hal-hal yang biasa dan santai bukan yang berkaitan dengan kepentingan orang lain dan insyaAllah tidak merugikan orang lain. Spontanitas asal ngomong ini jika sedang ngobrol dengan  teman dan niat saya mau mencairkan suasana sehingga ide ngomong itu dengan  mudahnya tersalurkan, hehehe. Mungkin untuk pembicaraan yang lebih serius saya perlu mengecek fakta dan data yang ada namun jika itu hanya goyongan mungkin saya harus berhati-hati agar tidak menyakiti atau mendzalimi orang lain. Yang perlu saya tekankan adalah sama siapa saya ngobrol dan apa manfaat dan kepentingan apa saya melakukan obrolan, jika itu hanya sekedar obrolan biasa, tetap harus berhati-hati jangan sampai menjadi bersilat lidah, namun jika itu berkaitan dengan orang lain sebaiknya saya melakukan cek dan ricek. 

Saya teringat dari pengalaman masa lalu, saya termasuk anak kecil yang tanpa beban berbicara apa saja entah itu benar atau tidak dan jika diingat-ingat lebih banyak berbau imajinasi yang tidak ada realitasnya. hehehe pernah saya ngomong saya teman saat kecil kalau kakak saya perempuan selalu kedatangan malaikat sebagai teman ngobrolnya jika malan :D :D ada ada saja, dan mungkin masih banyak lagi ucapan-ucapan yang keluar dari mulut saya tanpa "sensor". Dan ketika remaja dan saat kuliah juga saya memiliki kebiasaan ngobrol dengan  teman dekat asal sambar saja ;) saat itu omongan yang tidak jelas pangkal dimana ujungnya dimana, namun makin kesininya obrolan asal ini makin dikontrol namun ada juga lepas kendali. pengalaman baru-baru ini ketika spontanitas saya ngobrol membuat orang itu tersinggung dan kalap ;) padahal niatnya hanya mencairkan suasana bercanda namun dianggap tidak menghargai. inilah pintar-pintarnya harus melihat sama siapa kita ngobrol, apakah orang ini sudah cukup dekat dan instens berkominikasi dengan kita sehingga obrolan canda tidak disikapi dengan "marah".  belajar lagi untuk mengontrol spontanitas bicara dan lebih menahan diri agar tidak asal bicara :)

Tarakan, 25 / 4 / 2021 ~ 13 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 6.09 menjelang waktu berbuka puasa

Manage pikiran

Bagian pertama tulisan ini ditulis jam 10.30 semalam namun tiba2 tertidur :) termasuk orang yang memiliki imajinasi dan pikira  yang cukup "liar" jika ada sesuatu yang cukup menganggu maka imajinasi dan pikiran sudah bekerja lebih dulu.

Setelah 20 jam, akhirnya menulis bagian kedua :) belajar dari pengalaman pengalaman sebelumnya saya termasuk orang yang mudah sekali mempersepsikan kondisi diluar realitas sebenarnya lebih tepatnya over persepsi, sudah pasti apa yang saya pikirkan berbeda jauh dari apa yang ada dipikiran saya lebih tepatnya saya terlalu membesar-besarkan sebuah situasi hanya karena satu sudut pandangan dari saya. Apalagi jika berkaitan dengan orang atau teman, oleh karena pengalaman sebelumnya dan belum tentu benar saya sudah mengambil sebuah kesimpulan.

Memang seharusnya saya belajar untuk lebih objektif dan tidak melebih-lebihkan sebuah kondisi hanya karena rasa khawatir dan pikiran saya yang terlalu berlebih-lebihan. Saya harus belajar memahami realita seperti apa adanya tanpa embel-embel ini dan itu nanti bagaimana, kalau saja seperti ini dan itu, seandainya saya tidak begini dan begitu. Sudahlah., akhiri semua "dramatisasi" kondisi dari proyeksi pikiran saya sendiri, berpikir lagi lebih waras, lihat kondisi tanpa harus berpersepsi terlalu jauh dan lebih baik berpikir positif, lihat sisi baiknya, lihat apa yang bisa diambil pelajaran dari semua pengalaman yang sudah-sudah sehingga tidak menimbulkan overpersepsi dan overthinking.

Tarakan, 25 / 4 / 2021 ~ 13 Ramadhan 1442 H
Pukul. : 5.50 sore

24 April 2021

10 hari kedua

Hari ini merupakan subuh ke-12 untuk sahur ramadhan artinya sejak kemarin kita memasuki 10 hari kedua bulan ramadhan, yang merupakan periode berlimpahnya Maghfiroh Allah subhanallah wata'alah. 10 hari yang dijalani pada tahap kedua ini merupakan tahap dimana dibukanya pintu ampunan yang diberikan kepada manusia. Saya sadar bahwa begitu banyak salah dan khilaf yang dilakukan dalam setahun belakangan bahkan tahun-tahun sebelumnya. Jatuh dan terjatuh kembali. Ini lah moment yang tidak boleh disia-siakan, jangan sampai melewatkan setiap menit ke menit hari ke hari. Ibarat pelayanan prima, disini waktunya untuk meminta ampunan atas dosa-dosa yang lalu, dosa yang sudah banyak melalaikan dan lebih banyak mengejar kenikmatan dunia hingga melalaikan kepentingan akhirat.

Moment ini menjadi sangat-sangat berharga dan penting, moment bulan ramadhan ini menjadi kesempatan emas bagi kita semua terutama diri ini yang masih bergemilang dosa dan khilaf.  Cukuplah ramadhan-ramadhan yang sudah berlalu begitu saja, ini waktunya untuk kembali berbenah diri memperbaiki diri dari hal-hal yang jauhkan dari cahaya Ilahi. Semoga di tahap kedua ramadhan ini, kita meraih maghfiruh dan ampunan Allah subhannah wata'alah. Sehingga dosa-dosa yang sudah berlalu tidak mengikat diri kita dan kita berusaha keras untuk tidak melakukan kembali dan tetap berusaha tidak menjauhi potensi-potensi yang bisa menjerat langkah kita.. aamiin


Tarakan, 24 / 4 / 2021 ~ 12 Ramadhan 1442 H
Pukul.   : 5.26 pagi

22 April 2021

Lelah Sangat

Dua hari yang lalu, tepatnya selasa, saya mengalami ngantuk yang luar biasa, ngantuk dirasakan mulai siang namun belum bisa langsung pulang karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Sore saya manfaatkan untuk bergerak dengan jogging sore yang semampunya, sore itu cukup dengan 2 K, namun serangan ngantuk tak kunjung juga hilang hingga waktu berbuka puasa. Begitu buka puasa dan mempersiapkan shalat tarwih malah saya mengkonsumsi sayur kangkun :) jadi bertambahlah ngantuk, sepanjang shalat isya dan tarwih, hampir benar-benar tidak bisa fokus bahkan saya begitu tidak bergairah namun alhamdulillah masih bisa menyelesaikan shalat tarwih hingga witir. Begitu beres shalat saya menyempatkan waktu untuk mengkonsumsi minumah jahe merah "wedan uwu" ini biasa saya minum ketika sudah menyelesaikan lari panjang (long run). Begitu terasa hingga di rumah kelihatan lumayan fresh namun  tidak bisa bertahan lama dan kembali tergeletak tidur. Alhamdulillah masih bisa bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud.

Dua hari belakangan ini, benar-benar menahan ngantuk itu menjadi tantangan tersendiri, harus mampu mengendalikan ngantuk agar tidak mengabaikan amalan-amalan di bulan ramadhan. rasa lelah ini tidak lain dari signal bahwa tubuh saya butuh istrahat cukup dengan waktu yang ada dan juga jangan sampai melalaikan amalabn-amalan ibadah di bulan ramadhan ini. Saya tidak boleh terlena dengan lelahnya menjalani semuanya ini, semoga semuanya menjadi berkah agar mampu menyelesaikan 20 hari ramadhan yang tersisa. Olahraga tetap dijalankan terutama jadwal lari sore, untuk jogging saat pagi, mungkin lebih dipertimbangkan lagi kondisi dan situasinya biar tidak mengabaikan kegiatan dan target lain di bulan ramadhan kali ini.

Tarakan, 22 / 4 / 2021 ~ 10 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 3.14 sore

20 April 2021

Seminggu Berlalu

Hari ini menjadi hari ke-8 bulan ramadhan, sangat tidak terasa seminggu telah berlalu, kita sudah berbuat apa untuk mengisi ramadhan kali ini? Semalam ust penceramah shalat tarwih di baitu izzah islamic center Tarakan, menyampaikan bagi orang-orang yang beriman yang menikmati ramadhan ini, maka tidak menyangka ramadhan telah lewat seminggu ini, namun bagi orang-orang yang kurang menyempurnakan keimanannya maka ramadhan kali ini cukup berat dan mengharapkan ramadhan segera berlalu. Seminggu ini beberapa target telah dijalankan. tadarrus alqur'an masih berjalan masih bisa mendapatkan 2 jus dalam sehari :) alhamdulillah, shalat tarwih belum bolong dan semoga saja tidak bolong, namun beberapa kali saya ketinggalan shalat sunnah rawatip bahkan menjadi masbut untuk beberapa shalat fardu. memang ada hal yang tidak bisa dihindari, kita terlalu terlena dengan kesibukan dunia hingga kelewatan waktu shalat, memang ada hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda namun karena ingin tuntas langsung sehingga molor menyelesaikan. Semoga ini menjadi pengalaman penting paling tidak bukan faktor kesengajaan dan kemalsan dari saya. 

InsyaAllah masih ada 3 minggu tersisa, sebentar lagi akan memasuki 10 hari ramadhan, dimana pintu maghfiruh dibuka dan masih ada dua hari lagi untuk menikmati dibukanya pintu-pintu rahmat, yang mejadikan spirit untuk menjalankan ibadah puasa dengan landasan iman, dan tidak menyia-nyiakan setiap moment pergantian waktu. masih ada waktu untuk memperbaiki kembali kekurangan-kekurangan puasa selama sseminggu ini, menghindari hal-hal yang sia-sia yang tidak memberikan manfaat baik bagi diri kita dan orang lain. yang paling terpenting moment ramadhan ini sebagai ladang untuk mencari pahala dan keridhoan Allah SWT. Saya sudah membatasi akses sosmed, saya sudah batasi muntuk membaca-baca berita yang sebenarnya manfaat untuk diri kita belum berdampak. Semoga Allah subhannah wata'alah memberikan kesehatan dan bimbingan hati agar benar-benar menjalankan ramadhan 3 minggu kedepan lebih semangat lagi dan memberikan keberkahan. aamiin

Tarakan, 20 / 4 / 2021 ~ 8 Ramadhan 1442 H
Pukul    : 3.25 sore (sementara azan ashar)

Belajar Menahan Amarah

Bulan ramadahan menjadi bulan untuk belajar amarah, apapun bentuk dan motifnya. ada sebuah riwayat yang mengatakan jika ada yang memancing amarah kita, sampaikan bahwa saat ini kita lagi berpuasa, jika masih memancing tetap sampaikan lagi kalau kita sedang berpuasa. karena kita kita meluapkan amarah saat berpuasa maka kita secara tidak langsung menghilangkan hakikat berpuasa untuk menahan diri. Untuk tipe seperti saya, memang cukup potensial untuk meluapkan amarah , ini tidak lain dari pengalaman sebelum ramadhan ini. Saya mudah terpancing untuk hal-hal "sepele" namun cukup membuat repot diri saya, apalagi itu dilakukan kembali sama orang yang sama dan berulang-ulang bahkan tidak menyadari bahwa sering memancing, namun kata sabarlah kata yang paling tepat yang harus diucapkan. terkadang saya harus sadar diri saya sedang berhadapan dengan siapa, sudah berapa lama saya berhadapan dengan orang tersebut dan bagaimana respon saya selama ini. Memang apa hal-hal yang sebenarnya sangat receh namun dilakukan berulangh-ulang hingga jadi pembiasaan. Jika orang yang saya harapkan untuk menjaga emosi saya maka akan sia-sia belaka karena situasi ini bukan baru kali ini juga namun sudah terbilang lama. 

Saya belajar untukm memaafkan diri saya belum bisa "kuat" untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada, saya masih bergitu berekspeksi akan menghadirkan sesuatu sesuai kemampuan saya, namun terkadang dalam realitanya berbedah jauh, saya harus "terpaksa" menghadapi kenyataan diluar ekspektasi bahkan diharuskan menerima kondisi yang sulit untuk diterima. pasti ada hikmah dibalik semua ini. Amarah yang terjaga dan tersimpan semoga tidak menjadi api dalam sekam terus memanasi hingga waktunya tiba untuk meluapkan. Tentu saja bukan hal ini yang diharapkan, memalui puasa ini, saya belajar mengendalikan amarah, bukan menahan atau menunda amarah yang akan diluapkan setelah berbuka puasa?, tentu bukan itu, sebelum amarah terluapkan tanpa mengontrolan diri, maka sudah seharusnya saya menguasainya, mengenali apa saja hal-hal yang berpotensi memancing amarah, sebaiknya dihindari, jika kemudian harus berhadapan dengan amarah paling tidak, saya bisa kontrol dan mengarahkan pada hal yang psotifi buka pada halhal yang memperkeruh suasan. wallhu a/alam.

Tarakan, 20 / 4 / 2021 ~ 8 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 3.06 sore

17 April 2021

dari Ramadhan ke Ramadhan

Ramadhan tahun ini begitu dinanti, bagaimana tidak, sudah setahun ini kita begitu dicapehkan dengan urusan-urusan  dunia, moment inilah menjadi mahal karena diistimewakan oleh Allah subnhannah wata'alah untuk kita mearih ketakwaan. Kata ust Nurul Dzikri mengutip seorang ulama, orang berpuasa tidak merespon perbuatan bodoh, tidak merespon emosi, tidak merespon cacian dan celaan, karena orang berpuasa hatinya bersih sesuai dengan tujuan berpuasa untuk menjadi orang bertakwa, orang berpuasa hatinya bersih. Ada beberapa hal yang berubah dari ramadhan kali ini, hal ini tidak lain dari taklim yang diikuti dari ustat baik sejara during dan daring. Pemahaman yang berubah diantaranya adalah pertama jangan meninggalkan jamaah ketika iman sudah memasuki shalat witir. Sejak kecil saya dibiasakan dengan pemahaman jika mau shalat tahajjud, witirnya di rumah saja, ini cukup lama saya lakukan bahkan ramadhan tahun lalu masih saya lakukan. Penjelasan ustat bahwa ketika kita meninggalkan shalat witir berjamaah, maka kita akan kehilangan kemuliaan berjamaah shalat tarwih seperti beribadah semalam suntuk. artinya kita tidak mendapatkan kemuliaan itu, kita hanya mendapatkan pahala shalat tarwih saja. dan perkara tentang witir yang dilakukan setelah tarwih tidak ada masalah, karena kita tetap bisa menjalankan shalat tahajjud setelah bangun dari tidur tanpa harus menjalankan shalat witir lagi karena seperti dalam riwayat tidak ada dua witir dalam satu malam.

Kedua, saya belajar untuk membatasi diri dengan media sosial, dari pengalaman yang sudah-sudah menggunakan medsos itu sudah banyak menyita waktu bahkan berjam-jam jika itu digunakan untuk tadarrus. ketiga, alhamdulillah anak-anak sudah mulai berpuasa full sejak hari pertama, kecuali atiyah (5 tahun) hanya tidak menahan lapar dihari pertama dan alhamdulillah hari kedua sudah bisa menjalankan full. keempat mulai membiasakan menemani dan ngaji bareng rafa dan zilan (kadang-kadang :) untuk tadarrus setelah shalat subuh. ada kebanggaan, anak seperti rafa sudah bisa membaca alqur'an. kelima rupanya kaki saya tidak begitu tenang jika tidak jogging atau lari sore, semoga tetap istiqomah sekalipun banyak aktifitas semoga tidak melupakan aktifitas fisik ini demi kesehatan, sehatnya dapat, semangatnya dapat, ibadah di ramadhan lancar :).  semoga amalan ibadah dibulan ramadhan ini tetap dipertahankan dan istiqomah karena ini moment "mahal" dan tidak ada jaminan tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan ramadhan

Tarakan, 17 / 4 / 2021 ~ 5 Ramadhan 1442
Pukul   : 6.01 sore

Ramadhan di hati

Hari ini sudah menjalani ramadhan hari ke-5. Alhamdulillah planning masih berjalan sesuai yang diharapkan. masih menjalankan tadarrus sesuai target, 2 jus dalam sehari walau kadang-kadang melewati, tetap menjaga amalan-amalan sunnah seperti shalat sunnah qobliah, masih menjalankan shadaqoh walau hanya semampunya dan seadanya, semoga kondisi ini konsisten dan saya tidak terlena dengan eforiah duniawi di bulan ramadhan, orang lihat banyak berbagi tentang menusahur dan berbuka puasa, melakukan obrolan-obrolan yang tidak berfaedah dan banyak menyia-nyiakan waktu. Ramadhan kali ini menjadi begitu berbeda dari ramadhan sebelumnya yang pelaksanaan shalat di mesjid masih di larang, alhamdulillah kesempatan untuk tetap beribadah di mesjid masih ada dengan tetap mengikuti protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker saat shalat  walau ada yang tanpa jaga jarak untuk beberapa mesjid karena kapasitas mesjid yang terbatas.

Semoga ramadhan kali ini menjadi moment untuk menjadikan diri ini menjadi lebih baik dan menjadikan puasa dan shalat sebagai djati diri dan darah daging (meminjam istilah ust. Nurul Dzikri). Bagaimana puasa ini tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga, namun puasa memiliki roh selama bulan ramadhan. Sekali lagi tidak menunda-nunda bahkan membuang-buang waktu untuk hal-hal yang sia sia. saya lebih banyak belajar menahan diri dari emosi yang tidak terkontrol, marah yang tidak terkendali dan tidak jelas penyebabnya dan tetap memanjaga kesehatan fisik dengan menjalankan olahraga dan jogging sesuai kemampuan. semoga puasa kali ini lebih bermakna. aamiin


Tarakan, 17 / 4 / 2021 ~ 5 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 5.32 sore

16 April 2021

Sakit perut ketika puasa

Tadi menjadi pengalaman yang begitu menyakitkan bagaimana tidak, jam setengah 10 saya merasakan sakit perut yang luar biasa.. saya hanya berdoa semoga sama bisa tetap melanjutkan puasa walau dalam kondisi nyeri tak tertahankan. Saya berpikir apa gerangan penyebab sakit perut ini, dan saya sudah 4x balik balik ke kamar kecil untuk buang hajat. dan tidak ada yang menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan, BAB walau encer paling tidak masih amanlah namun sakitnya ini yang tidak dibisa ditahan. setelah diingat-ingat, masalahnya ditemukan, saat tetangga tahlilan yang dilanjutkan buka puasa bersama, saya hampir mencucupi semua makanan berat yang disajikan, gulai kambing, sate ayam, rendang daging sapi, makanan ini saya lahap setelah shalat maghrib, saat itu saya berpikir mungkin ini masih aman karena dalam porsi yang kecil. belum lagi saat masuk berbuka ada jenis beberapa kue yang disajikan saya mencicipinya dan satu hal yang lupakan yaitu mengkonsumsi air putih yang banyak.

Saat sahur esoknya, rupanya gulai kambing ini masih ada (dikasih tetangga), saya melahapnya dan saya mengkonsumsi sayur sop yang dibuat istri, habis shalat subuh, hanya terasa sedikit perut agak nyut-nyut dan saya sempat dua kali buang air besar pagi itu. karena kondisinya pagi itu masih aman saya memilih untuk jogging pagi sebelum berangkat kerja. begitu di kantor sudah mulai terasa keram di perut namun masih bisa ditahan dan masih bisa mendampingi mahasiswa bimbingan ujian proposal begitu selesai rasa sakit tidak bisa ditahankan sehingga saya memilih untuk istrahat di rumah dan tidak ikut rapat senat. dirumah sakitnya mulai terasa sekali hingga tidak tertahankan, dan saat itu saya hanya berdoa semoga tidak membatalkan puasa karena sakit yang tidak tertahankan, saya mencoba untuk mengkrompres dengan air hangat di daerah perut untuk mengurangi nyeri dan alhamdulillah berefek dan saya bisa istrahat sebelum shalat jum'at. sebelum berangkaty shalat jum'at saya kembali kompres dan mandi untuk jum'at. alhamdulillah selama jum'at semua berjalan lancar masih sempat menyelesaikan membaca alqur an dan kembali ke kantor hingga jam 3 dan yang bikin senyum-senyum karena merasa agak baikan saya tetap lari sore (sesuai niat sehari sebelumnya) dengan durasi yang aman dan pace yang aman saja. pengalaman hari ini begitu berarti saya harus sadar bahwa lambung dan perut saya tidak begitu aman untuk semua jenis makanan yang masuk apalagi dalam kondisi berpuasa.



Tarakan. 16 / 4 / 2021~ 4 Ramadhan 1442 H
Pukul 23.59 malam

14 April 2021

Running jelang buka

Alhamdulillah sore tadi saya kembali ke track jogging untuk kembali Lari sore di bulam puasa. Lari ketika lg puasa ini, bukan pertama kali dilakukan bahkan sejak 2 bulan yang lalu, sejak bulan Rajab, saya sudah belajar beradaptasi dengan kondisi badan ketika berpuasa. Alhamdulillah dua bulan itu hampir tidak terlewatkan menjalankan puasa Sunnah di hari Senin dan sorenya haru lari. Dan selama lari ini sambil berpuasa hampir tidak pernah saya menyampaikan kepada teman, intinya lari aja sambil merasakan apakah badan sudah cukup beradaptasi. Selain latihan adaptasi selama 2 bulan terakhir, kemarin pagi dan sore saya coba jogging ringan sekedar memberitahukan pada tubuh saya apakah saya sudah siap berlari dengan keadaan. E

Sore tadi menjadi pembuktian bahwa latihan lari sore sambil berpuasa sudah aman saya jalankan, jika membandingkan Pace saya sore ini dengan berlari satu hari sebelum ramadhan terbilang lebih siap sore tadi, walau jarak tempuh lari sepanjang 10K sekitar 2 menit. Sore ini saya menyelesaikan lari 10 K dengan durasi wakru ; 65 menit sementara Senin sore dengan waktu 67menit.
 Tetap jaga kesehatan selama bulan Ramdhan agar ibadah lebih maksimal dan tetap sehat selama menjalankan puasa

Tarakan, 14/4/2021 - 2Ramadhan 1442H
Pukul.    ; 11.19 malam

13 April 2021

Marhaban Ya Ramadhan 1442 H

Alhamdulillah hari ini memasuki ramadhan hari pertama, tidak terasa hampir  50 menit dari sekarang memasuki berbuka puasa (insyaAllah). Setiap kali ramadhan, banyak sekali yang menjadi renungan, ketika mendengarkan penceramah yang mengingatkan untuk selalu bersyukur karena bisa bertemu dan menjalankan ramadhan kali ini, begitu banyak orang yang pada ramadhan tahun lalu masih bersama-sama kita namun pada ramadhan kali ini, qadarallah sudah menhadap kehadirat Allah subhannah wata'alah. Saya juga mengingat begitu banyak sahabat, teman, ulama, penceramah, saudara bahkan dari orang tua sendiri, yang dulu-dulunya kita menjalankan puasa bersama namun saat ini sudah tidak lagi. Selain itu kalimat "jangan sampai ini menjadi ramadhan yang terakhir bagi kita" inilah yang menjadi penyemangat seakan-akan tidak ingin menyia-nyiakan ramadhan, karena tidak ada jaminan tahun depan kita masih berjumpa dengan ramadhan. 

Memasuki ramadhan juga kali ini, benar-benar diiringi dengan sikap yang menuntur kesabaran, insyaAllah sikap legowo dan tidak menunjukkan ego benar-benar menjadi ujiannya, kita tidak menuntut bahwa pada pada posisi itu kita tidak sepenuhnya salah bahkan pada posisi benar, namun dengan semakin menunjukkan "mengalah" dan "memaafkan" itu akan lebih baik. hal ini tidak lain dengan ceramah yang saya dengarkan ketika akan memasuki ramadhan, ada sikap yang harus kita tunjukkan, tidak lain adalah "ikhlas" melepaskan ego-ego yang semakin menunjukkan kita mengukuti nafsu, ingin mengalahkah keegoisan diri yang ingin menunjukkan diri sendiri, tidak ingin disalahkan bahkan kita harus meninggalkan rutinitas dunia untuk bisa fokus lebih ibadah. kedua adalah tidak mengukiti hawa nafsu, memang ada ungkapan bahwa setan dibelenggu, namun godaan syeitan melalui nafsu kita tidak akan pernah putus, puasa yang mengautkan kita bahwa kita mencari keridhoan Allah subahannah wata'alah, memanfaatkan moment-moment, detik demi detik berganti menit dan jam, jangan sampai kita lalai dan mengabaikan keutamaan ramadhan. insyaAllah. semoga ramadhan ini, menjadikan kita lebih bertakwa. aamin

Tarakan, 13 / 4 / 2021 - 1 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 5.42 sore

Kelemahan dan kekurangan (manusia)

Sejak sebelum ramadhan ingin sekali menulis judul ini, hal ini tidak lain dari pengalaman sebelumnya ketika berhadapan dengan sesuatu yang "tidak' diharapkan. saya teringat dengan kalimat seorang penceramah : kecewa itu berbanding terbalik antara harapan dan kenyataan. Ada beberapa pengalaman yang sudah terlewati ketika berhadapan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita dan bahkan dari orang terdekat kita sendiri, ketika kita berhadapan dengan kenyataan yang jauh berbeda dengan yang kita harapkan, kecewa !!! sudah pasti, namun mau sampai kapan mau bersikap seperti ini, jangan terlalu berlama-lama, mungkin orang tidak akan pernah paham yang sudah kita lakukan dan apa yang sudah kita perjuangan namun disisi lain orang lain punya pandangan yang berbeda dengan diri kita, bahkan kita jatuh pada harapan yang tak kesampaian. Mungkin orang lain menganggap apa yang kita lakukan hal biasa saja dan pada saat yang bersamaan harapan terhadap apa yang kita lakukan itu mendapatkan apresiasi walau hanya dengan ucapan terimakasih, namun kita tidak bisa memaksakan itu pada orang lain. orang lain tetaplah orang lain, dia memiliki persepsi yang berbeda dengan diri kita, bagi kita penting, orang lain menganggap biasa bahkan sepele, sebaliknya bagi kita biasa namun orang lain menganggap itu hal yang penting dan tidak bisa diremehkan.

Tanggapan orang lain itu tidak terlepas dari sikap yang dimiliki entah itu bawaan sejak dulu atau bisa jadi efek dari lingkungan dimana orang itu berada. Pernah saya berhadapan dengan  orang yang sangat menjunjung tinggi "tata krana" bahkan harus menempatkan mereka-mereka ini pada posisi yang baik, tidak boleh diremehkan, bahkan  apa yang yang tunjukkan kepada mereka juga harus mengikuti tuntutan mereka, nah yang menjadi persoalan ketika kita "terpaksa" melakukan itu hanya karena rasa tidak enak namun bukan karena keikhlasan dalam diri, bahkan kita menunjukkan "topeng" agar dianggap berperilaku yang sopan, namun lagi-lagi saya bukanlah orang yang tipe seperti itu harus menggunakan topeng hanya karena untuk mendapatkan kesan baik. Namun ketika mencoba memahami karakter mereka ini, saya harus legowo bukan berarti saya harus ikut-ikutan menggunakan topeng kepalsuan namun menempatkan diri sebagaimana sewajarnya saja. Tidak melihat mereka sebagai "musuh" apalagi "orang yang tidak benar" kita kembalikan lagi dari mana mereka berasal dan seperti apa budaya mereka membentuk karakter mereka, walau tidak jarang "berseberangan" dengan diri saya, namun  sepintar-pintarnya saya menempatkan diri dan bersikap lebih legowo, tidak mesti menunjukkan sikap "berseberangan" hanya karena perbedaan karakter. cukup pahami bahwa semua orang memiliki karakter masing-masing dan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tarakan, 13 / 4 / 2021 - 1 Ramadhan 1442 H
Pukul   : 5.25 sore 

10 April 2021

Titik Lemah Diri

Ada sisi dimana kita benar-benar lemah dan tidak bisa berbuat banyak. Apakah itu tentang prinsip yang sudah dipegang atau tentang ucapan yang pernah terlontarkan. Ternyata saya benar-benar kalah dengan kondisi yang ada, saya benar-benar tersungkur dan berlutut bahwa saya tidak bisa berbuat banyak, yang ada saya hanya bisa meratapi dan terdiam, sambil berucap saya terjatuh lagi, saya benar-benar belum bisa menjadi sosok yang selama ini diekspektasikan, apa saya terlalu mengharapkan terlalu jauh diluar. Apakah saya harus berkompromi dengan diri saya agar pelan-pelan merubah dan tidak serta merta merubah. Ada harga mahal yang harus saya bayar atau bisa saja ekspektasi saya hanya sebuah pelarian dari masalah yang ada, membuat rencana namun sebenarnya benar-benar kosong.

Sekali lagi, ini benar-benar menyadarkan saya akan kelemahan diri, saya boleh saja bermimpi namun tidak lupa dengan kemampuan diri, semua yang saya ekspekstasikan harus benar-benar dari perenungan diri yang dalam bukan karena lari dari masalah, dengan berpura-pura seolah-olah bisa menghadapi semua tanpa berpikir lebih mendalam. Semua berproses dan semua terus berjalan. Jika jatuh harus benar-benar bangkit untuk mengembalikan asa yang masih tersisa.. teruslah berbena dan memperbaiki diri. Kondisi yang dirasakan jangan menjadi pembenar bahwa kita tidak bisa berubah lebih baik, ini hanya ujian seberapa besar komitmen kita untuk berubah.. 

Tarakan, 10 / 4 / 2021
Pukul.   : 10.49 malam

06 April 2021

Belajar Melepaskan

Siang ini mendapatkan qoute yang begitu menampar, ini tidak lain berasal dari Ig ustad Nurul Dzikri "dosa memiliki kenikmatan, (itu) tidak dipungkiri, karena sesuai dengan syahwat diri, namun itu adalah kenikmatan yang semu dan kenikmatannya tidak lebih dari efek buruk dari dosa tersebut,  adapun ketaatan memang cenderung terasa lebih berat, namun memiliki kesudahan yang sangat indah" Kalimat ini, semakin menyadarkan diri saya, memang begitu mudahnya kita terjebak dalam kenikmatan semu itu, walau hanya sementara namun dia telah menyilaukan pandangan kita dan mempersempit perpespsi kita, seolah-seolah itu adalah satu-satunya kenikmatan yang tidak ada lagi tandingannya, banyak orang yang terjebak dalam bujuk rayunya dan tidak terkecuali diri saya. sekalipun diri ini sudah berusaha keras untuk melawan dan meninggalkannya namun di satu sisi, saya belum ikhlas dan rela melepaskan genggamnya, sudah merasa "nyaman" padahal di dalamnya penuh jebakan-jebakan, mencoba untuk memberikan rasionalisasi dan pembenaran dari apa yang kita lakukan untuk mengejar kenikmatan semu itu, seolah-olah, itu menjadi cara pelarian dari semua masalah dan ketidaksiapan kita menghadapinya. Pembenarannya mengantarkan kita mengabaikan hati nurani, suara-suara sayup yang menginginkan kita sadar dan tahu bahwa semua ini hanya "jebakan" dunia, suara-suara itu menginginkan kita kembali ke fitrah kita sebagai manusia. 

Mungkin ini juga yang harus saya camkan, jujur saja masih ada saja hal yang mengganjal dalam diri saya ketika, sudah berusaha keras untuk belajar meninggalkan dan melepaskan hal-hal yang bisa berpotensi mengarahkan pada perbuatan dosa, dan sekeras  itu juga godaan untuk tetap mempertahankannya, rasionalisasi dan justifikasi dari tindakan ini juga tidak main-main, logika saya seolah lumpuh dengan pembenarannya, memang tidak bisa dipungkiri, dulunya ada jalan yang saya tempuh keliru dan sampai saat ini untuk benar-benar melepaskannya begitu berat, ada satu hal yang menjadi pertimbangan saya, jika saya tetap bertahan maka selama itu juga riak dan potensi melakukan kesalahan yang sama akan terulang dan lagi-lagi ketika begitu dihindari, menyudahi relasi dan komunikasi yang "iseng", hanya sekedar mencari perhatian dan merasa tidak bisa melepaskannya, namun seketika dorongan begitu kuat melepaskan dan meninggalkan dan seketika itu juga bisikan kembali memalingkan persepsi saya, berat tapi saya harus belajar mencobanya, karena saya tidak mungkin terus bertahan pada situasi seperti ini, terbebani dengan "dosa" masa lalu tanpa merasa malu,  taubat yang terus terucap seolah tidak membekas. saya harus belajar melepaskan, perlahan-lahan tanpa harus menyakiti. saya miliki satu alasan yang menjadi prinsip dalam hidup, "saya ingin berubah dan menjadi lebih baik lagi".. bismillah.

Tarakan, 6 / 4 / 2021
Pukul   : 8.27 malam

03 April 2021

oooh twitter

Platform media sosial yang selalu mengupdate informasi baik dari kanal berita resmi maupun dari tokoh atau netizen adalah twitter. Ini juga alasan saya menggunakan twitter sejak tahun 2010. Bahkan untuk melihat topik apa yang hangat dibicarakan orang saat ini, bisa dipantau melalui tranding topik di twitter. Dulu, twitter sangat identik dengan itu, jika saat ini ukuran tranding adalah berapa kali banyak untuk meretweet sebuah tweet baik dalam bentuk kalimat, berita atau video. Jika flatform media sosial lain, ukuran populer atau trandingnya melalui berapa banyak orang menontonnya, atau facebook dengan perangkat 1 flatform bisa dilihat dari berapa banyak orangv melike. Informasi dari tokoh-tokoh baik skala nasional maupun  global banyak datang melalui twitter bahkan ulasan mereka bisa menjadi obrolan di dunia maya di timeline baik yang bernada positif maupun negatif, bahkan sampah media sosial juga ada disini. dan satu hal yang mungkin tidak ada di media sosial lain, ditwitter kita mengenal buzzer, orang mendengungkan obrolan yang ada baik pesanan pihak tertentu atau "titipan" politik. Buzzer ini, bekerja bagaikan robot, hanya meneruskan tweet yang ada sehingga menjadi tranding dan menjadi pembicaraan orang-orang. Jika kita tidak selektif dan menganalisa maka kita akan terjebak dalam dengungan mereka apalagi jika itu berkaitan dengan kepentingan politik, bagi yang sati frekuensi dan satu simpatisan maka tanpa pikir panjang kita akan ikut berbawa dalam lingkaran buzzer, disini pentingnya kita sebagai "pengamat" bukan pemain langsung. cukup mengetahui dan jangan terlibat apalagi terlena.

Salah satu masalah paling krusial yang dimiliki twitter adalah tidak ada filter dari semua tweet baik berita, ungkapan, foto bahkan sampai video. jika di instagram selalu ada filter dengan  hilangkannya video karena dianggap melanggar norma aturan komunitas. kalau di facebook masih kurang selektif namun jika ditweeter hanya ada pemberitahuan bahwa konten ini berbahaya. hanya sekedar itu dan video tidak serta merta dihapus oleh tweeter, inilah yang membedakan dengan IG, Youtube dan facebook, jika ada yang komplain maka video akan lenyap dari  muka bumi. Inilah bahayanya twitter, jika kita tidak kuat memanggunakan, maka silakan tinggalkan, apalagi jika itu sudah memasuki masa-masa berpolitik, kalau merasa tidak sedang baik-baik saja alam pikiran dan perasaan lebih baik jangan menggunakan twitter karena disana banyak yang mengajak "perang" terbuka dan sangat berdampak buat diri kita. semua itu kembali ke diri kita pintar-pintar memanfaatkan. Saya berusaha belajar untuk tidak terlalu menggunakan twitter kedepannya apalagi jika ingin fokus mengerjakan dan menyelesaikan sesuatu karena dampak twitter terhadap kita cukup besar, dapat mempengaruhi alam pikiran dan perasaan kita. itu saja, belajar tidak menggunakan twitter untuk sementara waktu jika memang sudah sangat berdampak maka harus ditinggalkan permanen

Tarakan, 3 / 4 / 2021
Pukul   : 8.22 malam

01 April 2021

Hai (bulan) April

Alhamdulillah, hari tepat 1 April 2021, banyak yang sudah terlewati selama 1 bulan kemarin dan yang paling menonjol adalah rutinitas running yang tidak seperti biasanya. Dalam dunia kerjaan lagi begitu padat-padatnya banyak pekerjaan baru yang menantang dan banyak persoalan relasi yang membutuhkan kedewasaan untuk bersikap. kita bahas satu-satu :) Dalam running pencapaian bulan lalu sudah melampui target, total berlari saya selama bulan Maret itu sejauh 270 KM, hal ini hampir sama denga pencapaian bulan Januari sementara bulan Februari hanya mencapai 240 KM dan hanya ada 28 hari saja, sementara bulan-bulan yang lain ada 30 hari atau 31 hari dan selisi hari itu sudah bisa mendapatkan puluhan KM :). Banyak cerita lain lagi, dan pada bulan maret kemarin saya memutuskan untuk tidak half marathon untuk setiap akhir pekan, cukup longrun dengan jarak 16-18 K namun harus menambah 10K di hari ahad baik pagi maupun sore dengan pace yang cukup santai karena harus recovery. Sebulan kemarin juga banyak berkenalan dengan orang-orang yang selama ini berpapasan saat lari alhamdulillah menambah pertemanan dan silaturahmi. Running benar-benar sudah mempertegas bahwa saya "addiction" sudah merasakan nikmatnya berlari. namun semua ini harus tetap terkontrol dan terkendali agar tetap dalam kondisi fit dan tidak berlebihan.

cerita kedua adalah pekerjaan lagi padat-padatnya ada rutinitas dan tuntutan baru dalam pekerjaan. Untuk pertama kalinya mahasiswa di bebani dengan tugas akhir melalui Karya Tulis Ilmiah melalui penelitian sederhana. Kesibukan bimbingan sangat terasa, jika tahun-tahun sebelumnya kegiatan bimbingan KTI ini tidak lebih 1 bulan, kini bisa 2-3 bulan. namun ini menjadi inovasi dan motivasi bagi dosen-dosen untuk melakukan peneltiian dan publikasi.  Cerita ketiga hubungan relasi yang penuh dengan warna warni, ada senangnya dan ada sialnya :) intinya bagaimana tetap menjaga silaturahmi dalam bingkai yang lebih baik, tidak dilebih-lebih,mengambil manfaat dari setiap relasi dan mempertegas diri mana yang harus lanjut mana yang harus diabaikan demi kebaikan dan kesehatan mental.

Bulan April ini paling tidak menunjukkan 1 tahun berlalunya masa pandemi banyak yang diambil hikmahnya dan paling tidak saya belajar bagaimana beradaptasi sebaik-baiknya.. lebih mensyukuri apa yang ada saat ini, tidak membandingkan dengan yang lain.

Tarakan, 1 / 4 / 2021

Ditulis mulai jam 5 sore berhenti karen menjelang azan Maghrib sempat ada kegiata .dan baru menyelesaikan tulisan kembali pukul : 11.45 malam