Kemarin menjadi hari-hari yang begitu melelahkan secara emosi, bagaimana tidak saya menghadapi kondisi yang benar-benar memancing amarah. kejadian pertama adalah ketikan pagi hari, saya ketika mengobrol, mengarah pada suatu kondisi yang dulu pernah terjadi, kondisi rumah yang penyelesaiaanya tidak sempurna, kira-kira seperti ini "ini tukannya kerja tidak sempurna, rumah ini atabnya masih bojor, saya bilang, bukan bojor itu, diterus dibalas apa pale (dengan seolah tidak mau kalah) itu teras di depan terlalu menyatu dengan atap, saya bilang, salah siapa nunjuk tukan, dibalasnya bukan salah saya, saya hanya nunjuk pemborong dan dia yang memilih tukan, saya bilang ketahuan sekali sebagai orang yang tidak mau disalahkan. dan teruslah orangnya membela diri. malas berdepat dengan cara seperti ini, saya memilih tidak mau menggubris, kejadiannnya berlanjut sore hari, ketika selepas balik menjemput anak, saya memastikan bahwa pasti jemuran tidak diangkat, dulu bilangnya, tidak perlu repot-repot, nanti saya ambil, padahal ucapan ini sering diucapkan, dan sering juga kelupaan mengangkatnya, nanti sadar ketika saya mau ambil. Kejadian lainnya ada di kampus, ketika anak bimbingan saya sejak awal dipantul-pantul dan tidak diberi kepastian untuk ujian oleh dosen yang belum lama bergabung di prodi. Sampai di titik semacam tidak ingin menguji dengan berbagai alasan, karena saya sebagai pembimbing dan penanggunngjawab kegiatan, saya menyarankan dosen ini untuk mengundurkan diri jadi penguji karena sudah menolak jadwal yang sudah disepakati, alasan saya mempertegas ini, biar sekalian tahu kalau kita ini punya aturan dan tidak seenaknya merubah-rubah jadwal, kalau memang tidak bisa, bilang tidak bisa. jangan menunda-nunda tanpa ketidakjelasan. dua kejadian yang benar-benar menguras tenaga dan emosi.
Tarakan, 30. 05. 2023
Pukul : 03.21